Menemukan Arah Kehidupan

Di dalam kehidupan ini, semua manusia pasti  memiliki suatu tujuan. Ada yang tujuan hidupnya ingin mendapat kebahagiaan dunia saja. Namun ada juga yang menginginkan kebahagiaan akhirat sebagai tujuan akhir hidupnya. Dan tentunya dalam mencapai suatu tujuan, manusia akan memilih jalan yang diyakini akan bisa membawanya sampai pada tujuan hidupnya.

Sebagai muslim, kita seharusnya yakin bahwasanya kehidupan dunia adalah terbatas. Seperti manusia dan makhluk hidup lainnya, terbatasi oleh ajal yang telah Allah tentukan. Dan hendaknya pula kita yakin bahwa akhirat adalah kehidupan yang kekal. Oleh karena itu, perbuatan kita di dunia inilah yang menentukan bahagia atau tidaknya kita di akhirat kelak.

Di dunia ini manusia diberi kebebasan untuk memilih jalan hidupnya. Apakah memilih diam saja seperti batu atau hanyut mengikuti arus air seperti daun  atau memilih melawan arus  seperti ikan. Ketika manusia memilih seperti batu maka ia akan diam atau tidak mempunyai reaksi apapun terhadap masalah hidupnya. Diam menunggu tanpa mau berbuat apapun untuk merubah hidupnya. Begitu pula dengan manusia yang memilih menjadi daun yang akan ikut hanyut kemana saja air mengalir. Ia akan pasrah menerima permasalahan hidupnya tanpa mau berusaha menyelesaikannya. Bahkan mungkin akan selalu membebek dalam segala hal tanpa punya kemandirian dalam hidupnya. Berbeda dengan ikan yang melawan arus air, maka manusia akan bergerak dalam kehidupannya. Mengambil peran di area yang memang manusia menguasainya seperti memilih berbuat baik atau buruk, makan ketika lapar, dll. Dan menerima segala sesuatu yang memang dalam area yang dikuasai Allah seperti tidak bisa memilih jenis kelamin laki-laki atau perempuan, lahir hidung mancung atau pesek, warna kulit hitam atau Shallallahu’alaihi Wasallamo matang, dll.

Manusia sebagai makhluk ciptaan Allah memiliki kemuliaan yang luar biasa daripada makhluk hidup lainnya. Kemuliaan yang dimiliki manusia adalah ketika ia dianugerahi akal yang tidak pernah dianugerahkan kepada makhluk yang lain. Akal yang diberikan Allah kepada seorang manusia bukan hanya pemberian sia-sia semata, akal dihadirkan Allah sebagai sebuah jalan bagi manusia untuk menemukan berbagai rahasia kehidupan yang telah disediakan oleh Allah. Akal pun diberikan Allah agar manusia mampu meresapi berbagai fakta yang ada di kehidupannya. Oleh karena itu dengan akal manusia bisa memilih dan menimbang perbuatan baik dan buruk. Dan setiap perbuatan yang manusia pilih (dalam area yang dikuasainya) ada konsekuensi berupa pahala ataupun dosa, yang pada akhirnya menjadikan manusia layak masuk syurga atau neraka.

Misi Manusia Dalam kehidupan.

Menjadi sebuah kewajaran yang merupakan akibat dari adanya akal pada diri manusia, ia akan senantiasa membuat pertanyaan dan juga mencari jawaban mengenai kehidupan ini. Setidaknya ada tiga pertanyaan kunci yang akan membuka dan mengawali lembaran hidup seorang manusia. Pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah :

  1. Darimana manusia berasal?
  2. Untuk apa manusia hidup di dunia?
  3. Kemana manusia akan pergi setelah kehidupannya?

Ketiga pertanyaan besar ( Uqdatul Kubra) inilah yang kemudian akan menentukan bagaimana cara hidup seorang manusia dan menjadi landasan hidup manusia dalam seluruh aspek kehidupannya. Ketiga pertanyaan tersebut hanya mampu dijawab oleh pemikiran mendasar yang sama sekali tidak didahului oleh pemikiran lainnya. Hanya terbatas pada pemikiran yang menyeluruh tentang alam semesta, manusia dan kehidupan. Sedang pemikiran-pemikiran cabang yang dibangun di atas dasar aqidah tadi, merupakan peraturan bagi kehidupan manusia dalam segala aspeknya seperti politik, ekonomi, sosial, budaya, dan sebagainya.

Mabda / ideologi yang ada di dunia.

