Keutamaan & Anjuran Memperbanyak Doa di Bulan Ramadhan


Terdapat banyak nash al-Qur’an maupun hadis yang memotivasi kita untuk berdo’a, menerangkan fadhilah (keutamaannya) serta mendorong kita agar gemar melakukannya. Di bawah ini, akan kami sebutkan beberapa dalil umum yang memerintahkan berdo’a.Meskipun hal ini bersifat umum, namun dapat diterapkan di bulan ramadhan, mengingat segala amal ibadah di bulan yang penuh keberkahan ini dilipatgandakan, termasuk doa akan dikabulkan. Di antaranya adalah sebagai berikut:

1. Berdo’a dan akan dikabulkan

Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala: “Dan Tuhanmu berfirman: Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.” (Ghaafir: 60). Di dalamnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala memerintahkan berdo’a dan Dia menjamin akan mengabulkannya.

2. Do’a dengan Rendah Diri

Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala  :”Berdo’alah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (Al-A’raaf: 55).

Maksudnya, berdo’alah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan menghinakan diri dan secara rahasia, penuh khusyu’ dan merendahkan diri. “Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” Yakni tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas, baik dalam berdo’a atau lainnya, orang-orang yang melampaui batas dalam setiap perkara.

Termasuk melampaui batas dalam berdo’a adalah permintaan hamba akan berbagai hal yang tidak sesuai untuk dirinya atau dengan meninggikan dan mengeraskan suaranya dalam berdo’a.

Dalam Shahihain, Abu Musa Al-Asy’ari berkata: “Orang-orang meninggikan suaranya ketika berdo’a, maka Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Wahai sekalian manusia, kasihanilah dirimu, sesungguhnya kamu tidak berdo’a kepada Dzat yang tuli, tidak pula ghaib. Sesungguhnya Dzat yang kamu berdo’a pada-Nya itu Maha Mendengar lagi Maha Dekat.”

3. Doa Menghilangkan Kesusahan

Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala: “Atau siapakah yang memperkenankan (do’a) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdo’a kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan?”. (An-Naml: 62).

Maksudnya, apakah ada yang bisa mengabulkan do’a orang yang kesulitan, yang diguncang oleh berbagai kesempitan, yang sulit mendapatkan apa yang ia minta, sehingga tak ada jalan lain ia baru keluar dari keadaan yang mengungkunginya, selain Allah semata? Siapa pula yang menghilangkan keburukan (malapetaka), kejahatan dan murka, selain Allah semata?

4. Do’a adalah Ibadah

Dari An-Nu’man bin Basyir, dari Nabi Shallallahu’alaihi wasallam, beliau Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:”Do’a adalah ibadah.” (HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi, At-Tirmidzi berkata, hadits hasan shahih).

5. Do’a Menghilangkan Keburukan

Dari Ubadah bin Asb-Shamit ia berkata, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:”Tidak ada seorang muslim yang berdo’a kepada Allah di dunia dengan suatu permohonan kecuali Dia mengabulkannya, atau menghilangkan daripadanya keburukan yang semisalnya, selama ia tidak meminta suatu dosa atau pemutusan kerabat. Berkatalah seorang laki-laki dari kaum: “Kalau begitu, kita memperbanyak (do’a).”

Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Allah memberikan kebaikan-Nya lebih banyak daripada yang kalian minta.” (HR. At-Tirmidzi, ia berkata, hadits hasan shahih). (Lihat kitab Riyaadhus Shaalihiin, hlm. 612 dan 622). Lalu Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman : “Dihalalkan bagimu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isterimu; mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka.

Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan cavilah apa yang telah ditetapkan oleh Allah untukmu, dan makan minumlah hinngga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi)janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam masjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertaqwa.” (Al-Baqarah:187)

Sebab turunnya ayat: Imam Bukhari meriwayatkan dari Barra’ bin ‘Azib, bahwasanya ia berkata :

“Dahulu, para sahabat Nabi Shallallahu’alaihi wasallam, jika seseorang (dari mereka) berpuasa, dan telah datang (waktu) berbuka, tetapi ia tidur sebelum berbuka, ia tidak makan pada malam dan siang harinya hingga sore. Suatu ketika Qais bin Sharmah Al-Anshari dalam keadaan puasa, sedang pada siang harinya bekerja di kebun kurma. Ketika datang waktu berbuka, ia mendatangi isterinya seraya berkata padanya: “Apakah engkau memiliki makanan ?” Ia menjawab: “Tidak, tetapi aku akan pergi mencarikan untukmu.” Padahal siang harinya ia sibuk bekerja, karena itu ia tertidur. Kemudian datanglah isterinya. Tatkala ia melihat suaminya (tertidur) ia berkata: “Celaka kamu.” Ketika sampai tengah hari, ia menggauli (isterinya). Maka hal itu diberitahukan kepada Nabi Shallallahu’alaihi wasallam, sehingga turunlah ayat ini: “Dihalalkan bagimu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isterimu.”

Maka mereka sangat bersuka cita karenanya, kemudian turunlah ayat berikut: “Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.” (Lihat kitab Ash Shahiihul Musnad min Asbaabin Nuzuul, hlm. 9.)

Tafsiran ayat: Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman untuk memudahkan para hamba-Nya sekaligus untuk membolehkan mereka bersenang-senang (bersetubuh) dengan isterinya pada malam-malam bulan Ramadhan, sebagaimana mereka dibolehkan pula ketika malam hari makan dan minum: “Dihalalkan bagimu pada malam hari bulan puasa melakukam “rafats” dengan isteri- isterimu.”

Rafats adalah bersetubuh dan hal-hal yang menyebabkan terjadinya. Dahulu, mereka dilarang melakukan hal tersebut (pada malam hari), tetapi kemudian Allah membolehkan mereka makan minum dan melampiaskan kebutuhan biologis, dengan bersenang-senang bersama isteri-isteri mereka. Hal itu untuk menampakkan anugerah dan rahmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala pada mereka.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyerupakan wanita dengan pakaian yang menutupi badan. Maka ia adalah penutup bagi laki-laki dan pemberi ketenangan padanya, begitupun sebaliknya. Ibnu Abbas berkata: “Maksudnya para isteri itu merupakan ketenangan bagimu dan kamu pun merupakan ketenangan bagi mereka.”

Dan Allah Subhanahu Wa Ta’ala membolehkan menggauli para isteri hingga terbit fajar. Lalu Dia mengecualikan keumuman dibolehkannya menggauli isteri (malam hari bulan puasa) pada saat i’tikaf. Karena ia adalah waktu meninggalkan segala urusan dunia untuk sepenuhnya konsentrasi beribadah. Pada akhirnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala menutup ayat-ayat yang mulia ini dengan memperingatkan agar mereka tidak melanggar perintah-perintah-Nya dan melakukan hal-hal yang diharamkan serta berbagai maksiat, yang semua itu merupakan batasan-batasan-Nya. Hal-hal itu telah Dia jelaskan kepada para hamba-Nya agar mereka menjauhinya, serta taat berpegang teguh dengan syari’at Allah Subhanahu Wa Ta’ala sehingga mereka menjadi orang-orang yang bertaqwa. (Tafsir Ayaatil Ahkaam, oleh Ash-Shabuni, I/93.)

Semoga Artikel ini bermanfaat untuk Sahabat Rumah Kurma Sahara.
Silahkan berbelanja kurma di Rumah Kurma Sahara, Butuh perlengkapan haji? Ingat Toko Rumah Kurma Sahara!
Jalan Raya Semplak Atang Sandjaja No. 224
Bogor Barat – Kota Bogor
Customer Care : 0821-1141-8832 | 0878-7386-0559
Delivery : 0859-2512-6067
WA | PIN BB : 0878-7386-0559 | DA7A086

Sumber : https://muslim.or.id/