Peran Ibu Dalam Mendidik Anak

Ibu adalah orang terdekat pertama bagi seorang anak. Seorang anak sudah mempunyai keterikatan fisik dan psikis dengan ibunya dari sejak dalam kandungan dan dalam aktivitas kesehariannya di dalam rumah.  Ibu adalah madrasah pertama bagi anak dimana anak mendapatkan ilmu dan mengambil contoh sikap dan perilaku ibu dari sejak dini. Oleh karena itu, kehadiran dan peran positif seorang ibu pada awal pertumbuhan dan perkembangan anak sangat diperlukan.

Keluarga menjadi lingkungan pertama yang dijumpai oleh anak. Keluarga menjadi sumber pendidikan utama bagi anak, sehingga orang tua khususnya ibu menjadi tempat anak belajar dan mengambil contoh hingga akhirnya kepribadian dan karakter anak akan terbentuk. Pendidikan anak merupakan hal yang sangat penting, sebab anak adalah generasi penerus masa depan dari keluarga dan cikal bakal masyarakat.

 

Kontribusi Perkawinan Dalam Pendidikan Anak
Perkawinan adalah suatu hal yang fitrah karena nikah merupakan gharizah insaniyah (naluri kemanusiaan). Bila gharizah ini tidak dipenuhi dengan jalan yang sah yaitu perkawinan, maka tiap individu akan banyak terjerumus dalam perbuatan zina. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah) ; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus ; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. (QS. Ar-Ruum : 30).

 

Islam telah menjadikan ikatan perkawinan yang sah sebagai satu-satunya sarana untuk memenuhi tuntutan naluri manusia dan sarana untuk membina keluarga yang Islami. Tujuan perkawinan di antaranya ialah untuk melestarikan dan mengembangkan bani Adam. Allah berfirman : “Allah telah menjadikan dari diri-diri kamu itu pasangan suami istri dan menjadikan bagimu dari istri-istri kamu itu, anak-anak dan cucu-cucu, dan memberimu rezeki yang baik-baik. Maka mengapakah mereka beriman kepada yang bathil dan mengingkari nikmat Allah ?”. (QS. An-Nahl : 72)

 

Yang terpenting dalam perkawinan bukan hanya sekedar memperoleh anak, tetapi berusaha membentuk generasi yang berkualitas, yaitu anak-anak yang sholeh/sholehah dan bertaqwa kepada Allah.

Seiiring dengan semakin canggihnya perkembangan teknologi, maka semakin besar pula tantangan orang tua dalam mendidik anak. Perkembangan teknologi dapat memberi dampak positif dan negatif bagi kehidupan manusia, Dalam hal ini anak-anak akan menjadi target besar dari dampak era globalisasi saat ini, terutama anak-anak di bawah umur, dimana mereka belum bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Masalah ini akan menjadi keresahan tersendiri bagi orang tua dalam mendidik anak-anak tentang bagaimana menerapkan pola asuh yang benar dan menjaga anak-anak dari sistem pergaulan bebas.

 

Anak mampu membawa orang tuanya jalan menuju surga atau pun neraka, menjadi pandangan yang menyejukkan mata atau menyedihkan, menjadi anak yang taat atau durhaka. Semua tergantung pada bagaimana kita sebagai orang tua mendidik anak-anak kita. Ibarat bangunan, orang tua dan keluarga tidak dapat dipisahkan. Keduanya adalah pondasi. Jika pondasi yang dibangun kuat dan kokoh tentu bangunan akan berdiri kokoh, megah, tangguh, tak mudah goyah dan begitu pula sebaliknya.  Oleh karena itu, sangat penting sebagai orang tua hendaknya kita mempersiapkan diri dengan baik dengan mempelajari ilmu-ilmu ajaran Islam dan menerapkannya di dalam keluarga dan pendidikan anak dan mengetahui hak dan kewajiban sebagai orang tua.

 

Setiap orang tua tentunya menginginkan anak yang mereka miliki tumbuh menjadi anak yang pintar, patuh pada semua perintah orangtua, taat pada aturan agama dan memiliki akhlaq mulia seperti anak-anak yang shaleh. Kehadiran mereka akan menjadi pelengkap kebahagiaan, pelipur lara, dan juga sebagai perhiasan di dunia bagi setiap orang tua.

Anak yang shalih adalah salah satu bentuk nikmat Allah yang diberikan kepada hamba-Nya yang merupakan amalan shalih bagi kedua orang tuanya di dunia dan akhirat. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

إذا مات الإنسانُ انقطع عنه عملُه إلا من ثلاثةٍ : إلا من صدقةٍ جاريةٍ . أو علمٍ ينتفعُ به . أو ولدٍ صالحٍ يدعو

Artinya:

Jika seorang hamba telah meninggal dunia maka terputuslah seluruh amalannya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shalih yang mendoakannya” (Hadits riwayat Muslim no.1631)

 

Untuk mendapatkan keturunan yang sholeh/sholehah tidak mungkin akan terwujud tanpa adanya ikatan pernikahan yang dibangun dengan landasan yang kokoh dan benar. Dalam mencari pasangan, dimana laki-laki dan perempuan seharusnya memilih pendamping hidup sesuai tuntunan syariat Islam. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

 

تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لأَرْبَعٍ: لِمَـالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَلِجَمَالِهَا

وَلِدِيْنِهَا، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّيْنِ تَرِبَتْ يَدَاكَ

Artinya:

“Wanita biasanya dinikahi karena empat hal: karena hartanya, karena kedudukannya, karena parasnya dan karena agamanya. Maka hendaklah kamu pilih wanita yang bagus agamanya (keislamannya). Kalau tidak demikian, niscaya kamu akan merugi.” (HR. Bukhari-Muslim)

Dorongan untuk memilih isteri yang baik agamanya, agar:

  • Dapat menjalankan kewajibannya dalam menjalankan hak suami, hak anak dan menjalankan rumah tangganya sesuai perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
  • Dapat memberikan pendidikan yang luhur kepada anak-anaknya.

لدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِهَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ،

Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah.” (Hadits riwayat Muslim dari Abdullah ibnu Umar)

 

Beliau juga bersabda:

  • أَلَا أُخْبِرُكَ بِخَيْرِ مَا يَكْنِزُ الْمَرْءُ الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ إِذَا نَظَرَ إِلَيْهَا سَرَّتْهُ وَإِذَا أَمَرَهَا أَطَاعَتْهُ وَإِذَا غَابَ عَنْهَا حَفِظَتْهُ
    “Maukah aku beritakan kepadamu tentang sebaik-baik perbendaharaan seorang lelaki, yaitu istri shalihah yang bila dipandang akan menyenangkannya, bila diperintah akan mentaatinya, dan bila ia pergi si istri ini akan menjaga dirinya.” ( Abu Dawud}
  • Wanita erat hubungannya dengan baik atau buruknya sebuah generasi. Di bawah naungannya seorang anak mendapat pendidikan yang pertama. Muhammad Quthb berkata, “Seorang anak yang rusak masih bisa menjadi baik selama ia pernah mendapatkan pengasuhan ibu yang baik. Sebaliknya, ibu yang rusak akhlaknya hanya akan melahirkan generasi yang rusak pula akhlaknya.”

 

Abul Aswad Ad-Duaili berkata kepada anak-anaknya, “Sungguh aku telah berbuat baik kepada kalian sejak kalian masih kecil hingga kalian dewasa bahkan semenjak kalian belum dilahirkan.” Anak-anaknya bertanya, “Bagaimana cara ayah berbuat baik kepada kami sebelum kami terlahir?”. Beliau menjawab, “Aku telah pilihkan untuk kalian ibu yang mana kalian tidak akan pernah kecewa kepadanya.”

 

Tujuan Pendidikan Anak Dalam Islam

Anak adalah amanah dari Allah yang diberikan kepada orang tua. Mendidik dan mengasuh anak bukanlah perkara yang mudah. Hal ini adalah suatu tanggung jawab yang besar yang harus dilaksanakan orang tua yang tentu saja semua pelaksanaannya harus sesuai aturan dan kehendak Allah.

Dalam mendidik anak ada hal-hal yang orang tua harus perhatikan dalam pelaksanaannya yaitu mendidik anak-anak dengan akhlak yang baik yaitu akhlak Muhammad dan para sahabatnya yang mulia. Mendidik anak dibutuhkan kesabaran, kelembutan, dan istiqomah. Setiap orang tua harus menghargai usaha sang anak dalam proses pembelajarannya.

 

Orang tua mengarahkan dan mendidik mereka tanpa harus merampas hak bermainnya (usia masa bermain) dan tanpa harus memaksa anak untuk ikut kehendak orang tua. Anak mempunyai hak untuk memutuskan sesuatu apa yang mereka kehendaki. Tugas orang tua dalam hal ini yaitu mengarahkan mereka agar tetap dalam koridor syariat Islam

ُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ

  • يُمَجِّسَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ

Setiap anak yang lahir dilahirkan di atas fitrah, maka kedua orang tuanya lah yang menjadikannya Yahudi, Majusi, atau Nasrani.”

(HR. ibn hibban)

 

Oleh karena itu, sebagai orang tua, maka wajib untuk membimbing dan mendidik sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya, dan menjaga anak-anak dari pengaruh buruk lingkungan dan pergaulan yang rusak dengan mencari lingkungan yang baik dan berada diantara orang-orang yang sholeh/sholehah.

Mendidik anak dalam Islam bertujuan agar mereka menjadi anak-anak yang shaleh, yang bertaqwa pada Allah, yang memahami, menyadari, dan melaksanakan tanggung jawabnya kepada Allah, Rasul, dan seluruh kaum muslim, dengan mengemban dakwah islam untuk mengembalikan kemuliaan Islam dan kaum muslim.

Dasar dan tujuan pendidikan anak yang islami  yaitu mengenai pentingnya mengajarkan anak:

  • tauhid
  • untuk bersyukur pada Allah dan kepada kedua orang tua
  • Murraqabatullah (pengawasan Allah)
  • untuk mendirikan shalat
  • melakukan amar ma’ruf nahi munkar
  • bersabar terhadap musibah yang menimpa
  • melarang memalingkan muka dari manusia karena angkuh
  • bersikap tawadlu

 

Peran ibu dalam mendidik anak

Syariat islam menetapkan kedudukan utama wanita yaitu menjadi ummu wa rabbatul bait (ibu dan pengatur rumah tangga). Syariat islam juga telah menetapkan tanggung jawab wanita terhadap anaknya sejak dini, dimulai sejak masa kehamilan, kelahiran, pengasuhan, dan penyusuan dimana aktivitas ini merupakan hal yang utama dan mulia. Dari Ibnu Umar Radhiyallahu Anhu, Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

Wanita yang sedang hamil dan menyusui sampai habis masa menyusuinya, seperti pejuang di garis depan fi sabiilillah. Dan jika ia meninggal di antara waktu tersebut, maka sesungguhnya baginya pahala mati syahid” (Riwayat Thabrani).

 

Dari dalil diatas sangat jelas bahwa aktivitas yang paling sesuai dan fitrah bagi seorang wanita adalah menjalankan fungsinya sebagai seorang ibu bagi anak-anaknya dan menjalankan fungsinya sebagai istri dalam mengatur aktivitas rumah tangganya. Sungguh betapa tingginya dan mulianya menjadi seorang ibu, Bila kita menyadari akan kemuliaan ini, maka kita tidak akan rela menukarnya dengan aktivitas lain yang mubah hukumnya seperti bekerja demi karir.

 

Seorang wanita harus mengerti betul bahwa mereka kelak akan berperan sebagai seorang isteri, ibu, hamba Allah, dan menjadi bagian dari masyarakat. Wanita dituntut untuk mempunyai pengalaman dan keahlian yang berkaitan dengan peran-peran mereka. Oleh karena itu, wanita harus mempunyai ilmu yang tinggi untuk menjadi penuntun dan pengajar dalam mendidik anak-anaknya kelak. Sungguh keliru jika menganggap bahwa perempuan tidak layak menempuh jenjang pendidikan yang tinggi dengan anggapan bahwa perempuan akan kembali menjadi seorang ibu rumah tangga yang akan mengurusi kasur, dapur dan sumur saja.  Keberadaan dan peran wanita tidak bisa diabaikan, karena sesungguhnya dibalik semua usaha dan keberhasilan di situ ada peran wanita.

 

Agar para wanita dapat menjalankan fungsinya dengan baik, maka ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menjalankan peran mereka yaitu sebagai berikut:

 

  1. Wanita Sebagai hamba Allah

Sebagai hamba Allah, seorang wanita mempunyai tanggung jawab yang sama dengan kaum pria, sama-sama berkewajiban untuk mengabdi pada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Allah berfirman:

 

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku” (QS. Az Zariyat:56)

Islam memberikan tempat yang mulia bagi wanita dan islam pun tidak membedakan kedudukan wanita dan pria. Yang membedakan diantara keduanya yaitu tingkat ketakwaan mereka. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allāh dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allāh Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. al-Taubah :71)

Hubungan peran ini dalam pendidikan anak dalam Islam yaitu menjadi role model bagi anak serta menanamkan akidah Islam sejak dini, sebagai contoh:

  • Dalam konteks ibadah

Anak harus tahu rukun iman dan rukun Islam, bagaimana tata cara shalat, puasa, zakat, haji yang benar sesuai tuntunan syariat.

  • Dalam konteks muamalah

Anak harus mampu mengatur seluruh aspek kehidupannya sesuai tuntunan Allah, baik ketika bermuamalah, berpakaian, dan bergaul di tengah masyarakat.

 

  1. Wanita sebagai isteri

Istri adalah sahabat bagi suaminya. Istri sholehah akan selalu memberi dorongan dan dukungan pada suaminya dalam kondisi apapun. Berikut sejumlah kewajiban istri yang harus dilaksanakan kepada suaminya:

  • Menjaga rahasia suami dan semua yang ada di rumah suaminya

Dari Ibnu Umar dikatakan bahwa Rasulullah bersabda “…dan wanita adalah pemimpin atas rumah suaminya dan dia harus bertanggung jawab”. (HR. Bukhari dan Muslim).

  • Berkewajiban membuat suaminya bahagia.

Dimulai dari hal-hal yang mudah seperti menyambut suami dengan senyuman sepulang bekerja atau bepergian; terlihat bersih, rapih dan cantik pada saat bersama suami di rumah; menciptakan suasana rumah yang nyaman dan sebagainya.

 

Sebagai rabbat al-bayt (pengurus rumah tangga), seorang isteri dituntut memiliki keahlian dan keterampilan sebagai berikut:

  • Keahlian memasak
  • Keahlian menata ruang dan lingkungan
  • Keterampilan dalam masalah kesehatan keluarga
  • Kemampuan memenej keuangan

 

  1. Wanita sebagai ibu

Anak adalah amanah dan titipan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang harus kita jaga. Mendidiknya merupakan suatu kewajiban BUKAN pilihan. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

Didiklah anakmu dan baguskanlah akhlaqnya, dengan mengajarkan mereka olah jiwa, dan memperbaiki akhlaq.”(HR. ad-Dailami)

Ibu merupakan madarasah pertama  (Al -Ummu madrasah Al-ula) dan  guru pertama bagi anak-anaknya. Rumah adalah sekolah pertama sebelum anak mengenyam pendidikan di luar rumah dimana anak belajar pada ayah dan ibunya. Tidak banyak yang beranggapan ketika anak sudah bersekolah maka sekolah yang bertanggung jawab atas pendidikannya. Padahal peran ibu tidak dapat tergantikan oleh siapapun. Ibu memiliki peran lebih dari sekolah yaitu membangun kecerdasan emosional anak bahkan membangun kecerdasan spiritual anak.

 

Untuk mendukung proses pembelajaran anak di rumah maka orang tua perlu menciptakan situasi rumah yang menyenangkan, suportif dan kondusif untuk belajar.  Sehingga anak merasakan rumah sebagai tempat yang nyaman, aman dan penuh kasih sayang bagi mereka, bukan sebagai tempat yang menyeramkan dan membosankan sehingga anak lebih memilih untuk menghabiskan waktu mereka diluar dan lebih merasa nyaman berada di sekitar lingkungan teman-temannya daripada orangtuanya sendiri.

 

Ibu merupakan seorang figur yang akan menjadi contoh bagi anak-anaknya. Perilaku orang tua, terutama ibu, akan ditiru yang kemudian akan menjadi panduan perilaku sang anak. Dengan kedekatan fisik dan emosionalnya dengan anak-anaknya yang sudah terjalin secara alamiah dari sejak mengandung, ibu akan menjadi faktor utama yang akan menentukan kepribadian dan karakter anaknya. Oleh sebab itu, hendaknya orang tua harus memberikan kasih sayang kepada anaknya dan menjadi contoh yang positif bagi anak-anaknya dengan menunjukkan akhlak yang mulia dan menjadi perisai bagi anaknya dari pengaruh lingkungan yang buruk.

 

Bila anak kehilangan figur seorang ibu, maka ia akan mengalami deprivasi maternal (perampasan kasih sayang ibu). Hal ini akan menyebabkan terjadinya gangguan attachment disorder (gangguan kedisiplinan) atau Failure to Thrive (kegagalan pertumbuhan kejiwaan). Akibatnya, sang anak menjadi murung, tidak ceria, putus asa dan kehilangan motivasi hidup.

 

Kondisi deprivasi maternal beresiko mengalami gangguan perkembangan mental intelektual dan emosional. Terkadang ketika dewasa akan anak kelak akan memperlihatkan perilaku penyimpangan, anti sosial, bahkan kriminal.

 

  1. Wanita sebagai anggota masyarakat

Disamping perannya dalam keluarga, wanita juga memiliki tanggung jawab terhadap lingkungan dan kondisi sosialnya. Aktivitas dan tujuan peran wanita dalam masyarakat adalah menjalankan amar ma’ruf nahi munkar.  Dijelaskan dalam firman Allah

“Kamu adalah umat yang terbaik yang diutus kepada manusia, memerintahkan yang ma’ruf dan mencegah hal yang mungkar” (QS. Ali Imron : 10).

Wanita dituntut untuk mampu dan cakap mengambil langkah-langkah praktis dalam melakukan perubahan di tengah-tengah masyarakatnya serta memiliki tsaqafah islam yang memadai sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan masyarakatnya untuk memenuhi kewajibannya. Seorang muslimah wajib meyakini bahwa Islam harus ditegakkan dalam kehidupan masyarakat dan negara karena Islam adalah solusi kehidupan bagi umat manusia. Masyarakat Islami tidak mungkin akan terbina dan daulah islamiyyah tidak akan tegak jika para wanita tidak memahami dan mengamalkan tuntunan dan syariat Islam dalam kehidupan, tidak berdakwah ke jalan Islam, tidak melahirkan generasi pejuang Islam dan tidak mendukung suaminya yang berjuang menerapkan Islam.

 

KHOTIMAH

Berdasarkan pernyataan Ali Bin Abi Thalib yang terkenal, “Didiklah anakmu sesuai dengan jamannya, karena mereka hidup bukan di jamanmu”. Tentunya demikian pula kita harus menyesuaikan cara kita mendidik anak dengan seiring perubahan jaman yang tentu akan mempunyai masalah yang berbeda-beda.

Rumah tangga diibaratkan sebagai miniatur sebuah perusahaan, dimana didalamnya bisa terdapat beraneka macam permasalahan setiap harinya. Ragam permasalahan pun mencakup berbagai bidang yang luas. Untuk mengatur dan mengelolanya tentu diperlukan keahlian yang sama dengan keahlian mengelola perusahaan. Untuk itu seorang wanita harus mempunyai segudang ilmu dan pengetahuan yang luas untuk mengelola dan menghadapi persoalan-persoalan tersebut yang berkaitan dengan rumah tangga. Tentu saja untuk menghadapi persoalan-persoalan tersebut membutuhkan komitmen yang tinggi dan kerjasama dengan suami.

Islam sangat memuliakan wanita dan bila melihat keutamaan-keutamaan yang diberikan Allah pada wanita, maka jelas wanita mempunyai peranan penting baik di dalam keluarga atau pun masyarakat. Dari wanita yang baik dan tangguh maka akan lahir generasi pejuang Islam dan pemimpin yang cemerlang, adil dan baik.

Semoga Artikel ini bermanfaat untuk Sahabat Rumah Kurma Sahara.
Silahkan berbelanja kurma di Rumah Kurma Sahara, Butuh perlengkapan haji? Ingat Toko Rumah Kurma Sahara!
Jalan Raya Semplak Atang Sandjaja No. 224
Bogor Barat – Kota Bogor
Customer Care : 0821-1141-8832 | 0878-7386-0559
Delivery : 0859-2512-6067
WA | PIN BB : 0878-7386-0559 | DA7A086

Referensi : https://muslimahactivity.wordpress.com