Keteladanan Khalifah Umar


Ketika Khalifah Umar bin Abdul Aziz memeriksa daftar sertifikat tanah, dia menemukan bahwa ayahnya, Abdul Aziz bin Marwan bin Hakam, memiliki perkebunan kurma yang sangat luas dan subur di Khaibar, dekat Madinah. Harta itu lalu diwariskan kepadanya. Usai menyelidiki kronologinya –lahan itu diambil kakek Umar dari milik kaum Muslimin, maka Umar langsung merobek sertifikat tanah dan kebun miliknya itu, lalu mengembalikan kepada negara agar hasilnya untuk rakyat semata.

Ketegasan, keberanian, dan kecepatan Umar memberantas kemungkaran tak cuma itu. Dalam biografinya yang ditulis Abdullah bin Abdul Hakam diriwayatkan, Umar melarang aparat negara dan rakyat menyiksa hewan. Kepada Hayyan, pejabatnya di Mesir, Umar menyatakan unta pengangkut barang dilarang dimuati melebihi 600 rithl (sekitar 240 kg).

Bisa dibayangkan sikapnya terhadap kemungkaran yang lebih besar dan telah jelas disebut dalam Alquran dan sunah Nabi Shallallahu’alaihi wasallam. Misalnya, mengenai kemusyrikan, judi, riba, khamar (minuman keras/memabukkan), pertunjukan aurat, pembunuhan, perzinaan, korupsi, dan suap. Namun, dosa-dosa itu nyaris tidak terjadi karena Umar kuat mencegahnya. Sebagai misal, Khalifah Umar bin Abdul Aziz tidak segan-segan mencopot pejabat yang korup.

Sebaliknya, sebagai kepala negara ia selalu memudahkan orang mencari pekerjaan, gemar menasihati rakyat, serta membagikan harta negara kepada orang miskin, dan sebagainya. Sayangnya, keteladanan Umar itu tidak banyak yang mencontoh. Kini, walaupun banyak pejabat Muslim, mereka terkesan enggan memakai kekuatan dan kekuasaannya untuk mencegah kezaliman dan kemaksiatan.

Padahal, saban hari mereka bisa dengan mudah melihat dosa besar serta dosa yang status keharamannya didasari dalil yang qathi tsubut (pasti sumber hukumnya) dan qathi dilalah (pasti penunjukan makna/tafsirnya). Keharaman judi misalnya, bukanlah hasil ijtihad, melainkan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala (QS 5:90-91). Apalagi kemusyrikan, seperti ajakan mempercayai sihir lewat novel anak-anak, pertunjukan TV yang membuat orang berdoa pada jin-jin, dan seterusnya. Padahal, syirik merupakan dosa terbesar tak terampuni (QS 1:5, 2:102, 4:48).

Begitu juga dengan korupsi dan suap-menyuap. Kedua hal ini jelas diterangkan dalam beberapa hadis shahih riwayat Bukhari, Muslim, Tirmidzi, dan Abu Dawud, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam enggan menolong koruptor di akhirat. Beliau pun bersabda, penyuap dan yang disuap dilaknat Allah. Sayangnya, kini banyak penguasa Muslim yang berdiam diri, entah merestui atau cuma mencegah di hati, ketika melihat kemungkaran. Kadang bicara keras, tapi tanpa berbuat. Padahal, merekalah yang paling mampu mencegah kemungkaran dengan tangan: kekuasaan, dan kekuatannya.

Semoga Artikel ini bermanfaat untuk Sahabat Rumah Kurma Sahara.
Silahkan berbelanja kurma di Rumah Kurma Sahara, Butuh perlengkapan haji? Ingat Toko Rumah Kurma Sahara!
Jalan Raya Semplak Atang Sandjaja No. 224
Bogor Barat – Kota Bogor
Customer Care : 0821-1141-8832 | 0878-7386-0559
Delivery : 0859-2512-6067
WA | PIN BB : 0878-7386-0559 | DA7A086

Referensi : https://islami.co/umar-bin-abdul-aziz