Hubungan Antar Sesama Muslim

Rasa kasih sayang merupakan fitrah yang dianugerahkan oleh Allah SWT kepada manusia. Dengan naluri kasih sayang yang dalam bingkai aturan syariat islam ini dapat menciptakan hubungan interaksi yang harmonis antara sesama manusia baik kepada orang tua, anak, teman bahkan makhluk ciptaan Allah SWT lainnya seperti binatang dan tumbuh-tumbuhan pun ikut merasakannya. Terciptanya hubungan yang harmonis pun tak lepas dari rasa saling menghormati dan menyayangi dan saling memiliki dan melindungi antar sesama muslim. Oleh sebab itulah, islam menggariskan bahwa mencintai dan menyayangi orang lain seperti mencintai diri sendiri dalam ketaatannya kepada Allah SWT adalah termasuk sebagian dari cabang keimanan.

Dari An- Nu’man bin Basyir r.a berkata, Rosulullah saw. bersabda, “Perumpamaan orang- orang yang beriman dalam hal saling mencintai, saling menyayangi dan kasih mengasihi adalah seperti satu tubuh, dimana apabila ada salah satu anggota tubuh yang mangaduh kesakitan maka anggota-anggota tubuh yang lainnya ikut merasakannya yaitu dengan tidak bisa tidur dan merasa demam.” (H.R Bukhari Muslim)

Begitu indahnya islam yang mengajarkan untuk saling melindungi, berinteraksi antara sesama muslim sehingga terwujudnya rasa saling mengenal satu sama lain walaupun berbeda suku, bangsa dan warna kulit. Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌالحجرات :

Artinya:” Hai manusia,sesungguhnya kami menjadikan kamu dari seorang laki-laki dan seorang wanita, dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya saling mengenal. Sesungguhnya orang mulia diantara kamu disisi Allah SWT adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah lagi maha mengetahui dan maha mengenal.”(Qs. Al-Hujurat:13)

Ayat ini menjelaskan adanya keberagaman suku dan bangsa dan bukan pembenaran terhadap semua agama (pluralism) karena pluralism agama bertentangan secara total dengan akidah Islam sebab, pluralisme mengakui bahwa semua agama adalah benar. Sebaliknya, dalam pandangan Islam agama satu-satunya yang benar hanyalah Islam dan Al-Quran menegaskan bahwa agama yang diridhoi disisi Allah SWT hanyalah Islam. Allah azza wa jalla berfirman:

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الإسْلامُ 

Artinya:” Sesungguhnya agama yang diridhoi disisi Allah SWT hanyalah islam.”(Qs.Al Imran:19)

Adapun penjelasan dari para mufasir Ali ash-Shabuni dalam kitab Shafwat at- Tafasir menyatakan “ Pada dasarnya umat manusia diciptakan Allah SWT dengan asal-usul yang sama, yakni keturunan nabi Adam as. Maksudnya agar manusia tidak membangga-banggakan nenek moyang mereka kemudian Allah SWT menjadikan mereka bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar mereka saling mengenal dan bersatu bukan untuk bermusuhan dan berselisih”.

 

ATURAN-ATURAN ALLAH SWT DALAM HUBUNGAN ANTARA SESAMA MUSLIM

Kembalilah kepada tali agama Allah SWT

Manusia adalah mahluk sosial, dimana di dalam kehidupannya pastilah membutuhkan  interaksi satu dengan yang lainnya. Manusia pun adalah makhluk yang lemah oleh karenanya manusia akan saling membutuhkan dan ketergantungan, emosional, gampang marah dan tidak sabar. Oleh sebab hal inilah terkadang manusia di dalam berinteraksi akan terjadi benturan-benturan dan permasalahan-permasalahan. Berapapun besar masalahnya harus segera diselesaikan. Penyelesaiannya haruslah adil tidak memihak, tidak berlarut-larut yang mengakibatkan perpecahan di antara manusia. Siapa lagi kalau bukan hukum Allah SWT, Sang Kholiq, Sang Maha Pencipta seluruh alam jagat raya ini, yang mampu menyelesaikannya. Hanya Allah-lah yang berhak mengatur kehidupan manusia melalui syaria’ahnya yaitu Al-Quran dan As-Sunah. Allah SWT berfirman:

وَأَنزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ فَاحْكُم بَيْنَهُم بِمَا أَنزَلَ اللّهُ وَلاَ تَتَّبِعْ أَهْوَاءهُمْ عَمَّا جَاءكَ مِنَ الْحَقِّ لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا وَلَوْ شَاء اللّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَـكِن لِّيَبْلُوَكُمْ فِي مَآ آتَاكُم فَاسْتَبِقُوا الخَيْرَاتِ إِلَى الله مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ                                                                                                                                    

Artinya: “Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, Maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu”. (QS.Al-Maidah 5:48)

Menutupi aib dan melindungi kehormatannya

Islam adalah ajaran agama yang paling indah dan sempurna dimana islam mengajarkan umatnya untuk saling tidak membuka aib saudaranya yang hanya akan membuat saudaranya terhina. Dan Allah SWT pun memberikan balasan kepada umatnya yang menutupi aib saudaranya sesama muslim diantaranya Allah akan menutupi aibnya didunia dan diakahirat kelak. Adapun hadits yang menjelaskan adalah

لَا يَسْتُرُ عَبْدٌ عَبْدًا فِي الدُّنْيَا إِلَّا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Tidaklah seseorang menutupi aib orang lain di dunia, melainkan Allah akan menutupi aibnya di hari kiamat kelak.” (HR. Muslim)

Hadits berikutnya: مَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ   

“Barang Siapa menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutupi aib orang tersebut di dunia dan akhirat.” (HR. Ibnu Majah)

Sebaliknya siapa yang mengumbar aib saudaranya maka Allah akan membuka aib hingga aib rumah tangganya.

مَنْ سَتَرَ عَوْرَةَ أَخِيهِ الْمُسْلِمِ سَتَرَ اللَّهُ عَوْرَتَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَمَنْ كَشَفَ عَوْرَةَ أَخِيهِ الْمُسْلِمِ كَشَفَ اللَّهُ عَوْرَتَهُ حَتَّىيَفْضَحَهُ بِهَا فِي بَيْتِهِ            “

“Barang siapa yang menutupi aib saudaranya muslim, Allah akan menutupi aibnya pada hari kiamat, dan barang siapa mengumbar aib saudaranya muslim, maka Allah akan mengumbar aibnya hingga terbukalah kejelekannya di dalam rumahnya.” (HR. Ibnu Majah)

Membantu kebutuhan saudaranya dan meringankan kesusahannya

Dari Abu Hurairah ra, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang melapangkan satu kesusahan dunia dari seorang Mukmin, maka Allâh melapangkan darinya satu kesusahan di hari Kiamat. Barangsiapa memudahkan (urusan) orang yang kesulitan (dalam masalah hutang), maka Allâh Azza wa Jalla memudahkan baginya (dari kesulitan) di dunia dan akhirat. Barangsiapa menutupi (aib) seorang Muslim, maka Allâh akan menutup (aib)nya di dunia dan akhirat. Allâh senantiasa menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya. Barangsiapa menempuh jalan untuk menuntut ilmu, maka Allâh akan mudahkan baginya jalan menuju Surga…….”.(Muttafaq ‘alaih)

 

Melindungi harta dan darah kaum muslimin

Menjaga harta, jiwa dan darah kaum muslimin merupakan tanggung jawab kaum muslimin untuk selalu menjaga dan menumbuhkan rasa ukhuwah Islamiyah diantara sesama. Adapun hukum asal darah seorang muslim adalah haram ditumpahkan tanpa hak kecuali (orang yang sudah pernah menikah) yang berzina, dengan hukuman qishas, orang yang keluar dari agamanya(murtad) lagi memisahkan diri dari jamaah. Allah SWT berfirman:

وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِوَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيما

Artinya: “Dan barang siapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia didalamnya dan Allah SWT murka kepadanya dan mengutuknya sera menyediakan adzab yang besar baginya”.( Qs. An-Nissa: 93)

Firman Allah ta’ala berikutnya:

فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ وَنُفَصِّلُالآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُون   

Artinya: “Jika mereka bertaubat, mendirikan sholat, menunaikan zakat, maka mereka itu adalah saudara-saudara kalian dalam agama ini. Dan kami menjelaskan ayat-ayat itu bagikaum yang mengetahui”.(Qs. At-Taubah 9:11)

Sedangkan Rosulullah saw. bersabda: “ setiap muslim atas muslim itu haram atas darahnya, hartanya dan kehormatannya”. (HR. Muslim)

Tidak memanggil saudaranya dengan gelar yang buruk

Dalam ajaran islam dilarang untuk memanggil nama seseorang dengan gelaran yang buruk. Dalam Surah Al-Hujurat disebutkan tentang tata cara pergaulan, termasuk dalam berkata-kata. Adapun firman Allah ta’ala berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok), dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olokkan) perempuan lain, (karena) boleh jadi perempuan (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain, dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barangsiapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim” (QS. Al-Hujurat:11).

Saling nasehat-menasehati

Dalam pergaulan dengan sesama muslim,dibutuhkan sikap saling menyadarkan dan saling menasehati sebagaimana yang Allah jelaskan didalam Al-Quran

وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

Artinya : “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholeh dan nasehat- menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat – menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr:1 – 3)

Tidak boleh ada rasa hasad (dengki, iri) yang menimbulkan hasud dan kebencian

Sikap hasad bisa terjadi diantara kalangan kaum muslimin dimana hasad adalah merasa tidak suka terhadap nikmat orang lain. Hal ini sudah termasuk katagori hasad menurut Imam Ibnu Taimiyah walau tidak menginginkan nikamt tersebut hilang. Ibnu Taimiyah berkata:

الْحَسَدَ هُوَ الْبُغْضُ وَالْكَرَاهَةُ لِمَا يَرَاهُ مِنْ حُسْنِ حَالِ الْمَحْسُود 

“Hasad adalah membenci dan tidak suka terhadapa kebaikan yang ada pada orang yang dihasad.(Majmu Al fatawa 10:1)

Adapaun hasad terbagi menjadi 2 yaitu hasad yang tercela dan yang terpuji.

  1. Hasad yang tercela yaitu: tidak menyukai nikmat terhadap orang lain maka ia dengan hatinya berharap nikmat tersebut hilang.
  2. Hasad yang terpuji yaitu tidak suka keutamaan orang lain sehingga ia pun ingin menjadi semisal dengan dirinya atau bahkan lebih mulia darinya (ghibtoh). Sebagaimana yang disebutkan didalam hadits:

Tidak boleh hasad (ghibtoh) kecuali pada dua orang yang Allah anugrahkan padanya harta lalu ia infakan pada jalan kebaikan dan orang yang Allah beri karunia ilmu ( Al-Quran dan As-sunnah) ia menunaikan dan mengajarkannya.

( HR.Bukhari )

Menjaga lisan kepada saudaranya

Berbicara merupakan aktivitas yang sering dilakukan manusia dan merupakan bagian dari akhlak ajaran islam. Aktivitas berbicara pun memberikan nilai keunggulan atau keluhuran bagi yang melaksnakannya. Dimana Syariat islam telah memerintahkan kaum muslimin untuk menghiasi setiap perilakunya dengan akhlak mulia baik dalam beribadah,bermuamalah dengan orang lain maupun perilaku yang sifatnya pribadi sekalipun. Adab berbicara merupakan perintah Allah SWT sebagaimana firman Allah Azza wa jalla:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًايُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا 

Artinya: “Hai orang-orang beriman, bertakwalah kamu sekalian kepada Allah dan katakanlah perkataan yang bener, niscaya Allah memperbaiki amalan-amalanmu dan mengampuni dosa-dosamu. Barangsiapa menaati Allah dan Rosul-Nya maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan  yang besar”.(Al-Ahzab 70-71)

Rosulullah saw. pernah ditanya tentang perkara yang paling banyak menjadi penyebab masuknya manusia ke neraka,lalu beliau bersabda,”perkara itu adalah mulut dan kemaluan.”(HR.At-Tarmidzi, Ibnu Hibban, Al-Bukhari, Ibnu Majah, Ahmad dan Al- Hakim)

Tidak saling menzholimi dan menipu

Abu Hurairah ra, menuturkan bahwa Rosulullah saw. pernah bersabda:

“Janganlah kalian saling dengki,jangan saling menipu, jangan saling menjauhi dan jangan sebagian kalian membeli diatas pembelian orang lain. Jadilah kalian sebagai hamba-ahamba Allah yang bersaudara, seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya. Ia tidak boleh menzholiminya, enggan membelanya, membohonginya dan menghinanya. Takwa itu disini-Rosul menunjuk dada beliau tiga kali. Keburukan paling keterlaluan seseorang adalah ia menghina saudaranya yang muslim. Setiap muslim atas muslim lainnya itu haram darahnya, hartanya dan kehormatannya.”(HR. Muslim dan Ahmad)

 

AYAT-AYAT MENGENAI ATURAN HUBUNGAN ANTARA SESAMA MUSLIM

Adab bergaul dengan sesama muslim

Dari Abu Jabirah bin adh-Dhahak yang berkata: “Nabi saw. datang kepada kami,  ketika itu tidak ada seorang laki-laki pun di antara kami kecuali memiliki satu atau dua laqab (julukan). Ketika beliau memanggil dengan salah satu laqab-nya.Kami berkata,“Wahai Rasulullah, sesungguhnya dia tidak suka dengan (panggilan) itu.” (HR. Ahmad). Riwayatsenada juga disampaikan oleh(Abu Dawud, Ibnu Majah, dan at-Tirmidzi)

 

Kemudian turunlah firman Allah SWT :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا يَسْخَرْ قَومٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ وَلا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلا تَنَابَزُوا بِالألْقَابِ بِئْسَ الاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الإيمَانِ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

 “Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum (1)mengolok-olok kaum yang lain. Boleh jadi mereka yang diolok-olok lebih baik daripada mereka yang mengolok-olok. Jangan pula para wanita mengolok-olok wanita-wanita lain. Boleh jadi wanita-wanita yang diolok-olok lebih baik daripada para wanita yang mengolok-olok.(2)Janganlah kalian mencela diri kalian sendiri. Jangan pula kalian saling (3)memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman. (4)Siapa saja yang tidak bertobat, mereka itulah orang-orang yang dzalim.” (Qs.Al-Hujurat:11)

Adapun penjelasan ayat ini adalah

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum (1)mengolok-olok kaum yang lain. Boleh jadi mereka yang diolok-olok lebih baik daripada mereka yang mengolok-olok. Jangan pula para wanita mengolok-olok wanita-wanita lain…….”

Ayat ini diturunkan berkenaan dengan delegasi dari Bani Tamim sewaktu mereka mengejek orang-orang muslim yang miskin, seperti Ammar bin Yasir dan Shuhaib Ar-Rumi. As-Sukhriyah artinya merendahkan dan menghina (suatu kaum) yakni sebagian di antara kalian (kepada kaum yang lain karena boleh jadi mereka yang diolok-olokkan lebih baik dari mereka yang mengolok-olokkan) di sisi Allah (dan jangan pula wanita-wanita) di antara kalian mengolok-olokkan (wanita-wanita lain karena boleh jadi wanita-wanita yang diperolok-olokkan lebih baik dari wanita-wanita yang mengolok-olokkan dan janganlah kalian mencela diri kalian sendiri) artinya, janganlah kalian mencela, maka karenanya kalian akan dicela; makna yang dimaksud ialah, janganlah sebagian dari kalian mencela sebagian yang lain (dan janganlah kalian panggil-memanggil dengan gelar-gelar yang buruk) yaitu janganlah sebagian di antara kalian memanggil sebagian yang lain dengan nama julukan yang tidak disukainya, antara lain seperti, hai orang fasik, atau hai orang kafir. (Seburuk-buruk nama) panggilan yang telah disebutkan di atas, yaitu memperolok-olokkan orang lain mencela dan memanggil dengan nama julukan yang buruk (ialah nama yang buruk sesudah iman) lafal Al-Fusuuq merupakan Badal dari lafal Al-Ismu, karena nama panggilan yang dimaksud memberikan pengertian fasik dan juga karena nama panggilan itu biasanya diulang-ulang (dan barang siapa yang tidak bertobat) dari perbuatan tersebut (maka mereka itulah orang-orang yang lalim.)

Bagi laki-laki dan perempuan dilarang untuk AS-SYUKRIYYAH (bentuk mashdar dari kata (‘yaskhar’).Menurut para ulama (penggabungan) à bermakna meremehkan, mengejek, melecehkan, menghina, menyepelekan, dengan cara mengumumkan aib dan kekurangan orang lain kepada halayak atau bukan, untuk dijadikan bahan tertawaan; kadang diceritakan dengan ucapan, perbuatan, atau isyarat

Penjelasan berikutnya ”…….Janganlah kalian mencela diri kalian sendiri……..”

Saudara seiman laksana satu jiwa, apabila mencela muslim yang lainnya atau muslim sedunia maka berarti sudah mencela diri sendiri. Sebagaimana firman Allah ta’ala:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Artinya: “Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujurat 49:10)

Persaudaraan yang hakiki adalah persaudaraan atas dasar kesamaan keimanan. Tidak ada persaudaraan yang benar tanpa didasari iman dan tidak ada iman yang benar tanpa dibarengi dengan rasa persaudaraan antar sesama orang-orang beriman dan tanpa disertai dengan melaksanakan hak-hak mereka. Sehingga persaudaraan dan keimanan adalah dua hal yang tidak terpisahkan.

“Tidaklah sempurna iman seseorang di antara kalian hingga dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri”.[HR Bukhari dan Muslim]

berikutnya“…..Jangan pula kalian saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman……”

penjelasan dari ayat diatas dilarang saling memanggil dengan gelar / julukan yang jelek atau yang tidak disukai oleh orang yang dipanggil atau merupakan celaan. Panggilan yang paling buruk adalah menyebut saudaranya seaqidah dengan sebutan fasik, padahal dia sudah bertobat; juga sebutan atau panggilan lain yang senada, seperti, “Hai Munafik”, “Hai Musyrik,” “Hai Kafir,” “Hai Yahudi”, “Hai Nasrani,” dan semacamnya. Padahal mereka sudah beriman. Rasulullah saw. juga menggelari Abu Bakar ra. dengan ash-shiddiq, Umar bin al-Khaththab dengan al-fâruq, Khalid bin al-Walid diberi gelar sayful-Llâh, Utsman bin Affan dengan dzû an-nûrayni (pemilik dua cahaya).

Arti dari surat Al-Hujurat ayat 11 berikutnya adalah “…Siapa saja yang tidak bertobat, mereka itulah orang-orang yang dzalim.”

Bertobat adalah berhenti dari melakukan maksiat. Siapa pun yang tidak berhenti dari semua perbuatan tercela, mereka termasuk orang-orang yang dzalim.

Ayat berikutnya yang menjelaskan tentang adab bergaul sesama muslim.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

Artinya: “Hi orang-orang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan) sesungguhnya sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan menggunjingkan satu sama lain. Adakah sesorang diantara kamu yang memakan daging saudaranya sendiri yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya dan bertakwalah kepada Allah,sesungguhnya Allah maha penerima taubat lagi maha  penyayang”.

(Qs: Al- Hujurat (49):12)

Penjelasan ayat tersebut yaitu

  • “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa…..”

Abu Hurairah berkata telah bersabda Rasululloh saw. ”Jauhkanlah diri kamu daripada sangka (jahat) karena sangka (jahat) itu sedusta-dusta omongan,(hati)”.(HR. Muttafaq Alaih).

 

Allah SWT melarang hamba-hambaNYA yang beriman dari banyak berprasangka buruk yakni mencurigai keluarga, kaum kerabat dan orang lain dengan tuduhan yang buruk karena sesungguhnya hal tersebut merupakan dosa. Adapun sikap Su’uzdon mendatangkan keresahan, ketidaktenangan, setiap saat akan merasa tidak aman, merasa terancam oleh sesuatu yang sebenarnya hanya ada dalam angan-angan.Su’uzdon juga mendatangkan kecurigaan, dendam, hilangnya kenyamanan dan keamanan, menghancurkan rasa percaya kepada diri sendiri. Artinya secara individu prasangka buruk dapat menyebabkan hilangnya ketenteraman bathin, dan bila tidak segera diatasi dapat menyebabkan tumbuhnya kepribadian yang buruk pada seseorang.

Sebaliknya, sikap Husnuzan berasal dari kata husnul yang berarti baik dan Zan yang berarti prasangka.jadi Husnuzan adalah prasangka atau dugaan yang baik yang merupakan sikap atau perilaku yang memiliki prasangka baik, berfikiran positive,  berpandangan mulia terhadap apa yang ada dihadapannya. Bersikap Husnuzan termasuk akhlakul kharimah atau bagian dari perilaku terpuji baik husnuzan kepada Allah azza wa jalla, kepada sesama kaum muslim danbahkan husnuzan kepada diri sendiri. Adapun hikmah dari bersikap Husnuzan diantaranya hidup menjadi tenang, optimis, yakin bahwa terdapat hikmah dibalik segala cobaan, membentuk pribadi yang tangguh dan menumbuhkan sikap santun, pemaaf dan tidak emosional.

Penjelasan ayat berikutnya:

  • “……dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya……”

Imam Nawawi berkata di dalam kitab Al-Adzkar: ”Ketahuilah bahwasanya ghibah itu sebagaimana diharamkan bagi orang yang menggibahi, diharamkan juga bagi orang yang mendengarkannya dan menyetujuinya. Maka wajib bagi siapa saja yang mendengar seseorang mulai menggibahi (saudaranya yang lain) untuk melarang orang itu, kalau dia tidak takut kepada mudhorot yang jelas. Dan jika dia takut kepada orang itu, maka wajib baginya untuk mengingkari dengan hatinya dan meninggalkan majelis tempat ghibah tersebut jika hal itu memungkinkan.”

Jika dia mampu untuk mengingkari dengan lisannya atau dengan memotong pembicaraan ghibah tadi dengan pembicaraan yang lain, maka wajib baginya untuk melakukannya tetapi jika tidak melakukannya maka telah bermkasiat kepada Allah SWT. Adapun jika dia berkata dengan lisannya: ”Diamlah”, namun hatinya ingin pembicaraan ghibah tersebut dilanjutkan, maka hal itu adalah kemunafikan yang tidak bisa membebaskan dia dari dosa. Dia harus membenci ghibah tersebut dengan hatinya.Jika dia tidak memungkinkan baginya untuk meninggalkan majelis yang sedang berghibah, maka harom baginya untuk istima’(mendengarkan) dan isgho’ (mendengarkan dengan seksama) pembicaraan ghibah itu dan hendaklah ia berdzikir baik lisan dan hatinya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

وَإذَا رَأَيْتَ الَّذِيْنَ يَخُوْضُوْنَ فِيْ آيَاتِنَا فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتَّى يَخُوْضُوْا فِيْ حَدِيْثٍ غَيْرِهِ, وَ إِمَّ يُنْسِيَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ فَلاَ تَقْعُدْ بَعْدَ الذِكْرِ مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِيْنَ

Dan apabila kalian melihat orang-orang yang mengejek ayat Kami, maka berpalinglah dari mereka hingga mereka membicarakan pembicaraan yang lainnya. Dan apabila kalian dilupakan oleh Syaithon, maka janganlah kalian duduk bersama kaum yang dzolim setelah kalian ingat”.(Al-An’am : 680)

  • “……dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (Qs. Al-Hujurat 49:12)

Allah SWT senantiasa menerima taubat hamba-Nya selama nyawa belum sampai tenggorokan atau sebelum matahari terbit dari barat (kiamat besar). Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ حَتَّى إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ إِنِّي تُبْتُ اْلآنَ وَلاَ الَّذِينَ يَمُوتُونَ وَهُمْ كُفَّارٌ

Artinya: “Dan tidaklah taubat diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan yang hingga apabila datang ajal kepada seseorang diantara mereka, barulah ia mengatakan: ‘sesungguhnya saya bertaubat sekarang’…….”(Qs: An nisa:18)

 

HADITS YANG MENJELASKAN MENGENAI ADAB BERGAUL SESAMA MUSLIM

Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu dia berkata: Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam bersabda: Janganlah kalian saling dengki, saling menipu, saling marah dan saling memutuskan hubungan. Dan janganlah kalian menjual sesuatu yang telah dijual kepada orang lain. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lainnya, (dia) tidak menzaliminya dan mengabaikannya, tidak mendustakannya dan tidak menghinanya. Taqwa itu disini (seraya menunjuk dadanya sebanyak tiga kali). Cukuplah seorang muslim dikatakan buruk jika dia menghina saudaranya yang muslim. Setiap muslim atas muslim yang lain; haram darahnya, hartanya dan kehormatannya”.(HR. Muslim)

Penjelasan isi dari kandungan hadits diatas adalah:

Janganlah kalian saling dengki

“Waspadalah terhadap hasud (iri dan dengki), sesungguhnya hasud mengikis pahala-pahala sebagaimana api memakan kayu.” (HR. Abu Dawud)

“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” [An Nisaa 4:32]

Jangan saling menipu

“Kenapa engkau tidak meletakkannya di atas agar bisa dilihat oleh pembeli . Barang siapa yang menipu, ia bukan termasuk golonganku.(HR. Muslim dan At-Tirmidzi)

Jangan saling marah dan saling memutuskan hubungan

“Orang yang kuat bukanlah dengan bergulat, namun orang yang kuat itu adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah”. (HR. Al-Bukhari)

Namun dalam kondisi tertentu, Baginda Rasulullah saw. pun bisa marah, tentu semata-mata karena Allah SWT. Ada riwayat yang menyatakan: “Sesungguhnya Nabi saw. tidak pernah marah terhadap sesuatu. Namun, jika larangan-larangan Allah dilanggar, ketika itu tidak ada sesuatu pun yang dapat menghalangi rasa marahnya”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Abu Hurairah Radhiallahu’anhu berkata, Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:“Tidak halal seorang muslim memutuskan hubungan dengan saudaranya (sesama muslim) lebih dari tiga hari, barang siapa memutuskan lebih dari tiga hari dan meninggal maka ia masuk neraka”. (HR. Abu Dawud)

Janganlah menjual sesuatu yang telah dijual kepada orang lain.

Dari Ibnu ‘Umar ra, ia berkata bahwasanya Rasulullah saw. bersabda; “Janganlah seseorang di antara kalian menjual di atas jualan saudaranya”. (HR. Bukhari no. 2139)

Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lainnya

Sesungguhnya orang islam adalah saudara dengan orang islam lainnya, meskipun kita tidak saling mengenal satu dengan yang lainnya. Rosulullah saw. bersabda: “perumpamaan orang islam yang saling mengasihi dan mencintai antara satu sama lain adalah ibarat satu tubuh, bila salah satu anggota tubuh merasa sakit maka seluruh tubuh pun merasa sakit”. (HR.Bukhari)

Tidak saling menzalimi dan mengabaikan

“Dan orang-orang zalim hanya mementingkan kenikmatan dan kemewahan, dan mereka itu adalah orang-orang yang berdosa/pelaku kejahatan.”(QS.Hud 11: 116)

Tidak mendustakannya dan tidak menghinanya.

“Sombong adalah sikap menolak kebenaran dan meremehkan manusia”. (HR. Muslim). Maksud dari hadits ini adalah  meremehkan/menghina dan menganggapnya kerdil. Hal ini karena meremehkan orang lain adalah suatu yang diharamkan karena bisa jadi yang diremehkan lebih mulia di sisi Allah SWT. Cukuplah seorang muslim dikatakan buruk jika dia menghina saudaranya yang muslim. “Setiap muslim atas muslim yang lain; haram darahnya, hartanya dan kehormatannya”. (HR. Muslim)

 

HAK – HAK TERHADAP MUSLIM LAINNYA

Rasulullah saw. bersabda :“Hak seorang Muslim atas Muslim lainnya ada enam: (1)Jika engkau bertemu dengannya, maka ucapkan salam, dan (2) jika dia mengundangmu maka datangilah, (3) jika dia minta nasihat kepadamu berilah nasihat, (4) jika dia bersin dan mengucapkan hamdalah maka balaslah (dengan doa: Yarhamukallah), (5) jika dia sakit maka kunjungilah, dan (6) jika dia meninggal maka antarkanlah (jenazahnya ke kuburan).”  (HR. Muslim).

Ucapkan salam

Mengucapkan salam (Assalamu’alaikum = semoga anda berada dalam keselamatan) adalah sunnah yang sangat dianjurkan karena dia merupakan penyebab tumbuhnya rasa cinta dan dekat dikalangan kaum muslimin sebagaimana yang diajarkan oleh Rosulullah saw:

“Demi Allah tidak akan masuk surga hingga kalian beriman dan tidak beriman hingga kalian saling mencintai. Maukah kuberitahukan sesuatu yang jika kalian lakukan akan menumbuhkan rasa cinta diantara kalian?, sebarkan saalam diantara kalian”. ( HR.Muslim)

Rosulullah saw. selalu memulai salam kepada siapa saja yang beliau temui dan bahkan beliau pun meberi salam kepada anak-anak jika menemui mereka. Sunnahnya adalah jika yang kecil tidak memberi salam, maka yang besar memberikan salam, jika yang sedikit tidak memberikan salam maka yang banyak memberi salam agar pahalanya tetap dapat diraih. Adapun hukum menjawab salam adalah fardhu Kifayah dan yang memulainya adalah sunnah.

Memenuhi undangan

Apabila seseorang mengundangmu dalam hal kebaikan: jamuan makan, memberikan bantuan atau pertolongan dan lainnya maka penuhilah dan memenuhi undangan adalah sunnah mu’akkadah (sunnah yang disarankan dan apabila tidak dilaksanakan tidak membawa mudharat). Pengaruh memenuhi undangan bisa menciptakan rasa cinta dan kasih sayang antar sesama muslim. Dikecualikan dari hal tersebut adalah undangan pernikahan, sebab memenuhi undangan pernikahan adalah wajib dengan syarat-syarat yang telah ditetapkan oleh syariat islam. “ Dan siapa yang tidak memenuhi (undangannya) maka dia telah maksiat kepada Allah dan Rosul-Nya.”(HR.Bukhari dan Muslim)

Memberi nasehat

Memberikan nasehat kepada seseorang yang meminta dalam menyelesaikan suatu perkara maka nasehatilah. Begitupula seseorang datang kepadamu tidak untuk meminta nasehat tetapi terdapat bahaya dalam dirinya atau adanya perbuatan dosa yang akan atau sedang dilakukannya maka wajib untuk menasehatinya. Hal ini termasuk dalam menghilangkan bahaya dan kemungkaran dari kaum muslimin. “Agama adalah nasehat: kepada Allah,Kitab-Nya, dan Rosul-Nya dan kepada para pemimpin kaum muslimin serta rakyat pada umumnya.”(HR.Muslim)

Mengucapkan hamdallah disaat bersin: yarhamukallahu

Hal ini dilakukan sebagai rasa syukur kepada Allah SWT. Menjawab orang yang bersin( jika ia mengucapkan hamdallah)  hukumnya wajib, dan wajib pula menjawab orang yang mengucapkan “Yarhamukallah” dengan ucapan “yahdikumullah wa yuslih balakum” dan jika seseorang bersin terus- menerus lebih dari 3 kali maka ucapkanlah “Aafakallah( smoga Allah menyembuhkanmu) sebagai ganti dari “Yarhamukallah”.

Membesuknya saat sakit

Adab dalam menjenguk orang yang sedang sakit haruslah dipahami. Adapun cara membesuk orang yang sedang sakit sangatlah tergantung orang yang sakit dan penyakitnya. Ada kondisi yang menuntut untuk sering dikunjungi maka yang utama adalah memperhatikan keadaannya. Disunnahkan bagi yang menjenguk orang sakit untuk menanyakan keadaannya, mendoakannya serta menghiburnya dan memberinya harapan karena hal tersebut dapat mendatangkan kesembuhan n kesehatan tergantung jenis penyakitnya. Layak juga untuk mengingatkan akan taubat dengan cara yang bijak seperti sabda Rosulullah saw. : “ Tidaklah menimpa seorang mukmin rasa sakit yang terus menerus, kepayahan, penyakit dan juga kesedihan, bahkan sampai kesusahan yang menyusahkan, melainaka akan dihapuskan dengannya dosa- dosanya.”(HR.Muslim)

 

Mengantarkan Jenazah

Hal ini juga bagian dari hak seorang muslim atas saudaranya yang meninggal dunia untuk mengantarkan ke kuburan dan di dalamnya terdapat pahala yang besar. Rosulullah saw. bersabda: “Siapa yang mengantarkan jenazah hingga mensholatkannya maka baginya pahala satu Qhirath, dan siapa yang mengantarkannya hingga dimakamkan maka baginya pahala dua Qhirath”, beliau ditanya: “Apakah yang dimaksud Qhirath?”, beliau menjawab:” bagaikan dua gunung yang besar.” (HR. Bukhari dan Muslim)

 

MENDAMAIKAN HUBUNGAN YANG RUSAK

Perkara yang sangat dicintai oleh Allah adalah kebaikan dan perbaikan. Kebaikan adalah kebaikan sesuai dengan wahyu yang menjadikan jiwa suci dan bersih sedangkan perbaikan (ishlaah) adalah meluruskan kondisi yang menyimpang, baik kondisi individu maupun kelompok atau memperbaiki hubungan yang rusak antara dua orang atau dua kelompok sesuai dengan petunjuk syari’at yang lurus. Adapun usaha mendamaikan yaitu usaha untuk mendekatkan antara hati-hati yang saling menjauh, menyatukan kembali pemikiran-pemikiran yang saling menjauh, dan memberikan hak yang wajib kepada pemiliknya satu dengan yang lain. Dengan syarat yang mendamaikan haruslah berusaha mendamaikan semata-mata hanya karena Allah, bukan untuk kemaslahatan atau keuntungan pribadi.

 

Mendamaikan diantara sesama muslim seperti berantem, tawuran pelajar, bentrokan massa, fanatisme kelompok dan lainnya merupakan salah satu pintu syurga dan keselamatan dari fitnah. Selain itu akan mendatangkan kemaslahatan dan mencegah kemudhorotan yang meluas kerusaknnya. Bahkan dapat menutup pintu-pintu tempat masuknya syaitan untuk menggoda manusia. Adapun para pemerhati sejarah mengatakan “Bahwa individu dan umat-umat akan mendapati bahwa kerusakan menjadi semakin meluas dalam kehidupan mereka disebabkan hilangnya” usaha mendamaikan diantara yang bersengketa”. Dan ia juga akan mendapati bahwa keburukan dan fitnah terhilangkan disebabkan usaha mendamaikan diantara yang bersengketa. Dan besarnya nyala api berasal dari percikan bunga api.”

Adapun mendamaikan diantara yang bersengketa merupakan salah-satu ajaran dalam agama islam yang  mulia dimana Allah SWT berfirman:

فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَصْلِحُوا ذَاتَ بَيْنِكُمْ وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

Artinya: ”Maka bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah perhubungan diantara sesamamu; dan taatlah kepada Allah dan rosul-Nya jika kamu orang–orang yang beriman.” (Qs:Al- Anfaal:1)

Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِأَفْضَلَ مِنْ دَرَجَةِ الصِّيَامِ وَالصَّلاَةِ وَالصَّدَقَةِ؟ قَالُوا : بَلَى، قَالَ : صَلاَحُ ذَاتِ الْبَيْنِ فَإِنَّ فَسَادَ ذَاتِ الْبَيْنِ هِيَ الْحَالِقَةُ

Maukah aku kabarkan kepada kalian yang lebih baik daripada derajat puasa, sholat, dan sedekah?”.Mereka berkata, “Tentu”. Baiknya hubungan diantara sesama, karena rusaknya hubungan diantara sesama mengikis habis (agama).”(HR. At-Tirmidzi no 2509, dan dishahihkan at-Tirmidzi)

Dan terdapat tambahan :

هِيَ الْحَالِقَةُ لاَ أَقُوْلُ تَحْلِقُ الشَّعْرَ وَلَكِنْ تَحْلِقُ الدِّيْنَ

Rusaknya hubungan di antara sesama adalah mengikis, dan tidaklah aku berkata mengikis habis rambut, akan tetapi mengikis habis agama.”

 

UPAYA MENDAMAIKAN PERSELISIHAN

Upaya-upaya mendamaikan individu yang berselisih

Upaya – upaya mempererat kembali hubungan antar sesama muslim khususnya perselisihan antar inividu dan menyatukan hati- hati mereka merupakan perbuatan yang harus tertanam disetiap hati kaum muslimin. Upaya- upaya tersebut berupa:

  • Menasehatinya
  • Mendatangkan orang yang adil untuk berkomunikasi antara kedua belah pihak yang berselisih
  • Boleh berbohong dengan tujuan mendamaikan

Ada jenis-jenis bohong yang diperbolehkan  yaitu berbohong dalam keadaan perang, berbohong terhadap ucapan suami kepada istrinya atau sebaliknya, dan berbohong karena mendamaikan orang yang berseteru.

Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits Ummu Kultsum radhiyallahu ‘anha, sesungguhnya ia berkata, “Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidaklah dikatakan pendusta orang yang mendamaikan manusia (yang berseteru), melainkan apa yang dikatakan adalah kebaikan”. (Muttafaq ‘Alaih)

 

Upaya- upaya mendamaikan masyarakat yang berselisih

Adapun upaya – upaya yang optimal mendamaikan masyarakat yang berselisih seperti adanya bentrokan antara warga, suku bahkan masalah agama tidak bisa secara optimal melalui pendekatan individu saja tetapi haruslah:

  • Negara yang melakukan perbaikan masyarakat
  • Hukum yang berlaku haruslah berdasarkan Syariat islam sehingga mencakup keadilan disetiap aspek kehidupan
  • Semua pihak yang berseteru wajib mematuhi dan mengikuti hukum sebagai ketetapan dari Allah SWT
  • Partisipasi dan dukungan dari semua pihak untuk membangun kehidupan yang damai dan sejahtera
  • Tanamkan kepada semua jiwa umat Muslim bahwa tujuan hidup di dunia hanyalah untuk beribadah kepada Allah, maka takutlah kepada Allah, semua perbuatan akan dimintai pertanggung jawaban di Akherat kelak.

 

Kenapa harus Negara yang melakukan perbaikan terhadapa masyarakat yang rusak. Hal ini karena factor utama yang menyebabkan rapuh dan pecahnya persatuan umat Islam adalah tidak adanya ikatan yang mempersatukan mereka. Semula akidah Islam lah yang menjadi satu- satunya ikatan bagi kaum muslimin namun seiring dengan merosotnya taraf berfikir kaum muslimin, ikatan tersebut mulai pudar dan terbentuklah ikatan yang saat ini kita rasakan yaitu ikatan darah dan nasab. Akibatnya tumbuh dan berkembanglah rasa kesukuan atau kebangsaan.

Memang benar, fitrah manusia telah diciptakan oleh Allah dengan suku, bangsa dan bahasa yang berbeda. Tujuannya agar saling mengenal satu sama lain (QS al-Hujurat [49]: 13). Dengan adanya interaksi antar suku, bangsa dan bahasa yang berbeda itu, terjadilah dinamika kehidupan yang luar biasa. Inilah tujuan diciptakannya suku, bangsa dan bahasa yang berbeda itu; bukan untuk saling bermusuhan. Masalahnya, bagaimana agar perbedaan dan keragaman tersebut tidak menjadi pemicu konflik dan permusuhan? Ini tentu harus dikembalikan pada ikatan yang menjadi perekatnya. Jika ikatan tersebut rapuh maka dengan mudah persatuan mereka pun terkoyak. Sehingga satu – satunya ikatan akidah yang kuat dan permanent adalah ikatan akidah Islam sesuai dengan Al-Quran dan As-sunnah.

Dengan adanya akidah Islam yang berpedoman kepada Al-Quran dan As-sunnah saja tidak cukup, tetapi harus di terapkan dan cara menerapkannya tidak bisa secara individu saja melainkan adanya negara yang dapat menyatukan para kaum muslimin dan negri- negri kaum muslimin lainya yaitu Negara khilafah ala manhajj nubhuwah yang dapat menyelesaikan segala problematika kehidupan diberbagai sendi kehidupan.

 

 

KHATIMAH

Persaudaraan sesama Muslim tentu tidak akan bermakna apa-apa jika masing-masing tidak memperhatikan hak dan kewajiban saudaranya, tidak saling peduli, tidak saling menutupi aibnya, tidak saling menolong, dan sebagainya. Baginda Rasulullah saw memerintahkan hal demikian, sebagaimana sabdanya,“Siapa saja yang meringankan  beban seorang Mukmin di dunia, Allah pasti akan meringankan bebannya pada Hari Kiamat. Siapa saja yang memberikan kemudahan kepada orang yang kesulitan, Allah pasti akan memberi dia kemudahan di dunia dan akhirat. Siapa saja yang menutupi aibseorang Muslim di dunia, Allah pasti akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat. Allah SWT selalu menolong hamba-Nya selama hamba itu menolong saudaranya.” (HR Muslim dan at-Tirmidizi).

Dari Anas r.a. bahwa nabi saw bersabda, “Tidak sempurna keimanan seseorang dari kalian, sebelum ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.”(HR. Bukhari)

Semoga Artikel ini bermanfaat untuk Sahabat Rumah Kurma Sahara.
Silahkan berbelanja kurma di Rumah Kurma Sahara, Butuh perlengkapan haji? Ingat Toko Rumah Kurma Sahara!
Jalan Raya Semplak Atang Sandjaja No. 224
Bogor Barat – Kota Bogor
Customer Care : 0821-1141-8832 | 0878-7386-0559
Delivery : 0859-2512-6067
WA | PIN BB : 0878-7386-0559 | DA7A086

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *