Nasehat untuk Pendosa dan Pendusta

Allah SWT memberikan kepada manusia pilihan jalan yang baik dan jalan yang buruk, sebagai ujian bagi manusia untuk menyaring dan menguji seseorang siapa yang beriman dan terbaik amal ibadahnya. Manusia dalam dirinya terdapat kecenderungan berbuat kebaikan,dan juga ada kecenderungan berbuat kesalahan dan lupa,sehingga tidak sedikit manusia yang terjatuh dan tergelincir kedalam lembah maksiat dan dosa. Karena demikianlah manusia ”Alinsaanu mahallulkhataa wannisyaan” (manusia merupakan tempatnya salah dan lupa).

Berikut adalah nasihat – nasihat untuk kita-manusia yang dalam kehidupan sehari-hari tidak luput dari berbuat dosa dan dusta.

  1. Malu berbuat dosa
  • Fakta yang saat ini terjadi adalah hilangnya rasa malu kaum muslim

Liberalisme (paham kebebasan) yang diusung sekaligus dipraktikkan masyarakat barat saat ini, yang kemudian ditiru oleh sebagian masyarakat kita, pada dasarnya adalah paham yang ‘tak kenal rasa malu’. Pada sebagian masyarakat tampak pada kebiasaan bahkan ‘kegemaran’ mereka bermaksiat kepada Allah, baik dalam pikiran (ide), ucapan (pendapat) maupun tindakan (perilaku).

Terkait pikiran dan pendapat, saat ini kalangan liberal tampaknya adalah kalangan yang paling tidak punya rasa malu. Sebabnya, mereka banyak melontarkan ide-ide rusak dan merusak dengan penuh kebanggaan dan bahkan kesombongan. Al-Quran tidak lagi mereka anggap kitab suci yang Allah SWT wahyukan sehingga layak dikritisi. Makna ayat-ayatnya mereka takwilkan agar sesuai dengan ‘semangat zaman’. Hukum-hukumnya mereka putar-balikkan jika dianggap melanggar HAM dan kebebasan. Tafsir-tafsirnya yang mu’tabar mereka singkirkan karena dianggap sudah tidak lagi relevan. Para mufassirnya mereka rendahkan dengan tuduhan ‘bias gender’, dipengaruhi oleh lingkup sosial zamannya, dst.

  • Hakikat rasa malu

Menurut Imam al-Baidhawi, hakikat malu kepada Allah adalah memelihara diri dari segala ucapan dan tindakan yang tidak Allah ridhai .(Faydh al-Qadir, 1/623).

Para ulama mengatakan bahwa hakikat malu adalah tabiat (kebiasaan) yang mendorong seseorang untuk meninggalkan perbuatan atau apapun yang buruk, keji dan cabul, serta mencegahnya dari mengabaikan hak orang lain.

  • Dalil-Dalil dari keutamaan rasa malu

Dari Ibnu Umar-radhiallahu anhuma, bahwa Rasulullah Saw melewati (bertemu) seseorang di antara kaum Anshor yang sedang menasehati saudaranya terkait sifat malu, (karena ia begitu pemalu hingga banyak hak-haknya yang tidak terpenuhi, maka saudaranya itu pun marah). Melihat itu, Rasulullah Saw bersabda:

دَعْهُ فَإِنَّ الْحَيَاءَ مِنْ اْلإِيمَانِ»

“Biarkan ia-dengan sifat malunya itu-sebab malu itu sebagian dari keimanan.(HR. Al-bukhari dan Muslim).     

الْحَيَاءُ لاَ يَأْتِي إِلاَّ بِخَي

Malu itu tidak akan mendatangkan (sesuatu), kecuali kebaikan.(HR. Al-bukhari&Muslim).

Iman itu memiliki tujuh puluh tiga lebih atau enam puluh tiga lebih cabang. Sedang yang paling utama (tinggi) adalah ucapan ‘Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah’; sementara yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan(batu, duri, kotoran, dll) dari jalan. Dan malu itu merupakan cabang dari keimanan. (HR. Al-bukhari dan Muslim).

  • Kisah shahabiyah yang menjaga kehormatan diriny
  1. Kisah seorang wanita hitam dengan penyakit ayannya

Ibnu Abbas pernah bertanya kepada ‘Atha bin Abi Rabah, “Maukah aku tunjukkan seorang wanita penghuni surga?” “Ya,” jawab ‘Atha. Ia berkata, “Wanita berkulit hitam itu. Dia pernah datang kepada Nabi saw., lalu berkata, ‘Aku menderita penyakit ayan (epilepsi) dan auratku sering tersingkap (saat penyakitnya kambuh, peny.). Karena itu doakanlah aku agar Allah menyembuhkan penyakitku.’ Nabi saw. berkata, ‘Jika engkau mau, engkau bisa bersabar dan bagimu surga. Jika engkau mau, aku akan berdoa agar Allah menyembuhkan dirimu.’ Wanita itu menjawab, ‘Aku memilih bersabar saja. Namun, tatkala penyakit ayan menimpaku, auratku sering tersingkap. Karena itu doakanlah agar auratku tidak tersingkap.’ Lalu Nabi saw. pun mendoakan wanita itu.” (HR al-Bukhari dan Muslim)

      2. Kisah ‘Aisyah Ra

Ummul Mukminin Aisyah ra meriwayatkan, dia berkata, “Suatu hari aku masuk rumah tempat Rasulullah dan ayahku, Abu Bakar, dimakamkan. Di sana aku menanggalkan bajuku, seraya berkata,’Sesungguhnya mereka berdua ini adalah ayah dan suamiku.’ Namun, tatkala Umar dimakamkan di sana, aku tidak pernah masuk ke tempat itu lagi, kecuali aku menutup auratku dengan sempurna kerana malu kepada Umar.”(HR. Ahmad ; hadits shahih)

     3. Kisah Fathimah Ra

Setelah Siti Fatimah merasa bahwa ajalnya sudah dekat beliau berkata kepada Asma’ binti Umais (istri Abu bakr ra) yang hampir setiap hari berkunjung ke rumah Siti Fatimah.“ Saya kurang senang terhadap apa yang diperbuat terhadap wanita jika mati, yaitu hanya ditutupi dengan kain. Sehingga bentuk badannya kelihatan.”

Maka berkatalah Asma’ kepada Siti Fatimah : “Apakah engkau mau aku tunjukkan sesuatu yang pernah aku lihat di Habasyah?” Siti Fatimah menjawab: “Coba tunjukkan.” Maka dibuatlah oleh Asma’ keranda dari pelepah pohon kurma, kemudian diatasnya ditaruh kain. Begitu Siti Fatimah melihat keranda tersebut, beliau sangat gembira dan tertawa seraya berkata : “Alangkah baiknya ini. Semoga Allah menutupimu sebagaimana engkau menutupiku. Nanti jika aku mati, maka mandikanlah aku bersama Ali dan jangan ada orang lain yang ikut memandikanku. Setelah itu buatkanlah untukku seperti ini.” Selanjutnya, begitu Siti Fatimah wafat, semua wasiatnya dilaksanakan oleh Imam Ali dan Asma’. (dalamkitab At Tobaqot, karya Ibnu Saad, Sunan Al Baihaqi, Sunan Ad Dar Quthni dan lain-lain).

 

  1. Berlaku jujur dan tak pernah berdusta
  • Makna kejujuran

Seorang Muslim sejatinya bukanlah pembohong atau orang yang biasa melakukan kebohongan. Bahkan seharusnya ia tidak pernah berbohong; kecuali dalam hal yang dibenarkan oleh syariah, seperti pada saat berperang melawan musuh atau demi mendamaikan dua orang Muslim yang sedang berselisih. Sebaliknya, seorang Muslim wajib selaluberkata dan bersikap jujur/benar. Dan berbohong jelas merupakan perbuatan dosa.

 

  • Dalil-dalil tentang kejujuran

Allah SWT berfirman

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

“ Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah, dan jadilah kalian beserta orang-orang yang jujur/benar “(QS at- Taubah [9]: 119).

Dalam ayat di atas, Allah SWT berfirman (yang artinya): Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah; yakni dengan cara meninggalkan maksiat (dan tentu dengan menjalankan ketaatankepada Allah SWT). Jadilah kalian beserta orang-orang yang jujur/benar; yakni baik dalam keimanan maupun dalam memenuhi berbagai macam perjanjian. Sebagian ulama menyatakan: ma’a ash-shadiqqin (beserta orang- orang yang jujur/benar) artinya bersama orang-orang yang senantiasa berdiri di atas jalan hidup yang benar (‘ala minhaj al-haqq).

Rasulullah saw. bersabda, sebagaimana dituturkan oleh Ibnu Mas’ud, “Sesungguhnya kejujuran/kebenaran (ash-shidqu) mengantarkan pada kebaikan (al-birru), dan sesungguhnya kebaikan mengantarkan pada surga. Sesungguhnya kebohongan/kedustaan mengantarkan pada kefasikan/kemaksiatan, dan sesungguhnya kefasikan/kemaksiatan mengantarkan pada neraka. Sesungguhnya seseorang yang benar-benar bersikap jujur/benar akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur/benar. Sesungguhnya seseorang yang benar- benar berbohong di sisi Allah akan dicatat sebagai pembohong.” (Mutaffaq ‘alaih).

Maknanya, kejujuran/kebenaran dalam ucapan akan mengantarkan pada amal shalih yang sunyi dari segala cela. Dalam hal ini al-birru adalah nama untukmenyebut segala jenis kebaikan (al-khayr). Imam al- Qurthubi berkata, “Setiap orang yang memahami Allah SWT wajib bersikap jujur/benar dalam ucapan, ikhlas dalam amal perbuatan dan senantiasa ‘bersih’ (tidak banyak melakukan dosa/kemaksiatan) dalam seluruh keadaan. Siapapun yang keadaannya seperti itu, dialah orang-orang benar-benar baik dan benar-benar ada dalam ridha Allah Yang Maha Pengampun.(Lihat: Muhammad bin ‘Allan ash-Shiddiqi, Dalil al-Falihin li Thuruq Riyadh ash-Shalihin, I/ 146).

  • Tanda-tanda Sifat munafik

Seorang yang jujur/benar pasti akan jauh dari sifat- sifat munafik—sebagaimana dinyatakan oleh Baginda Rasulullah SAW—yakni: dusta dalam berbicara; ingkar janji, mengkhianati amanah. (HR al-Bukhari dan Muslim).

Terkait dengan sifat munafik ini, Sahabat Hudzaifah ra pernah berkata, “Orang-orang munafik sekarang lebih jahat (berbahaya) daripada orang munafik pada masa Rasulullah saw” Saat ia ditanya, “Mengapa demikian?” Hudzaifah menjawab, “Sesungguhnya pada masa Rasulullah saw mereka menyembunyikan kemunafikannya, sedangkan sekarang mereka berani menampakkannya.”(Diriwayatkan oleh al-Farayabi tentang sifat an-nifaq (51-51), dengan isnad sahih).

  • Dalil tentang sifat munafik

Imam Ibnu Taimiyah berkata, “Al-Kidzb (dusta) adalah salah satu rukun dari kekufuran.” Selanjutnya ia menuturkan bahwa jika Allah menyebut kata nifak dalam Alquran, maka Dia menyebutnya bersama dengan dusta (al-kidzb). Demikian pula sebaliknya .

Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 9-10,

يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ

فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا  وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ

“Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar.”Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.”(QS Al-Baqarah ayat 9-10).

Dalam QS. Al-Munafiqun Ayat 1, Allah SWT berfirman:

إِذَا جَاءَكَ الْمُنَافِقُونَ قَالُوا نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ اللَّهِ  وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَكَاذِبُونَ

“Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: “Kami mengakui, bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah”. Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta.”(QS.Al– Munafiqun ayat 1)

  1. Jangan anggap remeh dosa.
  • Menjauhi perkara syubhat

Suatu ketika Baginda Rasulullah SAW, sebagaimana dituturkan oleh Anas ra, menemukan sebutir kurma di jalanan. Beliau kemudian bersabda, “Sesungguhnya kalau aku tidak khawatir kurma ini adalah bagian dari kurma sedekah, aku pasti memakannya.” (HR Mutaffaq ‘alaih).

Meski dalam bentuk khabar (kalimat berita), hadits di atas sesungguhnya mengandung perintah agar kita menjauhi dan meninggalkan perkara-perkara syubhat (samar, yakni yang belum jelas status hukumnya bagi seseorang, pen.).

Dalam riwayat lain Baginda Rasululullah SAW pun bersabda, “Sesungguhnya yang halal itu jelas dan sesungguhnya yang haram pun jelas. Di antara keduanya ada perkara-perkara syubhat (samar) yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia. Karena itu, siapa saja yang takut terjatuh pada perkara syubhat berarti dia telah membersihkan agama dan kehormatannya. Siapa saja yang melakukan perkara-perkara syubhat berarti dia menjatuhkan diri pada keharaman. Dia seperti seorang penggembala yang menggembalakan hewannya di sekitar hima (wilayah larangan), lalu dia tiba-tiba (tanpa disadari, pen.) memasukinya.” (HR Mutaffaq ‘alaih).

Hadits di atas setidaknya meneguhkan dua hal:

Pertama: status hukum halal dan haram sesungguhnya telah sangat jelas ditunjukkan oleh nash-nash syariah bagi siapapun yang mau memahaminya(Lihat: Muhammad ‘Alan, Dalil al-Falihin, III/23-24).

Kedua: Meski juga dalam bentuk khabar (kalimat berita), hadits ini pun mengandung perintah kepada kita untuk menjauhi dan meninggalkan perkara-perkara syubhat. Bahkan dalam hadits ini terdapat pernyataan tegas, bahwa siapa saja yang mendekati apalagi sampai terjatuh pada perkara-perkara syubhat, sama saja dengan mendekati atau menjatuhkan diri pada perkara-perkara haram.

Faktor – faktor yang mendasari kesamaran (syubhat) status hukum sesuatu benda /perbuatan:

  • Pertama: faktor nash, yaitu ketika dalâlah nash-nash yang ada belum dipahami dengan jelas menunjukkan halal atau haram. Misalnya, karena adanya dua nash yang terlihat bertentangan.
  • Kedua: faktor kesamaran terkait dengan sesuatu itu sendiri
  1. Karena prosesnya atau apa yang terjadi di dalamnya. Contoh : tempat-tempat yang sering/banyak dilakukan kemaksiatan di dalamnya sehingga identik sebagai tempat maksiat, seperti night club, bioskop karena iktilâth (campur-baur) di dalamnya, bar, dsb
  2. Adanya kemiripan pada sesuatu itu. Contoh: riwayat Bukhari bahwa Saad bin Abi Waqash dan Abdu bin Zam’ah berselisih tentang perwalian Ibn Walidah Zam’ah. Saad mengakuinya sebagai anak saudaranya, Utbah bin Abi Waqash, sesuai pesan Utbah dan karena begitu mirip dengan ‘Utbah. Adapun ‘Abdu bin Zam’ah mengakuinya sebagai saudaranya karena dilahirkan di tempat tidur Zam’ah. Rasul saw. memutuskan, yang berhak atas perwalian Ibn Walidah Zam’ah adalah ‘Abdu bin Zam’ah. Artinya, secara formal ia adalah saudaranya ‘Abdu bin Zam’ah dan Saudah binti Zam’ah, Ummul Mukminin. Namun, karena adanya kemiripan dengan ‘Utbah bin Abi Waqash, Rasul saw. menyuruh Saudah binti Zam’ah untuk berhijab kepada Ibn Walidah Zam’ah.
  3. Karena kesamaran sebab perolehan atau kehalalannya. Contoh : orang berburu dengan senapan, namun buruannya jatuh terjebur air sehingga syubhat buruan itu mati karena pelurunya atau karena terjebur air
  4. Samar dalam kepemilikan atau adanya hak orang lain di dalamnya. Contoh: riwayat bahwa Rasul menemukan sebutir kurma di rumah, dan Beliau hendak memakannya, lalu Beliau urungkan, khawatir itu kurma sedekah; karena Beliau pernah membawa kurma sedekah ke rumah sebelum dibagikan.
  5. Kesamaran tentang fisik bendanya. Contoh: Saat Abu Hanifah berbelanja, satu keping dinarnya jatuh, saat beliau mau mengambilnya ternyata ada dua keping dinar, maka beliau pun tidak jadi mengambilnya. Ketika si penjual bertanya mengapa, beliau menjawab, “Yang mana uang dinarku?”.
  • Kisah Para Sahabat Bersikap Wara’ (Menahan Diri) Dari Perkara-perkara Yang Syubhat :
  • Kisah Abu Bakar ra.

Abu Bakar ra, misalnya, adalah seorang sahabat yang amat hati-hati dalam hal makanan. Namun, sebagaimana penuturan Aisyah ra, suatu ketika ia pernah memakan suatu makanan tanpa terlebih dulu bertanya dari mana asal makanan tersebut. Saat ia diberitahu bahwa makanan itu berasal dari pemberian seorang dukun, ia segera memasukkan jari-jemari tangannya ke dalam mulut/tenggorokkannya. Ia segera memuntahkan kembali makanan tersebut (HR al-Bukhari).

  • Kisah Umar bin Khattab ra,

Ia pernah memuntahkan kembali air susu yang telanjur diminumnya setelah tahu air susu itu diduga berasal dari unta sedekah

 

  • Ibrah Yang Bisa Diambil Dari Kisah Tersebut.

Siapa saja yang bersiap wara’ meninggalkan semua syubhat itu, maka ia telah menyelamatkan agamanya, yakni selamat dari dosa dan azab Allah, dan menyelamatkan kehormatannya, yaitu selamat dari anggapan/penilaian buruk dari orang-orang.

Bukan saja bersikap wara’ terhadap perkara-perkara syubhat, tetapi juga terhadap perkara-perkara mubah (halal) yang tidak mengandung manfaat.

Ini pun sebagai bentuk pengamalan mereka terhadap sabda Baginda Rasulullah saw, “Di antara baiknya keislaman seorang Muslim adalah meninggalkan hal-hal yang tidak berguna.(HR Malik, at-Tirmidzi, Ibn Majah, Ahmad).

  1. Dosa Yang Disegerakan Azabnya
  • Hakikat dosa manusia

Setiap pelanggaran terhadap perintah dan larangan Allah SWT, baik yang kecil maupun besar, adalah DOSA.Secara umum, dosa itu menyangkut 2 hal:

  1. Hak Allah SWT

Yaitu dosa atau pelanggaran yang menyangkut hablumminallah (hubungan manusia dengan Allah SWT). Misalnya: tidak sholat, tidak berpuasa dll.

  1. Hak manusia

Yaitu dosa yang melanggar hak manusia dalam hubungannya dengan sesama manusia (hablumminannas) Misalnya : mencuri, membunuh, dll.

Masing-masing dosa tersebut ada sanksi nya: sanksi hudud dan sanksi jinayat.

Perlu kita ketahui, bahwasanya ada dosa yang disegerakan azab nya di dunia, selain juga di akhirat kelak akan tetap mendapatkan azab. Yaitu dosa al-baghyu (perbuatan aniaya).

  • Penjelasan tentang al-baghyu,

Al-Baghyu (bentuk masdar) berasal dari kata: bagha–yabghi, yang berarti “menghendaki”.

Kata ini sering digunakan untuk makna yang negatif; kadang-kadang diartikan durhaka, melanggar hak, permusuhan, penganiayaan atau pelacuran.  Dalam Alquran kata al-baghyu diulang sebanyak 11 kali, dengan arti yang berbeda-beda, sesuai dengan konteksnya

Dalam arti negatif, al-baghyu sering dimaknai sebagai tindakan zalim atau melampui batas. Al-Baghyu dikaitkan dengan sikap atau tindakan lalim terhadap orang lain (Lihat: Tafsir al-Muyassar, VIII/459).

 

  • Dalil-dalil tentang “Al-Baghyu”
  1. Termasuk dosa yang tidak bisa dianggap ringan. Bahkan balasan keras yang berupa hukuman dari Allah SWT tidak hanya di akhirat saja, tetapi juga akan dia rasakan akibatnya di dunia. Abu Bakr ra menuturkan bahwa Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, “Tidak ada dosa yang lebih utama untuk disegerakan azabnya oleh Allah SWT atas pelakunya di dunia—sementara di akhirat ia akan tetap diazab—daripada memutuskan silaturahmi dan bertindak zalim (al-baghyu).” (HR Abu Dawud dan at-Tirmidzi).
  2. Hukuman yang Disegerakan.

Ali ra. menuturkan bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda, “Wahai kaum Muslim, berhati-hatilah kalian terhadap tindakan zalim (al-baghyu) karena sesungguhnya tidak ada hukuman yang lebih cepat datangnya kecuali hukuman atas tindakan zalim.”(HR Ibn Abi ad-Dunya’)

  • Bentuk Dari Al-baqyu Antara Lain:
  • Al-Baghyu (kezaliman) bisa saja menyangkut badan, jiwa atau nyawa seseorang, yakni berupa tindakan menyakiti orang lain baik secara psikis maupun fisik
  • Al-Baghyu (kezaliman) juga bisa menyangkut harta seseorang
  • Al-Baghyu (kezaliman) juga bisa dilakukan oleh penguasa terhadap rakyat.

Aku melarang kamu atas tiga perkara: Janganlah kamu membatalkan janji dan membantu orang lain untuk membatalkan janjinya; kamu harus waspada terhadap tindakan zalim (al-baghyu) karena siapa saja yang berbuat zalim kepada orang lain maka Allah pasti akan menolong orang yang dia zalimi; kamu harus hati-hati terhadap tindakan makar karena makar yang buruk tidak akan menimpa kecuali kepada pelakunya, sementara Allah ‘Azza wa Jalla tetap akan menuntut dirinya.” (HR Ibn Abi ad-Dunya’).

  1. Khatimah

Dosa adalah merupakan bagian dari irama hidup manusia, tiada manusia yang luput dari dosa, setebal apapun tingkat keimanannya,seluas apapun ilmunya dan sedalam apapun ketaqwaannya, selama ia adalah manusia pastilah suatu kali akan melakukan dosa. Yang patut direnungi dan menjadi persoalan adalah apa yang dilakukan setelah melakukan kesalahan dan perbuatan dosa, Tentunya bersegera memohon ampunan Allah SWT dan bertaubat yang sebenar-benarnya, karena sebaik-baik manusia yang melakukan kesalahan adalah orang yang mau bertaubat.

Rasulullah SAW Bersabda : ”Setiap anak Adam pastilah melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah orang yang mau Bertaubat,”(HR.Muslim).

Allah SWT berfirman dalam QS. Ali-Imran ayat 133:

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,(QS Ali Imran: 133)

Semoga Artikel ini bermanfaat untuk Sahabat Rumah Kurma Sahara.
Silahkan berbelanja kurma di Rumah Kurma Sahara, Butuh perlengkapan haji? Ingat Toko Rumah Kurma Sahara!
Jalan Raya Semplak Atang Sandjaja No. 224
Bogor Barat – Kota Bogor
Customer Care : 0821-1141-8832 | 0878-7386-0559
Delivery : 0859-2512-6067
WA | PIN BB : 0878-7386-0559 | DA7A086

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *