Manajemen Prasangka

Allah SWT berfirman, yang artinya:

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan…”(QS,al-Hujuurat;12)

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw pernah berpesan kepada umat Islam untuk menjauhi prasangka buruk, karena prasangka buruk termasuk sedusta-dusta perkataan.

إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَاِنَّ الظَّنَّ اَكْذَبُ الْحَدِيث ،وَلاَتَحَسَّسُوا وَلآتَجَسَّسُوْا وَلآتَحَاسَدُوا وَلآتَدَابَرُواوَلآتَبَاغَضُوا وَكُوْنُوْا عِبَادَ اللهِ إِخْوَانًا (رواه البخارى)

Artinya: “Jauhilah sifat berprasangka karena sifat berprasangka itu adalahsedusta-dusta pembicaraan. Dan janganlah kamu mencari kesalahan, memata-matai,janganlah kamu berdengki-dengkian, janganlah kamu belakang-membelakangi danjanganlah kamu benci-bencian. Dan hendaklah kamu semua wahai hamba-hamba Allahbersaudara.” (HR. Bukhori)

 

Hanya saja sebagai manusia, jiwa kita terkadang diliputi oleh kegundahan dan emosi yang salah satu sebabnya adalah kearifan jiwa yang lemah.

Berikut akan kami paparkan beberapa hal yang harus diperhatikan agar seseorang memiliki kearifan jiwa, sehingga dirinya tidak dihantui oleh perasaan yang selalu diliputi prasangka.

 

Stop Prasangka Buruk!

Seseorang bisa tidak menjadi arif akibat prasangka yaitu buruk sangka yang sampai kapanpun akan memompa darah dan emosi, sehingga setan pun akan mudah masuk ke dalam jiwa. Kalau prasangka buruk ini  dibiarkan bersemayam dalam jiwa, maka yakinlah bahwa hanya penyesalan yang akan kita peroleh. Untuk itu sangat penting bagi kita untuk meningkatkan kearifan jiwa ini, caranya yaitu:

  1. Jangan buruk sangka.

Buruk sangka hukumnya haram, karena akan merusak keharmonisan rumah tangga, keluarga, maupun keharmonisan kehidupan masyarakat.Allah SWTmenyerukan kepada orang-orang yang beriman agar menjauhi prasangka, karena prasangka itu termasuk dosa dan kesombongan.

Banyak terjadi persengketaan dalam bermasyarakat karena sikap buruk sangka. Kadang-kadang masalah kecil bisamenjadi besar sehingga timbul rasa dengki dan dendam yang berkepanjangan. Oleh sebab itu, setiap orang yang ingin mendapat ridha Allah hendaklah selalu berprasangka baik (husnuzon).

Secara individual prasangka buruk dapat menyebabkan tumbuhnya sikap negatif, rasa curiga, dan ketidak-nyamanan dalam diri sendiri. Orang yang berprasangka buruk dan curiga terhadap orang lain setiap saat akan merasa tidak aman, merasa terancam oleh sesuatu yang sebenarnya hanya ada dalam angan-angan.

Dia merasa terancam oleh bahaya yang sebenarnya tidak ada. Disamping hilangnya kenyamaan dan keamanan, prasangka buruk akan menghancurkan rasa percaya kepada diri sendiri. Artinya secara individu prasangka buruk dapat menyebabkan hilangnya ketenteraman bathin, dan bila tidak segera diatasi dapat menyebabkan tumbuhnya kepribadian yang buruk pada seseorang.

Seorang istri yang berburuk sangka kepada suaminya akan selalu berusaha membuktikan prasangka buruknya dengan jalan mengawasi suaminya selama 24 jam dalam sehari. Suami yang selalu dicurigai akan merasa serba salah dan kehilangan kenyamanan hidupnya. Prasangka buruk yang berlebihan juga akan menyebabkan istri salah memberikan penilaian terhadap sikap dan tindakan suami. Kesalahan kecil bisa nampak besar, sehingga membahayakan keutuhan rumah tangga mereka. Begitu pula sebaliknya bila suami berprasangka buruk kepada istrinya.

Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullahu menyebutkan dari mayoritas ulama dengan menukilkan dari Al-Mahdawi, bahwa “zhan yang buruk terhadap orang yang zahirnya baik tidak dibolehkan. Sebaliknya, tidak berdosa berzhan yang jelek kepada orang yang zahirnya jelek.” (Al Jami’ li Ahkamil Qur`an, 16/218)

Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu berkata “Zhan yang diharamkan adalah zhan yang terus menetap pada diri seseorang, terus mendiami hatinya, bukan zhan yang sekadar terbetik di hati lalu hilang tanpa bersemayam di dalam hati. Karena zhan yang terakhir ini di luar kemampuan seseorang. Sebagaimana yang telah lewat dalam hadits bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala memaafkan umat ini dari apa yang terlintas di hatinya selama ia tidak mengucapkannya atau ia bersengaja1.” (Al-Minhaj, 16/335)

Sufyan rahimahullahu berkata, “Zhan yang mendatangkan dosa adalah bila seseorang berzhan dan ia membicarakannya. Bila ia diam /menyimpannya dan tidak membicarakan nya maka ia tidak berdosa.”

  1. Tidak terburu-buru.

Jangan terburu-buru menilai dan memutuskan sesuatu hanya karena adanya prasangka.terdapat perbedaan antara “terburu-buru” dengan “cepat”.Terburu-buru adalah cepat-cepat memutuskan sesuatu dan menilai sesuatu tanpa berdasarkan argument dan hujjah yang jelas.Cepat adalah cepat memutuskan atas dasar argumentasi, hujjah, dan fakta dalam Bahasa arabnya di sebut dengan istilah (Syur’atul badhihah = cepat berpikir).

  1. Cek berita

Allah berfirman,

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”. [Al Hujurat : 6].

Dalam ayat ini, Allah melarang hamba-hambanya yang beriman berjalan mengikut desas-desus. Allah menyuruh kaum mukminin memastikan kebenaran berita yang sampai kepada mereka. Tidak semua berita yang dicuplikkan itu benar, dan juga tidak semua berita yang terucapkan itu sesuai dengan fakta.

Menyamakan Frekuensi

Para pembaca yang budiman, tak sedikit akibat persoalan sepele, kearifan menjadi sirna. Siapapun yang ingin melekatkan sikap arif perlu melihat sesuatu dari berbagai sudut, termasuk sudut pandang orang lain. Manusia manapun sangat mungkin memiliki pandangan ‘jernih’. Kalau kita ingin didengar oleh orang lain, ingin agar orang lain memahami apa yang kita pikirkan, ingin agar pemahaman kita jadi bahan pertimbangan, tapi sudahkah kita memenuhi keinginan orang lain untuk dipahami pikirannya, yang tentu sama dengan keinginan kita? Boleh saja merasa bahwa kitalah yang paling tahu, tapi percayalah kita tidak lebih tahu tentang diri dan pikiran orang lain atau sebaliknya.

Agar pemahaman kita bertambah, maka perlu mengetahui pemahaman orang lain. Andai pemahamannya beda, berarti kita telah memiliki pemahaman tambahan. Gagal memahami pikiran orang lain sama dengan menutup satu pintu keberhasilan, termasuk keberhasilan dalam dakwah. Sebaliknya kita akan mudah masuk kedalam hati sanubari dan pikiran orang lain dengan memahami apa sebenarnya tangisan dan impian yang di dambakan oleh orang lain. Bila kita ingin mendengarkan radio dan menyatu dengan siarannya maka kita harus menyetel radio tersebut pada frekuensinya. Dalam tataran manusiawi, penyamaan frekuensi ini adalah dengan memahami pandangan orang lain.

Bayangkan apa yang terjadi apabila Umar bin Khatab tidak mendengarkan pandangan Abu Bakar dalam menyikapi kematian Rasulullah saw. Pada saat mendengar Baginda terkasih meninggal, seakan tak percaya Umar bin Khattab berkata,” Siapa yang mengatakan Muhammad SAW telah meninggal, maka aku akan tebas lehernya! Namun akhirnya beliau bisa ditenangkan setelah Abu Bakar RA berkata:

Barangsiapa diantara kamu menyembah Muhammad, sesungguhnya Muhammad telah meninggal dunia. Tetapi barangsiapa menyembah Allah, sesungguhnya Allah hidup terus, dan tidak akan mati.”Dibacalah firman Allah SWT:

“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah Jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.”(TQS.Ali Imran;144)

 

Sabar, Tahan Emosi!

Sudahkah kita dapat menahan emosi kita? Tertundukkankah emosi kita? Atau emosi masih kita dahulukan? Apa yang terjadi ketika kita mengendarai mobil tiba-tiba mobil kita mogok? Atau naik kendaraan umum kemudian kendaraan yang kita tumpangi mogok? Bayangkanlah kita sedang berada di mesjid, kemudian datang orang, dan tiba-tiba dia kencing di situ. Bagaimana reaksi kita? Apakah kita marah? Atau Bersabar? Nabi saw mencontohkan pengendalian emosi dalam mewujudkan suatu kearifan.

Dari Anas bin Malik r.a, beliau berkata, “Seorang Arab Badui pernah memasuki masjid, lantas dia kencing di salah satu sisi masjid. Lalu para sahabat ketika itu meneriakinya dan berkeinginan untuk mencegahnya, namun Rasulullah saw dengan penuh bijaksana bersabda, ”Jangan kalian putuskan kencingnya!”. Maka tatkala orang tersebut selesai dari kencingnya, Nabi menyuruh agar tempat yang terkena air kencing tersebut disiram dengan seember air, lalu memanggil orang Badui tadi dan bersabda kepadanya, “Sesungguhnya masjid ini tidak layak untuk membuang kotoran di dalamnya, namun ia dipersiapkan untuk shalat, membaca al Qur’an dan dzikrullah.” (Hadits Riwayat al Bukhari-Muslim).

 

Sikap emosional dapat meruntuhkan kesabaran. Pencegahan sikap emosional adalah dengan cara menghindari penyebab-penyebabnya, antara lain: sombong, kagum pada diri sendiri, angkuh.

Ketika sikap emosional datang, bersegeralah berlindung dari godaan setan. Berwudhulah! Tarik nafas dalam-dalam! Ubahlah posisi!

Nabi saw bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian marah ketika berdiri, maka hendaklah ia duduk. Apabila marahnya tidak hilang juga, maka hendaklah ia berbaring.” (HR Ahmad).

 

Berpikir Matang

Berpikir matang berarti memikirkan akibat segala persoalan sebelum bertindak. Berpikir matang berarti berwawasan kedepan. Berpikir matang berarti menggunakan kaidah “Berpikir sebelum berbuat demi meraih suatu tujuan tertentu.”Nabi saw mencontohkan bagaimana beliau selalu berpikir matang. Misalnya ketika didatangi utusan Quraisy melalui pamannya Abu Thalib. “Wallahi, Demi Allah. Seandainya mereka meletakkan matahari di tangan kananku, dan bulan di tangan kiriku, agar aku menghentikan dakwah ini, niscaya aku tidak akan menghentikan dakwah ini hingga Allah memenangkannya atau aku binasa.”

 

Introspeksi Diri

Tanpa introspeksi, tiap orang akan merasa benar sendiri. Tanpa introspeksi tidak akan ada dialog dan musyawarah. Tanpa introspeksi berarti telah menutup perbaikan atas kekurangan diri sendiri. Dengan introspeksi, kesadaran akan kekurangan dan kelemahan diri akan ditemukan.

 

Keras Dalam Keyakinan, Lembut Dalam sikap

Pernah mengamati air? Kelembutan air mengandung kedahsyatan luar biasa. Kelembutan bukanlah kelemahan tapi kehebatan. Menjinakkan hati dengan memberi maaf ketika dihina, berbuat baik ketika disakiti, bersikap lembut saat dikasari, dan bersabar disertai upaya perubahan jika di dzolimi, cemoohan dibalas dengan kesabaran, ketergesa-gesaan dibalas dengan kehati-hatian, inilah diantara cara menarik orang kedalam magnet islam. Dengan kelembutan Nabi menyatukan para sahabat.

Imam Syafi’i:”Suatu ketika aku pernah mendapat penghinaan dari orang bodoh, namun aku tak menanggapinya. Dia semakin bodoh dan aku semakin bijak. Ibarat batang kayu cendana, semakin hangus dibakar, semakin harum baunya. Jika orang-orang bodoh bertutur kata didepanmu, janganlah engkau tanggapi! Sebaik-baik tanggapan untuk mereka adalah dengan bersikap diam. Jika kau harus berbicara di hadapan mereka, janganlah sampai terbawa arus pendapat yang diciptakan mereka. Dan jika kau berpaling dari mereka, wajah mereka akan tampak pucat pasi.”

 

Khatimah

Ingatlah! Kearifan tidak diperdagangkan. Dia harus dicari sendiri. Letaknya tidak jauh. Dia ada di dalam diri kita sendiri. Ambillah dengan cara melaksanakannya.

Hilangkan prasangka, jauhi egoism, pahami pandangan orang lain, sabar dan tahan emosi, berpikirlah matang, introspeksi diri, dan keraslah dalam keyakinan namun lembut dalam sikap keseharian. Itulah jalan meretas kearifan jiwa. Itulah manajemen prasangka.

Semoga Artikel ini bermanfaat untuk Sahabat Rumah Kurma Sahara.
Silahkan berbelanja kurma di Rumah Kurma Sahara, Butuh perlengkapan haji? Ingat Toko Rumah Kurma Sahara!
Jalan Raya Semplak Atang Sandjaja No. 224
Bogor Barat – Kota Bogor
Customer Care : 0821-1141-8832 | 0878-7386-0559
Delivery : 0859-2512-6067
WA | PIN BB : 0878-7386-0559 | DA7A086

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *