Keikhlasan Dan Menghadirkan Niat Dalam Beramal

Dalam sebuah Hadits Rasulullah saw,Dari Umar bin al-Khatab RA berkata;

“Aku telah mendengar Rasulullah SAW telah bersabda; Sesungguhnya segala amalan itu tergantung pada niatnya dan sesungguhnya bagi setiap seorang itu (ia akan memperolehi berdasarkan) untuk apa diniatkannya….”(Riwayat Bukhari dan Muslim)

Namun banyak juga kita jumpai hari ini yang beramal dengan niat yang tidak benar, misalnya  janji para politisi ketika kampanye, namun ketika terpilih banyak dari janji- janji mereka yang tidak direalisasikan.

Padahal Rasulullah telah bersabda :

إِنَّكُمْ سَتَحْرِصُونَ عَلَى الإِمَارَةِ ، وَسَتَكُونُ نَدَامَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ ، فَنِعْمَ الْمُرْضِعَةُ وَبِئْسَتِ الْفَاطِمَةُ

Sesungguhnya kalian nanti akan sangat berambisi terhadap kepemimpinan, ujungnya hanya penyesalan pada hari kiamat. Di dunia ia mendapatkan kesenangan, namun setelah kematian sungguh penuh derita” (HR. Bukhari no. 7148)

Dalam riwayat Muslim dari hadits Abu Dzar,

قُلْت يَا رَسُول اللَّه أَلَا تَسْتَعْمِلُنِي ؟ قَالَ : إِنَّك ضَعِيف ، وَإِنَّهَا أَمَانَة ، وَإِنَّهَا يَوْم الْقِيَامَة خِزْي وَنَدَامَة إِلَّا مَنْ أَخَذَهَا بِحَقِّهَا وَأَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ فِيهَا

“Aku berkata, “Wahai Rasulullah, kenapa engkau enggan mengangkatku (jadi pemimpin)?” Rasulullah saw menjawab, “Engkau itu lemah. Kepemimpinan adalah amanat. Pada hari kiamat, ia akan menjadi hina dan penyesalan kecuali bagi yang mengambilnya dan menunaikannya dengan benar.”

Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Ini pokok penting yang menunjukkan agar kita menjauhi kekuasaan lebih-lebih bagi orang yang lemah. Orang lemah yang dimaksud adalah yang mencari kepemimpinan padahal ia bukan ahlinya dan tidak mampu berbuat adil. Orang seperti ini akan menyesal terhadap keluputan dia ketika ia dihadapkan pada siksa pada hari kiamat. Adapun orang yang ahli dan mampu berbuat adil dalam kepemimpinan, maka pahala besar akan dipetik sebagaimana didukung dalam berbagai hadits…”

 

Dari Amirul mu’minin Abu Hafs yaitu Umar bin Al-khaththab berkata:

Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda : “Bahwasanya semua amal perbuatan itu dengan disertai niat-niatnya dan bahwasanya bagi setiap orang itu apa yang telah menjadi niatnya. Maka barangsiapa yang hijrahnya itu kepada Allah dan RasulNya, maka hijrahnya itupun kepada Allah dan RasulNya. Dan barangsiapa yang hijrahnya itu untuk harta dunia yang hendak diperolehinya, ataupun untuk seorang wanita yang hendak dikawininya, maka hijrahnyapun kepada sesuatu yang dimaksud dalam hijrahnya itu.” (Muttafaq (disepakati) atas keshahihannya Hadis ini)

 

Hadis di atas  berhubungan erat dengan persoalan niat.

Di antara para sahabat Nabi s.a.w. sewaktu berhijrah dari Makkah ke Madinah, ada yang karena terpikat oleh seorang wanita yakni Ummu Qais. Beliau s.a.w. mengetahui maksud orang itu, lalu bersabda sebagaimana di atas.

Hadis itu awalnya tertuju pada manusia yang salah niatnya ketika ia mengikuti hijrah, tetapi sifatnya adalah umum.

Para imam mujtahidin berpendapat bahwa sesuatu amal itu sah dan diterima serta dianggap sempurna apabila disertai niat.

Niat itu ialah sengaja yang disembunyikan dalam hati,  seperti ketika wudhu’, mandi,  shalat dll.

Siapa yang berniat mengerjakan suatu amalan  dengan ketaatan kepada Allah ia mendapat pahala.

Jika seseorang berniat hendak melakukan sesuatu yang baik, tetapi tidak jadi dilakukan,  orang itu tetap  berpahala, sebagaimana Hadis yang berbunyi:

“Niat seseorang itu lebih baik daripada amalannya.“

Maksudnya: Berniat sesuatu yang tidak jadi dilakukan sebab adanya halangan yang tidak dapat dihindarkan itu  lebih baik daripada sesuatu perbuatan yang benar-benar dilaksanakan, tetapi tanpa disertai niat apa-apa.

Ada perselisihan pendapat dikalangan para imam Mujtahidin dalam menetapkan wajibnya niat atau tidaknya,agar amalan itu menjadi sah:

  • Imam Syafi’i,Maliki dan Hanbali mewajibkan niat dalam segala amalan, baik yang berupa wasilah yakni perantaraan seperti wudhu’, tayammum dan mandi wajib, atau  maqshad (tujuan) seperti shalat, puasa, zakat, haji dan umrah.
  • imam Hanafi hanya mewajibkan adanya niat itu dalam amalan yang berupa maqshad/ tujuan saja
  • Amalan yang berdiri sendiri, maka semua imam mujtahidin sependapat tidak perlunya niat, eg. membaca al-Quran, menghilangkan najis dan lain-lain.
  • Amalan yang mubah atau jawaz (yakni yang boleh dilakukan dan boleh pula tidak), seperti makan-minum, maka jika disertai niat agar kuat beribadat serta bertaqwa kepada Allah atau agar kuat bekerja untuk bekal dalam melakukan ibadat bagi dirinya sendiri dan keluarganya, amalan tersebut mendapat pahala, sedangkan kalau tidak disertai niat apa-apa, misalnya hanya supaya kenyang saja, maka kosonglah pahalanya.
  • Dari Abu Bakrah, yakni Nufai’ bin Haris as-Tsaqafi r.a. bahwasanya Nabi s.a.w. bersabda: “Apabila dua orang Muslim berhadap-hadapan dengan membawa masing-masing pedangnya – dengan maksud ingin berbunuh-bunuhan – maka yang membunuh dan yang terbunuh itu semua masuk di dalam neraka.” Saya bertanya: “Ini yang membunuh – patut masuk neraka -tetapi bagaimanakah halnya orang yang terbunuh – yakni mengapa ia masuk neraka pula?” Rasulullah s.a.w. menjawab: “Kerana sesungguhnya orang yang terbunuh itu juga ingin sekali hendak membunuh kawannya.” (Muttafaq ‘alaih
  • Fudlail bin Iyadl mengatakan:”Yaitu yang paling ikhlas dan paling benar”. Ketika ditanya maksudnya, beliau menjawab”Sesungguhnya suatu amal sekalipun benar tetapi tidak dikerjakan dengan ikhlas, amal itu tidak akan diterima. Sebaliknya, jika dilakukan dengan ikhlas namun tidak dengan cara yang benar, juga tidak akan diterima. Ikhlas hanya akan terwujud bila amal itu diniatkan secara murni kepada Allah SWT, sedang amal yang benar hanya dapat terwujud dengan mengikuti Sunnah Nabi saw’.

Dalam Pandangan ulama salaf, ikhlas adalah kesamaan perbuatan seseorang antara lahir dan batin. Abu Qasim Al-Qusyairi:”Ikhlas adalah menjadikan satu-satunya yang berhak di taati dalam sebuah niat ialah Allah SWT, Artinya, bahwa yang diinginkan dengan ketaatannya itu hanyalah untuk bertaqarub Kepada Allah semata; tidak untuk yang lain. Misalnya  pamer, mencari popularitas, ingin disanjung, dll

Tanda-tanda ikhlas

  • Tunduk pada kebenaran, dan menerima nasehat sekalipun berasal dari orang yang lebih rendah tingkat ilmunya. Ia akan lapang dada ketika ternyata kebenaran itu ada pada orang lain

Ubaidillah bin Hasan Al Anshariy, ulama sekaligus Qadli di kota Bashrah. Salah seorang muridnya, Abdurrahman bin Mahdi menuturkan:”Pada waktu itu kami sedang mengurus jenazah, ada yang bertanya kepada beliau, lalu beliau keliru menjawab. Maka aku katakana kepada beliau:”Semoga Allah meluruskan engkau, jawaban itu seharusnya demikian.. dan demikian. Setelah diam sejenak, beliau berkata:”Kalau demikian aku Tarik kembali pendapatku dan aku menundukan diri. Sungguh menjadi ekor dalam kebenaran lebih aku sukai daripada menjadi kepala dalam kebatilan”.

  • Tidak berani cepat memberi fatwa dan memutuskan suatu hukum. Banyak ulama salaf menjaga diri untuk tidak gegabah memberi fatwa, bahkan berangan-angan agar tidak ditanya.

Abdurrahman bin Abi Laila menuturkan:”Aku telah bertemu dengan 120 sahabat Rasulullah saw yang jika salah satunya ditanya satu persoalan akan saling melemparkannya kepada yang lain sampai persoalan itu kembali lagi kepada yang pertama.

  • tidak merasa malu mengatakan “Tidak tahu”

Ulama-ulama besar terdahulu, tidak merasa malu mengatakan “Tidak tahu”

Asy Sya’bi ditanya satu persoalan, tetapi ia menjawab:”Aku tidak tahu”. Ada yang bertanya :’Apa anda tidak malu menjawab “Tidak tahu” padahal anda ahli faqihnya orang-orang Irak’. Beliau menjawab:”Jangankan aku…Malaikat saja tidak malu, ketika berkata:

قَالُوا سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ

Mereka menjawab: “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”.

 

  • Perkataan Hasan bin Rabi’ ketika mengomentari jihadnya Abdullah bin Mubarak.”… Maka aku katakan:”Mengapa engkau menyembunyikan dirimu atas kemenangan besar yang dimudahkan Allah melalui tanganmu?”. Beliau menjawab:”Karena dia yang menjadi tujuan perbuatanku, mustahil tidak mengetahuinya”.
  • Ibnu Qutaibah menceritakan:’Pasukan yang dipimpin Maslamah bin Abdul Malik mengepung sebuah banteng pertahanan. Pada dinding banteng itu terdpat sebuah lobang. Orang-orang saling berebut memasuki lobang tersebut, tetapi ternyata tidak ada seorangpun yang dapat melakukannya!…”Sesungguhnya orang yang memasuki lobang meminta kalian tiga hal: pertama, janganlah kalian menyanjung-nyanjung namanya, yakni jangan kalian menyebut-nyebut namanya dalam surat kepada Khalifah; Kedua, janganlah kalian memerintahkan siapapun untuk memberinya hadiah-hadiah; dan ketiga, jangan kalian menanyainya tentang asalnya, yakni dari kabilah mana…”

 

khatimah

  • Keberadaan niat harus disertai pembebasan dari segala keburukan, nafsu dan keduniaan, harus ikhlas karena Allah, agar amal itu diterima di sisi Allah.
  • Mewujudkan Ikhlas dalam jiwa itu sulit dan berat, Karena itu kita harus selalu membersihkan jiwa dari hawa nafsu yang tampak maupun tersembunyi, membersihkan niat dari berbagai noda, nafsu pribadi dan duniawi, meredam egoisme, kecintaan kepada diri sendiri, dan keinginan untuk mendapatkan tujuan secara langsung.
  • Ali Ra berkata,Orang yang ikhlas itu jangankan menginginkan pujian, diberikan ucapan terima kasihpun dia tidak pernah mengharapnya. Karena pada hakikatnya setiap kita beramal hakikatnya kita itu sedang berinteraksi dengan Allah,karenanya harapannya senantiasa tertuju pada keridhoan Allah semata.

Semoga Artikel ini bermanfaat untuk Sahabat Rumah Kurma Sahara.
Silahkan berbelanja kurma di Rumah Kurma Sahara, Butuh perlengkapan haji? Ingat Toko Rumah Kurma Sahara!
Jalan Raya Semplak Atang Sandjaja No. 224
Bogor Barat – Kota Bogor
Customer Care : 0821-1141-8832 | 0878-7386-0559
Delivery : 0859-2512-6067
WA | PIN BB : 0878-7386-0559 | DA7A086

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *