Dari Ikhlas Tanpa Balas ke Ikhlas Tanpa Batas

Mengenal kata ikhlas sering diucapkan dalam keseharian hidup kita. Seolah-olah kata ikhlas memang gampang dan ringan sekali diucapkan namun sangatlah berat untuk dipraktekan. Walaupun berat, ikhlas haruslah hadir didalam setiap perbuatan amalan manusia sehingga seseorang wajib memperjuangkan keikhlasan tersebut secara benar sesuai dengan tuntunan syariat Islam serta semata-mata hanya mengharapkan ridho Allah SWT.

Sebuah amalan tidak akan berguna disisi Allah SWT tanpa disertai keikhlasan, sedangkan ikhlas adalah rahasia antara Allah dan hamba-NYA. Disaat ikhlas telah tertanam didalam jiwa kita maka kedekatan seorang hamba pun bisa diukur pada ketulusannya tidak hanya didalam melakukan ibadah, menjalani kehidupan, dan menempuh kematian tetapi juga dapat dilihat dari penerimaan seorang hamba terhadap apa-apa yang telah ditetapkan Allah SWT.

Pembahasan kali ini akan mengulas sebuah buku yaitu “ Ikhlas Tanpa Batas” dari 10 ulama psikolog klasik diantaranya (Syekh al-Muhsib, Imam al-Ghazl, Syekh Abd al-Qdir al-Jayln, hingga Syekh Ibn Taymiyah dan Ibn Athillh,.). Buku ini menjelaskan bahwa ilmu ikhlas merupakan ilmu rahasia (ikhsanul amal) yang menjadi kunci meraih kebahagian yang hakiki serta mengajarkan bagaimana menjalani hidup secara tulus dan wajar.

Ilmu ikhlas adalah ilmu yang lain dari yang lain. Hal ini karena orang yang merasa mendapatkannya boleh jadi telah kehilangannya pada saat yang sama. Orang yang mengklaim menguasainya dengan mahir, berarti dia tak bisa menguasainya. Dan orang yang mengaku-aku bisa mengajarkannya adalah orang yang masih perlu belajar lagi tentangnya. Itulah mengapa tak habis-habis orang membahas mengenai ilmu ikhlas.

Sehingga sebuah pembelajaran sangatlah diperlukan untuk memahami hakikat ilmu ikhlas dan kearifan tentang keikhlasan dari para 10 ulama psikolog klasik. Yang pada akhirnya akan terciptalah sebuah sikap dan pemikiran dari ikhlas tanpa balas ke ikhlas tanpa batas. Maksudnya adalah dengan melalui buku ini diharapkan mampu meraih keikhlasan dan memaksimalkan keikhlasan sebelum selama dan sesudah melakukan aktifitas terhadap hal- hal yang diperbolehkan bukan hal-hal yang dilarang/maksiat terhadap aturan islam. Selain itu sebagai moment untuk bermuhasabah diri apakah amalan-amalan kita mendapat keridhoan Allah SWT atau tidak tentang apa-apa yang telah dilakukan selama kita hidup.

Meraih keikhlasan dan memaksimalkan keikhlasan adalah salah satu dari tujuan dalam memahami buku ini. Hal ini karena ikhlas adalah inti dari sebuah amal dan penentu diterima-tidaknya sesuatu amal di sisi Allah yang Maha Mengetahui.” Amal tanpa Ikhlas bagaikan kepala tanpa isi, raga tanpa nyawa, pohon tanpa buah, awan tanpa hujan, anak tanpa garis keturunan, dan benih yang tidak tumbuh.” (Syekh Abi Thalib al-Makki). Sehingga kalau kita beramal tanpa disertai keikhlasan seperti mayit sebagaimana mayit tidak ada nyawanya atau bangkai atau bahkan seperti debu yang berterbangan sehingga sia-sia tanpa pahala dikarenakan tidak disertai keikhlasan karena Allah Azza wa Jalla. Sebagaimana firman Allah SWT :

وَقَدِمْنَا إِلَىٰ مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا

Artinya: Dan kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan,lalu kami jadikan amal itu bagaikan debu yang berterbangan (Qs: Al- Furqan:23)

Selanjutnya memaksimalkan keikhlasan ini penting karena nilai sebuah amal tergantung kepada seberapa tulus niat kita. Perbuatan yang dimaksud tentunya adalah yang termasuk ketaatan atau perkara yang diperbolehkan menurut standart hukum Islam, bukan hal-hal yang dilarang atau perbuatan maksiat karena perbuatan maksiat walaupun baik akan tertolak. Sedangkan tulusnya niat dapat diukur dari tahapan sebelum, selama dan sesudah kita berbuat sehingga kita memaksa diri untuk bisa tulus dalam meraih setiap tahapan bukan hanya disalah satu tahapan saja.

Memasuki tahapan pertama yaitu tulus sebelum berbuat berarti kita melakukan perbuatan atau aktifitas demi Allah semata bukan karena semata-mata ingin mendapatkan pujian, penghargaan, balasan dari orang baik itu harta, jabatan maupun popularitas. Tulus sebelum berbuat berarti berkehendak melakukan suatu perbuatan bukan karena dorongan emosi negatif dari dalam diri, atau karena ingin bereaksi atas situasi. Maksudnya adalah melakukan sesuatu itu karena adanya emosi negative atau terpaksa tanpa adanya kesadaran dari dalam diri dan tidak ada nya koneksi antara diri dengan Allah SWT. Adapun contohnya menghadiri majlis ta’lim dengan terpaksa karena suruhan dari suami tetapi hati tidak menginginkan. Dari contoh sikap ini bukanlah sikap yang tulus sebelum berbuat karena adanya paksaan yang mendorong untuk melakukan sesuatu tanpa disertai keikhlasan.

Tahapan selanjutnya yaitu tulus selama berbuat berarti kita membaguskan perbuatan kita hanya karena keteringatan kita pada Allah, bukan karena keteringatan pada manusia, karena selalu diawasi oleh Allah. Ini berarti juga tidak berbuat dengan malas-malasan (saat sendiri atau saat diawasi oleh orang), dan tidak mudah putus asa atau panik saat bertemu kesulitan atau kendala. Atau dengan kata lain berbuat tanpa membayangkan bagaimana kita akan dinilai, dipuji, atau dihormati ketika nanti menyudahi perbuatan tersebut, ataupun sebaliknya resah membayangkan anggapan orang-orang yang nantinya meremehkannya.

Tulus setelah berbuat merupakan tahapan terakhir dalam mengukur tulusnya niat melakukan aktifitas atau amalan perbuatan. Tulus setelah berbuat berarti tetap mengingat Allah saat disanjung ataupun dicela, tidak menjadi sombong saat dipuji dan tidak kesal saat dimaki. Kita menisbahkan kemampuan berbuat kepada Allah, dan bukan pada kemampuan kita sendiri. Menyerahkan hasil perbuatan kita kepada Allah dan tidak memandang bahwa hasilnya harus seperti harapan atau kemauan kita. Berarti tidak mengharapkan balasan, pujian, mengungkit perbuatan yang telah lalu, tidak pamer atau sombong, tidak membanggakannya dalam hati dan tidak tersinggung jika tidak disebut-sebut orang. Ketiga tahapan ini tulus sebelum berbuat, tulus saat melakukan dan tulus setelah berbuat itulah iklhas yang tanpa balas karena semata mata hanya mengharap ridho Allah SWT.

Tetapi didalam buku ini mengantarkan kita kepada ikhlas yang lebih mendalam lagi yaitu ikhlas yang tanpa batas. Yakni ikhlas dalam segala hal dan dalam segala perbuatan, suatu ikhlas yang menjadi ekspresi Tauhid, yakni ikhlas sebagai pemurnian hati dari segala syirik, baik dari syirik besar hingga syirik yang sekecil-kecilnya, dari syirik yang nyata hingga syirik yang samar-samar. Buku ini pula menjelaskan bahwa orang yang tulus hanyalah bergantung kepadaNya, tidak menjadikan amalnya sebagai sandaran spiritualnya bukan karena sholatnya bukan karena dzikirnya. Hanyalah kerinduan akan pertemuan dengan Nya dan mendambakan wajahNya lah yang menjadi pemacu semangat beramalnya.

Orang yang ikhlas itu semata-mata bukanlah mengharapkan syurga-NYA Allah SWT tapi kerinduan yang lebih yaitu akan bertemu dengan Allah SWT. Sehingga sepanjang perjalanan hidup dan kehidupan, seorang hamba senantiasa dituntut untuk berusaha menjaga, memperbaiki dan meningkatkan kualitas iman dan ketakwaan dalam menghambakan diri kepada Allah SWT. Maka dari itu untuk menjalani proses kehidupan diperlukan keikhlasan yang tulus tanpa batas untuk meggapai tujuan hidup yang hakiki. Dan juga merupakan kebahagian yang kekal dan abadi serta puncak dari kenikmatan hidup yang hakiki yaitu perjumpaannya dengan Allah SWT. Hal inilah yang merupakan kenikmatan yang paling tinggi dari proses keikhlasan dalam melakukan aktifitas. Inilah salah satu contoh target yang  menjadi tujuan hidup para ulama yaitu mengharapkan berjumpa dengan Allah SWT. Hal ini dijelaskan dalam firman Allah SWT:

لِّلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَىٰ وَزِيَادَةٌ وَلَا يَرْهَقُ وُجُوهَهُمْ قَتَرٌ وَلَا ذِلَّةٌ أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

Artinya: bagi orang-orang yang berbuat baik ada pahala yang terbaik (syurga) dan tambahannya( kenikmatan bertemu dengan Allah). Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak pula kehinaan. Mereka itulah penghuni syurga kekal didalamnya (Qs.Yunus:26)

INNAMAL A’MALU BINNIYAT

Niat adalah tolok ukur suatu amalan diterima atau tidaknya tergantung niat dan banyaknya pahala yang didapat atau sedikit pun tergantung niat. Mulai dari niatlah ketulusan kita diuji karena niat adalah perkara hati yang urusannya sangat penting, seseorang bisa naik ke derajat shiddiqin dan bisa jatuh ke derajat yang paling bawah disebabkan karena niatnya. Rosulullah saw bersabda: “ Innamal a’maalu bin-niyyat” sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung niatnya. Berdasarkan hadits itu, maka diterima atau tidaknya suatu amal perbuatan yang kita lakukan oleh Allah SWT sangatlah bergantung pada niat kita.

Hadtis ini yang sering pula dipakai oleh para ulama-ulama sebagai pembukaan didalam kitab-kitab mereka. Salah contoh ulama yang kita bisa contoh yaitu Syeikh Ibn taimiyha dalam kitabnya “Syarh Hadits Innama al-Amal bi al-Niyyat”.

Menurut Syeikh Ibn Taimiyah dalam risalahnya “Syarh Hadits Innama al-Amal bi al-Niyyat” sebuah hadits yang menjelaskan bahwa amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai dengan niatnya.

ٍعَنْ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khattab radhiallahuanhu, dia berkata, “Saya mendengar Rasulullah shallahu`alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena menginginkan kehidupan yang layak di dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan. (H.R Bukhari & Muslim)

Penjelasan hadits ini, Imam Bukhari menyebutkan hadits ini di awal kitab shahihnya sebagai mukadimah kitabnya, di sana tersirat bahwa setiap amal yang tidak diniatkan karena mengharap Wajah Allah adalah sia-sia, tidak ada hasil sama sekali baik di dunia maupun di akhirat. Al Mundzir menyebukan dari Ar Rabi’ bin Khutsaim, ia berkata, “Segala sesuatu yang tidak diniatkan mencari keridhaan Allah ‘Azza wa Jalla, maka akan sia-sia”.

Sedangkan mayoritas ulama salaf berpendapat bahwa hadits ini adalah sepertiga Islam. Mengapa demikian? Karena Menurut Imam Baihaqi, karena tindakan seorang hamba itu terjadi dengan hati, lisan dan anggota badannya, dan niat yang tempatnya di hati adalah salah satu dari tiga hal tersebut dan yang paling utama. Sementara menurut Imam Ahmad adalah, karena ilmu itu berdiri di atas tiga kaidah, di mana semua masalah kembali kepadanya, yaitu:

  • Pertama, hadits “Innamal a’maalu bin niyyah” (Sesungguhnya amal itu tergantung dengan niat).
  • Kedua, hadits “Man ‘amila ‘amalan laisa ‘alaihi amrunaa fahuwa radd” (Barang siapa yang mengerjakan suatu amal yang tidak kami perintahkan, maka amal itu tertolak).
  • Ketiga, hadits “Al Halaalu bayyin wal haraamu bayyin” (Yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas).”

SYARAT IHSANUL AMAL

Niat yang ikhlas dan bener mengikuti petunjuk al – Quran dan as-sunnah merupakan syarat diterimanya amal. Al Fudhail bin ‘Iyadh tatkala berkata mengenai firman Allah surat Al Mulk:2, beliau mengatakan, “yaitu amalan yang paling ikhlas dan paling showab yaitu sesuai tuntunan Nabi saw’’.

لَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

Artinya: “Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.(QS. Al Mulk: 2)

Firman Allah SWT berikutnya:

وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۗ وَلَئِنْ قُلْتَ إِنَّكُمْ مَبْعُوثُونَ مِنْ بَعْدِ الْمَوْتِ لَيَقُولَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ هَٰذَا إِلَّا سِحْرٌ مُبِينٌ

Artinya: “Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah singgasana-Nya (sebelum itu) di atas air, agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya,…”(Qs.Hud:7)

Al Fudhail bin ‘Iyadh lalu berkata, “Apabila amal dilakukan dengan ikhlas namun tidak mencocoki ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, amalan tersebut tidak akan diterima. Begitu pula, apabila suatu amalan dilakukan mengikuti ajaran beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam namun tidak ikhlas, amalan tersebut juga tidak akan diterima”. Oleh karena itu, niat yang ikhlas dan benar menurut syariat islam adalah syarat diterimanya amal.

Selanjutnya Niat yang disertai keikhlasan dan hanya mengharap ridho Allah SWT adalah syarat pertama untuk beramal sholeh yang menyangkut masalah batin. Niat ikhlas artinya ketika melakukan amal perbuatan, batin kita harus benar-benar bersih. Rosulullah saw bersabda:

“Sesungguhnya amal perbuatan itu bergantung kepada niatnya.”(HR.Bukhari &Muslim).

Maksud dari hadits ini adalah bahwa diterima atau tidaknya amalan seseorang oleh Allah SWT tergantung dari niatnya.

Sedangkan syarat yang kedua dalam beramal sholeh harus berdasarkan syariat islam dan syarat ini menyangkut sudut zahiriah. Rosulullah saw. bersabda:

“Barang siapa yang melakukan suatu perbuatan yang tidak pernah kami perintahkan, maka perbuatan itu tertolak.(HR.Muslim).

Jika salah satu syarat di atas tidak terpenuhi, maka amalan tersebut tertolak. Semata-mata hanya ikhlas dalam beramal, namun tidak ada tuntunan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka amalan tersebut tertolak. Misalnya niatnya ikhlas membaca Al Qur’an, namun dikhususkan pada hari ketujuh kematian orang tuanya, maka amalan ini tertolak karena amalan seperti ini tidak ada tuntunan sama sekali dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Tidak mengawali perbuatan dengan niat sama saja dengan tidak berbuat. Engkau berdosa ketika berbicara atau diam bila bicara dan diammu tidak disertai dengan niat baik. Tanpa niat yang baik, bicaramu dan diammu tidaklah sesuai dengan sunnah Rasulullah saw (Syeikh Abd Qadir Al Jaylani).

 

MAKNA NIAT IKHLAS

Al Imam Muhyidin Yahya bin syaraf al-nawawi atau yang masyur dengan panggilan Imam An-Nawawi dalam kitabnya Al- Adzkar Al-Nawawiyah tentang niat ikhlas bahwa niat itu membedakan amal yang satu dengan amal yang lain, dan membedakan antara orang yang satu dengan orang yang lain. Syeikh ibn Taimiyah telah meyakinkan kita betapa niat itu sangat menentukan nilai amal dan diri kita. Sementara Imam Al hudayl mengatakan seseorang itu tergantung kepada niatnya maksudnya seseorang bisa terlihat dari niatnya apakah niat baik ataupun sebaliknya. Didalam kitab syarahnya yaitu dalam kitab Al-Wafi Syarah Arba’in An-Nawawi, telah dijelaskan tentang hadits No.1

ومحل النية القلب؛ فل يشترط التلفظ بها؛ ولكن يستحب ليساعد اللسان القلب على استحضارها

“dan tempat niat didalam hati, tiada disyaratkan melafadzkannya, dan tetapi disunnahkan (melafadzkan) agar lisan dapat membantu hati dengan menghadirkan niat”.

Imam An-nawawi dalam Syarah kitab Imam Muslim disebutkan bahwa amalan seseorang yang tidak ikhlas atau berbuat riya, itu adalah amalan batil yang tidak berpahala apa-apa, bahkan mendapat dosa.

Allah SWT berfirman:

وَمَآ أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤْتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلْقَيِّمِ

Artinya: “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus , dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (Al Bayyinah: 5).

Firman Allah SWT berikutnya

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنْكُمْ ۚ كَذَٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ ۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ  

Artinya: “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.” (Qs. Al-Hajj: 5)

Imam An- Nawawi dalam isi kitabnya yang mengutip pendapat para ulama bahwa hadits shahih yang disepakati oleh para ulama ahli hadits yang mengatakan diriwayatkan dari Umar bin Khatab, Rosulullah saw bersabda :

“Perbuatan itu tergantung pada niatnya dan tiap-tiap orang (beramal) menurut niatnya. Barangsiapa dalam berhijrah menuju kepada (keridhaan) Allah SWT dan Rasul-Nya maka balasan hijrahnya mendapat keridhaan Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa berhijrah untuk (mencari kepentingan) dunia, ia dapatkan dunia itu, atau untuk (mendapatkan) seorang wanita, ia pun menikahinya, maka (balasan) hijrahnya (ia dapatkan) menurut (niat) hijrah yang ia lakukan.”

Hadis ini merupakan salah satu hadist yang menjadi dasar hukum dalam  Islam. Ulama-ulama salaf dan khalaf sangat senang memulai karangan-karangan mereka dengan mengutip hadits ini, dengan tujuan untuk mengingatkan para pembaca betapa pentingnya meluruskan niat. Seperti contoh para ulama hadits yang dikutip oleh Imam an-nawawi diantaranya:

  • Menurut Ibn Abbas r.a ia berkata: Orang itu dihormati sepadan dengan niatnya.
  • Al Harits al Muhasibi mengatakan: Orang yang tulus adalah orang yang tidak peduli bila makhluk menilai lain dirinya demi menjaga hatinya, tak pula senang bila orang mengetahui kebaikannya walaupun setitik, dan tak pula benci bila orang-orang mengetahui keburukannya.
  • Imam al Qusyaiyri berkata, ikhlas itu berarti sungguh-sungguh mengesakan Allah dalam ketaatan, yakni hanya berharap ketaatan itu mendekatkannya pada Allah dan bukan sebagai hal lain. Seperti: kepura-puraan dihadapan makhluk, upaya mendapat kemuliaan dihadapan manusia, cinta pujian dari makhluk dan lainnya.
  • Al Susi berkata: Ikhlas itu berarti tak melihat ikhlas. Siapa yang menyaksikan ikhlas dalam ikhlasnya, maka ikhlasnya membutuhkan pemurnian.
  • Sahl al Tustari ditanya, “Apa yang paling berat untuk nafsu?” Sahl menjawab, “Ikhlas, sebab nafsu tidak punya andil dalam ikhlas. Ikhas adalah bila diam dan gerak hamba hanya demi Allah semata”.
  • Al Fudhayl  berkata, Meninggalkan suatu amal karena manusia adalah riya’, dan mengerjakan suatu amal karena manusia adalah syirik, dan ikhlas ialah bila Allah membebaskan dari keduanya.
  • Ikhlas itu muraqabah (Pengawasan terus menerus) dan melupakan segala kenikmatan.  Seperti para ulama yang memiliki sifat roja bahkan dalam keseharian para ulama tidak ada waktu istirahat sampai satu kaki saya menginjak disyurga (HR.Imam Ahmad)

PAHALA BERLIPAT DENGAN NIAT IKHLAS

Bila amal yang satu bisa diniati beberapa kebaikan, tentu pahalanya menjadi berlipat-lipat tetapi ini membutuhkan kecerdasan. Hal ini dijelaskan oleh Imam at Tirmidzi dalam salah satu bab pada kitabnya “Riyadhat al Nafs” dan Imam Al Ghazali dalam kitab Mukhtasyar Ihya’ ‘ulum al Dien.

Imam Al-Hafizh Abu Isa Muhammad bin Isa bin Saurah bin Musa bin Ad-Dahhak As-Sulami At-Tirmidzi yang mendalami dunia tasawuf melalui kitabnya Riyadhat An-Nafs, menjelaskan  perihal pengalaman beliau mengenai penempaan diri dan jiwa dilakukan guna meraih keridhoan Allah SWT. Karena hakekat manusia sebagai makhluk ciptaan AllahSWT adalah sejatinya untuk menghamba kepada Allah SWT. Sedangkan menurut Imam Al Ghazali bahwa tanda niat yang bener salah satunya adalah berbanding lurus dengan perbuatan dilapangan kehidupan. Niat saja belum cukup bila tidak diiringi dengan kemauan dan kejujuran bahwa dirinya akan sekuat tenaga dalam mewujudkan niatnya tersebut.

Adapun hakekat niat itu sendiri adalah niat, iradat dan kehendak adalah kata-kata yang mempunyai satu makna, yakni keadaan dan sifat hati yang mengandung kaitan antara ilmu (pengetahuan) dan amal. Ilmu itu sendiri adalah mendahului dan syarat, sedang amal mengikutinya. Imam Al-Ghazali dalam kitabnya juga mengatakan niat itu ada ditengah-tengah anatara ilmu dan amal yang mengikuti. Sehingga kalau kita menginginkan memiliki niatan yang banyak maka kita harus memiliki cukup ilmu supaya dapat terealisasi berdasarkan standard hukum syara dengan cara tholabul ilmi.

Melalui kitabnya ihya’ ulum ad-din, Imam Al- ghazali pun membagi tingkatan amal menjadi kemaksiatan, ketaatan dan hal-hal yang mubah. Bila suatu amal adalah kemaksiatan, maka ia tak akan berubah menjadi ibadah lantaran niat sedangkan ketaatan harus disertai niat.Niat yang bagus melipat gandakan nilai ketaatan. Suatu ibadah boleh jadi satu dari segi jumlah tetapi bisa menjadi berbagai ibadah sekaligus lantaran niat yang bagus. Seperti contoh berdiam diri dimasjid (I’tikaf) dan hal-hal yang mubah. “Salah satu tanda cerdasnya jiwa adalah senantiasa kaya akan niat baik. Orang yang cerdas jiwanya, melakukan suatu perbuatan bukan karena diperintah orang atau ingin bereaksi atas suatu situasi melainkan karena niat baik yang melimpah dalam hatinya”. (Imam Al Ghazali)

Dalam masalah niat, manusia terbagi dalam beberapa tingkatan tergantung dengan kapasitas aqal mereka. Rasulullah saw bersabda: “Manusia melakukan amal kebaikan dan mereka mendapatkan ganjaran sesuai dengan kadar aqal mereka”. Dalam Hadits Qudsi Allah berfirman:

“Wahai Musa, sesungguhnya Aku memberi pahala kepada manusia sesuai dengan kadar aqalnya”. Seseorang meminta penjelasan Nabi Musa, nabi Musa menjawab:”perumpamaannya seperti orang yang masuk masjid. Ia melihat saf pertama telah penuh, maka ia berdiam di saf kedua. Dengan demikian ia gagal meraih kedudukan keutamaan saf pertama”

Dalam sebuah riwayat dari At-Tarmidzi dan Ahmad tentang niat dan ketaqwaan Abu Kabasyah al Anshari mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda:”…sesungguhnya dikolong Dunia ini diisi oleh 4 macam hamba:

  1. Hamba yang dikarunia Allah harta dan ilmu yang dengan keduanya ia bertaqwa kepada Allah, menyambung silaturahmi dan menjaga hak Allah, ini adalah tingkatan paling mulia.
  2. Hamba yang Allah beri ilmu tetapi tak diberi harta, tapi ia sungguh-sungguh dalam niatnya berkata,”Andaikan aku memiliki harta, tentu aku berbuat (baik) seperti yang fulan lakukan maka, pahala keduanya sama.
  3. Hamba yang Allah beri harta tetapi tak diberi ilmu, sehingga ia tergelincir oleh hartanya karena tak disertai ilmu; ia tak menghindari riba, tidak menyambung silaturahim, serta tidak mengenal hak Allah, maka ia berada di tingkat terburuk.
  4. Orang yang tidak diberi Allah harta ataupun ilmu, ia berkata: ‘Seandainya punya harta tentu aku akan melakukan seperti yang dilakukan si fulan (yang serampangan) mengelola hartanya’, dan niatnya kuat benar .Dosa keduanya (golongan ketiga dan keempat) adalah sama. Tertulis dari (HR.At– Tarmidzi dan Ahmad).

Dari keempat golongan manusia diatas, golongan manusia yang paling tinggi dan utama derajatnya adalah seseorang yang dikaruniai sepasang kenikmatan oleh Allah swt dan mereka mengamalkan kenikmatan itu sesuai dengan ketentuan yang Allah tentukan.  Berawal dari nikmat ilmu, disusul oleh nikmat harta yang menjadikan sebagian dari hamba-hamba Allah swt yang senantiasa menjadi penebar Rahmat Allah dimuka bumi bagi seluruh makhluk Allah lainnya.  Seluruh makhluk merasakan kebaikan dan jasa mereka. Seluruh umat menjadi saksi atas keutamaan mereka.

Lalu ilmu seperti apakah sehingga Allah mau memberikan rahamat NYA kepada manusia seperti ini?.Ternyata ilmunya bukan sembarang ilmu, tetapi ilmu itu adalah ilmu syariat atau ilmu agama.  Ilmu ini adalah ilmu yang mengajarkan manusia tentang bagaimana cara memperoleh harta dan mempergunakannya secara benar.  Ilmu syariat adalah satu-satunya ilmu yang mengajarkan kepada seorang mukmin hakikat yang berhubungan dengan hal duniawi termasuk harta.

Ilmu syariat mengajarkan kepadanya bahwa harta yang dimilikinya tak lain hanyalah karunia titipan, dan ujian dari Allah SWT. Bahwa harta tersebut harus diperoleh dengan cara-cara yang halal, tanpa sedikitpun menggunakan cara-cara keji kotor, penipuan dan kedzaliman kepada hamba-hamba Allah swt yang lain.  Seorang mukmin akan menyadari ada hak orang lain yang harus ditunaikan didalam harta yang dimilikinya sebagai titipan dari sang pencipta.

IKHLAS SEBAGAI RAHASIA

Rahasia yang menakjubkan adalah apabila menjadikan hati terbuka antara Allah dan hamba-NYA tanpa adanya paksaan dan tuntutan. Hal ini semata-mata hanya mengharapkan ridho Allah SWT dan perjumpaan denganNYA. Itulah keikhlasan sebagai inti agama, tetapi banyak orang yang tak mengenalinya karena ikhlas adalah rahasia. Inilah yang diterangkan oleh Syeikh al Laja’I dalam salah satu bab awal pada kitabnya “Syam al-Qulub”.

Ketahuilah, Amal adalah tubuh, sementara ikhlas adalah runya. Setiap jasad tanpa ruh didalamnya adalah bangkai, dan tentu akan dibuang. Barangsiapa mengerjakan amal perbuatan untuk Allah tanpa disertai ikhlas, ia laksana orang yang mehadiahkan mayat budak ke seorang penguasa demi mendapat ridhanya. Ikhlas adalah pemurnian kalau orang Arab berkata: “Si Fulan mengikhlaskan cintanya untuk si Fulan” ini berarti memurnikan cintanya dan tidak mencampuri niatnya dengan sesuatu yang lebih rendah dari cinta. Inilah contoh yang dipaparkan dalam buku ini,bahwasanya ikhlas yang seperti inilah yang disebut ikhlas yang tanpa batas yaitu keikhlasan tanpa mengharapkan imbalan yang akan diterimanya tetapi semata-mata hanya kerinduaanya untuk berjumpa Allah SWT.

Dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendengar kata ikhlas maupun keikhlasan, tapi apakah arti sebenarnya hal tersebut. Kalau diartikan secara tersurat ikhlas berarti berbuat tanpa mengharapkan apa pun selain ridha-NYA. Sedangkan kalau kita ukur dari ilmu matematika ikhlas akan menghasilkan seperti bagan dibawah ini

Untuk memudahkan keikhlasan bisa kita gunakan persamaan dasar matematika, kita ibaratkan ikhlas adalah angka 0, kenapa? karena mudah dalam implementasinya. Angka 0 Kalau  kita kalikan dengan berapapun nilainya hasilnya 0, angka 0 kalau kita bagi dengan bilangan berapapun hasilnya tak terhingga atau keberkahan, karena dudukan keberkahan adalah tak terhingga tidak ada yang tahu berapa nilainya. Sebalikkan ketidak ikhlasan kita ibaratkan angka 1, bilangan berapapun kalau di kalikan angka 1 hasilnya bilangan itu juga, dan jika di bagi angka 1 ya hasilnya bilangan itu juga.

Sebagai contoh orang yang mendapat rizqi, kalau dia menerapkan angka 0, maka dia akan ikhas berapa pun rizki yang dia terima dan selalu cukup dengan apa yang didapatnya, bahkan dengan rizkinya tersebut masih bisa membantu orang lain. Ibarat angka 0 kalau dibagi berapapun hasilnya tak terhingga, Di titik ini lah maka keberkahan dari rizki tersebut di posisi tak terhingga. Sebaliknya kalau dia di posisi angka 1(tidak ikhlas) maka tidak akan cukup berapapun rizki yang dia terima karena nilainya ya cuman senilai rizki itu saja tidak ada keberkahan didalamnya. Dan semua amal yang tidak ikhlas pasti akan dikembalikan kepada pelakunya, bahkan neraka tempatnya.

CIRI-CIRI IKHLAS

Bagaimana kita bisa mengenali ciri-ciri ikhlas sedangkan ikhlas itu adalah rahasia antara hamba dan Allah SWT. Berdasarkan kitab Munyat al Wa’izhin wa Ghunyat al Mutta’izhzhin karangan Syeikh Al-Anquri memaparkan bagaimana ciri-ciri ikhlas. Yaitu perumpamaan orang yang beramal karena riyak dan sum’ah adalah seperti orang yang pergi ke pasar, namun memenuhi saku bajunya dengan kerikil. Sementara orang yang ikhlas yaitu orang yang menyembunyikan amal kebaikannya sebagaimana dia menyembunyikan amal buruknya seperti beramalnya seorang pengembala kambing sehingga mereka tidak peduli akan pandangan mata manusia dan tak gentar oleh tantangan.

Menurut Ali bin Abi Thalib berkata bahwa tanda tanda orang yang riya dalam beramal diantaranya:

  • Malas beramal jika sendirian
  • Rajin beramal jika banyak orang
  • Semakin rajin beramal jika mendapat pujian
  • Semakin malas beramal jika mendapat celaan

Sedangkan menurut Syeikh Saqiq ibn Ibrahim cara mengetahuai sebagai orang shaleh yaitu: tampakkan amalan yang dirahasiakan dihadapan orang saleh, sanggup berpaling dari kehidupan dunia dan berani mengharapkan kematian. Jika 3 hal tersebut telah terkumpul, rendahkanlah dirimu dihadapan Allah agar amalannya tidak ternodai riya’.

Kemudian Hamid Al laffaf juga menuturkan jika Allah menghendaki seorang celaka maka Allah akan menyiksanya dalam 3 hal diantaranya:

  • Allah memberikan ilmu kepadanya, tetapi Allah tidak menganugerahkan kemampuan untuk mengamalkan ilmu itu.
  • Senang bergaul dengan orang shaleh, tetapi ia sendiri enggan mengetahui kewajiban orang-orang shaleh.
  • Allah membukakan pintu ketaatan baginya, tetapi ia tidak dapat ikhlas dalam beramal.

Adapun agar amalan sholeh bisa diterima oleh Allah SWT sebaiknya didalam beramal haruslah memperhatikan:

  • ilmu, agar amalnya memiliki dalil yang jelas sehingga terselamatkan dari kesia-siaan.
  • Tawaqal, sehingga ibadah membuat dirinya tenang dan berputus asa dengan makhluk.
  • Sabar, agar amalannya dilakukan dengan sempurna.Ikhlas, agar ia mendapat pahala dan derajat yang tinggi.

Sedangkan untuk mencapai derajat yang mukhlis yaitu orang-orang yang hanya mengharapkan ridho Allah semata menurut Dzu Al Nun Al-Mishri diantaranya

  • Orang tersebut telah mampu menghilangkan waktu istirahatnya untuk diisi dengan amalan.
  • Ia berani bersedekah meski hartanya sedikit
  • Ia nyaman tinggal dirumah yang sesak
  • Baginya pujian dan celaan sama saja

 

KHATIMAH

Kesungguhan dan keiklhlasan adalah wujud iman dan islam karena ikhlas merupakan inti ajaran Islam. Semoga kulasan singkat mengenai buku “IKHLAS TANPA BATAS” belajar hidup ikhlas dan wajar dari 10 ulama klasik (Imam al-Ghazâlî, Imam al-Hâkim al-Tirmidzî, Imam al-Nawawî, Syekh al-Hârits al-Muhâsibî, Syekh ‘Abd al-Qâdir al-Jaylânî,Syekh Ibn ‘Athâ’illâh, Syekh Ibn Taymiyah, Syekh ‘Abd al-Rahmân al-Lajâ’î, Syekh ‘Abd al-Hamîd al-Anqûrî dan Syekh Muhammad al-Birgawî) dapat dipahami dan bisa diteladani dalam kesaharian hidup kita.

Bahwa ikhlas adalah rahasia antara Allah dan hambaNya. Ia tiada diketahui oleh malaikat, sehingga ia tiada kuasa menulisnya. Tiada pula diketahui oleh syaitan, sehingga syeitan pun tiada kuasa merusakkannya. Bahkan nafsu pun tidak menyadarinya, sehingga tak mampu mempengaruhi. Sehingga dengan meneladani dari buku ini diharapakan juga mampu terciptanya perbuatan dari ikhlas tanpa balas dan keikhlas tanpa batas.

Semoga Artikel ini bermanfaat untuk Sahabat Rumah Kurma Sahara.
Silahkan berbelanja kurma di Rumah Kurma Sahara, Butuh perlengkapan haji? Ingat Toko Rumah Kurma Sahara!
Jalan Raya Semplak Atang Sandjaja No. 224
Bogor Barat – Kota Bogor
Customer Care : 0821-1141-8832 | 0878-7386-0559
Delivery : 0859-2512-6067
WA | PIN BB : 0878-7386-0559 | DA7A086

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *