Sudahkah anda Melakukan Tahadduts Bin Ni’mah

2016-03-23_6-17-58

Setiap hari seorang muslim mendapatkan kenikmatan silih berganti, baik kenikmatan lahiriyah maupun batiniyah, diniyyah maupun dunyawiyyah. Kewajiban seorang hamba ketika mendapatkan nikmat adalah bersyukur kepada Allah Ta’ala. Imam Ibnul Qoyyim rahimahullahmenjelaskan hakikat bersyukur dalam kitab Madarijus Salikin dengan mengatakan,

وكذلك حقيقته في العبودية وهو ظهور أثر نعمة الله على لسان عبده : ثناء واعترافا . وعلى قلبه : شهودا ومحبة . وعلى جوارحه : انقيادا وطاعة

Dan hakikat syukur dalam bentuk ibadah adalah nampaknya nikmat Allah pada lisan hamba-Nya dalam bentuk  memuji-Nya dan mengakui (nikmat tersebut dari-Nya), pada hatinya dalam bentuk menyaksikan dan mencintai-Nya, dan pada anggota tubuhnya dalam bentuk tunduk dan taat kepada-Nya”.

والشكر مبني على خمس قواعد خضوع الشاكر للمشكور ، وحبه له ، واعترافه بنعمته ، وثناؤه عليه بها ، وأن لا يستعملها فيما يكره

“Syukur terbangun di atas lima dasar:

  1. Tunduknya hamba kepada Dzat yang menganugerahkan nikmat kepadanya.
  2. Mencintai-Nya
  3. Mengakui nikmat itu dari-Nya
  4. Memuji-Nya atas anugerah nikmat-Nya kepadanya.
  5. Tidak menggunakannya untuk bermaksiat kepada-Nya” (Madarijus Salikin 2/234).

Beliau juga berkata,

وكل من تكلم في الشكر وحده ، فكلامه إليها يرجع . وعليها يدور

Dan setiap orang yang berbicara khusus tentang syukur, maka pembicaraannya kembali kepadanya (lima dasar syukur di atas) dan berkisar seputarnya(Madarijus Salikin 2/234).

Dari penjelasan di atas nampaklah, bahwa menyebutkan nikmat Allah hakikatnya merupakan bagian dari bersyukur kepada Allah Ta’ala. Terkait dengan masalah menyebutkan nikmat Allah, ada beberapa hal yang perlu diketahui, yaitu:

Menyebutkan nikmat Allah merupakan Perintah Allah

Ketahuilah bahwa menyebutkan nikmat Allah yang didapatkan oleh seorang hamba adalah perkara yang diperintahkan oleh Rabbuna ‘Azza wa Jalla. Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman,

وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ

“Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu sebutkan”. (QS. Adh-Dhuha: 11).

 

Meninggalkan menyebut nikmat Allah dan suka menyebut musibah merupakan bentuk kufur (ingkar) nikmat

Allah Ta’ala berfirman :

إِنَّ الْإِنْسَانَ لِرَبِّهِ لَكَنُودٌ

Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Tuhannya (QS. Al-‘Aadiyaat: 6).

Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya 5/249 berkata,

قال الحسن : الكنود هو الذي يعدّ المصائب وينسى نعم الله عليه

“Berkata Al-Hasan Al-Bashri: Al-Kanuud adalah orang yang menghitung-hitung musibah dan melupakan nikmat Allah atas dirinya”.

Imam Ahli Tafsir, Ibnu Jarir At-Thabari rahimahullah menyebutkan,

عن ابن عباس: {إِنَّ الإنْسَانَ لِرَبِّهِ لَكَنُودٌ} قال: لربه لكفور

“Dari Ibnu ‘Abbas berkata, “{إِنَّ الإنْسَانَ لِرَبِّهِ لَكَنُودٌ} Kepada Rabbnya benar-benar ingkar (kufur nikmat)”.

Kapan seseorang diperintahkan menyebutkan nikmat Allah?

Berkata Al-Munawi rahimahullah,

“… ما لم يترتب على التحدث بها ضرر كحسد ، وإلا فالكتمان أولى”

“Selama menyebutkan nikmat Allah tersebut tidak mengakibatkan bahaya, seperti hasad (tidak mengapa menyebutkannya). Namun jika menimbulkan bahaya, maka menyembunyikan nikmat adalah lebih utama”.

Semoga Artikel ini bermanfaat untuk Sahabat Rumah Kurma Sahara.
Silahkan berbelanja kurma di Rumah Kurma Sahara, Butuh perlengkapan haji? Ingat Toko Rumah Kurma Sahara!
Jalan Raya Semplak Atang Sandjaja No. 224
Bogor Barat – Kota Bogor
Customer Care : 0821-1141-8832 | 0878-7386-0559
Delivery : 0859-2512-6067
WA | PIN BB : 0878-7386-0559 | DA7A086

referensi : muslim or id