Bagaimana Syaitan Menggelincirkan Manusia

Syaitan mempunyai banyak senjata untuk menggoda dan menjerumuskan manusia sebagai anak cucu Adam. Dari yang paling halus dan memperdaya obyeknya sampai yang paling kasar dan frontal, yaitu dengan jelas-jelas syaitan menyeru dan menyuruh manusia untuk berbuat maksiat. Syaitan menyamarkan kejahatan dalam kemasan menarik sehingga tampak oleh obyeknya bahwa yang dikemas itu adalah kebaikan. Syaitan bisa hadir sebagai sosok malaikat, guru besar, orang alim yang memberikan nasehat-nasehat kebaikan. Kemudian ia mengiring obyeknya itu ke lembah kemaksiatan dan kesyirikan serta kekufuran.

1. Mengenal Asy-Syaithan
Asy-syaithan,isim musytaq-nya(kata jadian) dari kata syathanayang artinya menentang, menyalahi, dan jauh.

Di dalam Al-Qur’an, syaithan disebutkan sebanyak 4x, asy-syaithan disebutkan sebanyak 83x, syayathin disebutkan sebanyak 1x dan asy-syayathin disebutkan sebanyak 13x

Asy-syaithan bisa dari jenis jin dan dari jenis manusia,sebagaimana yang diterangkan Allah SWT dalam salah satu firman-NYA, yang artinya,
“Demikianlah Kami menjadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh,yaitu setan-setan dari jenis manusia dan dari jenis jin,sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia).”(QS Al-An‘am [6]: 112).

Serta dikisahkan dalam sebuah hadist yang menggambarkan betapa Syaitan dari jenis manusia itu lebih buruk atau berbahaya.
“Abu Dzar apakah engkau memohon perlindungan kepada Allah dari keburukan syaitan dari golongan manusia dan Jin?”Abu Dzar menjawab, “Wahai Rasulullah, apakah dari manusia ada syaitan?”Rasulullah menjawab, “Ya, dan mereka lebih jahat/buruk daripada syaitan dari golongan jin.”

Dalam hadist lain diterangkan, Malik bin Dinar berkata,“Sesungguhnya syaitan dari jenis manusia lebih berbahaya bagiku daripada syaitan dari jenis jin. Yang demikian itu karena jika aku berlindung kepada Allah, syaitan jin akan pergi dariku,sedangkan syaitan manusia justru mendatangiku dan mendorongku ke arah maksiat.”

Syaitan adalah sifat yang bisa ada pada manusia maupun Jin, kemampuan mereka hanyalah membisiki manusia, tidak yang lain. Waspadalah!

2. Permusuhan Abadi Syaitan dengan Bani Adam
Permusuhan syaitan dengan Bani Adam bersifat abadi. Syaitan telah bersumpah untuk menjerat Bani Adam dari jalan lurus ke lembah kemaksiatan dengan mempersiapkan berbagai cara dan jebakan-jebakan dari segala arah.

Hal ini telah dikisahkan Allah Ta’ala dalam firman-NYA, QS. Al-A’raaf: 11-18, yang artinya;

11. “Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kami bentuk tubuhmu, kemudian Kami katakan kepada Para Malaikat: “Bersujudlah kamu kepada Adam”, Maka merekapun bersujud kecuali Iblis. Dia tidak Termasuk mereka yang bersujud.”

12. Allah berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu aku menyuruhmu?” Menjawab Iblis “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang Dia Engkau ciptakan dari tanah.”

13. Allah berfirman: “Turunlah kamu dari surga itu; karena kamu sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, Maka keluarlah, Sesungguhnya kamu Termasuk orang-orang yang hina.”

14. Iblis menjawab: “Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan(sampai hari kiamat).”

15.Allah berfirman: “Sesungguhnya kamu Termasuk mereka yang diberi tangguh.”

16. Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus,

17. “Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).

18. Allah berfirman: “Keluarlah kamu dari surga itu sebagai orang terhina lagi terusir. Sesungguhnya Barangsiapa di antara mereka mengikuti kamu, benar-benar aku akan mengisi neraka Jahannam dengan kamu semuanya.”

Ayat tersebut diatas telah disalah-gunakan oleh para liberalis atau orang –orang liberal bahwasannya iblis itu lebih mulia daripada manusia, Iblis merupakan hamba Allah yang paling bertaqwa karena tidak mau sujud kepada makhluk, sehingga kita perlu mengikuti jejak Iblis. Perkataan seperti ini adalah batil karena sujud di sini adalah sujud penghormatan bukan sujud penyembahan dan Iblis menolak sujud penghormatan kepada Adam bukanlah karena keimanan namun karena ke-takaburan (kesombongan).Atas dasar itu mereka telah meremehkan atau mengingkari perintah dan hukum-hukum Allah SWT yang terkandung dalan AL Qurán, dikarenakan kesombongannya menolak kebenaran yang terkandung dalam Al-Qurán, seperti yang diajarkan oleh Rasulllah saw.

Beberapa Hal yang kita bisa kita petik dari Q.S Al A’raf ayat 11-18

a. Tujuan Iblis di Dunia
Dari Qur’an Surat Al A’raf ayat 11-18 diatas, Iblis telah mengumumkan tekadnya untuk menyesatkan Bani Adam dan menyebabkan mereka terjerumus dalam kesesatan. Demi melakukan tekadnya ini, dia meminta kepada Allah penangguhan agar tidak dimusnahkan sampai hari kiamat.Sumpah dan azzam ini merupakan kesungguhannya untuk menyesatkan bani Adam.

Jika kita melihat dari kacamata iblis, dunia bagi iblis adalah tempat untuk mencari sekutu (pengikut) sebanyak-banyaknya untuk menjadi penghuni neraka. Jadi, tugas iblis didunia ini hanya satu, yaitu mengganggu manusia sehingga jauh dari Allah Taála sampai jatuh ke dalam kekufuran.

Sedangkan bagi manusia,hidup di dunia itu banyak sekali akivitas yang dilakukannya. Bagaimana untuk agar bias tetap hidup di dunia ini, sehingga harus mencari nafkah. Bagaimana menyalurkan gharizah nau’nya sehingga menikah dan berusaha memiliki keturunan. Begitu juga, manusia juga melakukan ibadah-ibadah maghdah untuk melakukan penyembahan kepada Dzat yang menciptakannya dan masih banyak sederetan aktivitas yang lainnya.

Dengan melihat dari dua kacamata ini maka hal ini menjadikan mudah bagi iblis untuk menggoda manusia agar tidak ingat akan Allah dan kampung akherat.

Apabila manusia tidak bisa diajak kearah kekufuran maka iblis akan terus berusaha mendorong manusia untuk berbuat kemaksiatan yang jauh dari syariat Allah Taála, diantaranya adalah dengan cara menggoda manusia untuk selalu menyibukkan diri dengan urusan dunia sebagai orientasi hidupnya, dan mejadikannya lalai dari orientasi akheratnya. Disibukkan dalam urusan sepele sehingga tinggalkannnya persoalan yang lebih penting dan yang lebih baik. Misalnya, sibuk dengan amalan-amalan sunnah dan amalan mubah, sehingga menjadikannya melalaikan amalan wajib.

Maka seharusnya sebagai manusia, meski kita banyak aktivitas, maka harus tetap fokus apa tugas utama kita di dunia ini. Tugas utama manusia seharusnya adalah dunia ini sebagai tempat untuk beribadah kepada Allah Taála dengan senantiasa sadar akan keberadaan syaitan yang senantiasa menggodanya. Sehingga manusia harus memiliki bekal yang cukup untuk melawan sekuat-kuatnya dari godaan syaitan yang terkutuk.

b. Jin mendatangi manusia dalam segala arah untuk menjerumuskannya dalam kesesatan dan kemaksiatan.
Menurut Ibn Abbas dalam Tafsir Ibn Katsir:

• Dari Depan: manusia dibuat lalai dari seluruh kehidupan akheratnya. Dibuat was-was terhadap ibadahnya.

• Dari Belakang: agar manusia merasakan kekhawatiran tentang dunianya. Terbebani terhadap urusan yang sebenarnya telah dijamin oleh Allah SWT. Seperti rizki misalnya, mereka dibuat takut fakir, miskin sehingga mereka mengambil jalan yang haram.

• Dari sebelah kanan: melakukan syubhat dalam urusan agama mereka, mereka dibingungkan oleh pemahaman yang menyimpang, merusak, paham yang membuat mereka kacau dalam beragama. Dalam soal takdir misalnya, paham Qadha dan Qodhar

• Dari Sebelah kiri: Syaitan mendatangi manusia untuk mendorong syahwat-syahwat mereka, misalnya melalui media TV, magazine

Posisi syaithan, seperti yang diterangkan dalam firman Allah Taála, “Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia”.(QS al-Isra’ [17]: 53)

Permusuhan Syaitan ini tetap tidak pernah berubah.Seperti perkataan Ali bin Abi Thalib: “Jangan engkau menjadi musuh syaitan di keramaian, tapi menjadi teman syaitan disaat sendiri. Syaitan akan lebih dahsyat permusuhannya saat kita sendiri.

Gambaran permusuhan Syaitan dalam diri manusia, sebagaimana yang diterangkan dalam sebuah hadist,bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya syaitan menyusup dalam diri manusia melalui aliran darah”.(HR Bukhari Muslim).

Seperti yang kita ketahui, bahwa darah yang mengalir dalam tubuh manusia berpusat dari qalb (jantung). Dalam sebuah hadist Rasulullah saw. mengatakan bahwa “Dalam diri manusia ada sebuah daging, yang mana apabila itu baik maka baiklah manusia itu, dan jika itu buruk, maka buruklah manusia ini.

Kita sebagai manusia harus senantiasa bersikap waspada terhadap godaan iblis serta teman-temannya dalam diri kita, dengan senantiasa mengecek qalbu kita, supaya bisa mengendalikan hawa nafsu didalam diri kita, melalui cara berdzikrullah dan bertaqarrub illah setiap saat.

Karena ini adalah merupakan permusuhan yang sangat intens antara syaitan dan manusia. Ditambah lagi dengan posisi manusia banyak kekurangannya dibandingkan syetan. Seperti yang diterangkan Allah Taa’la dalam firman-NYA, “Sesungguhnya syaitan dan kabilahnya itu bisa melihat kalian, namun kalian tidak bisa melihat mereka”. (QS Al A’raf: 27)
3. Karakter AS-syaitan

a. Suka Membantah tanpa Ilmu
“Di antara manusia ada orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan dan mengikuti setiap syaitan yang sangat jahat”.(QS Al-Hajj [22]: 3)
b. Menakut-nakuti dengan kemiskinan
Syaitan menjanjikan kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir) sedang .

c. Mubazir dalam memanfaatkan Harta
“Allah menjadikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia.” (QS al-Baqarah [2]: 268)

d. Mengambil Islam sebagian dan meninggalkan sebagian
“Hai orang-orang yang beriman,masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS al-Baqarah [2]: 208)

e. Sombong
Dari Ibn Mas’ud, dari Rasulullah saw. beliau bersabda: “Tidak akan masuk surga, seseorang yang di dalam hatinya ada setitik dzarrah sifat sombong.” Seorang sahabat bertanya kepada Nabi saw: “Sesungguhnya seseorang menyukai kalau pakaiannya itu indah atau sandalnya juga baik”. Rasulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya Allah Swt adalah Maha Indah dan menyukai keindahan.Sifat sombong adalah mengabaikan kebenaran dan memandang rendah manusia yang lain.” (HR. Muslim)

f. Suka melakukan kemaksiatan
 “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.”(QS Al-Ma’idah [5]: 90)

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah- langkah syaitan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syaitan, maka sesungguhnya syaitan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar.(QS An-Nuur [24]: 21)

g. Melakukan kesyirikan
“Hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir).”(QS Al-Baqarah [2]: 102)

h. Tergopoh-gopoh
Tergopoh-gopoh itu pembawaan dari syaitan, kecuali dalam lima perkara; Menikahkan anak perawan jika telah sampai waktunya, membayar hutang jika sudah sampai janjinya, mengurus mayat bila datang ajalnya, menghormati tamu di kala ia datang bertandang, bertaubat setelah mengerjakan dosa.” (Al-Hadits)

4. Metode Syaitan Menggoda Manusia
Syaitan menggunakan metode yang bertahap dalam menyesatkan manusia dengan cara menjadikan maksiat indah dan menjadikan kebaikkan sesuatu yang menyeramkan, diantaranya adalah:

a. Memoles kebatilan (kemaksiatan, keburukan dan dosa) menjadi indah
• Demikian syaitan menyatakan: “Akan aku jadikan (kebatilan) terlihat indah di muka bumi. Pohon yang diharamkan kepada Adam, dijadikan indah oleh syaitan sehingga Adam memakan dan melanggar larangan Allah.

• Allah berfirman: “Tetapi syaitan menjadikan terasa indah bagi mereka perbuatan mereka (yang buruk).”(QS. An-Nahl: 63)

• Allah berfirman : “Dan syaitan telah menjadikan terasa indah bagi mereka perbuatan-perbuatan (buruk) mereka, sehingga menghalangi mereka dari jalan (Allah), maka mereka tidak mendapat petunjuk.” (QS. An-Naml: 24)
Membuat sukar meninggalkan kemaksiatan

“Maka mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri ketika datang siksaan Kami kepada mereka, bahkan hati mereka telah menjadi keras, dan syaitan pun menampakkan kepada mereka kebagusan apa yang selalu mereka kerjakan.”(QS al-An’am [6]: 43)
• Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma’siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya.” (Q.S Al Hijr [15]: 39)

b. Membuat kubu yang sama-sama ekstrim
• Kubu pertama: Malas, lalai dan meremehkan

  •  kubu kedua: terlalu berlebihan dan ekstrim.
  • Ibnu Qayyim Al Jauziyah berkata: “Tidaklah Allah memerintahkan satu perintah melainkan syaitan akan datang dengan membawa dua bisikan; sikap meremehkan dan sikap ekstrim.

c. Menjadikan manusia malas dan menunda-nunda kebaikan.
• Orang yang malas bangun subuh, Nabi saw mengatakan orang itu telah dikencingi syaitan di kedua telinganya.

d. Syaitan menjanjikan janji palsu dan menjadikan manusia berangan-angan.
“Syaitan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal syaitan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka.” (QS an-Nisaa [4]: 120)

e. Membuat lupa dengan Allah
“Syaitan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah Mereka itulah golongan (partai) setan Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan (partai) setan itulah golongan yang merugi.(QS Al-Mujadilah [58]: 19).
Bagaimana Syetan Menelanjangi Wanita

Syaitan cenderung menggoda manusia dengan berbagai macam strategi, dan yang sering dipakai adalah dengan memanfaatkan hawa nafsu. Syaitan senantiasa mendorong manusia untuk menuruti hawa nafsunya agar tergelincir dari syariat islam. Salah satunya adalah membisikan kepada wanita muslimah untuk menanggalkan hijabnya, sehingga membuat muslimah tadi tidak mempunyai rasa malu lagi membuka auratnya dan berpakaian seksi dan minim didepan laki-laki selain muhrimnya. Jika syaitan gagal membuat muslimah meninggalkan hijabnya, maka syaitan terus menerus membisiki muslimah tersebut untuk tetap berhijab tetapi jauh dari tata cara berhijab yang benar sesuai perintah ALLAH SWT, sebagaimana yang dijelaskan dalam Al-Quran (QS An-Nur: 31 dan  Al- Ahzab: 59).

Si wanita tetap berhijab, tetapi berhijab yang modis, dengan alasan Allah Maha indah dan cinta keindahan. Pada tahap awal, kerudungnya agak diangkat, kemudian mulai dibuka lehernya, kupingnya mulai ditampakkan, selanjutnya kaos kakinya dilepas, bawahannya mulai dinaikkan ke atas, lama kemudian pakai celana, yang pada akhirnya sama sekali menanggalkan hijabnya dan berpakaian minim yang menampakkan lekukkan tubuhnya dan aurat yang lain. Jikalau dua hal itu masih tidak berhasil, maka syaitan senantiasa menggoda muslimah untuk mengikuti hawa nafsunya, yaitu tetap berhijab syari sesuai syariat Allah, tetapi muslimah tersebut terus didorong untuk mengikuti hawa nafsunya dengan selalu sibuk mengkoleksi jilbab-jilbab Syar’i-nya sesuai model yang baru, sehingga lupa untuk mengkoreksi amalan ibadah mahdoh dan akhlaknya.

5. Cara Menolak Syaitan
a. Beriman Kepada Allah
Kita harus benar-benar beriman kepada Allah dan bertawakal kepadanya, sebagaimana firman-Nya: “Sesungguhnya syaitan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang beriman dan orang-orang yang bertawakal hanya kepada Rabb mereka saja.” (QS. An-Nahl: 99)

b. Menuntut Ilmu
Iblis Lebih Takut Kepada Orang Yang Berilmu Dibanding Ahli Ibadah.

• Abu Hurairah dalam hadits marfu’nya menginformasikan,“Sungguh, seorang faqih (orang yang mumpuni agamanya) lebih sulit bagi syaitan daripada seribu ahli ibadah.”(Adabul Imal’ wal Istimla’: I/60).

• Seorang ulama’ hadits yang bernama Muhammad Abdulrahman bin Abdurrahim al-Mubarakfuri mengatakan, “Karena orang yang alim dengan ilmunya, ia tidak mudah terkecoh, bahkan akan menolak tipudaya syaitan. Ia senantiasa mengajak manusia kepada kebaikan. Dan hal itu tidak dijumpai pada diri orang yang ahli ibadah.”

• “Atau maksudnya adalah banyak tipudaya syaitan yang berhasil dimentahkan atau ditolak orang yang alim. Setiap syaitan akan menjebak dan menggelincirkan manusia, orang alim datang dan menjelaskan akan tipu daya tersebut. Akhirnya manusia-manusia itu terhindar dari perangkap dan tipu daya syaitan. Sedangkan orang yang ahli ibadah biasanya sibuk dengan ibadahnya. Karena tidak dilandasi ilmu, akhirnya ia tidak merasa bahwa ibadahnya itu salah dan ia telah terjebak dalam tipudaya syaitan.”(Tuhfatul Ahwadzi: 7/ 374).

Ibnu Abbas berkata, “Sesungguhnya syaitan pernah berkata kepada Iblis,’Wahai tuan kami, kami merasa gembira atas kematian orang yang alim (berilmu), namun kami sangat sedih dengan kematian seorang yang banyak ibadahnya. Karena orang alim itu tidak memberi kesempatan kepada kami, dan dari orang yang banyak ibadahnya kami mendapatkan banyak kesempatan dan bagian yang banyak darinya.”

c. Menjadi hamba yang taqwa
“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu, bila ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah sehingga seketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.” (QS al-A‘raf [7]: 201)

d. Menjadi hamba yang ikhlas
Iblis berkata, “Tuhanku, karena Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang ikhlas di antara mereka.”(QS al-Hijr [15]: 39-40)

f. Banyak mengingat Allah
Dzikir (ingat) kepada Allah Ta’ala dan berlindung dari godaan syaitan terkutuk, Allah Ta’ala berfirman yang artinya: “Jika kamu ditimpa sesuatu godaan syaitan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar Lagi Maha Mengetahui.” (Al-A’raaf:200)

Demikian pula pembacaan Mu’awwidzatain (Al-Falaq dan An-Naas) dijelaskan dalam hadist keutamaan keduanya untuk melindungi kita dan mencegah dari gangguan syaitan. Begitu pula pembacaan ayat kursyi, karena ayat ini dapat menjaga dari syaitan.

e. Memperbanyak tobat
Tugas kita harus mengecewakan syaitan dengan istighfar kita dengan taubat kita
Dikisahkan dari Aisyah ra.:” Bahagialah orang yang dalam catatan amalan banyak dijumpai Istighfar.”

6. Bagaimana syaitan menghias-hias perbuatan seorang Da’i
Al Alamah Abdul Karim Zaidan dalam salah satu kitabnya, di bab: “perilaku syaitan menghias-hias terhadap jamaah kaum muslimin dan da’inya”.

A. Menghias amal yang kalah keutamaannya
1. Syaitan berusaha menghias-hias amal yang kalah keutamaannya, menjadi lebih baik dari amal yang afdhol, untuk mengalahkan amal yang lebih utama.

2. Atau bahkan menjadikan amal yang kurang utama mengalahkan hal yang wajib,
contohnya:
• Pada masa suasana Jihad, mereka lebih mengutamakan i’tikaf di masjid, tartil al quran daripada amalan ribath (Berjaga-jaga di pertabatasan)

• Dulu saat perjuangan masa Diponegoro, penjajah menghabisi Ulama yang mengutamakan Jihad, sehingga tinggal ulama-ulama tarekhat.

• Infaq memperbaiki atau membaguskan masjid lebih di gembor-gemborkankan atau diserukan daripada infaq untuk jihad

• Gerakan berinfaq untuk memperindah bangunan masjid sangat giat. Tapi melempem saat diminta untuk infaq untuk Mujahideen.

• Infaq untuk faqir dan miskin adalah hal yang utama. Tapi infaq untuk anak istri yang memerlukan nafkah maka itulah yang lebih utama.

B. Meluas-luaskan dalam kaedah madlahatul murshalah
Disini ada 2 Istilah:

1. Istishlah: Berupaya meraih kebaikan dengan ukuran akal sehat masyarakat Madinah. Di usung oleh Madzhab Imam Malik, sehingga ada istilah “amalu ahlul madina.”

2. Istihsan: Mencari kebaikan menurut ukuran akal orang yang faqih agama. Di usung oleh Madzhab Imam Hanifah.

Imam Syafií menolak dua qaidah fiqh diatas. Karena hal ini bisa menghasilkan syariat baru yang bisa bertentangan dengan Al-Quran & as-sunah. Oleh karena itu Imam Syafi’iy disebut sebagai Pembela Sunnah.

C. Meluas-luaskan dalam hal menutup kemungkinan yang lain (sad’u dharoiq).
Imam Yahya bin Yahya (bapaknya bernama Yohanes), dari Andalusia, saat itu yang menjadi penguasa adalah Abdurrahman II. Dia bertanya kepada Imam Yahya:  Bagaimana jika berjima’ dengan istri di siang hari bulan Ramadhan?”
Imam Yahya hanya memberikan satu alternatif dan menutup alternatif yang lain, Jawaban beliau hanya: 2 bulan puasa berturut-turut dan tidak ada keringanan sedikitpun.Hal ini dia lakukan agar tidak ada peremehan terhadap syariah.
Harus hati-hati menggunakan keduanya (point b & c)

Hal ini bisa menghasilkan:
• Bisa menjadikan masyarakat yang meremehkan syariah

• Bisa menjadikan masyarakat benci syariah.

• Sehingga dalam hal ini Syaitan akan bisa menghias-hias keburukan dengan kebaikan dan memutarbalikkan hukum.

  •  Haram ==> makruh
  • Wajib ==> Sunnah
  • Sunnah ==> Wajib
  •  Mubah ==> Haram

dsb
d. Syaitan bisa mempermainkan seseorang dalam hal sikap ghuluw (melampaui batas atau berlebih-berlebihan) dalam agama.

Pendapat Ibn Qayyim Al Zauzi dalam mengatasi kemungkaran. Al Ghuluw dalam mencegah kemungkaran atau Al Ghuluw dalam menganjurkan kebaikan (Kema’rufan). Dalam mencegah kemungkaran harus hati –hati.

Jikalau, kemungkaran bisa dicegah dan tidak menimbulkan kemungkaran yang lain, maka harus dimusnahkan. Tetapi apabila kemungkaran ini sampai menimbulkan kemungkaran yang lebih besar, maka harus ada cara atau metode yang lebih baik sesuai syariat Islam, untuk menghentikan kemungkaran yang telah terjadi. Contohnya, seperti saat ini, demokrasi adalah kemungkaran yang paling besar, dimana dalam sistem demokrasi telah mempersekutukan Allah SWT dengan meremehkan hukum-hukum Allah dan membuat hukum sendiri, maka caranya untuk mencegah kemungkaran dari sitem demokrasi tersebut adalah dengan menegakkan syariat islam, dalam bingkai Daulah Khilafah Islamiyah.

e. Dilemahkan dalam masalah Amar Ma’ruf Nahi Mungkar, dalam wacana yang di “Indah” kan

Contoh:Mendidik Anak secara “Demokratis”…biasanya dimaknai dididik secara permisif (serba boleh). Padahal tetap dalam mendidik anak harus ada Amar Ma’ruf Nahi Mungkar.Padahal kalau kita melihat kembali sirah Rasulullah dan kisah sahabat ada seorang Sahabat yang mendidik anaknya dengan cemeti, dan dipuji oleh Rasulullah.Didalam mendidik anaknya, sahabat Rasulullah saw. tersebut bilang kepada anaknya,“anakku, saya sediakan ini cemeti, jika aku berbuat salah maka pukulah aku, tapi apabila kamu berbuat salah, maka aku akan memukul kamu”.Dari kisah tersebut dapat kita ambil ibroh-nya bahwa standart ukuran dalam mendidik anak maupun ber-amar ma’ruf nahi munkar adalah Al-Quran dan As-sunnah.

Contoh lain:
Yang paling parah adalah yang terjadi pada bani Israel melalui lisan nabi Dawud. Bahwa mereka melakukan kemaksiatan dan melampaui batas.Yakni mereka tidak melakukan Amar Ma’ruf Nahi Mungkar.

Dalam hadistnya, Rasulullah saw. menjelaskan: “Dikalangan mereka ada orang-orang yang melakukan kemungkaran, lalu ulama-ulama mereka menasehati pada hari pertama, hari kedua diam, hari ketiga mereka duduk-duduk bersama dan hari keempat mereka malah minum-minum bersama orang-orang yang berbuat maksiat. Mereka merasa sudah memberikan nasehat di hari pertama, dan mereka hanya mencukupkan pada hal itu.”

Padahal aktivitas Amar Ma’ruf Nahi Mungkar ini sangat penting dalam kehidupan bermasyarakat. Kita tidak boleh meremehkannya atau Allah tidak akan mengabulkan doa-doa kaum muslimin dan adzab tidak hanya akan menimpa orang-orang yang Dzalim tapi seluruh manusia.

7. Benteng para pengemban dakwah
a. Menghadirkan pengawasan Allah SWT atas diri kita
Senantiasa muraqabatullah, yaitu menghadirkan Allah dalam setiap gerak langkah kita. Sehingga semua hiasan-hiasan yang syetan letakkan itu akan kita bisa lihat dengan jelas dalam setiap aktivitas kita inshaAllah.

b. Tidak berhenti untuk Belajar dan Mengajar
Agar bisa menghilangkan dari was-was dan penjagaan, tidak terjerumus dalam bid’ah adalah senantiasa Thalabul Ilmi, mengamalkan dan mengajarkan kembali ilmu yang dipelajari. Sehingga hidup dengan Sunnah senantiasa meliputi dirinya dan tidak terjerumus kepada hal yang tidak sesuai dengan syari’at

c. Berpegang teguh pada kaedah-kaedah Fiqh dakwah & menahan Hawa Nafsu
Agar Syaitan tidak berlebih-lebihan atau kurang dalam Amar Ma’ruf Nahi Mungkar. Dalam berdakwah harus tahu bagaimana Adab dan kaedah-kaedah Fiqh Dakwah

Sedikit Kaedah-kaedah Fiqh Dakwah
• Tidak melakukan ke dhaliman. Harus senantiasa adil baik dalam perkataan, pikiran dan perbuatan. Senantiasa menjaga diri agar tidak bermaksiat.

• Keikhlasan dalam memberikan nasehat. Melakukan dakwah karena rasa kecintaan kepada sesama saudara muslim. Kisah Kholifah Harun Ar-Rashid dengan Fudhail bin Iyad.

Khatimah
Syaitan bertugas menyesatkan manusia untuk dijerumuskan ke dalam kefasikan, kemaksiatan, kemusyrikan dan keku-furan, dengan berbagai tipu daya dan propaganda yang menyesatkan, yang nanti menjadi temannya di dalam neraka.

Jika ada terbersit di hati untuk mengikuti langkah-langkah syaitan, maka ingatlah hukuman paling ringan di Neraka, sebagaimana diterangkan dalam firman-NYA,
وَلَئِنْ مَسَّتْهُمْ نَفْحَةٌ مِنْ عَذَابِ رَبِّكَ لَيَقُولُنَّ يَا وَيْلَنَا إِنَّا كُنَّا ظَالِمِينَ
“Dan jika mereka ditimpa sedikit saja azab TuhanMu, pastilah mereka berkata: “Celakalah kami! Sesungguhnya kami termasuk orang-oran yang selalu mendzalimi (diri sendiri)”.(Al Anbiya 21: 46)

Di ayat ini menggambarkan manusia yang berdiri didepan pintu neraka, belum masuk kedalam neraka. Masih didepan pintunya saja, mereka baru terkena uap api neraka, manusia sudah mengatakan bahwa mereka dalam kondisi yang paling sengsara dan buruk, apalagi kalau sampai Allah mencelupkan kita ke neraka. Naudzubillah.

Maka wajib bagi kita untuk melindungidiri dari cengkeraman, godaan dan jebakan-jebakan syaitan, dengan selalu beriman dan bertawakkal kepada Allah Ta’ala, menuntut ilmu syarí dari sumber dan pemahaman yang benar, mengokohkan keikhlasan dalam beribadah dan beramal hanya kepada Allah, serta membentengi diri dengan dzikrullah,muraqabatullah untuk mengingat Allah Ta’ala dengan memohon perlindungan kepada Allah SWT.

Semoga Allah SWT menjauhkan dan menyelamatkan kita dari segala tipu daya Iblis yang menyesatkan. Aamiin. Semoga Artikel ini bermanfaat untuk Sahabat Rumah Kurma Sahara.
Silahkan berbelanja kurma di Rumah Kurma Sahara, Butuh perlengkapan haji? Ingat Toko Rumah Kurma Sahara!
Jalan Raya Semplak Atang Sandjaja No. 224
Bogor Barat – Kota Bogor
Customer Care : 0821-1141-8832 | 0878-7386-0559
Delivery : 0859-2512-6067
WA | PIN BB : 0878-7386-0559 | DA7A086

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *