Hubungan Antar Tetangga

Hubungan antar tetangga adalah salah satu fiqih hubungan sosial dan cabang dari hablumminannas (hubungan antara sesama manusia).

Betapa kita sadari pentingnya tetangga bagi kehidupan kita . Karena manusia adalah mahkluk sosial yang saling membutuhkan satu dengan lainnya. Dan tetangga tinggal tidak jauh  dengan tempat kita tinggal. Subhanallah begitu sempurnannya ISLAM mengatur hubungan sesama manusia termasuk didalamnya bagaimana tetangga mempunyai peran yang sangat significant dalam kehidupan kita.

Ada beberapa point yang mencakup hubungan antar tetangga;

Kebutuhan tetangga terhadap  tetangganya

Allah SWT berfirman :” tolong- menolonglah kamu dalam ( mengerjakan ) kebaikan dan takwa, dan jangan tolong- menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.”( QS.al-Maidah; 2 )

Karena Islam telah meletakan aturan dan norma-norma tersendiri bagi kehidupan bermasyarakat yang dibungkus dengan kasih sayang dan keramah tamahan, direkatkan oleh kebersamaan, dibangun oleh saling tolong menolong dalam kebaikan dan takwa dan saling mencegah dari dosa dan permusuhan.

Aturan di dalam islam  itu juga didasarkan pada kesadaran setiap muslim untuk melaksanakan kewajibannya dalam berinteraksi dengan sesama.

Allah SWT mengagungkan hak setiap muslim, hak kerabat, dan hak setiap tetangga atas tetangganya.

Menunaikan hak-hak ini merupakan salah satu faktor kebahagiaan bagi individu dan masyarakat, karena semua manusia didunia ini pasti di uji, bencana selalu mengintai dari setiap penjuru.

Manusia merupakan makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri tanpa ada interaksi dengan manusia lainnya.

Manusia sangat lemah dan tak mampu selamanya bertahan dalam menghadapi ujian-ujian hidup.

Manusia yang paling dekat dengan seseorang, paling sering bergaul dan paling tahu kondisinya setelah keluarganya adalah tetangga.Pada beberapa kondisi tertentu, tetangga lebih banyak membantu daripada kerabat.Menunaikan hak tetangga termasuk kewajiban yang paling utama dan faktor terciptanya solidaritas dan kerjasama dalam kehidupan.

Menunaikan hak tetangga juga merupakan faktor terbesar adanya kerjasama dalam hal kebaikan dan saling menjaga dari keburukan dan dosa.

Macam-macam tetangga

Firman Allah SWT yang berbunyi, “Beribadahlah kepada Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu bapak, karib kerabat, anak-anak yatim, orang- orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh “..(QS Annisa :36)

Terdapat beberapa macam tetangga yaitu;

  • al jaar dzul qurbaa (tetangga dekat)
  • Tetangga yang masih ada hubungan kekerabatan
  • Tetangga yang muslim
  • Tetangga yang dekat disebelahnya.

 

  • al jaar al junub (tetangga jauh)
  • tetangga yang tidak memiliki hubungan kekerabatan
  • Tetangga yang kafir
  • Tetangga yang berjauhan

 

Anjuran berbuat baik kepada tetangga berlaku secara umum kepada setiap orang yang disebut tetangga, bagaimana pun keadaannya. Rasulullah saw. bersabda: Jibril senantiasa menasehatiku tentang tetangga, hingga aku mengira bahwa tetangga itu akan mendapat bagian harta waris

Ibnu hajar Al Asqalaaniy menyatakan: “Nama tetangga meliputi semua orang islam dan kafir, ahli ibadah dan fasiq, teman dan lawan, warga asing dan pribumi, orang yang bermanfaat dan merugikan, kerabat dan bukan kerabat dan dekat rumahnya atau jauh. Tetangga memiliki tingkatan, sebagiannya lebih tinggi dari sebagian yang lainnya.” [1. Lihat fathul bari 10/442]

Para ulama menjelaskan bahwa tetangga itu ada tiga macam:

  • Tetangga muslim yang memiliki hubungan kerabat. Maka ia memiliki 3 hak, yaitu: hak tetangga, hak kekerabatan, dan hak sesama muslim.
  • Tetangga muslim yang tidak memiliki hubungan kekerabatan. Maka ia memiliki 2 hak, yaitu: hak tetangga, dan hak sesama muslim.
  • Tetangga non-muslim. Maka ia hanya memiliki satu hak, yaitu hak tetangga

 

Tetangga yang masih ada hubungan kerabat, haknya lebih jelas daripada yang bukan kerabat, sedangkan  tetangga yang muslim lebih agung daripada yang kafir.Yang bersebelahan haknya lebih didahulukan dari yang jauh.

 

Batasan bertetangga

Kata Al Jaar (tetangga) dalam bahasa Arab berarti orang yang bersebelahan denganmu. Ibnu Mandzur berkata: “ ا ْل ُم َجا َو َرة ,ال ِج َوارdan ا ْل َجا ُر bermakna orang yangَ bersebelahan denganmu. Bentuk pluralnya ِج ْي َرة ,أ ْج َوار dan ِج ْي َران .”.

Sedang secara istilah bermakna orang yang bersebelahan baik dia seorang muslim atau kafir, baik atau jahat, teman atau musuh, berbuat baik atau jelek, bermanfaat atau merugikan dan kerabat atau bukan.

 

Adapun batasannya masih diperselisihkan para ulama, diantara pendapat mereka adalah:

  • Batasan tetangga yang mu’tabar adalah empat puluh rumah dari semua arah. Hal ini disampaikan oleh Aisyah , Azzuhriy dan Al Auzaa’
  • Sepuluh rumah dari semua arah.
  • Orang yang mendengar adzan adalah tetangga. Hal ini disampaikan oleh Ali bin Abi Tholib .
  • Tetangga adalah yang menempel dan bersebelahan saja.
  • Batasannya adalah mereka yang disatukan oleh satu masjid.
  • Batasan bertetangga dikembalikan pada tradisi dan kebiasaan yang berlaku.
  • Al-Alusi berkata,”Yang paling tepat adalah bahwa batasan tetangga itu ditentukan berdasarkan adat istiadat yang berkembang.” Inilah pendapat yang paling kuat, karena kaidah syar’I menyatakan,”Hal- hal yang telah ditetapkan oleh syariat secara mutlak dan tak ada standar syar’I atau standar bahasanya, maka hal itu dikembalikan pada tradisi yang berlaku.”
  • Ulama Syafi’iyah dan Hambali berpendapat bahwa yang menjadi tetangga adalah 40 rumah dari segala arah (depan, belakang, kanan dan kiri). Mereka berdalil dengan hadits, “Hak tetangga adalah 40 rumah seperti ini dan seperti itu.” Namun hadits ini dha’if.
  • Ulama Malikiyah berpendapat bahwa disebut tetangga jika berdempatan dilihat dari berbagai penjuru atau antar rumah itu hanya dipisah jalan sempit, bukan dipisah pasar besar atau sungai lebar yang melintang. Begitu pula disebut tetangga kalau dikumpulkan oleh satu masjid atau berada di antara dua masjid yang berdekatan. Bisa jadi pula disebut tetangga dengan patokan ‘urf (anggapan masyarakat) walau tidak memakai batasan tadi.
  • Sedangkan Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa disebut tetangga jika berdampingan atau menempel. Sedangkan ulama Hanafiyah lainnya yaitu Abu Yusuf dan Muhammad berpendapat bahwa tetangga itu yang berdampingan dan yang disatukan oleh masjid.

 

Besarnya hak tetangga

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib- kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.” (QS. An-nisaa:36)

Rasulullah saw. bersabda:

َما َزا َل ُيو ِصيِني ِجْبِري ُل ِباْل َجاِر َحتَّى َظنَْن ُتأَنَّهُ َسُيَوِرثُهُ

“Jibril senantiasa berwasiat kepadaku dengan tetangga sehingga aku menyangka tetangga tersebut akan mewarisinya”. (Mutafaqun Alaihi).

Rasulullah صلى ا لله عليه وسلمpun memerintahkan Abu Dzar untuk memperbanyak kuah masakannya agar dapat dibagi dan dirasakan tetangga, seperti dalam hadits :

Dari Abu Dzar beliau berkata: “kekasihku telah berwasiat kepadaku, jika kamu memasak kuah daging maka perbanyak kuahnya kemudian lihat keluarga tetanggamu dan berikanlah sebagian kepada mereka dengan baik. Seperti sabda Rosullulloh saw. bahwaَ  “Sebaik-baiknya sahabat disisi Allah adalah yang paling baik kepada sahabatnya, dan sebaik-baik tetangga adalah yang paling baik terhadap tetangganya.

Tingkatan hak tetangga

Tingkatan Pertama, mencegah diri agar tidak menyakiti tetangga.

  • Ini merupakan kewajiban paling ringan yang harus dilakukan oleh seseorang kepada tetangganya.Karena, jika ia tidak dapat berbuat baik kepada tetangganya, paling tidak ia menahan diri agar tidak menyakitinya.

Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.”(QS.Al-Ahzab:58)

Nabi Saw. bersabda:

  • Dari Abu Hurairah r.a. berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka jangan menyakiti tetangganya…”
  • Dari Abu Syuraih r.a. bahwa Nabi Muhammad saw. bersabda, “Demi Allah, seseorang tidak beriman; demi Allah, seseorang tidak beriman; demi Allah, seseorang tidak beriman.” Ada yang bertanya, “Siapa itu, Ya Rasulallah?” Jawab Nabi, “Yaitu orang yang tetangganya tidak aman dari gangguannya.” (Bukhari)
  • Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu berkata.

“Artinya : Seseorang berkata : ‘Wahai Rasulullah ! Sesungguhnya Fulanah banyak melakukan shalat, shadaqah dan puasa. Hanya saja dia menyakiti tetangga dengan lisannya’. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :“Dia di dalam neraka”, Sesungguhnya Fulanah diceritakan sedikit melakukan puasa dan shalat. Tetapi dia bershadaqah dengan beberapa potong keju dan tidak menyakiti tetangganya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :”Dia di dalam surga”.

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menceritakan,

Ada seorang yang mengadu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kezaliman yang dilakukan tetangganya. Setiap kali orang ini mengadu, selalu dinasehatkan oleh beliau untuk bersabar. Ini dilakukan sampai tiga kali. Sampai pengaduan yang keempat, Nabi saw memberikan solusi,“Letakkan semua isi rumahmu di pinggir jalan.”Orang inipun melakukannya.Setiap ada orang yang melewati orang ini, mereka bertanya: “Apa yang terjadi denganmu. (sampai kamu keluarkan isi rumahmu).” Dia menjawab: “Tetanggaku menggangguku.” Mendengar jawaban ini, setiap orang yang lewat pun mengucapkan: “Semoga Allah melaknatnya!” sampai akhirnya tetangga pengganggu itu datang, dia mengiba: “Masukkan kembali barangmu. Demi Allah, saya tidak akan mengganggumu selamanya.” (HR. Ibnu Hibban 520, Syuaib al-Arnauth menyatakan: Sanadnya kuat).

Tingkatan kedua, ikut merasakan derita tetangga dan tidak mempedulikan kesalahan dan kekurangan mereka. Rasulullah saw. bersabda dalam hadits Abu Dzar: “Tiga orang yang Allah cintai, seorang yang berjumpa musuhnya dalam keadaan berjihad dan mengharap pahala Allah, lalu berperang sampai terbunuh dan seseorang memiliki tetangga yang mengganggunya lalu ia sabar atas gangguan tersebut dan mengharap pahala Allah sampai Allah cukupkan dia dengan meninggal dunia serta seseorang bersama satu kaum lalu berjalan sampai rasa capai atau kantuk menyusahkan mereka, kemudian mereka berhenti diakhir malam, lalu dia bangkit berwudhu dan sholat. Karena Allah menyukai orang orang yang berbuat kebajikan yaitu yang memaafkan kesalahan orang dan menahan marahnya serta orang yang menafkahlan hartanya pada waktu lapang maupun sempit (QS Ali Imran 3:134)

Tingkatan ketiga, Menghormati dan berbuat baik kepada tetangga.. Karena Berbuat baik kepada tetangga mengandung makna yang sangat luas, termasuk didalamnya segala kebaikan dan kemuliaan yang diperintahkan oleh islam. Segala hal yang wajib bagi muslim atas muslim lainnya, maka hal itu juga wajib bagi tetangga atas tetangga lainnya. Karena tetangga memiliki dua hak; hak islam dan hak pertetanggaan.

Perilaku Yang Dapat Menyakiti Tetangga

  • Mengintip dan memandang perempuan- perempuannya, membuka cela dan aibnya, menguping pembicaraannya, membuka rahasianya, mengekspos keburukannya, membunyikan alat musik dan lagu dengan keras, mengeluarkan suara yang bisa mengganggu mereka khususnya pada waktu tidur dan istirahat,dll dapat menyakiti tetangga.
  • Memelihara hewan dan burung yang bau serta suaranya dapat mengganggu tetannganya.
  • Tetangga yang ditinggalkan oleh tetangganya karena takut akan kejahatannya.
  • Menodai istri tetangga

Dari Abdullah bin Mas’ud bertanya, “Ya Rasulullah, apakah dosa yang paling besar? ”Jawab Nabi, “Engkau menjadikan tandingan bagi Allah Ta’ala, padahal Dialah yangmenciptakanmu.”“Kemudian apalagi?” tanya ‘Abdullah bin Mas’ud, kemudian “Engkau membunuh anakmu karena takut ia akan makan bersamamu.”Pungkas ‘Abdullah bin Mas’ud bertanya, “Lalu apalagi?”“Engkau berzina dengan istri tetanggamu,” tutup Rasulullah sebagaimana diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim

Di dalam hadits alMiqdaat,Rasulullah saw. berkata kepada para sahabatnya: “Apa pendapat kalian tentang zina, mereka menjawab Allah dan RasulNya telah mengharamkannya maka dia haram sampai hari kiamat. Berkata Rasululloh kepada para sahabatnya: sungguh seorang menzinahi sepuluh wanita lebih ringan dari menzinahi istri tetangga. Lalu beliau bertanya lagi: apa pendapat kalian tentang pencurian? Mereka menjawab: Allah dan RasulNya telah mengharamkannya maka dia haram. Beliau berkata: sungguh mencuri sepuluh rumah lebih ringan dari mencuri rumah tetangganya.

Kebahagiaan Memiliki tetangga yang shaleh

Dari Sa’ad bin Abi Waqqash, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Ada empat perkara yang termasuk kebahagian : Istri yang shalihah, tempat tinggal yang luas, tetangga yang baik dan kendaraan yang nyaman. Dan empat perkara yang termasuk kesengsaraan : Tetangga yang jelek, istri yang jelek, tempat tinggal yang sempit dan kendaraan yang jelek”. [Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban (1232) dan Al- Khatib (12/99) dengan sanad yang shahih].selain itu Rasulullah saw. juga bersabda:”Berlindunglah kalian kepada Allah dari keburukan tetangga yang menetap, karena tetangga dalam perjalanan jika ia ingin pergi,iapun akan pergi.”

Contoh Perilaku Baik Terhadap Tetangga adalah sebagai berikut;

  • Mencintainya,menyayanginya,mengucapkan salam, menampakan keceriaan dan senyuman, menjenguknya ketika sakit, mengantar jenazahnya ketika meninggal, menolongnya ketika didzalimi, memberi hadiah,dll.
  • Mengajarkan tetangga pengetahuan agama dan ilmu dunia yang belum diketahuinya, menasehatinya dengan cara yang baik, menolongnya untuk taat pada Allah, mengajaknya kepada islam dan menggugah minatnya jika ia seorang kafir, mengawasi rumahnya ketika ia pergi, dll.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra, dia berkata,”Ada tiga perilaku yang dianjurkan pada masa jahiliyah dan kaum muslimin lebih layak lagi melakukannya:

  • Pertama, jika mereka kedatangan tamu, mereka menjamunya dengan baik.
  • Kedua, jika salah seorang diantara mereka memiliki anak perempuan yang sudah besar, ia menahannya dan tidak melepaskannya karena takut hilang.
  • Ketiga, jika tetangga mereka terlilit hutang atau tertimpa musibah, mereka bersungguh-sungguh membantu melunasi hutangnya dan menyelamatkannya dari musibah itu.

 

َياِنَساَءاْلُمْسِلَماَُِلَتَْحِقَرهنَجاَرةٌِلَجاَرِتَهاَولَْوِفْرِسَن َشاة•

“Wahai kaum wanita muslimah janganlah seorang tetangga menganggap remeh hadiah kepada tetangganya walaupun hanya kuku kambing.”

َياَََباذَِّرِإذَا َطَبْخََُمَرقَةًفَأَْكِثْرَماَءَهاَوتََعاَهْدِجيَرانََ•

“Wahai Abu Dzar jika engkau memasak masakan berkuah maka perbanyaklah kuahnya dan pedulilah terhadap tetanggamu.”

  • Ibnu Abbas berkata: Aku mendengar Rasulullah bersabda:

“Tidak termasuk mukmin orang yang kenyang padahal tetangga sampingnya kelaparan”.

Dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha berkata, “Artinya : Demi Allah, sungguh kami melihat hilal (tanggal 1 bulan qamariyyah), kemudian hilal kemudian hilal, tiga hilal pada dua bulan, dan tidaklah dinyalakan api rumah- rumah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Urwah bin Zubair) berkata : Saya bertanya : “Wahai bibiku ! Apakah yang menjadikan anda sekalian tetap hidup ? Aisyah menjawab : kurma dan air. Hanya saja Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mempunyai tetangga dari Anshar yang mempunyai kambing atau onta yang sedang menyusui. Maka mereka mengirimkan susu-susunya kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga kami meminumnya”. [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (2567) dan Muslim (2972).]

Pentingnya perkumpulan antar tetangga

Pertemuan rutin, setiap satu atau dua bulan sekali secara bergilir amat dianjurkan sebagai sarana untuk saling berkenalan, Saling mengetahui kondisi dan perkembangan masing- masing sehingga satu dengan yang lainnya bisa saling membantu. Antar tetangga saling bersilah ukhwah dan mendiskusikan atau Membicarakan hal-hal berkenaan dengan pengembangan komplek/kampong, cara-cara penanggulangan maksiat dan kemungkaran yang merajalela di tengah-tengah masyarakat. Sehingga mampu untuk Menyiapkan iklim yang baik untuk mendidik generasi muda, memperbaiki akhlaknya, mendorong mereka untuk selalu berlomba dalam kebaikan, menjauhi tempat-tempat kerusakan dan kemungkaran. Tetangga sebagai komunitas yang islami mampu Untuk melengkapi peran rumah dan sekolah.

Khatimah

Demikianlah amat besar hak tetangga yang terkadang kurang kita perhatikan, padahal begitu besar dan pentingnya bagi kehidupan seorang muslim dalam bermasyarakat. Oleh karena itu marilah kita perbaiki kehidupan kita dengan lebih memperhatikan lagi syariat islam, sehingga kita dapat hidup diatas takwa dan iman. Kemudian dengan hal itu kita berharap dapat mencapai kemulian dan kebahagian didunia dan akherat.

Semoga Artikel ini bermanfaat untuk Sahabat Rumah Kurma Sahara.
Silahkan berbelanja kurma di Rumah Kurma Sahara, Butuh perlengkapan haji? Ingat Toko Rumah Kurma Sahara!
Jalan Raya Semplak Atang Sandjaja No. 224
Bogor Barat – Kota Bogor
Customer Care : 0821-1141-8832 | 0878-7386-0559
Delivery : 0859-2512-6067
WA | PIN BB : 0878-7386-0559 | DA7A086

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *