Bersahabatlah dengan Anak dan Jadilah Teladan


Sikap bersahabat dengan anak memiliki peranan besar dalam memengaruhi jiwa mereka. Perilaku seseorang akan menjadi cermin bagi sahabatnya.

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. biasa menemani anak-anak dalam banyak kesempatan. Suatu saat, beliau menemani Ibnu ‘Abbas dan berjalan berdua. Pada lain kesempatan, beliau menemani keponakannya, Ja’far. Kadang-kadang, beliau juga menemani Anas. Beliau bersahabat dengan anak-anak tanpa merasa kikuk, apalagi angkuh.

Menyertai orang dewasa merupakan hak anak. Tujuannya agar mereka bisa belajar dari orang dewasa sehingga jiwanya terdidik dan kebiasaannya menjadi baik.

Dalam sebuah hadits, Anas bin Malik menjelaskan bahwa Jibril pernah datang kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. saat beliau masih anak-anak. Sementara itu, beliau tengah bermain bersama anak-anak lain. Kemudian, Jibril membawa beliau, membuatnya pingsan, dan membelah dadanya.

Seorang sahabat Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. yang masih anak-anak menceritakan tentang kaumnya yang meminta dirinya untuk menemani Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Permintaan yang ia tindaklanjuti dengan bersahabat bersama Rasulullah itu kelak membuatnya banyak meriwayatkan hadits-hadits Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Ia menginformasikan segala sesuatu yang dilihat dan didengarnya dari Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Ia adalah Abu Juhaifah Radhiyallahu ‘Anhu. Dia mengatakan, “Saya datang bersama rombongan dari Bani ‘Amir bin Sha’sha’ah di Abthah. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. mengatakan, ‘Selamat datang, kalian adalah bagian dariku.’ Saat tiba waktu shalat, keluarlah Bilal, lalu adzan dan memasukkan kedua telunjuknya pada kedua telinganya. Ia menengok (ke kanan dan ke kiri) saat adzan. Maka, ketika Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. (hendak) melakukan shalat, beliau menancapkan tongkat seraya shalat menghadapinya.” (Diriwayatkan oleh Abu Ya’la dalam Musnad no. 2191 dengan sanad shahih).

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. pernah melihat sekelompok anak-anak tengah bermain. Beliau tidak memisahkan mereka dan tidak pula menghentikan permainan mereka. Bahkan, beliau mendukung semangat kebersamaan itu dan mengawasi permainana mereka.

Bersahabatlah dengan Anak dan Jadilah Teladan

Demikian pula dengan para sahabat beliau. ‘Umar biasa menemani putranya dan Ibnu ‘Abbas. Zubair biasa menyertai anaknya ke medan perang untuk belajar seni berperang hingga tumbuh menjadi kuat dan tangguh.

Pada masa kecilnya, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. biasa bergaul dengan anak-anak dan bermain bersama mereka. Pagi dan petang beliau selalu beserta mereka. Dalam suasana seperti itulah beliau tumbuh.

Becermin dari Rasulullah, sejatinya para orang tua dapat menyediakan waktu untuk menemani anak-anaknya. Anak-anak juga perlu dicarikan teman yang sebaya dengannya. Jika orang tua pandai-pandai memilihkan teman yang shalih untuk anak-anaknya dan mengawasi perilaku mereka serta membimbingnya, hal itu akan mendatangkan kebaikan bagi dirinya.

Faktor keteladanan orang tua juga memiliki pengaruh besar terhadap jiwa anak karena biasanya mereka meniru kedua orang tuanya. Bahkan, kedua orang tuanya itu mencetak perilaku paling kuat. “Maka, kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Nasrani, Yahudi, atau Majusi,” demikian kata Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam.

Keteladanan adalah sarana paling efektif untuk menuju keberhasilan pendidikan. Oleh karena itu, Allah mengutus Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam. untuk menjadi teladan bagi manusia: Sungguh, telah ada untuk kalian pada diri Rasulullah teladan yang baik Q.S. Al Ahzâb, 33: 21). Allah pun kemudian menampilkan kepribadian Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. sebagai gambaran utuh sistem Islam; gambaran yang hidup dan abadi sepanjang sejarah.

Aisyah pernah ditanya tentang akhlak Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Ia menjawab, “Akhlaknya adalah Al Qur’an.”

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. adalah teladan agung untuk manusia sepanjang sejarah. Dengan segala perilaku dan kata-katanya, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. adalah pendidik dan penuntun. Oleh karena itu, ia menganjurkan para orang tua agar menjadi teladan yang baik dalam hal kejujuran bagi anak-anaknya. Kejujuran adalah jalan keberhasilan.

Imam Ahmad bin Hanbal meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu. bahwa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. bersabda, “Barang siapa mengatakan kepada anaknya, ‘Kemarilah, aku beri sesuatu’, tapi kemudian tidak memberinya, maka itu merupakan dusta.”

Abu Dawud mengeluarkan hadits dari Abdullah bin ‘Amir. Ibnu ‘Amir berkata, “Suatu hari, ibuku memanggilku, sedangkan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. tengah duduk di rumah kami. Ibuku mengatakan, ‘Kemarilah, aku akan memberi kamu sesuatu.’ Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. bertanya kepadanya, ‘Apa yang mau kauberikan kepadanya?’ Ibuku menjawab, “Aku akan beri dia kurma.’ Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. berkata kepadanya, ‘Demi Allah, jika engkau tidak memberi sesuatu kepadanya, akan dicatat bahwa engkau berdusta’.”

Tuntunan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. itu menunjukkan upaya keras beliau agar pendidik mempraktikkan kejujuran di hadapan orang yang dididiknya untuk memberikan keteladanan kepadanya.

Abdullah bin ‘Amir Radhiyallahu ‘Anhu mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. bersabda, “Suatu hari, berangkatlah tiga orang—dari umat terdahulu—hingga tiba malam yang memaksa mereka berlindung di sebuah goa. Lalu, mereka memasukinya. Tiba-tiba, sebuah batu besar jatuh dari gunung menutup pintu goa tersebut. Mereka berkata, ‘Tidak ada yang dapat menyelamatkan kita dari batu ini, kecuali doa kita dengan (perantaraan) amal shalih kita.’ Salah seorang di antara mereka mulai berdoa, ‘Ya Allah, aku memiliki ibu bapak yang sudah tua renta. Aku tidak pernah berani mendahului mereka minum pada sore hari, tidak pula keluargaku. Pada suatu hari, aku harus pergi jauh untuk mencari kayu bakar hingga aku pulang menemui mereka dalam keadaan sudah tertidur. Aku tidak ingin membangunkan mereka, sementara aku tidak mau mendahulukan keluargaku (untuk minum). Padahal, anak-anakku, saat aku datang, menggeliat-geliat karena lapar. Maka, aku menunggu kedua orang tuaku bangun, sedangkan cangkir tetap di tanganku hingga terbit fajar. Saat kedua orang tuaku bangun, aku meminumkan minuman itu kepada mereka. Ya Allah, jika aku lakukan itu karena mencari ridha-Mu, berilah aku jalan keluar dari impitan batu ini. Maka, bergesarlah batu itu sedikit, namun mereka belum dapat keluar darinya…” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Semoga Artikel ini bermanfaat untuk Sahabat Rumah Kurma Sahara.
Silahkan berbelanja kurma di Rumah Kurma Sahara, Butuh perlengkapan haji? Ingat Toko Rumah Kurma Sahara!
Jalan Raya Semplak Atang Sandjaja No. 224
Bogor Barat – Kota Bogor
Customer Care : 0821-1141-8832 | 0878-7386-0559
Delivery : 0859-2512-6067
WA | PIN BB : 0878-7386-0559 | DA7A086

Klik Untuk Chat
👋 Hubungi Kami Via Whatsapp, Team Customer Support Online Kami Siap. Tanyakan Apapun Kepada Kami.