Ibadah Magdhoh dan Ibadah Qalbiyah

iba
Dalam Hubungan manusia dengan Al Khaliq (Hablum minallah), dapat dibangun dengan 2 hal:

1. AQIDAH

  • Bahwasanya Iman seseorang harus dibangun dengan jalan berfikir (menggunakan akal), bukan dengan jalan doktrin (pemaksaan). Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfiman, “Sesungguhnya, dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang, terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal”. (TQS. Ali-Imran:190).

    “Apakah mereka tidak memperhatikan terhadap unta, bagaimana ia diciptakan. Dan terhadap langit, bagaimana ia ditinggikan. Dan terhadap gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan. Dan terhadap bumi, bagaimana ia didatarkan”. (TQS. Al Ghasyiyyah:17-20)

  • Dan Aqidah juga harus bersih dari segala bentuk kesyirikan, baik syirik yang nyata (besar), maupun syirik yang samar (kecil). Karena kesyirikan adalah dosa yang paling besar, yang tidak akan diampuni Allah.
    “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. “ (TQS. An-Nisa: 48)
    Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam”, padahal Al Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu”. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun”. (TQS. Al Maidah: 72)
    Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi”. (TQS. Az Zumar: 65).
  • Aqidah merupakan pondasi mendasar yang harus kita bangun dengan kokoh sebelum kita akan mendirikan bangunan Islam di atasnya. Ibarat membangun rumah, yang harus dibangun dulu pondasinya yang kuat supaya rumahnya tidak akan roboh.

 

2. IBADAH DALAM SYARI’AT ISLAM

I. Makna Ibadah

Ibadah ini ada sepanjang masa, yang merupakan perwujudan dari naluri mensucikan atau mentaqdiskan sesuatu (Ghorizah Tadayyun)

  • Menurut Bahasa, ibadah adalah merendahkan diri serta tunduk
  • Menurut Syara’, ibadah mengandung 2 Arti, yaitu :
    (1) Ibadah bermakna ta’abbud, artinya adalah tadzallul atau menghinakan diri dan khudhuu’ atau tunduk.
    (2) Ibadah bermakna al muta’abbad bihi (sesuatu yang dengannya kita beribadah), artinya adalah segala sesuatu yang dicintai dan diridhai oleh Allah, baik berupa perkataan atau perbuatan, baik bersifat nampak atau tersembunyi. (Syarah Ushul Tsalatsah, Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily)
  • Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rohimahulloh berkata: “Ibadah itu adalah semua perkara yang dicintai dan diridhoi oleh Allah, baik yang berupa ucapan maupun perbuatan, yang dhohir (nampak) maupun yang bathin (tidak nampak).” (Al-Ubudiyyah (hal. 5) dan Majmu’ Al-Fatawa, 10/149).
    Beliau juga berkata : “Ibadah itu adalah ketaatan kepada Allah, dengan melaksanakan apa yang diperintahkan-Nya, melalui (perantaraan) lisan para rosul (utusan)-Nya.”
  • Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Menurut pengertian syari’at ibadah itu adalah suatu ungkapan yang memadukan antara kesempurnaan rasa cinta, ketundukan, dan rasa takut”.
  • Inilah Makna ibadah yang terdapat dalam Q.S Adzariyat: 56, yang artinya ; “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”

II. Ibadah Secara Khusus

  • Dalam konteks hukum syari’at Islam, ibadah adalah aktivitas hubungan manusia sebagai hamba (bahasa Arab:abdi atau ibaad) dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala Sang Pencipta sebagai Dzat yang diibadahi (ma’buud).
  • Allah Subhanahu Wa Ta’ala sebagai penentu syari’at Islam (musyarri’) telah menurunkan hukum-hukum yang sangat rinci tentang ibadah dan ini dapat dirujuk pada berbagai kitab fiqh yang membahas masalah-masalah ibadah seperti sholat, zakat, shoum (puasa), haji, dan lain-lain. Inilah yang disebut ibadah secara khusus.

III. Karakteristik Ibadah

a. Pertama, ibadah bersifat tauqifiyah alias diterima apa ada¬nya dari Dzat yang disembah.

  • Tauqifi adalah Apa yang ditetapkan Allah melalui nash-nash Al Qur’an dan As Sunnah, yang dilaksanakan sebagaimana pengertiannya tanpa disalahi.
  • Seorang muslim (secara bahasa artinya pasrah) melaksanakan sholat, shoum, zakat maupun haji dengan cara tertentu. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. bersabda:“sholatlah kalian sebagaimana aku sholat”. Dan juga sabda beliau,“Ambilah dariku manasik (rute perjalanan haji) kalian”.

Tauqifi ini dibedakankan dalam beberapa hal, yaitu:

1. Tujuannya.

  • Ibadah kepada Allah dengan sebab yang tidak disyari’atkan, maka ibadah tersebut adalah bid’ah dan tidak diterima. Contoh: Ada orang melakukan puasa di hari tertentu, dengan maksud ingin melakukan penyembahan pada yang lain.
  • Oleh karenanya setiap kali seorang muslim melaksanakan ibadah, dia harus memiliki target yang jelas dan tepat. Agar ibadah dapat dilakukan dengan serius dan tidak menjadi ibadah yang sia-sia.
  • Islam mengajarkan bahwa dalam setiap ibadah ada target yang mesti dicapai.

Contoh Tujuan Ibadah

  • Sholat didirikan untuk mencegah manusia dari perbuatan Keji & Mungkar.
    “Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (TQ.S Al Ankabut 45)
  • Zakat ditunaikan untuk membersihkan jiwanya dari sifat pelit (bakhil) dan mensucikan dirinya agar mendapat keridloan di sisi Allah.
    “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (TQ.S At-Taubah: 103)
  • Haji dikerjakan dengan banyak target yang ingin dicapai, baik untuk individual maupun jamaah.
    “Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh, supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir”. (QS al-Hajj [22]: 27-28)
  • Puasa dilaksanakan agar meraih gelar Taqwa & menjadi Generasi Alquran
    “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”. (QS.Al Baqarah 183).
    “Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)……”. (QS.Al Baqarah 183 )

2. Jenisnya. Artinya ibadah harus sesuai dengan syariat dalam jenisnya, contoh seseorang yang menyembelih kuda untuk kurban.

3. Kadar (bilangannya). Kalau ada seseorang yang sengaja menambah bilangan raka’at sholat zhuhur menjadi lima roka’at. Atau masalah Dzikir

4. Kaifiyah (caranya). Seandainya ada seseorang berwudhu dengan cara membasuh tangan dan muka saja, tentu saja wudhunya tidak sah.

5. Waktunya. Apabila ada orang menyembelih binatang kurban Idul Adha pada hari pertama bulan Dzulhijjah.

6. Tempatnya. Andaikan ada orang beri’tikaf di tempat selain Masjid, maka I’tikafnya tidak sah karena menyelisihi ketentuan syara’.

b. Kedua, ibadah itu secara hukum diperintahkan oleh Allah tanpa sebab disyari’atkannya (tanpa ilat syar’iyyah).
Misalnya, disyari’atkannya wudlu bukanlah demi kebersihan. Diwajibkannya sholat bukanlah supaya kaum muslmin berolahraga.

c. Ketiga, ibadah hanya dilakukan untuk Allah semata.
Hukum-hukum ibadah mengatur hubungan seorang muslim, sebagai makhluk, dengan khaliknya. Maka tidak boleh seorang muslim dalam ibadahnya menseri-katkan/menyekutukan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan seorang pun di antara makhluk-Nya. Diibadahi merupakan hak tunggal Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, “Janganlah kamu sembah di samping (menyembah) Allah, tuhan apapun yang lain”. (QS. AL Qashash 88).
“Barangsiapa mengharap perjum¬paan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhan-nya” (QS. Al Kahfi 110).

d. Keempat, dikerjakan dengan niat ikhlas lillahi ta’ala.

e. Kelima, ibadah kepada Allah secara langsung, tanpa perantara.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menyatakan dalam firman-Nya:” Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo`a apabila ia memohon kepada-Ku”. (QS. Al Baqoroh 186).

f. Keenam, ibadah mudah dilaksanakan. Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak memerintahkan kepada hamba-Nya sesuatu yang tak mampu dilaksanakan. Bahkan dalam hukum-hukum ibadah ada rukhshoh atau keringanan. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
“Allah tidak membebani sese¬orang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”.
(QS. Al Baqo¬roh 286).
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. bersabda: “Sesungguhnya agama (Islam) ini mudah”.

IV. Ibadah Tersembunyi Yang Dicintai Allah

Al Zubayr bin Awwwam berkata, ” Barang siapa diantara kalian mampu melakukan amal sholeh dengan tersembunyi, lakukanlah”.

Ibadah tersembunyi itu bermacam-macam antara lain:

  • Membiasakan shalat malam meskipun hanya satu rakaat witir setiap malamnya.
    Lakukanlah langsung setelah Isya, atau sebelum tidur, atau sebelum fajar supaya dicatat disisi Allah sebagai bagian dari bangun malam. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,” Sesungguhnya Allah itu ganjil dan menyukai yang ganjil. Karena itu lakukanlah shalat ganjil (witir) Wahai yang membaca AL Qur’an”.
  • Mendamaikan Orang yang berseteru, baik kawan, tetangga maupun suami istri.
    Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda,” Maukah kalian kuberi tahu amalan yang pahalanya lebih baik dari pada shalat, puasa dan sedekah?. “Mau ya Rasulullah,” Jawab para sahabat”.
    Rasulullah melanjutkan,”Yaitu mendamaikan dua orang yang berseteru. Adapun merusak dua orang yang berseteru adalah ‘pencukur’ (pahala)”.
  • Membiasakan Sholat Dhuha
  • Berdzikir mengingat Allah Subhanahu wa ta’ala.
    Sesungguhnya tidak ada yang lebih disukai Allah melebihi kita mengingat-Nya. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda, ”Maukah kau kutunjukkan amalan yang paling baik, paling suci di sisi sang Maharaja dan paling tinggi di derajat kalian, lebih baik bagi kalian daripada bertemu musuh , kemudian kalian saling memukul leher? “Mau”, jawab para sahabat. Rasulullah meneruskan, Berdzikir mengingat Allah Subhanahu wa ta’ala”.

Contoh-contoh Amalan Tersembunyi Para Khalifah /amirul mukminin

1. Abu Bakar

Jika shalat Fajar, Abu Bakar terbiasa pergi ke padang pasir, kemudian kembali lagi sejenak ke Madinah. Karena penasaran, suatu hari Umar bin Khatab membuntutinya. Ternyata yang dikunjungi abu Bakar adalah sebuah tenda kumuh di tengah padang pasir. Umar pun bersembunyi di belakang batu besar..dan tak lama kemudian Abu Bakar pun keluar dari tenda itu. Setelah Abu Bakar berlalu, Umar masuk ke tenda terebut. Ternyata di dalamnya ada seorang wanita tua dan buta bersama seorang bayi kecil. Umar bertanya,” siapa yang datang tadi pada kalian?”Wanita itu menjawab ,” Aku tidak tahu. Yang jelas ia seorang muslim. Setiap pagi ia datang kemari”. “Apa yang ia perbuat?” kejar Umar. Wanita itu berkata,” Ia menyapu rumah kami, mencampur adonan kami , memeras susu ternak kami , lalu keluar.”
Sambil keluar Umar berkata,” Engkau membuat lelah penggantimu wahai Abu Bakar. Engkau membuat lelah para pengganti mu wahai Abu Bakar.”

2. Umar ibn al-khattab

  • Setiap malam sembunyi-sembunyi mendatangi beberapa Rumah. Suatu hari Thalhah ibn Ubaydilkah melihat Umar keluar di tengah kegelapan malam. Saat itu ia masuk ke sebuah rumah, kemudian keluar lagi. Begitu ia lakukan berulang kali dengan rumah yang berbeda. Pagi harinya, Thalhah pergi ke rumah pertama yang dimasuki Umar . Ternyata disana ada perempuan buta dan tidak bisa apa-apa karena sudah tua. Thalhah bertanya; ” Untuk apa orang ini datang kemari?. Perempuan itu menjawab ,”Ia sudah terbiasa sejak dulu. Ia datang membawa sesuatu yang baik untukku dan mengeluarkan rasa sakit dariku. Sambil keluar Thalhah berkata,”Ibumu kehilanganmu , wahai Thalhah.”
  • Pada kesempatan lain, Umar pergi ke daerah pinggiran Madinah. Disana ada seorang musafir yang beristirahat ditengah jalan. Sebuah tenda kumuh didirikan, sedangkan ia duduk diambang pintu seperti kebingungan. Umar bertanya dan
    Orang itu menjawab dia dari pedalaman yang ingin datang menghadap Amirul Mukminin untuk meminta kemurahan hatinya. Dari dalam tenda terdengar rintihan seorang wanita , Umar menanyakannya. Orang itu menjawab,” Pergilah semoga Allah merahmati keperluanmu.”.“inilah keperluanku,” tukas Umar. Orang itu berkata,” Istriku akan melahirkan” . Tetapi aku tidak punya uang, makanan dan siapapun”. Umar segera berbalik pulang. Setibanya di rumah , ia berkata kepada sang istri, Ummu Kultsum, ”Apakah engkau punya sesuatu yang dianugrahkan Allah kepadamu?”. “Untuk apa ?” tanya sang istri. Umar pun menceritakan perihal laki-laki itu. Setelah itu sang istri membawa barang-barang dan Umar membawa ransel berisi makanan, panci dan kayu. Mereka pun menemui laki-laki itu. Ummu Kultsum masuk ke dalam tenda sedangkan umar duduk bersama laki laki itu. Ia menyalakan api dan meniup kayu, lalu memasak makanan. Tiba-tiba Ummu Kultsum berteriak dari dalam tenda,” Wahai amirul mukminin beri tahu temanmu bahwa anaknya sudah lahir”. Mendengar kata-kata itu , sontak orang tersebut kaget bukan kepalang.”engkaukah Khalifah Umar bin Al Khatthab? “katanya. “Ya,” jawab Umar, kemudian berkata “tetaplah ditempatmu.” Setelah itu Umar mengambil dan meletakkan panci di dekat tenda, kemudian berteriak pada ummu Kultsum, ”Beri ia makan.” Perempuan itu pun makan. Tidak lama kemudian Ummu Kultsum membawa keluar makanan itu . Umar berdiri mengambilnya , lalu meletakkan di depan laki-laki itu sambil berkata,” Makanlah sudah semalam engkau tidak tidur. Besok temuilah kami. Akan kami perintahkan sesuatu yang baik untukmu “.Semoga Allah merahmati “Umar” .

V. Pengaruh Ibadah

  • Memperkuat hubungannya dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
    Karena setiap saat ia bermunajat kepada Allah. Iyya kanak budu wa iyya kanas tain…( hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepadaMu kami mohon pertolongan….)
  • Ibadah membentuk ketenangan jiwa dalam diri seorang muslim.
    Sebab, setelah beribadah, seorang muslim merasakan bahwa dirinya taat kepada Allah, dan Dia akan membalas ibadahnya dengan sebaik-baik balasan, maka dia akan merasa tenang dengan masa depannya yang hakiki, yakni akhirat.
  • Ibadah akan memperkuat kualitas akhlak seorang muslim, yakni sifat-sfat terpuji yang melekat bersama ibadah­nya.

VI. Macam-macam Ibadah Maghdah

  • Ibadah Qalbiyah (yang berkaitan dengan hati)
    Yang meliputi: Rasa khauf (takut), raja’ (mengharap), mahabbah (cinta), tawakkal (ketergantungan), raghbah (senang), dan rahbah (takut).
  • Ibadah lisaniyah qalbiyah (lisan dan hati)
    Yang meliputi: tasbih, tahlil, takbir, tahmid dan syukur dengan lisan dan hati.
  • Ibadah Badaniyah Qalbiyah (fisik dan hati)
    Yakni meliputi: shalat, zakat, haji, dan jihad. Serta masih banyak lagi macam-macam ibadah yang berkaitan dengan amalan hati, lisan dan badan. Ibadah inilah yang menjadi tujuan penciptaan manusia.

VII. Contoh-contoh dari Ibadah Qalbiyah

  • Cinta Kepada Allah dan RasulNya
  • Takut Kepada Allah dalam Kondisi Tersembunyi atau terang-terangan
  • Mengharap Rahmat Allah (Raja’) dan tidak berputus asa dari RahmatNya
  • Ridha Terhadap Qada’ Allah
  • Bersabar atas ujian yang Allah berikan
  • Bersyukur atas segala apa yang ada

VIII. Khatimah

“Tiada henti-hentinya hamba-Ku mendekatkan dirinya kepada-Ku dengan perbuatan-perbuatan sunnah nafilah sehingga Aku mencintainya. Kalau Aku sudah mencintainya, maka aku akan menjadi pendengarannya yang ia mendengarkan dengannya dan Aku akan menjadi penglihatan­nya yang ia melihat dengannya dan Aku akan menjadi tangannya yang ia pergunakan, dan Aku akan menjadi kakinya yang ia berjalan dengannya. Jika ia me­minta kepada-Ku niscaya akan Kuberi, jika dia memohon per­lindungan kepada-Ku, niscaya Aku lindungi” (HR. Bukhari).
Siapa yang mau tekun beribadah? Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam juga telah bersabda dalam sebuah hadits qudsi,”Sesungguhnya Allah ta’ala berfirman, Wahai anak adam, curahkanlah (hidupmu) untuk beribadah kepada-KU niscaya aku jamin kekayaan jiwamu dan aku atasi kefakiranmu, dan jika engkau tidak melakukannya niscaya akan Aku penuhi kehidupanmu dengan kesibukan-kesibukan dan tidak Aku tutupi kefakiranmu.”

Semoga Artikel ini bermanfaat untuk Sahabat Rumah Kurma Sahara.
Silahkan berbelanja kurma di Rumah Kurma Sahara, Butuh perlengkapan haji? Ingat Toko Rumah Kurma Sahara!
Jalan Raya Semplak Atang Sandjaja No. 224
Bogor Barat – Kota Bogor
Customer Care : 0821-1141-8832 | 0878-7386-0559
Delivery : 0859-2512-6067
WA | PIN BB : 0878-7386-0559 | DA7A086