Menjadi Muslimah di Era Modern

Cantik, modis, berpendidikan tinggi, punya penghasilan sendiri, barang-barang bermerek, dan hidup mandiri, seolah menjadi syarat mutlak untuk bisa disebut sebagai seorang perempuan modern. Gaya hidup yang dikelilingi oleh food, fun and fashion ini pun telah diadopsi oleh sebagian kalangan muslimah di berbagai negeri. Tak jarang aturan-aturan syariat pun ditabrak sana-sini demi predikat muslimah modern.

Mulai dari cara berpakaian, pergaulan, halal-haram makanan, dan tanggung jawab sebagai ibu dan istri, tidak lagi menjadi perhatian yang diutamakan demi memperoleh kebebasan dan persamaan derajat. Inikah potret muslimah modern yang hakiki?

I. Gerakan Feminisme
Fenomena yang sedang melanda kaum muslimah saat ini tak lepas dari kesuksesan gerakan feminisme yang sudah menggurita di hampir semua negara di dunia. Isu kesetaraan gender yang merupakan ide sentral gerakan ini telah mampu mengeluarkan sebagian kaum muslimah dari kemuliaannya yang sesungguhnya yang telah diberikan oleh Islam sejak empat belas abad silam kepada kemuliaan semu yang dijanjikan feminis.

 a. Lahirnya Feminisme Gelombang Pertama
Ide kesetaraan jender sebenarnya berangkat dari fakta diskriminatif yang menimpa kaum perempuan. Setelah Revolusi Amerika 1776 dan Revolusi Prancis pada 1792 berkembang pemikiran, bahwa posisi perempuan kurang beruntung daripada laki-laki dalam realitas sosialnya.

Ketika itu, perempuan, baik dari kalangan atas, menengah ataupun bawah, tidak memiliki hak-hak seperti hak untuk mendapatkan pendidikan, berpolitik, hak atas milik dan pekerjaan. Karena itu, kedudukan perempuan tidaklah sama dengan laki-laki di hadapan hukum.

Pada 1785 perkumpulan masyarakat ilmiah untuk perempuan pertama kali didirikan di Middelburg, sebuah kota di selatan Belanda.

Ide Kesetaraan Gender (KG) ini diusung oleh gerakan feminisme. Feminisme sendiri dicetuskan pertama kali oleh aktivis  Sosialis Utopis, Charles Fourier,  pada tahun 1837. Pergerakan yang berpusat di Eropa ini berpindah ke Amerika dan berkembang pesat sejak publikasi John Stuart Mill, The Subjection of Women (Perempuan sebagai Subyek) pada tahun (1869). Perjuangan mereka menandai kelahiran feminisme Gelombang Pertama.

Pada awalnya gerakan ini ditujukan untuk mengakhiri masa-masa pemasungan terhadap kebebasan perempuan. Secara umum kaum perempuan (feminin) merasa dirugikan dalam semua bidang dan dinomorduakan oleh kaum laki-laki (maskulin) dalam bidang sosial, pekerjaan, pendidikan, dan politik khususnya, terutama dalam masyarakat yang bersifat patriarki. Dalam masyarakat tradisional yang berorientasi agraris, kaum laki-laki cenderung ditempatkan di depan, di luar rumah, sementara kaum perempuan di dalam rumah. Situasi ini mulai mengalami perubahan ketika datang era Liberalisme di Eropa dan terjadinya Revolusi Prancis di abad ke-XVIII yang merambah ke Amerika Serikat dan ke seluruh dunia.

Situasi ini diperburuk oleh adanya fundamentalisme agama yang melakukan opresi terhadap kaum perempuan. Di lingkungan Kristen terjadi praktik-praktik dan khotbah-khotbah yang menunjang hal ini ditilik dari banyaknya gereja yang menolak adanya pendeta perempuan, dan beberapa jabatan “tua” hanya dapat dijabat oleh pria.

Pergerakan di Eropa untuk “menaikkan derajat kaum perempuan” disusul oleh Amerika Serikat saat terjadi revolusi sosial dan politik. Pada tahun 1792, Mary Wollstonecraft membuat karya tulis berjudul, Vindication of the Right of Woman (Mempertahankan Hak-hak Wanita), yang berisi prinsip-prinsip feminisme dasar yang digunakan di kemudian hari.

Pada tahun-tahun  1830-1840 sejalan dengan pemberantasan praktik perbudakan, hak-hak kaum prempuan mulai diperhatikan dengan adanya perbaikan dalam jam kerja dan gaji perempuan, diberi kesempatan ikut dalam pendidikan, serta hak pilih. Menjelang abad 19, feminisme lahir menjadi gerakan yang cukup mendapatkan perhatian dari para perempuan kulit putih di Eropa. Perempuan di negara-negara penjajah Eropa memperjuangkan apa yang mereka sebut sebagai keterikatan (perempuan) universal (universal sisterhood).

b. Feminisme Gelombang Kedua

Pada tahun 1960 muncul negara-negara baru. Ini menjadi awal bagi perempuan untuk mendapatkan hak pilih dan selanjutnya terlibat dalam ranah politik kenegaraan saat mereka diikutsertakan dalam hak suara parlemen. Gelombang kedua ini dipelopori oleh para feminis Perancis  seperti Helene Cixous (seorang Yahudi kelahiran Aljazair yang kemudian menetap di Prancis) dan Julia Kristeva (seorang Bulgaria yang kemudian menetap di Prancis) bersamaan dengan kelahiran dekonstruksionis, Derrida.

Dalam the Laugh of the Medusa, Cixous mengkritik logosentrisme yang banyak didominasi oleh nilai-nilai maskulin.

Di negeri-negeri kaum Muslim, ide ini dibawa oleh mereka yang mendapatkan pendidikan di Barat, atau yang telah di-brainwash di Barat. Tokoh-tokoh awal yang membawa ide ini masuk ke dunia Islam, sebut saja Rufa’ah at-Thahthawi di Mesir dan Khairuddin at-Tunisi. Mereka merupakan generasi awal yang dikirim ke Prancis. Ketika kembali ke negerinya, merekalah yang menyuarakan ide tahrir al-mar’ah (liberalisasi perempuan).

Jadi jelas bahwa ide ini secara historis bukan berasal dari Islam, tetapi berakar pada budaya kafir Barat, yang memang sejak awalnya telah memposisikan perempuan sebagai makhluk kelas bawah dan didrendahkan. Sementara Islam, sejak kehadirannya 1400 tahun yang lalu, telah memberikan kedudukan yang tinggi kepada perempuan. Karena itu, ide ini tidak memiliki akar sejarah dalam peradaban Islam.

II. Kartini Tokoh Emansipasi Wanita?
a. Biografi RA. Kartini
R.A Kartini, beliau lahir pada tanggal 21 April tahun 1879 di Kota Jepara, Hari kelahirannya itu kemudian diperingati sebagai Hari Kartini untuk menghormati jasa-jasanya pada bangsa Indonesia. Kartini lahir di tengah-tengah keluarga bangsawan oleh sebab itu ia memperoleh gelar R.A (Raden Ajeng) di depan namanya, gelar itu sendiri (Raden Ajeng) dipergunakan oleh Kartini sebelum ia menikah, jika sudah menikah maka gelar kebangsawanan yang dipergunakan adalah R.A (Raden Ayu).

Ayahnya bernama R.M. Sosroningrat, putra dari Pangeran Ario Tjondronegoro IV, seorang bangsawan yang menjabat sebagai bupati jepara, beliau ini merupakan kakek dari R.A Kartini. Ayahnya R.M. Sosroningrat merupakan orang yang terpandang sebab posisinya kala itu sebagai bupati Jepara kala Kartini dilahirkan. Ibunya bernama M.A. Ngasirah, beliau ini merupakan anak seorang kiai atau guru agama di Telukawur, Kota Jepara.

Sebagai seorang bangsawan, R.A Kartini juga berhak memperoleh pendidikan. Ayahnya kemudian menyekolahkan Kartini kecil di ELS (Europese Lagere School). Disinilah Kartini kemudian belajar Bahasa Belanda dan bersekolah disana hingga ia berusia 12 tahun sebab ketika itu menurut kebiasaan ketika itu, anak perempuan harus tinggal dirumah untuk ‘dipingit’. Meskipun berada di rumah, R.A Kartini aktif dalam melakukan korespondensi atau surat-menyurat dengan temannya yang berada di Belanda Rosa Abendanon, dan Estelle “Stella” Zeehandelaar sebab beliau juga fasih dalam berbahasa Belanda. Dari sinilah kemudian, Kartini mulai tertarik dengan pola pikir perempuan Eropa yang ia baca dari surat kabar, majalah serta buku-buku yang ia baca berbahasa Belanda.

Hingga kemudian ia mulai berpikir untuk berusaha memajukan perempuan pribumi sebab dalam pikirannya kedudukan wanita pribumi masih tertinggal jauh atau memiliki status sosial yang cukup rendah kala itu.

 b. Pemikiran Kartini (di dalam surat-suratnya)
Kartini besar dan belajar di lingkungan adat istiadat serta tata cara ningrat jawa, feodalisme. Ia hanya boleh bergaul dengan orang-orang Belanda atau orang-orang yang terhormat dan tidak boleh bergaul dengan rakyat.  Kartini tidak menyukai lingkungan yang demikian, ini terlihat dari isi suratnya yang ditujukan kepada Stella, tanggal 18 Agustus 1899 diantaranya: “Peduli apa aku dengan segala tata cara itu, segala peraturan-peraturan, semua itu bikinan manusia dan menyiksa diriku saja”.

Kartini mendobrak adat keningratan, karena menurutnya setiap manusia sederajat dan mereka berhak untuk mendapat perlakuan sama. Itu beliau lakukan pada masa dimana seseorang diukur dengan darah keningratan.  Semakin biru darah ningratnya semakin tinggi kedudukannya.  Ini terlihat dalam suratnya pada Stella pada tanggal 18 Agustus 1899: “Bagi saya hanya ada dua macam keningratan: Keningratan Pikiran (fikrah) dan Keningratan Budi (akhlak). Tidak ada yang lebih gila dan bodoh menurut persepsi saya daripada melihat orang yang membanggakan asal keturunannya. Apakah berarti sudah beramal sholeh, orang yang bergelar Graaf atau Baron!

Kartini berupaya untuk memajukan kaum wanita dimasanya (masa penjajahan).  Pada saat itu wanita  tidak mendapatkan hak pendidikan yang sama dengan laki-laki, mereka dinomor duakan, bahkan dalam segala aspek kehidupan. Perjuangan Kartini tidaklah berarti untuk menyaingi laki-laki, namun memberi kontribusi bagi perbaikan masyarakat Cita-citanya ini diungkapkan melalui suratnya kepada Prof Anton dan Nyonya, pada tanggal 4 Oktober 1902:  “Kami disini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak perempuan. Bukan sekali-sekali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tetapi, karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam (sunnatullah) sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.

Selain itu juga dapat di lihat dari suratnya kepada Nyonya Abendanon, 4 September 1901: “Pergilah! Laksanakan cita-citamu.  Bekerjalah untuk hari depan.  Bekerjalah untuk kebahagiaan beribu-ribu orang yang tertindas di bawah hukum yang tidak adil dan paham-paham palsu tentang mana yang baik (haq) dan mana yang jahat (bathil). Pergi! Pergilah! Berjuang dan menderitalah, tetapi bekerjalah untuk kepentingan yang abadi”. Dengan demikian, perjuangan Kartini bukan hanya untuk kepentingan wanita, namun jauh lebih luhur lagi adalah bagi perbaikan tatanan kehidupan.

Pada awalnya, perjuangan Kartini banyak dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran yang berasal dari luar Islam, namun pada dasarnya ia tidak memperjuangkan dan tidak menginginkan emansipasi dan feminisme. Keterpengaruhannya oleh pemikiran-pemikiran yang berasal dari luar Islam, dikarenakan ia belum memahami Islam secara benar. Ia mengaji dan membaca Al-qur’an tetapi tidak dapat memahai isinya, sehingga ia tidak bisa merealisasikan di dalam kehidupannya. Kartini merasa kecewa dan ini diungkapkan pada suratnya yang ditujukan kepada Abendanon, tertanggal 15 Agustus 1902 : “Dan waktu itu aku tidak mau lagi melakukan hal-hal yang aku tidak tahu apa perlunya dan apa manfatnya.  Aku tidak mau lagi membaca Al qur’an, belajar menghafalkan perumpamaan-perumpamaan dengan bahasa asing yang tidak aku mengerti artinya. Dan jangan-jangan ustadz dan ustadzahku pun tidak mengerti artinya. Katakanlah apa artinya, nanti aku akan mempelajari apa saja. Aku berdosa, kitab yang  mulia itu terlalu suci sehingga kami tidak boleh mengerti apa artinya”.

Selain itu Kartini memang banyak bergaul dengan orang-orang Yahudi dan Nasrani, seakan-akan mereka adalah orang yang ingin menolong Kartini, namun sebenarnya mereka adalah musuh dalam selimut. Mereka adalah Mr. J.H. Abendanon (memperalat Kartini untuk membaratkan gadis-gadis bumiputera saat itu, ia adalah teman Snouck Hurgronye, (orientalis Yahudi) dan istrinya; Dr. Adriani (sahabat pena Kartini, seorang ahli bahasa dan pendeta yang misinya menyebarkan agama Kristen di suku Toraja), Anni Glasser (Pengajar privat Kartini yang dikirim Abendanon untuk memata-matai dan mengikuti perkembangan Kartini, Stella (sahabat pena Kartini, wanita Yahudi, anggota militan Pergerakan Feminisme di Belanda), Ir. H. Van Kol (seorang insinyur, ahli dalam masalah-masalah kolonial, ia  mendukung Kartini sekolah ke Belanda untuk menjadikannya saksi hidup akan kebobrokan pemerintahan Hindia Belanda di tanah jajahan hingga dapat memenangkan partainya (Sosialis) di Parlemen), dan Ny. Van Kol (yang berusaha mengkristenkan Kartini).

c. Pemikiran Kartini setelah bertemu KH. Sholeh

Kartini diberi kesempatan oleh Allah SWT untuk memperbaiki dirinya, Ia bertemu dengan K.H. Muhammad Sholeh bin Umar, seorang ulama besar dari Darat, Semarang. Lewat Kyai ini, Kartini terbuka pikirannya dan meminta diajarkan agama dengan mempelajari Al Qur’an dengan cara yang dapat ia mengerti. Kemudian Kyai Sholeh Darat memberikan Al Qur’an yang diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa pada hari pernikahannya (Faizhur Rohman Fit Tafsiril Qur’an) jilid I yang terdiri dari 13 juz, mulai dari surat Al-Fatihah sampai dengan surat Ibrahim. Mulailah saat itu, Kartini mempelajari Islam dalam arti yang sesungguhnya. Namun tidak berlangsung lama, karena Kyai Sholeh Darat meninggal dunia sebelum ia menyelesaikan terjemahan Alqur’an tersebut.

Pengaruh agama Islam ternyata sangat kuat membentuk dirinya dan merubah cara pandangnya kepada Barat, ini dapat terlihat pada surat-suratnya: “Astaghfirullah, alangkah jauhnya saya menyimpang” (Ditujukan kepada Nyonya Abendanon, 5 maret 1902).
“Kami sekali-kali tidak hendak menjadikan murid-murid kami menjadi orang-orang setengah Eropa atau orang-orang Jawa yang kebarat-baratan” (Ditujukan kepada Ny Abendanon, 10 Juni 1902).
“Moga-moga Kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat umat agama lain memandang agama Islam patut di sukai” (ditujukan kepada Ny Van Kol, tgl 21 juli 1902).

Dan saya menjawab, Tidak ada Tuhan kecuali Allah. Kami mengatakan bahwa kami beriman kepada Allah dan kami tetap beriman kepada-Nya. Kami ingin mengabdi kepada Allah dan bukan kepada manusia. Jika sebaliknya tentulah kami sudah memuja orang dan bukan Allah” (ditujukan kepada Nyonya Abendanon, 12 Oktober 1902).

Sudah lewat masanya, tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik, tiada taranya. Maafkan kami, tetapi apakah ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa di balik hal yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal-hal yang sama sekali tidak patut disebut sebagai peradaban?” (ditujukan kepada Ny. Abendanon, 27 Oktober 1902).

Bagaimana pendapatmu tentang Zending, jika bermaksud berbuat baik kepada rakyat Jawa semata-mata atas dasar cinta kasih, bukan dalam rangka Kristenisasi????.  Bagi orang Islam, melepaskan keyakinan sendiri memeluk agama lain, merupakan dosa yang sebesar-besarnya“ (ditujukan kepada  Abendanon, 31 Januari 1903).

“Kesusahan kami hanya dapat kami keluhkan kepada Allah, tidak ada yang dapat membantu kami dan hanya Dialah yang dapat menyembuhkannya” (Ditujukan kepada Abendanon, 1 Agustus 1903).

Ingin benar, saya menggunakan gelar tertinggi, yaitu: hamba Allah (Abdullah)” (ditujukan kepada Nyonya Abendanon, 1 Agustus 1903).

Pada saat  Kartini mempelajari Al Qur’an melalui terjemahan berbahasa jawa, Kartini menemukan dalam surat Al Baqarah:257, Firman Allah SWT yang artinya: “Allah Pemimpin orang-orang yang beriman.  Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya.  Dan orang-orang kafir pemimpin-pemimpin mereka ialah Thaghut, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan.  Mereka itu adalah penghuni neraka, mereka kekal didalamnya”.

Maknanya: bahwa Allah lah yang telah membimbing orang-orang yang beriman dari kegelapan kepada cahaya (Min adz-Dzulumâti ila an-Nûr). Kartini sangat terkesan dengan ayat ini. Dalam banyak suratnya sebelum wafat, Kartini banyak mengulang kata-kata Dari Gelap Kepada Cahaya, yang olehnya ditulis dalam bahasa Belanda dengan Door Duisternis tot Licht.  Kemudian makna ini bergeser tatkala Armijn Pane menerjemahkan kata Door Duisternis tot Licht  dengan kalimat “Habis Gelap Terbitlah Terang”.  Kalimat ini sedikit demi sedikit telah menghilangkan makna yang dalam, karena diambil Kartini dari pemahamannya akan ayat  Al qur’an, menjadi sesuatu yang puitis namun tidak memilik arti ruhiyyah.

Selanjutnya perjuangan Kartini, banyak disalahartikan oleh wanita-wanita Indonesia, dan telah dimanfaatkan oleh pejuang-pejuang Feminisme untuk menipu para wanita, agar mereka beranggapan bahwa perjuangan Feminisme memiliki akar di negerinya sendiri, yaitu perjuangan Kartini. Padahal jelas, Kartini, memang pada awal pemikirannya masih memandang bahwa kebebasan perempuan yang diberikan Eropa merupakan mimpi yang ingin diwujudkannya. Namun setelah beliau mempelajari Islam, pemikirannya berubah drastis dan kemudian menjadikan Islam sebagai landasan berpikirnya untuk mewujudkan harapannya agar kondisi perempuan dapat keluar dari gelap kepada cahaya, sebagai hamba Allah dengan Allah langsung sebagai pemimpinnya.

III. Islam dan Emansipasi
Sebagian ahli tafsir ada yang mengutip riwayat, bahwa Ummu Salamah pernah menyampaikan kepada Nabi ihwal warisan yang berbeda antara kaum pria dengan wanita, “Ya Rasulullah, kaum pria berperang, sedangkan kami tidak, sehingga kami bisa mendapatkan mati syahid. Kami pun hanya mendapatkan bagian saparuh warisan (kaum pria).” (HR. Imam Ahmad, At Tirmizi).

Lalu Allah menurunkan QS an-Nisa’ [04]: 32 sebagai berikut:

وَلا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبُوا وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبْنَ وَاسْأَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا

Janganlah kalian iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kalian lebih banyak dari sebagian yang lain. (Sebab) bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, bagi para wanita (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.(QS an-Nisa’ [4]: 32).

Ayat ini intinya menegaskan bahwa Allah menjadikan masing-masing kelompok ini (pria dan wanita) dengan bagiannya, sesuai dengan ketentuan iradah (kehendak) dan hikmah-Nya.

Namun, riwayat ini tidak bisa digunakan sebagai argumen, bahwa ide jender ini juga dimiliki oleh sahabat, termasuk Ummul Mukminin. Sebab, konteks pernyataan Ummu Salamah ini terkait dengan keinginannya untuk bisa mendapatkan kemuliaan sebagaimana kaum pria. Bisa berjihad, terlibat perang dan mendapatkan mati syahid. Meski ayat ini didahului larangan, yaitu La tatamannau (Janganlah kalian iri), tidak serta merta ayat ini menafikan jerih-payah kaum perempuan. Sebaliknya, ayat ini menegaskan, bahwa apa saja yang dilakukan oleh kaum pria pasti akan kembali kepada dirinya. Demikian juga kaum wanita. Apapun yang dia lakukan, juga akan kembali kepada dirinya. Ini artinya, baik pria maupun wanita, bisa meraih kemuliaan yang sama di hadapan Allah dengan amal yang mereka lakukan.

Ketika wanita tidak bisa dan tidak wajib berjihad, Nabi saw. menyatakan:

جِهَادُكُنَّ اَلْحَجُّ أَوْ حَسْبَكُنَّ الْحَجّ

Jihad kalian (kaum wanita) adalah haji, atau cukup bagi kalian (kaum wanita) dengan haji” (HR al-Bukhari).

Bahkan di dalam sebuah hadits tentang Asma’ binti Yazid Al-Anshariyah radhiallahu ‘anha, disebutkan bahwa dia mendatangi Rasulullah, sementara beliau sedang duduk di antara para sahabatnya. Asma’ berkata, “Aku korbankan bapak dan ibuku demi dirimu ya Rasulullah. Saya adalah utusan para wanita di belakangku kepadamu. Sesungguhnya Allah mengutusmu kepada seluruh laki-laki dan wanita, maka mereka beriman kepadamu dan kepada Tuhanmu. Kami para wanita selalu dalam keterbatasan, sebagai penjaga rumah, tempat menyalurkan hasrat dan mengandung anak-anak kalian, sementara kalian – kaum laki-laki – mengungguli kami dengan shalat Jum’at, shalat berjamaah, menjenguk orang sakit, mengantar jenazah, berhaji setelah sebelumnya sudah berhaji dan yang lebih utama dari itu adalah jihad fi sabilillah. Jika lah seorang dari kalian pergi haji atau umrah atau jihad maka kamilah yang menjaga harta kalian, yang menenun pakaian kalian yang mendidik anak-anak kalian. Bisakah kami menikmati pahala dan kebaikan ini sama seperti kalian ?

Nabi memandang para sahabat dengan seluruh wajahnya. Kemudian beliau bersabda, “Apakah kalian pernah mendengar ucapan seorang wanita yang lebih baik pertanyaannya tentang urusan agamanya daripada wanita ini?” mereka menjawab, “Ya Rasulullah, kami tidak pernah menyangka ada wanita yang bisa bertanya seperti dia.” Nabi menengok kepadanya dan bersabda, “Pahamilah wahai ibu. Dan beritahu para wanita di belakangmu bahwa ketaatan istri kepada suaminya, usahanya untuk memperoleh ridhanya dan kepatuhannya terhadap keinginannya menyamai semua itu.” Wanita itu berlalu dengan wajah berseri-seri. (Usudul Ghaayah fi ma’rifatis shahabah 7/17, Darul Kutub Al-‘Ilmiyah, Cet. Ke1, 1415 H. Asy-Syamilah)

Ketika ada wanita ditampar oleh suaminya, dia datang kepada Nabi saw. dan meminta agar diberi hak untuk membalas tamparan suaminya. Awalnya, Nabi saw. membolehkan pembalasan (qishash) tersebut, namun Allah segera menegur Nabi saw., dan turunlah:

فَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ وَلا تَعْجَلْ بِالْقُرْآنِ مِنْ قَبْلِ أَنْ يُقْضَى إِلَيْكَ وَحْيُهُ وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا

Janganlah kamu membacakan al-Quran (kepada siapapun) sebelum wahyu-Nya sampai (dibacakan tuntas) kepadamu, dan katakanlah, Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan” (QS. Thaha [20]: 114).

Nabi pun berhenti, kemudian turun ayat:

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ وَاللاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin atas kaum wanita karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita) dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu, wanita yang salih ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasihatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Mahatinggi lagi Mahabesar” (QS an-Nisa’ [4]: 34).

Ayat ini menjelaskan, bahwa kaum pria ditetapkan oleh Allah sebagai qawwam (mengurus dan mengontrol) kaum perempuan. Kata qawwam ini merupakan bentuk mubalaghah dari kata qa’im, karena dianggap kaum prialah yang paling pas untuk melaksanakan tugas ini.

Penetapan status ini diikuti dengan alasan (sababiyah), bima fadhala-Llah (karena kelebihan yang Allah berikan kepada pria); wa bima anfaqu (karena harta yang mereka belanjakan untuk kaum wanita). Selain kewajiban, Allah juga memberikan hak kepada kaum pria (suami) untuk mendidik istrinya, ketika dikhawatirkan melakukan nusyuz. Begitulah Islam mengatur kehidupan pria dan wanita. Masing-masing dengan hak dan kewajibannya.

Namun, ayat-ayat seperti ini juga ditentang oleh pengusung ide kesetaraan jender karena dianggap diskriminatif atau setidaknya harus ditafsirkan ulang agar sejalan dengan konotasi yang mereka inginkan. Karena itu, ide kesetaraan jender ini jelas bukan merupakan ide Islam, bahkan jelas-jelas tidak memiliki akar di dalam Islam. Ide ini juga ditolak oleh Islam.

Dengan kata lain, ide kesetaraan jender ini merupakan ide kufur, yang tidak boleh diadopsi, diterapkan dan diusung oleh seorang Muslim. Hukum mengadopsi, menerapkan dan mengusung ide ini jelas-jelas haram dalam pandangan Islam, sebagaimana mengusung ide-ide kufur yang lain.

IV. Hukum Islam tentang Perempuan tidak Berubah

Islam sebagai agama yang sempurna, sejak diturunkan kepada rasulullah Muhammad SAW 14 abad yang lalu, telah memberikan kedudukan yang tinggi dan mulia kepada kaum perempuan. Hukum-hukum yang berkaitan dengan perempuan benar-benar telah memberikan perlindungan dan menjaga kehormatan, kecantikan, dan kemuliaan mereka. Di samping itu, hukum-hukum ini juga telah menciptakan keseimbangan kehidupan umat manusia antara kaum lelaki dan perempuan. Sehingga, kaum perempuan dengan proporsinya memiliki hal-hal istimewa yang tidak dimiliki oleh kaum lelaki. Begitu juga sebaliknya. Dengan demikian mereka akan hidup saling melengkapi.

Namun di sisi lain, Islam memandang bahwa kedua jenis makhluk ini setara dan sejajar dalam hukum-hukum yang lain, seperti kewajiban-kewajiban dalam beribadah, hokum-hukum kriminal dan beberapa hokum kehidupan sosial.

Maka hukum Islam tentang perempuan ini tidak akan berubah meskipun para aktivis feminisme dan liberal berusaha untuk menggubahnya.

Berikut diantara hukum-hukum ynag berkaitan dengan perempuan.

 a. Perempuan sebagai seorang istri
Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ta’atilah Allah dan Rasul-Nya.” (QS. Al- Ahzab (33) : 33).

Dunia adalah perhiasan, perhiasan yang terbaik adalah wanita yang sholehah.” (HR. Muslim)

Siapa saja yang diberikan oleh Allah seorang wanita sholehah berarti ia telah menolong dirinya pada satu bagian dari agamanya. Oleh karena itu, ia harus bertaqwa kepada Allah untuk bagian agamanya yang lain”. (HR al-Hakim)

b. Perempuan sebagai ibu dan manager di rumahnya
Dari berbagai jalan dari Nafi’ dari Ibnu Umar dari Nabi SAW bersabda: “Setiap kamu adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya, kepala negara adalah pemimpin bagi rakyatnya dan dia bertanggung jawab atas kepemimpinannya, laki-laki adalah pemimpin atas keluarganya dan dia bertanggung jawab atas kepemimpinannya, wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan anak-anaknya dan dia bertanggung jawab atas kepemimpinannya, dan seorang hamba adalah pemimpin atas harta tuannya dan dia bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Maka setiap kamu adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas kepemimpinanmu itu”. (Sunan Abu Dawud, Jami’ al Ahadits karya Jalaludin as Suyuthi, dan Fathul Bari).

c. Perempuan tidak boleh menjadi pemimpin kekuasaan
Dari Muhammad bin Mutsanna dari Khalid bin Harits dari Humaid dari Hasan dari Abi Bakrah berkata: “Allah menjagaku dengan sesuatu yang kudengar dari Rasulullah SAW ketika kehancuran Kisra, beliau bersabda: Siapa yang menggantikannya? Mereka menjawab: Anak perempuannya. Nabi SAW bersabda: Tidak akan beruntung suatu kaum yang menyerahkan urusannnya kepada seorang wanita” (Diriwayatkan oleh Ahmad, Bukhari, Tirmidzi dan Nasa’i dari Abu Bakrah)

 d. Perempuan dan laki-laki punya kesempatan yang sama untuk urusan ampunan dan pahala.

Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mu’min, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam keta’atannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut [nama] Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar” (QS. Al Ahzab (33) :35).

e. Perempuan dan laki-laki sama- sama wajib amar ma’ruf nahi munkar
Allah SWT memerintahkan amalan amar ma’ruf nahi munkar dalam berbagai ayat. Demikian pula hadits rasul-Nya. Perintah-perintah tersebut berbentuk umum yang ditujukan kepada baik laki-laki maupun perempuan.

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar; [1] merekalah orang-orang yang beruntung” (QS. Ali – Imran (3) : 104).

Serulah (manusia) ke jalan Rabmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah dengan cara yang baik “ (An Nahl 125).

Katakan, inilah jalanku. Aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak kepada agama Allah dengan hujjah yang nyata” (Yusuf 108).

Dan dalam hadits rasul-Nya, di antaranya:
Sampaikanlah dariku, walaupun satu ayat” (H. R. Bukhari).

Apabila salah seorang diantara kamu melihat kemunkaran, maka hendaklah ia mengubahnya dengan tangan, jika tidak mampu cegahlah dengan lisan, jika tidak mampu cegahlah dengan hati, yang demimkian itu adalah selemah-lemah iman” (HR. Muslim)

 f. Perempuan berhak mendapat nafkah
Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan juga seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian…..” (al-Baqarah: 233)

‘’Dan mereka (para istri) mempunyai hak diberi rizki dan pakaian (nafkah) yang diwajibkan atas kamu sekalian (wahai para suami).’’ (HR. Muslim).

V. Perempuan tetap bisa hebat ketika kembali kepada kodratnya

Perempuan, dengan segala potensi fisik maupaun non fisik yang dianugerahkan oleh sang Pencipta kepadanya, menjadikan ia memiliki kodrat yang sangat mulia, yaitu sebagai ummun wa rabbatil bait (ibu dan pengatur rumah tangga). Dia bertanggung jawab akan suami, anak-anak maupun rumah tangganya. Di balik keberhasilan, kesuksesan, dan keshalihan suami dan anak-anaknya, ada peran yang sangat penting yang telah dijalankan seorang perempuan di dalam area kehidupan domestiknya. Yang semua itu tentu diamalkan sesuai tuntunan Islam.

Di samping itu, perempuan juga memiliki tanggung jawab sosial yang besar di dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Mendidik dan membina kaum perempuan dengan tuntunan dan tuntutan Islam, menjaga dan mengawal generasi penerus umat, serta membangun kontrol masyarakat yang sesuai dengan harapan Islam. Inilah yang dituntut dari peran publik perempuan.

Dengan demikian, keseimbangan dua peran penting inilah –area domestic dan area public yang akan dapat mewujudkan lahirnya perempuan-perempuan hebat di dalam kacamata syariat sebagaimana yang telah diraih oleh para muslimah generasi shahabiyyah, tabi’in dan setelahnya.

Tentu saja untuk dapat menjadi perempuan hebat seperti di atas tidaklah mudah. Namun setiap muslimah yang mau bekerja keras, gigih untuk ber-thalabul ‘ilmu (belajar), dan istiqomah untuk tetap berada di jalan Allah, sehingga akan terbentuklah aspek aqliyah Islam dan aspek nafsiyah Islam yang kokoh, akan bisa menjadi perempuan hebat tersebut.

VI. Contoh- contoh perempuan hebat

Terwujudnya perempuan muslimah hebat dengan kategori di atas bukanlah omong kosong. Sebutlah beberapa istri rasulullah SAW seperti Khadijah, Ummu Salamah, Aisyah, dan Hafshah. Mereka adalah para perempuan hebat hasil didikan langsung dari rasulullah SAW.

Khadijah Ra, sungguh luar biasa dukungan dan pengorbanan beliau terhadap perjuangan suaminya, rasulullah SAW. Sejak pertama rasulullah SAW menerima wahyu, beliau tidak pernah berhenti membantu dan mendampinginya sampai akhir hayatnya. Begitu pula Aisyah Ra. Dengan kecerdasan nya yang luar biasa, baliau menjadi rujukan dan tempat bertanya bagi para shahabat setelah rasulullah SAW wafat. Beliau juga telah meriwayatkan lebih dari dua ribu hadits. Demikian pula Ummu Salamah Ra yang juga telah meriwayatkan beberapa hadits dari rasulullah SAW dan Hafshah Ra. yang dapat menjaga keotentikan dan kelengkapan lembaran-lembaran tulisan Al Quran. Mereka juga telah memberikan sumbangsih yang sangat hebat kepada Islam. Begitu juga, sederet nama dari kalangan shahabiyyah seperti Nusaibah, Khansa’, Ummu Sulaim, dan lain-lain, merupakan perempuan-perempuan hebat yang patut dijadikan teladan.

Dari generasi perjuangan kemerdekaan negara kita sendiri, banyak terdapat nama muslimah yang hingga saat ini tak pupus dimakan waktu karena kehebatan mereka. Sebut saja Cut Nyak Dien (pejuang dari Aceh), Rohana Kudus (dari Sumatera Barat), Malahayati (laksamana perempuan dari Aceh), dan sebagainya.

Mereka inilah para perempuan yang patut dikatakan hebat dan berkelas, yang sepak terjangnya dapat memberikan kebaikan baik bagi diri dan keluarga mereka maupun juga bagi agama dan bangsa mereka.

Tidakkah kita pun ingin seperti mereka?

Penutup

Menjadi muslimah di era modern tidaklah pantas dengan menanggalkan identitas diri sebagai muslimah sejati. Justru sikap seperti ini akan membuat kita semakin jauh dari ridho-Nya dan jauh dari jalan-jalan ketaatan kepada-Nya. Jika ini terjadi, maka kebinasaan dan malapetaka di dunia dan akhiratlah yang akan kita tuai.

Maka, menjadi muslimah hebat di era modern, justru harus dengan semakin meningkatkan ilmu, ketaqwaan dan berkiprah secara optimal baik dalam kehidupan domestik maupun publik. Muslimah seperti inilah yang sangat dibutuhkan Islam saat ini hingga cita-cita perjuangan untuk mewujudkan khayra ummah (umat terbaik) bisa terwujud, inshaAllah.

Semoga Artikel ini bermanfaat untuk Sahabat Rumah Kurma Sahara.
Silahkan berbelanja kurma di Rumah Kurma Sahara, Butuh perlengkapan haji? Ingat Toko Rumah Kurma Sahara!
Jalan Raya Semplak Atang Sandjaja No. 224
Bogor Barat – Kota Bogor
Customer Care : 0821-1141-8832 | 0878-7386-0559
Delivery : 0859-2512-6067
WA | PIN BB : 0878-7386-0559 | DA7A086

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *