SA’AD BIN MU’ADZ Pemuda yang menggetarkan arsy ALLAH

Banyak kisah telah diungkapkan tentang kemuliaan para sahabat sepanjang sejarah, dan kita sebagai pengikut Rasulullah tentu ada baiknya mengetahui lebih dalam peran para sahabat dalam aktifitas strategi dakwah, khususnya dakwah menegakkan syariat dan khilafah.

Dimana peran tersebut amat menentukan amal yang mereka peroleh dalam kehidupan di dunia ini. Salah satu sahabat yang Allah berikan hidayah dan menjadi pembuka gerbang pertolongan Allah dalam dakwah adalah Sa’ad bin Mu’adz ra. Sosok yang menjadi salah satu kunci tegaknya Daulah Islamiyyah di Madinah.

Dalam firman-Nya Allah mengatakan :

مِّنَ ٱلْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا۟ مَا عَٰهَدُوا۟ ٱللَّهَ عَلَيْهِ فَمِنْهُم مَّن قَضَىٰ نَحْبَهُۥ وَمِنْهُم مَّن يَنتَظِرُ وَمَا بَدَّلُوا۟ تَبْدِيلًا

Di antara orang-orang mu’min itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak merobah (janjinya). (QS.Al-Ahzab :23)

 

Siapakah yang bergelar Rijal dalam Al-Quran?

‘Rijal’ dari segi bahasanya berarti para lelaki, namun perkataan ‘Rijal’dalam bahasa Arab tidak bermakna fisik melainkan ia mengandung makna :

  1. Keberanian.
  2. Ketulusan.
  3. Kepahlawanan.
  4. Konsistensi.
  5. Pengorbanan.

 

  • Makna itulah yang disinggung oleh Al Qur’an dalam surah Nur ayat 37 yaitu menceritakan tentang ‘Rijal’ yang tidak dilupakan oleh perniagaan dan jual beli dari mengingati Allah Subhanahu Wa Ta’ala, solat dan membayar zakat.
  • Begitu juga perkataan ‘Rijal’ disebut di dalam surah Al Ahzab ayat 23 yang menceritakan bahwa ada ‘Rijal’ yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, ada yang gugur dan ada yang masih menunggu gilirannya, tanpa merubah janjinya.

 

Mengenal Sa’ad bin Mu’adz R.A

Sa’ad bin Mu’adz bin al-Nu’man bin ‘Umru’u al-Qais al-Anshory’, putera Zaid bin ‘Abd al-Asyhal bin Jusyum bin al-Harits bin al-Khazraj bin al-Nabiit’. Ibu beliau bernama Kabsyah bint Rafi’, termasuk shahabiyyah. Laqab beliau adalah Abu ‘Amru dan merupakan pemuka dari bani ‘Abd al-Asyhal dari suku Aus.

Kecintaan dan pembelaan beliau kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dan kaum muslim amatlah besar dan sulit dicari tandingannya. Sebaliknya terhadap orang-orang kafir dan musuh Allah beliau bersikap tegas dan keras. Beliau juga dikenal zuhud dan wara’, membaktikan seluruh hidupnya untuk meninggikan agama Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Termasuk ahlu al-quwwah ( orang yang memiliki kekuatan; baik politik maupun militer ) yang menyerahkan nushrah kepada Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Bahkan Rasulullah bersabda : “Arsy Ar-Rahman bergetar dengan berpulangnya Sa’ad bin Mu’adz.” [H.R. Bukhari dan Muslim]

 

Keislaman Sa’ad bin Mu’adz

Sa’ad bin Mu’adz ra masuk islam atas jasa dari shahabat Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam, Mush’ab bin ‘Umair ra. Setelah peristiwa Bai’at ‘Aqabah1, Rasulullah menyertakan Mush’ab bin ‘Umair dalam rombongan kaum Anshor. Pada saat itu Sa’ad bin Mu’adz dan Usaid bin Hudlair adalah pemimpin Bani ‘Abd al-Asyhal dan belum masuk Islam.

Mush’ab bin ‘Umair menawarkan Islam kepadanya dan membacakan al-Qur’an kepadanya. Setelah dibacakan firman Allah ini, Sa’ad bin Mu’adz berkata : “Apa yang kalian perbuat, jika kalian ingin masuk Islam dan masuk kepada agama ini ?” . Mush’ab bin ‘Umair dan As’ad bin Zurarah berkata : “Engkau mandi, mencuci bajumu, bersaksi dengan kesaksian yang benar dan shalat 2 raka’at”.

 

Sa’ad bin Mu’adz menyeru kaumnya masuk islam

Usai mengerjakan semua itu, beliau mengambil tombaknya, kemudian pergi ke balai pertemuan kaumnya dengan ditemani Usaid bin Hudlair dan berkata kepada kaumnya :

“Wahai Bani Abdul Asyhal, apa pendapat kalian tentang diriku di tengah kalian?”. Mereka menjawab, “Engkau adalah pemimpin kami, orang yang paling kami ikuti pendapatnya

di antara kami dan orang yang paling kami percaya.” Sa’ad melanjutkan, “Tak seorang pun diantara kalian, baik laki-laki maupun wanita dilarang berbicara denganku sebelum kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.” Belum sampai petang hari, tak seorang pun, baik laki-laki maupun perempuan di Bani Abdul Asyhal melainkan sudah menjadi Muslim dan Muslimah.

Tidak ada orang munafiq, baik laki-laki maupun wanita di Bani ‘Abd al-Asyhal, semuanya orang-orang yang lurus, mukhlish dan diridhoi Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

 

Peristiwa Bai’at Aqabah ke 2

Bai’at ‘Aqabah II merupakan peristiwa bersejarah yang menandai beralihnya aktivitas dakwah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, dari aktivitas pembinaan dan penyampaian dakwah Islam dengan lisan, menuju aktivitas penerapan Islam secara menyeluruh dalam naungan Daulah Islamiyyah yang didirikan Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam di Madinah Munawarah.

Setelah peristiwa besar itu, kaum muslim hijrah dari Mekah menuju Madinah. Hijrah kaum muslim ini merupakan proses perpindahan dari wilayah kufur (dâr al kufr) ke wilayah Islam (dâr al-Islâm), pada tahap ini dakwah Islam semakin kuat dan perpindahan ini dilakukan dengan cara berbeda yakni dakwah melalui institusi negara.

 

Berdirinya Daulah Islamiyyah di Madinah melalui proses panjang yang dilalui Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dan para sahabat dengan penuh kesabaran dan keistiqomahan. Hal ini dikarenakan ketaatan serta keimanan yang tinggi kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, bahwasanya mereka pasti akan dimenangkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, hingga akhirnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala memilih kaum Anshor di antaranya adalah Sa’ad bin Mu’adz, untuk menolong dan mengokohkan agama-Nya.

Dukungan (nushrah) yang mereka berikan kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam telah menjadi sebab kemenangan Islam atas kekafiran. Sehingga Islam bisa diterapkan secara sempurna dan dakwah Islam bisa diselenggarakan di seluruh penjuru dunia.

 

Sikap Sa’ad bin Mu’adz Terhadap Orang Kafir

 

  • Sekilas Perang khandaq

Terjadi 5 Hijriyah

Dalam peristiwa Perang Khandaq atau Perang Ahzab, Kota Madinah dikepung oleh sekutu-sekutu kafir Quraisy. Sa’ad bin Muadz pun turut serta dalam perang yang sangat sulit ini. Dalam perang itu, urat nadi Sa’ad disambar oleh sebuah anak panah, darah pun deras mengalir dari tangannya. Ia dirawat secara darurat untuk menghentikan keluamya darah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar Sa’ad dibawa ke masjid, dan didirikan kemah untuknya agar ia berada di dekat beliau selama perawatan.
Dalam keadaan demikian Sa’ad berdoa kepada Allah, “Ya Allah, jika dari peperangan dengan Quraish ini masih Engkau sisakan, maka panjangkanlah umurku untuk menghadapinya, karena tak ada golongan yang kuinginkan untuk dihadapi lebih daripada kaum yang telah menganiaya Rasul-Mu, mendustakannya, dan mengusirnya . Dan seandainya Engkau telah mengakhiri perang antara kami dengan mereka, jadikanlah kiranya musibah yang telah menimpaku ini sebagai jalan untuk menemui syahid

 

  • Keputusaan Sa’ad bin Mu’adz terhadap yahudi bani quraidlah

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam meminta Sa’ad bin Mu’adz untuk memutuskan hukuman apa yang paling layak bagi kaum Yahudi Bani Quraidlah.

Kemudian Sa`ad Radhiyallahu anhu berkata, “Dalam hal ini aku memutuskan agar para tawanan dibunuh; para wanita dan anak-anak disekap dan harta bendanya dibagi-bagikan.”(HR.Imam Ahmad, Bukhari, Muslim dan Abu Dawud)

Inilah keputusan Sa’ad bin Mu’adz terhadap orang-orang Yahudi yang berusaha mengkhianati dan menimpakan keburukan kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dan kaum muslimin. Dan menjadikan kota Madinah menjadi kota suci dan bersih dari kabilah-kabilah pengkhianat tersebut.

 

  • Keteguhan Sa’ad bin Mu’adz

Keteguhan Sa’ad bin Mu’adz juga terlihat ketika berhadapan dengan utusan Uyainah bin Hashan yang hendak menandatangani sebuah perjanjian dengan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pada saat perang Khandaq.

Imam Thabaraniy menuturkan ; “ Sesungguhnya kaum Musyrik telah mengepung kaum muslim di sekitar parit (perang Khandaq), hingga kaum Muslim dalam keadaan terancam bahaya, sebagaimana dilukiskan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala, “ Di situlah diuji orang-orang mukmin dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang hebat”. (QS. Hud,33)

Lalu Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam mengirim utusan kepada ‘Uyainah bin Hashan dan memintanya agar ia dan pasukannya menarik diri, dengan kompensasi, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam akan memberinya 1/3 hasil tanaman Madinah setiap tahunnya, namun ‘Uyainah menolak dan meminta setengahnya.

 

Sa’ad Ibn Muadz dan Sa’ad Ibn Ubadah R.A. berdiri dan berkata “Wahai Rasulallah jika keputusan ini dari wahyu maka putuskanlah sesuai wahyu. Namun jika ini adalah pendapat yang anda gagas sendiri, maka, sesungguhnya di masa jahiliyah dahulu, ketika kami dan mereka sama sama tidak memilik agama, mereka tidak bisa memakan kurma medina kecuali dengan cara membeli atau mendapatkan jamuan. Dan ketika Allah memuliakan kami dengan agama-Nya dan mengutus rasul-Nya kepada kami, apakah kami harus memberi mereka dengan kehinaan? Sungguh kami tak akan memberi mereka apapun kecuali pedang. Lalu nabi Shallallahu’alaihi wasallam berkata,” Saya menyaksikan orang arab telah bersatu padu untuk menghancurkan kalian. Maka aku ingin menhindarkan mereka dari kalian. Jika kalian menolak keputusan itu maka itu urusan kalian dengan mereka. Pergilah! Kami tidak akan memberi kalian kecuali pedang” (HR. Imam Thabarani)

Keteguhan Sa’ad bin Mu’adz telah meyakinkan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, bahwasanya kaum muslimin tetap menjunjung tinggi kehormatan dan kewibawaan, meskipun dalam keadaan ditekan orang-orang kafir.

 

Wafatnya Sa’ad bin Mu’adz

Sa’ad bin Abi Waqqas radhiallahu ‘anhu, dia berkata: “Ketika Sa’ad bin Mu’adz wafat setelah perang Khandaq, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tergesa-gesa keluar, hingga memutuskan tali sandal seseorang dan tidak membetulkannya, tidak melilitkan kembali selendangnya yang terurai, dan tidak menyapa seorang pun.

Orang-orang bertanya: “Ya Rasulullah, mengapa engkau mengabaikan kami?” Beliau menjawab: “Aku khawatir malaikat mendahului kita untuk memandikan jenazah Sa’ad bin Mu’adz, seperti halnya dia mendahului kita memandikan jenazah Hanzhalah.” (Riwayat Abu Na’im)

“ Sesungguhnya kubur memiliki tekanan, kalau seandainya ada yang selamat darinya maka Sa’ad orang pantas selamat darinya”.( Musnad Imam Ahmad bin Hambal: 6/98)

Keutamaan Sa’ad bin Mu’adz

  • Ketika Sa’ad bin Mu’adz meninggal dunia, ibunya memekik. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda kepadanya, “Hendaknya berhenti tangismu dan hilang kesedihanmu. Sesungguhnya, puteramu adalah orang pertama yang Allah tertawa kepadanya, dan ‘Arsy tergoncang karenanya”. [ Imam Hakim dalam al-Mustadrak. Isnadnya shahih]
  • di dalam kitab al-Mustadrak juga dituturkan sebuah riwayat bahwasanya ketika Sa’ad bin Mu’adz meninggal dunia, malaikat Jibril turun menemui Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam, dan bertanya kepada beliau Shallallahu’alaihi Wasallam : “Siapakah orang ini yang pintu-pintu langit dibukakan karenanyadan ‘Arsy Al-Rahman tergoncang karenanya?”. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam keluar menemui Sa’ad bin Mu’adz, dan beliau mendapatinya telah meninggal dunia”. [ Imam Al-Hakim dalam Al-Mustadrak]
  • Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Saat kami membawa jenazah Sa’ad bin Mu’adz, kaum munafikin mengatakan betapa ringannya jenazahnya, (padahal Sa’ad adalah) seorang yang tinggi besar. Maka Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam berkata,‘Sungguh para malaikatlah yang menggotongnya.’”(Imam al-Hakim)
  • Dari Anas ra, bahwasanya ia berkata : “Sebuah jubah sutera tipis dihadiahkan kepada Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam, padahal beliau melarang sutera. Manusia takjub dengan jubah itu. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda, Demi jiwa Muhammad yang ada di tangan-Nya, sungguh sapu tangan Sa’ad di surga lebih bagus dari sutera ini” (Imam Bukhari)

 

Kemuliaan Dan Keagungan Sahabat

Sahabat adalah orang yang lama menjalin persahabatan dengan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, banyak mengikuti majelis Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, dengan jalan tatabbu’ (mengikuti) dan mengambil langsung dari Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, bahkan mereka mendapatkan keutamaan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam antara lain :

  • Allah memuji kaum muhahijrin dan kaum anshar
  • Ayat ayat Allah menunjukan dua perkara di surah Al-Anfal:74 dan Al-Anfal:62

Kesaksian Allah bahwasanya para shahabat memiliki keimanan yang benar

  1. Para shahabat adalah tentara Allah yang dengan mereka Allah menurunkan kemenangan,walaupun jumlah mereka sedikit.

Keutamaan ahli Badr

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda “Lakukan apa saja oleh kalian, kalian telah diampuni.” (HR. Bukhari . At Tirmidzi)

 

Keutamaan para peserta Bai’atur Ridhwan

Tidak akan masuk neraka orang-orang yang berbaiat di bawah pohon.” (HR. Abu Daud At-Tirmizi)

 

Pujian kepada Shahabat dalam sunnah

Sebaik-baik manusia adalah zamanku, dan kemudian setelahnya, dan kemudian setelahnya.” (HR. Bukhari No. 2509, 3451, 6065, 6282. Muslim No. 2533. At Tirmidzi No. 2320, dari Imran bin Al Husha

Jangan kalian cela para sahabatku, seandainya salah seorang kalian menginfakkan emas sebesar Uhud itu tidak akan bisa menyamai satu mud-nya mereka bahkan setengahnya.” (HR. Bukhari No. 3470. Muslim No. 2540. At Tirmidzi No. 3952)

“Muliakanlah oleh kalian para shahabatku,karena mereka adalah sebaik-baik dari kalian”.(Hr Imm hmd,An-Nasai)

 

Khatimah

Sa’ad bin Mu’adz ra adalah shahabat mulia yang memperoleh kemuliaan keutamaan kedudukan di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala,dan Rasul Nya.

Nushrah yang beliau serahkan kepada Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam menjadi sebab berdirinya Daulah Islamiyyah di Madinah. Sedangkan tegaknya Daulah Islamiyyah di madinah menjadi pilar penerapan islam secara menyeluruh dan penyebaran dakwah islamiyyah ke seluruh penjuru dunia.

Semoga Artikel ini bermanfaat untuk Sahabat Rumah Kurma Sahara.
Silahkan berbelanja kurma di Rumah Kurma Sahara, Butuh perlengkapan haji? Ingat Toko Rumah Kurma Sahara!
Jalan Raya Semplak Atang Sandjaja No. 224
Bogor Barat – Kota Bogor
Customer Care : 0821-1141-8832 | 0878-7386-0559
Delivery : 0859-2512-6067
WA | PIN BB : 0878-7386-0559 | DA7A086

Referensi : https://muslimahactivity.wordpress.com