Cita-Cita Yang Meletupkan Semangat

Cita-cita manusia juga tidak lepas dari keyakinannya terhadap suatu pemikiran yang menjadi ideologi yang tertanam kuat di hatinya. Sehingga betapapun cita-citanya sangat besar dan nyaris mustahil terealisasi, dirinya teteap yakin bahwa suatu saat cita-citanya pasti tercapai. Ulama kontemporer yang bercita-cita seperti ini adalah Imam Hasan Al-Banna rahimahullah. Cita-citanya adalah pada masa yang akan datang, Islam menjadi guru dunia (ustadziyyat alam). Demi cita-cita yang sangat besar ini, beliau meyakinkan dirinya dan seluruh umat Islam dengan semboyannya yang sangat terkenal :
“Mimpi-mimpi hari ini, adalah kenyataan pada masa yang akan datang.”

Dalam kesempatan yang lain, beliau beriqtibas (menukil) ayat Allah SWT yang ada di dalam surat Al-Maarij : “Sesungguhnya mereka melihat cita-cita kami suatu yang jauh (mustahil) dan kami melihatnya suatu yang dekat (realistis).”

Bagaimana dengan cita-cita kita yang sudah rajin berinteraksi dengan Al-Qur’an? Kajian ini mengarahkan cita-cita Qur’ani kita, yang merupakan PR besar umat saat ini. Maka bercita-citalah tiga hal untuk Al-Qur’an yang kita cintai ini :

Kembalinya semua umat manusia ke pangkuan Al-Qur’an sesuai dengan ayat diatas : “Dan engkau lihat umat manusia masuk ke dalam agama Allah berduyun-duyun.”

Berlakunya hukum Islam diatas bumi ini, sehingga umat terhindar dari fitnah, yakni semua aturan selain Islam yang hanya mengantarkan kepada kekufuran bagi manusia. Hanya Al-Qur’anlah yang akan menjaga manusia dalam kehidupan bertauhid kepada Allah SWT.

“Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah jika mereka berhenti (dari kekafiran). Maka sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan. Dan jika mereka berpaling, maka ketahuilah bahwasanya Allah Pelindungmu. Dia adalah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong” (QS. Al-Anfal : 39-40).

Tegaknya kekuasaan Islam di atas bumi yang ditandai dengan kokohnya agama Islam, kehidupan uang aman dan seluruh manusia hanya beribadah kepada Allah SWT.

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman diantara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhaiNya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. An-Nur : 55)

Itulah tiga cita-cita besar yang harus dimiliki oleh setiap orang yang beriman. Walaupun harus dibayar dengan berbagai macam ujian yang sangat besar, namun itulah sunnatullah yang berlaku dalam kehidupan ini. Apa yang dialami saudara-saudara kita di Mesir, Palestina, dan di tempat-tempat lain, hanyalah karena cita-cita besar ini, yang tidak dicita-citakan kecuali karena keimanan mereka kepada Allah azza wa jalla. Hal itu pulalah yang dialami oleh penyihir Fir’aun, yang sadar betul, bahwa siksaan yang menimpa mereka semata-mata karena keimanan mereka kepada Allah SWT :

“Dan kamu tidak menyalahkan kami, melainkan karena kami telah beriman kepada ayat-ayat Tuhan kami ketika ayat-ayat itu datang kepada kami. (mereka berdoa) : ‘Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan berserah diri (kepadaMu)’”. (QS. Al-A’raf : 126)

Semoga Artikel ini bermanfaat untuk Sahabat Rumah Kurma Sahara.
Silahkan berbelanja kurma di Rumah Kurma Sahara, Butuh perlengkapan haji? Ingat Toko Rumah Kurma Sahara!
Jalan Raya Semplak Atang Sandjaja No. 224
Bogor Barat – Kota Bogor
Customer Care : 0821-1141-8832 | 0878-7386-0559
Delivery : 0859-2512-6067
WA | PIN BB : 0878-7386-0559 | DA7A086

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *