Adab Masuk dan Berada di Dalam Masjid

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ امْرَأَةً سَوْدَاءَ كَانَتْ تَقُمُّ الْمَسْجِدَ أَوْ شَابًّا فَفَقَدَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَأَلَ عَنْهَا أَوْ عَنْهُ فَقَالُوا مَاتَ قَالَ أَفَلَا كُنْتُمْ آذَنْتُمُونِي قَالَ فَكَأَنَّهُمْ صَغَّرُوا أَمْرَهَا أَوْ أَمْرَهُ فَقَالَ دُلُّونِي عَلَى قَبْرِهِ فَدَلُّوهُ فَصَلَّى عَلَيْهَا ثُمَّ قَالَ إِنَّ هَذِهِ الْقُبُورَ مَمْلُوءَةٌ ظُلْمَةً عَلَى أَهْلِهَا وَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُنَوِّرُهَا لَهُمْ بِصَلَاتِي عَلَيْهِمْ

Dari Abu Hurairah, bahwa ada seorang wanita berkulit hitam atau seorang pemuda yang biasa menyapu Masjid. Suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kehilangan orang itu, sehingga beliau pun menanyakannya. Para sahabat menjawab, “Orang itu telah meninggal.” Beliau bersabda, “Kenapa kalian tidak memberitahukan kepadaku?” Sepertinya mereka menganggap remeh urusan kematiannya. Beliau pun bersabda, “Tunjukkanlah kepadaku di mana letak kuburannya.” Maka para sahabat pun menunjukkan kuburannya, dan akhirnya Beliau menshalatkannya. Setelah itu, Beliau bersabda, “Sesungguhnya kuburan-kuburan ini telah dipenuhi kegelapan bagi penghuninya. Dan Allah benar-benar akan memberikan mereka cahaya karena shalatku atas mereka.” (HR. Muslim)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ سَمِعَ رَجُلًا يَنْشُدُ ضَالَّةً فِي الْمَسْجِدِ فَلْيَقُلْ لَا رَدَّهَا اللَّهُ عَلَيْكَ فَإِنَّ الْمَسَاجِدَ لَمْ تُبْنَ لِهَذَا

Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang mendengar seseorang mencari barang hilang di masjid, hendaklah dia mendoakan, “Semoga Allah tidak mengembalikannya kepadamu, karena masjid bukan dibangun untuk ini’.” (HR. Muslim)

عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ رَجُلًا نَشَدَ فِي الْمَسْجِدِ فَقَالَ مَنْ دَعَا إِلَى الْجَمَلِ الْأَحْمَرِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا وَجَدْتَ إِنَّمَا بُنِيَتْ الْمَسَاجِدُ لِمَا بُنِيَتْ لَهُ

Dari Sulaiman bin Buraidah dari bapaknya “Bahwa seorang laki-laki mencari (barang hilang) di masjid, dia berkata, ‘Siapa yang bisa menunjukkan kepada onta merah (yang hilang)?” Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Semoga kamu tidak mendapatkannya, karena masjid hanya dibangun untuk manfaat yang khusus diperuntukkan baginya.” (HR. Muslim)
Keutamaan Pergi ke Masjid Untuk Beribadah

Masjid adalah tempat ibadah kaum muslimin, mereka melakukan shalat lima waktu berjamaah di sana karena pahala yang besar yang dijanjikan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ أَوْ رَاحَ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُ فِي الْجَنَّةِ نُزُلًا كُلَّمَا غَدَا أَوْ رَاحَ

Dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, Beliau bersabda, “Barangsiapa berangkat pagi atau sore hari ke masjid, maka Allah akan mempersiapkan hidangan baginya di surga, setiapkali ia berangkat pagi atau sore hari.” (HR. Bukhari dan Muslim)

مَنْ تَطَهَّرَ فِي بَيْتِهِ ثُمَّ مَشَى إِلَى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ لِيَقْضِيَ فَرِيضَةً مِنْ فَرَائِضِ اللَّهِ كَانَتْ خَطْوَتَاهُ إِحْدَاهُمَا تَحُطُّ خَطِيئَةً وَالْأُخْرَى تَرْفَعُ دَرَجَةً

“Barangsiapa bersuci di rumahnya, kemudian berjalan ke salah satu rumah Allah (masjid) untuk melaksanakan kewajiban yang Allah tetapkan, maka kedua langkahnya, yang satu menghapus kesalahan dan satunya lagi meninggikan derajat.” (HR. Muslim)

Bahkan barangsiapa yang rutin memakmurkan masjid dan shalat di sana, hatinya pun terikat dengannya, maka ia termasuk tujuh golongan yang mendapatkan naungan Allah Subhanahu wa Ta’ala pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya.
Adab-adab di Masjid

Berada di masjid dalam keadaan suci dari hadats besar, seperti junub, haidh dan nifas, kecuali jika sekedar lewat (lihat surat An Nisaa’: 43).
1. Memakai wewangian (bagi laki-laki) dan memakai baju yang bagus. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Wahai anak Adam! Pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid.” (QS. Al A’raaf: 31)

Tidak memakan makanan yang membuat mulut berbau tidak sedap, seperti bawang, jengkol, pete, dsb. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ أَكَلَ ثُومًا أَوْ بَصَلًا فَلْيَعْتَزِلْنَا أَوْ لِيَعْتَزِلْ مَسْجِدَنَا وَلْيَقْعُدْ فِي بَيْتِهِ

“Barangsiapa yang memakan bawang putih atau bawang merah, maka hendaklah dia memisahkan diri dari kami atau memisahkan diri dari masjid kami dan duduk di rumahnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

2. Sering-sering pergi ke masjid dan beribadah di dalamnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللَّهُ بِهِ الْخَطَايَا وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَى الْمَكَارِهِ وَكَثْرَةُ الْخُطَا إِلَى الْمَسَاجِدِ وَانْتِظَارُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ فَذَلِكُمْ الرِّبَاطُ

“Maukah kalian aku tunjukkan sesuatu yang dengannya Allah menghapus kesalahan-kesalahan dan mengangkat derajat?” Mereka menjawab, “Tentu, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda: “Menyempurnakan wudhu pada saat tidak disukai (seperti keadaan yang sangat dingin), banyak melangkahkan kaki ke masjid, dan menunggu shalat berikutnya setelah shalat. Itulah ribath.” (HR. Muslim)

3. Berdoa ketika menuju masjid, yaitu dengan doa berikut:

اللَّهُمَّ اجْعَلْ فِي قَلْبِي نُورًا وَفِي لِسَانِي نُورًا وَاجْعَلْ فِي سَمْعِي نُورًا وَاجْعَلْ فِي بَصَرِي نُورًا وَاجْعَلْ مِنْ خَلْفِي نُورًا وَمِنْ أَمَامِي نُورًا وَاجْعَلْ مِنْ فَوْقِي نُورًا وَمِنْ تَحْتِي نُورًا اللَّهُمَّ أَعْطِنِي نُورًا

Artinya: “Ya Allah, berilah cahaya dalam hatiku, cahaya di lisanku, berilah cahaya dalam pendengaranku, berilah cahaya dalam penglihatanku, berilah aku cahaya dari belakangku, dari arah depanku, dan berikanlah cahaya dari atasku, dan arah bawahku. Ya Allah, berilah aku cahaya.” (HR. Muslim)

4. Berangkat ke masjid dengan tenang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا سَمِعْتُمْ الْإِقَامَةَ فَامْشُوا إِلَى الصَّلَاةِ وَعَلَيْكُمْ بِالسَّكِينَةِ وَالْوَقَارِ وَلَا تُسْرِعُوا فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوا

“Jika kalian mendengar iqamat dikumandangkan, maka berjalanlah menuju shalat dan hendaklah kalian berjalan dengan tenang berwibawa dan jangan tergesa-gesa. Apa yang kalian dapatkan dari shalat maka ikutilah, dan apa yang tertinggal maka sempurnakanlah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

5. Masuk dengan kaki kanan sambil berdoa. Doa masuk masjid adalah:

أَعُوْذُ بِاللهِ الْعَظِيْمِ، وَبِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ، وَسُلْطَانِهِ الْقَدِيْمِ، مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، [بِسْمِ اللهِ، وَالصَّلاَةُ][وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ] اَللَّهُمَّ افْتَحْ لِيْ أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ.

“Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Agung, dengan wajah-Nya Yang Mulia dan kekuasaan-Nya yang abadi, dari setan yang terkutuk[1]. Dengan nama Allah dan semoga shalawat[2] dan salam tercurahkan kepada Rasulullah[3]. Ya Allah, bukalah pintu-pintu rahmat-Mu untukku[4].”

6. Keluar masjid dengan kaki kiri sambil berdoa. Doa keluar masjid adalah:

بِسْمِ اللهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ، اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ، اَللَّهُمَّ اعْصِمْنِيْ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ.

Artinya: “Dengan nama Allah, semoga shalawat dan salam terlimpah kepada Rasulullah. Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepada-Mu dari karunia-Mu. Ya Allah, peliharalah aku dari godaan setan yang terkutuk”. (Lihat takhrij sebelumnya, adapun tambahan: Allaahumma’shimni minasy syai-thaanir rajim, adalah riwayat Ibnu Majah. Lihat Shahih Ibnu Majah 129.)

7. Shalat tahiyyatul masjid sebelum duduk. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمْ الْمَسْجِدَ فَلَا يَجْلِسْ حَتَّى يُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ

“Jika seorang dari kalian masuk ke dalam masjid, maka janganlah dia duduk sebelum shalat dua rakaat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

8. Tidak keluar dari masjid setelah azan dikumandangkan sampai shalat ditunaikan kecuali jika uzur atau terpaksa harus keluar.

عَنْ أَبِي الشَّعْثَاءِ قَالَ كُنَّا قُعُودًا فِي الْمَسْجِدِ مَعَ أَبِي هُرَيْرَةَ فَأَذَّنَ الْمُؤَذِّنُ فَقَامَ رَجُلٌ مِنْ الْمَسْجِدِ يَمْشِي فَأَتْبَعَهُ أَبُو هُرَيْرَةَ بَصَرَهُ حَتَّى خَرَجَ مِنْ الْمَسْجِدِ فَقَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ أَمَّا هَذَا فَقَدْ عَصَى أَبَا الْقَاسِمِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Dari Abu Sya’tsa’, ia berkata, “Ketika kami sedang duduk-duduk di masjid bersama Abu Hurairah, dan ketika seorang muazin telah mengumandangkan azan, seseorang berdiri meninggalkan masjid sambil berjalan. Abu Hurairah terus melihatnya hingga laki-laki itu keluar dari masjid. Abu Hurairah lalu berkata, “Orang ini telah durhaka kepada Abul Qasim (Rasulullah) shallallahu ‘alaihi wasallam.” (HR. Muslim)

9. Mengisi waktu di masjid dengan beribadah, seperti berdzikr, membaca Alquran, berdoa, shalat sunat, dsb. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّمَا هِيَ لِذِكْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالصَّلَاةِ وَقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ

“Sesungguhnya ia hanya untuk berdzikir kepada Allah, shalat, dan membaca Alquran.” (HR. Muslim)

10. Tidak lewat di depan orang yang shalat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَوْ يَعْلَمُ الْمَارُّ بَيْنَ يَدَيْ الْمُصَلِّي مَاذَا عَلَيْهِ لَكَانَ أَنْ يَقِفَ أَرْبَعِينَ خَيْرًا لَهُ مِنْ أَنْ يَمُرَّ بَيْنَ يَدَيْهِ

“Kalau orang yang lewat di hadapan orang yang sedang shalat mengetahui dosa yang ditanggungnya, niscaya dia berdiri selama empat puluh adalah lebih baik baginya daripada melewati orang yang sedang shalat.” (HR. Muslim)

Jika dalam shalat berjamaah, maka sutrah (pembatas) makmum adalah imam, adapun jika seseorang shalat sendiri dimana ia telah memakai sutrah, maka tidak boleh lewat di depannya kecuali di atas sutrah.

11. Tidak bersuara keras dan bertengkar di masjid.

Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya bersikap sopan dan tenang.

عَنِ السَّائِبِ بْنِ يَزِيدَ قَالَ : كُنْتُ قَائِماً فِى الْمَسْجِدِ فَحَصَبَنِى رَجُلٌ ، فَنَظَرْتُ فَإِذَا عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ فَقَالَ : اذْهَبْ فَأْتِنِى بِهَذَيْنِ . فَجِئْتُهُ بِهِمَا . قَالَ : مَنْ أَنْتُمَا ؟ – أَوْ مِنْ أَيْنَ أَنْتُمَا ؟ قَالاَ : مِنْ أَهْلِ الطَّائِفِ . قَالَ : لَوْ كُنْتُمَا مِنْ أَهْلِ الْبَلَدِ لأَوْجَعْتُكُمَا ، تَرْفَعَانِ أَصْوَاتَكُمَا فِى مَسْجِدِ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ؟

Dari As Saa’ib bin Yazid ia berkata, “Aku pernah berdiri di masjid, lalu ada yang melempar batu kerikil kepadaku, maka aku melihat, ternyata orang itu adalah Umar bin Khaththab ia berkata, “Pergilah, ambillah kedua batu ini.” Aku pun datang kepadanya dengan membawa kedua batu itu. Ia (Umar) bertanya, “Siapa kamu berdua?” atau “Dari mana kamu berdua?” Keduanya menjawab, “Dari penduduk Tha’if.” Ia berkata, “Kalau kamu berdua berasal dari penduduk negeri ini, tentu kamu berdua aku sakiti; kamu telah mengeraskan suara di masjid Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Bukhari)

Demikian pula seorang muslim tidak boleh mengganggu orang yang sedang shalat dengan suara kerasnya, meskipun dengan bacaan Alquran. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الْمُصَلِّي يُنَاجِي رَبَّهُ فَلْيَنْظُرْ بِمَ يُنَاجِيْهِ وَ لاَ يَجْهَرْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَعْضٍ بِالْقُرْآنِ

“Sesungguhnya orang yang shalat sedang bermunajat kepada Tuhannya, maka hendaknya ia memperhatikan isi munajatnya dan janganlah satu sama lain mengeraskan mengeraskan bacaan Alqurannya.” (HR. Thabrani dari Abu Hurairah dan Aisyah, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’ no. 1951)

12. Memakmurkan masjid.

Seorang muslim hendaknya memakmurkan masjid, menjaga shalat di dalamnya dan hatinya tergantung dengannya dan tidak meninggalkan masjid selamanya. Hal itu, karena masjid adalah tempat setiap orang yang bertakwa dan sebagai rumah Allah, ia merupakan tempat yang paling dicintai-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللهِ مَنْ ءَامَنَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلأَخِرِ وَأَقَامَ الصَّلاَةَ وَءَاتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلاَّ اللهَ فَعَسَى أُوْلاَئِكَ أَن يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ

“Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari Kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapa pun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. At Taubah: 18)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَحَبُّ الْبِلَادِ إِلَى اللَّهِ مَسَاجِدُهَا وَأَبْغَضُ الْبِلَادِ إِلَى اللَّهِ أَسْوَاقُهَا

“Lokasi yang paling Allah cintai adalah masjid, dan Lokasi yang paling Allah benci adalah pasar.” (HR. Muslim)

13. Membangun masjid karena mencari keridhaan Allah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ بَنَى مَسْجِدًا يَبْتَغِي بِهِ وَجْهَ اللَّهِ بَنَى اللَّهُ لَهُ مِثْلَهُ فِي الْجَنَّةِ (وَفِي رِوَايَةٍ لِمُسْلِمٍ: بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ)

“Barangsiapa yang membangun masjid karena mencari keridhaan Allah, maka Allah akan membangun untuknya yang seperti itu di surga.” (HR. Bukhari dan Muslim, dalam sebuah riwayat Muslim disebutkan, “Allah akan membangunkan rumah untuknya di surga.”)

14. Tidak membangun masjid di atas kuburan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَعَنَ اللَّهُ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ

“Allah melaknat orang-orang Yahudi dan Nasrani, karena mereka menjadikan kubur para nabi mereka sebagai masjid.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sederhana dalam membangun masjid dan tidak menghiasnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا أُمِرْتُ بِتَشْيِيْدِ الْمَسَاجِدِ

“Aku tidak diperintahkan mentasy-yid masjid.” (HR. Abu Dawud, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’ no. 5550)

Tasyyid artinya berlebihan dalam menghias masjid. Ibnu Baththal berkata, “Di dalam hadis tersebut terdapat dalil bahwa sunahnya dalam membangun masjid itu sederhana dan tidak berlebihan dalam menghiasnya. Oleh karena itu, Umar radhiallahu ‘anhu meskipun banyak melakukan penaklukkan di zaman kekhalifahannya dan harta melimpah ruah di sisinya, tetapi ia tidak merubah masjid dari keadaan awalnya, dan orang yang pertama menghias masjid adalah Al Walid bin Abdul Malik, dan banyak dari kaum salaf yang mendiamkannya karena takut fitnah, tetapi Abu Hanifah memberikan keringanan dalam masalah ini apabila maksudnya untuk memuliakan masjid jika memang pembiayaannya bukan dari Baitul Mal.”

Umar bin Khaththab radhiallahu ‘anhu pernah berkata kepada orang yang membangun masjid, “Jauhilah olehmu mewarnai merah atau kuning karena akan membuat manusia terpedaya.” (Diriwayatkan oleh Bukhari)

15. Membersihkan dan mewangikan masjid.

عَنْ عَائِشَةَ -رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا- قَالَتْ : أَمَرَ رَسُولُ اَللَّهِ r بِبِنَاءِ اَلْمَسَاجِدِ فِي اَلدُّورِ , وَأَنْ تُنَظَّفَ , وَتُطَيَّبَ.

Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, ia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan dibangun masjid-masjid di kampung-kampung dan agar dibersihkan serta diberikan wewangian.” (HR. Ahmad, Abu Dawud dan Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Abi Dawud (479))

16. Tidak melakukan jual beli di masjid.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا رَأَيْتُمْ مَنْ يَبِيعُ أَوْ يَبْتَاعُ فِي الْمَسْجِدِ فَقُولُوا لَا أَرْبَحَ اللَّهُ تِجَارَتَكَ وَإِذَا رَأَيْتُمْ مَنْ يَنْشُدُ فِيهِ ضَالَّةً فَقُولُوا لَا رَدَّ اللَّهُ عَلَيْكَ

“Jika kalian melihat orang menjual atau membeli di dalam masjid, maka katakanlah, “Semoga Allah tidak memberi keuntungan kepada barang daganganmu.” Jika kalian melihat orang yang mencari barang yang hilang di dalamnya maka katakanlah, “Semoga Allah tidak mengembalikannya kepadamu.” (HR. Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Al Misykaat (733) dan Al Irwa’ (1495)).

17. Melakukan i’tikaf di masjid.

Yakni tinggal di masjid dengan maksud mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mengerjakan ibadah di dalamnya, seperti shalat, dzikr, membaca Alquran, dsb. Ketika tiba sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasanya melakukan i’tikaf di masjid.

Merapihkan shaf (barisan), yakni meluruskan dan merapatkan shaf ketika shalat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum shalat merapikan shaf, ketika itu laki-laki dewasa berdiri di shaf terdepan, anak-anak setelah orang dewasa dan kaum wanita berdiri di bagian belakang masjid.

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

اسْتَوُوا وَلَا تَخْتَلِفُوا فَتَخْتَلِفَ قُلُوبُكُمْ لِيَلِنِي مِنْكُمْ أُولُو الْأَحْلَامِ وَالنُّهَى ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

“Luruskanlah, dan jangan berselisih sehingga hati kalian bisa berselisih. Hendaklah yang dekat denganku orang yang yang baligh dan berakal di antara kalian, kemudian orang yang setelah mereka, kemudian orang yang setelah mereka.” (HR. Muslim)

Wallahu a’lam, wa shallallahu ‘alaa nabiyyinaa Muhammad wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa sallam. Semoga Artikel ini bermanfaat untuk Sahabat Rumah Kurma Sahara.
Silahkan berbelanja kurma di Rumah Kurma Sahara, Butuh perlengkapan haji? Ingat Toko Rumah Kurma Sahara!
Jalan Raya Semplak Atang Sandjaja No. 224
Bogor Barat – Kota Bogor
Customer Care : 0821-1141-8832 | 0878-7386-0559
Delivery : 0859-2512-6067
WA | PIN BB : 0878-7386-0559 | DA7A086

Referensi :

– Mausu’ah Al Usrah Al Muslimah (dari situs www.islam.aljayyash.net)
– Al Maktabatusy Syamilah
– Kitab 9 imam (Lidwa Pusaka)
– Hishnul Muslim
– Mausu’ah Al Usrah Al Muslimah (dari situs www.islam.aljayyash.net)
– Al Maktabatusy Syamilah, Kitab 9 imam (Lidwa Pusaka)
– Bulughul Maram

[1] HR. Abu Dawud, lihat Shahihul Jami’ no.4591
[2] HR. Ibnu As-Sunni no.88, dinyatakan hasan oleh Syaikh Al-Albani.
[3] HR. Abu Dawud, lihat Shahihul Jami’ 1/528.
[4] HR. Muslim 1/494. Dalam Sunan Ibnu Majah, dari hadits Fathimah disebutkan, “Allahummagh fir li dzunubi waftahli abwaba rahmatik”, Syaikh Al Albani menshahihkannya karena beberapa syahid. Lihat Shahih Ibnu Majah 1/128-129.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *