Ikhlas dalam Segala Hal

Sebelum kita membahas materi “ikhlas dalam segala hal”, mari kita review kembali makna dan ciri-ciri ikhlas.

Makna ikhlas dan ciri-cirinya:

IKHLAS ITU

• Ketika nasehat, kritik dan bahkan fitnah, tidak mengendorkan amalmu dan tidak membuat semangatmu punah.
• Ketika hasil tak sebanding usaha dan harapan, tak membuatmu menyesali amal dan tenggelam dalam kesedihan.
• Ketika amal tidak bersambut apresiasi sebanding, tak membuatmu urung bertanding
• Ketika sepi dan ramai, sedikit atau banyak, menang atau kalah, kau tetap pada jalan lurus dan terus melangkah.
• Ketika kau lebih mempertanyakan apa amalmu dibanding apa posisimu, apa peranmu dibanding apa kedudukanmu, apa tugasmu dibanding apa jabatanmu.
• Ketika ketersinggungan pribadi tak membuatmu keluar dari barisan dan merusak tatanan.
• Ketika posisimu di atas, tak membuatmu jumawa, ketika posisimu di bawah tak membuatmu enggan bekerja.
• Ketika khilaf mendorongmu minta maaf, ketika salah mendorongmu berbenah, ketika ketinggalan mendorongmu mempercepat kecepatan.
• Ketika kebodohan orang lain terhadapmu, tidak kau balas dengan kebodohanmu terhadapnya, ketika kedzalimannya terhadapmu, tidak kau balas dengan kedzalimanmu terhadapnya.
• Ketika kau bisa menghadapi wajah marah dengan senyum ramah, kau hadapi kata kasar dengan jiwa besar, ketika kau hadapi dusta dengan menjelaskan fakta.
• Gampang diucapkan, sulit diterapkan….. namun tidak mustahil diusahakan….
• Ikhlas itu… Seperti surat Al Ikhlas.. Tak ada kata ikhlas di dalamnya…

Ikhlas dalam segala hal, meliputi:

1. Ikhlas dalam bertauhid

– Mari kita membahas dari yang paling mendasar, yaitu Ikhlas dalam mengesakan Allah. Syeikh Abdul Qadir al-Jaylani- seorang ulama salafus shaleh, dalam salah satu pengajiannya yang terdokumentasi dalam kitab “al-Fath al-Rabbani wa al Faydh al-Rahmani”, menjelaskan hal yang mendasar dalam kehidupan yakni bertauhid; harus dilakukan dengan ikhlas.

  •  Beliaumengutip sabdaRasulullah Saw. : “Singkirkan setan-setanmu dengan ucapan Laailaaha Illallah Muhammadur-Rasulullah, karena setan itu diikat dengan kalimat itu sebagaimana kalian memembebani derita untanya dengan banyaknya tumpangan dan beban-beban yang dipikulnya.”
    Tetapi ucapan tersebut, bukan hanya sekedar ucapan biasa. Syeikh ini mengatakan, bagaimana kita bisa mengucapkan kalimat laa ilaha illallah, sedangkan dihati in iada banyak Tuhan?. Tuhan yang dimaksud adalah Segala sesuatu yang dijadikan pegangan dan diandalkan selain Allah, maka sesuatu itu adalah berhala.

Jadi tauhid verbal (ucapan) tidak ada artinya jika qalbu kita musyrik. Walaupun kita setiap saat shalat mengucapkan berdzikir laa ilaaha illallah Muhammadur rasulullah, namun jika dihati kita masih ada uang, rumah, kepentingan, anak, suami, dll. Yang lebih kita cintai, daripada Allah dan Rasul maka dziki atau ucapan tersebut belum dilakukan dengan ikhlas dan tidak memiliki ruh atau arti apa-apa di hadapan Allah SWT.

Walaupun, misalnya seseorang berdzikir sampai ratusan kali, setan akan tetap bercokol dan mempengaruhi kehidupannya. Bukan lagi keimanan maupun rasa takut kepada Allah yang berpengaruh dalam hidupnya.

Tauhid yang benar
Nabi SAW, bersabda kepada sepupunya, Abdullah bin Abbas r.a: “wahai bocah, aku akan mengajarimu beberapa kata: jagalah Allah, niscaya ia akan menjagamu, jagalah Allah niscaya engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu, jika engkau meminta maka mintalah kepada Allah, jika engkau memohon pertolongan maka mohonlah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah, jika sebuah kaum berkumpul untuk memberikan manfaat kepadamu, maka mereka tidak akan bisa memberikan manfaat kecuali apa yang telah Allah tuliskan bagimu. Dan jika sebuah kaum berkumpul untuk memberimu bahaya, maka mereka tidak akan bisa membahayakanmu kecuali apa yang telah Allah tuliskan untukmu”.

Ketika kita menjadikan Allah dan RasulNya, lebih utama dari apapun. Niscaya Allah akan menjaga kita. Kita selalu menjadikan Allah yang pertama dalam segala hal. Ada rasa ketergantungan kita, secara spontan kepada Allah. Misalnya ketika kita mepunyai masalah dengan anak atau suami atau masalah apapun, maka pertama kita harus minta pertolongan Allah. Kemudian baru kita mencari kaidah kausalitas (hukum sebab-akibat)nya, meminta bantuan pada teman kita, mencari informasi dari buku dll.

Di akhir hadist diatas “……sebuah kaum berkumpul untuk memberikan manfaat kepadamu, maka mereka tidak akan bisa memberikan manfaat kecuali apa yang telah Allah tuliskan bagimu. Dan jika sebuah kaum berkumpul untuk memberimu bahaya, maka mereka tidak akan bisa membahayakanmu kecuali apa yang telah Allah tuliskan untukmu”.
Jadi masalah takdir (umur, rezeki, dll) sudah ditetapkan oleh Allah. Yang secara ikhlas, harus kita yakinikebenarannya. Misalnya, ketika muslim didzalimi pemerintah. Jika memang Allah telah menetapkan rezeki banyak pada seorang muslim, maka siapapun tidak akan mampu menghalanginya.

• Ikhlas perlu Ilmu
Syeikh Abdul Qadir al-Jaylani mengatakan,bahwa Ikhlas itu perlu butuh Ilmu. Belajarlah dan ikhlaslah, hingga anda bersih dari duri kemunafikan, lalu ikatlah. Carilah ilmu karena Allah Azza wa-Jalla, bukan demi kepentingan makhluk dan dunia.
Jadi dalam meraih keikhlasan, dibutuhkan suatu ilmu. Ketika kita tidak memiliki ilmu maka kita tidak tahu tauhid yang benar. Sehingga tauhid kita hanyalah warisan nenek moyang. Dan kita tidak akan mampu membedakan mana syirik kecil dan syirik besar.
Oleh karena itu, Apa yang telah kita pelajari, kemudian kita yakini dan amalkan dengan penuh keikhlasan- dalam menerima semua ketetapan Allah SWT.

Tanda seseorang mencari ilmu karena Allahmenurut syeikh Abdul Qadir al-Jaylani:
– Rasa takut dan gentarmu dari Allah ketika perintah dan laranganNya tiba, dan anda sangat fokus di sana,
– Merasa hina di hadapanNya, tawadlu terhadap sesama namun tanpa kepentingan pada mereka, sama sekali tidak berharap dari apa yang menjadi milik mereka.
– Nabi Yusuf as, ketika sabar dalam deritanya dan diperbudak, dipenjara dandihina, namun berselaras dengan tindakan Tuhannya maka ia malah sukses dan menjadi raja.
– Allah mengalihkan dari kehinaan menjadi kemuliaan.
– Begitu juga anda, jika mengikuti syariat dan anda sabar bersama Allah anda takut padaNya, berharap padaNya, dan kontra pada nafsu anda, setan anda, kesenangan anda, anda pun akan berpindah dari situasi saat ini, dari situasi yang anda benci menuju situasi yang anda sukai.
– Karena itu seriuslah dan berjuanglah. Karena perjuangan itu melahirkan kebaikan. Siapa yang bersikeras dalam perjuangannya maka akan meraihnya.
– Berjuanglah untuk makan makanan halal, karena bisa mencahayai hati anda dan mengeluarkan dari kegelapan hatimu. Akal yang paling berguna adalah yang mengenalkanmu pada nikmat Allah azza wa-Jalla dan menempatkan dirimu pada posisi syukur padaNya, membantumu untuk berkenalan dengan nikmat dan kriterianya
– Karena itu seriuslah dan berjuanglah. Karena perjuangan itu melahirkan kebaikan. Siapa yang bersikeras dalam perjuangannya maka akan meraihnya.
– Berjuanglah untuk makan makanan halal, karena bisa mencahayai hati anda dan mengeluarkan dari kegelapan hatimu. Akal yang paling berguna adalah yang mengenalkanmu pada nikmat Allah azza wa-Jalla dan menempatkan dirimu pada posisi syukur padaNya, membantumu untuk berkenalan dengan nikmat dan kriterianya.
– Perhiasan hati adalah dengan tauhid, yakni ikhlas bersandar penuh kepada Allah dan dengan MengingatNya dan melupakan selainNya. Keimanan yang penuh kepada Allah adalah yang utama dari pada dunia dan isinya- anak, suami, harta, jabatan dan lainnya.

2. Ikhlas dalam beribadah

– Ibadah merupakan konsekuensi dari keimanan seseorang. Dan juga merupakan ekspresi penghambaan kita kepada dan hanya kepada Allah. Akan sangat rugi jika kita tidak ikhlas dalam masalah ini.
Syeik Ibn Athaillah al Sakandari mengupasnya disalah satu bab di kitab “Taj al-Arus al-Hawi li Tahdzib al-Nufus”;

• Siapa menghendaki akhir yang baik, ia perlu menyiapkan awal yang baik. Siapa menghendaki surga, ia pun harus ikhlas dalam beramal. Siapa yang bersungguh-sungguh menuju Allah Subhanahu wa Ta’ala, pasti Allah menjauhkannya dari gangguan para musuh, melindunginya dari kejahatan, membantu kehidupannya, menunjukinya pada amal yang baik dan benar.
Allah berfirman, “Orang-orang yang mengikuti petunjuk pasti diberi Allah tambahan petunjuk dan diberi sifat takwa.” (QS. Muhammad: 17).

• Jika seseorang ingin kondisinya diketahui orang lain, berarti ia telah tertipu. Syaddad ibn Aws mendengar Rasulullah bersabda, “Siapa berpuasa karena riya berarti telah berbuat syirik. Siapa melaksanakan shalat karena riya berarti telah berbuat syirik. Dan siapa bersedekah karena riya berarti telah berbuat syirik.” (HR. al-Bayhaqi).

• Namun, ibadah yang disertai hawa nafsu memang akan menjadi ringan dilakukan, sementara ibadah yang tidak disertai hawa nafsu menjadi sangat berat. Betapa berat ibadah yang dikerjakan tanpa dilihat orang. Sebaliknya, betapa ringannya ibadah dilakukan bila dilihat, dipuji, dan disanjung oleh orang.

Contoh yang paling jelas adalah ketika kita melakukan haji sunah –sesudah yang wajib–sekian puluh kali, itu takkan memberatkan kita. Tetapi, kalau ada yang menganjurkan kita untuk bersedekah sebanyak ongkos haji tersebut kepada para fakir miskin atau untuk pembangunan masjid, kita akan menjadi bakhil dan merasa berat. Sebab, berhaji bisa disaksikan dan diketahui banyak orang.

Demikian pula ketika kita menuntut ilmu tidak karena Allah, dalam kondisi tersebut kita mampu belajar semalam suntuk. Nafsu dan hasrat menjadi terpuaskan. Tapi, kalau kita disuruh untuk shalat malam dua rakaat, itu akan terasa berat sebab dalam dua rakaat yang kita lakukan itu nafsu tidak mendapat tempat. Sementara dengan membaca dan belajar, nafsu mendapat tempat karena bisa membanggakan ilmu yang kita miliki di hadapan orang. Oleh karena itu, aktivitas membaca dan belajar itu pun menjadi ringan. Hal-hal seperti itu tentu saja adalah kerugian yang nyata.

• Dari Mahmud ibn Labid diriwayatkan bahwa Rasulullah pernah bersabda, “Yang paling aku takutkan atas kalian adalah syirik yang paling kecil.” Para sahabat pun bertanya, “Apa syirik terkecil itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Riya.”

• Ketika membalas semua amal perbuatan manusia, Allah berkata, “Pergilah ke orang-orang yang kalian ingin agar amal kalian dilihat mereka di dunia. Apakah mereka mampu memberikan balasan?” (HR. Ahmad)

• Wahai saudaraku, lakukanlah amal-amal saleh secara rahasia, sehingga hanya kita dan Allah yang mengetahuinya. Upayakan agar jangan ada yang melihatnya. Jadikan amal tersebut sebagai amal yang tulus hanya untuk Allah, sehingga kita bisa mendapatkan dalam timbangan amal kebaikan di hari kiamat kelak.Allah berfirman, “Pada hari ketika tiap-tiap jiwa mendapati hasil segala perbuatan baiknya berada di hadapannya.” (QS. Al `Imran: 30).

• Jauhilah perasaan bangga dan ingin dilihat orang. Sebab, nafsu sangat senang bila amal disebut-sebut dan dipuji. Jangan sampai menghapus pahala amal yang dengan susah payah dilakukan. Juga, jangan pergunakan diri kita pada suatu maksiat.Rasulullah bersabda, “Siapa memakai pakaian ketenaran, Allah akan memakaikan kepadanya pakaian kehinaan pada hari kiamat.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Ibn Majah). Seperti para penguasa yang dzalim dan ulama’ suu’ (penjilat penguasa), yang saat ini memakai pakaian ketenaran atau kebesaran mereka. Kelak di hari kiamat Allah akan memakaikan kehinaan pada mereka.

Dalam masalah ibadah ini, keikhlasan yang diinginkan di sini adalah mencakup dua perkara:

1. Lepas dari syirik ashgar (kecil) berupa riya` (ingin dilihat), sum’ah (ingin didengar), keinginan mendapatkan balasan duniawi dari amalannya, dan yang semisalnya dari bentuk-bentuk ketidakikhlasan.

Rasulullah -SAW- bersabda bahwa Allah berfirman dalam hadits Qudsy:
“Barangsiapa yang mengerjakan suatu amalan apapun yang dia memperserikatkan Saya bersama selain Saya dalam amalan tersebut, maka akan Saya tinggalkan dia dan siapa yang dia perserikatkan bersama Saya”. (HR. Muslim no. 2985 dari Abu Hurairah -radhiallahu anhu-)
Bahkan Allah Ta’ala telah menegaskan dalam firmanNya:
مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ
أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ ۖ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Barangsiapa yang menghendaki (dengan ibadahnya) kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan”. (QS. Hud : 15-16)

2. Lepas dari syirik akbar (besar), yaitu menjadikan sebahagian dari atau seluruh ibadah yang sedang dia amalkan untuk selain Allah -SWT.
Perkara kedua ini jauh lebih berbahaya, karena tidak hanya membuat ibadah yang sedang diamalkan sia-sia dan tidak diterima oleh Allah, bahkan membuat seluruh pahala ibadah yang telah diamalkan akan terhapus seluruhnya tanpa terkecuali.

Allah SWT berfirman dalam surat Az-Zumar ayat 65:

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (Nabi-Nabi) yang sebelummu: “Jika kamu berbuat kesyirikan, niscaya akan terhapuslah seluruh amalanmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi”. (QS. Az-Zumar : 65)

• Amal yang ikhlas laksana mutiara. Bentuknya kecil, tetapi mahal nilainya. Orang yang kalbunya sibuk bersama Allah lalu ia bisa mengalahkan hawa nafsu dan ujian yang muncul secara tepat, maka orang tersebut lebih baik daripada mereka yang banyak melakukan shalat dan puasa sementara kalbunya sakit, terisi oleh keinginan untuk dikenal dan keinginan mendapat kesenangan.
قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
“Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al-An’am:162).
3. Ikhlas dalam menerima rizki

Imam Ahmad bin Muhammad Athaillah As-Sakandari telah memberikan nasihat berharga kepada kita terkait masalah rezeki. Berikut ini nasihat beliau: “Kesungguhan anda dalam mencari rezeki yang telah dijaminkan oleh Allah akan mendapatkannya, dan mengurangi dari apa yang diwajibkan bagi anda, maka hal demikian itu adalah termasuk sifat yang menunjukkan bashirah atau mata hati yang tertutup.”

Allah SWT telah menjamin rizki kita, sebagaimana dalam firmanNYa
وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ ۚ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

“ Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.”(QS. At-Thalaq ayat 3).

Oleh karena itu, sebagai seorang mukmin kita tidak perlu merasa risau akan masalah rizki kita.
Syeikh Abdul Qadir al-Jaylani dalam kitab “al-Fath al-Rabbani wa al Faydh al-Rahmani”, mengatakanbahwa:

• Risau dengan nasib esok hari ataupun kegairahan dalam mengejar rizki bisa membelokkan kita dari jalur ikhlas.
• Janganlah mencemaskan rezekimu. Sesungguhnya rezeki itu mencarimu melebihi pencarianmu terhadapnya. Jika engkau telah mendapat rezeki hari ini, tak usahlah engkau risaukan rezekimu esok. Engkau tidak tahu apakah besok masih menjumpaimu (masih hidup), sebagaimana hari kemaren telah engkau lewati.
• Berkonsentrasilah mengisi harimu dengan amalan-amalan yang nanti akan kau persembahkan dihadapan Allah.
( Syeikh ibnul Qoyyim Aljauziyah berkata: “janganlah khawatirkan rezekimu, karena Allah sudah menjaminnya untuk semua yang hidup. Tapi khawatirkan amalanmu, karena Allah tidak menjamin anda masuk syurga”)
• Keterikatan kepada dunia telah membutakan kalbumu, sehingga kalian tidak akan melihat apapun dengan kalbumu.
• Berhati-hatilah kepada dunia karena ia selalu menggiringmu hingga ia bisa membuatmu terlena dan akhirnya menyembelihmu.
Kecintaan pada dunia akan membuat hati kita tertutup, selalu merasa kurang, merasa tidak cukup dengan ni’mat yang telah Alah berikan.
• Jika sempurna dan benar kecintaanmu kepada Allah, dia akan mendapatkan jatah rizki dunianya untuk hidup sejatera dan memenuhi kebutuhannya.
• Demikian pula diakherat, semua yang dia tinggalkan demi mengikuti Syariat Allah, kini ia lihat di pintu Allah.

Peringatan Bagi Pemburu Dunia
Siapa saja yang menjadikan dunia sebagai tujuannya, Allah mencerai-beraikan urusannya dan menjadikan kemiskinannya selalu membayang di pelupuk kedua matanya; tidak akan datang kepadanya bagian dari dunia kecuali yang telah ditetapkan untuknya. Siapa saja yang menjadikan akhirat sebagai tujuannya, Allah menghimpunkan untuknya urusannya dan menjadikan kekayaannya ada di dalam hatinya, dan dunia mendatanginya, sementara dunia itu remeh dan rendah. (HR Ibn Majah, Ahmad, al-Baihaqi, Ibn Hibban, ad-Darimi dll).

Hadis ini termasuk hadis yang memberikan dorongan untuk bersikap zuhud terhadap dunia dan menjadikan akhirat sebagai tujuan atau gapaian utama.
Hadis ini menjelaskan orang yang menjadikan dunia sebagai tujuan dengan konsekuensi yang harus ia tanggung dan orang yang menjadikan akhirat sebagai tujuan dan apa yang akan ia raih.
• Amal yang dilakukan dengan penuh keikhlasan tidak bisa dianggap kecil, sebagaimana amal yang dilakukan dengan penuh ketamakan tidak dapat dianggap besar. Maka perbesar arti hidup Anda dengan keikhlasan.

Yang terlalu mencintai dunia,

Allah SWT berfirman dalam surat Al mu’minun ayat 112,
قَالُوالَبِثْنَايَوْمًاأَوْبَعْضَيَوْمٍفَاسْأَلِالْعَادِّينَ

artinya:”Mereka menjawab: “Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung”.( QS. Al mu’minun; ayat 112).

4. Ikhlas dalam bershodaqah

Rizki yang telah kita terima, tidaklah untuk kita sendiri. Bila telah ikhlas menerimanya, maka ikhlaslah menyalurkannya dijalan Allah.

Syeikh al-Muhasibi dalam salah satu bab di dalam kitab “al-Washaya”, mengatakan:

• Ketika orang berinfak untuk kebaikan dengan harta yang halal, biasanya ia berfikir akan mendapatkan pahala yang berlipat ganda.
(Ketika seseorang berinfaq dan hanya ingin mendapatkan pahala berlipat, biasanya keikhlasan akan mudah tergoyahkan. Dan akan timbul penyakit hati karena setan akan masuk kedalam hati dan merusak keikhlasan kita).

• Niatkanlah segala infaq kalian untuk
– Memenuhi hak-hak Allah dan hamba-hambaNya.
– Sebagai wujud syukur atas segala nikmat
– Wujud rasa takut dari sikap pelit kepada Allah
– Lebih dari itu, kita harus berinfaq sebagai wujud rasa takut akan pertanyaan Allah saat perhitungan amal nanti (darimana dan untuk apa harta yang kita miliki)

• Lakukanlah semua itu untuk memudahkan penghisaban di padang mahsyar dan menyelematkan dari api neraka

• Sebagaimana kita mengharapan kebaikan-kebaikan kita diterima, kita juga harus takut bila kebaikan kita tidak diterima.
Allah SWT berfirman dalam surat Al Mu’minun ayat 60,
وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ
“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) Sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.” (QS.Al Mu’minun: 60)

• Bersyukurlah kepada Allah atas kemudahan (taufiq) berinfak dan tidak pelit. Mohon ampunan atas dugaan kita mengenai harta halal yang kita terima.

• Betapa bahagianya orang yang tidak banyak beban dan betapa sedihnya orang yang banyak beban hartanya.

• Perbedaan derajat dan posisi seseorang disisiNya lebih tinggi dari yang lain diukur dengan tingkat pemahaman dan kedekatannya dengan Allah.

• Ikuti ajaran Rasulullah. Orang yang mengamalkan ilmunya adalah mereka yang mengenal Allah, memahami ilmu tentang Allah, berfikir dengan Allah, memenuhi janji yang pernah dia ucapkan, dan tidak menuruti hawa nafsunya.
Setelah menyempurnakan ibadah wajib dengan ibadah sunnah dan mengganti perbuatan yang jelek dengan perbuatan yang baik, dan gunakan setiap kesempatan untuk menambah amal terhadap Allah SWT.

Uthman bin Affan mencontohkan bagaimana berjual beli dengan Allah SWT.
Ketika kota Madinah ditimpa kemarau panjang, harga-hargà barang keperluan di pasar mula meninggi. Sementara itu persediaan (stok) makanan semakin berkurangan. Di saat krisis seperti itu datanglah serombongan kafilah dagang dengan puluhan ekor unta yang membawa màkanan, tepung, gandum, minyak zaitun, dan lain-lain dalam jumlah yang cukup untuk selüruh penghuni Madinah. Para pedagang mulai sibuk mencari siapa pemilik barang dagangan yang sangat diperlukan warga kota ini. Ternyata Utsman bin Affan ra. yaitu menantu Rasulullah saw.itulah pemilik bahan-bahan makanan berharga tersebut.

Mereka segera menawarkan tawaran keuntungan kepada Utsman bin Affan ra.
“Saya siap memberi anda 4 persen”, kata salah seorang mereka, “Saya beri 5 persen!”, “Saya 10 persen”. “Saya berani 20 persen”, kata mereka menawarkan pemberiannya. Beliau berkata, “Saya akan menjualnya kepada pemberi keuntungan tertinggi”. “Berapa keinginanmu?”, tanya para pedagang itu.
“Siapa yang dapat memberi 700 kali lipat akan aku berikan”, kata Utsman bin Affan ra.pula.

Para pedagang itu terdiam semua karena terkejut dengan permintaan Utsman bin Affan ra. Beliau berkata, “Saksikanlah. Saya akan menjual barang- barang ini kepada Allah yang memberi pahala 700 kali lipat, bahkan berlipat ganda lebih dari itu. Tidakkah kalian dengar firman Allah SWT” . Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keredhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat.. (QS.Al Baqarah: 265).

Utsman menginfaqkkan hartanya karena tawaran dari Allah. Dalam surat As-shaff ayat 10, Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَىٰ تِجَارَةٍ تُنْجِيكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ

“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari adzab yang pedih ?” (QS.As Shaff : 10)

• Seorang mu’min, seperti halnya Utsman bin Affan ra.  menyambut penawaran Allah ini dengan suka cita. Namun, apa yang dapat dijualnya kepada Allah yang menciptakan segala sesuatu di alam semesta termasuk dirinya sendiri? Alangkah uniknya, kita ini ciptaan Allah dan milik-Nya belaka namun dapat dibeli oleh-Nya dengan harga yang sangat mahal yaitu dengan “bebas dari api neraka”. Adakah jual yang lebih menguntungkan dari keselamatan dari api neraka?

• Apakah yang dapat diberikan kepada Allah untuk menebus diri ini dari adzab yang pedih? Allah memberikan jawaban yang jelas tentang ini dalam uraian ayat tersebut,
تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“(yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu Mengetahuinya”. (QS. As Shoff: 11)

Maka seruan Allah dan sambutan mu’min ini diabadikan dalam ayat lain dari Kitabullah yang mulia,
إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَىٰ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ ۚ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ ۖ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْقُرْآنِ ۚ وَمَنْ أَوْفَىٰ بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ ۚ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُمْ بِهِ ۚ وَذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Sesungguhnyà Allah telah membeli dari orang-orang mü’min, diri dan harta mereka dengan memberikan syurga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah, lalu mereka dibunuh atau terbunuh. Itu yang menjadi janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Al Qur-an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan, dan itulah kemenangan yang besar”. (At Taubah: 111)

5. Ikhlas dalam menghadapi kenyataan
Janganlah lunturkan keikhlasan dengan berkeluh kesah kepada makhluk. Syeikh Abdul Qadir al-Jaylani dalam pengajiannya, yang terdokumentasi dalam kitab “al-Fath al-Rabbani wa al Faydh al-Rahmani”, mengatakan:

– Diantara simpanan Arsy adalah menutupi musibah,

– Wahai orang-orang yang mengeluhkan kesusahan-kesusahannya pada makhluk, keluhanmu kepada makhluk tak akan bermanfaat bagimu. Mereka tak memberimu manfaat atau mudarat. Jika engkau bersandar kepada mereka dan berbuat syirik, mereka akan menjauhkanmu dari pintu Allah, mengantarkanmu kepada Murka-Nya, dan menghijabmu dariNya.

– Berteman dengan allah itu tidaklah dengan keberatan dan protes, melainkan dengan adab yang baik, ketenangan lahir-batin, dan kepatuhan yang senantiasa (istiqomah).

(kita harus menghindari menjadi hakim terhadap Allah, protes terhadap ketetapan Allah bahkan menghujat Allah. Sungguh tidak pantas kita lakukan sebagai seorang mukmin)

– Orang yang benar-benar mengenal Allah (berdiri bersama-NYA bukan bersama selain-NYA, Menuruti-NYA bukan menuruti selain-NYA, Hidup dan Mati karena-Nya, bukan selainNYA.

Ancaman Allah bagi Peragu tergambar dalam FirmanNya
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ عَلَىٰ حَرْفٍ ۖ فَإِنْ أَصَابَهُ خَيْرٌ اطْمَأَنَّ بِهِ ۖ وَإِنْ أَصَابَتْهُ فِتْنَةٌ انْقَلَبَ عَلَىٰ وَجْهِهِ خَسِرَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةَ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ

“Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.” (QS al-Hajj [22]: 11).

Ketika seseorang telah mendeklarasikan dirinya sebagai orang Mukmin, maka tash-dîq (pembenaran) terhadap aqidah Islam harus sampai tataran yaqîn. Yakni pembenaran yang pasti, tidak diliputi ada sedikit pun keraguan dan kebimbangan.

Manakala kepercayaan itu masih tercampur dengan keraguan, peluang untuk ingkar dan keluar dari Islam sangat besar. Kerugian besarlah yang didapat oleh orang seperti ini. Realitas ini dengan jelas dijelaskan oleh ayat di atas.

6. Ikhlas dalam berdakwah

Pentingnya ikhlas dalam dakwah
1. Melahirkan kekuatan dalam menyampaikan kebenaran dan tidak terkecoh dengan keuntungan duniawi
Kita tidak mudah menyerah ketika kondisi kita sulit ataupun bahkan dipersulit dalam berdakwah. Seperti kisah Rasulullah, ketika ditawarkan kekuasaan oleh orang kafir Quraisy untuk menghentikan dakwah islam. Beliau tetap kokoh tidak bergeming dengan tawaran tersebut.

Tidak seperti ulama’ suu’ yaitu ulama yang pro dengan penguasa dzalim, yang mengikuti kemauan para penguasa dengan menjual kebenaran ayat-ayat Allah.

2. Siap menerima setiap keputusan (ketika berjama’ah)
Dakwah memang butuh berjamaah, dan kita harus ikhlas menerima apa yang menjadi keputusan dalam sebuah jamaah. Seperti kisah Khalid bin Walid, yang dengan penuh keikhlasan ketika posisinya sebagai panglima perang diturunkan menjadi prajurit biasa dan digantikan sahabat yang lain.

3. Tidak terpengaruh dengan celaan orang-orang yang mencela
(“Senantiasa ada sekelompok umatku yang dimenangkan atas kebenaran, tidak akan membahayakannya orang yang memusuhinya hingga hari Kiamat sedangkan mereka tetap seperti itu.” (HR. Muslim)
KHATIMAH
Keikhlasan tidak muncul begitu saja, namun membutuhkan proses belajar yang terus menerus. Pada awalnya keikhlasan harus dipaksakan, agar menjadi suatu kebiasaan. Dimana saat kita melakukan segala sesuatu hanya karena Allah, bukan karena orang lain. Memang syaitan tidak pernah berhenti untuk menjadikan hati ini menjadi tidak ikhlas. Riya saat beramal dan sum’ah setelah kita beramal.

Kita memohon kepada Allah, agar hati dan diri kita mampu ikhlas dalam segala hal. Baik dalam bertauhid, beribadah, dalam menerima rizki, ketikabersedekah, saat menghadapikenyataanhidup dan dalam kewajibanberdakwah. Agar Allah meridhai kehidupan kita, di dunia dan di akhirat.

Sebagaimana do’a Rasulullah saw.
« اَللّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لاَ أَعْلَمُ »
“Ya Allah, aku memohon perlindungan kepada-Mu dari perbuatan menyekutukan-Mu sementara aku mengetahuinya, dan akupun memohon ampun terhadap perbuatan syirik yang tidak aku ketahui.” (Hadits Shahih riwayat Ahmad)

Dan juga Doa Umar ibn khattab ra.
“Ya Allah, jadikanlah seluruh amalanku amal yang saleh, jadikanlah seluruh amalanku hanya karena ikhlas mengharap wajahmu, dan jangan jadikan sedikitpun dari amalanku tersebut karena orang lain.”.

Semoga Artikel ini bermanfaat untuk Sahabat Rumah Kurma Sahara.
Silahkan berbelanja kurma di Rumah Kurma Sahara, Butuh perlengkapan haji? Ingat Toko Rumah Kurma Sahara!
Jalan Raya Semplak Atang Sandjaja No. 224
Bogor Barat – Kota Bogor
Customer Care : 0821-1141-8832 | 0878-7386-0559
Delivery : 0859-2512-6067
WA | PIN BB : 0878-7386-0559 | DA7A086

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *