Hubungan Antar Kerabat

Islam adalah agama yang indah dan paripurna yang mengajarkan seluruh aspek kehidupan manusia. Islam mengajarkan adab dan akhlak yang tinggi, menghormati yang tua dan menyayangi yang muda, menjaga keharmonisan hubungan keluarga dan menghilangkan hal-hal yang dapat merusak hubungan persaudaraan. Islam sangat menganjurkan silaturahmi. Bahkan, silaturahmi merupakan inti dari ajaran Islam, sebagaimana diriwayatkan dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Amr bin ‘Abasah as-Sulami berkata,“Aku berkata,“Dengan apa Allah mengutusmu? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Allah mengutusku dengan silaturrahim,  menghancurkan berhala dan agar Allah ditauhidkan, Dia tidak disekutukan dengan sesuatupun.” (HR. Muslim no. 1927)

Loyalitas antar kerabat adalah  naluri yang fitrah

Munculnya rasa loyalitas kepada kerabat adalah hal yang fitrah yang muncul dari naluri kasih sayang manusia. Kerabat adalah keluarga dan kabilahnya serta pengikut dan penguatnya.

Kerabat adalah tempat untuk berbagi (suka-duka), berlindung, saling membantu, saling menjaga kehormatan, saling menutupi aib, dan saling menasihati.

Ali bin Abi Thalib berkata: “Mereka adalah keluargamu, bersama mereka engkau mengarungi kehidupan, mereka juga merupakan bala bantuan saat bencana. Oleh karena itu, muliakanlah orang yang paling mulia di tengah mereka, jenguklah yang sakit, mudahkanlah anggota keluarga yang tengah kesusahan dan jangan sampai keluargamu berbuat buruk kepadamu”

Definisi Rahim dan Silaturrahmi

Maksud Rahim di sini adalah Rahim wanita, tempat tumbuh dan berkembangnya anak. Kata rahim juga digunakan untuk menyebut “kerabat” karena mereka semua keluar dari satu Rahim.

Maka Rahim adalah  hubungan kekerabatan manusia dari ayah dan ibunya.

Cakupan hubungan kekerabatan:

  • Kekerabatan Asal: yaitu ayah, kakek, ibu, nenek sampai ke atas
  • Kekerabatan Cabang: anak lelaki, anak perempuan, dan cucu-cucu mereka sampai ke bawah.
  • Kekerabatan hawasyi: yaitu saudara laki-laki, saudara perempuan, anak-anak saudara laki-laki dan saudara perempuan sampai ke bawah, paman dan bibi dari ayah sampai ke atas, paman dan bibi dari ibu sampai ke atas, dan anak-anak mereka sampai ke bawah.

Yang dimaksud dengan kerabat di sini adalah orang-orang yang memiliki kedekatan pada seseorang dari sisi kekeluargaan atau nasab keturunan baik dari pihak bapak atau ibu, seperti misalnya saudara, paman, bibi, sepupu, dan lainnya yang memiliki hubungan nasab. Dalam Islam, mereka mendapatkan kedudukan yang harus dijaga hak-haknya, sebagaimana Allah berfirman,“Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya.”(al-Isra: 26)

Allah juga berfirman,

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu bapak, karib-kerabat…” (an-Nisa: 36)

Maka Allah memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk beribadah kepada-Nya semata, tidak melakukan kesyirikan dalam ibadah, kemudian Dia memerintahkan mereka untuk menunaikan hak-hak hamba, dengan memperhatikan mana yang paling dekat terlebih dahulu. Maka semakin dekat hubungan kekerabatan seseorang, semakin besar hak yang harus ditunaikan kepadanya.

Makna Silaturrahmi

Imam Nawawi rahimahullah berkata, bahwa shilaturrahmi adalah, “Berbuat baik kepada kerabat sesuai dengan keadaan orang yang berbuat baik dan orang yang menerima perbuatan baik itu. Terkadang shilaturrahmi itu dengan harta, jasa, mengunjungi, ucapan salam dan lainnya”. [Lihat Syarh Nawawi 1/287; Kamus Fiqih 1/145, karya Dr. Sa’di Abu Habib; Maktabah Syamilah].

Imam al-‘Aini rahimahullah berkata, “Silaturrahmi adalah kinâyah (ungkapan lain yang lebih halus-red) dari berbuat baik kepada kerabat dari kalangan orang-orang yang memiliki hubungan nasab (keturunan-red) dan pernikahan, bersikap sopan dan lemah-lembut kepada mereka, serta memperhatikan keadaan mereka. Walaupun mereka jauh dan berbuat buruk. Adapun qath’urrahmi (memutuskan persaudaraan) adalah memutuskan hal-hal yang disebutkan di atas (dengan tanpa alasan syari’at-pen)”. [Syarh Shahîh al-Bukhâri]

Silaturrahmi atau silaturrahim?

Di dalam masyarakat kita, istilah silaturrahim ataupun silaturrahmi masih dipandang sama, entah itu mengunjungi keluarga ataupun mengunjungi teman. Maka sering kali kita mendengar perkataan “silaturrahmi”.

Secara tinjauan bahasa arab, kata “Silaturrahim” ditulis dengan [صِلَةُ الرَّحِمِ] Jika kita beri harakat lengkap, cara membacanya: Silaturrahimi. Jika kita pecah, terdiri dari dua kata: silah, [arab: صِلَة ] yang artinya hubungan dan rahim [arab: الرَّحِم ] artinya rahim, tempat janin sebelum dilahirkan. Sehingga yang dimaksud silaturrahim adalah menjalin hubungan baik dengan kerabat, sanak, atau saudara yang masih memiliki hubungan rahim atau hubungan darah dengan kita.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 

  • الرَّحِمُ مُعَلَّقَةٌ بِالْعَرْشِ تَقُولُ مَنْ وَصَلَنِي وَصَلَهُ اللَّهُ وَمَنْ قَطَعَنِي قَطَعَهُ اللَّهُ

“Ar-rahim itu tergantung di Arsy. Ia berkata: “Barang siapa yang menyambungku, maka Allah akan menyambungnya. Dan barang siapa yang memutusku, maka Allah akan memutus hubungan dengannya.[HR. Mutafaqqun Alaihi]

 

“مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ؛ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Barang siapa menginginkan untuk diluaskan rizkinya serta diundur ajalnya; hendaklah ia bersilaturrahim”.[HR. Bukhari – Muslim]

Maka meninjau dari makna bahasanya, silaturahmi di sini hanya kepada keluarga saja. Keluarga bisa meliputi keluarga inti dan keluarga yang tercakup dan terlibat dalam hal warisan. Adapun ke rumah teman maka bahasa syariatnya adalah “ziyarah”. Hanya saja ini tidak lazim dalam bahasa Indonesia tidak biasa digunakan dan lebih identik dengan kata “ziarah kubur”

 Kerabat yang paling Berhak Dijaga Silaturrahminya

Allah SWT berfirman:

وَوَصَّيۡنَا ٱلۡإِنسَـٰنَ بِوَٲلِدَيۡهِ حَمَلَتۡهُ أُمُّهُ ۥ وَهۡنًا عَلَىٰ وَهۡنٍ۬

وَفِصَـٰلُهُ ۥ فِى عَامَيۡنِ أَنِ ٱشۡڪُرۡ لِى وَلِوَٲلِدَيۡكَ إِلَىَّ

ٱلۡمَصِير

“Dan Kami perintahkan kepada manusia [berbuat baik] kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun [1] Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (QS. Luqman (31): 14)

Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, beliau berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu, lalu orang-orang di bawahmu, di bawahmu’” (HR. Muslim no. 2548)

Menurut Imam Nawawi kerabat yang paling berhak dijaga silaturrahminya tingakatannya adalah :

  1. Orang tua (dengan lebih mengutamakan ibu, kemudian bapak)
  2. Anak-anaknya
  3. Kakek
  4. Nenek
  5. Saudara laki-laki
  6. Saudara perempuan
  7. Mahram dari satu keturunan (seperti para paman dan bibi dari pihak ayah, kemudian dari pihak ibu)
  8. Kerabat paling dekat, dan seterusnya
  9. Saudara sebapak-seibu lebih diutamakan daripada se-ayah atau se-ibu saja
  10. Kemudian saudara yang bukan mahram (seperti sepupu, anak-anak bibi, dll)

Bentuk-bentuk Silaturrahmi

Silaturahmi merupakan ibadah yang agung, mudah dan membawa berkah. Banyak cara yang bisa dilakukan untuk mewujudkan silaturahmi, diantaranya dengan berziarah, bergaul dengan kerabat dengan cara ma’ruf, menutup aib mereka,beramar ma’ruf nahi mungkar, saling bersedekah, saling memberi hadiah, memberi nafkah, berlaku lemah-lembut, bermuka manis (senyum), memuliakannya dan semua yang manusia itu menganggapnya silaturahmi.

Keutamaan Silaturrahmi

Sesungguhnya silaturahmi merupakan amal shalih yang penuh berkah, dan memberikan kepada pelakunya kebaikan di dunia dan akhirat, menjadikannya diberkahi di manapun ia berada, Allah swt memberikan berkah kepadanya di setiap kondisi dan perbuatannya, baik yang segera maupun yang tertunda. Keutamaannya sangat banyak, profitnya melimpah, buahnya matang, pohon-pohonnya baik yang memberikan makanannya di setiap waktu dengan izin Rabb-nya, diantara keutamaan tersebut adalah sebagai berikut :

  1. Jalan untuk masuk surga

“Bahwasanya ada seseorang berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Wahai Rasulullah, beritahukan kepadaku tentang sesuatu yang bisa memasukkan aku ke dalam surga dan menjauhkanku dari neraka,” maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sungguh dia telah diberi taufik,” atau “Sungguh telah diberi hidayah, apa tadi yang engkau katakan?” Lalu orang itupun mengulangi perkataannya. Setelah itu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Engkau beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukannya dengan sesuatu pun, menegakkan shalat, membayar zakat, dan engkau menyambung silaturahmi”. Setelah orang itu pergi, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jika dia melaksanakan apa yang aku perintahkan tadi, pastilah dia masuk surga”. (HR. Bukhari – Muslim)\

  1. Panjang umur dan banyak rezeki
  • مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ أَوْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Barang siapa yang ingin dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi”. [Muttafaqun ‘alaihi].

  1. Tidak akan putus hubungan dengan Allah di dunia dan akhirat

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

  • الرَّحِمُ مُعَلَّقَةٌ بِالْعَرْشِ تَقُولُ مَنْ وَصَلَنِي وَصَلَهُ اللَّهُ وَمَنْ قَطَعَنِي قَطَعَهُ اللَّهُ

“Ar-rahim itu tergantung di Arsy. Ia berkata: “Barang siapa yang menyambungku, maka Allah akan menyambungnya. Dan barang siapa yang memutusku, maka Allah akan memutus hubungan dengannya”. [Muttafaqun ‘alaihi].

  1. Lebih besar pahalanya daripada memerdekakan seorang budak

Dalam Shahîh al-Bukhâri, dari Maimûnah Ummul-Mukminîn, dia berkata: “Wahai Rasulullah, tahukah engkau bahwa aku memerdekakan budakku?” Nabi bertanya, “Apakah engkau telah melaksanakannya?” Ia menjawab, “Ya”. Nabi bersabda, “Seandainya engkau berikan budak itu kepada paman-pamanmu, maka itu akan lebih besar pahalanya”.

  1. Mendapat Pahala dua kali sedekah

Rasulullah SAW bersabda: “Sedekah kepada orang miskin hanya satu sedekah, sedangkan sedekah untuk orang yang masih satu keturunan adalah dua sedekah: sedekah dan mempererat hubungan” (HR. An Nasa’I, Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad, dll)

  1. Diberikan keutamaan dan diangkat kedudukannya

Diriwayatkan dari Darrah binti Abu Lahab ra, dia berkata: “Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling mulia? Beliau menjawab, ‘Yaitu orang yang paling bertaqwa di antara kalian, paling banyak bersilaturrahmi serta paling sering amar ma’ruf nahi munkar” (HR. Ahmad).

 Tingkatan Manusia dalam Silaturrahmi

Al-Qadhi ‘Iyad rahimahullah berkata, “Tidak ada perbedaan pendapat, bahwasanya hukum silaturahmi adalah wajib (secara umum) dan memutus silaturahmi adalah dosa besar”. Namun, menyambung silaturahmi mempunyai beberapa tingkatan yaitu :

  1. Waashil: orang yang menyambungkan silaturrahmi dengan orang yang telah memutuskan tali silaturrahmi dan memberi orang yang tak mau memberinya.
  2. Mukaafi: orang yang memberi kepada orang yang telah memberi kepadanya dan menyambungkan tali silaturrahmi dengan orang yang menyambungkan tali silaturrahmi dengannya.
  3. Qaathi’: orang yang tidak menyambungkan dan tidak tersambungkan tali silaturrahminya, tidak memberi dan tidak juga diberi
  4. Orang yang memutuskan tali silaturrahmi ketika orang lain berusaha menyambungnya.

“Seorang laki-laki bertanya tentang sedekah yang paling utama. Rasulullah SAW menjawab, “Yaitu sedekah kepada keluarga yang memusuhi”. (HR. Ahmad, Al Hakim, dll).

“Seorang waashil bukan tergolong mukaaffi, akan tetapi waashil adalah orang yang jika diputus silaturrahmi dengannya, ia menyambungkannya kembali” (HR. Bukhari).

“Wahai Rasulullah, aku mempunyai kerabat. Aku menyambung hubungan dengan mereka, akan tetapi mereka memutuskanku. Aku berbuat baik kepada mereka, akan tetapi mereka berbuat buruk terhadapku. Aku berlemah lembut kepada mereka, akan tetapi mereka kasar terhadapku,” maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila engkau benar demikian, maka seakan engkau menyuapi mereka pasir panas, dan Allah akan senantiasa tetap menjadi penolongmu selama engkau berbuat demikan.” [Muttafaq ‘alaihi].

Ancaman bagi Pemutus  Silaturrahmi

  1. Dilaknat dan dijauhkan dari rahmat Allah SWT

وٱتَّقُواْ ٱللَّهَ ٱلَّذِى تَسَآءَلُونَ بِهِۦ وَٱلۡأَرۡحَامَ‌ۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَيۡكُمۡ رَقِيبً۬ا.

“Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan [mempergunakan] nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain,dan [peliharalah] hubungan silaturahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu”. (QS. An-Nisa’4 :1).

هَلۡ عَسَيۡتُمۡ إِن تَوَلَّيۡتُمۡ أَن تُفۡسِدُواْ فِى ٱلۡأَرۡضِ وَتُقَطِّعُوٓاْ

أَرۡحَامَكُمۡ (٢٢) أُوْلَـٰٓٮِٕكَٱلَّذِينَلَعَنَهُمُٱللَّهُفَأَصَمَّهُمۡ وَأَعۡمَى

َبۡصَـٰرَهُمۡ (٢٣)

“Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan? (22) Mereka itulah orang-orang yang dila’nati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka”. (23) (QS. Muhammad (47) : 22-23). Begitu pula firman Allah Ta’ala:

“Orang-orang yang merusak janji Allah setelah diikrarkan dengan teguh dan memutuskan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan dan mengadakan kerusakan di bumi, orang-orang itulah yang memperoleh kutukan dan bagi mereka tempat kediaman yang buruk (Jahannam)”. [Ar-Ra’d 13:25].

 

  1. Diharamkan Masuk Surga. “Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan silaturrahmi” (HR. Bukhari dan Muslim).
  1. Sanksi bagi orang tersebutakan dipercepat di dunia. “Tidak ada dosa yang lebih pantas untuk didahulukan balasannya di dunia disamping balasan yang telah menunggunya di akhirat, selain berbuat zalim dan memutuskan tali silaturrahmi.” ( Abu Dawud, Tirmidzi, Ahmad, Baihaqi, dll).
  1. Baginya pintu-pintu langit tertutup dan tak mau mendengarkan atau mengabulkan doanya.“Semua amal anak adam akan diperlihatkan kepada Allah SWT pada tiap kamis petang malam jumat, maka amal orang yang memutuskan silaturrahmi tidak akan diterima”. ( Bukhari , Ahmad)

Khatimah

Tali kekerabatan harus selalu rapat dan erat. Beragam gejala yang berpotensi merenggangkannya mesti diantisipasi dengan cepat, supaya keharmonisan hubungan tetap terjaga, kuat lagi hangat. Semua anggota kerabat akan menikmati rahmat dari-Nya lantaran menjunjung tinggi tali silaturahmi yang sangat ditekankan oleh syariat. Sebaliknya, ketidakpedulian terhadap hubungan kekerabatan akan dapat menimbulkan dampak negatif. Alasannya, tali silaturahmi lambat laun akan mengalami perenggangan. Pemutusan tali silaturahmi berdampak mengikis solidaritas, mengundang laknat, menghambat curahan rahmat dan menumbuhkan suburnya egoisme. Sering terdengar di masyarakat pelbagai kasus putusnya tali silaturrahim. Ancaman Islam sangat tegas terhadap pemutusan silahturrahim ini. Seperti sabda Rasulullah saw.  “Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan silaturrahim.” (HR. Bukhari 5984 dan Muslim 2556).

Islam adalah agama yang indah dan paripurna yang mengajarkan seluruh aspek kehidupan manusia. Islam mengajarkan adab dan akhlak yang tinggi, menghormati yang tua dan menyayangi yang muda, menjaga keharmonisan hubungan keluarga dan menghilangkan hal-hal yang dapat merusak hubungan persaudaraan. Islam sangat menganjurkan silaturahmi. Bahkan, silaturahmi merupakan inti dari ajaran Islam, sebagaimana diriwayatkan dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Amr bin ‘Abasah as-Sulami berkata,“Aku berkata,“Dengan apa Allah mengutusmu? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Allah mengutusku dengan silaturrahim,  menghancurkan berhala dan agar Allah ditauhidkan, Dia tidak disekutukan dengan sesuatupun.” (HR. Muslim no. 1927)

Loyalitas antar kerabat adalah  naluri yang fitrah

Munculnya rasa loyalitas kepada kerabat adalah hal yang fitrah yang muncul dari naluri kasih sayang manusia. Kerabat adalah keluarga dan kabilahnya serta pengikut dan penguatnya.

Kerabat adalah tempat untuk berbagi (suka-duka), berlindung, saling membantu, saling menjaga kehormatan, saling menutupi aib, dan saling menasihati.

Ali bin Abi Thalib berkata: “Mereka adalah keluargamu, bersama mereka engkau mengarungi kehidupan, mereka juga merupakan bala bantuan saat bencana. Oleh karena itu, muliakanlah orang yang paling mulia di tengah mereka, jenguklah yang sakit, mudahkanlah anggota keluarga yang tengah kesusahan dan jangan sampai keluargamu berbuat buruk kepadamu”

Definisi Rahim dan Silaturrahmi

Maksud Rahim di sini adalah Rahim wanita, tempat tumbuh dan berkembangnya anak. Kata rahim juga digunakan untuk menyebut “kerabat” karena mereka semua keluar dari satu Rahim.

Maka Rahim adalah  hubungan kekerabatan manusia dari ayah dan ibunya.

Cakupan hubungan kekerabatan:

  • Kekerabatan Asal: yaitu ayah, kakek, ibu, nenek sampai ke atas
  • Kekerabatan Cabang: anak lelaki, anak perempuan, dan cucu-cucu mereka sampai ke bawah.
  • Kekerabatan hawasyi: yaitu saudara laki-laki, saudara perempuan, anak-anak saudara laki-laki dan saudara perempuan sampai ke bawah, paman dan bibi dari ayah sampai ke atas, paman dan bibi dari ibu sampai ke atas, dan anak-anak mereka sampai ke bawah.

Yang dimaksud dengan kerabat di sini adalah orang-orang yang memiliki kedekatan pada seseorang dari sisi kekeluargaan atau nasab keturunan baik dari pihak bapak atau ibu, seperti misalnya saudara, paman, bibi, sepupu, dan lainnya yang memiliki hubungan nasab. Dalam Islam, mereka mendapatkan kedudukan yang harus dijaga hak-haknya, sebagaimana Allah berfirman,“Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya.”(al-Isra: 26)

Allah juga berfirman,

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu bapak, karib-kerabat…” (an-Nisa: 36)

Maka Allah memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk beribadah kepada-Nya semata, tidak melakukan kesyirikan dalam ibadah, kemudian Dia memerintahkan mereka untuk menunaikan hak-hak hamba, dengan memperhatikan mana yang paling dekat terlebih dahulu. Maka semakin dekat hubungan kekerabatan seseorang, semakin besar hak yang harus ditunaikan kepadanya.

Makna Silaturrahmi

Imam Nawawi rahimahullah berkata, bahwa shilaturrahmi adalah, “Berbuat baik kepada kerabat sesuai dengan keadaan orang yang berbuat baik dan orang yang menerima perbuatan baik itu. Terkadang shilaturrahmi itu dengan harta, jasa, mengunjungi, ucapan salam dan lainnya”. [Lihat Syarh Nawawi 1/287; Kamus Fiqih 1/145, karya Dr. Sa’di Abu Habib; Maktabah Syamilah].

Imam al-‘Aini rahimahullah berkata, “Silaturrahmi adalah kinâyah (ungkapan lain yang lebih halus-red) dari berbuat baik kepada kerabat dari kalangan orang-orang yang memiliki hubungan nasab (keturunan-red) dan pernikahan, bersikap sopan dan lemah-lembut kepada mereka, serta memperhatikan keadaan mereka. Walaupun mereka jauh dan berbuat buruk. Adapun qath’urrahmi (memutuskan persaudaraan) adalah memutuskan hal-hal yang disebutkan di atas (dengan tanpa alasan syari’at-pen)”. [Syarh Shahîh al-Bukhâri]

Silaturrahmi atau silaturrahim?

Di dalam masyarakat kita, istilah silaturrahim ataupun silaturrahmi masih dipandang sama, entah itu mengunjungi keluarga ataupun mengunjungi teman. Maka sering kali kita mendengar perkataan “silaturrahmi”.

Secara tinjauan bahasa arab, kata “Silaturrahim” ditulis dengan [صِلَةُ الرَّحِمِ] Jika kita beri harakat lengkap, cara membacanya: Silaturrahimi. Jika kita pecah, terdiri dari dua kata: silah, [arab: صِلَة ] yang artinya hubungan dan rahim [arab: الرَّحِم ] artinya rahim, tempat janin sebelum dilahirkan. Sehingga yang dimaksud silaturrahim adalah menjalin hubungan baik dengan kerabat, sanak, atau saudara yang masih memiliki hubungan rahim atau hubungan darah dengan kita.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 

  • الرَّحِمُ مُعَلَّقَةٌ بِالْعَرْشِ تَقُولُ مَنْ وَصَلَنِي وَصَلَهُ اللَّهُ وَمَنْ قَطَعَنِي قَطَعَهُ اللَّهُ

“Ar-rahim itu tergantung di Arsy. Ia berkata: “Barang siapa yang menyambungku, maka Allah akan menyambungnya. Dan barang siapa yang memutusku, maka Allah akan memutus hubungan dengannya.[HR. Mutafaqqun Alaihi]

 

“مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ؛ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Barang siapa menginginkan untuk diluaskan rizkinya serta diundur ajalnya; hendaklah ia bersilaturrahim”.[HR. Bukhari – Muslim]

Maka meninjau dari makna bahasanya, silaturahmi di sini hanya kepada keluarga saja. Keluarga bisa meliputi keluarga inti dan keluarga yang tercakup dan terlibat dalam hal warisan. Adapun ke rumah teman maka bahasa syariatnya adalah “ziyarah”. Hanya saja ini tidak lazim dalam bahasa Indonesia tidak biasa digunakan dan lebih identik dengan kata “ziarah kubur”

 Kerabat yang paling Berhak Dijaga Silaturrahminya

Allah SWT berfirman:

وَوَصَّيۡنَا ٱلۡإِنسَـٰنَ بِوَٲلِدَيۡهِ حَمَلَتۡهُ أُمُّهُ ۥ وَهۡنًا عَلَىٰ وَهۡنٍ۬

وَفِصَـٰلُهُ ۥ فِى عَامَيۡنِ أَنِ ٱشۡڪُرۡ لِى وَلِوَٲلِدَيۡكَ إِلَىَّ

ٱلۡمَصِير

“Dan Kami perintahkan kepada manusia [berbuat baik] kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun [1] Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (QS. Luqman (31): 14)

Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, beliau berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu, lalu orang-orang di bawahmu, di bawahmu’” (HR. Muslim no. 2548)

Menurut Imam Nawawi kerabat yang paling berhak dijaga silaturrahminya tingakatannya adalah :

  1. Orang tua (dengan lebih mengutamakan ibu, kemudian bapak)
  2. Anak-anaknya
  3. Kakek
  4. Nenek
  5. Saudara laki-laki
  6. Saudara perempuan
  7. Mahram dari satu keturunan (seperti para paman dan bibi dari pihak ayah, kemudian dari pihak ibu)
  8. Kerabat paling dekat, dan seterusnya
  9. Saudara sebapak-seibu lebih diutamakan daripada se-ayah atau se-ibu saja
  10. Kemudian saudara yang bukan mahram (seperti sepupu, anak-anak bibi, dll)

Bentuk-bentuk Silaturrahmi

Silaturahmi merupakan ibadah yang agung, mudah dan membawa berkah. Banyak cara yang bisa dilakukan untuk mewujudkan silaturahmi, diantaranya dengan berziarah, bergaul dengan kerabat dengan cara ma’ruf, menutup aib mereka,beramar ma’ruf nahi mungkar, saling bersedekah, saling memberi hadiah, memberi nafkah, berlaku lemah-lembut, bermuka manis (senyum), memuliakannya dan semua yang manusia itu menganggapnya silaturahmi.

Keutamaan Silaturrahmi

Sesungguhnya silaturahmi merupakan amal shalih yang penuh berkah, dan memberikan kepada pelakunya kebaikan di dunia dan akhirat, menjadikannya diberkahi di manapun ia berada, Allah swt memberikan berkah kepadanya di setiap kondisi dan perbuatannya, baik yang segera maupun yang tertunda. Keutamaannya sangat banyak, profitnya melimpah, buahnya matang, pohon-pohonnya baik yang memberikan makanannya di setiap waktu dengan izin Rabb-nya, diantara keutamaan tersebut adalah sebagai berikut :

  1. Jalan untuk masuk surga

“Bahwasanya ada seseorang berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Wahai Rasulullah, beritahukan kepadaku tentang sesuatu yang bisa memasukkan aku ke dalam surga dan menjauhkanku dari neraka,” maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sungguh dia telah diberi taufik,” atau “Sungguh telah diberi hidayah, apa tadi yang engkau katakan?” Lalu orang itupun mengulangi perkataannya. Setelah itu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Engkau beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukannya dengan sesuatu pun, menegakkan shalat, membayar zakat, dan engkau menyambung silaturahmi”. Setelah orang itu pergi, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jika dia melaksanakan apa yang aku perintahkan tadi, pastilah dia masuk surga”. (HR. Bukhari – Muslim)\

  1. Panjang umur dan banyak rezeki
  • مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ أَوْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Barang siapa yang ingin dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi”. [Muttafaqun ‘alaihi].

  1. Tidak akan putus hubungan dengan Allah di dunia dan akhirat

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

  • الرَّحِمُ مُعَلَّقَةٌ بِالْعَرْشِ تَقُولُ مَنْ وَصَلَنِي وَصَلَهُ اللَّهُ وَمَنْ قَطَعَنِي قَطَعَهُ اللَّهُ

“Ar-rahim itu tergantung di Arsy. Ia berkata: “Barang siapa yang menyambungku, maka Allah akan menyambungnya. Dan barang siapa yang memutusku, maka Allah akan memutus hubungan dengannya”. [Muttafaqun ‘alaihi].

  1. Lebih besar pahalanya daripada memerdekakan seorang budak

Dalam Shahîh al-Bukhâri, dari Maimûnah Ummul-Mukminîn, dia berkata: “Wahai Rasulullah, tahukah engkau bahwa aku memerdekakan budakku?” Nabi bertanya, “Apakah engkau telah melaksanakannya?” Ia menjawab, “Ya”. Nabi bersabda, “Seandainya engkau berikan budak itu kepada paman-pamanmu, maka itu akan lebih besar pahalanya”.

  1. Mendapat Pahala dua kali sedekah

Rasulullah SAW bersabda: “Sedekah kepada orang miskin hanya satu sedekah, sedangkan sedekah untuk orang yang masih satu keturunan adalah dua sedekah: sedekah dan mempererat hubungan” (HR. An Nasa’I, Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad, dll)

  1. Diberikan keutamaan dan diangkat kedudukannya

Diriwayatkan dari Darrah binti Abu Lahab ra, dia berkata: “Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling mulia? Beliau menjawab, ‘Yaitu orang yang paling bertaqwa di antara kalian, paling banyak bersilaturrahmi serta paling sering amar ma’ruf nahi munkar” (HR. Ahmad).

 Tingkatan Manusia dalam Silaturrahmi

Al-Qadhi ‘Iyad rahimahullah berkata, “Tidak ada perbedaan pendapat, bahwasanya hukum silaturahmi adalah wajib (secara umum) dan memutus silaturahmi adalah dosa besar”. Namun, menyambung silaturahmi mempunyai beberapa tingkatan yaitu :

  1. Waashil: orang yang menyambungkan silaturrahmi dengan orang yang telah memutuskan tali silaturrahmi dan memberi orang yang tak mau memberinya.
  2. Mukaafi: orang yang memberi kepada orang yang telah memberi kepadanya dan menyambungkan tali silaturrahmi dengan orang yang menyambungkan tali silaturrahmi dengannya.
  3. Qaathi’: orang yang tidak menyambungkan dan tidak tersambungkan tali silaturrahminya, tidak memberi dan tidak juga diberi
  4. Orang yang memutuskan tali silaturrahmi ketika orang lain berusaha menyambungnya.

“Seorang laki-laki bertanya tentang sedekah yang paling utama. Rasulullah SAW menjawab, “Yaitu sedekah kepada keluarga yang memusuhi”. (HR. Ahmad, Al Hakim, dll).

“Seorang waashil bukan tergolong mukaaffi, akan tetapi waashil adalah orang yang jika diputus silaturrahmi dengannya, ia menyambungkannya kembali” (HR. Bukhari).

“Wahai Rasulullah, aku mempunyai kerabat. Aku menyambung hubungan dengan mereka, akan tetapi mereka memutuskanku. Aku berbuat baik kepada mereka, akan tetapi mereka berbuat buruk terhadapku. Aku berlemah lembut kepada mereka, akan tetapi mereka kasar terhadapku,” maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila engkau benar demikian, maka seakan engkau menyuapi mereka pasir panas, dan Allah akan senantiasa tetap menjadi penolongmu selama engkau berbuat demikan.” [Muttafaq ‘alaihi].

Ancaman bagi Pemutus  Silaturrahmi

  1. Dilaknat dan dijauhkan dari rahmat Allah SWT

وٱتَّقُواْ ٱللَّهَ ٱلَّذِى تَسَآءَلُونَ بِهِۦ وَٱلۡأَرۡحَامَ‌ۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَيۡكُمۡ رَقِيبً۬ا.

“Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan [mempergunakan] nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain,dan [peliharalah] hubungan silaturahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu”. (QS. An-Nisa’4 :1).

هَلۡ عَسَيۡتُمۡ إِن تَوَلَّيۡتُمۡ أَن تُفۡسِدُواْ فِى ٱلۡأَرۡضِ وَتُقَطِّعُوٓاْ

أَرۡحَامَكُمۡ (٢٢) أُوْلَـٰٓٮِٕكَٱلَّذِينَلَعَنَهُمُٱللَّهُفَأَصَمَّهُمۡ وَأَعۡمَى

َبۡصَـٰرَهُمۡ (٢٣)

“Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan? (22) Mereka itulah orang-orang yang dila’nati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka”. (23) (QS. Muhammad (47) : 22-23). Begitu pula firman Allah Ta’ala:

“Orang-orang yang merusak janji Allah setelah diikrarkan dengan teguh dan memutuskan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan dan mengadakan kerusakan di bumi, orang-orang itulah yang memperoleh kutukan dan bagi mereka tempat kediaman yang buruk (Jahannam)”. [Ar-Ra’d 13:25].

 

  1. Diharamkan Masuk Surga. “Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan silaturrahmi” (HR. Bukhari dan Muslim).
  1. Sanksi bagi orang tersebutakan dipercepat di dunia. “Tidak ada dosa yang lebih pantas untuk didahulukan balasannya di dunia disamping balasan yang telah menunggunya di akhirat, selain berbuat zalim dan memutuskan tali silaturrahmi.” ( Abu Dawud, Tirmidzi, Ahmad, Baihaqi, dll).
  1. Baginya pintu-pintu langit tertutup dan tak mau mendengarkan atau mengabulkan doanya.“Semua amal anak adam akan diperlihatkan kepada Allah SWT pada tiap kamis petang malam jumat, maka amal orang yang memutuskan silaturrahmi tidak akan diterima”. ( Bukhari , Ahmad)

Khatimah

Tali kekerabatan harus selalu rapat dan erat. Beragam gejala yang berpotensi merenggangkannya mesti diantisipasi dengan cepat, supaya keharmonisan hubungan tetap terjaga, kuat lagi hangat. Semua anggota kerabat akan menikmati rahmat dari-Nya lantaran menjunjung tinggi tali silaturahmi yang sangat ditekankan oleh syariat. Sebaliknya, ketidakpedulian terhadap hubungan kekerabatan akan dapat menimbulkan dampak negatif. Alasannya, tali silaturahmi lambat laun akan mengalami perenggangan. Pemutusan tali silaturahmi berdampak mengikis solidaritas, mengundang laknat, menghambat curahan rahmat dan menumbuhkan suburnya egoisme. Sering terdengar di masyarakat pelbagai kasus putusnya tali silaturrahim. Ancaman Islam sangat tegas terhadap pemutusan silahturrahim ini. Seperti sabda Rasulullah saw.  “Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan silaturrahim.” (HR. Bukhari 5984 dan Muslim 2556).

Semoga Artikel ini bermanfaat untuk Sahabat Rumah Kurma Sahara.
Silahkan berbelanja kurma di Rumah Kurma Sahara, Butuh perlengkapan haji? Ingat Toko Rumah Kurma Sahara!
Jalan Raya Semplak Atang Sandjaja No. 224
Bogor Barat – Kota Bogor
Customer Care : 0821-1141-8832 | 0878-7386-0559
Delivery : 0859-2512-6067
WA | PIN BB : 0878-7386-0559 | DA7A086

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *