Ibu….Ditanganmu Hina atau Mulianya Umat Ini

Ibu memiliki peran terhormat sebagai pencetak generasi khairu ummah. Ibulah yang melahirkan, mengasuh, mendidik dan membina seorang anak sehingga kelak menjadi generasi yang  dapat mengangkat derajad umat Islam menjadi khairu ummah (umat terbaik). Inilah generasi yang digambarkan oleh Allah swt dalam firman-Nya,

Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah” (QS Ali Imran: 110).

Tugas ini merupakan kewajiban yang sangat berat, karenanya dalam Islam tugas ini merupakan kewajiban bersama antara suami dan istri/ibu, serta seluruh umat Islam. Namun karena peran ibu sebagai “madrasah pertama dan utama” bagi anaknya, maka ibu memiliki peran yang sangat penting dalam mencetak generasi khairu ummah. Selain perannya dalam ranah domestic ini, ibu juga memiliki peran penting dalam ranah publik, yaitu melakukan dakwah amar ma’ruf nahi munkar. Agar bisa menjalankan kedua peran yang mulia ini, seorang ibu tentunya harus memiliki kemauan, kemampuan dan bekal yang cukup. Sudahkah kita memilikinya?

 

Kendala Ibu dalam melaksanakan perannya

Peran ibu dalam mencetak generasi khairu ummah mendapat tantangan berat di dalam masyarakat yang menerapkan sistem kapitalisme. Bukan tugas yang mudah bagi seorang ibu untuk melahirkan generasi Islam yang tangguh dan membentuk anak-anak yang  memiliki kepribadian Islam yang kuat. Banyak ujian moralitas dan tantangan yang harus dihadapi dimana sistem kapitalis/barat sudah merasuk ke setiap pemikiran  wanita-wanita muslimah.

Dalam masyarakat kapitalisme, kebahagiaan diukur dengan materi, dimana semakin banyak materi semakin dianggap “sukses” dan “bahagia”-lah seseorang. Karenanya tidak heran bila banyak para wanita mengejar karier mati-matian untuk meraih “sukses”. Kalaupun bukan untuk karier, kondisi ekonomi keluarga yang lemah sering memaksa seorang istri/ibu untuk bekerja di luar rumah. Sehingga dengan kesibukan ini, akan sulit bagi ibu untuk melaksanakan peran utamanya sebagai pengasuh dan pendidik anak-anaknya, serta untuk berdakwah. Potensi keahlian, tenaga dan waktunya telah banyak tersita untuk menjalankan tugas keprofesiannya. Sementara energi untuk mendidik generasi dan energi untuk berdakwah menegakkan kehidupan Islam adalah energi sisa.

 

Memahami peran ibu

Menurut pandangan Islam, Ibu atau ummu adalah seorang wanita yang memiliki akidah (keyakinan) yang dibangun diatas pondasi iman kepada Allah SWT. Keimanan wanita muslimah hendaknya senantiasa  tercermin dalam  tingkah lakunya dan selalu sejalan dengan tuntunan firman Allah. Dia sadar bahwa nantinya dia akan dimintai pertanggung jawaban atas setiap tindakannya sehingga dia harus menjalankan perannya dengan sebaik-baiknya, tidak mudah tergoda dengan kehidupan dunia materialistik yang fana ini, serta senantiasa berusaha mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Allah berfirman :

“Pada hari  tiap-tiap jiwa diberi balasan dengan apa yang diusahakannya, tidak ada yang dirugikan pada hari ini. Sesungguhnya Allah amat cepat hisabnya”. (QS.Al.Mukmin: 17)

Peran/partisipasi wanita dalam Islam telah dirangkai begitu indah oleh Sang Pencipta sehingga melahirkan keharmonisan dalam tatanan keluarga, masyarakat dan peradaban umat manusia. Dalam Islam, seorang wanita diberi ruang partisipasi baik dalam ranah domestik maupun publik.

Partisipasi pertama, wanita di ranah domestik, mereka diberi peran kunci sebagai manajer (rabbatul bait) bagi terciptanya keluarga sakinah. Tentu peran ini membutuhkan keahlian dan ketrampilan mengelola, mengatur, menjaga dan merawat rumah tangga, sehingga rumah tidak hanya nyaman sebagai tempat tinggal tetapi juga tempat berinteraksi antara seluruh anggota keluarga. Maka partisipasi wanita sebagai seorang istri adalah menjadi mitra suami dalam menjalin kehidupan yang harmonis, sakinah mawaddah wa rahmah. Kondisi ini akan tercapai bila istri dengan mitra sejatinya (suami) bersunguh-sungguh menegakkan sendi-sendi kehidupan keluarga dengan Syariah Islam.

Partisipasi kedua yang diwajibkan pada wanita adalah menjadi master pendidikan bagi generasi penerus. Paritispasi ini dibutuhkan baik di ranah domestik maupun publik. Di lingkungan domestik, masing-masing wanita sebagai ibu (ummun) memainkan peran penting sebagai sekolah pertama (madrasatul uula) bagi anak-anaknya. Di sekolah pertama inilah wanita sebagai ibu berkontribusi besar dalam menancapkan aqidah Islam yang kokoh pada diri anak sekaligus membina kepribadian Islam mereka. Kekuatan aqidah inilah yang akan menjadi landasan utama dalam membentuk pola pikir dan pola sikap hingga mereka dewasa.

Di sebuah hadits dikisahkan seseorang menghadap Rasulullah dan minta ijin untuk ikut berperang, kemudian Rasulullah bertanya: “Apakah kamu mempunyai seorang ibu? “ kemudian beliau bersabda: “ Tetaplah bersamanya, sesungguhnya surga itu ada dibawah telapak kakinya”.

Makna hadits ini menurut Al Mula Ali Al Qori dan Ibnu Allan, bahwa tetap taat dan berbakti  pada ibu adalah sebab dekat untuk masuk surga.  ‘Kakinya’ ini adalah kinayah dari puncak ketundukan dan akhir dari kerendahan. Jadi hina dan mulianya umat ini tergantung pada hasil didikan seorang ibu. Seorang ibu diberikan hak prerogative oleh Allah swt untuk mengurus dan menata keluarga, merawat dan mendidik anak-anaknya. Yang terutama adalah untuk mencetak seorang hamba Allah yang bertaqwa, yang tunduk dan patuh terhadap semua perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan Allah swt.

Partisipasi ketiga, wanita di ranah public. Partisipasi wanita sebagai master pendidikan ini tidak hanya berlaku di dalam rumah/sektor domestik saja. Sebab, pembinaan dan pendidikan suatu generasi adalah hasil kolaborasi antara pendidikan di dalam keluarga, pendidikan di lingkungan dan pendidikan di sekolah formal. Maka wanita sebagai bagain dari umat dapat berpartisipasi di sektor publik dalam rangka mendorong iklim yang kondusif bagi pendidikan generasi umat Islam. Jelaslah bahwa wanita tak hanya dituntut menjadi ibu anak kandungnya saja, lebih dari itu juga dituntut menjadi ibu bagi generasi umat Islam (ummu ajyal). Supaya dapat berpartisipasi sebagai ummu ajyal, Islam meniscayakan wanita memiliki aqidah Islam yang kokoh dan tsaqofah (pemahaman) Islam yang baik serta ketrampilan hidup (lifeskill).

Selain itu, seperti yang termaktub di dalam QS. Al-baqarah ayat 110 di atas, predikat umat yang mulia hanya akan diperoleh jika umat Islam telah memenuhi ketiga karakternya, yakni: menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar—dimana kedua aktivitas ini ditujukan kepada seluruh umat manusia, serta beriman kepada Allah”. Semua itu baru akan terwujud jika Islam yang kaaffah (menyeluruh) telah menjadi landasan kehidupan ini. Maka,  partisipasi perempuan tak kalah pentingnya dalam melakukan amar ma’ruf nahi munkar di tengah masyarakat dan melakukan muhasabah lil hukam (menasehati penguasa) untuk menegakkan kehidupan Islam. Di ruang inilah terbuka bagi perempuan untuk mengabdikan berbagai ilmu, keahlian dan profesinya untuk membangun tatanan/system kehidupan yang bersandar pada Islam.

 

Ibu merupakan Teladan Umat

Untuk bisa menjalankan semua partisipasinya tersebut dalam rangka mencetak generasi yang memiliki kepribadian Islam menuju umat yang memenuhi karakter “khairu ummah”, maka para ibu dituntut untuk mempunyai ilmu dan tsaqofah yang memadai, serta mendidik dan membina dirinya agar dapat menjadi teladan pertama bagi anak-anaknya dan bagi masyarakat di sekelilingnya. Sehingga, akan bermunculan kembali wanita-wanita mulia yang melahirkan generasi tangguh dan tak tertandingi. Seperti para shahabiyyah dari kaum anshor: Ummu Sulaim, shahabiyyah yang rela menyerahkan anaknya, Anas bin Malik, untuk digembleng oleh rasulullah SAW sejak usianya 8 tahun; Khansa, ibunda para mujahid, yang mendorong keempat anak lelakinya untuk pergi berjihad sehingga keempatnya syahid di jalan Allah; Ummu Mani, yang mampu mencetak seorang Muadz bin Jabbal—yang dikenal sebagai imamnya para fuqaha, gudangnya ilmu para ulama; Ummu Amarah (Nusaibah) yang melepas kedua putranya untuk berjihad dan menerima amanah dakwah yang berat (salah seorang putranya—Habib—syahid ketika menjadi utusan untuk menyerahkan surat kepada Musailamah al Kadzdzab (sang nabi palsu); dan masih banyak lagi  contoh sosok ibu mulia lainnya.

 

Khatimah 

Itulah para ‘super mum’ di zaman Rasulullah yang telah berhasil mencetak anak-anak yang bertaqwa dan rela berjuang demi kejayaan dan kemuliaan umat Islam. Kita para ibu di masa kini hendaknya bisa mengambil ghirah (semangat) dari sejarah dan kisah-kisah mereka.

Wahai ummu…, di manakah anak-anakmu sedang berpijak? Sudah di tempat yang tepatkah mereka? Sebagai madrasah pertama bagi anak anakmu, sudahkan engkau mendidik dan menanamkan aqidah Islam pada mereka? Ataukah dirimu sedang sibuk dan melalaikan tugas-tugasmu, ummu… Sesungguhnya setiap langkah yang kita perbuat untuk mereka akan menentukan kelak mereka nantinya. Melalui peran sebagai ibu, dimana dia mengasuh dan mendidik anaknya menjadi orang yang memiliki ketaqwaan dan kepribadian Islam, maka di tangan ibu umat ini terbentuk.

Semoga Artikel ini bermanfaat untuk Sahabat Rumah Kurma Sahara.
Silahkan berbelanja kurma di Rumah Kurma Sahara, Butuh perlengkapan haji? Ingat Toko Rumah Kurma Sahara!
Jalan Raya Semplak Atang Sandjaja No. 224
Bogor Barat – Kota Bogor
Customer Care : 0821-1141-8832 | 0878-7386-0559
Delivery : 0859-2512-6067
WA | PIN BB : 0878-7386-0559 | DA7A086

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *