Kedudukan Tawakal dan Doa Dalam Islam

Tawakal adalah bersandarnya hati terhadap sang pencipta semata. Dalam arti lain tawakal adalah bersandarnya hati dengan sebenar-benarya terhadap Allah SWT dalam upaya memperoleh kemaslahatan ataupun dalam menolak kemudharatan. Dalam firman-Nya seringkali tawakal disandingkan dengan orang-orang yang beriman. Hal ini menandakan bahwa tawakal merupakan perkara yang sangat agung, yang tidak dimiliki kecuali oleh orang-orang mukmin. Bagian dari ibadah hati yang akan membawa pelakunya ke jalan-jalan kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Tawakal dibangun di atas dua hal pokok yaitu bersandarnya hati kepada Allah dan mengupayakan sebab yang dihalalkan. Orang berupaya menempuh sebab saja namun tidak bersandar kepada Allah, maka berarti ia cacat imannya. Adapun orang yang bersandar kepada Allah namun tidak berusaha menempuh sebab yang dihalalkan, maka ia berarti cacat akalnya.
Dari segi bahasa, tawakal berasal dari kata ‘tawakala’ yang memiliki arti; menyerahkan, mempercayakan dan mewakilkan. Sedangkan dari segi istilahnya, menurut Imam Ibnu Rajab rahimahullah bahwa; “Hakikat tawakal adalah hati benar-benar bergantung kepada Allah dalam rangka memperoleh maslahat (hal-hal yang baik) dan menolak mudhorot (hal-hal yang buruk) dari urusan-urusan dunia dan akhirat”

KEDUDUKAN TAWAKKAL DALAM ISLAM

Pemahaman makna tawakal kaum muslimin dewasa ini kurang tepat. Mereka sudah tidak memahami makna tawakkal yang sebenarnya. Tawakkal hanya menjadi perkataan kosong tanpa ada kenyataannya dalam kehidupan mereka. Berlainan dengan generasi pertama ummat Islam, mereka benar-benar memahami makna tawakkal kepada Allah SWT. Mereka bertawakkal kepada Allah SWT dengan tawakkal yang sebenar-benarnya. Oleh karenanya, mereka senantiasa sanggup menyelesaikan berbagai kesulitan yang dihadapi.

Mengapa kaum muslimin saat ini mengalami kemunduran? ini disebabkan karena pemahaman tawakal yang salah. Maka dari itu, bila kita ingin membangkitkan umat islam & mengembalikan kejayaan umat islam lagi , maka salah satu kuncinya adalah memberikan pemahaman tawakal yang benar kepada umat islam, sebagaimana yang dipahami oleh umat islam generasi awal, yang memahami makna tawakal dengan sebenarnya. Sebagai generasi umat islam yang terbaik dengan pemahaman tawakal yang benar, maka umat islam pada waktu itu bisa bangkit dan menjadi umat yang jaya, bisa menghadapi kesulitan & masalah yang dihadapi. Jadi kata kunci tawakal bisa kita pakai terus untuk segala hal yang berkaitan dengan kehidupan umat islam.

Jadi dalam hal apa saja, bila tawakalnya benar maka InsyaAllah hidupnya akan sukses dunia akherat. Maka apabila umat islam saat ini tidak bisa memimpin dunia, umat islam tidak bisa mengatur dunia, tidak bisa menguasai dunia, itu semua dikarenakan tawakalnya yang kurang benar, maka apabila umat islam pemahaman tawakalnya sudah benar, maka umat islam itu akan bangkit & cepat menguasai dunia dengan waktu yang sesingkat-singkatnya seperti pada zaman sahabat dahulu aamiin.

Pada zaman atau generasi sahabat dahulu, mereka bisa menaklukan Romawi, syam, Persia, sampai Iraq. Dan Umat islam mengalami kejayaan pada zamannya Khlalifah Rasyidin, yaitu zamannya Abu Bakar & Umar.

Makna tawakal itu sendiri ada tiga, yang dua salah dalam pemahaman maknanya dan yang satu benar. Pemahaman tawakkal yang salah dari kaum muslimin sekarang ini terbagi menjadi 2 kelompok besar, yaitu:
1. Tawakkal berarti terikat dengan hukum sebab-musabab.
2. Tawakkal berarti melepaskan dari hukum sebab-musabab.

