Hiasi Hidup dengan Tawadhu’

Islam kaffah adalah merupakan agama yang unik yang berbeda dengan agama-agama yang lain, aturan-aturan islam itu menyeluruh, yang mengatur seluruh aspek kehidupan, baik masalah ibadah maupun pengaturan kehidupan kita.

Dalam Islam ada terkandung masalah ibadah dan syariah. Dalam masalah syariah ada yang berkaitan dengan habluminallah (hubungan dengan Al-Khaliq), habluminannas(hubungan dengan manusia lain, terkait dengan politik, pemerintahan, pendidikan, social, ekonomi, hukum), dan hablumbinafsi (hubungan yang berkaitan dengan diri sendiri). Hubungan manusia dengan dirinya sendiri itu terkait dengan masalah makanan, minuman, pakaian dan akhlak.

Definisi Akhlaq

Rasulullah saw bersabda:
«إِنَّمَا بُعِثْتُ ِلأُتَمِّمَ صَالِحَ اْلأَخْلاَقِ»
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak”. (HR Ahmad).

Dari penjelasan hadist di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa akhlak adalah karakter ciptaan (fabricated), bukan karakter bawaan (khîm). Akhlak seorang muslim berbeda dengan akhlak non-muslim. Akhlak seorang muslim dibentuk berdasarkan Al-Quran (akidah dan syariat-Nya). Sebaliknya, akhlak non-muslim dibentuk berdasarkan prinsip-prinsip non- Islam. Untuk itu, meskipun sama-sama jujur, kita tidak bisa menyatakan bahwa seorang kapitalis dan seorang muslim sama-sama memiliki akhlak yang baik. Sebab, proses pembentukkan karakter dirinya tidaklah sama. Kejujuran seorang muslim hanya semata-mata melakukan perintah dari Allah SWT, dimana selalu didasarkan pada akidah dan syariat Islam. Dengan kata lain, kejujurannya adalah buah dari pelaksanaan ajaran-ajaran Islam, tidak dibentuk semata-mata karena jujur itu adalah nilai-nilai universal atau karena bermanfaat.

Berbeda dengan kapitalis maupun sosialis. Kejujurannya tidak didasarkan pada prinsip-prinsip Islam, tetapi hanya didasarkan pada prinsip manfaat dan kemanusiaan belaka. Kejujurannya sama sekali tidak dibangun di atas prinsip ketakwaan kepada Allah SWT. Walhasil, akhlak seorang muslim berbeda dengan akhlak orang kafir, meskipun penampakannya sama.

Akhlak seorang muslim merupakan refleksi dari pelaksanaan dirinya terhadap hukum-hukum syariat. Seseorang tidak disebut berakhlak Islam ketika nilai-nilai akhlak tersebut dilekatkan pada perbuatan-perbuatan yang diharamkan Allah SWT.

Misalnya, pegawai bank yang senantiasa terlibat dalam transaksi ribawi tidak disebut berakhlak Islam meskipun ia terkenal jujur, disiplin, dan sopan. Sebab, ia telah melekatkan sifat-sifat akhlak pada perbuatan yang diharamkan Allah SWT. Anggota parlemen yang suka membuat aturan-aturan kufur juga tidak bisa disebut memiliki akhlak Islam meskipun ia terkenal jujur, amanah, dan seterusnya. Sebab, nilai-nilai akhlaknya telah melekat pada perbuatan haram.

Walhasil, akhlak seorang Muslim harus dibentuk berdasarkan Al-Quranul Al-Karim. Dengan kata lain, akhlak seorang muslim adalah refleksi dari pelaksanaan hukum-hukum Allah SWT.

Tawadhu’ sebuah Akhlak yang Mulia

Tawadhu’ adalah sifat yang amat mulia. Setiap muslim seharusnya menghiasi dirinya dengan sikap tawadhu’, namun sedikit orang yang memilikinya. Seharusnya seperti ilmu padi, yaitu “kian berisi, kian merunduk”.Diibaratkan orang yang tawadhu’ adalah ia tumbuh hening ditengah ladang, sebelum berbuah ia berdiri tegap, setelah berbuah ia menunduk kebawah, begitu meninggi ia merendah. Seseorang yang tidak menghiasi dirinya dengan sikap tawadhu’, maka bisa dipastikan akan terjerumus ke dalam sifat sombong atau takabur yang mengakibatkan dirinya terancam masuk neraka. Sebagaimana sabda Rasulullah saw. bahwa, “Tidak akan masuk surga seseorang yang didalam dirinya ada kesombongan walau seberat biji zarah”.

Definisi Tawadhu’

Tawadhu’ (التّواضع) secara bahasa adalah التّذلّل “Ketundukan” dan التّخاشع “Rendah Hati”. Asal katanya adalah Tawadha’atil Ardhu’ yakni Tanah itu lebih rendah daripada tanah sekelilingnya.

Tawadhu’ secara istilah adalah tunduk dan patuh kepada otoritas kebenaran, serta kesediaan menerima kebenaran itu dari siapa pun yang mengatakan nya, baik dalam keadaan ridha maupun marah.

Tawadhu’ juga merendahkan diri dan santun terhadap manusia, dan tidak melihat diri memiliki nilai lebih dibandingkan hamba Allah SWT (manusia) yang lain nya. Ketika melihat dirinya sendiri dan melihat orang lain, jangan pernah menilai bahwa dirinya itu lebih dari orang lain, tetapi melihat orang lain sebagaimana juga sama dengan dirinya.

Macam-Macam Tawadhu’

Tawadhu’ terdiri dari dua macam:

Pertama: Tawadhu’ yang terpuji. Tawadhu’ yang terpuji adalah sikap merendahkan diri kepada Allah SWT dan tidak berbuat semena-mena atau memandang remeh terhadap sesama.

Kedua: Tawadhu’ yang tercela. Tawadhu’ yang tercela adalah sikap merendahkan diri dihadapan orang kaya dengan harapan mendapatkan sesuatu darinya.

Orang yang berakal seharusnya menghindari sikap tawadhu’ yang tercela dan menerapkan tawadhu’ yang terpuji dalam setiap aspek kehidupan nya.

Syarat-Syarat Tawadhu’

Syarat tawadhu’ ada dua:

Pertama: Selalu Ikhlas karena Allah Subhanahu wa ta’ala
Hal ini berdasarkan sabda Nabi Shallallahu’alaihi wa Sallam:
وما تواضع أحد لله إلّا رفعه الله عزّوجلّ
“Tidaklah seorang bertawadhu’ yang ditunjukkan semata-mata karena Allah, melainkan Allah Azza wa Jalla akan mengangkat (derajat)nya.” (diriwayatkan oleh Imam Muslim didalam Shahih nya no 2588)

Kedua: Mempunyai Kemampuan
Hal ini berdasarkan sabda Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam:
من ترك اللّباس تواضعا لله وهو يقدر عليه , دعاه الله يوم القيامة على رءس الخلائق , حتّى يخيّر من أيّ حلل الإيمان شاء يلبسها
“Barangsiapa yang menanggalkan pakaian mewah karena tawadhu’ kepada Allah, padahal ia dapat (mampu) membelinya, Allah akan memanggilnya pada hari kiamat dihadap sekalian manusia, kemudian menyuruhnya memilih sendiri pakaian iman mana pun yang ia kehendaki untuk dikenakan.“(HR,at-Tirmidzi, Imam Ahmad dan Imam al-Hakim)

Implikasi-Implikasi Tawadhu’

a. Tawadhu’ kepada Allah Azza wa Jalla
Tawadhu’ ini terdiri atas dua macam yaitu:
• Tawadhu’ seorang hamba kepada Allah ketika melaksanakan ketaatan kepada-Nya tanpa disertai perasaan bangga diri dan riya’.

• Seorang merendahkan diri kepada Allah tatkala mengingat dosa-dosa yang telah ia perbuat sehingga ia merasa bahwa dirinya adalah orang yang paling sedikit ketaatan nya (amalanya) dan paling banyak dosanya (dimana hal ini akan mendorongnya untuk bertaubat).

b. Tawadhu’ dalam Berpakaian dan Penampilan
Rasulullah saw. Bersabda, “Barangsiapa yang meninggalkan pakaian mewah karena tawadhu kepada Allah, padahal ia mampu membelinya, Allah akan memanggilnya pada hari kiamat dihadapan sekaliyan manusia, kemudian menyuruhnya memilihnya sendiri pakaian iman yang mana yang ia kehendaki untuk mengenakannya”.(At-Tirmidzi)

c. Tawadhu’ Ahli Ilmu (Ulama) dan Penuntut Ilmu
Selayaknya bagi seorang ulama tidak perlu mengaku-ngaku dirinya sebagai orang yang berilmu dan tidak perlu membanggakan diri atas apa yang dimilikinya, kecuali dalam keadaan yang terpaksa atau darurat karena dia membicarakan nya sebagai bentuk syukur atas nikmat yang diberikan Allah kepada nya. Bukan untuk membanggaan diri dihadapan manusia.

Selayaknya bagi para penuntut ilmu untuk senantiasa tawadhu’, karena orang tawadhu’ diantara mereka adalah orang yang lebih banyak ilmunya. Perumpamaan- nya seperti tempat yang lebih rendah, ia lebih ia lebih banyak genangan airnya dan lebih banyak manfaatnya.

Sifat penuntut ilmu sebagaimana menurut Imam Syafi’i, “Setiap bertambah ilmuku maka semakin bertambah tahu aku akan kebodohanku”.

Dalam hadist lain diterangkan bahwa, “Barangsiapa menuntut ilmu untuk mendebat orang bodoh atau berbangga didepan ulama atau mencari perhatian manusia, maka dia di Neraka”. (HR. Tirmidzi).

Tingkatan-Tingkatan Tawadhu’

a. Tawadhu’ dalam Agama
Tawadhu’ dalam agama yaitu tunduk kepada agama yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam dan patuh terhadap nya. Ketaatan kita kepada Al-Quran dan As-Sunnah maka itu adalah merupakan tawadhu’ kita kepada Allah SWT.

b. Tawadhu’ kepada sesama Makhluk
Tawadhu’ kepada sesama Makhluk terdapat tiga makna:
• Ridha untuk menjadikan seseorang dari kaum Muslimin sebagai saudaramu, karena Allah telah ridha kepadanya untuk menjadi hamba-Nya. Ketika orang itu baik, maka kita harus ridha orang tersebut menjadi saudara atau teman kita.

• Tidak menolak kebenaran, walaupun kebenaran itu datang dari musuh mu.

• Menerima maaf dari orang yang meminta maaf. Sebagai sesama hamba Allah harus bisa menerima maaf dari orang lain.

Keutamaan-Keutamaan Tawadhu’

a. Tawadhu’ dapat mengangkat derajat seorang hamba.
Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallambersabda:
“Tidaklah berkurang harta karena sedekah, tidaklah Allah menambah kepada seseorang hamba sifat pemaaf, kecuali dia akan mendapatkan kemuliaan, serta tidaklah seorang menerapkan sifat tawadhu’ karena Allah kecuali Allah pasti mengangkat derajatnya.” (Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih nya XVI/141, Imam Ad-Darimi dalam Sunan nya 1/369, Imam Ahmad dalam Musnad 2/386 dan selain nya).

b. Tawadhu’ dapat mengangkat derajat dan pangkat seorang hamba
Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda :
“Tidaklah dari setiap keturunan Adam, melainkan dikepalanya terdapat hakamah ditangan seorang Malaikat. Apabila ia tawadhu’, dikatakan kepada Malaikat tersebut : “Angkatlah hakamahnya”, sedangkan apabila ia sombong, dikatakan kepada Malaikat tersebut : “Letakkan hakamahnya.”(Silsilatul Ahadits Ash-Shahihah no 538)

Hakamah adalah besi kekang yang berada dihidung kuda, tali kekang tersebut dapat mencegah kuda dari melawan perintah penunggangnya.

c. Tawadhu’ itu menghasilkan keselamatan, mendatangkan persahabatan, menghapuskan dendam, dan menghilangkan pertentangan.
Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:
“Sesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku agar kalian bertawadhu’, sehingga seseorang tidak merasa bangga lagi sombong terhadap orang lain dan tidak pula berlaku aniaya kepada orang lain.”(Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih nya).

Tanda-Tanda Manusia Tawadhu’

a. Tunduk dan patuh kepada Kebenaran. Dengan menerima sepenuh hati kebenaran dan tidak ada keinginan didalam dirinya untuk menentang kebenaran tersebut.

b. Menghormati orang lain dan menghargai kedudukannya.
Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:“Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.”(Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya)

c. Sederhana dalam berjalan yakni berjalan dengan ringan, tenang, tidak memberatkan diri didalam langkahnya, tidak dibuat-buat dan tidak terkandung didalam nya kesombongan, tidak pula memalingkan pipi, tidak juga terlalu lepas kendali. Bukan berjalan seperti orang yang tidak berdaya, lemah langkahnya dan menundukkan kepala.

d. Rendah hati dan lemah lembut kepada sesama

Hal-Hal yang Dapat Memotivasi Timbulnya Sifat Tawadhu’

a. Bertafakur terhadap asal penciptaan manusia.
Dengan mengetahui asal muasal penciptaan diri nya, yang hina dan rendah, kemudian AllahSWT memberikan kehidupan, membaguskan bentuknya, dan memberikan nafkah kepadanya.Maka bagaimana mungkin dia bisa menyombongkan diri lagi tinggi hati?Sebagaimana diterangkan dalam firman Allah SWT ,
لَقَدْ خَلَقْنَا الإنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ ٤
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”.(QS.AT-TIN ayat 4).

Dari Ibnu Hibban rahimahullah berkata dalam kitab Raudhatun ‘Uqalaa’ wa Nuzhatul Fudhalaa’ hal 61 :“Bagaimana tidak harus tawadhu’, sedangkan dia tercipta dari nutfah yang memancar dan akhirnya kembali menjadi bangkai yang busuk, sementara semasa hidupnya ia senantiasa membawa kotoran.”

b. Mengetahui terbatasnya kemampuan nya.
Allah Subhanahu wa ta’alaberfirman:
وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ الْأَرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولًا
“Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan kesombongan karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.” (QS. Al-Isra’ ayat 37)

Contoh Tawadhu’ nya Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam
a. Larangan memuji beliau berlebih-lebihan.
Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam memujiku sebagaimana orang-orang Nashrani memuji Isa bin Maryam. Sesungguhnya aku hanya hamba-Nya maka katakanlah (bahwa aku) hamba Allah dan Rasul-Nya.”(Diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam Shahih nya IV/478)

b. Membantu Pekerjaan
Dari Al-Aswad bin Yazid, dia berkata : “Aku pernah bertanya kepada Aisyah : “Apakah yang biasa dilakukan Rasulullah Shallallahu’alaihi wa salalm dirumahnya? Aisyah menjawab : “Beliau biasa membantu keluarga, apabila mendengar suara adzan, beliau segera keluar (untuk menunaikan) shalat.(Diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam Shahih nya)

Gaya hidup Hedonisme
Pola hidup hedonisme sangat erat dengan gaya hidup mewah, boros dan selalu memakai barang-barang bermerk luar negeri, terkesan jauh dari kata sederhana dan hemat.Perilaku hidup hedonisme bersifat negative karena akan mempengaruhi pandangan dan gaya hidup seseorang, yang menjadikan kesenangan dan kenikmatan, kepuasan materi sebagai tujuan utama dalam hidupnya, yang semuanya bersifat duniawi, dan semua itu bisa menjauhkan diri dari sikap tawadhu.

Definisi pengertian hedonisme semula berasal dari bahasa Yunani “hedone” yang berarti “kepuasan”. Dalam Oxford Advanced Learner’s Dictionary,“Hedonism” diartikan sebagai “the belief that pleasure should be the main aim in life. “
Hedonisme adalah sebuah kepercayaan bahwa kesenangan harus merupakan tujuan utama dalam hidup. Sedangkan dalam bahasa Arab “hedonisme” disebut dengan istilah “Madzhab Al Mut’ah” atau “Madzhab Al Ladzzdzah”. Dalam kamus Al-Munawwir disebutkan sebagai berikut: “Hedonisme adalah sebuah aliran yang mengatakan bahwa sesungguhnya kelezatan dan kebahagiaan adalah tujuan utama dalam hidup.” Kemudian dalam Ensiklopedia Bahasa Indonesia disebutkan bahwa hedonisme adalah paham yang berpendapat bahwa kepuasan merupakan satu-satunya alasan dalam tindak susila.

Di dalam Al-Qur’an, kalimat yang semakna dengan hedonisme adalah sebagaimana diterangkan dalam sAt Takatsur,
أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ. حَتَّىٰ زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ. كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ. ثُمَّ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ. كَلَّا لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ الْيَقِينِ. لَتَرَوُنَّ الْجَحِيمَ. ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِينِ. ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ (QS.At Takatsur)
Artinya: “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubu, Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim, dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan `ainul yaqin, kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu”. (QS.At– Takatsur ayat 1-8)

Dalam terjemahan versi Depag RI diterjemahkan sebagai “bermegah-megahan” dengan membubuhkan catatan kaki, “bermegah-megahan dalam perihal anak, harta, pengikut, kemuliaan dan seumpamanya”.

Hedonisme adalah pandangan yang menjadikan kesenangan dan kenikmatan materi sebagai tujuan utama dalam hidup. Karena tujuannya adalah kepuasan dan kesenangan hidup di dunia, semuanya kemudian diukur dengan kebendaan berupa harta, uang dan semua yang tampak dari luarnya saja. Orang yang senang itu menurut mereka adalah yang harta bendanya banyak dan orang yang bahagia itu adalah orang yang senang.

Akhirnya cara berfikirnya bagaimana agar punya harta yang banyak lalu hidup jadi senang dan bahagia. Tidak peduli dengan tujuan-tujuan yang mulia. Yang penting puas, yang penting senang, tidak peduli dengan yang lain. Sedangkan orang atau individu yang menganut pandangan ini disebut sebagai hedonis atau hedon.

Gaya hidup seperti ini dipandang bebas dan berani. Celakanya, ini menjadi daya tarik tersendiri bagi khususnya remaja. Bebas dan berani, dianggap cool.
Ketika orang menjadi hedon akan ada nilai-nilai luhur kemanusiaan yang luntur dan hilang. Misalnya, orang seperti ini kepekaan sosialnya akan luntur karena ketika berinteraksi secara sosial yang diperhitungkan adalah untung ruginya.

Mereka akan menjadi sangat tidak peduli. Akibatnya ketika ada orang yang membutuhkan uluran tangan, mereka enggan menolong karena tidak mau rugi. Mereka juga akan jauh dari sifat tawadhu’ yang sangat dianjurkan untuk dimiliki oleh setiap orang Islam.

Gejala Hedonisme

Rasa gengsi tinggi yang diperoleh dari menonjolkan merek-merek terkenal dan mahal atau symbol-simbol kemewahan lainnya adalah merupakan gejala umum sekarang ini.

Dengan apa hedonism menyerang?
Hedonisme lebih cenderung menyerang kaum wanita, baik ibu rumah tangga atau kalangan remaja melalui Fun fashion, Life style, Media, Worldview, baik secara Visualatau Verbal.

Hedonisme dalam Pandangan Islam

Sebagai Dien yang sempurna, Islam mengatur bagaimana mengembangkan harta, sekaligus juga mengatur bagaimana cara membelanjakannya. Islam telah menetapkan metode pembelanjaan harta sekaligus menentukan bagaimana tata caranya. Sistem Islam sangat berbeda dengan sistem kapitalisme-sekulerisme yang diterapkan saat ini, yang mengagungkan kebebasan pemilikan dan berperilaku, menjadikan manfaat sebagai asasnya. Dalam sistem kapitalisme, orang yang punya harta maka harta itu bebas untuk dikelola sendiri, bebas untuk digunakan dalam hal apa saja tanpa ada batasan-batasan. Sementara didalam Islam, seorang pemilik harta tidak dibiarkan bebas mengelola dan membelanjakan harta, sekalipun harta itu secara hukum, sah merupakan miliknya. Akan tetapi Islam mengaturnya dengan rinci.Tetapi oleh karena seseorang yang tidak memahami mana kebutuhan, mana keinginan akhirnya banyak orang yang melakukan hal-hal yang diharamkan oleh Allah SWT.

Islam telah melarang seseorang bertindak israf atau tabzir ketika membelanjakan harta, sekaligus melarang seseorang bersikap kikir. Sebagaimana Allah berfirman dalam QS. Al-Furqan [25]:67:
وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَٰلِكَ قَوَامًا
“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian”.(QS. Al-Furqan [25]:67)

يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ
“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan”.

Israf dalam pengertian syara’ bermakna mengeluarkan harta dalam perkara yang haram atau kemaksiatan atau bukan di jalan yang haq, sekalipun yang dikeluarkan jumlahnya hanya sedikit. Sedangkan kikir (taqtir) terhadap diri sendiri bermakna menahan diri dari kenikmatan yang dibolehkan syari’ah (Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani dalam kitabnya An-Nidzham al-Iqtishadi fil Islaam).

Keduanya merupakan perkara yang dicela oleh Allah SWT. Selain israf dan kikir (taqtir), Islam juga melarang kaum muslimin untuk berfoya-foya atau menghambur-hamburkan harta. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Waqi’ah [56]: 41-45:
وَأَصْحَٰبُٱلشِّمَالِمَآأَصْحَٰبُٱلشِّمَالِ. فِىسَمُومٍوَحَمِيمٍ. وَظِلٍّمِّنيَحْمُومٍ. لَّابَارِدٍوَلَاكَرِيمٍ . إِنَّهُمْكَانُوا۟قَبْلَ ‏ذَٰلِكَمُتْرَفِينَ
“Golongan kiri, siapakah golongan kiri itu? Dalam (siksaan) angin yang amat panas. Dan air panas yang mendidih dalam naungan asap hitam.Tidak sejuk dan tidak menyenangkan.Sesungguhnya mereka sebelum itu hidup berfoya-foya atau bermewah-mewah.”(QS. Al_Waqi’ah [56]: 41-45).

إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا
“…dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.
Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya”.(QS.al-Isra (17): 26-27)

Selain itu Islam juga tidak menganjurkan kita untuk menyia-nyiakan harta (idha’atul maal), yaitu menafkahkan harta pada barang-barang yang sesungguhnya tidak kita butuhkan, sehingga akhirnya barang tersebut tidak terpakai bahkan akhirnya terbuang. Rasulullah SAW bersabda: “… dimakruhkan atas kamu banyak bicara dan bertanya (tentang hal-hal yang sifatnya khayalan) serta menyia-nyiakan harta.”

Dari penjelasan makna tentang israf, maka dapat kita simpulkan, jika mereka membelanjakan hartanya untuk hal-hal yang mubah atau untuk ketaatan dengan menjaga niat karena Allah, maka perilaku seperti ini tidak terkatagori israf atau tabzir. Akan tetapi, jika mereka membelanjakan hartanya untuk membeli minuman keras atau membeli pakaian yang diharamkan dipakai di tempat umum karena membuka aurat atau untuk berinfaq karena ingin dipuji misalnya maka itu termasuk perilaku israf atau tabzir yang diharamkan, tanpa melihat besar kecilnya jumlah harta yang dibelanjakan.

Akan tetapi tentu saja kita harus berhati-hati dari tindakan foya-foya, yaitu membelanjakan harta demi kesombongan atau berbangga diri. Jadi, bukan semata-mata membelanjakan harta untuk menikmati kekayaan. Karena pada dasarnya, Islam tidak melarang kita untuk menikmati dan merasakan nikmatnya rezeki yang telah Allah anugerahkan. Allah SWT berfirman, “Qul man harrama ziinatallaahil latii akhraja li ‘ibaadihii wath-thayyibaati minar-rizq”. “Katakanlah siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah Dia keluarkan untuk hamba-hambaNya, juga rezeki-Nya yang baik-baik?”

Imam At-Tirmidzi juga meriwayatkan hadits dari Abdullah bin Amr ra. yang mengatakan, bahwa Nabi Saw pernah bersabda:”Sesungguhnya Allah suka untuk melihat tanda-tanda kenikmatan-Nya pada hamba-Nya.” Bahwa Allah suka jika hamba-Nya menikmati nikmat dari Allah sekaligus merasakan rezeki-Nya yang baik-baik, yang telah Allah anugerahkan kepadanya oleh Sang Pencipta alam semesta ini. Akan tetapi Allah membenci banyaknya kenikmatan yang mengakibatkan lahirnya sikap arogan, sombong dan membangkang yaitu ketika terjadi tindakan tarfu atau berfoya-foya.

Khotimah

Gaya hidup Hedonisme saat ini tengah mengancam kehidupan umat, dan menjebaknya pada aktivitas mengejar kesenangan jasadi semata yang akan mendorong seseorang pada perbuatan yang menyalahi hukum-hukum syara’ jauh dari sifat tawadhu’ bahkan lebih jauh, akan membuat umat Islam berpaling dari tujuan hidup sebenarnya yakni menjaga Islam dan memperjuangkan kemuliaannya.

Tawadhu’ akan terjauhkan dari kehidupan umat selama sistem kapitalisme dan paham sekularisme yang melandasinya masih mendominasi kehidupan umat Islam. Karena itu, saatnya kaum muslimin mencampakkan sistem yang rusak dan merusak ini, kemudian dengan menggantinya dengan sistem kehidupan Islam yang menjamin kemuliaan hakiki.“Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.(QS Al-Furqan, 25: 63)

Semoga Artikel ini bermanfaat untuk Sahabat Rumah Kurma Sahara.
Silahkan berbelanja kurma di Rumah Kurma Sahara, Butuh perlengkapan haji? Ingat Toko Rumah Kurma Sahara!
Jalan Raya Semplak Atang Sandjaja No. 224
Bogor Barat – Kota Bogor
Customer Care : 0821-1141-8832 | 0878-7386-0559
Delivery : 0859-2512-6067
WA | PIN BB : 0878-7386-0559 | DA7A086

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *