Seimbangkan Dunia dan Akhirat


“Dan carilah apa yang telah dianugerahkan kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu.” (QS Al Qashash [28]: 77)

Seimbangkan Dunia dan Akhirat

Suatu hari, Salman Al Farisi berkunjung ke rumah Abu Darda. Mereka berdua adalah dua orang yang dipersaudarakan Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam di Madinah. Salman Al Farisi melihat istri Abu Darda memakai pakaian compang-camping.

“Kenapa?” tanya Salman heran kepada istri Abu Darda

“Saudaramu, Abu Darda, tidak lagi memiliki perhatian pada dunia,” jawabnya.

Kemudian, Abu Darda menyuguhkan makanan untuk Salman sambil berkata, “Makanlah, sesungguhnya saya sedang shaum.”

“Aku tak mau makan, kecuali jika kau pun mau makan,” jawab Salman.

Abu Darda terperangah, tapi akhirnya ia menurut dan ikut makan. Tengah malam, Abu Darda melakukan shalat. Salman Al Farisi menegurnya, “Tidurlah.”

Abu Darda menurut. Namun, tak lama kemudian, ia bangun dan shalat lagi.

Untuk kedua kalinya, Salman meminta Abu Darda tidur dan kembali ia menurut. Menjelang malam berakhir, barulah Salman Al Farisi membangunkan Abu Darda dan mereka berdua melakukan shalat tahajjud. Setelah itu, Salman memberi nasihat,

“Sesungguhnya, Tuhanmu memiliki hak yang wajib kamu penuhi, dirimu memiliki hak yang wajib kamu penuhi, dan keluargamu juga punya hak yang wajib kamu penuhi. Maka, kepada yang masing-masing punya hak, berikanlah haknya itu.”

Abu Darda datang kepada Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. dan menanyakan apa yang didengarnya dari Salman. Maka, beliau menjawab,”Salman benar.”

Ada tiga sahabat mendatangi istri-istri Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Mereka menanyakan ibadah beliau. Setelah mendapat penjelasan, ketiganya saling berjanji untuk beribadah sekuat tenaga.

“Saya akan melakukan shalat malam tanpa tidur buat selamanya,” kata yang satu.

“Aku akan shaum terus menerus,” sambut yang lain.

“Saya akan menghindari wanita dan tidak beristri buat selamanya,” tekad yang ketiga.

Maka, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. mendatangi mereka dan bersabda, “Demi Allah, sesungguhnya akulah orang yang paling takut kepada Allah dan paling taqwa kepada-Nya. Akan tetapi, aku shaum dan berbuka, aku shalat malam dan juga tidur, dan aku menikahi para wanita. Siapa pun yang tidak menyukai apa yang aku lakukan, maka ia bukan dari golonganku.” (Bukhari dan Muslim)

Dari kisah tersebut, dapat kita petik hikmah bahwa kita harus seimbang dalam menjalani hidup ini. Setiap aktivitas yang kita lakukan, jangan ada yang dilebihkan. Makan dan olahraga memang baik untuk kesehatan, tetapi, jika dilakukan berlebihan, malah akan berbalik, membuat diri kita menjadi tidak sehat.

Demikian pula halnya dalam setiap waktu yang kita miliki, ada slot-slot yang harus kita isi secara seimbang, ada pihak-pihak yang meminta waktu kita untuk mengisinya. Ada waktunya bekerja, ada waktunya beristirahat, ada waktunya beribadah, ada pula waktu bersenang-senang.

Dengan adanya keseimbangan, alam semesta pun berjalan sebagaimana mestinya. Allah telah mengatur semuanya secara seimbang, tinggal kita yang harus pandai-pandai mengatur agar keseimbangan itu bisa terwujud dalam hidup kita. Untuk panduan keseimbangan tersebut, Rasulullah lah teladan yang paling baik.

Semoga Artikel ini bermanfaat untuk Sahabat Rumah Kurma Sahara.
Silahkan berbelanja kurma di Rumah Kurma Sahara, Butuh perlengkapan haji? Ingat Toko Rumah Kurma Sahara!
Jalan Raya Semplak Atang Sandjaja No. 224
Bogor Barat – Kota Bogor
Customer Care : 0821-1141-8832 | 0878-7386-0559
Delivery : 0859-2512-6067
WA | PIN BB : 0878-7386-0559 | DA7A086

Referensi : https://www.syaamilquran.com/