1. MAKNA TAWAKAL TERIKAT DENGAN HUKUM SEBAB-MUSABAB

Tawakkal yang dimaksudkan adalah Hadits yang berbunyi: “I’qilha watawakkal…”, maksudnya adalah (“Ikatlah untamu dan bertawakkallah)” (Sunan Tirmidzi: 2636).
Hadist ini sangat terkenal & biasanya digunakan untuk memahami makna tawakal, “ikatlah untamu & bertawakallah…” biasanya hadist ini dijabarkan atau dipahami bahwa tawakal itu berikhtiar dulu baru tawakal atau bekerja dulu baru tawakal atau berusaha dulu baru tawakal, yang berarti kejadian dulu baru tawakal.

Misalnya seperti seorang mahasiswa yang akan ujian, maka harus belajar sunguh-sungguh dan mengerjakan ujian dengan serius sampai mati-matian, kemudian menunggu hasil ujian baru tawakal akan hasil yang dicapai.
Atau seorang pengusaha, kita sudah berusaha mati-matian mempromosikan dan mengiklankan produk, apakah ada respon atau tidak, kita tawakal, kita tunggu kalau ada yang telpon dari custumer yang mau beli Alhamdulillah, kalau tidak ya,,,belum rezeki.

Hadits “Ikatlah untamu dan bertawakallah…” sering digunakan untuk memperlemah makna tawakkal dalam jiwa manusia. Akibatnya “himmah” dan “azimah” kaum muslimin menjadi turun. Jadi semangat & cita-cita tidak ada, menjadi loyo, Pandangan kehidupannya menjadi sempit, akan merasa lemah, kemampuannya terbatas dan tidak mampu melakukan apapun di luar kemampuannya.

Contohnya: anak seorang kuli bangunan/anak tukang becak/anak-anak lainnya yang orang tuanya miskin mereka tidak berani punya cita-cita yang tinggi karena pemahaman mereka yang kurang benar terhadap tawakal. Mereka menjadi orang-orang yang pesimis dengan berpikiran bahwa tidak mungkin anak seorang miskin bisa sekolah tinggi karena segala sesuatunya selalu dikaitkan dengan sebab musabab. Untuk bisa sekolah tinggi itu perlu biaya yang sangat banyak, lalu darimana orang miskin seperti kita (kata mereka) mendapatkan uang banyak?
Contoh lain: seseorang yang merasa dirinya kurang pandai tidak akan berani punya cita-cita yang tinggi. Dia merasa tidak akan mungkin dirinya bisa meraih gelar dokter misalnya atau gelar-gelar bergengsi lainnya. Dia akan mencamkan dalam dirinya bahwa gelar-gelar itu bukan untuk dirinya.

Jika tawakal muncul setelah ikhtiar maka ketika ikhtiar dilakukan sebenarnya tidak ada tawakal disitu.
Jadi bekerja tanpa ada tawakal, berarti jika dia bekerja sepenuhnya akan menggunakan hukum sebab musabab saja , yaitu menggunakan perhitungan akal manusia / mengukur kemampuan dirinya semata.

Maka konsekuensinya adalah manusia tidak terdorong untuk mencapai cita-cita yang tinggi, pandangannya hanya terbatas pada kekuatan manusiawi belaka, jadi berikhtiar dulu baru bertawakal, ketika berikhtiar atau berusaha semua terikat dengan perhitungan akal atau logika mausia saja, hanya mengandalkan pada kekuatan manusiawinya yang terbatas, dia akan menjadi lemah untuk melakukan pekerjaan yang biasa, apalagi kalau ditantang untuk melakukan pekerjaan yang luar biasa, sudah tidak mungkin terpikir lagi hal itu bisa terjadi?, karena apabila prinsip berikhtiar dulu baru bertawakal yang digunakan maka tiada ada tawakal, kalau tidak ada tawakal tidak ada pengaruh apapun tawakal pada kehidupannya, apabila tidak ada pengaruh tawakal pada kehidupan kita maka umat ini akan menjadi lemah, lembek, loyo, tidak mungkin bisa kbangkit atau mencapai kejayaan kembali, karena mereka tidak bertawakal dengan sebenarnya.
Apabila generasi awal islam dulu seperti ini maka islam tidak akan tersiar ke suluruh penjuru dunia, tidak akan sampai ke Indonesia atau Australia, maka kita selamanya akan hidup adalam keadaan kafir, naudzubillah,,,,,,.

Maka jika umat islam saat ini tidak mempunyai pemahaman tawakal yang benar seperti zaman generasi awal umat islam, maka akan seperti ini terus, tidak akan pernah bangkit. Mereka akan berpikir mana mungkin kaum muslimin bisa menaklukkan Amerika, Russia atau mengislamkan orang Eropa sementara kaum muslimin saat ini tidak memiliki tentara yang tangguh, tidak memiliki peralatan perang yang canggih, tidak memiliki kapal tempur yang hebat jadi hanya mimpi kaum muslimin akan bisa menguasai dunia.

2. MAKNA TAWAKAL TERKAIT MELEPASKAN HUKUM SEBAB-MUSABAB

Tawakkal yang dipahami adalah identik dengan “pasrah” secara total kepada kehendak Allah SWT.
Sebagaimana Hadits lengkap tentang orang arab baduwi yang membawa seekor unta:

“Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah SAW sambil meninggalkan unta tunggangannya, seraya berkata: ‘aku lepas untaku dan aku bertawakkal’, maka Nabi-pun berkata: ‘ikatlah untamu dan bertawakkalah”.

Sebagaimana orang-orang yang hidup di jaman Umar bin Khattab, yang kerjanya hanya berdiam di masjid. Pada waktu itu Umar pernah menanyakan tentang kehidupan mereka. Maka merekapun menjawab: “Kami ini orang-orang yang bertawakkal (mutawakkiluun)”.

Umarpun berkata: “Bukan, kalian ini tak lain adalah orang-orang mutawaakiluun (orang-orang yang berpangku tangan tanpa berusaha)”.

Lantas Umarpun berkata:
“Janganlah kalian seorangpun berpangku tangan tidak mencari rizki, kemudian berdo’a kepada Allah: ‘Ya Allah, berilah aku rezki’. Sebab kalian sudah mengetahui bahwa langit itu tidak pernah menurunkan hujan emas ataupun perak”.

“Saya lepas untaku dan bertawakal”, maknanya cukup bertawakal saja dan tidak perlu berikhtiar. Disini manusia tidak mau menggunakan akalnya, ia hanya pasrah pada keyakinan didadanya, konsekuensinya maka manusia seperti ini tidak mau terikat dengan sunnatullah, tidak mau berikhtiar dan berusaha, hanya mengandalkan sikap pasrah saja pada Allah, hidupnya seperti bulu yang diterbangkan angin dan tidak memiliki semangat dan cita-cita dalam hidupnya.
Semuanya terserah pada Allah, dalam hidupnya tidak mempunyai cita-cita, tidak mempunyai target, maka adanya hanya pasrah terus, hanya pasrah berdoa menunggu rezeki dari Allah, menunggu pertolongan dari Allah tanpa disertai dengan ikhtiar.

3. MAKNA TAWAKAL YANG KE-3 ADALAH MAKNA TAWAKAL YANG BENAR YAITU TAWAKAL SEBAGAI PENYANGGA UTAMA KEHIDUPAN

Jatuh bangunnya umat islam tergantung dengan pemahaman tawakalnya. Umat islam bisa tegak, bisa meraih kemuliaan dan menguasai dunia, bisnis atau kuliah bisa sukses insyaAllah karena pemahaman tawakalnya yang benar

Jadi tawakal seharusnya menjadi penyangga utama bagi kehidupan umat manusia dalam segala hal, bahwa tawakal yang benar adalah tawakal sebelum, selama dan setelah ikhtiar atau tawakal forever.

Maka tawakal yang benar adalah sebelum melakukan apa-apa, pada awal kita melangkahkan kaki dalam berikhtiar sudah bertawakal dalam arti yakin bahwa yang ada dibelakang kita, yang menjadi backing kita, yang menolong kita, yang mendukung kita adalah Allah SWT, kita harus yakin seyakin yakinnya kalau yang membantu kita adalah Allah, sehingga akan memunculkan energi yang sangat dasyat.

Dengan keyakinan akan kekuatan Allah dan keyakinan Allah sebagai backing dalam kehidupan kita maka manusia akan bisa menembus dimensi hukum sebab musabab dan inilah yang akan memunculkan konsekuensi terhadap akal manusia.

KONSEKUENSI TERHADAP AKAL MANUSIA

Bagaimana caranya untuk memastikan bahwa setiap langkah kita itu dibacking dan dibantu atau ditolong oleh Allah? Bila kita ingin Allah yang menjadi backing kita dalam setiap pekerjaan yang kita lakukan maka syaratnya adalah bahwa seluruh langkah yang kita lakukan harus sesuai dengan syariat Allah. Mana mungkin Allah akan menjadi backing kita, akan membantu /menolong kita tetapi semua yang kita lakukan melanggar syariat Allah dan melanggar hukum-hukum Allah. Oleh karena itu bila kita menginginkan Allah sebagai backing kita maka yang harus kita lakukan adalah:
1. Kita harus memiliki Visi &Misi hidup kita harus benar, selaras dengan misi kehidupan yang telah ditetapkan oleh Allah—-yaitu harus sesui dengan visi & misi penciptaan Allah
2. Dalam menjalani hidup kita harus senantiasa terikat dengan syariat Allah atau hukum Allah
3. Dalam melangkahkan kakinya manusia harus senantiasa memperhitungkan sunnatullah,apabila syariat sudah benar, tawakal sudah benar tetapi tidak mau terikat dengan sunatullah itu namanya tetap belum sempurna tawakalnya kepada Allah.

KONSEKUENSINYA

Manusia yang bertawakal harus senantiasa memiliki himmah dan Azimah yang tinggi dan mulia (QS ALI IMRON 110). contoh manusia zaman sahabat disebut Allah sebagai generasi umat yang terbaik karena mereka mempunya cita2 yang tinggi, umat terbaik yang mempunyai mimpi memimpin dunia sehingga manusia yang mempunyai pemahaman tawakal yang benar itu manusia yang berani menembus batas dimensi manusiawi, senantiasa bersemangat, pemberani dan tidak mudah putus asa, hidupnya senantiasa terikat dengan syariat Allah—hidupnya senantiasa terikat dengan sunnatullah—–itulah cir-ciri manusia yang bertawakal dengan tawakal yang sebenarnya

DALIL-DALILNYA:

  • إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ ٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ ٱللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ
    عَلَيْهِمْ ءَايَٰتُهُۥ زَادَتْهُمْ إِيمَٰنًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
    “Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan Hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal”. (QS. Al-Anfal: 2)
  • ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۚ وَعَلَى ٱللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ ٱلْمُؤْمِنُونَ“
    “(Dia-lah) Allah tidak ada Tuhan selain Dia. dan hendaklah orang-orang mukmin bertawakkal kepada Allah saja”. (QS. At-Taghabun: 13))

HADIST NABI SAW:

  •  “Ada 70 ribu orang dari ummatku yang masuk surga tanpa hisab, mereka adalah orang-orang yang tidak suka mengambil hak orang lain, yang tidak tidak suka bercerai berai, tidak suka dendam dan orang-orang yang bertawakkal kepada Rabbnya” (HR. Bukhari dari Ibnu Abbas)
  •  “Seandainya saja engkau bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakkal, pasti Allah akan memberimu rizki seperti halnya burung diberi rizki. Pagi hari mereka pergi dengan perut kosong, namun sore hari kembali dengan perut penuh”. (HR. Ahmad dan Tirmidzi dari Ibnu Umar)

Dalil-dalil tersebut menunjukkan tidak memberi sedikitpun bagi seorang muslim untuk ragu dalam bertawakal, walaupun hanya sekejap dalam setiap urusan dan dalam segala pekerjaan, wajib selalu bertawakal kepada Allah secara mutlak tanpa embel-embel apapun, jadi hadist yang berbunyi “ I’QILHA WATAWAKKAL” adalah khusus bag mereka yang memahami tawakal adalah melepaskan hokum sebab musabab.
Jadi tawakal yang sebenarnya adalah menempatkan tawakal sebelum, selama dan setelah kejadian/ikhtiar

CONTOH:
Bila ingin berawakal dengan benar dan menjadikan Allah sebagai backing kita maka harus sesuai dengan yang ketiga ciri konsekuensi tawakal tadi, diantaranya visi dan misi hidup kita harus sesuai dengan visi & misi hidup yang ditetapkan oleh Allah.
Sebagaimana firman Allah dibawah ini:

  • هُوَ ٱلَّذِىٓ أَرْسَلَ رَسُولَهُۥ بِٱلْهُدَىٰ وَدِينِ ٱلْحَقِّ لِيُظْهِرَهُۥ
    عَلَى ٱلدِّينِ كُلِّهِۦ وَلَوْ كَرِهَ ٱلْمُشْرِكُونَ
    “Dia-lah yang mengutus rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang musyrik membenci”. (QS. Alt-Taubah: 33)
  • َقَٰتِلُوهُمْ حَتَّىٰ لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ ٱلدِّينُ لِلَّهِ
    “Perangilah mereka sehingga tidak ada lagi fitnah (kekufuran) sehingga agama itu hanya untuk Allah semata” (QS. Al-Baqarah: 193)

Dari dua ayat diatas, jelas bahwa misi hidup umat islam yang utama adalah bahwa Allah menghendaki agar agama islam dapat dimenangkan atas semua agama didunia ini, untuk memerangi kekufuran meskipun orang-orang musyrik membencinya. Jadi inti dari tawakal adalah yakin sepenuhnya bahwa Allah akan menjadi backing kita walaupun faktanya sangat berat dan hampir tidak mungkin, tetap optimis bersemangat dan pantang menyerah. Dan apabila visi & misi hidup kita sudah selaras dengan visi & misi yang ditetapkan oleh Allah, maka kita bisa memetik buah dari tawakal itu, yaitu terkait dengan HUKUM SYARA. Maka Dalam melangkahkan kaki dalam setiap kehidupan kita harus sesuai dengan syariat Allah yang terkandung dalam Al Qur’an dan Sunnah-Nya.

KEDUDUKAN DO’A DALAM ISLAM

Do’a adalah permohonan seorang hamba kepada Tuhannya. Do’a merupakan inti dari aktifitas ibadah yang paling agung. Sebagian Ummat Islam memahami bahwa Do’a dapat dijadikan sebagai jalan (Thoriqoh ) untuk menyelesaikan berbagai masalah yang dihadapinya. Mereka sangat mengandalkan Do’anya sendiri, atau meminta pertolongan dengan Do’anya Orang-orang Sholih. Mereka enggan berusaha dan berikhtiar, upaya yang ditempuh hanya satu, yaitu Berdo’a kepada Allah Swt. Mereka senantiasa mengharapkan munculnya keajaiban-keajaiban dari Do’a.

Disisi lain, ada ummat islam yang malas berdo’a. Karena mereka tidak yakin, bahwa do’anya akan dapat menyelesaikan masalah hidup yang dihadapinya. Jika mereka berdo’a, hanya sebatas “formalitas” belaka. Yang penting sudah berdo’a, tidak terlalu berharap do’anya akan dikabulkan.Mereka sangat mengandalkan ikhtiarnya.

BAGAIMANA KEDUDUKAN DOA SESUNGGUHNYA?

Rasulullah saw bersabda:

• الدُعَاءُ مُخُّ العِبَادَةِ
“Do’a itu adalah otaknya ibadah” (HR. Tirmidzi)

• لَيْسَ شَيْءٌ اَكْرَمُ عَلَى اللهِ مِنَ الدُّعَاءِ
“Tidak ada sesuatu yang lebih mulia di sisi Allah, selain daripada do’a” (HR. Ibnu Majah dari Abu Hurairah)

• مَنْ لَمْ يَسْألِ اللهَ يَغْضَبْ عَلَيْهِ
“Siapa saja yang tidak mau memohon (sesuatu) kepada Allah, maka Allah akan murka kepadanya” (HR. Tirmidzi dari Abu Hurairah)

• سَلُوا اللهَ مِنْ فَضْلِهِ فَإِنَّ اللهَ يُحِبُّ اَنْ يُسْأَلَ
“Mintalah kepada allah akan kemurahannya, karena sesungguhnya allah senang apabila dimintai (sesuatu)” (HR. Tirmidzi dari ibnu mas’ud).

• مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُوْ بِدَعْوَةِ اللهِ إلاَّ اَتَاهُ اللهُ اِيَّاهَا، اَوْ صَرَّفَ عَنْهُ مِنَ السُّوْءِ مِثْلِهِ
“Tidak ada seorang muslimpun di muka bumi ini yang berdo’a kepada allah, kecuali akan dikabulkan do’anya, atau dijauhkan suatu keburukan/musibah yang serupa” (HR. Tirmidzi dan hakim dari ubadah ibn shamit).

• مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُوْ بِدَعْوَةِ لَيْسَ فِيْها اِثْمٌ وَلاَ قَطِيْعَةٌ إلاّ اَعْطاهُ اللهُ بِها اِحْدَى ثَلاثٍ: إمَّا اَنْ يُعَجِّلَ لَهُ دَعْوَتَهُ، وَإمَّا اَنْ يُدَخِّرَهَا لَهُ فِي الاَخِرَةِ، وَإمَّا أنْ يُصَرِّفَ عَنْهُ السُّوْءَ مِثْلَهَا
“Tidak ada seorang muslimpun yang berdo’a dengan do’a yang tidak mengandung dosa dan memutus hubungan silaturrahmi, kecuali allah akan memberikan kepadanya satu diantara tiga hal: dikabulkan do’anya; ditangguhkan hingga hari kiamat; atau dijauhkan dari suatu keburukan/musibah yang serupa” (HR. Ahmad dari abi said al-khudri).

Allah SWT berfirman:

وَٱلَّذِينَ يُؤْتُونَ مَآ ءَاتَوا۟ وَّقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَىٰ رَبِّهِمْ رَٰجِعُونَ
”Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu ”. (QS. Al-Mu’min: 60).

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِى عَنِّى فَإِنِّى قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا۟ لِى وَلْيُؤْمِنُوا۟ بِى لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang aku, Maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”. (QS. Al-Baqarah: 186).

َمَّن يُجِيبُ ٱلْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ ٱلسُّوٓءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَآءَ ٱلْأَرْضِ ۗ أَءِلَٰهٌ مَّعَ ٱللَّهِ ۚ قَلِيلًا مَّا تَذَكَّرُونَ
“Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah disamping Allah ada Tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati(Nya)”. (Qs. An-naml: 62)

Dari dalil-dalil diatas dapat disimpulkan bahwa Do’a merupakan Perintah Allah SWT kepada hamba-Nya. Allah memerintahkan kepada setiap muslim untuk berdo’a, baik dikala sempit maupun lapang, di dalam hati maupun diungkapkan. Allah-lah satu-satunya Dzat yang dapat mengabulkan do’a, bukan yang lain. Berdoa lebih baik daripada hanya berdiam atau berserah diri. Karena Doa merupakan manifestasi dari kepatuhan dan ketundukan kepada Allah SWT.

NAMUN DEMIKIAN…Perlu difahami bahwa:

  •  Do’a itu tidak dapat mengubah ilmu Allah>>>karena ilmu Allah adalah ketetapan pasti sebagai hak prerogative Allah
  •  Do’a tidak dapat menolak qodlo’ Allah>>>qadha Allah adalah sesuatu kenyataan dan pasti terjadi. Sesuatu hal dapat diketahui kalau sudah terjadi.
  •  Do’a tidak dapat mencabut qodar Allah>>>qadar Allah adalah hal-hal yang terkait dengan khasiyat benda yang diciptakan oleh Allah, yang tidak bisa dicabut khasiyatnya dengan do’a.
  •  Do’a tidak dapat merubah hukum sebab musabab>>> Allah telah menciptakan hukum sebab – akibat, dijadikan-Nya sebab supaya dapat melahirkan musabab (akibat) dengan pasti. Jika tidak menghasilkan musabab tertentu, berarti ia bukan sebab.

Oleh karena itu doa tidak bisa dijadikan sebagai jalan satu-satunya untuk menyelesaikan permasalahan hidup, tetapi didalam menyelesaikan masalah hidup harus mengikuti hukum sebab musabab. Sebab, Allah telah menciptakan aturan-aturan untuk manusia, alam semesta, dan kehidupan, dimana ketiganya tunduk pada aturan-aturan itu. Allah pun mengingatkan sebab dengan musabab. Sehingga do’a tidak memiliki pengaruh untuk mengubah atutran-aturan Allah, atau keluar dari hukum sebab-akibat yang telah dibuat-Nya. Misalnya ketika orang tua menginginkan anak-anaknya menjadi anak-anak yang sholeh/sholihah maka tidak cukup dengan hanya berdo’a. Tetapi pada saat yang sama harus melakukan langkah-langkah dengan memberikan pendidikan yang mengarah akan menjadikan mereka menjadi anak-anak yang sholeh/sholehah. Step-stepnya adalah sebagai berikut:

– Orang tua punya niat/itikad agar anaknya menjadi anak sholeh/sholehah
– Orang tua bertawakal, yakin bahwa Allah akan menolongnya menjadikan anaknya sholeh/sholehah.
– Berdo’a pada Allah agar anaknya dijadikan sholeh/sholehah
– Memberikan pendidikan terbaik pada anak dan pada saat yang sama tetap bertawakal dan berdo’a pada Allah SWT.
– Hasil akhirnya diserahkan pada Allah dengan tetap bertawakal dan berdo’a.

Step-step ini bisa digunakan untuk melakukan aktivitas-aktivitas lainnya. Jadi kaum muslimin tidak melepaskan sedikitpun tawakal dan do’a nya ketika melakukan aktivitas kehidupannya.

TUJUAN BERDO’A:
• Untuk melaksanakan perintah Allah.
• Untuk mendapatkan pahala dari Allah.
• Sebagai amal ‘ibadah dan manifestasi ketundukan kepada Allah.
• Untuk memenuhi suatu kebutuhannya, baik dalam perkara dunia maupun akherat.
• Do’a juga dapat digunakan untuk menghilangkan rasa sedih berkaitan dengan urusan duniawi dan akherat.
Jika doa dikabulkan maka Hal itu merupakan anugerah dari Allah SWT. Pemenuhannya-pun akan sejalan dengan hukum sebab-musabab. Jika kebutuhannya tidak terpenuhi, akan tetap mendapat pahala dari Allah.

BENTUK-BENTUK DO’A
• Do’a boleh dengan bentuk apapun yang dikehendakinya.
• Di dalam hati maupun dengan lisan.
• Dengan kalimat apapun, tidak mesti terikat dengan suatu do’a tertentu.
• Boleh juga meniru do’anya orang lain.
• Namun, yang lebih utama adalah mengikuti do’a sebagaimana yang tercantum dalam Al Qur’an dan Al Hadits.

KHATIMAH

“(yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, Karena itu takutlah kepada mereka”, Maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: “Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung”.(QS. Ali Imran: 173)

Kita adalah makhluk lemah, kita tidak memiliki kekuatan, namun tidak perlu merasa cemas, takut atau khawatir dengan segala ancaman atau musibah yang menimpa kita, karena ada Allah sebagai penolong dan pelindung kita. Kekuatan hanya milik Allah Yang Maha kuat, maka serahkanlah segara urusan kepada-Nya. Karena siapa lagi yang mampu menolong dan menjadi pelindung untuk segala urusan kita selain Allah? Insya Allah jika kita bertawakal dan berdo’a kepada Allah SWT, maka Dia akan menjadi Penolong dan Pelindung kita. Hasbunallah wani’mal wakiil.

Semoga Artikel ini bermanfaat untuk Sahabat Rumah Kurma Sahara.
Silahkan berbelanja kurma di Rumah Kurma Sahara, Butuh perlengkapan haji? Ingat Toko Rumah Kurma Sahara!
Jalan Raya Semplak Atang Sandjaja No. 224
Bogor Barat – Kota Bogor
Customer Care : 0821-1141-8832 | 0878-7386-0559
Delivery : 0859-2512-6067
WA | PIN BB : 0878-7386-0559 | DA7A086

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *