5 Keistimewaan Mencari Nafkah Bagi Suami

2016-03-10_8-37-50Keutamaan mencari nafkah bagi suami amatlah luar biasa. Ketika suami pergi di pagi hari dan pulang di malam hari untuk mencari nafkah insya Allah akan Allah balas setiap peluh yang menetes karena lelahnya dengan pahala yang besar. Lalu apa saja keutamaan tersebut? Berikut 5 keutamaan mencari nafkah bagi suami.
1. Berlimpah Pahala jika Niatnya Benar

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّكَ لَنْ تُنْفِقَ نَفَقَةً تَبْتَغِى بِهَا وَجْهَ اللَّهِ إِلاَّ أُجِرْتَ عَلَيْهَا ، حَتَّى مَا تَجْعَلُ فِى فِى امْرَأَتِكَ

“Sungguh tidaklah engkau menginfakkan nafkah (harta) dengan tujuan mengharapkan (melihat) wajah Allah (pada hari kiamat nanti) kecuali kamu akan mendapatkan ganjaran pahala (yang besar), sampai pun makanan yang kamu berikan kepada istrimu.” (HR. Bukhari no. 56).

Keutamaan mencari nafkah yang pertama ialah suami akan mendaptkan pahala yang berlimpah, jika diniatkan dengan ikhlas semata karena Allah. Namun jika apa yang suami lakukan hanyalah untuk sebuah rutinitas biasa, yakni hanya sekedar untuk memenuhi kewajiban suami dalam memberi nafkah tanpa disertai niat yang ikhlas karena Allah, maka belum tentu akan berbuah pahala. Sebab pahala akan tergantung dengan niatnya.

2. Allah akan Ganti dengan Harta yang Lebih Baik
Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيهِ إِلاَّ مَلَكَانِ يَنْزِلاَنِ فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا ، وَيَقُولُ الآخَرُ اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفً

“Tidaklah para hamba berpagi hari di dalamnya melainkan ada dua malaikat yang turun, salah satunya berkata, “Ya Allah, berilah ganti kepada orang yang senang berinfak.” Yang lain mengatakan, “Ya Allah, berilah kebangkrutan kepada orang yang pelit.” (HR. Bukhari no. 1442 dan Muslim no. 1010).

Mencari nafkah bagi suami untuk keluarganya termasuk kedalam berinfak, sehingga termasuk dalam keutamaan hadits ini. Yakni, Allah akan menjadikan harta yang dikeluarkannya itu dengan barokah yang berlimpah dan menggantikan setiap harta dengan ganti yang lebih baik. Inilah salah satu keutamaan mencari nafkah bagi suami yang Allah berikan.

3. Menafkahi Keluarga lebih Utama dari Sedekah

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

دِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِى رَقَبَةٍ وَدِينَارٌ تَصَدَّقْتَ بِهِ عَلَى مِسْكِينٍ وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ أَعْظَمُهَا أَجْرًا الَّذِى أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ

“Satu dinar yang engkau keluarkan di jalan Allah, lalu satu dinar yang engkau keluarkan untuk memerdekakan seorang budak, lalu satu dinar yang engkau yang engkau keluarkan untuk satu orang miskin, dibandingkan dengan satu dinar yang engkau nafkahkan untuk keluargamu maka pahalanya lebih besar (dari amalan kebaikan yang disebutkan tadi, pen)” (HR. Muslim no. 995).

Memberi nafkah untuk keluarga itu lebih utama dari sedekah yang hukumnya sunnah, ini karena kewajiban suami yang utama itu terletak pada keluarganya. Suami memiliki kewajiban untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

4. Mencari Nafkah termasuk Sedekah

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا أَطْعَمْتَ نَفْسَكَ فَهُوَ لَكَ صَدَقَةٌ وَمَا أَطْعَمْتَ وَلَدَكَ فَهُوَ لَكَ صَدَقَةٌ وَمَا أَطْعَمْتَ زَوْجَتَكَ فَهُوَ لَكَ صَدَقَةٌ وَمَا أَطْعَمْتَ خَادِمَكَ فَهُوَ لَكَ صَدَقَةٌ

Harta yang dikeluarkan sebagai makanan untukmu dinilai sebagai sedekah untukmu. Begitu pula makanan yang engkau beri pada anakmu, itu pun dinilai sedekah. Begitu juga makanan yang engkau beri pada istrimu, itu pun bernilai sedekah untukmu. Juga makanan yang engkau beri pada pembantumu, itu juga termasuk sedekah,” (H.R. Ahmad).

Keutamaan mencari nafkah bagi suami yang selanjutnya adalah setiap nafkah yang diberikan kepada keluarga akan bernilai sedekah. Allah telah menjanjikan bahwa pahala dari sedekah itu berlimpah, insya Allah.

5. Mencari Nafkah adalah Tanggung Jawab Suami

Dalam riwayat Ibnu Hibban disebutkan,

إن الله سائل كل راع عما استرعاه : أحفظ أم ضيع

Allah akan bertanya pada setiap pemimpin atas apa yang ia pimpin, apakah ia memperhatikan atau melalaikannya,” (H.R. Ibnu Hibban).

Setiap suami memikul tanggung jawab atas keluarga yang dipimpinnya, termasuk mengenai kebutuhan keluarganya. Apakah suami memperhatikan kebutuhan keluarganya dengan baik atau justru melalaikannya. Maka sudah menjadi tanggung jawab suami untuk memberi nafkah keluarganya sebagai bentuk tanggung jawab yang mereka emban. Insya Allah ini akan berbuah pahala, sebagaimana yang telah Allah janjikan sebagai keutamaan mencari nafkah bagi suami.

Semoga Artikel ini bermanfaat untuk Sahabat Rumah Kurma Sahara.
Silahkan berbelanja kurma di Rumah Kurma Sahara, Butuh perlengkapan haji? Ingat Toko Rumah Kurma Sahara!
Jalan Raya Semplak Atang Sandjaja No. 224
Bogor Barat – Kota Bogor
Customer Care : 0821-1141-8832 | 0878-7386-0559
Delivery : 0859-2512-6067
WA | PIN BB : 0878-7386-0559 | DA7A086

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *