Pentingnya Umma-Umma Belajar Muamalah

Secara umum , muamalah bermakna semua aktivitas yang menyangkut  hubungan manusia dengan manusia di segala aspek  kehidupan. Hal  ini mencakup aktivitas di bidang politik, ekonomi, hukum, social (hubungan pergaulan laki-laki dan perempuan), munakahad, dan sebagainya. Secara sempit, dan inilah yang banyak digunakan, sekaligus juga yang digunakan di dalam tulisan  ini,  muamalah  bermakna aktivitas yang berkaitan dengan ekonomi atau harta, seperti  jual beli, investasi, sewa-menyewa, dan lain-lain.

Aktivitas  muamalah  sudah bukan  lagi  menjadi domain para pengusaha sukses kaya raya. Pun tidak lagi hanya dikuasai oleh kaum lelaki. Para emak-emak alias para ibu rumah tangga juga tidak ketinggalan  merambah dunia muamalah  ini baik sebagai subjek (pelaku bisnis) maupun objek (pengguna/ konsumen bisnis).

  1. Ada Apa dengan Emak-emak

Emak-emak adalah sosok yang luar biasa. Semua peran dalam keluarga mereka lakoni; sebagai manager keuangan, pembuat keputusan pengeluaran keluarga, penjamin mutu  halal-haram belanja keluarga, penasehat utama pekerjaan suami, dan lain-lain. Demikianlah, the power of emak-emak  benar-benar  menjadikan  emak-emak harus mengerti dan  memahami (secara lebih mendalam  jika memungkinkan) ilmu dan  hukum-hukum yang berkaitan dengan aktivitas muamalah yang sehari-hari lekat dengan mereka.

Sebaga i manager  keuangan keluarga, seorang emak harus mampu mengelola dan mengetahui sumber-sumber keuangan keluarga. Dia harus memastikan  bahwa semua sumber keuangan di rumahnnya berasal dari  jalan yang halal. Dengan kata lain, jika pendapatan keluarga berasal dari  pekerjaan suami, maka ia harus tahu  betul bahwa sang  suami  bekerja di tempat yang halal .

Demikian juga, sebagai pembuat keputusan pengeluaran keluarga, seorang emak harus yakin bahwa setiap sen uang yang dibelanj akan atau dibayarkan  adalah  untuk semua hal dan transaksi yang halal, tidak mengandung  unsur pelanggaran terhadap  syariat  Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Begitu pula, agar dapat  menjadi  penjamin mutu halal-haram  belanja keluarga, seorang emak harus mengerti  ilmu halal-haram baik benda maupun transaksi-transaksi muamalah yang berlaku di dalam masyarakat agar tidak terjebak kepada kemaksiatan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Pun ketika sang suami  beralih  pekerjaan, atau  mencari pekerjaan baru, sang emak harus berperan aktif  memberikan  masukan atau  nasihat kepada suami tentang jenis-jenis pekerjaan yang halal agar sang suami terhindar dari memberikan nafkah haram kepada keluarganya.

Dari sini kita bisa memahami betapa dahsyat, penting dan gentingnya peran emak-emak dalam rangka untuk menyelamatkan keluarganya dari siksaan api neraka di akhirat kelak. Di sinilah urgensi emak-emak mempelajari  ilmu  muamalah atau  ekonomi Islam dalam arti yang lebih luas.

  1. Harta haram versus Harta Halal

Harta haram  bermakna  setiap harta yang  diharamkan syariah untuk dimiliki dan dimanfaatkan. Contohnya  adalah babi.  Maka babi  haram  untuk dimiliki maupun dimanfaatkan ataupun diberikan  kepada orang lain.

Sementara harta halal tentu saja mencakup semua harta yang dihalalkan oleh syariah, sehingga boleh untuk dimiliki maupun dimanfaatkan ataupun diberikan kepada orang lain. Contohnya adalah  makanan-makanan yang halal, dsb.

Dilihat dari segi jenisnya, harta haram  dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

  1. Harta haram secara dzat nya ; seperti khamar,  babi,  bangkai, darah dan sebagainya.
  2. Harta haram dari segi cara memperolehnya; seperti harta hasil  riba, judi, suap, penipuan, dsb.

Dengan memahami cakupan harta haram ini, tentu para emak akan semakin berhati-hati mengawasi  perputaran  harta di dalam  rumahnya.

  • Wajib Hijrah dari Harta Haram

Hijrah secara syar’i berarti keluar dari darul kufur menuju darul Islam, sebagaimana dilakukan oleh rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam dan para sahabatnya  ketika turun perintah berhijrah di masa dakwah rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam kala itu. Maka dari sini  makna hijrah dapat diperluas menjadi meninggalkan apa saja yang dilarang oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala menuju kepada ketaatan  kepada-Nya. Dalam hal ini berarti  meninggalkan  harta haram yang  dimiliki dan juga pekerjaan-pekerjaan yang  haram, menuju kepada semua  yang halal dan diridhoi-Nya.

Hijrah  dari  harta haram  menuju  kehalalan  merupakan  konsekwensi  logis dari  keimanan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.  Wajib  bagi setiap hamba  yang  menyatakan  iman  kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan  hari  penghisaban  untuk  mengikatkan  dirinya kepada  aturan-aturan  Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Karena  pembangkangan  kepada syariat  Allah  pasti  akan  berbuah  kesengsaraan dan penderitaan di dalam  kehidupan  ini  baik di dunia  maupun  di akhirat.

Oleh  karena  itu  wajib bagi  siapa saja yang  saat  ini masih terlibat, memiliki atau berkecimpung  dengan  harta atau pekerjaan yang haram  untuk  segera bertaubatan nashuha dan berhijrah  kepada harta dan pekerjaan  yang  halal. Jika masih tidak  perduli  padahal ayat-ayat  Allah yang  mulia yang  berisi  peringatan  telah  sampai  kepadanya, tentu azab yang  pedih sudah  menantinya baik di dunia maupun di akhirat. Na’udzubillahi min dzalik.

  1. Akibat Harta Haram

Tetap bergelimang  dalam  harta  haram  atau  terlibat dalam  transaksi – transaksi  haram merupakan  pilihan  yang  menyesatkan  lagi  mengikuti  langkah-langkah  syaitan. Tentu saja hal ini akan  berakibat  fatal  jika tidak segera kembali  ke jalan  yang  diridhoi-Nya dan bertobat  untuk benar-benar  meninggalkannya. Karena  setiap ketaatan  pasti  akan membawa kebaikan, begitu pula sebaliknya, setiap kemaksiatan  pasti  akan  membawa kerusakan.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala sudah  mengingatkan  kita  seperti  di dalam  firmanNya, “…Jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku,  maka  (ketahuilah)  barang  siapa  mengikuti  petunjuk-Ku, dia tidak akan  sesat  dan  tidak  akan  celaka.  Dan  barang  siapa  berpaling  dar i peringatan-Ku, maka  sungguh, dia akan  menjalani  kehidupan  yang sempit, dan  kami akan mengumpulkannya  pada  hari  Kiamat  dalam  keadaan  buta” (TQS. Thaha (20) : 123 – 124).

Begitu  pula firman-Nya,…maka  hendaklah  orang-orang  yang  menyalahi  perintah  Rasul takut  akan  ditimpa  cobaan atau ditimpa  azab  yang  pedih”, (TQS. An-Nur 24:63).

Juga  firman-Nya  yang  bermaksud, “ Jikalau  sekiranya penduduk  negeri-negeri beriman dan  bertakwa,  pastilah  kami akan  melimpahkan  kepada  mereka berkah  dari  langit  dan bumi,  tetapi  mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya” (TQS. Al A’raf (7) : 96).

Dari ayat-ayat  di atas  sangat jelas ancaman Allah Subhanahu Wa Ta’ala terhadap orang-orang yang berpaling, menyalahi ataupun  mendustakan  ayat-ayat  (baik perintah maupun larangan)-Nya, yakni azab maupun siksaan yang  pedih. Begitu juga sebaliknya, jika kita termasuk orang-orang yang beriman dan bertaqwa tentu kita akan termasuk orang-orang yang beruntung, tidak tersesat dan mendapat berkah dari langit dan bumi seperti yang Allah janjikan.

Di antara akibat memiliki dan menjalankan harta haram adalah sebagai berikut:

  1. Akan memikul harta tersebut di akhirat

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman yang artinya, “Tidak mungkin seorang nabi berkhianat dalam urusan harta rampasan perang. Barangsiapa yang berkhianat dalam urusan rampasan perang itu, maka pada hari kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu, kemudian tiap-tiap diri akan diberi pembalasan tentang apa yang ia kerjakan dengan (pembalasan) setimpal, sedang mereka tidak dianiaya.” (Ali ‘Imran 3:161).

Ayat di atas mengulas tentang peristiwa pembagian harta rampasan perang di salah satu peperangan yang diikuti oleh rasul Shallallahu’alaihi wasallam, di mana Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjamin bahwa seorang nabi tidak akan mungkin menyalahi atau berbuat curang dalam pembagian harta tersebut. Bahkan untuk menegaskan jaminan-Nya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyatakan ancaman-Nya bahwa siapa saja yang berkhianat atau berbuat curang atau tidak mengikuti petunjuk dan perintah Allah mengenai masalah harta ini, ia akan memikul hartanya itu di akhirat kelak.

Implementasi ayat ini pun dapat diaplikasikan terhadap kecurangan atau pengkhianatan perolehan harta dalam kehidupan kita saat ini. Tak terbayangkan jika seandainya kita memiliki harta seperti rumah, mobil , bangunan, tanah dan sebagainya dengan jalan tidak halal atau melanggar ketentuan Allah, tentu kita tak akan sanggup membawa harta-harta itu di pundak kita. Subhanallah.

  1. Doanya tidak dikabulkan

Dalam sebuah hadits rasul Shallallahu’alaihi wasallam bersabda, “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu thoyyib (baik). Allah tidak akan menerima sesuatu melainkan dari yang thoyyib (baik). Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang mukmin seperti yang diperintahkan-Nya kepada para Rasul. Firman-Nya: ‘Wahai para Rasul! Makanlah makanan yang baik-baik (halal) dan kerjakanlah amal shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.’ Dan Allah juga berfirman: ‘Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah rezeki yang baik-baik yang telah kami rezekikan kepadamu.’” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan tentang seorang laki-laki yang telah menempuh perjalanan jauh, sehingga rambutnya kusut, masai dan berdebu. Orang itu mengangkat tangannya ke langit seraya berdo’a: “Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku.” Padahal, makanannya dari barang yang haram, minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram dan diberi makan dari yang haram, maka bagaimanakah Allah akan memperkenankan do’anya?” (HR. Muslim no. 1015)

Dari hadits tersebut dapat dipahami bahwa meskipun seseorang itu telah banyak berdoa, ditambah dengan kondisinya sebagai seorang musafir yang termasuk diantara kondisi orang-orang yang mustajab doanya, akan tetapi jika ternyata harta yang melekat di tubuhnya berasal dari sumber atau hal yang haram, Allah tidak akan memperkenankan doa-doanya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala hanya akan menerima segala sesuatu yang baik-baik saja.

  1. Harta tersebut tidak mendatangkan pahala

Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda, ” Barangsiapa mendapatkan harta haram kemudian bersedekah dengannya, ia tidak mendapatkan pahala di dalamnya dan dosa menjadi miliknya. “. [HR.Ibnu Hibban]. Demikian juga sabda beliau, ” Allah tidak menerima shalat tanpa thaharah (bersuci) dan shadakah dari hasil menipu “. [HR Muslim].

Harta haram  tidak  mendatangkan  apa-apa  kecuali  hanya  dosa  ketika  kita  ingin  beramal dengannya.  Maka  sedekah,  zakat,  dan  ibadah-ibadah  lain  yang  memerlukan  harta,  tidak akan  mendatangkan  pahala,  melainkan  hanya  semakin  menambah  timbangan  dosa bagi pelakunya.

  1. Tubuhnya lebih layak masuk neraka

Dalam hadits riwayat Tirmidzi, rasul Shallallahu’alaihi wasallam bersabda, “Tak ada sepotong daging pun yang tumbuh dari barang haram, kecuali api neraka lebih layak menjilatnya” (HR. Tirmidzi). Juga di dalam  hadits  yang lain, “Wahai Ka’ab bin ‘Ujrah, sesungguhnya tidak akan masuk surga daging yang tumbuh dari makanan haram”, [HR. Ibn Hibban dalam Shahîhnya].

Maka  tidaklah  beruntung  tubuh  yang  di  dalam nya  terdapat  segumpal  daging  yang tumbuh  dari  harta  haram. Tubuh  tersebu t hanya  akan  menjadi  umpan  api  neraka. Na’udzubillahi min dzalik.

  1. Harta haram yang ditinggalkan menjadi bekal ke neraka

Telah bersabda rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam, ” Tidak ada orang yang memperoleh harta dengan cara haram lalu diinfakkan kemudian diberkahi, atau disedekahkan lalu diterima sedekahnya, tidak juga ditinggal mati melainkan hanya akan lebih mendekatkan dirinya ke neraka. Sesungguhnya Allâh tidak menghapus keburukan dengan keburukan, akan tetapi Allâh menghapus keburukan dengan kebaikan. Sesungguhnya kejelekan tidak bisa menghapus kejelekan “. [HR. Ahmad].

Dari  hadits  di atas  dapat  kita  pahami  bahwa  harta  haram  yang  disedekahkan  tidak  akan  diberkahi; tidak akan  diterima amalan  sedekahnya;  bahkan  bagi  orang  yang  sudah mati  jika  masih  memiliki  harta  haram,  harta  tersebut  hanya  akan  makin  mendekatkan dirinya  ke neraka.  Astaghfirullaah

Penutup

Sebagai  orang  beriman,  apalagi  para emak  yang  ternyata  perannya  sangat  berpengaruh terhadap  keselamatan  keluarganya  di akhirat  kelak,  tentu  tidak  menginginkan  dirinya maupun  keluarganya  terjerumus  atau  terjebak  ke dalam  lingkaran  harta-harta  haram.  Oleh  karena  itu,  para  emak  harus  bergegas  untuk  belajar  secara  lebih  jauh  fikih muamalah  ini, agar  memahami  praktik-praktik  transaksi  muamalah  yang  benar  dan syar’I  sehingga  bisa  terhindar  dari  memakan  harta  haram.  Wallahu a’lam bish showwab. (Hazimah Ummu Fayyaz, disari dan dikembangkan dari Ustadz Shiddiq al Jawi dalam “Akibat Harta Haram”).

Semoga Artikel ini bermanfaat untuk Sahabat Rumah Kurma Sahara.
Silahkan berbelanja kurma di Rumah Kurma Sahara, Butuh perlengkapan haji? Ingat Toko Rumah Kurma Sahara!
Jalan Raya Semplak Atang Sandjaja No. 224
Bogor Barat – Kota Bogor
Customer Care : 0821-1141-8832 | 0878-7386-0559
Delivery : 0859-2512-6067
WA | PIN BB : 0878-7386-0559 | DA7A086

Referensi : https://muslimahactivity.wordpress.com