Di dunia ini ada tiga pemikiran besar (ideologi /mabda) yang mampu menjawab ketiga pertanyaan besar dalam kehidupan manusia tersebut (Uqdatul Kubra). Tiga pemikiran besar tersebut adalah ideologi sosialis-komunis, ideologi kapitalis-sekularis, dan ideologi islam. Ketiga pemikiran besar ini telah berhasil menjawab ketiga pertanyaan besar dalam hidup tadi –terlepas apakah benar atau salah- yang kemudian akan mempengaruhi bagaimana cara manusia dalam menjalani hidup ini

  1. Pemikiran Sosialis-Komunis

Pemikiran ini menjawab ketiga pertanyaan besar dalam hidup manusia tsb. Untuk pertanyaan pertama, dari mana manusia berasal?. Mereka menjawab bahwa manusia berasal dari materi, atau tanah lebih tepatnya. Kemudian pertanyaan kedua, untuk apa manusia hidup di dunia ini? Jawabnya tentu untuk bersenang-senang karena manusia tercipta dari materi maka wajarlah jika manusia juga mencintai materi. Dan pertanyaan terakhir, kemana manusia akan berakhir? Jawabnya adalah kembali menjadi materi, lebih tepatnya tanah seperti asal mula manusia ada.

Bagi mereka yang tidak percaya sama sekali dengan adanya Tuhan terlebih Allah, maka hidup ini diatur oleh keinginan dari diri mereka sendiri. Mereka hidup sesuka hati karena yakin tidak ada yang lebih kuat dan pintar serta mulia daripada manusia.  Anggapan tidak adanya Tuhan ini yang membuat mereka berpikir bahwa manusia lah yang kemudian  memiliki jagat raya ini, manusia makhluk terhebat, makhluk termulia, dan tidak ada lagi apapun yang melebihinya.

  • Pemikiran Kapitalis-Sekularis

Pemikiran ini pun mencoba menjawab pertanyaan besar dalam kehidupan ini. Pertanyaan pertama, dari mana manusia berasal? Mereka menjawab bahwa manusia berasal dari Tuhan, diciptakan oleh Tuhan. Kemudian kedua, untuk apa manusia hidup? Mereka menjawab untuk bersenang-senang/ berbuat sesuka hati dan kemudian untuk pertanyaan terakhir, kemana manusia akan berakhir? Mereka menjawab kembali kepada Tuhan.

Perbedaan paling mendasar antara pemikiran Sosialis-komunis dengan pemikiran Kapitalis-sekuler ini adalah dalam hal kepercayaan kepada Tuhan. Jika Sosialis-komunis tidak percaya akan eksistensi dan keberadaan Tuhan, maka Kapitalis-sekularis percaya dengan adanya Tuhan. Namun sayang, walau mereka percaya kepada Tuhan tapi mereka menekankan bahwa Tuhan tidak punya hak apapun terhadap diri mereka, ciptaanNya atau dalam hal ini manusia itu sendiri.

Wajarlah jawaban mereka ketika ditanya untuk apa hidup di dunia, maka mereka menjawab untuk bersenang-senang karena bagi mereka Tuhan tidak punya hak apa-apa terhadap kehidupan mereka dan mengatur kehidupan mereka. Kebebasan untuk berbuat apapun, melakukan apapun, mengambil peran apapun, membuat peraturan yang seperti apapun, dan lainnya menjadi ciri khas pemikiran mereka. Bebas sebebas-bebasnya karena tidak ada Tuhan yang mengatur mereka, dan memang mereka menekankan Tuhan sama sekali tidak punya hak untuk mengatur kehidupan mereka. Walau mereka memang yakin akan kembali kepada Tuhan, namun mereka tidak mengakui akan adanya hisab atau pertanggung jawaban terhadap Tuhan atas apa-apa yang telah mereka kerjakan di dunia.

Pemikiran kapitalis menjadikan materi, uang, modal di atas segalanya. Asas manfaat dijadikan landasan dalam ekonominya. Segala sesuatu diukur dari manfaat atau tidaknya. Mereka akan melakukan apa saja untuk mendapatkan kekayaan yang lebih, apakah itu dengan jalan mengangkat senjata atau hanya sekedar permainan retorika kata-kata semata.

Bahkan, begitu tingginya materi, uang bagi pemikiran ini, hukum pun mampu diperjualbelikan. Kebenaran dan kebatilan pun mampu diputar balikkan dengan mudah, asalkan ada uang yang cukup maka semuanya bisa dilakukan. Betapa uang, kekayaan mampu membeli hukum, mampu memutar balikkan kebenaran dan kebatilan

Dan terakhir, tentu karena ketidakpercayaan terhadap aturan Tuhan, maka mereka menekankan bahwa agama tidak boleh mengurusi masalah publik. Tidak boleh ada agama dalam ranah politik, ekonomi, sosial dan budaya. Agama hanya boleh ada pada ranah spiritual semata, di tempat-tempat ibadah saja, dan hanya boleh ada pada interaksi antara manusia dengan Tuhannya, tidak antara manusia dengan manusia.

Inilah sedikit gambaran sederhana tentang pemikiran Kapitalis-sekularis, yang benar-benar memisahkan agama dari kehidupan dan membebaskan segala macam kehidupan manusia tanpa ada aturan dari Tuhan.

  • Pemikiran Islam (ideologi islam)

Pemikiran ini pun menjawab pertanyaan paling besar dan juga mendasar dalam hidup. Pertanyaan besar pertama, dari mana manusia berasal? Jawaban mereka tentulah berasal dari Allah. Kemudian pertanyaan kedua, untuk apa manusia hidup? Maka mereka menjawab semata-mata hanya untuk beribadah kepada Allah. Dan pertanyaan terakhir, kemana manusia akan pergi?. Jawabnya adalah kembali kepada Allah.

Perbedaan paling mendasar dan terlihat jelas pada pemikiran ini adalah pada jawaban dari pertanyaan kedua, yakni untuk apa manusia hidup di dunia! Jika dua pemikiran lainnya menjawab untuk bersenang-senang di dunia, namun Islam menjawab dengan jawaban khas yaitu untuk beribadah kepada Allah semata. Jawaban yang tidak pernah dikeluarkan oleh pemikiran apapun dan juga dari agama manapun.

Hal lain yang kemudian memberikan ciri khas dari pemikiran ini adalah penghubung antara masing-masing jawaban yang berhubungan erat dengan eksistensi pencipta yakni Allah. Antara jawaban pertama dan jawaban kedua ada sebuah jembatan bernama aturan hidup dari Allah yang kemudian kita sebut sebagai syariat Islam. Allah mempunyai hak penuh untuk mengatur kehidupan makhluk ciptaanNya, sama sekali aneh jika seorang pencipta tidak diperbolehkan mengatur ciptaanNya atau justru aneh pula jika makhluk ciptaan tidak mau diatur oleh pencipaNya.

Dan juga antara pertanyaan kedua dan ketiga, ada sebuah jembatan penghubung bernama hisab atau pertanggung jawaban terhadap Sang Pencipta. Apapun yang diperbuat manusia, makhluk ciptaan Allah yang mempunyai akal ini di dunia, maka semua itu pasti harus dipertanggung jawabkan kepada Allah hingga kemudian ia akan menerima pembalasan dari Allah yakni tempat terakhirnya apakah di surga yang penuh dengan kenikmatan atau neraka yang penuh dengan kesengsaraan.

Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam besabda yang diriwayatkan dalam hadist shohih riwayat Imam Muslim dari Abu Hurairah ra, “Siapa saja yang masuk jannah, maka ia pasti akan merasakan senang dan tidak pernah putus asa. Ia berpakaian yang tidak lepas, masa remaja yang tidak pernah pudar, matanya melihat sesuatu yang tidak pernah dilihat sebelumnya, telinganya mendengar sesuatu yang tidak pernah didengar sebelumnya, dan hati manusia tidak pernah menghayalkan sesuatu hal yang ada sebelumnya”.

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا ۚ أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

Artinya: Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (QS.Al-A’raf:179)

“Life is choice”  

Hidup adalah pilihan. Baik dan buruknya perbuatan manusia akan dipertanggung jawabkan kelak dihari akhir. Namun sayangnya, masih banyak kaum muslim tidak menyadarinya. Mereka menganggap bahwa kehidupan dunia terpisah dengan kehidupan akhirat. Banyak kaum muslim yang  menjadikan ideologi selain ideologi islam sebagai way of life mereka.

Padahal dalam Islam sudah jelas bahwasanya seluruh aturan kehidupan itu berasal dari Allah, tidak diperbolehkan bagi seorang manusia terlebih seorang muslim yang mengatakan dirinya beriman untuk mengambil hukum aturan lain selain aturan Allah dalam kehidupannya. Dari bangun tidur hingga bangun negara, juga dari masuk toilet hingga masuk surga, Islam memiliki dan menyediakan semua aturan yang berhubungan dengannya. Dan aturan itu ada untuk membuat manusia menjadi makhluk yang benar-benar mulia, bukan justru malah menghinakannya seperti yang telah dilakukan dua ideologi lainnya.

Khatimah

Oleh karena itu, sudah seharusnya manusia kembali kepada aturan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Tentunya keberkahan hidup akan dapat kita raih. Hidup mulia di dunia dan juga di akhirat.  Ketika kita menyadari bahwasanya kehidupan akhirat adalah kehidupan yang sebenarnya, tentunya kita perlu memperhatikan dan mempersiapkan amalan-amalan kebaikan selama hidup di dunia.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.(QS. Al-Hasyr ayat 18).

Semoga Artikel ini bermanfaat untuk Sahabat Rumah Kurma Sahara.
Silahkan berbelanja kurma di Rumah Kurma Sahara, Butuh perlengkapan haji? Ingat Toko Rumah Kurma Sahara!
Jalan Raya Semplak Atang Sandjaja No. 224
Bogor Barat – Kota Bogor
Customer Care : 0821-1141-8832 | 0878-7386-0559
Delivery : 0859-2512-6067
WA | PIN BB : 0878-7386-0559 | DA7A086

Referensi : https://muslimahactivity.wordpress.com