Nasihat Untuk Penuntut Ilmu

Kata “nasehat” berasal dari bahasa arab, dari kata kerja “Nashaha” yang berarti “khalasha”, yaitu murni serta bersih dari segala kotoran, juga bisa berarti “Khaatha”, yaitu menjahit.

Imam Ibnu Rajab rahimahullah menukil ucapan Imam Khaththabi rahimahullah, “Nasehat itu adalah suatu kata untuk menerangkan satu pengertian, yaitu keinginan kebaikan bagi yang dinasehati.”

Imam Khaththabi rahimahullah menjelaskan arti kata “nashaha” sebagaimana dinukil oleh Imam Nawawi rahimahullah, “Dikatakan bahwa “nashaha” diambil dari “nashahtu al-‘asla”, apabila saya menyaring madu agar terpisah dari lilinnya sehingga menjadi murni dan bersih, mereka mengumpamakan pemilihan kata-kata agar tidak berbuat kesalahan dengan penyaringan madu agar tidak bercampur dengan lilinnya.”

Kemudian siapakah Penuntut Ilmu itu ?

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam,bersabda,

“Mencari ilmu adalah kewajiban setiap Muslim.”(HR Muslim).

Dari Anas bin Malik, Rasulullah bersabda :

طَلَبِ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ وَ وَضِعُ الْعِلْمِ عِنْدَ غَيْرِ اَهْلِهِ

كَمُقَلِّدِ الْخَنَازِيْرِ الْجَوْهَرَ وَ للُّؤْلُؤَ وَ الذَّهَبَ. (رواه ابن مجاه

“Menuntut ilmu adalah wajib bagi setiap muslim dan orang yang meletakkan ilmu kepada orang yang bukan ahlinya (orang yang enggan untuk menerimanya dan orang yang menertawakan ilmu agama) seperti orang yang mengalungi beberapa babi dengan beberapa permata, dan emas.” (HR. Ibnu Majah,Al-Baihaqi)

Nasehat untuk penuntut ilmu berarti nasihat untuk kita semua baik perempuan maupun laki-laki. Secara singkat nasehat untuk penuntut ilmu ada beberapa point :

  1. Rajin mengunjungi Taman Surga

Taman, di manapun, selalu diasosiasikan sebagai tempat yang indah, penuh warna, dengan ragam pepohonan dan bunga warna-warni, harum semerbak; baik ia ada di depan atau belakang rumah mewah; baik ia ada di sekeliling istana para raja; atau mungkin ia merupakan tempat tersendiri yang sengaja dirancang sebagai tempat rekreasi dan wisata. Taman selalu diasosiasikan dengan keindahan. Tak ada taman yang diasosiasikan dengan keburukan. Demikianlah realitas taman di dunia ini.

Namun demikian, seindah apapun taman di dunia tak pernah ada yang kemudian disebut dengan ‘taman surga’. Karena itu, menarik disaat Baginda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menyebut-nyebut adanya ‘taman surga’, bukan di surga, tetapi di dunia ini. Shallallahu’alaihi Wasallam menuturkan bahwa Baginda Rasulullah pernah bertanya kepada para Sahabat, “Jika kalian melewati taman-taman surga, makan dan minumlah di dalamnya.” Para Sahabat bertanya, “Apakah taman surga itu, wahai Rasulullah?” Jawab beliau, “Halaqah-halaqah (majelis-majelis) dzikir.” (HR at-Tirmidzi).

Melalui hadits ini, tegas Rasulullah menyamakan majelis dzikir dengan taman surga, tentu dari sisi kemuliaan dan keutamaannya, sekaligus menyebut orang yang ada di majelis-majelis dzikir sebagai orang-orang yang sedang menikmati hidangan di taman-taman surga itu (Syarh Ibn Bathal, II/5).

Keutamaan taman surga tentu tak bisa dibandingkan dengan taman dunia. Sebab, surga itu sendiri dan apa saja yang ada di dalamnya belum pernah terlihat oleh mata, terdengar oleh telinga atau terbersit di dalam kalbu manusia (Tafsir ath-Thabari, XVII, 346).

Lalu apa yang dimaksud dengan majelis dzikir? Dalam hadits lain Rasul Shallallahu’alaihi Wasallam menyebut taman-taman surga itu dengan majelis-majelis ilmu. Inilah yang juga dipahami oleh para Sahabat seperti Abu Hurairah ra dan Ibn Mas’ud ra (Fauzi Sinaqart, At-Taqarrub iilla Allah). Imam al-Qurthubi juga menyebut majelis-majelis dzikir yang dimaksud adalah majelis ilmu tentang halal dan haram. Adapun menurut Imam al-Ghazali, yang dimaksud adalah majelis ilmu-ilmu akhirat; ilmu tentang Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan kekuasaan-Nya serta penciptaan-Nya (Faydh al–Qadir, I/696).

Di Taman inilah yang dimaksud oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Bahkan kalaulah kita tahu dan menyadarinya bahwa taman-taman surga yang ada di dunia ini menjadi incaran pencarian para Malaikat penghuni langit, jika ada salah satu dari Malaikat menemukannya maka ia akan memberitahukan kepada Malaikat lainnya. Adanya taman-taman inipun menjadi perbincangan antara Allah dan Malaikat.

Nabi Sallallahu alaihi wasallam, Beliau bersabda

“Sungguh, Allah Ta’ala mempunyai malaikat-malaikat yang berkeliling mencari ahli dzikir.” Apabila mereka menemukan kaum yang berdzikir kepada Allah Azza wa Jalla, mereka saling memanggil:

“Datanglah kemari kepada hajat kalian!” Para malaikat itu lalu melingkupi para ahli dzikir dengan sayap-sayap mereka sampai ke langit dunia.

Lalu Tuhan mereka bertanya – Dia lebih tahu-: “Apa yang di ucapkan oleh para hamba-Ku?”

Para malaikat menjawab:” Mereka bertasbih kepada-Mu, bertakbir kepada-Mu, memuji-Mu dan mengagungkan-Mu. Allah bertanya: “Apakah mereka melihat-Ku?”

Para malaikat menjawab: “Tidak, demi Allah, mereka tidak melihat-Mu.”

Allah bertanya: “Bagaimanakah seandainya mereka melihat-Ku?”

Para malaikat menjawab: “Seandaianya mereka melihat-Mu, tentu mereka lebih keras beribadah kepada-Mu, lebih bersungguh-sungguh mengagungkan-Mu dan lebih banyak bertasbih kepada-Mu.”

Allah bertanya: “Lalu apakah yang mereka minta? “Para malaikat menjawab: “Mereka minta surga kepada-Mu.” Allah bertanya: “Apakah mereka pernah melihat surga itu?”

Para malaikat menjawab: “Tidak, demi Allah wahai Tuhan, mereka tidak pernah melihatnya.”

Allah bertanya: “Lantas bagaimanakah seandainya mereka melihatnya?”

malaikat menjawab: “Seandainya mereka pernah melihatnya, tentu lebih kuat keinginan mereka terhadap surga itu dan selalu memintanya, serta lebih besar dambaan mereka terhadapnya.”

Allah bertanya: “Dari apakah mereka memohon perlindungan?

Malaikat menjawab: “ Mereka memohon perlindungan dari neraka.”

Allah bertanya: “Apakah mereka pernah melihatnya?”

malaikat menjawab: “Tidak, demi Allah mereka tidak pernah melihatnya.” Allah bertanya: “Bagaimanakah seandainya mereka melihatnya.”

malaikat menjawab: “seandainya mereka melihatnya, tentu bertambah kuat dan jauh lari mereka terhadapnya.”

Allah berfirman: “Saksikan oleh kalian bahwa Aku telah mengampuni mereka. “

Ada malaikat yang menyela:”Diantara mereka terdapat si Fulan yang tidak termasuk mereka. Dia datang hanya karena keperluan pribadi.”

Allah berfirman: “Mereka sama-sama duduk, tidak akan celaka oleh teman duduk mereka.”

(Hadist Bukhari dan Muslim).

2.Berusaha menjadi Ahli Ilmu.

Dengan ilmu Allah akan memuliakan dan menghinakan suatu kaum.

إِنَّ اللهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا، وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ

Khalifah Umar ra. Berkata Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,

“Sesungguhnya Allah akan memuliakan suatu kaum dengan kitab ini (Al-Quran) dan menghinakan yang lain.” (H.R. Muslim).

 

Hadits ini berawal dari peristiwa ketika Nafi bin Abdul Harits, seorang pejabat di kota Makkah yang diangkat oleh Khalifah Umar bin Al-Khaththab.

 

Suatu hari ketika Nafi sedang berada di wilayah ‘Usfan’, ia berjumpa dengan Umar bin Al-Khaththab. Lalu mereka berdua pun berbincang-bincang cukup lama. “Siapa yang Anda angkat sebagai kepala bagi penduduk Wadli?” tanya Umar saat itu.

“Ibnu Abza” Jawab Nafi’

“Siapakah itu Ibnu Abza?” tanya Umar

“Salah seorang Maula (budak yang telah dimerdekakan) di antara beberapa Maula kami,” jawab Nafi’

“Mengapa Maula yang diangkat?” tanya Umar kembali.

“Karena ia adalah seorang yang pintar tentang Kitabullah (Al-Quran) dan pandai tentang ilmu fara`idl (ilmu tentang pembagian harta warisan),” jawab Nafi’.

“Benar!, Nabi kita pernah bersabda:

إِنَّ اللهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا، وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ

Artinya: “Sesungguhnya Allah akan memuliakan suatu kaum dengan kitab ini (Al Quran) dan menghinakan yang lain.”

Kisah-kisah Ahli Ilmu terdahulu

#Kisah HASAN AL BASRI  

Telah datang berita gembira kepada istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Ummu Salamah, bahwa budaknya yang bernama Khairah telah melahirkan seorang bayi laki-laki.

Ummul Mukminin hanyut dalam kegembiraan dan wajahnya tampak ceria dan berseri-seri. Dia mengutus seseorang untuk membawa ibu dan bayinya ke rumah selama masa-masa pemulihan pasca melahirkan. Khairah adalah budak yang paling beliau sayangi dan beliau telah rindu menantikan kelahiran bayi pertama dari budaknya itu.

Tak lama setelah itu Khairah pun datang dengan bayi di gendongannya. Ketika Ummu Salamah memandangnya, beliau langsung menyukai bayi itu karena wajahnya yang tampan dan cerah, menarik hati siapapun yang memandangnya.

Ummu Salamah bertanya kepada budaknya: “Sudahkah engkau memberikan nama untuknya wahai Khairah?” Khairah menjawab: “Belum, aku ingin Anda-lah yang memilihkan nama untuknya sesuka Anda.”

Ummu Salamah berkata, “Kita akan memberi nama yang diberkahi Allah Subhanahu wa Ta’ala yaitu Hasan.” Lalu beliau mengangkat tangannya untuk mendoakan kebaikan bagi sang bayi.

Kebahagiaan atas kelahiran Hasan itu tidak hanya dirasakan oleh keluarga Ummul Mukminin Ummu Salamah saja. Namun juga dirasakan oleh seisi rumah di Madinah, yaitu di rumah sahabat utama yang juga penulis wahyu Rasulullah, Zaid bin Tsabit. Sebab ayah si bayi, yakni Yasaar, adalah budak Zaid bin Tsabit yang paling disayangi dan diutamakan di antara budak yang lain.

Hasan bin Yassar (yang pada akhirnya lebih terkenal dengan sebutan Hasan al-Bashri) tumbuh di salah satu rumah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, besar di pangkuan salah satu istri beliau, yaitu Hindun binti Suhail yang lebih sering dipanggil dengan Ummu Salamah.

Anak ini meraih kesempatan emas untuk bergaul dengan istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebab rumah-rumah mereka berdekatan sehingga ia bisa bermain dari satu rumah ke rumah yang lain. Sudah barang tentu akhlak beliau terwarnai oleh para penghuni rumah itu dan mendapatkan bimbingan dari mereka.

Hasan dibesarkan dalam suasana yang diterangi oleh cahaya nubuwah dan meneguk sumber air jernih (ilmu) yang tersedia di rumah-rumah ummahatul mukminin. Beliau juga berguru kepada sahabat-sahabat utama di Masjid Nabawi. Beliau meriwayatkan dari Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Abu Musa al-Asy’ari, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Abbas, Anas bin Malik, Jabir bin Abdillah dan lain-lain.

Nama Hasan al-Bashri telah menyebar di seluruh daerah dan dikenal di mana-mana.Para gubernur dan khalifah menanyakan dan mengikuti beritanya.Setelah wafatnya khalifah yang zuhud Umar bin Abdul Aziz, kekuasaan beralih ke tangan Yazid bin Abdul Malik. Khalifah baru ini mengangkat Umar bin Hubairah al-Faraqi sebagai gubernur Irak sampai Khurasan. Yazid ditengarai telah berjalan tidak seperti jalannya kaum salaf yang agung. Dia senantiasa mengirim surat kepada walinya, Umar bin Hubairah agar melaksanakan perintah-perintah yang ada kalanya melenceng dari kebenaran.

Untuk memecahkan problem itu, Umar bin Hubairah memanggil para ulama di antaranya asy-Sya’bi dan Hasan al-Basri. Dia berkata: “Sesungguhnya Amirul Mukminin, Yazid bin Abdul Malik telah diangkat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai khalifah atas hamba-hamba-Nya. Sehingga wajib ditaati dan aku diangkat sebagai walinya di negeri Irak sampai kupandang tidak adil. Dalam keadaan yang demikian, bisakah kalian memberikan jalan keluar untukku, apakah aku harus menaati perintah-perintahnya yang bertentangan dengan agama?”

Asy-Sya’bi menjawab dengan jawaban yang lunak dan sesuai dengan jalan pikiran pemimpinnya itu, sedangkan Hasan al-Basri tidak berkomentar sehingga Umar menoleh kepadanya dan bertanya, “Wahai Abu Sa’id, bagaimana pendapatmu?”

Beliau berkata, “Wahai Ibnu Hubairah, takutlah kepada Allah atas Yazid dan jangan takut kepada Yazid karena Allah. Sebab ketahuilah bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala bisa menyelamatkanmu dari Yazid, sedangkan Yazid tak mampu menyelamatkanmu dari murka Allah. Wahai Ibnu Hubairah, aku khawatir akan datang kepadamu malaikat maut yang keras dan tak pernah menentang perintah Rabb-nya lalu memindahkanmu dari istana yang luas ini menuju liang kubur yang sempit. Di situ engkau tidak akan bertemu dengan Yazid. Yang kau jumpai hanyalah amalmu yang tidak sesuai dengan perintah Rabb-mu dan Rabb Yazid.”

“Wahai Ibnu Hubairah, bila engkau bersandar kepada Allah dan taat kepada-Nya, maka Dia akan menahan segala kejahatan Yazid bin Abdul Malik atasmu di dunia dan akhirat. Namun jika engkau lebih suka menyertai Yazid dalam bermaksiat kepada Allah, niscaya Dia akan membiarkanmu dalam genggaman Yazid. Dan sadarilah wahai Ibnu Hubairah, tidak ada ketaatan bagi makhluk, siapapun dia, bila untuk bermaksiat kepada Allah.”

Umar bin Hubairah menangis hingga basah jenggotnya karena terkesan mendengarnya. Dia berpaling dari asy-Sya’bi kepada Hasan al-Basri, Umar semakin bertambah hormat dan memuliakannya. Setelah kedua ulama itu keluar dan menuju ke masjid, orang-orang pun datang berkerumun ingin mengetahui berita pertemuan mereka dengan amir Irak tersebut.

Asy-Sya’bi menemui mereka dan berkata; “Wahai kaum barangsiapa mampu mengutamakan Allah atas makhluk-Nya dalam segala keadaan dan masalah, maka lakukanlah. Demi yang jiwaku ada di tangan-Nya, semua yang dikatakan Hasan al-Basri kepada Umar bin Hubairah juga aku ketahui. Tapi yang kusampaikan kepadanya adalah untuk wajahnya, sedangkan Hasan al-Basri menyampaikan kata-katanya demi mengharap wajah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka aku disingkirkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dari Ibnu Hubairah, sedangkan Hasan al-Basri didekati dan dicintai…”

 

Beliau pernah ditanya oleh seseorang tentang dunia dan keadaannya. Beliau berkata, “Anda bertanya tentang dunia dan akhirat. Sesungguhnya perumpamaan dunia dan akhirat adalah seperti timur dan barat, bila satu mendekat, maka yang lain akan menjauh.”

Allah memberikan karunia umur kepada Hasan al-Basri hingga berusia lebih dari 80 tahun dan telah memenuhi dunia ini dengan ilmu, hikmah dan fiqih.

…………..

#Kisah ATHA BIN ABI RABBA

Atha adalah seorang yang berkulit hitam legam, berambut keriting, dan berbibir tebal. Semasa di Mekah ia menjadi budak dari seorang wanita yang bernama Habibah binti Maisarah bin Abi Hutsaim. Tatkala sang tuan melihat budaknya ini mempunyai semangat yang tinggi dalam menuntut ilmu dan berkhidmat kepada agama Allah, maka ia pun berinisiatif untuk membebaskannya dan mengharap pahala di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Atha menjual dirinya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, semua waktunya telah diperuntukkan demi menuntut ilmu, hingga ia mencapai derajat yang tinggi dengan kemuliaan ilmunya tersebut.

Yahya bin Sa’id mengatakan, “Bagi Atha, masjid adalah tempat tinggalnya selama dua puluh tahun. Ia adalah orang yang paling bagus salatnya.”

Ibnu Juraij mengatakan: “Lantai masjid menjadi kasurnya selama dua puluh tahun, dan ia adalah orang yang paling bagus salatnya”. Ibnu Juraij melanjutkan komentarnya, “Sungguh aku bersamanya tiga belas tahun. Di masa tuanya saja dimana fisiknya telah melemah, ia salat dengan membaca dua ratus ayat dari Surat Al-Baqarah dalam keadaan kokoh berdiri.”

Ad-Daruquthni mengatakan “Atha pernah berkata, ‘Aku telah bertemu dan belajar kepada lebih dari dua ratus sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam.”

Suatu ketika Ibnu Umar datang ke Mekah lalu orang-orang pun datang mengitarinya untuk meminta fatwa, maka Ibnu Umar mengatakan, “Kalian mengumpulkan pertanyaan-pertanyaan ini kepadaku padahal di sisi kalian ada Atha bin Abi Rabah!!”

Perkataan yang senada pun diucapkan oleh Ibnu Abbas, tatkala ada seseorang yang diutus untuk mengajukan pertanyaan kepadanya, lalu sepupu nabi ini menjawab, “Wahai penduduk Mekah, kalian berkumpul dan meminta fatwa kepadaku padahal di tengah-tengah kalian ada Atha bin Abi Rabah.”

Abu Ja’far Al-Baqir mengatakan “Bertanyalah kalian kepada Atha, dia itu orang yang paling baik di antara kita.” Ia juga menuturkan, “Ambillah (ilmu) dari Atha semampu kalian, karena tidaklah tersisa di muka bumi ini seorang yang lebih mengetahui tentang manasik haji selain Atha.”

 

Imam Ibnu Abi Laila mengatakan, “Aku pernah berjumpa dengan Atha. Lalu ia menanyakan beberapa hal kepadaku. Maka sahabat-sahabat Atha tercengang keheranan seraya mengatakan, ‘bagaimana mungkin engkau yang bertanya kepadanya?’ Ia menjawab, ‘apa yang kalian herankan? Dia orang yang lebih berilmu daripada saya.”

Al-Asma berkata, Suatu hari Atha bin Abi Rabah menemui Khalifah Abdul Malik untuk suatu kerperluan umat. Ia memanfaatkan kesempatan karena sang khalifah berada di Mekah untuk menunaikan ibadah haji. Ia sedang bersantai di atas kasur tempat duduk raja dikelilingi para pembesar kerajaan Bani Umayah. Mengetahui kedatangan tamu yang mulia, seorang ulama karismatik yang dihormati. Spontan sang khalifah menyabut kedatangannya dengan hangat dan ucapan salam penghormatan. Sang raja dengan lapang dada mengajaknya duduk bersama di atas kasur miliknya. Namun, sosok ulama rabbani yang rendah hati ini justru menginginkan duduk di depannya, bukan di kasur mewah yang terbentang indah itu. Khalifah pun bertanya, “Wahai Abu Muhammad, apakah kebutuhanmu?” Atha menjawab, “Wahai Amirul Mukminin, bertakwalah kepada Allah atas apa yang Allah dan rasul-Nya larang dan hendaklah Anda jalankan kepemimpinan dengan bijaksana. Bertakwalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap urusan muhajirin dan ansar, karena merekalah Anda memiliki singgasana. Bertakwalah atas urusan kaum muslim yang tinggal di perbatasan negeri, karena merekalah perisai dan pertahanan kaum muslim. Tunaikan seluruh perkara kaum muslim karena Andalah yang bertanggung jawab tentangnya. Dan bertakwalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atas orang-orang lemah, janganlah Anda pancangkan palang pintu istana untuk mereka.” Maka Amirul Mukminin menjawab, “Semua itu akan kulakukan.”

Lalu Atha pun berdiri. Abdul Malik segera meraih tangannya seraya berucap, “Wahai Abu Muhammad, sesungguhnya engkau dari tadi memintakan urusan orang lain kepadaku dan aku berjanji akan menunaikannya, namun engkau sendiri apa yang menjadi kebutuhanmu?” Atha menjawab, “Saya tidak meminta kepada makhluk akan kebutuhan saya.” Lalu ia keluar, maka Abdul Malik, “Sungguh inilah kemuliaan, inilah keagungan.”

………….

#Kisah MUHAMMAD BIN ABDURAHMAN

Ibrahim al-Harbi menuturkan bahwa Muhammad bin Abdurrahman, ia adalah seorang yang cacat: hidungnya menjorok ke dalam dan dua pundaknya yang lebar.

Suatu saat, ibunya berkata kepada dia,

“Anakku, boleh saja dalam setiap pertemuan orang banyak kamu menjadi bahan tertawaan. Namun, kamu juga harus menjadi kebanggaan mereka. Karena itu kamu harus belajar dan mencari ilmu. Ilmu itulah yang bakal mengangkat derajatmu.”

Pada akhirnya, karena keilmuannya yang mumpuni, Muhammad bin Abdurrahman menjadi penguasa Makkah selama 20 tahun. Jika lawan debatnya sudah duduk di hadapannya, sang lawan debat itu seketika gemetar.

………….

# Kisah IMAM AL BUKHARI (Muhammad bin Ismail)

Imam Muslim juga pernah berkisah. Kali ini tentang Imam al-Bukhari saat beliau tiba di Naisabur, “Aku tidak pernah menyaksikan seorang gubernur dan seorang alim yang begitu dihormati oleh orang-orang Naisabur, sebagaimana Muhammad bin Ismail. Mereka menyambut kedatangannya dua atau tiga mil dari Naisabur.”

Beliau melanjutkan, “Saat al-Bukhari kembali dari perjalanan ilmiahnya, didirikanlah sebuah tenda besar di lapangan di daerah itu. Saat itu, hampir semua penduduk menyambut kedatangannya.” (Syaikh Ahmad Farid, Min A’lam as-Salaf, XVIII)

…………..

Hikmah yang bisa dipetik dari kisah-kisah di atas.

Pertama: Generasi Islam masa lalu adalah generasi yang selalu serius dan bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu.

Kedua: Untuk mencari ilmu, tak segan mereka mengorbankan waktu dan perjalanan yang sulit.

Ketiga: penghormatan dan penghargaan masyarakat, bahkan penguasa kepada ahli ilmu yang amat luar biasa. Bukan semata-mata karena keilmuannya, tetapi karena kewibawaan mereka.

Keempat : mereka menuntut ilmu hanya karna Allah Subhanahu Wa Ta’ala semata

Kelima : menyampaikan ilmu Allah apa adanya, haram adalah haram, halal adalah halal.

Keenam : Ketika menyampaikan kebenaran ilmu Allah, mereka tidak takut akan ancaman dari pihak manapun.

Ketujuh : Yang sering dilupakan oleh banyak orang, kelahiran para ulama besar dan mumpuni dalam berbagai disiplin ilmu itu terjadi pada masa KEKHILAFAHAN.

Pada saat itu negara menjamin sekolah-sekolah dari mulai sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Negara menyediakan sarana-sarana gratis bagi pelajar, seperti biaya sekolah, buku-buku, alat tulis,  penginapan juga makanan, oleh karenanya semua kalangan, miskin kaya bisa mengecap pendidikan yang sama. Kesejahteraan gurupun tak luput dari perhatian pemerintah. Pelajar-pelajar yang berprestasi, ulama-ulama yang memuat buku diberi penghargaan oleh pemerintah.Tak heran bila pada saat itu banyak melahirkan ulama-ulama besar, karya-karya mereka bisa  dilihat dan dirasakan oleh kita yang hidup sekarang ini

3.Mengetahui Keutamaan Ahli Ilmu

Mengetahui keutamaan dari  seorang ahli ilmu sangat penting. Gunanya untuk memotivasi atau memunculkan dorongan untuk bersemangat dan terpacu dalam mendalami ilmu

Abu ad-Darda berkata,

“Aku memang pernah mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

“Siapa saja yang menempuh jalan untuk menuntut ilmu, niscaya Allah akan membuka bagi dirinya salah satu jalan di antara jalan-jalan menuju surga. (1)

Sesungguhnya para malaikat benar-benar meletakkan sayap-sayap mereka karena ridha kepada pencari ilmu.(2)

Sesungguhnya seorang yang berilmu (ulama) benar-benar dimintakan ampunan kepada Allah bagi dirinya oleh siapa saja yang ada di langit dan di bumi, hingga bahkan

ikan-ikan di air. (3)

Sesungguhnya keutamaan orang yang berilmu atas orang yang suka beribadah adalah seperti keutamaan cahaya bulan purnama atas cahaya seluruh bintang di malam hari.(4)

Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi.(5)

Sesungguhnya para nabi itu tidak mewariskan dinar atau dirham, tetapi mewariskan  ilmu. Karena itu, siapa saja yang mengambil ilmu, berarti dia telah mengambil sesuatu yang amat berharga.”” (6)

(HR Abu Dawud, at-Tirmidzi, Ibn Majah dan Ahmad).

Dalam hadits ini terdapat dorongan semangat untuk “tholabul ilmi” (mencari ilmu). Maka sudah sepantasnya bagi manusia untuk segera mempergunakan kesempatan dan umurnya sebelum datang masa-masa yang menyibukkan diri dan datangnya ajal.

Dengan mempelajari ilmu syar’i akanbanyak mengerti hukum-hukum Allah Subhanahu wa ta’ala, baik yang diperintahkan dan apa yang dilarang-Nya, oleh karenanyaridho Allah selalu menyertai hidupnya. Ketika Allah ridho maka balasannya Surga.

#Memilih Guru

Dalam menuntut ilmu, ada hal penting yang tidak boleh kita abaikan yaitu dalam memilih seorang guru. Memilih seorang ulama untuk dijadikan guru harus penuh dengan kehati-hatian. Guru adalah cermin yang dilihat oleh murid sehingga akan membekas di dalam jiwa dan pikiran mereka. Guru adalah sumber pengambilan ilmu. Pilihlah guru yang takut kepada Allah selain keilmuannya yang handal dan mempunyai metode belajar yang bagus.

Para sahabat dan salafus shalih sangat serius di dalam memilih guru untuk dirinya dan anak-anak mereka.

Imam Mawardi menegaskan urgensi memilih  guru yang baik dengan mengatakan,

“Memang wajib bersungguh-sungguh di dalam memilihkan guru dan pendidik bagi anak, seperti kesungguhan di dalam memilihkan ibu dan ibu susuan baginya, bahkan lebih dari itu. Seorang anak akan mengambil akhlak, gerak-gerik, adab dan kebiasaan dari gurunya melebihi yang diambil dari orang tuanya sendiri…” (Nasihah al-Muluk).

 

#Keutamaan Ulama

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,

“Ada tiga orang dimana tidak ada yang meremehkan mereka kecuali orang itu munafik. Mereka adalah orang tua, ulama dan pemimpin yang adil.” (HR ath-Thabrani).

 

 

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

“Allah mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu beberapa derajat.”

(TQS al-Mujadalah [58]: 11).

 

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,

“Sesungguhnya Luqman berkata kepada putranya, ‘Anakku, engkau harus duduk dekat pada ulama. Dengarkanlah perkataan para ahli hikmah, karena sesungguhnya Allah menghidupkan hati yang mati dengan cahaya hikmah sebagaimana Dia menghidupkan bumi yang  mati dengan hujan deras.”

(HR Ath-Thabrani).

 

Imam al-Ghazali menukil perkataan Yahya bin Mu’adz

“Para ulama  itu lebih sayang kepada umat Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam. dari pada ayah dan ibu mereka sendiri.”

Ditanyakalah kepadanya, “Mengapa bisa demikian?”

Ia  menjawab, “Karena para  ayah dan ibu itu hanya menjaga anak-anak mereka dari neraka dunia, sedangkan para ulama itu menjaga mereka dari neraka akhirat.”(Ihya’ ‘Ulum ad-Din, I/11).

4.Agar Ilmu menjadi berkah

Perkataan hikmah dari Ali bin Abi Thalib r.a,

“Wahai para pengemban ilmu, amalkanlah ilmu kalian. Sebab, orang yang disebut alim adalah orang yang mengetahui ilmu lalu mengamalkannya, dan ilmunya sejalan dengan amalnya.

Kelak akan muncul sekelompok kaum yang memikul ilmu ini, tetapi ilmu itu tidak mampu melebihi kerongkongan mereka.

Batin mereka berlawanan dengan lahir mereka. Amal dan tindakan mereka bertolak belakang dengan ilmu yang mereka ketahui.

Mereka duduk dalam majelis ilmu untuk saling berdebat satu sama lain sehingga ada yang marah kepada rekannya, lalu beralih mendukung orang lain dan meninggalkan rekannya.

Amalan mereka dalam majelis tersebut tidak bisa naik kepada Allah ta’ala.” (Diriwayatkan Ibnu ‘Abdil Barr dalam Jami’ Bayan al’Ilmu wa Fadhlihi).

 

  1. Memohon kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar dikaruniai ilmu yang bermanfaat

“Allah telah memerintahkan kepada Nabi-Nya untuk memohon agar selalu dianugerahi tambahan ilmu”. ( QS Thaha :114).

2.Bersungguh-sungguh menuntut ilmu dan selalu merindukan ilmu.

“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh dijalan Kami nisacaya Kami akan tunjukkan kepadanya jalan-jalan Kami. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang berbuat baik.” [Al Ankabut : 69]

     3.Menjauhi segala kemaksiatan & selalu menjaga ketaqwaan kpd Allah Subhanahu Wa Ta’ala

“ Dan Bertakwalah kalian kepada Allah, niscaya Allah akan mengajari kalian. Dan Allah mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al baqarah: 282)

“Wahai orang yang beriman, jika kalian bertakwa kepada Allah, Dia akan menjadi kalian pembeda antara hak dan yang batil”. (QS. Al Anfal: 29)

4.Jangan bersikap ujub,takabur dan jangan malu menuntut ilmu

Aisyah r.a. berkata, “Sebaik-baik wanita adalah wanita Anshar. Karena mereka tidak pernah dihalangi rasa malu untuk mendalami agama.”

“Tiga perkara yang membinasakan: rasa pelit yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti dan ujubnya seseorang terhadap dirinya sendiri” (HR. At-Thabrani dalam Mu’jam Al-Ausath)

5.Keikhlasan dalam menuntut ilmu

“Barang siapa menuntut ilmu yang seharusnya untuk mencari Ridho Allah, tetapi ia hanya ingin meraih tujuan dunia. Maka ia tidak akan mencium bau surga kelak di hari kiamat.” (Diriwayatkan Abu Daud dalam sunan-nya, kitab ilmu, bab menuntut ilmu karena Allah).

6.Bersabar

Usaha mencari ilmu membutuhkan pengorbanan besar, bersusah payah, sedikit tidur, meninggalkan aneka kenikmatan dunia, mendatangani para ulama, belajar ulang, berfikir, mengikuti pelajaran dan sebagainya.

Said bin Jubair ra berkata, “seseorang tetap menjadi orang berilmu selama ia tetap belajar. Jika ia meninggalkan belajar dan mengira bahwa dirinya sudah cukup dengan apa yang dimiliki, maka ketika itulah ia menjadi orang bodoh”.

7.Zuhud

Segala harta yang dipunyai dipergunakan hanya untuk ketaatan kepada Allah semata. Harta dan perhiasan ada ditanganmu bukan di hatimu dan menjadikan usahamu di dunia untuk membantu ketaatan di akhirat.

8.Bersahabat dengan orang sholeh

“Seseorang tergantung kepada agama teman akrabnya, karena itu, hendaklah seseorang memperhatikan siapakah yang akan dijadiakan teman akrab”.

Ali bin Abu Thabib r.a, berkata, “Janganlah bergaul dengan orang yang bodoh jauhkan dirimu darinya dan dia darimu. Betapapun banyak orang penyantun binasa karena bergaul dengan orang bodoh. Seseorang dinilai dari sahabatnya sebab seseorang sama dengan sahabatnya.”

 

5.Khatimah

Menuntut ilmu adalah suatu kewajiban yang diperintahkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, sehingga kita mampu mengetahui mana yang larangan dan mana yang perintah.

Orang yang berilmu tidak akan tersesat, ia akan senantiasa dibimbing Allah, baik pikiran, hati dan panca indranya. Selain itu iapun dimuliakan dan ditinggikan derajatnya oleh Allah.

Ilmu bukan hanya sebagai pengetahuan, akan tetapi harus diamalkan dan bermanfaat untuk orang lain.Menuntut ilmu harus dengan keikhlasan, tidak boleh ada rasa ria, ujub atau takabur. Semoga Artikel ini bermanfaat untuk Sahabat Rumah Kurma Sahara.
Silahkan berbelanja kurma di Rumah Kurma Sahara, Butuh perlengkapan haji? Ingat Toko Rumah Kurma Sahara!
Jalan Raya Semplak Atang Sandjaja No. 224
Bogor Barat – Kota Bogor
Customer Care : 0821-1141-8832 | 0878-7386-0559
Delivery : 0859-2512-6067
WA | PIN BB : 0878-7386-0559 | DA7A086