Musibah dan Hijrah

Allah SWT penguasa alam raya. Dengan kuasa-Nya, Allah SWT dapat berbuat apa saja tanpa ada seorang pun yang mampu menghalanginya. Kita dan semua yang kita saksikan dalam kehidupan ini pun milik-Nya. Dengan hikmah-Nya yang maha tinggi, Allah SWT berkenan memberi apa saja kepada kita, Allah SWT pun mampu mengambilnya dari kita. Dia berkehendak mengaruniakan kebaikan yang kita inginkan, dan berhak menurunkan musibah yang tidak kita harapkan. Musibah, bencana dan malapetaka ada dalam kuasa-Nya pula. Kehidupan manusia di dunia ini hampir tak pernah sepi dari musibah yang datang silih berganti. Dari yang kecil sampai yang besar. Dari yang ringan sampai yang berat. Dari yang sedikit hingga yang banyak. Ada musibah yang bersifat umum dan ada yang bersifat individu.

 

I . Hakekat Musibah

Kata musibah berasal dari kata ashaaba-yushiibu-mushiibah, artinya segala sesuatu yang menimpa baik berupa kesenangan maupun kesusahan. Segala bencana yang menimpa manusia di dalam terminology Al Quran dan As Sunnah, adalah musibah. Musibah apapun yang menimpa manusia telah digariskan oleh Allah SWT dan telahditetapkan di ‘lauhul mahfuzh’.

Hakekat musibah adalah “Ketetapan dari Allah SWT” (Qada). Allah SWT berfirman :

قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلَانَا وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ
“Katakanlah (Muhammad), “Tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami. Dialah pelindung kami, dan hanya kepada Allah bertawakkallah orang-orang yang beriman.” (Q. S At Taubah: 51).

Dan setiap musibah itu tidak akan menimpa seseorang atau suatu kaum kecuali telah ditetapkan oleh Allah SWT. Allah SWT berfirman :

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ
“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (Tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam Kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah” (QS. Al Hadid 22).

 

II. Sebab Allah SWT menurunkan musibah

Lalu, untuk tujuan apakah Allah SWT mendatangkan musibah kepada manusia?

1. Musibah merupakan “Imtihân wa ikhtibâr” (ujian dan cobaan)

Musibah adalah bentuk ujian dari Allah, dapat berupa hal yang baik ataupun yang buruk. Namun perlu kita pahami bahwa definisi hal baik dan hal buruk adalah berasal dari logika manusia. Hal yang baik dan buruk menurut manusia bukanlah hal yang mutlak, terkadang lebih ke problema “rasa” saja. Beberapa ulama mengatakan bahwa buruknya takdir hanya dilihat dari sisi mahluk saja, sedangkan ditinjau dari Sang Pencipta Takdir, semua takdir adalah baik.

Allah SWT berfirman :

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Q.S. At Taghabun 11)

Barangsiapa yang ditimpa musibah kemudian dia menyadari bahwa hal itu terjadi atas qadha Allah SWT , lalu dia bersabar dan mengharapkan balasan pahala atas kesabarannya itu, serta menerima keputusan yang telah ditetapkan oleh Allah SWT terhadap dirinya, maka Allah akan memberikan petunjuk ke dalam hatinya dan akan menggantikan apa yang telah hilang dari dirinya di dunia dengan petunjuk dan keyakinan di dalam hatinya. Allah SWT mengganti apa yang telah diambil-Nya dengan yang lebih baik. (tafsir ibnu katsir)

Rasulullah SAW bersabda :

“Sungguh mengagumkan keadaan seorang Mukmin, semua keadaannya (membawa) kebaikan (untuk dirinya), dan ini hanya ada pada seorang Mukmin; jika dia mendapatkan kesenangan dia akan bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya, dan jika dia ditimpa kesusahan dia akan bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya.” (HR. Muslim).

Jadi semua keadaan seorang muslim adalah baik bagi dirinya. Baik kesenangan ataupun musibah. Sikap seorang muslim ketika ditimpa musibah maka ia akan bersabar. Dan ketika ia memperoleh kesenangan maka seorang muslim tidak lupa untuk bersyukur kepada Allah SWT, maka bersyukur dan bersabar nya seorang muslim akan mendapatkan pahala di sisi Allah SWT, in shaa Allah.

A. Hidup adalah Ujian

Hidup yang kita jalani ini hanyalah sebuah ujian dari Allah swt. Barangsiapa yang sabar dalam menghadapi ujian ini, maka ia akan memperoleh kehidupan yang hakiki dan mulia di sisi-Nya. Namun, jika ia tidak mau bersabar, maka Allah swt. akan menghinakannya. Sebab, Allah swt. hanya akan memandang amal dan keikhlasan kita dalam menjalani hidup, bukan kemewahan dan kesombongan kita. Allah SWT berfirman,

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الأمْوَالِ وَالأنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

“Dan sungguh akan Kami berikan ujian kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar”. (QS al-baqarah 155)

Kemudian di surat, Ali imran 186

لَتُبْلَوُنَّ فِي أَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ وَلَتَسْمَعُنَّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا أَذًى كَثِيرًا وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

“Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu…”

Kemudian di surat, An-anfal 28

“Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai ujian dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar”.

Kemudian di dalam surat Al- anbiya 35,
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai ujian (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan”.

Dari ayat- ayat diatas dapat disimpulkan bahwa hidup kita adalah ujian, apa saja yang kita miliki, suami,istri, anak, harta, dan sebagainya, itu merupakan ujian dari Allah SWT. Dan ujian itu bukan berarti harus berupa kesusahan saja tetapi kesenangan pun itu merupakan ujian.

B. Ujian adalah hal yang pasti bagi keimanan

Untuk orang- orang yang beriman ujian adalah hal yang pasti. Allah SWT berfirman

أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُواْ الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُم مَّثَلُ الَّذِينَ خَلَوْاْ مِن قَبْلِكُم مَّسَّتْهُمُ الْبَأْسَاء وَالضَّرَّاء وَزُلْزِلُواْ حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُواْ مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللّهِ أَلا إِنَّ نَصْرَ اللّهِ قَرِيبٌ

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (ujian) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (QS Al baqarah: 214)

Ketika kita ditimpa musibah, kita merasa seakan ujian kita paling berat dan sudah layak masuk surga. Tetapi ternyata ada orang- orang terdahulu yang ujiannya lebih berat. Seperti firman Allah SWT di atas, mereka ditimpa oleh malapetka, kesengsaraan, dan di goncangkan dengan berbagai macam cobaan. Mereka diuji dengan berbagai penyakit, kemudian diuji dengan rasa lapar, belum lagi penyiksaan yang dilakukan oleh musuh, mereka mendapatkan cobaan yang sangat besar. Sampai mereka merasa sudah tidak kuat lagi dan bertanya kepada Rasulullah SAW, kapan pertolongan Allah datang. Rasullullah SAW menjawab, sesungguhnya pertolongan Allah itu sangatlah dekat.

Kemudian di surat Al- ankabut 2 – 3

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ

”Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan : “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?”

وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

”Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta”.

Konsekuensi ketika kita berkata “aku beriman kepada Allah dan RasulNya”, harus siap dengan ujian yang akan Allah berikan kepada kita. Untuk membuktikan benar atau tidaknya kita sudah beriman. Allah SWT memberikan ujian kepada seseorang sesuai dengan kadar keimanan nya, dan tidak akan melebihi kemampuan orang tersebut.

Diriwayatkan dari Sa‘ad bin Abi Waqqos, ia berkata, “Aku berkata, “Wahai Rosulullah, siapakah manusia yang paling dahsyat ujiannya?” Rosulullah bersabda, “Para nabi, setelah itu orang-orang sholeh, setelah itu yang berikutnya dan berikutnya. Seseorang diuji sesuai kadar agamanya. Jika agamanya kuat, bala-nya pun bertambah. Jika kadar agamanya tipis, balanya diringankan. Dan orang beriman akan terus ditimpa bala sampai ia berjalan di muka bumi tanpa sedikitpun ada kesalahan pada dirinya.” (HR. Bukhari – Muslim)

Yang paling berat ujiannya adalah para nabi, dan orang- orang beriman akan terus diberikan ujian oleh Allah SWT sampai kita bersih dari dosa. Karena telah terhapus oleh ujian- ujian tersebut. Dan Allah memberikan ujian kepada seseorang sesuai dengan kadar keimanan nya. Jadi ketika seseorang ditimpa musibah yang berat bukan berarti mempunyai perilaku yang buruk dan banyak dosa, tetapi karena orang itu mampu menghadapi ujian yang diberikan Allah SWT . Karena Allah tidak akan memberikan ujian melebihi kemampuan umat Nya. Dan menjadi tanda tanya yang besar kepada kita, bagaimana dengan kadar keimanan kita ketika hidup kita jarang di berikan ujian oleh Allah SWT.

 

2. Hukuman dan Peringatan dari Allah SWT

Selain merupakan ujian dan cobaan kepada manusia, musibah juga bisa merupakan hukuman dan peringatan dari Allah SWT. Firman Allah SWT,

وَكَمْ مِنْ قَرْيَةٍ أَهْلَكْنَاهَا فَجَاءَهَا بَأْسُنَا بَيَاتًا أَوْ هُمْ قَائِلُونَ

“Betapa banyaknya negeri yang telah kami binasakan, Maka datanglah siksaan kami (menimpa penduduk)nya di waktu mereka berada di malam hari, atau di waktu mereka beristirahat di tengah hari”. (QS. Al A’raf 4).

Kemudian di surat al an’am,

فَلَوْلا إِذْ جَاءَهُمْ بَأْسُنَا تَضَرَّعُوا وَلَكِنْ قَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Maka Mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri ketika datang siksaan kami kepada mereka, bahkan hati mereka telah menjadi keras, dan syaitanpun menampakkan kepada mereka kebagusan apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS. Al An’am 43).

Ayat- ayat diatas menunjukkan bahwa bencana yang diturukan oleh Allah SWT kepada suatu negeri dan menimpa penduduk nya karena adanya kedzaliman yang dilakukan oleh penduduknya bahkan penguasa nya. Hampir semua Negara, sekarang ini tidak luput dari bencana. Gempa bumi, gunung meletus, banjir bandang, longsor dan seterusnya.

Kedzaliman seperti apa yang dilakukan oleh manusia???. Kedzaliman yang terjadi adalah bentuk pelanggaran hukum- hukum Allah SWT. Allah SWT melarang berzina, manusia gemar melakukan zina. Allah SWT melarang memakan riba, manusia melakukan riba dalam transaksi nya. Allah SWT melarang meminum khamar, manusia gemar meminum khamar. Maka pelanggaran- pelanggaran tersebut yang menjadi sumber bencana yang di turunkan oleh Allah SWT. Berbagai peringatan berupa bencana telah Allah turunkan kepada manusia, tetapi tetap tidak membuat manusia jera. Terus saja berbagai kemaksiatan terjadi di muka bumi ini.
Bencana tersebut sebagian menjadi azab dibumi dan apabila manusia tidak juga bertobat juga kepada Allah SWT maka sebagian lagi bencana itu sebagai azab akhirat yang jauh lebih keras dan pedih. Dan Allah akan mendatangkan azabnya dari arah manapun yang Dia kehendaki.

Allah SWT berfirman:

قُلْ هُوَ الْقَادِرُ عَلَىٰ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذَابًا مِنْ فَوْقِكُمْ أَوْ مِنْ تَحْتِ أَرْجُلِكُمْ أَوْ يَلْبِسَكُمْ شِيَعًا وَيُذِيقَ بَعْضَكُمْ بَأْسَ بَعْضٍ ۗ انْظُرْ كَيْفَ نُصَرِّفُ الْآيَاتِ لَعَلَّهُمْ يَفْقَهُونَ

Katakanlah: ” Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu atau dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebahagian kamu keganasan sebahagian yang lain. Perhatikanlah, betapa kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran kami silih berganti agar mereka memahami(nya)”.(QS. Al An’am 65).

Kapan datang nya azab???

Rasulullah saw. bersabda: “Bagaimana kalian apabila terjadi lima perkara? Dan aku berdoa mudah-mudahan lima perkara itu tidak terjadi pada kalian atau kalian tidak menjumpainya, yaitu:

(1) “Tidaklah perbuatan zina itu tampak dikerjakan secara terang-terangan pada suatu kaum, melainkan akan muncul penyakit tha’un dan kelaparan yang tidak pernah dijumpai generasi sebelumnya:
(2) “…dan tidaklah kaum itu menahan zakat melainkan Allah menahan hujan turun dari langit kepada mereka, andai tidak ada binatang di antara mereka pasti hujan tidak turun kepada mereka;
(3)“…dan tidaklah kaum itu mengurangi takaran dan timbangan melainkan mereka disiksa oleh Allah dengan kesengsaraan yang bertahun-tahun dengan sulitnya kebutuhan hidup dan menyelewengnya penguasa;
(4) “…dan tidaklah pemimpin-pemimpin mereka itu mengambil keputusan hukum dengan selain hukum yang diturunkan Allah melainkan mereka akan dikuasai oleh musuh yang merampas sebagian kekuasaan mereka;
(5) “…dan tidaklah mereka menyia-nyiakan Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya melainkan Allah menjadikan bahaya di antara mereka sendiri”.
(HR. Imam Ahmad dan Ibnu Majah)

Hadits di atas menerangkan dengan jelas bahwa berbagai kerusakan di muka bumi ini tidak terjadi melainkan karena perbuatan manusia yang durhaka kepada Allah SWT.

Bagaimana dengan kondisi sekarang, apakah yang di takutkan oleh Rasulullah itu sudah terjadi?. Apakah perzinahan sekarang sudah pada level “terang-terangan”?. Situs porno sudah sangat mudah di akses, muda mudi tanpa rasa malu berpacaran di depan umum, dan sebagainya. Kemudian manusia lebih taat membayar pajak atau membayar zakat?. Ketika tidak membayar pajak sanksi nya terkena denda dan sanksi paling tinggi adalah masuk penjara. Sehingga manusia lebih takut kepada hukum penguasa yang dzalim daripada Allah SWT. Membayar pajak bisa sampai 20% sedangkan membayar zakat hanya 2,5%. Kemudian banyak pedagang- pedagang yang curang, mengurangi dan melebihi takaran timbangan. Pada level penguasa terjadinya penyelewengan dalam harga- harga bahan pokok yang semakin melambung tinggi. Sampai harga daging pun melambung tinggi dan akhirnya hanya masyarakat tertentu saja yang bisa menikmatinya. Kemudian bagaimana dengan hukum yang kita jalani sekarang, apakah hukum yang berasal dari Allah SWT atau hukum yang dibuat oleh manusia?. Sekarang kita berhukum dengan hukum yang di buat oleh manusia dan menyia-nyiakan kitab Al-quran dan sunnah Rasulullah SAW. Jelaslah itu semua sudah terjadi sekarang ini dan menjadi sumber terjadinya bencana di muka bumi ini.

Allah SWT berfirman :

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُون

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan Karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar Ruum 41).

Dalam tafsir Jalalain dikatakan bahwa “karena perbuatan tangan manusia” dalam ayat di atas maksudnya adalah “ karena berbagai kemaksiatan yang dilakukan oleh manusia”. Juga Allah menyatakan bahwa dengan adanya berbagai kerusakan dalam berbagai bencana yang ada itu adalah agar Allah SWT merasakan kepada manusia sebagian dari apa yang mereka perbuat. Dan tujuan Allah SWT membuat manusia agar merasakan akibat dari sebagian apa yang mereka kerjakan adalah agar mereka kembali ke jalan yang benar, yakni bertaubat.

Khalifah Abu Bakar Shiddiq pernah berpidato:

“Sesungguhnya manusia bilamana mereka melihat orang zalim lalu mereka tidak mengambil tangan si zalim itu (agar menghentikan kezalimannya) atau melihat kemungkaran apapun lalu mereka tidak mengubahnya maka Allah akan mengumumkan siksa-Nya kepada mereka semuanya”. (Sahih Ibnu Hibban Juz 1/539). (Suara Islam Online).

Artinya ketika ada penguasa yang dzalim kita harus menghentikannya. Karena sudah melegalkan apa yang sudah Allah SWT haramkan. Contohnya melegalkan minuman khamer, membiarkan perzinahan merajalela, dan membiarkan penyelewengan- penyelewengan terjadi sehingga terjadi kerusakan di bumi.

 

III. Kunci untuk Menghadapi Musibah

 

1. Sabar dan Tawakkal

A. Sabar

Allah SWT berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَ الصَّلاَةِ إِنَّ اللهَ مَعَ الصَّابِرِيْن
وَلاَ تَقُوْلُوْا لِمَنْ يُقْتَلُ فِيْ سَبيْلِ اللهِ أَمْوَاتٌ بَلْ أَحْيَاءٌ وَ لَكِنْ لاَّ تَشْعُرُوْ
“Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati, bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup tetapi kamu tidak menyadarinya. Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang sabar (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan ‘Inna lillahi wa inna ilaihi rajiuun’. Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS. Al Baqarah 153 – 154)

Sikap kita pertama kali ketika di timpa musibah adalah bersabar dan mengucapkan ‘Inna lillahi wa inna ilaihi rajiuun’.

Nabi SAW bersabda, “Sungguh mengagumkan kondisi orang Mukmin, karena seluruh urusannya merupakan kebaikan. Jika dia mendapatkan kebaikan, dia bersyukur. Jika dia ditimpa kesulitan, dia bersabar, dan itu merupakan kebaikan baginya. Dan itu tidak mungkin diraih, kecuali oleh orang Mukmin.” (HR. Muslim)

Untuk seorang muslim yang beriman kepada Allah SWT, ketika dia diuji oleh Allah SWT dengan kemudahan kemudian dia bersyukur dan ketika dia diuji kesulitan kemudian dia bersabar dan selama dia taat kepada Allah SWT maka bersyukur dan bersabar nya seorang muslim akan berbuah pahala.

Baginda SAW juga menyatakan, “Tak seorang Muslim pun yang terkena duri atau lebih dari itu, kecuali dengannya Allah pasti akan angkat derajatnya, dan dengannya Allah akan hapus kesalahannya.” (H.r. Muslim)

Imam Muslim dari Ummu Salamah bahwa dia berkata: “Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda: “Tidaklah salah seorang hamba ditimpa musibah lalu mengucapkan inna lillaahi wa inna ilaihi rajiuun, lalu mengatakan ya Allah, berikanlah pahala kepadaku dalam musibahku dan gantikanlah untukku sesuatu yang lebih baik darinya, melainkan niscaya Allah Swt akan memberikan pahala kepadanya dalam musibahnya itu dan memberikan ganti kepadanya yang lebih baik.”

Ummu Salamah berkata: “Tatkala Abu Salamah wafat aku mengucapkan apa yang diperintahkan Rasulullah kepadaku dan Allah menggantikan untukku yang lebih baik darinya yaitu Rasulullah Saw.”

B. Tawakkal

Allah SWT berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ هَمَّ قَوْمٌ أَنْ يَبْسُطُوا إِلَيْكُمْ أَيْدِيَهُمْ فَكَفَّ أَيْدِيَهُمْ عَنْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

“… dan bertaqwalah kepada Allah, dan hanya kepada Allah hendaknya orang-orang beriman bertawakal” (QS. Al Ma’idah: 11).

Dan,

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

” Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, dan apabla dibacakan ayat-ayatNya kepada mereka, bertambahlah imannya, dan hanya kepada Rabb mereka bertawakal” (QS. Al Anfal : 2).

Definisi tawakkal

Imam Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Hakikat tawakal adalah hati benar-benar bergantung kepada Allah dalam rangka memperoleh maslahat (hal-hal yang baik) dan menolak mudhorot (hal-hal yang buruk) dari urusan-urusan dunia dan akhirat”.

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Tawakal adalah menyandarkan permasalahan kepada Allah dalam mengupayakan yang dicari dan menolak apa-apa yang tidak disenangi, disertai percaya penuh kepada Allah Ta’ala dan menempuh sebab (sebab adalah upaya dan aktifitas yang dilakukan untuk meraih tujuan) yang diizinkan syari’at).”

Para ulama menjelaskan bahwa tawakal harus dibangun di atas dua hal pokok yaitu bersandarnya hati kepada Allah dan mengupayakan sebab yang dihalalkan. Tawakal bukanlah pasrah tanpa berusaha, namun harus disertai ikhtiyar/usaha. Disatu sisi kita secara totalitas menyandarkan Keyakinan hanya kepada Allah SWT, dan di satu sisi lagi kita harus berusaha dengan cara yang telah Allah SWT ridoi.

Dari Umar bin Al Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seandainya kalian betul-betul bertawakal pada Allah, sungguh Allah akan memberikan kalian rezeki sebagaimana burung mendapatkan rezeki. Burung tersebut pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali sore harinya dalam keadaan kenyang.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Al Hakim. Dikatakan shahih oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash Shohihah no. 310)

 

2. Tawbatan Nashuha (tobat yang tulus)

Ketika orang beriman berbuat maksiat kepada Allah SWT, kemudian mereka ingat kepada Allah SWT dan segera menghentikan maksiat nya dan segera bertobat dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi (dengan sungguh- sungguh). Allah adalah Maha Pengampun dan Maha Pemaaf, sehingga kita harus selalu berbaik sangka kepada Allah SWT, sebesar apa pun dosa kita kecuali dosa syirik ketika kita bertobat dengan sungguh- sungguh maka Allah SWT akan Memaafkan.

Allah berfirman dalam surat Ali Imran ayat: 133- 135

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ () الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ () وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ ()

“Bersegaralah kepada ampunan dari tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa yaitu orang-orang yang menafkahkan hartanya baik di waktu lapang maupun sempit dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan juga orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampunan terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.”
Kemudian,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا عَسَىٰ رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ يَوْمَ لَا يُخْزِي اللَّهُ النَّبِيَّ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ ۖ نُورُهُمْ يَسْعَىٰ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَاغْفِرْ لَنَا ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam sorga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang yang beriman bresamanya, sedang cahaya mereka memancar di depan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan ‘Ya Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (QS. At-Tahrim ayat 8)

SYARAT TAUBAT NASHUHA MENURUT IMAM NAWAWI

• Pertama: adanya penyesalan di dalam hati
• Kedua: segera meninggalkan kemaksiatan yang sedang dikerjakan.
Ketika dia sedang bergunjing segera hentikan gunjingannya, ketika dia mengambil riba segera hentikan dalam mengambil riba dan seterusnya.
• Ketiga: memiliki niat kuat untuk tidak mengulangi kemaksiatan serupa di kemudian hari. (Imam an-Nawawi. Riyâdh ash-Shâlihîn, bab at-Tawbah)
• Keempat: Jika terkait dengan hak-hak orang lain maka hendaklah ia mengembalikannya kepada yang memilikinya.

 

3. Dakwah Amar ma’ruf Nahi munkar

Apa hubunganya Dakwah dengan Azab?

Allah SWT berfirman,

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً ۖ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zhalim saja diantara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.” (QS. Al-anfal 25)

Dan firman-Nya, “Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zhalim saja diantara kamu”….; merupakan peringatan lain yang begitu serius kepada kaum Mukminin agar jangan sekali-kali meninggalkan keta’atan kepada Allah dan Rasul-Nya, meninggalkan Amar Ma’ruf Nahi Munkar yang mengakibatkan kejahatan semakin menyebar dan kerusakan merajalela, lalu karenanya Allah timpakan bencana yang merata; menimpa orang-orang yang shalih dan Thalih (kebalikan orang shalih), orang yang berbuat kebajikan dan orang yang bejad (fajir),…orang yang zhalim dan orang yang berlaku adil.

Firman-Nya, “Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya”; ini memperkuat peringatan sebelumnya bahwa Allah Ta’ala bila menimpakan azab karena perbuatan dosa dan maksiat, maka azabnya amat pedih dan keras, tidak mampu jiwa menanggungnya. Karena itu, hendaklah kaum Mukminin berhati-hati terhadap hal itu dengan senantiasa melakukan keta’atan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Suatu ketika Zainab binti Jahsy bertanya kepada Nabi, “Wahai Nabi, apakah kami akan dihancurkan (oleh Allah), padahal di tengah-tengah kami ada orang-orang shalih?” Nabi menjawab, “Iya, jika keburukan (khabats) telah merajalela.” (H.r. Bukhari-Muslim).

Oleh karena itu dakwah amar makruf nahi munkar ini harus gencar dilakukan karena untuk mengingatkan orang- orang beriman akan azab Allah SWT. Setiap diri orang beriman wajib beramar makruf nahi mungkar.

 

IV. HIJRAH

 

1. Definisi Hijrah

Hijrah secara bahasa berasal dari kata hajara yang berarti berpindah dari suatu tempat ke tempat lain, dari suatu keadaan ke keadaan yang lain (Ash-Shihhah fi al-Lughah, II/243, Lisan al-‘Arab, V/250; Al-Qamus Al-Muhith, I/637) (Al-Islam ed. 533).

Para fukaha lalu mendefinisikan hijrah sebagai: keluar dari darul kufur menuju Darul Islam (An-Nabhani, Asy-Syakhsiyyah al-Islâmiyyah, II/276)

Darul Islam adalah suatu wilayah (negara) yang menerapkan syariah Islam secara total dalam segala aspek kehidupan dan keamanannya secara penuh berada di tangan kaum Muslim, bukan orang asing.

Sebaliknya, darul kufur adalah wilayah (negara) yang tidak menerapkan syariah Islam dan keamanannya tidak di tangan kaum Muslim, sekalipun mayoritas penduduknya beragama Islam.

Definisi hijrah semacam ini diambil dari fakta hijrah Nabi SAW dari mekkah ke madinah. Pada saat beliau berada di mekah yang keadaan nya penuh dengan kemaksiatan kepada Allah SWT, dari penyembahan berhala sampai kebobrokan para penduduknya yang mengubur hidup- hidup anak perempuannya kemudian gemar meminum khamar dan kemaksiatan- kemaksiatan lainnya. Kemudian Beliau hijrah ke madinah yang akhirnya menjadi Darul islam. (Al-Islam ed. 533)

2. Refleksi hijrah di masa Rasulullah saw

Masyarakat Arab sebelum Rasulullah saw. hijrah adalah masyarakat Jahiliah. Hal ini bisa dilihat dari sejumlah aspek.

• Pertama, aspek akidah. Akidah masyarakat Arab saat itu penuh dengan kemusyrikan. Penyembahan berhala, penyembahan malaikat (dan menganggap malaikat adalah anak perempuan Allah), penyembahan jin dan ruh- ruh
• Kedua, aspek sosial. Kehidupan sosial Makkah saat itu dicirikan dengan kebobrokan moral yang luar biasa, peminum arak, tukang mabuk, pelacuran dan perzinaan, pencurian, pembegalan dan perampokan, pembunuhan terhadap bayi- bayi perempuan
• Ketiga, aspek ekonomi. Di bidang ekonomi bangsa Arab sebelum Rasulullah saw. adalah kebanyakan berdagang/berniaga, dengan riba yang bahkan berlipat ganda.
• Keempat,aspek politik. Secara politis bangsa Arab saat itu bukanlah bangsa yang diperhitungkan oleh bangsa-bangsa lain. Dua negara adidaya saat itu, Persia dan Kristen Byzantium, sama sekali tidak melihat Arab sebagai sebuah kekuatan politik yang patut diperhitungkan.

Setelah Rasulullah saw. berhijrah dari Makkah ke Madinah, dan membangun Daulah Islamiyah di sana, dan melakukan pembinaan dan perubahan kepada masyarakat, sehingga keadaan masyarakat Arab pasca hijrah berubah total. Daulah Islamiyah (Negara Islam) yang dibangun Baginda Nabi saw. di Madinah berhasil menciptakan masyarakat Islam, yang dari sebelumnya masyarakat nya Jahiliah. Perubahan yang dilakukan oleh Rasulullah pertama dari sisi Akidah. Rasulullah menerapkan islam sebagai akidah, bahkan akidah islam menjadi satu-satunya asas Negara dan masyarakat. Oleh karena itu meski saat itu terdapat kaum yahudi dan nasrani, tetap saja aturan yang berlaku adalah aturan islam. Kedua dari sisi social, dengan penegakan syariah kehidupan sosial saat itu penuh dengan kedamaian dan ketenteraman serta jauh dari berbagai ragam kemaksiatan. Ketiga: dari sisi ekonomi. Saat itu ekonomi berbasis riba benar-benar dihapus. Cara-cara yang diakui syariah dalam meraih kekayaan dibuka seluas-luasnya.

3. Kondisi kaum muslimin saat ini

Masyarakat saat ini sebenarnya sangat mirip dengan masyarakat Jahiliah sebelum Rasulullah saw. hijrah ke Madinah. Wajar jika sebagian ulama menyebut kondisi sekarang sebagai “Jahiliah Modern”. Kenapa dikatakan mirip dengan masyarakat jahiliah?

• Pertama: dari sisi akidah.
Meskipun mayoritas masyarakat di negeri- negeri muslim (misal: Indonesia) adalah beragama Islam, tetapi mereka tidak jauh dari praktik kemusyrikan, baik syirik yang tersembunyi maupun terang- terangan; baik pemberhalaan kepada harta dan tahta maupun pemberhalaan secara langsung kepada jin dan ruh.

• Kedua: dari sisi sosial & budaya
Berbagai tindakan kemaksiatan dan kriminal sudah menjadi hal yg biasa karena sudah amat sering terjadi dan tidak terselesaikan. Pembunuhan, perampokan, pemerkosaan, penculikan, pornografi dan pornoaksi dan sebagainya sampai tidak terkendali lagi.

• Ketiga: aspek ekonomi.
Penerapan sistem ekonomi kapitalis di hampir semua negeri muslim telah mengakibatkan kesengsaraan yang nyata bagi umat muslim. Praktik transaksi berbasis ribawi, penguasaan aset-aset strategis negara oleh individu atau asing, kebijakan- kebijakan ekonomi yang pro kaum kapitalis, kebijakan pajak yang semakin mencekik rakyat kecil dan sebagainya sehingga semakin memiskinkan rakyat dan meng-kaya-kan golongan tertentu.

• Keempat: aspek hukum
Hukum hanya diberlakukan secara semena- mena kepada rakyat kecil. Sementara pelaku pelanggaran hukum tingkat elit sering terbebas. Kasus- kasus korupsi level tinggi tidak diungkapkan dg sungguh- sungguh, bahkan sengaja ditutup- tutupi. Aparat penegak hukum justru menjadikan wewenangnya sbg sumber tambahan pendapatannya.

• Kelima: aspek politik
Kondisi negeri- negeri muslim saat ini benar- benar sangat direndahkan dan tidak dipandang. Bahkan menjadi bulan- bulanan Negara kafir Barat yang kuat. Negeri- negeri muslim menjadi sapi perahan untuk kepentingan mereka. Penguasa- penguasa nya pun menjalankan politik hanya untuk mempertahankan kedudukan dan jabatannya, bekerja sama dan berdampingan dengan penguasa- penguasa kafir barat, tidak peduli dengan nasib rakyat yang semakin terhimpit dan tertindas.

 

Khatimah

Jadi wajar saja jika saat ini umat muslim dihujani dengan segala bencana, musibah, dan ujian yang bertubi-tubi, baik dari langit (atas) maupun bumi (bawah), maupun dari kaum kuffar. Karena sudah terjadi kemaksiatan yang merajalela yang telah dilakukan oleh manusia. Tanpa rasa takut terhadap Allah SWT, dari berbagai peringatan Allah SWT turunkan tetapi seakan- akan mata kita terlalu buta untuk melihat dan telinga kita terlalu tuli untuk mendengar perintah dan larangan Allah SWT. Maka sudah waktunya kaum muslim bangkit dari tidurnya yang nyaman dan kenikmatan dunia yang melenakan. Sudah waktunya kita berjuang dan berhijrah. Dari hukum kuffur ke hukum Allah SWT.

Allah SWT berfirman :

“Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik” [QS. Al-Maaidah : 49].

Semoga Artikel ini bermanfaat untuk Sahabat Rumah Kurma Sahara.
Silahkan berbelanja kurma di Rumah Kurma Sahara, Butuh perlengkapan haji? Ingat Toko Rumah Kurma Sahara!
Jalan Raya Semplak Atang Sandjaja No. 224
Bogor Barat – Kota Bogor
Customer Care : 0821-1141-8832 | 0878-7386-0559
Delivery : 0859-2512-6067
WA | PIN BB : 0878-7386-0559 | DA7A086

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *