Change Eating Habit

Islam adalah agama yang mengatur seluruh kehidupan manusia. Diantaranya adalah mengatur hubungan manusia terhadap dirinya sendiri- hablumbinafsi. Seperti masalah pakaian, akhlaq dan juga masalah makanan. Makan dan minum merupakan salah satu kebutuhan penting manusia dalam memenuhi hajatul udhowiyah (kebutuhan jasmani) yang berupa rasa lapar dan haus. Sehingga akan muncul Eating Habits atau kebiasaan-kebiasaan makan yang bervariasi.

Satu sisi kita melihat Eating Habits yang sangat berlebihan atau kebiasaan makan dengan menu bermacam-macam, yang sebenarnya hanya mengikuti “selera” atau “nafsu” saja. Dan yang pasti akan banyak tersisa dan terbuang sia-sia ditempat sampah. Sementara ditempat yang lain, anak-anak miskin berebut makanan, berbagi roti yang jumlahnya tidak seberapa. Mereka miskin-kekurangan makanan, dan tidak pernah merasakan “kenyang”. Sungguh hal yang sangat ironis.

Rasulullah saw. memberikan beberapa contoh bagaimana seorang muslim di dalam memenuhi kebutuhan makan dan minum. Ada beberapa hal yang dianjurkan juga beberapa hal yang harus dihindari. Sehingga manusia tidak akan terjatuh dalam hal yang bersifat makruh apalag haram.

Puasa dan Budaya Hidup Konsumtif

Perintah berpuasa menanamkan banyak nilai ke dalam diri setiap muslim, diantaranya adalah:

  • Menahan diri dari makan, minum dan segala hal yang membatalkan puasa bertujuan untuk membiasakan seseorang mengkonsumsi makanan tidak berlebihan.
  • Sahur dan berbuka adalah cerminan disiplin waktu bagi seseorang memberikan hak perut untuk makan.
  • Rasa lapar yang dirasakan kiranya mampu menimbulkan empati serta solidaritas membantu fakir miskin dalam memenuhi kebutuhan pangan mereka.

Namun ada satu hal yang sangat miris kita temukan sehubungan dengan bulan ramadhan. Hari-hari dimana setiap muslim berpuasa, tapi justru kebutuhan pangan selama bulan ini meningkat. Hampir setiap rumah tangga, anggaran belanjanya menjadi dua kali lipat bahkan lebih. Dan itu biasanya dialokasikan, untuk membeli makanan yang akan dikonsumsi pada malam hari.

Allah SWT berfirman dalam QS. Al A’raf ayat 31

يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

“ Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.”( QS.Al A’Raf ; 31)

Bagi sebagian orang godaan menahan rasa lapar dan haus di siang hari bukan termasuk dalam kategori ‘godaan jenis berat’, Namun tanpa  disadari godaan  lebih dasyat adalah serangan budaya konsumerisme.

Menurut sejumlah cendekiawan, maraknya godaan budaya konsumerisme ini tidak terlepas dari perkembangan budaya kapitalisme yang menempatkan konsumsi sebagai titik sentral kehidupan dalam tatanan sosial masyarakat. Masyarakat seakan-akan berlomba untuk menjadi manusia konsumtif, seperti berbuka puasa dengan hidangan yang berlimpah

Perilaku ini tidak terlepas dari media massa termasuk iklan outdoor seakan-akan menghipnotis umat Islam untuk masuk dan menjadi manusia konsumtif. Kita akan melihat tayangan-tayangan iklan berbalut agama. Sebuah produk yang diproduksi dan ditawarkan spesial menyambut bulan suci Ramadhan, mulai sandang, pangan, hingga kartu telepon seluler sekalipun, termasuk hiburan seperti sinetron, musik, humor, dan ceramah pun sudah mulai tayang atas nama bulan suci Ramadhan. Kemudian muncullah istilah sinetron religi atau album religi para penyanyi maupun grup band yang selalu ditunggu para penggemarnya.

Sadar atau tidak sadar, sesungguhnya di situlah terjadi proses penanaman semacam pembenaran atau ‘Islamisasi’ atas perilaku konsumtif umat Islam selama bulan puasa. Umat Islam pada setiap Ramadhan tiba selalu diposisikan sebagai konsumen potensial untuk meraup keuntungan bisnis. Perkembangan kapitalisme global membuat, bahkan memaksa umat Islam pada suatu kondisi dimana seolah-olah ‘hasrat’ mengkonsumsi lebih diutamakan. Sepertinya ibadah puasa nantinya kurang sempurna jika tidak mengkonsumsi makanan serta minuman tertentu atau segala yang disodorkan oleh media dan iklan dengan mengatasnamakan agama.

Pemicu Budaya Konsumtif

Pertama, tradisi yang sudah mengakar.

Bila Ramadhan tiba dan Idul Fitri menjelang seakan berlomba untuk memakan yang enak-enak dan mahal-mahal untuk dimakan ketika berbuka puasa, membeli minuman yang bermerk dan mahal dan membeli pa