Ibadah Dengan Harta

Bentuk nyata ketaatan kita sebagai seorang hamba adalah salah satunya dengan ‎membelanjakan harta kita dijalan Allah SWT sesuai dengan ketentuan Al –Quran dan As- ‎Sunnah. Dan Allah SWT pun telah telah memerintahkan kepada manusia didalam surat (Al- ‎Hadid 57: 7); “Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian ‎dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya. Maka orang-orang yang ‎beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala ‎yang besar”. Sehingga kewajiban manusia untuk bersyukur atas nikmat harta yang telah Allah ‎anugerahkan, harus dibuktikan dengan cara membelanjakan harta tersebut sebagai sarana ‎ibadah kepada Allah. Sedangkan pelaksannaan ibadah kepada Allah SWT tidak hanya dalam ‎bentuk ibadah fisik saja tetapi juga diwujudkan dalam bentuk ibadah dengan harta. Perintah ‎beribadah dengan harta merupakan salah satu amalan terpenting bagi seorang muslim sehingga ‎seseorang dapat mencapai derajat akhlaq yang tinggi dimata Allah SWT sehingga Allah akan ‎ridho kepadanya dalam berniaga harta dijalan Allah SWT. ‎

PERINTAH BERIBADAH DENGAN HARTA

1. Merupakan ciri- ciri orang yang beriman

Adapun perintah beribadah dengan harta merupakan ciri ciri orang yang beriman kepada ‎kepada Allah SWT serta Rasulullah SAW secara menyeluruh dan sungguh-sungguh, melalui ‎apa -apa yang telah diperintahkan berdasarkan Al-quran dan As- sunnah.

Sesuai dengan firman ‎Allah SWT yang memerintahkan dalam surat Al- Baqoroh ayat 3:‎
‎ ‎الَّذِينَ‎ ‎يُؤْمِنُونَ‎ ‎بِالْغَيْبِ‎ ‎وَيُقِيمُونَ‎ ‎الصَّلاةَ‎ ‎وَمِمَّا‎ ‎رَزَقْنَاهُمْ‎ ‎يُنْفِقُونَ‎ ‎
Artinya: “(yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghoib, yang mendirikan sholat dan ‎menafkahkan sebahagian rizky yang kami anugerahkan kepada mereka”‎.

Dan juga kita selaku orang yang mengaku beriman kepada Allah dan rosul-NYA agar ‎membelanjakan harta kita dijalan Allah dengan cara menunaikan zakat berdasarkan ketentuan ‎yang telah ditetapkan didalam Al Quran.‎

Allah SWT berfirman:‎
وَالَّذِينَ هُمْ لِلزَّكَاةِ فَاعِلُونَ
“….dan orang orang yang menunaikan zakat”. ( Q.S Al – Mu’minuun 4)

Kemudian Allah SWT memberitahukan juga mengenai orang- orang yang menginfakan harta ‎mereka dijalan Allah dengan memperoleh pahala yang besar disisi-NYA. Allah ta’ala ‎berfirman:‎
آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَأَنْفِقُوا مِمَّا جَعَلَكُمْ مُسْتَخْلَفِينَ فِيهِ ۖفَالَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَأَنْفَقُوا لَهُمْ أَجْرٌ كَبِيرٌ
“Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu ‎yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya. Maka orang-orang yang beriman di antara ‎kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar.” (QS.Al ‎Hadid: 7)‎

Dilanjutkan didalam surat Al- Imron: 92‎,
لَن تَنَالُواْ الْبِرَّ حَتَّى تُنفِقُواْ مِمَّا تُحِبُّونَ وَمَا تُنفِقُواْ مِن شَيْءٍ فَإِنَّ اللّهَ بِهِ عَلِيمٌ
“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu ‎menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka ‎sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (QS. Ali- Imran: 92) ‎

 2. Merupakan perintah dari Hadits Rosulullah saw

Perintah beribadah dengan harta selain merupakan ketentuan didalam Al Quran juga ‎merupakan perintah dari hadits yaitu:‎

“Tidak ada hasad (iri dengki) kecuali kepada dua orang; seorang laki-laki yang diberi Allah ‎harta, kemudian ia habiskan di jalan kebenaran.; dan seorang laki-laki yang diberi Allah ‎hikmah (ilmu), lalu ia memutuskan dengan ilmunya dan mengajarkannya”. [HR. Imam ‎Bukhari]‎

Kemudian,‎

“Siapa saja yang memiliki kelebihan tumpangan, hendaknya ia memberikan tumpangan ‎kepada yang tidak memiliki tumpangan, dan siapa saja yang memiliki kelebihan bekal, ‎hendaknya memberikan kepada yang kekurangan bekal”. Lalu, Nabi saw menyebut berbagai ‎macam harta hingga kami berpendapat tak seorangpun dari kami yang berhak memiliki ‎kelebihan” [HR. Imam Muslim]‎

3. Merupakan bekal akhirat kelak

“Dari Abu Barzah al-Aslami, dia berkata: Rasulullah saw bersabda, “Akan tetap tegak kedua ‎kaki seorang hamba kelak di hari kiamat, hingga ditanya tentang umurnya, dia habiskan untuk ‎apa, tentang ilmunya untuk apa diamalkan, tentang hartanya, dari mana ia peroleh dan ‎diinfakkan untuk apa, dan tentang jasadnya dia gunakan untuk apa.” [HR. Imam Tirmidzi]‎

 

KEUTAMAAN BERAMAL DENGAN HARTA

Allah SWT adalah maha menepati janji dan yang dituliskan didalam Al- Quran adalah ‎perkataan langsung yang diserukan oleh Allah SWT kepada umat-NYA. Sebaliknya merupakan ‎suatu kerugian yang besar jika kita tidak yakin dengan perkataan Allah SWT dan rasul-NYA ‎mengenai apa yang diserukan Allah SWT dan Rosul-NYA berupa keutamaan –keutamaan ‎beramal dengan harta, sebagai motivasi menjalankan amalan dan menghindarkan dari ‎kekikiran diantaranya:‎

1.‎ Menjadi simpanan yang tak lenyap

Rasulullah SAW bersabda,‎
”(Jika) hamba Allah berkata,’Yang mana hartaku, yang mana hartaku,” sesungguhnya ‎baginya tiga macam harta; apa yang dia makan lalu lenyap, apa yang dia pakai lalu ‎lusuh, dan apa yang dia infakkan tapi akan tetap tersimpan. Apa saja selain itu, akan ‎lenyap dan meninggalkan manusia.” (HR Muslim)‎

2.‎ Dilipat gandakan balasannya

Allah SWT berfirman, ‎
وَمَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ وَتَثْبِيتًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ كَمَثَلِ جَنَّةٍ ‏بِرَبْوَةٍ أَصَابَهَا وَابِلٌ فَآتَتْ أُكُلَهَا ضِعْفَيْنِ فَإِنْ لَمْ يُصِبْهَا وَابِلٌ فَطَلٌّ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ ‏بَصِيرٌ ﴿البقرة:٢٦٥﴾‏
“Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari ‎keridaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak ‎di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan ‎buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun ‎memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat.’’ [QS Al Baqarah ‎‎(2):265]‎

Kemudian,‎

Rasulullah SAW bersabada, ‎
”Tidaklah seseorang bersedekah dengan yang baik-baik dan Allah tidak menerima ‎kecuali yang baik-baik kecuali Allah Yang Maha Pengasih akan mengambilnya dengan ‎tangan kanan-Nya, meski hanya sebutir kurma. Sebutir kurma itu akan bertumbuh di ‎telapak tangan Allah hingga menjadi lebih besar dari gunung. Itu sebagaimana salah ‎seorang kamu memelihara anak kuda atau anak untanya.” (HR Bukhari & Muslim).‎

3.‎ Didoakan malaikat mendapat gantinya

Rasulullah SAW bersabda,‎
”Tak ada satu hari pun bagi hamba-hamba Allah, kecuali pada pagi harinya akan ‎didatangi dua malaikat. Salah satunya berkata,”Ya Allah, berikanlah ganti kepada ‎orang yang menginfakkan hartanya!” Satunya lagi berkata,”Ya Allah, berikanlah ‎kehancuran bagi orang yang menahan hartanya!” (HR Bukhari & Muslim).‎

4.‎ Disembuhkan penyakit

Rasulullah SAW bersabda,‎
”Obatilah sakitmu dengan sedekah, bentengilah harta bendamu dengan zakat, dan ‎bersiaplah menghadapi cobaan dengan doa.” (HR Baihaqi)‎

5.‎ Menutup 70 pintu keburukan

Rasulullah SAW Bersabda,‎
”Sedekah dapat menutup 70 pintu keburukan.” (H.R Thabrani)‎

6.‎ Mendinginnkan panasnya alam kubur

Rasulullah SAW bersabda,‎
”Sesungguhnya sedekah itu benar-benar akan dapat memadamkan panasnya alam ‎kubur bagi penghuninya, dan orang mukmin akan bernaung pada Hari Kiamat di ‎bawah bayang-bayang sedekahnya.” (H.R Thabrani dan Baihaqi)‎

7.‎ Memadamkan murka Allah

Rasulullah SAW bersabda,‎
”Sesungguhnya sedekah itu meredamkan murka Allah dan menolak akibat jelek.” (HR. ‎Tirmidzi).‎

8.‎ Menghapuskan berbagai cobaan

Rasulullah SAW bersabda,‎
”Cobaan yang menimpa seorang laki-laki dalam urusan isterinya, hartanya, dirinya, ‎anaknya, dan tetangganya, akan dapat dihapuskan dengan puasa, shalat, sedekah, dan ‎amar ma’ruf nahi munkar.” (H.R Bukhari dan Muslim)‎

9.‎ Menolak su’ul khotima

Rasulullah SAW bersabda,‎
”Sesungguhnya sedekah dapat memadamkan murka Allah dan dapat menolak su`ul ‎khatimah (mati dalam keburukan)’’. (HR Tirmidzi dan Ibn Hibban)‎

10.‎ Harta tak berkurang berkahnya dengan bershodaqoh

Rasulullah SAW bersabda,‎
”Sedekah tidaklah mengurangi (barakah dari) harta, dan tidaklah Allah menambah ‎bagi hamba yang memberi maaf kecuali kemuliaan, dan tidaklah seseorang bersikap ‎tawadhu’ karena Allah, kecuali Allah Azza wa Jalla akan mengangkat derajatnya.” (HR ‎Muslim).‎

 

ANCAMAN BAGI ORANG ORANG YANG BAKHIL DENGAN HARTANYA

Pengertian bakhil itu sendiri merupakan sikap tercela yang tidak boleh dimiliki oleh seorang ‎mukmin dimana orang yang memiliki sikap bakhil mencegah sesuatu yang seharusnya ‎diberikan menurut ketentuan syariat. Bakhil tidak hanya terjadi pada lingkup pemikiran, ‎tenaga, lisan dan ilmu tetapi juga mencakup bakhil pada harta. Padahal Allah telah ‎mencukupkan seorang hamba dengan diberikannya harta dan itu merupakan nikmat dari Allah ‎SWT, sehingga tidak sepantasnya seorang hamba bersikap bakhil terhadap hartanya karena ‎apa yang dimiliki hamba akan kembali kepada Allah SWT. Adapun ancaman ancaman yang ‎akan dihadapi bagi seorang hamba yang bakhil berdasarkan Al -Quran dan as sunnah dengan ‎berbagai siksaan diantaranya:‎

1.‎ Pada hari Kiamat Allah akan mengalungkan harta yang tidak dikeluarkan ‎zakatnya di leher pemiliknya.

Bagi orang orang yang bakhil dengan mengumpulkan harta merupakan kebaikan ‎baginya padahal hal itu sangat membahayakan bagi dirinya, Allah ta’alaa berfirman:‎

وَلا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَبْخَلُونَ بِمَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ هُوَ خَيْرًا لَهُمْ بَلْ هُوَ شَرٌّ لَهُمْ ‏سَيُطَوَّقُونَ مَا بَخِلُوا بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلِلَّهِ مِيرَاثُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ ‏خَبِيرٌ
“Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil (kikir) dengan harta yang Allah ‎berikan kepada mereka dari karuniaNya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi ‎mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka ‎bakhilkan itu akan dikalungkan di lehernya kelak pada hari kiamat. Dan kepunyaan ‎Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa ‎yang kamu kerjakan.” (QS. Ali ‘Imran: 180).‎

2.‎ Harta yang tidak dikeluarkan Zakatnya akan dirubah oleh Allah menjadi seekor ‎ular jantan yang beracun lalu menggigit atau memakan pemiliknya.‎

Hal ini sebagaimana disebutkan didalam hadits berikut ini:‎

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, dia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa ‎sallam bersabda: ‎
“Barangsiapa diberi harta oleh Allah, lalu dia tidak menunaikan (kewajiban) zakatnya, ‎pada hari kiamat hartanya dijadikan untuknya menjadi seekor ular jantan aqra’ (yang ‎kulit kepalanya rontok karena dikepalanya terkumpul banyak racun), yang berbusa dua ‎sudut mulutnya. Ular itu dikalungkan (di lehernya) pada hari kiamat. Ular itu ‎memegang (atau menggigit tangan pemilik harta yang tidak berzakat tersebut) dengan ‎kedua sudut mulutnya, lalu ular itu berkata,’Saya adalah hartamu, saya adalah ‎simpananmu’. Kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca (firman Allah ‎ta’ala,QS. Ali Imran: 180): ’Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil ‎menyangka…….” (HR Bukhari II/508 no. 1338)‎

3.‎ Tubuh orang yang tidak mengeluarkan zakat akan dibakar (dipanggang) di ‎dalam neraka Jahannam dengan hartanya sendiri yang telah dipanaskan.‎

Allah SWT berfirman:‎
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِنَّ كَثِيرًا مِنَ اْلأَحْبَارِ وَالرُّهْبَانِ لَيَأْكُلُونَ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ‏وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلاَ يُنْفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ يَوْمَ يُحْمَى عَلَيْهَا فِي نَارِ ‏جَهَنَّمَ فَتُكْوَى بِهَا جِبَاهُهُمْ وَجُنُوبُهُمْ وَظُهُورُهُمْ هَذَا مَا كَنَزْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ فَذُوقُوا مَا كُنْتُمْ تَكْنِزُونَ
“……. dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak ‎menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa ‎mereka akan mendapat) siksa yang pedih. Pada hari dipanaskan emas perak itu di ‎dalam neraka Jahannam, lalu dibakarnya dahi mereka, lambung dan punggung ‎mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: “Inilah harta bendamu yang kamu simpan ‎untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu ‎simpan.” (QS. At-Taubah: 34-35)‎

Penjelasan selanjutnya didalam hadits yang shahih, Rasulullah saw bersabda:‎

“Tidaklah pemilik emas dan pemilik perak yang tidak menunaikan haknya (perak) ‎darinya (yaitu zakat), kecuali jika telah terjadi hari kiamat (perak) dijadikan ‎lempengan-lempengan di neraka, kemudian dipanaskan di dalam neraka Jahannam, ‎lalu dibakarlah dahinya, lambungnya dan punggungnya. Tiap-tiap lempengan itu ‎dingin, dikembalikan (dipanaskan di dalam Jahannam) untuk (menyiksa)nya. (Itu ‎dilakukan pada hari kiamat), yang satu hari ukurannya 50 ribu tahun, sehingga ‎diputuskan (hukuman) di antara seluruh hamba. Kemudian dia akan melihat (atau: ‎akan diperlihatkan) jalannya, kemungkinan menuju surga, dan kemungkinan menuju ‎neraka”. (HR Muslim II/680 no. 987, dari Abu Hurairah).‎

Sedangkan hukuman mereka didunia adalah sebagai berikut:

Pemerintah muslim berhak mengambil secara paksa zakat dan juga separuh harta milik orang ‎yang enggan membayar kewajibannya tersebut sebagai hukuman atas perbuatan maksiatnya ‎itu.‎

Adapun ketentuan jika yang tidak mengeluarkan zakat adalah jamaah dalam jumlah yang ‎cukup banyak, maka pemerintah muslim berhak memerangi mereka sebagaimana yang ‎dilakukan oleh Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq dan para sahabat.(lihat dihadits riwayat ‎Bukhari didalam shahihnya 11/507 no.1335). Sementara apabila yang tidak membayar zakat ‎karena bakhil atau kikir maka dihukumi sebagai orang muslim yang fasik karena telah ‎melakukan dosa besar.‎

“Pada unta yang digembalakan dari setiap 40 ekor, (zakatnya yang wajib dikeluarkan ‎berupa) bintu labun (yakni unta yang telah genap berumur dua tahun dan masuk tahun ke ‎tiga, pent). Tidak boleh unta dipisahkan dari hitungannya. Barangsiapa mengeluarkan zakat ‎untuk mencari pahala, maka dia mendapatkan pahalanya. Dan barangsiapa yang enggan ‎membayarnya, maka sesungguhnya kami akan mengambil (zakat)nya dan separuh hartanya, ‎sebagai kewajiban dari kewajiban-kewajiban Rabb kami. Dan tidak halal bagi keluarga ‎Muhammad sesuatu pun dari zakat itu”. (HR An-Nasai V/25 no. 2448, Ahmad V/2 no. ‎‎20030; di-hasan-kan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir no. ‎‎4265).‎

 

BENTUK IBADAH DENGAN HARTA

Harta yang dijadikan sebagai bekal dan sarana ibadah, berarti harta yang bermanfaat dan ‎akan membuahkan berkah kepada harta dan kehidupan yang bersangkutan. Kewajiban ‎syukur atas nikmat harta harus dibuktikan dengan cara menggunakan harta tersebut sebagai ‎sarana ibadah kepada Allah SWT. Adapun bentuk ibadah dengan harta diantaranya: infaq, ‎zakat dan shodaqoh.‎

• INFAQ

Infaq adalah mengeluarkan harta yang mencakup zakat dan bukan zakat. Infaq terdiri dari ‎infaq yang wajib dan infaq yang sunnah. Infaq wajib diantaranya: zakat, kafarat, nazar dan ‎lain lainnya sedangkan infaq sunnah terdiri dari infaq kepada fakir miskin sesama muslim, ‎infaq bencana alam, infaq kemanusiaan dan lainnya.‎
Terkait dengan infaq, Rasullulah saw bersabda,‎
“ Ada malaikat yang senantiasa berdoa pagi dan sore: “Ya Allah SWT berilah orang yang ‎berinfak, gantinya. Dan berkata yang lain : “Ya Allah jadikanlah orang yang menahan infak, ‎kehancuran”. (HR. Bukhari dan Muslim).‎

• ZAKAT

Pengertian zakat menurut bahasa adalah ”berkembang” (an- namaa) atau pensucian (at- ‎tathiir). Sedangkan menurut syara, zakat adalah hak yang telah ditentukan besarnya yang ‎wajib dikeluarkan pada harta harta tertentu (haqqun muqaddarun yajibu fi amwalin ‎mu’ayyanah) (Zallum, 1983 : 147). Maksud dari kata “hak yang telah ditentukan besarnya” ‎‎(haqqun muqaddarun), berarti zakat tidak mencakup hak-hak, berupa pemberian harta yang ‎besarnya tidak ditentukan, misalnya hibah, hadiah, wasiat, dan wakaf.‎

Sedangkan pemahaman dari kata “yang wajib (dikeluarkan)” (yajibu) berarti zakat tidak ‎termasuk yang sifatnya sunnah atau tathawwu seperti shodaqah tathawwu. Sementara ‎pengertian dari “pada harta harta tertentu” (fi amwaalin mu’ayyanah) berarti zakat tidak ‎mencakup segala macam harta secara umum, melainkan hanya harta-harta tertentu yang telah ‎ditetapkan berdasarkan nash-nash syara’ yang khusus, seperti emas, perak, unta, domba, dan ‎sebagainya.‎

Al Jurjani dalam kitabnya At Ta’rifaat menjelaskan bahwa infaq adalah penggunaan harta ‎untuk memenuhi kebutuhan (sharful maal ilal haajah) (Al Jurjani, tt : 39). Dengan demikian, ‎infaq mempunyai cakupan yang lebih luas dibanding zakat.‎

Maka hibah, hadiah, wasiat, wakaf, nazar (untuk membelanjakan harta), nafkah kepada ‎keluarga, kaffarah (berupa harta) –karena melanggar sumpah, melakukan zhihar, membunuh ‎dengan sengaja, dan jima’ di siang hari bulan Ramadhan–, adalah termasuk infaq. Bahkan ‎zakat itu sendiri juga termasuk salah satu kegiatan infak. Sebab semua itu merupakan upaya ‎untuk memenuhi kebutuhan, baik kebutuhan pihak pemberi maupun pihak penerima.‎

• SHADAQAH

Istilah shadaqah maknanya berkisar pada 3 pengertian yaitu:‎

Pengertian pertama,‎

Shadaqah adalah pemberian harta kepada orang-orang fakir, orang yang membutuhkan, ‎ataupun pihak-pihak lain yang berhak menerima shadaqah, tanpa disertai imbalan. Shadaqah ‎ini hukumnya adalah sunnah, bukan wajib. Karena itu, untuk membedakannya dengan zakat ‎yang hukumnya wajib, para fuqaha menggunakan istilah shadaqah tathawwu’ atau ash ‎shadaqah an nafilah. Sementara untuk zakat, dipakai istilah ash shadaqah al mafrudhah, ‎namun seperti uraian Az Zuhaili hukum sunnah ini bisa menjadi haram bila diketahui bahwa ‎penerima shadaqah akan memanfaatkannya pada yang haram.

Sesuai kaidah syara’ ‎:

“Al wasilatu ilal haram haram” ‎
“Segala perantaraan kepada yang haram, hukumnya haram pula”‎
Bisa pula hukumnya menjadi wajib, misalnya untuk menolong orang yang berada dalam ‎keadaan terpaksa (mudhthar) yang amat membutuhkan pertolongan, misalnya berupa ‎makanan atau pakaian. Menolong mereka adalah untuk menghilangkan dharar (izalah adh ‎dharar) yang wajib hukumnya. Jika kewajiban ini tak dapat terlaksana kecuali dengan ‎shadaqah, maka shadaqah menjadi wajib hukumnya, sesuai kaidah syara’,‎

“ Maa laa yatimmul wajibu illa bihi fahuwa wajib” ‎
‎“Segala sesuatu yang tanpanya suatu kewajiban tak terlaksana sempurna, maka sesuatu itu ‎menjadi wajib pula hukumnya”‎

Pengertian kedua

Shadaqah identik dengan zakat. Sebab dalam nash-nash syara’ terdapat lafazh “shadaqah” ‎yang berarti zakat. Di dalam firman Allah SWT:‎
إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ ‏اللَّهِ وَاِبْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ
“Sesungguhnya zakat-zakat itu adalah bagi orang-orang fakir, orang-orang miskin, amil-‎amil zakat …” (QS At Taubah : 60)‎

Dalam ayat tersebut, “zakat-zakat” diungkapkan dengan lafazh “ash shadaqaat”. Begitu pula ‎sabda Nabi SAW kepada Mu’adz bin Jabal RA ketika dia diutus Nabi ke Yaman :‎

“…beritahukanlah kepada mereka (Ahli Kitab yang telah masuk Islam), bahwa Allah telah ‎mewajibkan zakat atas mereka, yang diambil dari orang kaya di antara mereka, dan ‎diberikan kepada orang fakir di antara mereka…” (HR. Bukhari dan Muslim).‎

Pada hadits di atas, kata “zakat” diungkapkan dengan kata “shadaqah”.‎

Berdasarkan nash-nash ini dan yang semisalnya, shadaqah merupakan kata lain dari zakat. ‎Namun demikian, penggunaan kata shadaqah dalam arti zakat ini tidaklah bersifat mutlak. ‎Artinya, untuk mengartikan shadaqah sebagai zakat, dibutuhkan qarinah (indikasi) yang ‎menunjukkan bahwa kata shadaqah dalam konteks ayat atau hadits tertentu artinya adalah ‎zakat yang berhukum wajib, bukan shadaqah tathawwu’ yang berhukum sunnah. Pada ayat ‎ke-60 surat At Taubah di atas, lafazh “ash shadaqaat” diartikan sebagai zakat (yang ‎hukumnya wajib), karena pada ujung ayat terdapat ungkapan “faridhatan minallah” (sebagai ‎suatu ketetapan yang diwajibkan Allah). Ungkapan ini merupakan qarinah, yang ‎menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan lafazh “ash shadaqaat” dalam ayat tadi, adalah ‎zakat yang wajib, bukan shadaqah yang lain-lain.‎

Begitu pula pada hadits Mu’adz, kata “shadaqah” diartikan sebagai zakat, karena pada awal ‎hadits terdapat lafazh “iftaradha” (mewajibkan/memfardhukan). Ini merupakan qarinah ‎bahwa yang dimaksud dengan “shadaqah” pada hadits itu, adalah zakat, bukan yang lain. ‎Dengan demikian, kata “shadaqah” tidak dapat diartikan sebagai “zakat”, kecuali bila ‎terdapat qarinah yang menunjukkannya.‎

Pengertian ke tiga

Shadaqah adalah sesuatu yang ma’ruf (benar dalam pandangan syara’). Pengertian ini ‎didasarkan pada hadits shahih riwayat Imam Muslim bahwa Nabi SAW bersabda : “Kullu ‎ma’rufin shadaqah” yang artinya :” Setiap kebajikan, adalah shadaqah”.‎

Oleh karena itu mencegah diri dari perbuatan maksiat adalah shadaqah, memberi nafkah ‎kepada keluarga adalah shadaqah, beramar ma’ruf nahi munkar adalah shadaqah, ‎menumpahkan syahwat kepada isteri adalah shadaqah, dan tersenyum kepada sesama ‎muslim pun adalah juga shadaqah.‎

Arti shadaqah yang sangat luas inilah yang dimaksudkan oleh Al Jurjani ketika beliau ‎mendefiniskan shadaqah dalam kitabnya At Ta’rifaat. Menurut beliau, shadaqah adalah ‎segala pemberian yang dengannya kita mengharap pahala dari Allah SWT (Al Jurjani, tt : ‎‎132). Pemberian (al ‘athiyah) di sini dapat diartikan secara luas, baik pemberian yang berupa ‎harta maupun pemberian yang berupa suatu sikap atau perbuatan baik.‎

Jika demikian halnya, berarti membayar zakat dan bershadaqah (harta) pun bisa dimasukkan ‎dalam pengertian di atas. Tentu saja, makna yang demikian ini bisa menimbulkan kerancuan ‎dengan arti shadaqah yang pertama atau kedua, dikarenakan maknanya yang amat luas. ‎Karena itu, ketika Imam An Nawawi dalam kitabnya Sahih Muslim bi Syarhi An Nawawi ‎mensyarah hadits di atas (“Kullu ma’rufin shadaqah”) beliau mengisyaratkan bahwa ‎shadaqah di sini memiliki arti majazi (kiasan/metaforis) bukan arti yang hakiki (arti ‎asal/sebenarnya). Menurut beliau, segala perbuatan baik dihitung sebagai shadaqah, karena ‎disamakan dengan shadaqah (berupa harta) dari segi pahalanya (min haitsu tsawab).‎

Khatimah

Beribadah kepada Allah tidak hanya dihadirkan dalam bentuk ibadah fisik saja tetapi ‎beribadah dengan cara membelanjakan harta yang kita miliki dijalan Allah SWT pun merupakan ‎wujud ketaatan seorang hamba yang beriman kepada Allah SWT dan Rasulullah saw. Selain ‎merupakan ciri sebagai orang beriman, berjuang dengan harta juga merupakan perintah dari ‎Hadits dan akan ditanyakan diakherat kelak mengenai harta yang kita miliki. Allah Ta’ala ‎berfirman:‎
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۚ أُولَٰئِكَ ‏هُمُ الصَّادِقُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya ‎‎(beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka ‎berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-‎orang yang benar” (QS. Al-Hujurat [49]: 15).‎

Semoga Artikel ini bermanfaat untuk Sahabat Rumah Kurma Sahara.
Silahkan berbelanja kurma di Rumah Kurma Sahara, Butuh perlengkapan haji? Ingat Toko Rumah Kurma Sahara!
Jalan Raya Semplak Atang Sandjaja No. 224
Bogor Barat – Kota Bogor
Customer Care : 0821-1141-8832 | 0878-7386-0559
Delivery : 0859-2512-6067
WA | PIN BB : 0878-7386-0559 | DA7A086

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *