Mengatasi Hati Saat Berada Dipuncak Kesedihan Dan Kekecewaan

2016-03-20_0-39-11Sebagaimana kehidupan dan kematian diciptakan Allah untuk menguji hamba-hamba-Nya, siapa dari mereka yang paling baik responnya (QS Al-Mulk:2), demikian juga kesedihan dan kegembiraan, kekecewaan dan kebahagiaan.

Ada kalanya, kesedihan dan kekecewaan datang begitu mendera, sampai-sampai kita merasa tak berdaya dan tak punya lagi tenaga untuk bangkit kembali tegak perkasa.

Sedih tiada tara, serasa menjadi orang paling malang di dunia. Ditambah tak ada bahu yang tersedia untuk kita bersandar dan berbagi rasa.

Telah merasa berusaha paling maksimal, pikiran dan tenaga telah tercurahkan tanpa sisa, namun tetap saja cela yang diterima. Ditambah tak ada kata penyemangat dari sesiapa manusia.

Rasanya ingin mati saja, hal inikah yang kita rasa?

sesungguhnya ada yang senantiasa memperhatikan kita. Menunggu respon terbaik kita ataskesedihan dan kekecewaan yang tengah melanda. Menunggu dengan amat sabar sampai kita ‘menjawab’ ujian itu dengan jawaban yang paling baik dan paling benar. Dialah Allah Azza Wa Jalla.

Bagaimana respon terbaik kita seharusnya? Maka jagalah lisan kita dari berucap selain kata-kata yang Allah ajarkan kepada para Nabi dan Rasul-Nya dalam Al-Qur’an. Itulah sebaik-baik respon.

 

Lafazkanlah munajat Nabi Adam saat dulu berada di puncak kesedihan karena harus meninggalkan surga:

 “Robbanaa zholamnaa anfusanaa wa-in lam taghfir lanaa watarhamnaa lanakuunanna minal khaasiriin. Ya Rabb-kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.” (QS Al-A’raaf : 23)

Atau munajat Nabi Ya’qub saat dulu di puncak kekecewaan terhadap kakak-kakak Yusuf, sekaligus di puncak kesedihan karena kehilangan Yusuf:

“Innamaa asykuu bats-tsii wahuznii ilallahi.Sesungguhnya hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.” (QS Yusuf: 86)

Atau munajat Nabi Yunus saat dipuncak kekecewaan terhadap umatnya, sekaligus dipuncak kesedihan terhadap dirinya sendiri karena telah lalai terhadap perintah Allah sehingga mengharuskannya masuk dalam perut ikan besar. Gelap yang dilapisi kegelapan.

“Laa ilaha ilaa anta, subhaanaka, innii kuntu minazh-zhoolimiin. Tak ada Tuhan selain Engkau (Ya Allah). Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.” (QS Al Anbiya : 87)

Atau munajat Nabi Ayub saat dipuncak kesedihan atas sakitnya dan dipuncak kekecewaan terhadap keluarganya.

“Annii massaniyadh-dhurru wa-Anta arhamurraahimiin. (Ya Rabb-ku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit, dan Engkau adalah Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.” (QS Al-Anbiya:83)

Sungguh respon terbaik yang diabadikan Allah dalam Al-Qur’an. Maka kemana lagi kita akan mengambil teladan? Saat di puncak kesedihan dan kekecewaan, jagalah lisan, dan jangan ucapkan selain kalimat-kalimat terbaik yang Allah ajarkan. Dan Allah Maha Tahu Yang Sebenarnya.

Semoga Artikel ini bermanfaat untuk Sahabat Rumah Kurma Sahara.
Silahkan berbelanja kurma di Rumah Kurma Sahara, Butuh perlengkapan haji? Ingat Toko Rumah Kurma Sahara!
Jalan Raya Semplak Atang Sandjaja No. 224
Bogor Barat – Kota Bogor
Customer Care : 0821-1141-8832 | 0878-7386-0559
Delivery : 0859-2512-6067
WA | PIN BB : 0878-7386-0559 | DA7A086