Kemuliaan Ibadah Shalat

Shalat merupakan salah satu kewajiban bagi kaum muslimin yang sudah mukallaf (Orang dewasa yang ‎sudah terbebani oleh hukum ) dan harus dikerjakan walaupun sedang dalam perjalanan. Shalat adalah ‎sebagai pondasi agama islam, menjadi parameter ibadah dan ketaatan seseorang dalam melakukan ‎amal perbuatan. Suatu bangunan tidak akan berdiri tegak kecuali dengan adanya pondasi yang kokoh. ‎Shalat merupakan rukun iman yang kedua setelah syahadat. Yang mana, mendirikan shalat dan ‎melaksanakannya diawal waktu secara istiqomah merupakan bagian dari iman, dan akan ‎mengantarkan pelakunya ke syurga. Sebaliknya melalaikan shalat akan menimbulkan murkanya Allah ‎SWT. ‎

Dari hadist Shahih Bukhari meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. menerima perintah shalat lima waktu ‎langsung dari Allah SWT pada saat Rasulullah saw. diangkat kelangit. Peristiwa itu dikenal dengan ‎peristiwa Isra’ Mi’raj. Isra’ Mi’raj adalah peristiwa penanda kemenangan dakwah rasul, setelah ‎menahan cobaan dan siksaan selama 13 tahun. Dalam hadist itu dikisahkan bahwa, “ketika naik ke ‎sidratul muntaha Rasulullah saw. bertemu dengan seorang bidadari untuk Zaid bin Haritsah. Pada ‎awalnya Rasulullah saw. menerima Perintah shalat langsung dari Allah SWT bahwa yang diwajibkan ‎sebanyak lima puluh waktu sehari semalam. Kemudian, tatkala baginda turun dan bertemu Nabi ‎Musa a.s, dia bertanya: Apakah yang telah difardukan oleh Tuhanmu kepada umatmu? Baginda ‎bersabda: Sembahyang lima puluh waktu. Lalu Nabi Musa a.s berkata: Kembalilah kepada Tuhanmu, ‎mintalah keringanan karena umatmu tidak akan mampu melaksanakannya. Aku pernah mencoba ‎Bani Israel dan memberitahu mereka. Kemudian Rasulullah saw. kembali kepada Tuhan dan berkata: ‎Wahai Tuhanku, berilah keringanan kepada umatku. Lalu Allah SWT mengurangkan lima waktu ‎sembahyang dari baginda. Dan beliau kembali kepada Nabi Musa a.s dan berkata: Allah telah ‎mengurangkan lima waktu sembahyang dariku. Nabi Musa a.s berkata: Umatmu masih tidak mampu ‎melaksanakannya. Kembalilah kepada Tuhanmu, mintalah keringanan lagi. Kemudian Rasulullah ‎saw. Kembali lagi kepada Tuhan untuk meminta keringanan lagi. Dan setiap kali bertemu Musa ‘alaihi ‎salam beliau disarankan untuk meminta keringanan karena perintah tersebut tidak akan mampu ‎dilaksanakan oleh umatnya. Hal itu membuat Nabi bolak-balik menghadap Allah SWT, sampai ‎akhirnya kewajiban itu dikurangi menjadi lima kali shalat. Dan Allah SWT berfirman : “Wahai ‎Muhammad! Sesungguhnya yang Aku fardukan hanyalah lima waktu sehari semalam. Setiap ‎sembahyang fardu diganjarkan dengan sepuluh ganjaran. Oleh yang demikian, berarti “Siapa saja ‎diantara kalian mendirikan shalat 5x sehari karena dorongan Iman dan dilaksanakan dengan tulus ‎ikhlas, maka baginya pahala 50x shalat wajib”.‎

Begitu juga siapa saja yang berniat untuk melakukan kebaikan tetapi tidak melakukanya, niscaya akan ‎dicatat baginya satu kebaikan. Jika dia melaksanakannya, maka dicatat sepuluh kebaikan. Sebaliknya ‎bagi siapa yang berniat ingin melakukan kejahatan, tetapi tidak melakukannya, niscaya tidak sesuatu ‎pun dicatat baginya. Seandainya dia melakukannya, maka dicatat sebagai satu kejahatan baginya. ‎

Makna & definisi shalat

Shalat menjadi Mi’raj (alat naik) yang menjadikan manusia terbang tinggi ketika mereka jatuh ‎terperosok dalam keburukan-keburukan hawa nafsu yang bersarang dalam jiwa, dan dengan shalat itu ‎supaya jiwa mereka naik lima kali setiap hari menuju Allah Yang Maha Tinggi.‎

Secara etimologis, definisi shalat adalah doa. Disebut doa, karena shalat merupakan serangkaian ‎ibadah yang terdiri dari doa. Kata Shalat itu sendiri dalam bahasa Arab, berasal dari kata “tselota” , penggunaan kata ini dikenal dalam ‎bahasa Arab sebelum ditransfer kepada makna syar’i.‎

Sedangkan menurut istilah ( terminologi), pengertian shalat menurut syara’ adalah perkataan-perkataan (bacaan-‎bacaan) dan perbuatan (gerakan-gerakan) yang diawali dengan takbir dan diakhiri (ditutup) dengan ‎salam dengan syarat-syarat tertentu. Perbuatan dan perkataan tertentu yang dimaksud dalam ‎pengertian itu tidak lain adalah ketentuan yang harus dilakukan ketika shalat, seperti rukun-rukun ‎dalam shalat dan sunah-sunahnya.‎

 

Hukum tentang kewajiban sholat

Dasar hukum (Dalil) tentang diwajibkan shalat dalam Al-Qurán dan Hadist, diantaranya:‎

Hadist, Rasulullah saw bersabda,‎

“Shalat lima waktu diwajibkan pada Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam pada malam Isra Mi’raj ‎sebanyak 50 waktu, kemudian berkurang sampai menjadi 5 waktu kemudian beliau diseru, “Wahai ‎Muhammad sesungguhnya perkataan-Ku tidak akan berubah dan pahala 5 waktu ini sama dengan ‎pahala 50 waktu bagimu.” (Muttafaqun ‘alaihi)‎

Al- Quran, Allah SWT berfirman,‎

أَقِمِ الصَّلَاةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَىٰ غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْآنَ الْفَجْرِ ۖ إِنَّ قُرْآنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا
“Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) ‎subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat).” (QS. Al Isra: 78)‎

Kemudian,‎

وَأَقِيمُوا الصَّلاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ
“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk.” (QS.al ‎Baqarah(2) : 43)‎

Kemudian,‎

وَاَقِيْمُوْ الصَّلَوْةَ وَآتُوْالزَّكَوةَ وَمَاتُقَدِّمُوْا لاَِنْفُسِكُمْ مِّنْ خَيْرٍ تَجِدُوْهُ عِنْدُاللهِط اِنَّ اللهَ بِمَا تَعْمَلُوْنَ ‏بَصِيْرٌ
“Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat dan apa – apa yang kamu usahakan dari kebaikan bagi ‎dirimu, tentu kamu akan dapat pahalanya pada sisi Allah sesungguhnya Allah maha melihat apa – ‎apa yang kamu kerjakan”. ( AL-Baqarah:110)‎

Kemudian,‎

وَاَقِيْمِ الصَّلَوةَ اِنَّ الصَّلَوةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرَ
“ Kerjakanlah shalat sesungguhnya shalat itu bisa mencegah perbuatan keji dan munkar”. (Al –‎Ankabut : 45)‎

وَاَقِيْمُوْ الصَّلاَةَ وَآتُوْ الزَّكَوةَ وَاَطِيْعُوْ االرَّسُوْلَ لَعَلَكُمْ تُرْحَمُوْنَ

“Dan kerjakanlah shalat, berikanlah zakat, dan taat kepada Rasul, agar supaya kalian semua diberi ‎rahmat.” (QS. An-Nuur: 56)‎

Syarat wajib shalat ada enam perkara, diantaranya:‎

1) Sampainya da’wah Rasulullah SAW
‎2) Beragama Islam
‎3) Berakal
‎4) Baligh
‎5) Bersih dari haid dan nifas
‎6) Punya indra yang sehat walaupun hanya pendengaran atau penglihatan

Syarat sahnya ada 7 perkara, yaitu:‎

1)‎ Sucinya badan dari hadats besar dan hadats kecil

  • Diriwayatkan dari Abu Hurairah, Rasulullah saw. Bersabda, “Allah tidak menerima shalat ‎seseorang yang berhadats sebelum ia bersuci”. ( HR Bukhori dan Muslim)‎

2)‎ Sucinya badan, pakaian dan tempat dari khubts (kotoran).‎

Dalil yang mengatakan kewajiban mengenakan pakaian yang suci adalah firman Allah SWT, ‎

  • وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ
    “Dan sucikanlah pakaianmu!” (AL-Muddatsir [74]: 4)‎

Dalil yang menjelaskan kewajiban mensucikan badan sebelum pelaksanaan shalat adalah ‎sabda Rasulullah saw.: ‎

  •  ‎“ berwudhu dan sucikanlah kemaluanmu.” ( HR Bukhori & Muslim)‎
  •  ‎“Bersihkanlah dririmu dari darah, kemudian laksanakan shalat”. ( HR Nasa’í )‎

Dalil yang menerangkan kewajiban melaksanakan shalat ditempat yang suci adalah:‎

  •  ‎“Seluruh bagian dari bumi adalah tempat bersujud kecuali kuburan dan kamar mandi.” ( ‎HR Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibu Majah )‎
  •  ‎“Janganlah kalian sholat ditempat berdiamnya unta karena disanalah setan tinggal.” ( HR ‎Abu Dawud dan Ibu Majah )‎

3)‎ Menutup aurat.‎

  • Dasar hukum kewajiban menutup aurat adalah firman Allah SWT,‎
    يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ
    “Wahai anak cucu adam! Pakailah pakaianmu yang bagus pada setiap memasuki masjid…..” ‎‎( Al-A’raf [7]: 31). Maksud pakaian yang bagus pada ayat ini adalah menutup aurat, sedangkan ‎memasuki masjid adalah melaksanakan shalat. ‎

4)‎ Menghadap kiblat

Dasar hukumnya adalah: ‎

  •  Firman Allah SWT, ‎

وَمِنْ حَيْثُ خَرَجْتَ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُمَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ ‏لِئَلا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَيْكُمْ حُجَّةٌ إِلا الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْهُمْ فَلا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِي وَلأتِمَّ نِعْمَتِي ‏عَلَيْكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
“…..Maka hadapkanlah wajahmu ke arah masjidil haram. Dan dimana saja kamu berada, ‎maka hadapkanlah wajahmu ke arah itu….” ( al-Baqarah [2]: 150)‎

  •  Sabda Rasulullah saw., “jika engkau melaksanakan shalat, maka berwudhulah dan ‎hadapkan wajahmu ke arah kiblat….” ( HR Bukhori dan Muslim)

5) Mengetahui bahwa waktu shalat telah masuk, walaupun hanya dengan dugaan yang kuat ‎‎(dzan).‎

6) Mengetahui cara-cara mengerjakan shalat.‎

7) Tidak melakukan sesuatu yang dapat membatalkan shalat.‎

 

Kemuliaan Shalat

Shalat memiliki kedudukan yang sangat mulia di sisi Allah SWT yang tidak dimiliki oleh ibadah-ibadah ‎yang lain sebagaimana yang dijelaskan dalam al-Qurân dan as-Sunnah, diantaranya:

1.‎ Rukun Iman kedua

Shalat adalah rukun Islam yang kedua setelah syahadat. Dari Abdullah bin Umar r.a. Rasulullah ‎shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:‎

“Islam dibangun diatas lima (landasan); persaksian tidak ada illah selain Allah dan sesungguhnya ‎Muhammad utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, haji dan puasa Ramadhan”. (HR. ‎Al-Bukhari no. 7 dan Muslim no. 19)‎

Shalat merupakan Ibadah yang terpenting setelah kedua kalimat syahadat. Yaitu, Penghubung antara ‎hamba dengan Rabbnya, karena ketika shalat seorang hamba sedang berdiri di hadapan Allah Azza wa ‎Jalla untuk berdoa kepada-Nya. ‎

Selain itu, Shalat lima waktu merupakan ibadah yang Allah Ta’ala syariatkan kepada Nabi-Nya ‎shallallahu alaihi wasallam secara langsung tanpa perantara malaikat. Berbeda halnya dengan ‎kewajiban lainnya yang diwajibkan melalui perantara malaikat.‎

2.‎ Amal perbuatan yang pertama kali di hisab

Diriwayatkan dari Abu Hurairah -radhiallahu anhu- dia berkata: Nabi saw. bersabda: “Sesungguhnya ‎yang pertama kali akan dihisab dari amal perbuatan manusia pada hari kiamat adalah shalatnya. ‎Allah SWT berfirman kepada para malaikat-Nya -padahal Dia lebih mengetahui-, “Periksalah shalat ‎hamba-Ku, sempurnakah atau justru kurang?” Sekiranya sempurna, maka akan dituliskan baginya ‎dengan sempurna, dan jika terdapat kekurangan maka Allah berfirman, “Periksalah lagi, apakah ‎hamba-Ku memiliki amalan shalat sunnah?” Jikalau terdapat shalat sunnahnya, Allah berfirman, ‎‎“Sempurnakanlah kekurangan yang ada pada shalat wajib hamba-Ku itu dengan shalat sunnahnya.” ‎Selanjutnya semua amal manusia akan dihisab dengan cara demikian.” (HR. Abu Daud no. 964, At-‎Tirmizi no. 413, An-Nasai no. 461-463, dan Ibnu Majah no. 1425. Dinyatakan shahih oleh Al-Albani ‎dalam Shahih Al-Jami’ no. 2571)‎

3.‎ Amalan yang paling disukai Allah

Menegakkan shalat tepat pada waktunya adalah suatu keutamaan dan salah satu amalan manusia ‎yang paling disukai Allah SWT. ‎

Hal ini berdasarkan sabda Nabi saw.: “Ya Nabi saw., amalan apa yang paling disukai Allah SWT ? ‎Nabi SAW menjawab,”shalat tepat pada waktunya”. Ibnu Mas’ud bertanya lagi, ” kemudian apa lagi ‎‎?”. Rasulullah SAW menjawab “berbakti kepada orang tua”. Ibnu mas’ud bertanya lagi,”kemudian ‎apa lagi ya Rasulullah ?”. Rasulullah SAW menjawab “Berjihad dijalan Allah”. ( Mutafaqalaih )‎

4.‎ Menghapus kesalahan & menghilangkan keburukan.‎

Shalat yang dilakukan selain mendatangkan pahala bagi pelakunya, juga dapat menghapuskan dosa-‎dosa kecil yang pernah diperbuat pelakunya diantara waktu sholat yang satu dengan waktu sholat yang ‎lainnya. Dengan catatan bahwa sholat yang dikerjakan adalah sesuai dengan yang disyariatkan disertai ‎dengan niat yang benar, hati yang khusyu’dan ikhlas hanya karena mengharap ridho Allah Taála.‎

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‎‏“‏Shalat ‎lima waktu dan shalat Jum’at ke Jum’at berikutnya adalah penghapus untuk dosa antara keduanya ‎selama tidak melakukan dosa besar.” (HR. Muslim no. 342)

Kemudian,‎

Dari Utsman bin Affan radhiallahu anhu dia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi ‎wasallam bersabda:‎

“Tidaklah seorang muslim didatangi shalat fardlu, lalu dia membaguskan wudlunya dan khusyu’nya ‎dan shalatnya, melainkan itu menjadi penebus dosa-dosanya terdahulu, selama dia tidak melakukan ‎dosa besar. Dan itu (berlaku) pada sepanjang zaman.” (HR. Muslim no. 335)‎

Kemudian,‎

Jabir r.a. berkata : Nabi SAW bersabda : “Perumpamaan shalat lima waktu itu bagaikan sungai yang ‎lebar mengalir dimuka pintu salah satu kamu, lalu ia mandi daripadanya tiap hari lima kali. Apakah ‎yang demikian itu masih ada ketinggalan kotorannya”. (H.R. Muslim).

Abu Dzar r.a. berkata : “Nabi SAW keluar dimusim dingin, sedang daun pohon banyak rontok, maka ia ‎mengambil dua dahan, sedang daunnya rontok maka bersabda : Hai Abu D-zar. Jawabku : Labbaika ‎ya Rasulallah. Lalu bersabda : Seorang hamba muslim jika shalat dengan ikhlas karena Allah maka ‎rontok dosa-dosanya sebagaimana rontok daun dari dahan pohon ini”. (H.R. Ahmad). ‎

Kemudian,‎

Ibn Umar r.a. berkata : “Sesungguhnya seorang hamba bila ia berdiri shalat maka diletakkan semua ‎dosa-dosanya diatas kepala dan kedua bahunya, maka tiap-tiap ruku’ atau sujud rontok ‎‎(berjatuhan) dosa-dosanya itu”. (H.R. Atthabarani, Albaihaqi). ‎

5.‎ Mendapat Nur & selamat pada hari kiamat

Shalat bisa menjadi sumber cahaya bagi kehidupan seseorang untuk menunjuki ke jalan yang lurus, ‎yaitu jalan ketaatan kepada Allah SWT. Dan kelak di akhirat, ia akan menjadi cahaya yang sangat ‎dibutuhkan, yang menyelamatkannya dari berbagai kegelapan sampai mengantarkan seseorang ‎kepada surga Allah SWT.

Rasulullah SAW. bersabda : “Siapa yang menjaga shalatnya maka ia akan mendapat nur (cahaya) ‎dan bukti, dan selamat pada hari qiamat, dan siapa yang teledor terhadap shalatnya, maka tidak ‎mendapat nur penerangan, dan bukti tidak selamat, bahkan pada hari qiamat ia akan berkumpul ‎dengan Qarun, Fir’aun, Haman dan Ubay bin Khalaf”. ( H.R. Ahmad, Ibn Hibban).‎

6.‎ Mencegah dari perbuatan keji dan mungkar

Seseorang yang istiqomah menegakkan shalat, menyempurnakan rukun-rukunnya, syarat-syaratnya ‎dan khusyu’ di dalamnya, maka akan meraih kesucian hati dan ketenangan jiwa , sehingga ‎keimanannya pun meningkat. Kondisi ini niscaya akan mencegah pelakunya dari mengerjakan ‎perbuatan keji dan munkar. Sebaliknya kalau ada yang melakukan shalat tetapi tetap berbuat maksiat, ‎tentu kekhusuan shalatnya perlu dipertanyakan. Hal ini diterangkan dalam Al-Qur’an surat Al-Ankabut: ‎‎45.‎

اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ ‏اللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ
“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu al-Kitab (Al-Qur‘an) dan dirikanlah shalat. ‎Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allâh (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah ‎yang lain). Dan Allâh mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (Qs. al-Ankabût/29:45)‎

7.‎ Sebagai obat dari kelalaian

Lalai adalah salah satu penyakit hati yang menimpa banyak manusia, yang akan mengantarkan manusia ‎tenggelam pada kesesatan, dan menyebabkan hatinya tertutup untuk berbuat kebaikan. Tetapi ‎dengan memelihara kekhusyukan shalatnya sesuai syarat & rukunnya, maka akan membersihkan hati ‎dan mencegahnya dari kelalaian.

Allah SWT berfirman:‎

وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ وَلَا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ
“Dan sebutlah (nama) Rabbmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan ‎tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang ‎yang lalai.” (Qs. al-A’raf/7:205)‎

Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang menjaga shalat-shalat wajib, maka ia tidak akan ditulis ‎sebagai orang-orang yang lalai”.‎

8.‎ Dalam kitab Azzawajir susunan Ahmad bin Hajar Alhaitami berkata : Tersebut dalam hadits : Siapa ‎yang menjaga shalat lima waktu maka Allah akan memuliakannya dengan lima macam : ‎

1. Dihindarkan dari kesempitan hidup. ‎
‎2. Dihindarkan dari siksa kubur. ‎
‎3. Diberikan kitab amalannya dari sebelah kanan ‎
‎4. Berjalan diatas shirat bagaikan kilat. ‎
‎5. Masuk surga tanpa hisab. ‎

9.‎ Perkara terakhir yang hilang dari manusia adalah shalat.‎

Dari Abu Umamah Al Bahili,
‏“‏Tali ikatan Islam akan putus seutas demi seutas. Setiap kali terputus, manusia bergantung pada tali ‎berikutnya. Yang paling awal terputus adalah hukumnya, dan yang terakhir adalah shalat.” (HR. ‎Ahmad 5: 251. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini jayyid).‎

 

Hukum & Balasan meninggalkan sholat

a.‎ Hukum meninggalkan shalat

Meninggalkan Shalat terkelompok menjadi 2 kategori:‎

1. Karena sikap Malas & menganggapnya sebagai perkara sepele.‎

Dipandang sebagai orang Fasik yang bermaksiat. Sangsinya adalah Ta’zir, berupa hukuman yang ‎dipandang oleh penguasa atau Qadli bisa berfungsi efektif sebagai zawajir (pencegah)‎

2. Karena mengingkari kewajiban & membangkang terhadap perintah Shalat. ‎

Shalat adalah pembeda apakah ia seorang muslim ataukah seorang kafir. Orang yang ‎meninggakan shalat dan mengingkari status wajib shalat, maka dipandang sebagai orang kafir/murtad.‎

”Barang siapa yang meninggalkan shalat secara sengaja maka telah lepas tanggung jawab Allah dan ‎Rasul-Nya atas dirinya.” (HR. Ahmad)‎

Kemudian,‎
“Siapa yang meninggalkan shalat dengan sengaja,’ maka ia kafir terang-terangan”. (H.R. ‎Atthabarani).‎

b.‎ Balasan meninggalkan shalat

مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ
قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ
“Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)? Mereka menjawab: “Kami dahulu tidak ‎Termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat.” (QS. Al Mudatsir : 42 – 43)‎

Dalam peristiwa Isra’ Mi’raj, Rasulullah SAW, bukan saja diperlihatkan tentang macam-macam orang ‎yang beramal baik, tetapi juga diperlihatkan sejumlah orang yang berbuat munkar, diantaranya siksaan ‎bagi yang MENINGGALKAN SHALAT FARDHU.‎

Mengenai orang yang meninggalkan Shalat Fardu: “Rasulullah SAW, diperlihatkan pada suatu kaum ‎yang membenturkan kepala mereka pada batu, Setiap kali benturan itu menyebabkan kepalanya ‎pecah, kemudian ia kembali kepada keadaan semula dan mereka terus tidak berhenti melakukannya. ‎Lalu Rasulullah bertanya: “Siapakah ini wahai Jibril”? Jibril menjawab: “Mereka ini orang yang berat ‎kepalanya untuk menunaikan Sholat fardhu”. (HR. At Tabrani)‎

c.‎ Balasan melalaikan shalat

Saad bin Abi Waqas bertanya kepada Rasulullah SAW mengenai orang yang melalaikan Shalat, maka ‎jawab Baginda SAW, “yaitu mengakhirkan waktu Sholat dari waktu asalnya hingga sampai waktu ‎Sholat lain. Mereka telah menyia-nyiakan dan melewatkan waktu Sholat, maka mereka diancam ‎dengan Neraka Wail”.‎

Menurut Ibn Abbas dan Said bin Al-Musayyib tentang Hadits di atas, yaitu: “orang yang melengah-‎lengahkan Sholat mereka sehingga sampai kepada waktu Sholat lain, maka bagi pelakunya jika ‎mereka tidak bertaubat Allah menjanjikan mereka Neraka Jahannam tempat kembalinya”.‎

 

Sholat diterima atau ditolak

Sesungguhnya yang mengetahui diterima atau tidaknya shalat kita, hanya Allah SWT sendiri. Tidak ada ‎seorang pun yang mengetahui hakikat shalatnya sendiri atau diterima atau tidak ibadah shalatnya. ‎

Meski pun demikian, bukan berarti tidak ada tolak ukurnya. Sebab, Allah dan Rasulullah sudah ‎memberitahukan tolak ukur shalat yang diterima dan yang tidak diterima, yang bermanfaat dan yang ‎sia-sia. Rasulullah saw bersabda,” Betapa banyak orang berpuasa yang tidak memperoleh dari ‎puasanya selain rasa lapar, dan betapa banyak orang shalat yang tidak memperoleh dari shalatnya ‎tersebut selain begadang,” (H.R Ahmad).

Hadits tersebut diperkuat oleh hadits Qudsi yang diriwayatkan oleh Ad-Dailami berikut. “Tidaklah ‎semua orang yang shalat itu shalat. Sesungguhnya Aku hanya hanya menerima sholat orang yang ‎berendah hati terhadap keagungan-Ku , menahan syahwatnya dari apa yang Aku haramkan tidak ‎terus-menerus berbuat durhaka kepada-Ku, memberi makanan orang yang lapar, memberi pakaian ‎orang yang telanjang, mengasihi orang yang ditimpa musibah, memberi tempat berlindung bagi ‎orang asing (pengembara). Semua itu dikerjakan karena Aku. Demi kemuliaan dan keagungan-Ku. ‎Sesungguhnya cahaya wudhunya orang yang shalat disisi-Ku lebih terang daripada sinar matahari. ‎Tanggungan-Ku untuk menjadikan kebodohan menjadi sifat santun, kegelapan menjadi cahaya. Ia ‎memanggilku dan Aku pun memenuhi panggilannya. Ia meminta kepada-Ku dan Aku pun ‎memberinya…”‎

 

Ciri-ciri sholat diterima ‎

Di dalam hadits qudsi Rasulullah saw bersabda, “(Sesunggunya Aku (Allah Subhanahu wa Ta’ala) ‎hanya akan menerima shalat dari orang yang dengan shalatnya itu dia merendahkan diri di hadapan-‎Ku. Dia tidak sombong dengan mahkluk-Ku yang lain. Dia tidak mengulagi maksiat kepada-Ku. Dia ‎menyayangi orang-orang miskin dan orang-orang yang menderita. Aku akan tutup shalat orang itu ‎dengan kebesaran-Ku. Aku akan menyuruh malaikat untuk menjaganya. Dan kalau dia berdoa ‎kepada-Ku, Aku akan memperkenankannya. Perumpamaan dia dengan mahkluk-Ku yang lain adalah ‎seperti perumpamaan firdaus di surga.” (H.R. Ad-Dailami).‎

• Pertama, dia datang untuk melaksanakan shalat dengan merendahkan diri kepada-Nya Kisah Imam Ali ketika mau sholat
Allah berfirman dalam Hadits Qudsi: “Ya Ahmad, Aku heran dan takjub dengan tiga kelompok hamba-‎Ku, Pertama, hamba yg masuk waktu sholat, tapi ia tidak tahu kepada siapa dia angkat kedua ‎tangannya ? dan dia tidak tahu dihadapan siapa ia sedang berdiri. Dia jalankan sholat itu dg berat, ‎rasa malas, dan kantuk. Kedua, hamba yg kepadanya Aku berikan rezeki hariannya, tapi dia masih ‎mengumpul-ngumpulkan untuk esok harinya. Dan Ketiga, hamba yang masih tertawa, padahal dia ‎tidak tahu apakah Aku ridlo atau murka terhadapnya.”(diterjemahkan dari penggalan kitab ‎Kalimatullah Hiya al’Ulya, hal 362-365) ‎

• Kedua, Dia tidak sombong dengan makhluk-Ku yang lain. ‎

Jadi, tanda orang yang diterima shalatnya ialah tidak takabur (sombong). Takabur, menurut Imam ‎Ghazali, ialah sifat orang yang merasa dirinya lebih besar daripada orang lain. Kemudian ia memandang ‎enteng orang lain itu. Boleh jadi ia bersikap demikian dikarenakan ilmu, amal, keturunan, kekayaan, ‎anak buah, atau kecantikannya.‎

• Ketiga, orang yag tidak mengulangi maksiatnya kepda Allah Subhanahu wa Ta’ala. ‎

Nabi yang mulia bersabda: “Barangsiapa yang shalatnya tidak mencegahnya dari kejelekan dan ‎kemungkaran, maka shalatnya hanya akan menjauhkan dirinya dari Allah Subhanahu wa Ta’ala” ‎

Hassan r. a berkata : “Kalau sholat kamu itu tidak dapat menahan kamu dari melakukan perbuatan ‎mungkar dan keji, maka sesungguhnya kamu dianggap orang yang tidak mengerjakan sholat. Dan ‎pada hari kiamat nanti sholatmu itu akan dilemparkan semula ke arah mukamu seperti satu ‎bungkusan kain tebal yang buruk.”‎

• Keempat, orang yang menyayangi orang-orang miskin. ‎

Kalau di terjemahkan dengan kalimat modern, hal ini berarti orang yang mempunyai solidaritas sosial.‎
Meraka yang diterima sholatnya bukanlah orang-orang selfish hanya memikirkan diri sendiri. Mereka ‎yang diterima sholatnya maka akan senantiasa memikirkan kondisi ummat Islam, solidaritas (Al Wala’ ‎wal Bara’) nya sangat tinggi kepada Islam dan akan melakukan yang terbaik untuk Islam. ‎

 

Sholat yang sia-sia

Jika diperhatikan secara rinci baik ayat-ayat Al-Qur’an maupun hadits Nabi yang menjelaskan tentang ‎shalat maka kita bisa membagi penyebab shalat yang sia-sia menjadi dua, yaitu:‎

1.‎ Sebab vertikal adalah sebab-sebab yang berkaitan dengan hak-hak Allah yang tidak ditunaikan, ‎
‎2.‎ Sebab horizontal adalah sebab-sebab yang berkaitan dengan hak-hak anak Adam atau hak ‎manusia.‎

 

Sebab vertikal sholat sia-sia

1.‎ Adanya kemusyrikan ‎

Allah SWT berfirman,‎

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ ‏افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمًا
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni segala ‎dosa selain dari (Syirik) itu, bagi siapa yang dikehendakinya barang siapa yang ‎mempersekutukan Allah, maka sesungguh ia telah membuat dosa besar.” (An-Nisa: 48) ‎

Allah SWT berfirman,‎
قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ ‏يُحْسِنُونَ صُنْعًا أُولَئِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ وَلِقَائِهِ فَحَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فَلَا نُقِيمُ لَهُمْ يَوْمَالْقِيَامَةِ وَزْنًا
“Katakanlah: `Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang – orang yang ‎paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya ‎dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat ‎sebaik-baiknya. Mereka itu orang-orang yang telah kufur terhadap ayat-ayat Tuhan ‎mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia, maka terhapuslah amalan-‎amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka ‎pada hari Kiamat.” (QS. Al-Kahfi [18]:103-105) ‎

“Barang siapa yang mendatangi peramal, lalu dia menanyainya tentang sesuatu, ‎maka shalatnya tidak diterima selama empat puluh malam”. (HR. Muslim)‎

“Ada tiga dosa besar yang membuat amal tidak bermanfaat. Menyekutukan Allah ‎berbuat durhaka kepada orang tua dan lari dari medan peperangan.” (H.R.Thabrani)‎

2.‎ Adanya Riya’, syarat agar Ihsanul Amal

Bagi setiap muslim diwajibkan untuk meluruskan niat beribadah hanya kepada-Nya. Bukan ‎karena mencari keuntungan hidup didunia. Beribadah hanya karena rasa riya’ atau pamer agar ‎dilihat orang lain sebagai orang shalih. Maka apa yang didapatkan hanyalah pandangan manusia ‎saja, yang menyatakannya sebagai orang shalih, bukan dimata Allah.‎

3.‎ Tidak sempurna Syarat dan Rukunnya

Shalat seseorang yang tidak memenuhi syarat dan rukunnya tanpa adanya udzur’ maka ‎shalatnya menjadi batal dan jika shalatnya menjadi batal maka Allah tidak menerima shalat ‎orang tersebut sehingga sia-sia lah shalatnya. Rasulullah saw. Bersabda;‎
‎ ‎
“Tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca Al-Fatihah.” (H.R.Bukhori)

4.‎ Sombong dan terus mengerjakan maksiat

Allah hanya menerima sholat orang-orang yang merendahkan hati kepada-Nya. Dan Allah tidak ‎akan menerima sholat bagi orang yang sombong, serta tidak bisa menjaga syahwat dari hal – ‎hal yang diharamkan. Di dalam hadits qudsi Rasulullah saw bersabda;‎

“(Allah berfirman) Tidaklah setiap orang yang shalat itu shalat. Sesungguhnya Aku ‎hanya menerima shalat dari orang yang berendah hati kepada keagungan-Ku, ‎menahan syahwatnya dari hal-hal yang Aku haramkan dan tidak terus-menerus ‎berbuat maksiat kepada-Ku.” (H.R. Ad-Dailami).‎

5.‎ Memakan makanan yang haram, ‎

وَكُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ حَلَالًا طَيِّبًا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي أَنْتُمْ بِهِ مُؤْمِنُونَ

“Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan ‎kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya.” (Al ‎Maidah: 88)‎

6.‎ Mendahulukan atau mengakhirkan shalat dari waktunya,‎

Allah SWT berfirman,‎
إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا
‎“Sesungguhnya shalat itu adalah fardu yang di tentukan waktunya atas orang orang ‎yang beriman.” (Q.S. An- Nisa 103)‎

 

Sebab horisontal sholat sia-sia ‎

1.‎ Tidak mencegah diri dari perbuatan yang mungkar,‎

Allah SWT berfirman; ‎
اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ ‏ۗ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ

“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (Al-Qur’an) dan ‎dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan – perbuatan) ‎keji dan munkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar ‎‎(keutamaannya daripada ibadah – ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa ‎yang kamu kerjakan”. (Q.S Al Ankabut[29]:45 ) ‎
‎ ‎
2.‎ Seorang istri yang keluar rumah tanpa izin suami, ‎

“Ada tiga golongan yang tidak diterima shalat mereka. Wanita yang keluar dari ‎rumahnya tanpa izin suaminya; budak yang melarikan diri dari tuannya ; dan seorang ‎laki-laki yang mengimami suatu kaum, sedangkan kaum itu tidak suka kepadanya”. ‎‎(H.R. Ibnu Abi Syaibah)‎

3.‎ Orang lelaki yang menjadi imam, padahal orang yang menjadi makmum membencinya.‎

4.‎ Budak yang melarikan Diri

5.‎ Enggan berbuat baik kepada orang lain

6.‎ Imam yang dibenci oleh makmum

Seorang imam dibenci oleh makmum disebabkan oleh tiga kemungkinan;‎

1)‎ Tingkah laku imam itu tidak terpuji, enggan membantu orang lain,suka menyakti hati ‎dan perasaan dan sebagainya
‎2)‎ Kemungkinan imam tersebut tidak bagus shalatnya
‎3)‎ Kemungkinan imam tidak disukai makmumnya di sebabkan karena memperlama ‎shalatnya sehingga makmum merasa berat.‎

10 SEBAB SHALAT YANG TIDAK DITERIMA ALLAH SWT

Dalam Kitab Tabyinul Mahaarim. Secara singkat Dijelaskan mengenai hal ini.‎
Diriwayatkan oleh Imam Hasan al-Bashri rahimahullâh pernah mengatakan: “Wahai, anak manusia. ‎Shalat adalah perkara yang dapat menghalangimu dari maksiat dan kemungkaran. Jika shalat tidak ‎menghalangimu dari kemaksiatan dan kemungkaran, maka hakikatnya engkau belum shalat”.‎

Dalam kesempatan lain, Rasulullah saw juga bersabda: “Barang siapa yang memelihara sholat, maka ‎sholat itu sebagai cahaya baginya, petunjuk dan jalan selamat dan barangsiapa yang tidak ‎memelihara sholat, maka sesungguhnya sholat itu tidak menjadi cahaya, dan tidak juga menjadi ‎petunjuk dan jalan selamat baginya.”‎

10 golongan yang sholatnya tidak diterima oleh Allah swt adalah: ‎

‎1.‎ Orang lelaki yang sholat sendirian tanpa membaca sesuatu.‎
‎2.‎ Orang lelaki yang mengerjakan sholat tetapi tidak mengeluarkan zakat.‎
‎3.‎ Orang lelaki yang menjadi imam, padahal orang yang menjadi makmum membencinya.‎
‎4.‎ Orang lelaki yang melarikan diri.‎
‎5.‎ Orang lelaki yang minum arak tanpa mahu meninggalkannya (taubat).‎
‎6.‎ Orang perempuan yang suaminya marah kepadanya.‎
‎7.‎ Orang perempuan yang mengerjakan sholat tanpa memakai tudung.‎
‎8.‎ Imam atau pemimpin yang sombong dan zalim menganiaya.‎
‎9.‎ Orang-orang yang suka makan riba’.‎
‎10.‎ Orang yang sholatnya tidak dapat menahannya dari melakukan perbuatan yang keji dan ‎mungkar.”‎

Sabda Rasulullah saw yang bermaksud: “Barang siapa yang sholatnya tidak dapat menahan daripada ‎melakukan perbuatan keji dan mungkar, maka sesungguhnya sholatnya itu hanya menambahkan ‎kemungkaran Allah SWT dan jauh dari Allah SWT.”‎

Dikatakan oleh Hassan r. a bahwa: “Kalau sholat kamu itu tidak dapat menahan kamu dari melakukan ‎perbuatan mungkar dan keji, maka sesungguhnya kamu dianggap orang yang tidak mengerjakan ‎sholat. Dan pada hari kiamat nanti sholatmu itu akan dilemparkan semula ke arah mukamu seperti ‎satu bungkusan kain tebal yang buruk.”‎
‎ ‎
Sebab-sebab ibadah tidak diterima oleh Allah SWT adalah jika syarat dan rukun tidak terpenuhi. Entah ‎itu salah satu dari keduanya atau ketiganya atau semuanya. Oleh karena itu tugas kita sebagai hamba-‎Nya adalah memenuhi syarat dan rukun tersebut dengan tujuan agar Allah SWT menerima amal ibadah kita. ‎Ini adalah suatu usaha dan usaha itu wajib hukumnya. Tetapi, bagaimanapun, diterima atau tidak ‎amalan-amalan tersebut, kita serahkan hanya kepada Allah SWT yang mempunyai hak penuh untuk ‎itu.‎

 

Khatimah

Kesedihan Rasulullah, ketika Allah SWT berfirman dalam (Q.S Maryam: 59): “Maka datanglah sesudah ‎mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, ‎maka mereka kelak akan menemui kesesatan”‎

Rasulullah sambil menangis berkata kepada Jibril…; “Ya Jibril, akankah pengikutku akan meninggalkan ‎sholat mereka?”. Kemudian, Jibril berkata: Ya Rasulullah, Diakhir Zaman banyak orang dikalangan ‎umatmu yang akan melalaikan sholat sampai waktu sholat habis dan mereka mengikuti hawa nafsu ‎mereka”. Dengan demikian sholatpun ditinggalkan dan amalan- amalan haram mulai dilakukan. Bukankah ‎sholat itu tiang agama dan pencegah dari perbuat keji dan mungkar. Tidakkah cukup dengan ‎mengetahui bagaimana kedudukan Sholat di hadapan Allah, sampai Allah sendiri yang memerintahkan ‎dari langit ketujuh.

Alkisah, datang seorang sahabat menemui Nabi Syu’aib as. Ia mengeluhkan betapa dirinya sudah ‎banyak berbuat dosa, tapi tak kunjung juga ia rasakan, azab siksa Tuhan. Ia masih juga melihat ‎anugerah dan karunia Tuhan yg tak terhingga. Ia heran, ia berbuat dosa, tapi Tuhan masih ‎menyayanginya. Kepadanya Nabi Syu’aib bertanya: “Adakah kaurasa kenikmatan dalam ibadahmu ? ‎Ia menjawab: Tidak, Ya Nabi Allah. Nabi Syu’aib lalu berkata: itulah azab yg diberikan Tuhan ‎kepadamu”.‎

Semoga Artikel ini bermanfaat untuk Sahabat Rumah Kurma Sahara.
Silahkan berbelanja kurma di Rumah Kurma Sahara, Butuh perlengkapan haji? Ingat Toko Rumah Kurma Sahara!
Jalan Raya Semplak Atang Sandjaja No. 224
Bogor Barat – Kota Bogor
Customer Care : 0821-1141-8832 | 0878-7386-0559
Delivery : 0859-2512-6067
WA | PIN BB : 0878-7386-0559 | DA7A086

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *