Mengawal Anak Memasuki Usia Baligh

” Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik.”(Qs.Ali Imran 3;110).

 Ayat ini merupakan acuan kita sebagai orangtua dalam mendidilk dan menjawab semua problematika anak-anak kita. Dimana kita mengharapkan anak-anak kita sebagai umat terbaik yang dilahirkan untuk menyuruh yang makruf dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah SWT.

” Didiklah anakmu sesuai dengan zamanya, karena meraka hidup bukan dizamanMu” ( Ali Bin Abi Thalib)

 Dari quote ini saja ternyata Islam juga diajarkan untuk mendidik anak sesuai zamannya, tidak otoriter sesuai yang dianut oleh orangtua zaman terdahulu, perlu ada penyesuaian. Pada zaman sekarang dimana era digital sangat merajalela bahkan diatas segala galanya, kita sebagai orang tua khususnya seorang ibu harus mempunyai kesadaran tentang dunia digital. Dimana kita harus mempunyai pengetahuan tentang hal tersebut.Sehingga kita juga tidak menjadi korban digital (larut dalam polemik digital), kecanduan dan ketergantungan. Orang Tua dituntut untuk menyadari betul pemanfaatan, ancaman dan kerusakan digital.

Sebagai contoh :

  1. Harus tahu kapan mengenalkan HP/Ipad dan pengawasan penggunaannya.

2.Anak zaman now senantiasa memerlukan explanation dan argumentasi yang bisa            diterima.

3.Anak zaman now tidak bisa dengan metode ancaman atau direndahkan, mereka                 perlu encouragement.

 

Membangun Konsep Diri Postif kepada Anak

Sesungguhnya Allah SWT berfirman :

“Aku sebagaimana prasangka hambaKu kepada-Ku” (HR.Turmudzi)

Jika kita berprasangka baik padaNya, maka kebaikan akan menyelimuti hidup kita. Sebaliknya jika kita berprasangka buruk pada-Nya, maka keburukan akan benar-benar menimpa kita.

Dari hadist diatas dapat kita simpulakan bahwa Konsep diri adalah pemberian pandangan atau nilai pada diri seseorang yang akan mempengaruhi pemikiran dan perasaan.Individu mengembangkan konsep dirinya dengan cara menginternalisasikan persepsi orang-orang terdekat dalam memandang dirinya. Jika individu memperoleh perlakuan yang penuh kasih sayang maka individu akan menyukai dirinya. Seseorang akan menyukai dirinya jika orang tua memperlihatkan penilaian yang positif terhadap si individu. Ungkapan seperti “Anakku Rajin” membuat anak memandang dirinya secara positif dibandingkan dengan nama panggilan “Si Pemalas”. Atau contoh lain seperti “Kamu Soleh” maka kata yang akan tertanam difikiran anak adalah saya sholeh sehingga hal-hal ini akan membuat anak kita mempunyai perasaab percaya diri ,tidak mudah menyerah dan suka tantangan.Sebaliknya, jika individu mendapatkan hukuman dan situasi yang tidak menyenangkan maka individu akan merasa tidak senang pada dirinya sendiri. Umpan balik dari teman sebaya dan lingkungan sosial selain keluarga mulai mempengaruhi pandangan dan juga penilaian individu terhadap dirinya.

 

  1. Prinsip-prinsip Mendidik Anak

 

Mendidik anak merupakan pekerjaan yang sulit, karena (dalam menghadapi) mereka membutuhkan kesabaran dan kecerdikan (untuk mengambil hatinya).

Termasuk di antaranya, ada anak yang butuh perlakuan lembut, ramah, tidak suka dibentak-bentak dengan keras. Dan jika diperlakukan dengan cara sebaliknya, niscaya ia akan membangkang. Ada pula anak yang perlu dikerasi, tapi tetap tidak melebihi batas kewajaran. Apabila sampai berlebihan maka akan menyebabkan anak sulit diatur dan tidak patuh terhadap nasehat kedua orang tuanya.

Kita memohon kepada Allah agar mengkaruniakan kebaikan kepada kita dan menjaga kita dalam (memikul) tanggung jawab yang besar sebagai orang tua. Allah SWTberfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka. “(At-Tahrim: 6).

 Sehingga harus ada upaya tolong menolong di antara suami istri dalam mendidik anak-anaknya. Jika salah satu meremehkan kewajiban ini niscaya akan terjadi kekurangan pada sisi yang merupakan tanggung jawabnya kecuali Allah menghendaki yang lain.

Tujuan Pendidikan Islam adalah membentuk kepribadian Islam dimana pola berfikir Islami dan pola prilaku Islami. Ketika berfikir pola pikirnya Islam dan ketika bertindak sandarannya Islam.

 

Azas Pendidikan:

1.Berbasis Aqidah Islam

Sebagai mana yang diriwayatkan oleh Al Hakim dari ibnu Abbas ra bahwa Nabi SAW

bersabda :“ Bukakanlah untuk anak-anak kalian pertama kalinya dengan kalimat Laa Ilaha Illallah (Tiada sesembah yang hak kecuali Allah).

Pendidikan islam adalah proses pembentukan kepribadian manusia kepribadian islam yang luhur. Bahwa pendidikan islam bertujuan untuk menjadikannya selaras dengan tujuan utama manusia menurut islam, yakni beribadah kepada Allah swt.

  1. Berbasis Orang Tua

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ

فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ كَمَثَلِ الْبَهِيمَةِ تُنْتَجُ

  • الْبَهِيمَةَ هَلْ تَرَى فِيهَا جَدْعَاءَ

Nabi SAW bersabda “Setiap anak dilahirkan di atas fitrah. Kedua orang tuanya lah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi. Sebagaimana binatang ternak yang melahirkan binatang ternak dengan sempurna.Apakah kalian melihat ada cacat padanya?”

Hal ini sebagaimana keterangan yang ada dalam hadits tentang pengaruh yang dilakukan kedua orang tua terhadap anaknya yang menjadikan si anak beragama Yahudi, Nasrani, atau Majusi.

 

  1. Tahapan Pendidikan Anak Menuju Baligh

 

Allah SWT berfirman, “Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya.” (QS. Thaha: 132).

“Perintahkan anak-anak kalian untuk melakukan shalat saat usia mereka tujuh tahun, dan pukullah mereka saat usia sepuluh tahun. Dan pisahkan tempat tidur mereka.” (Dishahihkan oleh Al-Albany dalam Irwa’u Ghalil, no. 247)

 Maka anak kecil dan budak anak kecil diperintahkan untuk melakukan shalat saat mereka berusia tujuh tahun dan dipukul saat mereka berusia sepuluh tahun. Sebagaimana mereka juga diperintahkan untuk berpuasa Ramadan dan dimotivasi untuk melakukan segala kebaikan, seperti membaca Al-Quran, shalat sunah, haji dan umrah, memperbanyak membaca tasbih, tahlil, takbir dan tahmid serta melarang mereka dari semua bentuk kemaksiatan.

Disyaratkan dalam masalah memukul anak yang tidak shalah yaitu pukulan yang tidak melukai, tidak membuat kulit luka, atau tidak membuat tulang atau gigi menjadi patah. Pukulan di bagian punggung  atau pundak dan semacamnya. Hindari memukul wajah karena diharamkan memukul wajah berdasarkan larangan Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Pukulan hendaknya tidak lebih dari sepulu kali, tujuannya semata untuk pendidikan dan jangan perlihatkan pemberian hukuman kecuali jika dibutuhkan menjelaskan hal tersebut karena banyaknya penentangan anak-anak atau banyak yang melalaikan shalat, atau semacamnya.

 

  1. Apa yang seharusnya terbentuk pada anak usia 10 tahun

Pada anak yang harus sudah terbentuk pola hidup dasar muslim :

  • Shalat wajib dengan disiplin.
  • Membaca dan menghafal Quran dengan disiplin.
  • Melangsungkan kebiasaan syara’ sehari-hari : spt izin,menutup aurat,tidak khalwat, tidak ikhthilat dst
  • Tidak buang waktu (displin).
  • Sadar posisi (sebagai anak,sebagai kakak,sebagai pelajar,sebagai teman dsb).
  • -Mendudukan orangtua dan guru sebagai pihak yang harus didengar nasihatnya,dituruti perintahnya dan ditaati — Karena memandang semua ada pada orang tua da gurunya.
  • Bertanggung jawab terhadap milik pribadi dan kegiatan yang sudah dilakukan.
  • Belajar dan bermain sesuai porsi.
  • Bersih dan rapi.

Tetapi apabila umur 10 tahun sudah baligh maka harus ditreatment seperti baligh. Dimana baligh berarti penanda berjalannya Taklif Syar’iy (pahala dan dosa) atas dirinya.

 

Tanda Baligh:

  • Anak laki-laki : mimpi basah, tumbuh rambut kemaluan, muncul jakun dan suara membesar.
  • Anak perempuan : haid, membesarnya buah dada dan pinggul (potensi membesar kesamping)

Ketika baligh tiba :

  • Malu dan takut.
  • Anak perempuan menjadi lebih sensitive, anak laki-laki lebih cenderung ke perasaan seksual.
  • Gejolak kuat pada diri ( terasa semangat meletup-letup). Sehingga penasaran dan selalu ingin mencoba hal baru.
  • Bagi anak perempuan, merasa butuh menjadi “pusat perhatian”.Bagi anak laki-laki, penting merasa “puas”.
  • Emosi atau gampang tersinggung/marah.
  • Tertarik pada lawan jenis.
  • Tidak suka digurui, tapi butuh sahabat.

 

  1. Apa Yang Bisa Kita Lakukan

“Pendekatan dan Pendidikan Orang Tua dan Guru sebelum Baligh menetukan Penyikapan Anak Terhadap Fase Baligh-nya.”

 

Mendidik Anak Ala Nabi

1.Pendekatan

– Menjadi teladan yang baik.

– Melihat waktu yang tepat.

– Bersikap adil pada sesame anak.

– Memenuhi hak anak.

– Mendoakan anak.

– Membantu anak berbuat baik dan taat.

– Jangan mencela.

 

2.Memasukan Pemikiran

– Membawakan kisah (story telling).

– Berbicara langsung.

– Sesuai kapasitas akal anak.

– Mengajak berdialog.

– Pengalaman praktis.

– Mengajarkan kehidupan Nabi, Sahabat dan Ulama.

 

  1. Membentuk Nasiyah

– Menemani anak (sebagai teman, sahabat).

– Menanamkan keceriaan dan kebahagian dalam jiwa anak.

– Bermain bersama anak dan bertingkah seperti mereka saat bermain.

– Pujian dan sanjungan (motivasi dan menumbuhkan rasa percaya diri).

– Targhiib (Berita gembira/harapan) Watarhiib (berita buruk/ancaman).

 

  1. Memenuhi keinginan dan memuaskan anak.

– Mengulang-ulang.

– Bertahap dalam melangkah.

– Menanamkan jiwa kompetensi dan memberi penghargaan kepada anak.

– Panggilan yang baik.

  1. Harapan Kita sebagai Orang Tua

Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apayang dikerjakannya. [ath-Thûr/52:21]

Sungguh, benar-benar sebuah kenikmatan yang membahagiakan, manakala orang tua berjumpa kembali dengan anak-anaknya. Suatu kenikmatan yang sangat besar. Kemurahan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang sangat luas. Namun, persyaratan yang harus ada, yaitu anak-anak mereka juga beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya, sebagaimana tercantum secara jelas dalam ayat.

جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ

  • وَذُرِّيَّاتِهِمْ وَالمَلاَئِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِم مِّن كُلِّ بَابٍ

(yaitu) surga `Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu; (QS, 13:23).

 Maksudnya, Allah mengumpulkan mereka dengan orang-orang yang mereka cintai di dalam surge itu, yaitu bapak-bapak, isteri-isteri dan anak cucu mereka yang termasuk patut untuk masuk surga, dari kalangan orang-orang yang beriman, supaya mereka terhibur dan senang dapat berkumpul dengan mereka semua, sehingga Allah mengangkat derajat mereka yang rendah menjadi lebih tinggi berkat anugerah dan kebaikan Allah kepada mereka, tanpa mengurangi derajat orang-orang yang memang memiliki derajat yang tinggi.

Semoga Artikel ini bermanfaat untuk Sahabat Rumah Kurma Sahara.
Silahkan berbelanja kurma di Rumah Kurma Sahara, Butuh perlengkapan haji? Ingat Toko Rumah Kurma Sahara!
Jalan Raya Semplak Atang Sandjaja No. 224
Bogor Barat – Kota Bogor
Customer Care : 0821-1141-8832 | 0878-7386-0559
Delivery : 0859-2512-6067
WA | PIN BB : 0878-7386-0559 | DA7A086

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *