Malu dan Perkataan baik; Mahkota Akhlak Terindah

Kata malu ini sudah tidak asing lagi bagi kita setiap insan. Terutama sebagai seorang muslim kita harus menanamkan rasa malu didalam diri untuk menjaga keimanan kita, karena di zaman sekarang ini sudah banyak orang-orang di sekitar kita yang hilang sifat malu, baik itu malu pada diri sendiri, malu kepada Allah, dan bahkan malu kepada orang lain.

Terkadang, manusia biasa lupa akan hakikat malu itu sendiri seperti apa, dan bagaimana menempatkan malu itu yang benar. Islam mengajarkan disetiap diri seorang muslim harus ada sifat malu. Seperti diriwayatkan dari Ibnu Umar ra,
أن رسولَ اللهِ مر على رجلٍ من الأنصارِ وهو يَعِظُ أخاه في الحياءِ فقال رسولُ الله صلى الله عليه وسلم: دعْه فإن الحياءَ من الإيمانِ

“Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam melewati seorang lelaki Anshar yang sedang menasehati saudara agar saudaranya tersebut punya sifat malu. Maka RasulullahShallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Biarkan ia, karena sesungguhnya malu itu bagian dari iman.” (HR. Al Bukhari 24, Muslim 36).

Apa lagi seperti di zaman yang serba modern dan canggih ini pasti jauh dari etika yang sebenarnya. Oleh karena itu pentingnya kita mengetahui, bagaimana keutamaan sifat malu itu, agar kita dapat mengendalikan diri kita, dan dapat menempatkan sifat malu itu pada tempatnya sehingga kita meraih ridho Allah SWT.

Pengertian malu
Malu pada dasarnya adalah sifat yang terpuji dalam Islam, karena dengan memiliki sifat malu seseorang terhindar dari berbagai perbuatan tercela.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
اَلْحَيَاءُ خَيْرٌ كُلُّهُ.
 “Malu itu semuanya baik.” (HR.Muslim, no. 54).

Dari Abu Mas’ud, ‘Uqbah bin ‘Amr Al Anshari Al Badri ra, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya diantara yang didapat manusia dari kalimat kenabian yang terdahulu ialah : Jika engkau tidak malu, berbuatlah sekehendakmu.” (HR. Bukhari)

Maksud dari hadits diatas, diantaranya :

Pertama, bentuk hadits di atas adalah perintah tapi maksudnya adalah pemberitaan. Hal ini di karenakan sebagai pencegah utama agar manusia tidak terjerumus ke dalam kejahatan adalah sifat malunya. Maka jika ia meninggalkan sifat malunya, ia seakan-akan di perintahkan untuk mengerjakan semua larangan.

Kedua, hadits di atas merupakan ancaman, artinya lakukan apa saja yang kau inginkan karena sesungguhnya Allah akan membalas semua perbuatanmu.

Ketiga, lihatlah kepada apa yang ingin engkau lakukan. Jika tidak termasuk yang membuat malu maka lakukanlah, jika termasuk yang membuat malu, maka tinggalkanlah.

Keempat, hadits di atas mendorong pada sifat malu dan memuji keutamaannya. Artinya karena seseorang tidak boleh berprilaku semata-mata mengikuti kehendak hatinya, maka ia tidak boleh meninggalkan sifat malunya.

Menurut al-Quran dan as-Sunnah yang Shahih

Pengertian malu menurut bahasa berarti perubahan, kehancuran perasaan atau duka cita yang terjadi pada jiwa manusia karena takut di cela. Adapun asal kata al-hayaa u (malu) berasal dari kata al-hayaatu (hidup), juga berasal dari kata al-hayaa (air hujan).

Sedangkan menurut istilah adalah akhlaq yang sesuai dengan sunnah yang membangkitkan fikiran untuk meninggalkan perkara yang buruk sehingga akan menjauhkan manusia dari kemaksiatan dan menghilangkan kemalasan untuk menjalankan hak Allah.

Pengertian malu dari beberapa Ulama
Menurut Imam Ibnul Qayyim, Haya’ atau malu berasal dari kata hayah (hidup).
Menurut Al-Jurjani, malu adalah mundurnya diri dari sesuatu dan meninggalkannya karena khawatir mendapat celaan di dalamnya.

Sedangkan menurut Ibnu Alan, malu adalah akhlak yang mendorong seseorang untuk meninggalkan perkataan,perbuatan, dan akhlak yang buruk, dengan malu seseorang tidak akan seenaknya sendiri dalam menunaikan hak orang lain.

Malu Itu Asalnya Terpuji

Malu adalah bagian dari iman, artinya tidak sempurna iman seseorang kecuali ia memiliki sifat malu. Dalam Shahihain Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

الإيمانُ بِضعٌ وستونَ شُعبةً ، والحَياءُ شُعبةٌ منَ الإيمانِ

“Iman itu enam puluh sekian cabang, dan malu adalah salah satu cabang dari iman.” (HR. Al Bukhari 9, Muslim 35).

Rasulullah juga memutlakkan sifat malu dengan kebaikan, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

الحياءُ لا يأتي إلَّا بخيرٍ

“Malu itu tidak datang kecuali dengan kebaikan.” (HR. Al Bukhari 6117, Muslim 37).

Malu Yang Tercela
Walaupun sifat malu itu terpuji, namun malu bisa menjadi tercela jika ia menghalangi seseorang untuk mendapatkan ilmu agama atau melakukan sesuatu yang benar. Para salaf mengatakan:

لا ينال العلم مستحى و لا مستكبر

“Orang yang pemalu tidak akan meraih ilmu, demikian juga orang yang sombong”.

Dan jika kita menelaah perbuatan salafus shalih, ternyata dalam hal-hal yang biasanya orang-orang malu melakukannya, mereka tidak malu jika itu demi mendapatkan ilmu agama atau demi melakukan yang benar dan terhindar dari kesalahan dan dosa. Sebagaimana kisah Ummu Sulaim radhiallahu’anha, beliau bertanya kepada Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam:

يا رسولَ اللهِ ، إنَّ اللهَ لا يَستَحِي منَ الحقِّ ، فهل على المرأةِ غُسلٌ إذا احتَلَمَتْ ؟ فقال : ( نعمْ ، إذا رأتِ الماءَ

“Wahai Rasullah, sesungguhnya Allah itu tidak merasa malu dari kebenaran. Apakah wajib mandi bagi wanita jika ia mimpi basah? Rasulullah bersabda: ‘ya, jika ia melihat air (mani).” (HR. Al Bukhari 6121, Muslim 313).

Permasalahan mimpi basah tentu hal yang tabu untuk dibicarakan. Namun lihatlah, Ummu Salamah radhiallahu’anha tidak malu menanyakannya demi mendapatkan ilmu dan demi melakukan hal yang benar. Dan Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam pun tidak mengingkarinya. Karena andai ia tidak bertanya kepada Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam tentu ia tidak tahu bagaimana fiqih yang benar dalam perkara ini dan akan terjerumus dalam kesalahan.

Demikianlah, seseorang tidak boleh malu dalam melakukan yang haq dan dalam menjauhi kesalahan dan dosa. Malu ketika akan melakukan yang haq atau malu untuk menjauhi kesalahan dan dosa, pada hakekatnya itu bukanlah malu dalam pandangan syariat. Coba renungkan kembali makna malu yang disampaikan Ibnu Rajab rahimahullah di atas.

Bahkan yang demikian adalah sifat lemah dan pengecut. Sifat pengecut ini tercela, RasulullahShallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

شَرُّ مَا فِي رَجُلٍ شُحٌّ هَالِعٌ وَجُبْنٌ خَالِعٌ

“Seburuk-buruk sifat yang ada pada seseorang adalah sifat pelit yang sangat pelit dan sifat pengecut yang sangat pengecut.” (HR. Abu Daud 2511, dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ahadits Shahihah 560).

Malu terbagi dua bagian :

1. Malu kepada Allah
Malu kepada Allah adalah jalan untuk menegakkan segala bentuk Ketaatan dan menjauhi segala bentuk kemaksiatan. Ketahuilah sesungguhnya celaan Allah itu diatas seluruh celaan. Dan pujian Allah subhanahu wata’ala itu diatas segala pujian.

Orang yang tercela adalah orang yang dicela oleh Allah. Orang-orang yang terpuji adalah orang-orang yang dipuji oleh Allah. Maka haruslah lebih malu kepada Allah dari pada yang lain. Malu merupakan sebagian dari iman.
Nabi SAW bersabda, “Iman itu memiliki tujuh puluh cabang lebih, yang paling utama adalah ucapan laa ilaaha illallah (tiada illah yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah), dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan rasa malu termasuk salah satu cabang iman.” (HR. Muslim).

2. Malu kepada Manusia
Termasuk jenis malu adalah malunya sebagian manusia kepda sebagian yang lain. Sebagaimana malunya seorang anak kepada orangtuanya, isteri kepada suaminya, orang bodoh kepada orang pandai, serta malunya seorang gadis untuk terang-terangan menyatakan ingin menikah.

Dari ‘Aisyah radhiallahu’anha, bahwasannya ia berkata, “Wahai Rasulullah Shollallahu’alaihi Wa Sallam, sesungguhnya gadis itu malu.” Maka Rasulullah Shollallahu’alaihi Wa Sallam bersabda, “Persetujuannya diketahui dari diamnya”.

Malu berkaitan dengan akhlak mulia yang lain seperti menjaga kemuliaan diri (al-‘Iffah), mengutamakan orang lain (al-Īthār), sabar, lemah lembut, pemaaf dan menggauli keluarga dengan baik.

Sekarang tanya pada diri kita apakah kita lebih malu pada Allah SWT  atau malu pada manusia? Tentunya jawaban kita adalah malu kepada Allah SWT, sebab :

Seperti yang tertulis di beberapa surat didalam Al-qur’an:
أَلَمْ يَعْلَمْ بِأَنَّ اللَّهَ يَرَى

“Tidaklah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat segala perbuatannya?” (QS. Al-Alaq:4)

إنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
“Sesungguhnya Allah mengawasi kalian.” (QS. An-Nisa: 1)

وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
“Dan Allah Maha Melihat terhadap apa yang kalian kerjakan.” (QS. Al-Baqarah: 265)

Keutamaan sifat malu

  • Malu adalah salah satu sifat Allah (Al- Hayyiyu) dari Salman Al-Farisi ra, Rasulullah SAW bersabda;“Sesungguhnya Rabb-mu (Allah) Ta’ala adalah Maha Pemalu lagi maha mulia, Dia malu terhadap hamba-Nya (yang berdoa dengan) mengangkat kedua tangannya kepada-Nya kemudian Dia menolaknya dengan hampa.“ (HR. Abu Dawud, At-Tirmizdi, Ibnu Hibban, Ibnu Majah).

Malunya Allah adalah malu (yang disertai) kemulian, yang tidak dapat ditangkap oleh pikiran dan tidak diketahui prosesnya oleh akal. Ia adalah malu kemurahan, kebaikan, kedermawanan, dan keagungan.

  • Malu pada hakikatnya tidak mendatangkan sesuatu kecuali kebaikan. Malu mengajak pemiliknya agar menghias diri dengan yang mulia dan menjauhkan diri dari sifat-sifat yang hina.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اَلْـحَيَاءُ لاَ يَأْتِيْ إِلاَّ بِخَيْـرٍ.

“Malu itu tidak mendatangkan sesuatu melainkan kebaikan semata-mata.” (Muttafaq ‘alaihi).Dalam riwayat Muslim disebutkan, اَلْـحَيَاءُ خَيْرٌ كُلُّهُ. “Malu itu kebaikan seluruhnya.” [Shahîh: HR.al-Bukhâri (no. 6117) dan Muslim (no. 37/60), dari Shahabat ‘Imran bin Husain]

Malu adalah akhlak para Nabi , terutama pemimpin mereka, yaitu Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lebih pemalu daripada gadis yang sedang dipingit.

Malu adalah cabang keimanan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Iman memiliki lebih dari tujuh puluh atau enam puluh cabang. Cabang yang paling tinggi adalah perkataan ‘Lâ ilâha illallâh,’ dan yang paling rendah adalah menyingkirkan duri (gangguan) dari jalan. Dan malu adalah salah satu cabang Iman.”
[Shahîh: HR.al-Bukhâri dalam al-Adâbul Mufrad (no. 598), Muslim (no. 35), Abû Dâwud (no. 4676), an-Nasâ-i (VIII/110) dan Ibnu Mâjah (no. 57), dari Shahabat Abû Hurairah. Lihat Shahîhul Jâmi’ ash-Shaghîr (no. 2800).]

  • Allah Azza wa Jalla cinta kepada orang-orang yang malu. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ حَيِيٌّ سِتِّيْرٌ يُـحِبُّ الْـحَيَاءَ وَالسِّتْرَ ، فَإِذَا اغْتَسَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَتِرْ. “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla Maha Pemalu, Maha Menutupi, Dia mencintai rasa malu dan ketertutupan. Apabila salah seorang dari kalian mandi, maka hendaklah dia menutup diri.[Shahîh: HR.Abû Dawud (no. 4012), an-Nasâ-i (I/200), dan Ahmad (IV/224) dari Ya’la Radhiyallahu ‘anhu]
  • Malu adalah akhlak para Malaikat. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
    أَلاَ أَسْتَحْيِ مِنْ رُجُلٍ تَسْتَحْيِ مِنْهُ الْـمَلاَ ئِكَةُ. “Apakah aku tidak pantas merasa malu terhadap seseorang, padahal para Malaikat merasa malu kepadanya.” [Shahîh: HR.Muslim (no. 2401)]
  • Malu adalah akhlak Islam. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
    إِنَّ لِكُلِّ دِيْنٍ خُلُقًا وَخَلُقُ اْلإِسْلاَمِ الْـحَيَاءُ. “Sesungguhnya setiap agama memiliki akhlak, dan akhlak Islam adalah malu.”  [Shahîh: HR.Ibnu Mâjah (no. 4181) dan ath-Thabrâni dalam al-Mu’jâmush Shaghîr (I/13-14) dari Shahabat Anas bin Malik t. Lihat Silsilah al-Ahâdîts ash-Shahîhah (no. 940)]
  • Malu sebagai pencegah pemiliknya dari melakukan maksiat. Ada salah seorang Shahabat Radhiyallahu ‘anhu yang mengecam saudaranya dalam masalah malu dan ia berkata kepadanya, “Sungguh, malu telah merugikanmu.” Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda.دَعْهُ ، فَإِنَّ الْـحَيَاءَ مِنَ الإيْمَـانِ. “Biarkan dia, karena malu termasuk iman.”[Shahîh: HR.al-Bukhâri (no. 24, 6118), Muslim (no. 36), Ahmad (II/9), Abû Dâwud (no. 4795), at-Tirmidzî (no. 2516), an-Nasâ-i (VIII/121), Ibnu Mâjah (no. 58), dan Ibnu Hibbân (no. 610) dari Ibnu ‘Umar radhiyallâhu ‘anhu.]

Abu ‘Ubaid Al-Harawi rahimahullâh berkata, “Maknanya, bahwa orang itu berhenti dari perbuatan maksiatnya karena rasa malunya, sehingga rasa malu itu seperti iman yang mencegah antara dia dengan perbuatan maksiat.” [Fathul Bâri (X/522).]

  • Malu senantiasa seiring dengan iman, bila salah satunya tercabut hilanglah yang lainnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
    اَلْـحَيَاءُ وَ اْلإِيْمَانُ قُرِنَا جَمِـيْعًا ، فَإِذَا رُفِعَ أَحَدُهُمَا رُفِعَ اْلاَ خَرُ. “Malu dan iman senantiasa bersama. Apabila salah satunya dicabut, maka hilanglah yang lainnya.”[Shahîh: HR.al-Hâkim (I/22), ath-Thabrâni dalam al-Mu’jâmush Shaghîr (I/223), al-Mundziri dalam at-Targhîb wat Tarhîb (no. 3827), Abû Nu’aim dalam Hilyatul Auliyâ’ (IV/328, no. 5741), dan selainnya. Lihat Shahîh al-Jâmi’ish Shaghîr (no. 3200).]
  • Malu akan mengantarkan seseorang ke Surga. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اَلْـحَيَاءُ مِنَ اْلإِيْمَانِ وَ َاْلإِيْمَانُ فِـي الْـجَنَّةِ ، وَالْبَذَاءُ مِنَ الْـجَفَاءِ وَالْـجَفَاءُ فِـي النَّارِ.

“Malu adalah bagian dari iman, sedang iman tempatnya di Surga dan perkataan kotor adalah bagian dari tabiat kasar, sedang tabiat kasar tempatnya di Neraka.”[Shahîh: HR.Ahmad (II/501), at-Tirmidzî (no. 2009), Ibnu Hibbân (no. 1929-Mawârid), al-Hâkim (I/52-53) dari Abû Hurairah t . Lihat Silsilah al-Ahâdîts ash-Shahîhah (no. 495) dan Shahîh al-Jâmi’ish Shaghîr (no. 3199).]

Konsekuensi malu menurut syariat Islam
Rasulullah saw. bersabda,
“Hendaklah kalian malu kepada Allah Azza wa Jalla dengan sebenar-benar malu. Barang-siapa yang malu kepada Allah dengan sebenar-benar malu, maka hendaklah ia menjaga kepala dan apa yang ada padanya, hendaklah ia menjaga perut dan apa yang dikandungnya, dan hendaklah ia selalu ingat kematian dan busuknya jasad. Barangsiapa yang menginginkan kehidupan akhirat hendaklah ia meninggalkan perhiasan dunia. Dan barangsiapa yang mengerjakan yang demikian, maka sungguh ia telah malu kepada Allah Azza wa Jalla dengan sebenar-benar malu.”
[Hasan: HR.at-Tirmidzi, Ahmad, al-Hâkim ]

Wanita muslimah dan rasa malu
Wanita Muslimah menghiasi dirinya dengan rasa malu. Di dalamnya kaum muslimin bekerjasama untuk memakmurkan bumi dan mendidik generasi dengan kesucian fithrah kewanitaan yang selamat.

Al-Qur-anul Karim telah mengisyaratkan ketika Allah Ta’ala menceritakan salah satu anak perempuan dari salah seorang bapak dari suku Madyan. Allah Ta’ala berfirman,
“Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua perempuan itu berjalan dengan malu-malu, dia berkata, ‘Sesungguhnya ayahku mengundangmu untuk memberi balasan sebagai imbalan atas (kebaikan)mu memberi minum (ternak kami)…” [Al-Qashash: 25]

Buah dari rasa malu adalah ‘iffah (menjaga kehormatan). Siapa saja yang memiliki rasa malu hingga mewarnai seluruh amalnya, niscaya ia akan berlaku ‘iffah. Dan dari buahnya pula adalah bersifat wafa’ (setia/menepati janji).

 

• Wanita pemalu selalu menjaga lisannya dan tidak menggoda dengan tingkah lakunya

•Tidak perlu baginya perhatian lelaki pada paras apalagi badan, malah risih dan sungkan bila harus berada ditengah lelaki

• Wanita yang miliki sifat malu pada manusia tentu lebih malu pada Allah, maka tak perlu diminta dua kali untuk menutup auratnya karena Allah

• Dia malu bila harus bermaksiat pada Zat Yang Memberi Hidup, karenanya dia jauhi maksiat baik sendiri apalagi berduaan atau di halayak ramai.
• Saat dijadikan pasangan hidup, maka wanita pemalu ini menyenangkan, karena saat bersamanya akan senantiasa ingat Allah.

•Benarlah lisan Rasulullah saw,  “Malu tidaklah mendatangkan kecuali kebaikan.” (HR Bukhari Muslim)

• Renungkan, “Malu itu bagian iman, dan iman di surga, sedang kata kasar termasuk perangai kasar, dan perangai kasar di neraka.” (HR Tirmidzi)

Rasa malu bisa diupayakan dengan cara :
• Pertama, melihat betapa banyak nikmat dan karunia Allah SWT. yang diberikan kepada kita.

• Kedua, melihat betapa kurangnya kita memenuhi hak-Nya dan melaksanakan hal-hal yang diwajibkan-Nya kepada kita, baik melaksanakan perintah-Nya atau menjauhi larangan-Nya.

• Ketiga, kita mengetahui dan berusaha memunculkan kesadaran bahwa Allah melihat setiap keadaan dan gerak-gerik kita di setiap saat dan dimanapun kita berada. Tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari-Nya.

• Apabila perasaan ini telah terkumpul dalam hati sanubari seorang hamba, ia akan merasakan rasa malu yang begitu kuat kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala. Lalu dari sifat malu inilah muncul kebaikan-kebaikan lainnya.

Khatimah
Malu merupakan suatu sikap untuk menghindarkan diri dari perkataan, perbuatan, dan akhlak yang buruk, karena dengan adanya sifat malu seseorang dapat mengendalikan diri dan tidak bersikap semaunya kepada orang lain.

Oleh karena itu, sifat malu dijadikan sebagai warisan Nabi saw. dan disebarkan dari generasi ke generasi hingga sekarang ini.Sesungguhnya seseorang apabila bertambah kuat rasa malunya maka ia akan melindungi kehormatannya, mengubur dalam-dalam kejelekannya, dan menyebarkan kebaikan-kebaikannya.

Imam Ibnu Hibban al-Busti rahimahullaah berkata, “Wajib bagi orang yang berakal untuk bersikap malu terhadap sesama manusia.” Diantara berkah yang mulia yang didapat dari membiasakan diri bersikap malu adalah akan terbiasa berperilaku terpuji dan menjauhi perilaku tercela.

Disamping itu berkah yang lain adalah selamat dari api Neraka, yakni dengan cara senantiasa malu saat hendak mengerjakan sesuatu yang dilarang Allah. Siapa yang hilang rasa malunya, pasti akan hina dan dibenci.

Siapa yang sedikit rasa malunya, ia akan berbuat sekehendaknya dan berucap apa saja yang disukainya.Tidak ada obat bagi orang yang hilang rasa malunya, kecuali memikirkan ‘Allah Maha Malu, YAA HAYYIYU sesungguhnya Allah sangat mencintai rasa malu.

Jika ingin dicintai oleh Allah, maka tumbuhkanlah rasa malu di diri kita dengan kembali kepada Syariatnya Allah SWT.

Semoga Artikel ini bermanfaat untuk Sahabat Rumah Kurma Sahara.
Silahkan berbelanja kurma di Rumah Kurma Sahara, Butuh perlengkapan haji? Ingat Toko Rumah Kurma Sahara!
Jalan Raya Semplak Atang Sandjaja No. 224
Bogor Barat – Kota Bogor
Customer Care : 0821-1141-8832 | 0878-7386-0559
Delivery : 0859-2512-6067
WA | PIN BB : 0878-7386-0559 | DA7A086

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *