Meraih Hidup Mapan & Barokah Dengan Syariah

Ingin Hidup Mapan: adalah Fitrah manusia

Semua orang pasti mempunyai keinginan untuk bisa hidup mapan. Keinginan tersebut merupakan perwujudan dari naluri (gharizah) baqa’ yang ada pada diri manusia. Gharizah baqa’ (naluri mempertahankan diri) tersebut, salah satunya adalah kecenderungan untuk menunjukkan eksistensi diri. Baik dengan harta, fisik-kecantikannya, ataupun dengan kepintaran yang dimilikinya, dll.

Gharizah baqa’, merupakan anugrah/ pemberian dari Allah SWT. Jadi sudah menjadi fitrah bagi seseorang, jika ingin hidupnya kaya/ mapan dan berkecukupan. Misalnya ingin punya mobil mewah, dan rumah yang megah. Atau mungkin ada seseorang yang ingin naik kapal pesiar dan bahkan ada yang ingin memiliki perhiasan dari permata/jamrud. Semua keinginan- keinginan tersebut adalah hal yang lumrah dan bukan suatu dosa.

Rasulullah SAW pun seorang yang kaya

Yang sering kita dengar, tentang Rasulullah SAW adalah kehidupan beliau yang miskin. Namun sebenarnya beliau adalah orang yang kaya. Hal ini bisa kita lihat dari kisah beliau sebelum diangkat menjadi Rasul.

  • Sejak kecil/ remaja, beliau telah ikut berdagang bersama pamannya-Abu thalib.
  • Beliau menjadi tempat penitipan barang yang terpercaya (Al-amin).
  • Rasulullah adalah sosok yang sangat jujur, dan tidak pernah berbohong. Gelar Al-amin yang beliau dapatkan, memang menjadikan beliau sangat dipercaya oleh orang-orang disekitar beliau. Bahkan ada kisah, ketika ada seseorang -dari luar kota Makkah yang datang untuk thawaf, menitipkan barang-barangnya kepada Rasul di pintu kota Makkah. Ternyata orang tersebut lupa untuk mengambil barang, dan ingat kembali saat dia sudah berada di negrinya. Akhirnya orang tsb. kembali ke Makkah dan dia masih menjumpai Rasullullah masih berada ditempat dia menitipkan barang. MasyaAllah…
  • Pedagang- pedagang yang kaya, banyak yang menitipkan barang dagangan mereka kepada Rasulullah untuk dibawa ke Syam. Termasuk dagangan dari Khadijah ra. yang saat itu dikenal sebagai orang terkaya di Makkah. Kita bisa membayangkan, Rasulullah pasti mendapatkan bagi hasil / gaji yang banyak dari perdagangan tsb.
  • Menikah dengan mahar yang sangat mahal.
  • Begitu pula ketika menikah dengan istri-istri yang lain. Aisyah berkata,”Mahar Rasulullah kepada para isteri beliau adalah 12 Uqiyah dan satu nasy”. Aisyah berkata,”Tahukah engkau apakah nash itu?”. Abdur Rahman berkata,”Tidak”. Aisyah berkata,”Setengah Uuqiyah”. Jadi semuanya 500 dirham. Inilah mahar Rasulullah – shallallahu ‘alaihi wa sallam- kepada para isteri beliau. (HR. Muslim). 500 dirham setara denga 50 dinar, kira-kira 200 gram emas atau 100 juta rupiah. Bahkan ada yang diberi mahar 1000 dirham oleh Rasulullah SAW.
  • Ketika beliau menikah dengan ibunda Khadijah, mahar yang diberikan adalah 20 ekor unta. Pada zaman Rasulullah, unta adalah kendaraan termewah. Kalo sekarang mungkin seperti mobil mercy. Adakan saat ini yang menikah dengan mahar 20 mobil mercy?.

Begitulah gambaran kekayaan yang dimiliki Rasulullah SAW. Akan tetapi, beliau memang lebih memilih gaya hidup yang sangat sederhana-Zuhud. Beliau tidak menggunakan kekayaannya untuk tujuan di dunia, namun lebih menyukai kekayaan tersebut terakumulasi di akherat kelak. Bahkan beliau pernah berdoa agar Allah menjadikannya bersama orang- orang miskin.

Demikin halnya Sahabat beliau adalah orang-orang yang kaya raya. Diantara mereka adalah:

  • Abu Bakar ra. adalah saudagar yang kaya raya. Dan selalu nomor 1 dalam urusan bersedekah.
  • Utsman bin Affan ra. Juga dikenal sebagai saudagar yang kaya raya. Bahkan kekayaannya hingga saat ini terus berkembang (kurang lebih 1400 th) untuk kemaslahatan umat. Betapa besar pahala yang di peroleh ustman dari harta yang dia tinggalkan.
  • Abdurrahman bin Auf ra. dikenal sebagai saudagar yang sangat pandai menghasilkan uang/ harta. Bahkan dia mengatakan, seperti diibaratkan ketika batu berada digenggaman tangannya maka batu tersebut akan selalu menjadi emas saat tangannya dibuka.

Oleh karena itu, menjadi kaya adalah hal yang sah-sah saja (diperbolehkan) dan tidak berdosa. Tetapi kita semua harus sadar, kaya yang seperti apa yang seharusnya kita cita-citakan. Tentunya kaya seperti Rasulullah SAW, Abu Bakar as-shidiq, Utsman bin Affan dan juga seperti Abdurrahman bin Auf.

Gambaran kekayaan Rasulullah dan para sahabat diatas, adalah merupakan gambaran harta yang barokah.

  • Harta BarokahDefinisi barokah ada beberapa pendapat;
  1. Barokah berasal dari bahasa arab (bentuk isim) dari akar kata “ba”…”ro”…”ka”.
  2. Menurut para pakar (ahli) Bahasa Arab, diantaranya Ibn Mandzur, al-Fayyumi dan al-Fairuz Zabadi, kata  “al-barakah” menurut arti bahasa adalah “berkembang, bertambah dan kebahagiaan.” 
  3. Menurut Imam аl-Nawawi dalam kitabnya “Syarh Shahih Muslim”, asal makna keberkahan ialah kebaikan yang banyak dan abadi. Ibarat harta Utsman bin Affan, yang hingga saat ini orang-orang masih bisa merasakan kebaikan dari harta tsb.
  4. Sedangkan dalam kitab Riyadus Shalihin – Imam al- nawawi, dijelaskan bahwa barokah adalah:  ziyadatul khair ‘ala al ghair (sesuatu yang dapat menambah kebaikan kepada sesama).
  5. Adapun menurut istilah (syariat), berkah didefinisikan sebagai kebaikan berlimpah yang diberikan Allah pada siapa yang dikehendaki-Nya.

Jadi barokah artinya harta tsb. memiliki tambahan- tambahan kebaikan di dalamnya. Sehingga orang lain pun bisa merasakan / menikmati kebaikan tsb.

Misalnya pada saat Rasulullah memberi perintah berjihad, yang dilakukan Abu Bakar ra. adalah menginfakkan seluruh hartanya di jalan Allah. Ketika Rasulullah bertanya kepadanya, tentang apa yang dia tinggalkan untuk keluarganya, maka Abu Bakar menjawab “ ….kutinggalkan untuk mereka bersama Allah dan RasulNya..”. MasyaAllah, betapa tingginya tingkat keimanan Abu Bakar dan keluarganya. Harta itulah harta yang barokah yang kebaikannya bisa bermanfaat bagi yang lain.Sebagai contoh lain dari makna barokah, adalah firman Allah SWT dalam surat Qaaf ayat 9-11:

وَنَزَّلْنَا مِنَ السَّمَاء مَاء مُّبَارَكًا فَأَنبَتْنَا بِهِ جَنَّاتٍ وَحَبَّ الْحَصِيدِ {9} وَالنَّخْلَ بَاسِقَاتٍ لَّهَا طَلْعٌ نَّضِيدٌ {10} رِزْقًا لِّلْعِبَادِ وَأَحْيَيْنَا بِهِ بَلْدَةً مَّيْتًا كَذَلِكَ الْخُرُوجُ

Dan Kami turunkan dari langit air yang diberkahi (banyak membawa kemanfaatan), lalu Kami tumbuhkan dengan air itu taman-taman dan biji-biji tanaman yang diketam. Dan pohon kurma yang tingi-tinggi yang memiliki mayang yang bersusun-susun, untuk menjadi rezeki bagi hamba-hamba (kami), dan Kami hidupkan dengan air itu tanah yang mati (kering). Demikianlah terjadinya kebangkitan.” (QS. Qaaf: 9-11).

Tafsir ayat al-qur’an surat Qaaf: 9-11.

  • Ayat di atas sesungguhnya berkaitan dengan kisah bangsa Saba’, yakni suatu negeri yang penduduknya beriman dan beramal saleh sehingga penuh dengan keberkahan. Sampai-sampai ulama ahli tafsir mengisahkan, bahwa dahulu wanita kaum Saba’ tidak perlu untuk memanen buah-buahan kebun mereka. Untuk mengambil hasil kebunnya, mereka cukup membawa keranjang di atas kepalanya, lalu melintas di kebunnya, maka buah-buahan yang telah masak dan berjatuhan sudah dapat memenuhi keranjangnya, tanpa harus bersusah-payah memetik atau mendatangkan pekerja yang memanennya.
  • Ibn Katsir dalam tafsirnya menyebutkan, bahwa dahulu di negeri Saba’ tidak ada lalat, nyamuk, kutu, atau serangga lainnya, yang demikian itu berkat udaranya yang bagus, cuacanya yang bersih, dan berkat kerahmatan Allah yang senantiasa meliputi mereka.

Jadi harta yang Barokah bermakna: Harta yang dapat menambah kebaikan yang banyak (bahkan kebaikannya bisa abadi) yang dapat dirasakan orang banyak.

Orang yang memiliki harta yang barokah, maka tidak akan merasa sempit, susah ataupun kekurangan dalam hidupnya. Harta yang dimilikinya selalu cukup untuk memenuhi kebutuhannya bahkan bisa untuk membantu orang lain.

Mari kita refleksi pada diri masing-masing, apakah harta kita merupakan harta yang barokah. Ataukah kita masih mengeluh dan mengeluh, saat kita memenuhi kebutuhan hidup kita. Padahal kita harusnya selalu bersyukur, agar Allah SWT memberkahi hidup kita. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam firmanNya,

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih“. (QS. Ibrahim Ayat 7)

Bagaimana cara mendapatkan harta yang barokah Dua hal yang harus dilakukan adalah:

  • Dalam islam hanya ada 2 rumus yang dapat digunakan untuk mendapatkan harta yang barokah.
  1. Tinggalkan system pengelolaan harta yang dilaknat Allah SWT dan rasul-Nya SAW –>Untuk mendapatkan harta yang barokah, kita harus meninggalkan semua bentuk pengelolaan harta (bagaimana cara memperoleh, memanfaatkan dan mendistribusikan harta) yang menentang Allah dan RasulNya. Seperti riba, suap-menyuap, merampok, mencuri , dll.
  2. Tunduk kepada tata cara (system) mengelola harta yang diridhoi Allah SWT dan dicontohkan rasul-Nya SAW–> Diantara Sistem pengelolaan harta yang dilaknat oleh Allah dan RasulNya adalah system ekonomi kapitalis.
  • SISTEM EKONOMI KAPITALIS

Merupakan system atau tata cara pengelolaan harta yang saat ini sedang berkembang sebagai rujukan system ekonomi dunia.

Beberapa kritik terhadap sistem ekonomi kapitalis, diantaranya:

  1. Sistem ekonomi ini memandang bahwa problem asasi ekonomi (masalah kelaparan, kemiskinan,dll ) adalah karena adanya kelangkaan (scarcity) barang. Akibatnya barang-barang tidak tersalurkan semuanya. Pertanyaanya, Apakah peningkatan produksi barang- barang tersebut bisa menyelesaikan problem kelangkaan/ problem asasi ekonomi tsb?. Ternyata Tidak. Yang terjadi malah ada peningkatan budaya/ gaya hidup konsumtif dimasyarakat . misalnya seseorang bisa memiliki dua atau empat handphone, memiliki koleksi mobil mewah, koleksi rumah megah dll.
  2. Oleh karena itu peningkatan produksi (barang dan jasa) harus senantiasa diupayakan untuk memenuhi kelangkaan ini (terjadi produksi barang secara besar-besaran). Kelangkaan tersebut juga diatasi dengan usaha mencari sumber-sumber bahan pangan baru.
  3. Pandangan ekonomi kapitalis semata-mata bersifat materi dan berasaskan manfaat saja. Maka mereka menjadikan interest rate (riba) dan mata uang kertas (Fiat money) sebagai jantung dan aliran darah bagi berjalannya system ekonomi mereka di dalam tubuh lembaga keuangan (perbankan, insurance, pasar saham, pasar penjaminan dll) yang mereka ciptakan.
  4. Memberikan kebebasan kepada individu untuk memiliki dan mengembangkan segala potensi kekayaan tanpa ada campur tangan pemerintah.  
  5. Ketiga point diatas menjadi penyebab terjadinya bencana sosial atau musibah kemanusiaan dikehidupan perekonomian seluruh manusia di dunia.
  6. Kebebasan yang sebebas-bebasnya pada individu untuk bisa memiliki apa saja yang diinginkannya. Misalnya dengan uang yang dimilikinya seseorang bisa saja membeli pulau, hutan, gunung emas dll.  

Selanjutnya kita lihat gambaran system ekonomi kapitalis.                                        

Dalam system ekonomi kapitalis, seluruh harta kekayaan yang ada disuatu Negara maka akan diserahkan pada mekanisme pasar bebas. Maksudnya bebas memiliki apa saja dengan uang yang dimilikinya. Akibatnya semua orang mempunyai kebebasan:

  • Dalam kepemilikan / membeli apapun. Misalnya seseorang bebas membeli pulau, tambang emas, bahkan membeli manusia.
  • Dalam pemanfaatan kepemilikan. Seseorang bebas memanfaatkan kepemilikannya untuk apapun. Misalnya dengan pulau yang ia beli, bisa ia jadikan tempat perjudian ataupun pelacuran.
  • Dalam pengembangan kepemilikan. Sehingga jalan apapun bisa ditempuh seseorang, misalnya memperbanyak hartanya dengan jalan riba, merampok, suap-menyuap, dll.

Itulah fakta dari system ekonomi kapitalis, akibatnya terjadi fokus pada akumulasi kapital. Yang artinya orang/siapa saja yang memiliki kapital/ uang / modal yang banyak, maka dialah yang akan menang atau berkuasa.

Selanjutnya adalah aliran aktifitas perekonomian tahap 1 dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.

Dalam kehidupan ekonomi kita saat ini, aktifitas ekonomi selalu melalui 2 kubu.

  1. Kubu rumah tangga yaitu semua orang yang pernah melakukan aktifitas jual beli.
  2. Kubu perusahaan yang melakukan aktifitas produksi yang menghasilkan barang dan jasa.

Cara berjalannya adalah

  • Sisi pertama adalah aliran pasar barang. Dimana perusahaan menjual barang dan jasa kepada rumah tangga dan sebagai kompensasinya, rumah tangga membayar/mengalirkan uang pada perusahaan.
  • Sisi kedua, dimana merupakan sisi Rumah tangga kepada Perusahaan. Karena perusahaan untuk menjalankan aktifitas produksinya, membutuhkan tenaga kerja, lahan(untuk mebangun pabrik/kantor) dan juga modal/uang (untuk membeli bahan dan alat produksi).Maka perusahaan akan memberikan kompensasi/membayarnya dengan sewa (untuk lahan), upah (untuk tenaga kerja) dan bunga/dividen (untuk modal investasi).
  • Jadi sisi kedua ini merupakan aliran pasar faktor produksi. dimana dari rumah tangga menjual/mengalirkan lahan, tenaga kerja dan uang modal/ investasi pada perusahaan.

Di sinilah liciknya system ekonomi kapitalis. Karena perusahaan juga membutuhkan modal yang besar, yang tidak mungkin cukup hanya dari 1 atau 2 orang. Maka diciptakanlah lembaga perbankan. Inilah tahap ekonomi yang kedua

Dengan adanya lembaga perbankan diharapkan semua orang akan menyimpan uangnya di bank. Maka rumah tangga akan menyimpan uangnya di bank, kemudian bank akan menginvestasikan modal ke perusahaan. Perusahaan akan membayar bunga kepada bank yang selanjutnya akan dibayarkan ke rumah tangga.

Namun ternyata, dengan lembaga perbankan yang ada dinilai belum/tidak cukup sehingga diciptakanlah pasar Modal.

Pasar modal/saham seperti bursa efek, akan menerbitkan kertas-kertas saham. Misalnya perusahaan membutuhkan modal 1 milyar dollar, maka perusahaan akan menerbitkan kertas saham yang nilainya misalnya 100 juta dollar per lembar. Maka akan ada 10 lembar kertas saham, yang akan dijual kepada pihak 1. Sehingga pihak 1 kelak akan memperoleh kompensasi berupa dividen dari perusahaan tersebut pada akhir tahun pembukuannya.

Kita tahu prinsip dalam ekonomi kapitalis adalah materi. Dan mereka tidak pernah merasa puas serta tidak sabar untuk menunggu keuntungan materinya itu sampai akhir tahun pembukuan perusahaan tsb, maka diciptakanlah pasar sekunder, seperti yang terlihat pada Bagan Alir Ekonomi Tahap IV dibawah ini.

 

Jadi pihak 1 yang memiliki saham 100 juta dollar perlembar tadi, ingin cepat mendapat keuntungan dari saham yang dia miliki.

Dimana pihak 1 akan menawarkan/menjual saham yang dimiliki tadi dengan harga misalnya 150 juta dollar pada pihak 2. Jika pihak 2 tertarik dengan perusahaan tsb dan mau membeli sahamnya dari pihak 1 dengan harga yang ditawarkan pihak 1 tsb, dalam waktu hitungan detik atau menit Otomatis pihak 1 langsung mendapatkan untung 50 juta dollar. Nah, selisih nilai(ex= 50 juta dollar) inilah yang disebut dengan capital gain, tanpa harus menunggu 1 tahun.

Kalau kita lihat, capital gain ini tidak mengalir ke perusahan tapi hanya mengalir ke orang-orang yang bermain di pasar modal tsb.

Ternyata adanya pasar sekunder tsb, masih dirasa belum cukupmenguntungkan yang akhirnya diciptakanlah pasar derivatif.

Pasar derivatif merupakan perpanjangan tangan dari pasar sekunder. Dimana pihak ke 2, menjual kepada pihak ketiga dengan harga missal 200 jt dollar. Sehingga pihak ke 3 langsung mendapatkan keuntungan sebesar 50 juta dollar.

Hingga setelah melewati batas maksimal, akan terjadi ledakan yang mengakibatkan colaps nya perekonomian. Inilah yang sering disebut sebagai ekonomi gelembung sabun (dimana awalnya ekonomi kelihatannya meningkat/ menggelembung, setelah mencapai batas maksimal gelembung/ kondisi ekonomi tsb akan pecah seperti gelembung sabun).

Hal ini seperti yang pernah terjadi di Amerika pada kasus “subprime mortgage” tahun 2008, dimana banyak warga amerika yang akhirnya bunuh diri karena tidak mampu membayar mortgage.

Jadi kesimpulannya, dengan diterapkannya lembaga perbankan, pasar modal, dan juga pasar derivatif maka akan menimbulkan colaps dalam system perekonomian kapitalis. Karena uang hanya mengalir diantara orang-orang kaya / pemilik modal saja. Sehingga problem asasi ekonomi seperti kemiskinan dan kelaparan, tidak akan kunjung teratasi. Bahkan akan semakin besar jurang pemisah antara yang kaya dengan yang miskin.

Kemudian bagaimana dengan SOLUSI EKONOMI SYARI’AH yang ada saat ini?

SOLUSI EKONOMI SYARI’AH PARTIAL

Kita berterimakasih pada usaha para ekonom syari’ah yang berusaha untuk mengubah system ekonomi yang ada. Sayangnya, perubahan yang dilakukan tetap menggunakan tubuh yang sama yaitu tubuh ekonomi kapitalis.

Dalam ekonomi syari’ah parsial ini, hal-hal/ istilah ribawi berupa bunga, pasar sekunder dan pasar derivatif dihilangkan dari aliran perekonomian. Karena pasar sekunder dan derivatif ini merupakan biang kerok tidak berputarnya uang sampai pada perusahaan (sector rill). Dimana uang hanya beredar dikalangan tertentu saja. Padahal Allah SWT telah menetapkan bahwa harta tidak boeh berputar dikalangan orang kaya saja namun harus menyeluruh. Dalam firmanNYa,

لَا يَكُونَ دُولَةً بَيْنَ الْأَغْنِيَاءِ مِنْكُمْ ۚ وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ……”

artinya“……, supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.”(QS.Al-Hashr ayat 7).

Dalam ekonomi syari’ah parsial, yang tetap menggunakan tubuh yang sama dengan ekonomi kapitalis. Mereka mengganti istilah, dari bunga dengan istilah bagi hasil. Istilah perbankan menjadi perbankan syari’ah. Dari istilah pasar modal menjadi pasar modal syari’ah.

Pertanyaannya, apakah solusi tersebut sudah final?. Jawabannya adalah tidak.

Kita tahu saat ini banyak perbankan syari’ah, seperti di Indonesia, Malaysia, Timur Tengah, dan juga di Negara kafir/ barat. Namun perbankan syari’ah parsial ini tidak mampu mengatasi berbagai persoalan ekonomi (seperti kelaparan, kemiskinan dll.) yang sedang melanda dunia. Karena tubuh yang dipakai masih tubuh ekonomi kapitalis yang tidak bisa mengantarkan pada solusi yang sebenarnya. Oleh karena itu kita butuh tubuh sendiri yang murni dari tubuh syari’ah yaitu tubuh sistem ekonomi islam.

  1. SISTEM EKONOMI ISLAM

Merupakan solusi sistemik/ komprehensip/ menyeluruh, yang dapat menyentuh akar permasalahan yang sesungguhnya.

Pokok-pokok pemikiran ekonomi Islam  

  1.       Aktivitas dasar/pokok ekonomi ada tiga, yaitu: produksi, konsumsi dan distribusi.

Jika sistem ekonomi kapitalis memandang bahwa persoalan ekonomi berada pada aktivitas produksi karena adanya kelangkaan barang, maka sistem ekonomi Islam memandang distribusi kekayaanlah yang menjadi masalah utama ekonomi.

Persoalan-persoalan seperti kemiskinan, pengangguran, inflasi dan lain-lain sesungguhnya dipicu oleh pendistribusian kekayaan suatu Negara yang tidak adil dan merata di dalam masyarakatnya.

Fakta misalnya, yang pernah kita lihat di medsos. Saat bangsawan Saudi sedang makan makanan yang luar biasa besar porsinya (sebesar ruangan) dan hanya dimakan sekitar beberapa puluh orang, sementara di tempat lain (Ethiopia misalnya), selembar roti menjadi rebutan banyak orang. Seandainya makanan yang di Saudi tadi diberikan/didistribusikan kepada mereka yang kelaparan, masalah kelaparan tentunya akan bisa teratasi

2. Seluruh harta kekayaan di alam ini adalah milik Allah

  • Merupakan hal terpenting yang harus kita pahami, bahwa seluruh harta kekayaan di alam ini merupakan milik Allah. Firman Allah SWT, “ …… dan berikanlah kepada mereka sebahagian dari harta Allah yang dikaruniakan-Nya kepadamu,….”. (QS. An Nuur (24): 33)
  • Tetapi Allah memberi izin kepada manusia untuk menguasai (istikhlaf) harta. Sebagaimana firmanNya
  • آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَأَنْفِقُوا مِمَّا جَعَلَكُمْ مُسْتَخْلَفِينَ فِيهِ ۖ فَالَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَأَنْفَقُوا لَهُمْ أَجْرٌ كَبِيرٌ
  • ;“Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya. Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar”. (QS. Al Hadiid (57): 7

Jadi Allah mengatur mekanismenya sehingga ada yang boleh atau halal untuk dimiliki secara individu dan ada juga yang Tidak boleh atau haram untuk dimiliki secara individu.

  • Izin Allah tersebut standarnya adalah Al Quran dan Sunnah (bagaimana Rasulullah memberi contoh dalam mengelola harta)

Pilar-Pilar Sistem Ekonomi Islam

Ada 3 pilar dalam system ekonomi islam:

  • Pilar pertama: Kepemilikan (al milkiyah) dalam islam, yang meliputi:
  1. Kepemilikan individu (milkiyah fardiyah) yakni apa saja yang boleh dimiliki individu.
  2. Kepemilikan umum (milkiyah ‘ammah) yaitu apa-apa yang merupakan milik umum tidak boleh dimiliki individu
  3. Kepemilikan Negara (milkiyah daulah), dimana Negara berhak untuk memiliki dan mengelola dan menyalurkannya pada masyarakat.
  • Pilar kedua: Pemanfaatan kepemilikan (at tashoruf fil milkiyah), yang meliputi
  1. Penggunaan harta (infaqul mal). Misalnya harta kita harus digunakan di jalan Allah. Dengan infaq, sedekah..dll
  2. Pengembangan harta (tanmiyatul mal). Misalnya dengan cara syirkah, tidak boleh ada unsur riba.
  • Pilar ketiga: Distribusi kekayaan ditengah manusia (tauzi’u tsarwah baynannas), yang meliputi:
  1. Distribusi secara ekonomis. Harta tersebut langsung diberikan kepada masyarakat, misalnya untuk konsumsi.
  2. Distribusi secara non ekonomis. Harta untuk suatu pembangunan, infrastruktur untuk digunakan secara umum.

 

PENJELASAN PILAR-PILAR SYSTEM EKONOMI ISLAM

  1. Kepemilikan dalam islam

a. Kepemilikan individu

Untuk memiliki harta, setiap individu dalam masyarakat tentu akan melakukan berbagai aktivitas ekonomi. Semua ini diatur dalam mekanisme pasar syari’ah, yakni bagaimana jual-beli/ muamalah yang sesuai syari’ah antar individu-individu masyarakat.

  • Mekanisme pasar syari’ah

Islam mengatur bagaimana mekanisme semua jenis pasar.

  1. Pasar barang dan jasa
  • Ada hukum perdagangan dalam negri
  • hukum perdagangan luar negri
  • hukum industry
  • misalnya ada aturan: tidak diperbolehkan ada penipuan, tidak boleh menjual barang yang belum jelas,tidak boleh memproduksi khamr, dll.

2. Pasar lahan

  • Hukum-hukum lahan (pertanian)
  • Misalnya: tidak diperbolehkan sewa-menyewa lahan, boleh mengelola lahan yang kosong/tidak dimanfaatkan selama 3 thn, dll.

3.Pasar tenaga kerja

  • Hukum ketenagakerjaan
  • Misalnya: Negara tidak diperkenankan meenetapkan UMR(upah minimum regional) karena masalah upah merupakan kesepakatan antara pengusaha dengan tenaga kerja.

4. Pasar keuangan

  • Hukum perbankan
  • Hukum pasar modal
  • Hukum investasi
  • Dalam mekanisme pasar syari’ah yang seutuhnya, akan menghilangkan beberapa unsur dari bagan aliran ekonomi yang ada saat ini. Karena unsur tersebut tidak ada dalam islam.
  • Misalnya: harus bebas riba, ada bagi hasil, harus sampai kepada sector riil, dll.

Dalam mekanisme pasar syari’ah ini,

  • Uang kertas dihapus. Karena di dalam uang kertas terdapat unsur riba, dimana nilai bahan kertas (nilai intrinsic) berbeda dengan nilai guna/jual (nilai ekstrinsik) uang tersebut. Misalnya uang kertas $100 akan sama dengan uang $10 dari segi bahan baku uang kertas, hanya stempel legitimasi yang membedakan nilai kertas tersebut. Tentunya ada kedzaliman didalamnya. Kecuali uang kertas tersebut ada back up emasnya. Misalnya kita punya tabungan di bank sebesar $ 1000, maka harus ada emas real yang mempunyai nilai yang sama. Sehingga uang kertas tersebut benar-benar bernilai.
  • Sewa lahan yang dilarang dalam islam juga dihapus.
  • Perbankan syari’ah, pasar modal syari’ah dan deviden secara sendirinya akan hilang dalam mekanisme pasar tsb. Karena dalam system ekonomi Islam, aktivitas pelayanan keuangan dalam masyarakat akan dilakukan oleh Baitul Maal yang memiliki berbagai fungsi.

Seharusnya mekanisme pasar syari’ah yang asli/murni adalah seperti dibawah ini.

  • Dimana pasar barang dan jasa harus menggunakan emas dan perak.
  • Perlu kita pahami bahwa penggunakan emas dan perak dalam jual-beli sudah ada sejak zaman dahulu kala-kerajaan Romawi dan Persia, hingga islam datang. Setelah Perang Dunia 1, Amerika bangkrut dan menghapus emas sebagai mata uang. Berdasarkan kesepakatan Amerika dan eropa, sepakat untuk memproduksi uang kertas tanpa back up emas dan perak. Jadi ketika negara-negara kapitalis ini, tidak memliki uang maka mereka akan mencetak uang kertas yang di lakukan oleh bank central mereka. Sehingga ketika uang kertas diproduksi dalam jumlah besar (misalnya untuk membeli minyak bumi) maka uang kertas akan banyak beredar dimasyarakat sehingga dipastikan akan terjadi inflasi.
  • Selanjutnya dalam mekanisme pasar syari’ah, rumah tangga ke perusahaan akan memberikan/ (menjual) lahan, tenaga kerja dan bila ingin bekerja sama dalam perniagaan maka diakukan dengan cara syirkah islam (partnership). Sehingga dari perusahaan akan ada bagi hasil, juga upah untuk tenaga kerja. Itulah jalan yang diberikan islam.

b. Kepemilikan umum

Harta yang masuk dalam kepemilikan umum, tidak mungkin di kelola oleh individu. Jadi harta tersebut akan dikelola oleh Negara dan hasilnya akan dikembalikan kepada masyarakat. Harta yang masuk dalam kepemilikan umum antara lain:

  • Harta benda kebutuhan umum

Dalilnya, sabda Rasulullah SAW;“Kaum mslimin berserikat dalam tiga hal: air, padang gembalaan dan api”(HR. Abu Daud).

Contoh: Sumber daya air, Sumber daya hutan dan padang rumput, Sumber daya energi: minyak bumi, gas, batu bara, uranium

  • Tambang yang besar

Hadist Rasulullah SAW,“….Wahai Rasulullah, tahukah engkau apa yang engkau berikan kepadanya? Sesungguhnya engkau telah memberikan sesuatu yang bagaikan air mengalir’. Rasulullah kemudian bersabda: ‘Tariklah tambang tersebut darinya’” (HR. At Tirmidzi).

Contoh: Tambang emas, Tambang perak., Tambang tembaga, Tambang nikel, Tambang bauksit, Tambang bijih besi, Tambang timah,Tambang kuarsa, dll.

  • Barang yang tidak mungkin dimiliki individu

Sabda Rasulullah SAW, “…Mina adalah tempat tinggal orang yang terlebih dahulu datang”(HR. Abu Dawud, Ahmad, Ibnu Majah, Hakim dan Tirmidzi).

Contoh: Jalan, Jembatan, Sungai , Gunung, Bukit, Laut, Danau

c.`Kepemilikan negara

Harta yang masuk pada Kepemilikan Negara, antara lain:

  1. Jizyah
  2. Kharaj
  3. Ghanimah
  4. Fa’i
  5. ‘usyur
  6. 20% rikaz
  7. Harta tanpa ahli waris
  8. Harta orang murtad
  9. Berbagai lahan, bangunan milik Negara

Pemanfaatan Harta

Pemanfaatan harta yang menjadi kepemilikan umum, dibedakan menjadi 2 bagian:

  • Harta tersebut mudah dimanfaatkan secara langsung. Artinya masyarakat langsung bisa memanfaatkannya. Dalam hal ini peran Negara sebagai pengawas dan pengatur harta tersebut.
  • Misalnya: penggunaan jalan, jembatan, sungai, laut, dll.
  • Harta tersebut tidak mudah dimanfaatkan secara langsung. Di sini dibutuhkan peran Negara sebagai pengelola harta (atas nama rakyat). Dan hasil/keuntungannya diserahkan untuk memenuhi kebutuhan rakyat
  • Di bawah ini, ada tabel simulasi dari Prof. Fahmi Amhar (th. 2010), tentang data penerimaan APBN syari’ah (murni syari’ah) dari harta kepemilikan umum dengan nilai yang cukup besar.
  • Misalnya: Tambang, minyak bumi, gas, listrik, air minum, dll.

Dari hasil poduksi Minyak, gas, batubara, emas dan mineral, kemudian dari BUMN kelautan dan hasil hutan, penerimaan APBN mencapai 1.176,3 juta dinar atau dalam rupiah sebesar 1.764,45 triliun rupiah. Belum dari sektor lain, misalnya: zakat, infaq, kepemilikan Negara ( jizyah, ghanimah, fa’i, harta tanpa ahli waris) dan lainnya. Tentu Negara tidak lagi akan memungut pajak kepada rakyatnya dan tidak perlu berhutang kepada siapapun lagi.

Politik ekonomi islam

System ekonomi islam yang sudah dibangun dari tubuh system islam itu sendiri, akan terlihat secara legkap seperti bagan di atas. Maka bisa dilihat bahwa negara memiliki banyak sumber-sumber ekonomi.

Kita bisa lihat, pasar syari’ah ternyata hanya merupakan bagian kecil dari keseluruhan system ekonomi islam yang masuk pada area kepemilikan individu. Sector individu ini akan menyalurkan zakat, infaq dan shodaqoh kepada baitul mal (ibaratnya kementerian keuangan Negara).

Demikian juga hasil/keuntungan dari pengelolaan harta yang menjadi kepemilikan umum dan Negara akan masuk ke dalam baitul mal.

    • Dari Baitul mal, harta akan didistribusikan secara adil dan merata sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan negara berdasarkan hokum Islam 

Pendistribusian harta

Harta yang berada dalam baitul mal, akan didistribusikan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Antara lain:

  • Kebutuhan pokok Masyarakat.
  • Seperti pendidikan, kesehatan, keamanan. Misalnya: pendidikan gratis, biaya pengobatan gratis, dll.
  • Kebutuhan pokok Individu.
  • Kebutuhan akan sandang, pangan, dan papan. Negara misalnya menyediakan perumahan dengan cicilan tanpa bunga/ riba, atau mungkin gratis bagi mereka yang tidak mampu. Menjamin pemenuhan pangan yang halal bagi seluruh masyarakat,dll.
  • Membangun industri berat, infrastruktur, belanja Negara. Misalnya membangun pabrik senjata, membangun jembatan, membangun jalan sesuai kebutuhan masyarakat.
  • Kebutuhan permodalan untuk usaha.
  • Misalnya, Negara memberikan penjaman modal usaha yang bebas riba. Bahkan kalau Negara sudah sangat sejahtera, modal diberikan secara Cuma-cuma
  • Kebutuhan simpan pinjam.
  • Dengan ketentuan bebas dari unsur-unsur riba.
  • Kebutuhan transfer dan jasa lainnya.

Khatimah

Dalam islam, tidak ada larangan bagi seseorang untuk hidup mapan dan kaya. Tentunya kaya tersebut adalah kaya yang berkah, seperti Rasulullah SAW dan para sahabat. Yang harta tersebut memiliki keberkahan yaitu tambahan-tambahan kebaikan di dalamnya, baik untuk diri sendiri maupun bermanfaat bagi orang lain.

Harta yang barokah, hanya bisa kita raih secara sempurna ketika system kehidupan ini kembali pada syari’ah (aturan-aturan) Allah yang kaffah. Dimana system ekonomi pun akan bersumber pada system ekonomi islam itu sendiri, bukan dengan meminjam tubuh system ekonomi kapitalis ataupun system lainnya. Karena hanya system ekonomi Islam yang komprehensip/menyeluruh sajalah (bukan yang parsial) yang mampu menyelesaikan permasalahan-permasalahan ekonomi (kelaparan, kemiskinan, pengangguran, inflasi dll.) yang melanda dunia.

Sehingga seluruh manusia akan dapat hidup mapan dan barokah. Jauh dari rasa was-was ataupun khawatir karena jelas antara yang halal dan haram. Dan yang paling penting adalah Allah SWT meridhoi kehidupan kita di dunia dan akherat.

Semoga Artikel ini bermanfaat untuk Sahabat Rumah Kurma Sahara.
Silahkan berbelanja kurma di Rumah Kurma Sahara, Butuh perlengkapan haji? Ingat Toko Rumah Kurma Sahara!
Jalan Raya Semplak Atang Sandjaja No. 224
Bogor Barat – Kota Bogor
Customer Care : 0821-1141-8832 | 0878-7386-0559
Delivery : 0859-2512-6067
WA | PIN BB : 0878-7386-0559 | DA7A086

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *