Ujian Jalan Menuju Kemenangan

Setiap manusia yang diciptakan Allah senantiasa akan diberi ujian, cobaan, musibah, atau permasalahan hidup yang selalu akan menderanya. Tidak akan pernah ada seorang manusiapun yang tidak pernah mendapatkan cobaan. Setiap orang pasti pernah punya masalah, siapapun dia, tidak peduli dia kaya atau miskin, pejabat atau rakyat biasa, tua atau muda, rupawan atau buruk rupa, pria atau wanita. Yang jelas, siapapun dia, pasti merasakan kesulitan-kesulitan hidup.
Keimanan, keyakinan, tawakkal dan kesabaran yang kokoh amatlah dibutuhkan oleh seorang hamba dalam menghadapi badai cobaan yang menerpanya. Sehingga tidak menjadikan dirinya berburuk sangka kepada Allah Subhanahu wata’ala terhadap apa yang telah ditentukan baginya.
Oleh karena itu, dalam keadaan apapun seorang hamba yang beriman kepada-Nya harus senantiasa berbaik sangka kepada Allah. Dan haruslah diyakini bahwa tidaklah Allah menurunkan berbagai musibah melainkan sebagai batu ujian atas keimanan yang mereka miliki.

I. Hidup adalah ujian

Dalam menghadapi kehidupan di dunia ini, manusia selalu berhadapan dengan dua keadaan silih berganti. Suatu saat merasakan kesenangan, saat lain merasakan kesusahan. Bagi hamba Allah SWT yang beriman, hidup ini adalah ujian, selama kita hidup selama itulah kita diuji oleh Allah SWT.

Kebanyakan manusia mengira bahwa ujian itu hanya berupa kesengsaraan hidup, pada saat manusia sedang ditimpa musibah seperti sakit, rugi, dirampok, kebakaran, kelaparan, kekurangan harta, dan kematian, mereka berfikir bahwa itu merupakan kesempitan untuk menghinakan manusia. Akhirnya mereka lengah dan lalai dalam menjalani ujian hidup ini karena beban berat yang dihadapinya.

Sebaliknya, manusia ketika diberikan kesenangan dan kemudahan, seperti sehat, untung, naik pangkat, kelebihan harta, mereka seringkali berfikir bahwa itu bukan merupakan suatu ujian. Manusia selalu merasa bahwa kenikmatan dan kekayaan adalah jalan Allah untuk memuliakan manusia. Padahal walau nampak baik namun tetap ujian juga namanya. Artinya dengan kesehatan apakah dimanfaatkannya untuk berbuat baik atau maksiat. Ketika mendapat untung apakah hartanya dimanfaatkan untuk kebaikan (menafkahi keluarga, sedekah, zakat) apa maksiat. Ketika naik jabatan akankah jabatannya dimanfaatkan untuk kebaikan atau khianat.

Sesungguhnya kenikmatan dan kesempitan bukan menjadi tolak ukur hina dan mulianya manusia. Tetapi yang menjadi tolak ukurnya adalah bagaimana kita menyikapi segala sesuatu yang buruk bagi kita dan sesuatu yang baik bagi kita. Pada saat bahagia, terkadang manusia menjadi lupa dan sebaliknya, saat duka mendera, seringkali manusia berkeluh kesah.

Ujian dan cobaan yang menimpa manusia ada berbagai macam bentuknya, yaitu ujian dalam kesusahan, dan ujian dalam bentu kesenangan, sebagaimana firman Allah SWT sebagai berikut:

  •  “Dan sungguh akan Kami berikan ujian kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabra”. (QS.AL BAQARAH: 155)
  •  “Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu…” [QS Al imron:186]
  •  “Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai ujian dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar”. [8:28]
  •  “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai ujian (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan”. [21:35]

II. Ujian: hal yang pasti bagi keimanan

Allah SWT akan menguji bagi hambanya yang beriman kepada-Nya dengan ujian yang akan meneguhkan keimanannya. Sebab dengan adanya ujian tersebut, kadar keimanan seseorang akan terlihat, sekuat manakah keimanan dan keyakinan kita akan karunia dan pertolongan yang akan Allah berikan kepada kita disaat kita ditimpa ujian maupun cobaan. Jika mereka kuat dengan ujian serta cobaan tersebut, berarti dia telah benar-benar beriman kepada Allah SWT dan baginya pahala yang melimpah, surga tempat kembalinya. Namun, bila dengan datangnya ujian tersebut mereka berpaling dari Allah SWT, mereka berpaling dari kebenaran, terbukti bahwa iman mereka lemah, cahaya keimanan hanya sekedar dalam lisan tidak sampai kehati mereka yang munafiq.

Allah SWT berfirman dalam Al Quran:

  •  “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (ujian) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat”. [Al baqarah: 214]
  • Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?” [Al Ankaboot: 2]
  • “Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta”. [Al Ankaboot: 3]
  • Diriwayatkan dari Sa‘ad bin Abi Waqqos, ia berkata, “Aku berkata, “Wahai Rosululloh, siapakah manusia yang paling dahsyat ujiannya?” Rosululloh bersabda, “Para nabi, setelah itu orang-orang sholeh, setelah itu yang berikutnya dan berikutnya. Seseorang diuji sesuai kadar agamanya. Jika agamanya kuat, bala-nya pun bertambah. Jika kadar agamanya tipis, balanya diringankan. Dan orang beriman akan terus ditimpa bala sampai ia berjalan di muka bumi tanpa sedikitpun ada kesalahan pada dirinya.” (dalam shahih Bukhari – Muslim)

III. Ujiannya Para Nabi

Ujian dan cobaan bukan hanya untuk kita orang-orang awam semata, bahkan para nabi dan rasul adalah paling berat ujian dan cobaannya seperti dikatakan dalam hadits diatas. Mereka benar-benar mendapatkan ujian yang maha dasyat, lebih dari ujian maupun cobaan yang kita rasakan.
Orang-orang beriman terdahulu telah ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sebagai cara Allah SWT untuk mendeteksi siapa yang benar dalam pengakuan keimanannya dan siapa yang berdusta.

Dibawah ini adalah beberapa ujian yang ditimpakan kepada para nabi & rasul Allah saat mendakwahkan tauhid Allah:

1. Ujian Nabi Adam as
Jalan Nabi Adam dalam memikul kalimat Laa ilaha ilallah, harus menanggung kelelahan dalam menempuhnya.

2. Ujian Nabi Nuh as
Beliau berdakwah selama 950 tahun untuk mengajarkan tauhid, namun yang beriman hanyalah sekitar 80 orang. Kaumnya mendustakan dan memperolok-olok, mencaci maki dan menuduh bodoh Nabi Nuh. Pengikut beliaupun dikatakan orang-orang dungu. Kaumnya tetap menolaknya dan beliau diancam akan dibunuh atau dirajam jika tidak berhenti dari dakwah, lihat [QS Asy-syu’araa; 116].
Mereka menutup muka dengan baju dan menyumbat telinga dengan jari-jari mereka Lalu, Allah mendatangkan banjir yang besar, kemudian menenggelamkan mereka yang ingkar, termasuk anak dan istri Nabi Nuh. (QS Al-Ankabut: 14).

3. Ujian Nabi Ibrahim as
Sementara itu Al-Kholil (kekasih Alloh) Nabi Ibrahin as. atas keyakinannya yang kuat terhadap Islam dimulai dari pencariannya akan Tuhan, dia sangat tidak menerima orang-orang disekitarnya yang menyembah berhala, sampai akhirnya dia dibakar hidup-hidup dalam api yang menyala-nyala, hingga akhirnya pertolongan Allah SWT datang karena kekuatan iman dan ketabahannya. Nabi Ismail harus rela untuk disembelih.

4. Ujian Nabi Luth as
Umat Nabi Luth terkenal dengan perbuatan menyimpang, yaitu hanya mau menikah dengan pasangan sesama jenis (homoseksual dan lesbian). Ketika Nabi Luth as. menasihati kaumnya, malah beliau dan keluarganya diancam untuk diusir, mereka tak mau bertobat. Allah akhirnya memberikan azab kepada mereka berupa gempa bumi yang dahsyat disertai angin kencang dan hujan batu sehingga hancurlah rumah-rumah mereka. Dan, kaum Nabi Luth ini akhirnya tertimbun di bawah reruntuhan rumah mereka sendiri (QS Alsyu’araa: 160, Annaml: 54, Alhijr: 67, Alfurqan: 38, Qaf: 12).

5. Ujian Nabi Yusuf as
Beliau sejak kecil mendapat ujian yang berat. Dibuang ke sumur oleh saudaranya lantaran cemburu pada umur 6 tahun, selama 16 tahun, Kemudian diperjual belikan menjadi budak dengan harga murah, lalu menjadi anak angkat Zulaikha, ibu angkatnya menggodanya untuk berbuat jahat, tetapi ditolak, malah berdo’a supaya dipenjarakan. Maka Allah mengabulkan do’anya, beliau dipenjara selama 7 tahun, seperti dalam firman Allah SWT:
“Yusuf berkata: “Wahai Tuhanku, penjara lebih aku cintai daripada ajakan mereka itu kepadaku. Jika Engkau tidak menyelamatkan aku dari godaannya kepadaku, niscaya aku termasuk orang yang jahil.” Allah mengabulkan permohonan Yusuf, lalu Dia selamatkan Yusuf dari godaan mereka. Sungguh Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” [QS. Yusuf, 12: 33-34]

6. Ujian Nabi syu’aib as terhadap kaum madyan
Ketika Nabi Syu’aib berdakwah kepada Kaum Madyan yaitu segolongan bangsa arab yang tinggal didaerah ma’an, pinggiran negeri syam yang selalu melakukan penipuan dan kecurangan dalam perdagangan, bila membeli, mereka minta dilebihkan dan bila menjual selalu mengurangi, untuk bertauhid kepada Allah semata, dan menasehati mereka agar menyempurnakan timbangan dan takaran dalam perdagangan. Dan ketika beliau menyerukan kepada kaum Atikah yang menyembah sebidang padang tanah yang pepohonanya sangat rimbun dan penyembah hutan lebat untuk hanya beriman kepada Allah, maka mereka menanggapi dengan kasar dan mengancam akan menyiksa dan merajam Nabi syu’aib jika tidak menghentikan dakwahnya.
Maka Allah menimpakan azab pada penduduk Madyan dengan gempa maha dahsyat sehingga mereka mati bergelimpangan, serta mengazab penduduk aikah berupa hawa panas yang teramat sangat. Kendati mereka berlindung di tempat yang teduh, hal itu tak mampu melepaskan rasa panas
Kisah Nabi Syu’aib Alaihissalam diceritakan dalam Surat (Asy-Syu’ara: 176-191, Hud: 84-95, Al-A’raf: 85-93, Al-Hijr: 78-79, QS Attaubah: 70, Alhijr: 78, Thaaha: 40, dan Alhajj: 44).

7. Nabi Hud as
Nabi Hud as diutus meluruskan akidah Kaum ‘Ad yang terkenal memiliki fisik kuat dan menempati wilayah yang subur, sehingga hidup makmur. Hanya saja mereka menyembah dan mempertuhankan berhala. Selain itu kehidupan mereka menganut hukum rimba, yang kuatlah yang berkuasa. Mereka mendustakan kenabian Nabi Hud as dan menuduhnya sebagai pendusta yang tidak patut didengar tutur katanya. Allah lalu mendatangkan angin yang dahsyat disertai dengan bunyi guruh yang menggelegar hingga mereka tertimbun pasir dan akhirnya binasa. Lihat kisah Nabi Hud dalam (QS At Taubah: 70, Al Qamar: 18, Fushshilat: 13, An Najm: 50, Qaaf: 13, Hud: 60)

8. Nabi shaleh as
Nabi Saleh AS adalah nabi kelima yang diutus oleh Allah SWT untuk berdakwah kepada kaum Tsamud. Kaum Tsamud adalah penyembah berhala. Nabi Saleh menyeru kaumnya kepada jalan yang benar untuk beriman hanya kepada Allah semata. Namun, kaum Tsamud mendustakan, mengacuhkan, menertawakan dan mengejek Nabi Saleh sebagai seorang pembohong juga sinting. Akhirnya, mereka ditimpa azab yang pedih. Namun Nabi Saleh tidak putus asa. Segala cara ia lakukan untuk menyadarkan kaumnya, sekian lama beliau berdakwah, Nabi Saleh hanya memiliki beberapa orang pengikut yang kebanyakan orang-orang miskin.

9. Nabi Musa as
Beliau ditugaskan berdakwah kepada Firaun Mesir dan Bani Israil di Mesir. Beliau mempunyai kesabarannya yang tinggi dalam menghadapi dan berdakwah kepada Firaun dan kaumnya yang selalu membangkang. Ketika Musa a.s akan menerima wahyu di Bukit Sinai, pengikutnya yang dipimpin Samiri menyeleweng dengan menyembah berhala emas anak sapi (lembu). Harun a.s yang ditugasi mengganti tugas Musa a.s, tidak sanggup untuk menghalangi niat mereka, bahkan ia diancam hendak dibunuh.

10. Ujian Nabi Isa as
Isa as diangkat menjadi Nabi untuk mengajarkan tauhid. Selama berdakwah Nabi Isa as.mendapat tantangan keras dari pemuka-pemuka Yahudi, mereka mempengaruhi penduduk Roma, bahwa dakwah Isa meremehkan Kaisar, dan berusaha menghancurkan kerajaan. Akhirnya hakim-hakim di Roma memerintahkan tentara Roma menangkap dan menghukum Isa di tiang salib. Di tengah pengejaran yang dilakukan, Allah SWT menghadirkan seseorang yang menyerupai Isa. Maka ditangkaplah orang itu dan dihukum salib. Sedangkan Isa as diselamatkan oleh Allah sesuai ketentuan yang telah ditetapkan bahwa Isa selalu dianugerahi keselamatan.

IV. Ujiannya Rasulullah SAW dan Para shahabat/ shahabiyyah

Rosulullah selama berdakwah untuk menyebarkan agama islam di Mekkah dan Madinah, beliau sendiri harus hidup akrab dengan kemiskinan dan berbagai intimidasi.

Shahabiyah Bilal bin Rabah Bilal bin Rabah, seorang Hamba Sahaya keturunan Habsyah, berkulit hitam, yang menjadi hamba sahayanya Umayah bin Khalaf. Bilal yang diketahui memeluk agama islam, oleh Abu Jahal dan Umayah bin Khalaf. Saat Terik padang pasir menyengat, tubuh bilal yang tanpa pakaian diseret dan di arak oleh para pemuda kaum kafir quraisy mengelilingi kota lalu di bawa ke padang pasir yang panas dan dipakaikan baju besi, agar tersiksa oleh panasnya gurun pasir yang akan terasa seperti dalam perapian, Lecutan demi lecutan cambuk dilayangkan agar kembali menyembah latta dan Uzza dan meninggalkan ajaran Muhammad. Ummayah menindihkan batu panas ke dada bilal yang tidak terbalut pakaian, serta dicambuk oleh para algojonya di punggungnya…Namun Bilal hanya menyeru Ahad…! Ahad…! Ahad…!. Ucapan Bilal yang diucapkan dengan keyakinan, dan kesabaran yang luar biasa itu semakin membuat siksaan yang diterimanya semakin berat.

Pada kala itu saat Keluarga Yasir, istrinya sumayyah dan anaknya ‘ammar bin Yasir menyatakan keislamannya kepada kaum quraisy, maka setiap hari Yasir, Sumayyah, dan ‘Ammar dibawa ke padang pasir Mekah yang demikian panas, lalu didera, dicambuk, disalib di hamparan gurun yang panas, ditindih dengan batu laksana bara merah, dibakar dengan besi panas, bahkan sampai ditenggelamkan ke dalam air hingga sesak nafasnya dan mengelupas kulitnya yang penuh dengan luka sampai tidak sadarkan diri karena siksaan, tetapi mereka hatinya tetap berpegang teguh baginya Allah adalah satu-satunya Tuhan yang ia sembah dan tetap menyebut nama Allah sambil merintih, kemudian Abu Jahal lalu menusukkan tombak yang digenggamnya ke dalam kemaluan Sumayyah hingga tewas. Keimanan Sumayyah yang tidak goyah walau mendapat siksaan berat dari penguasa menjadikannya sebagai wanita muslim pertama yang merasakan mati syahid.
Sahabat Rasul Mush’ab bin Umair adalah salah seorang pahlawan dan pembawa bendera perang dalam perang uhud. Ketika situasi mulai gawat karena kaum Muslimin melupakan perintah Nabi, maka ia mengacungkan bendera setinggi-tingginya dan bertakbir sekeras-kerasnya, lalu maju menyerang musuh. Targetnya, untuk menarik perhatian musuh kepadanya dan melupakan Rasulullah SAW, sehingga Mush’ab pun gugur sebagai bintang dan mahkota para syuhada. Tak sehelai pun kain untuk menutupi jasadnya selain sehelai burdah. Andai ditaruh di atas kepalanya, terbukalah kedua belah kakinya. Sebaliknya bila ditutupkan di kakinya, terbukalah kepalanya. Maka Rasulullah SAW bersabda, “Tutupkanlah ke bagian kepalanya, dan kakinya tutuplah dengan rumput idzkhir!”

Abdullah bin mas’ud adalah sahabat rasul yang bertubuh kurus dan kecil, namun suaranya sangat indah. Suatu hari ia mendatangi orang-orang Quraisy. Di depan mereka dibacakannya ayat-ayat Al-Qur’an. Ayat-ayat indah itu semakin menakjubkan bila dibacakan Abdullah bin Mas’ud. Mulanya orang-orang Quraisy terpana, namun ada yang beteriak bahwa itu adalah ayat Al-Qur’an yang dibawa Muhammad Saw, mereka memukuli Abdullah bin Mas’ud sampai babak belur. Sungguh pun demikian, bila tidak dicegah para sahabat Nabi yang lain, Abdullah bin Mas’ud berniat kembali keesokan harinya untuk berbuat hal yang sama.

V. Ujian kaum Muslimin saat ini

Belum lagi ujian yang dialami saudara kita di Gaza, Afghanistan, Pakistan, rohingya, suriah, Uzbekistan, Chechnya dan negri- negri mayoritas muslim lainnya. Saudara kita tidak bisa tidur nyenyak, makanan pun seadanya, pakaian yang melekat di badan mungkin hanya itu-itu saja. Para wanita kehilangan anak, suami dan kerabat dekat mereka. Anak-anak kehilangan ibu dan ayah mereka. Setiap hari hidup mereka dihiasi dengan dentuman bom dan kekhawatiran. Sampai- sampai para muslimah disana selalu mengenakan pakaian lengkap, jilbab dan kerudung ketika mereka tidur. Karena mereka khawatir pada saat mereka tertidur bom bisa saja menghampiri rumah mereka dan ketika saat itu tiba, mereka ingin auratnya tertutup.

VI. Sabar dan Tawakkal kunci Kemenangan

A. Sabar

Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati, bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup tetapi kamu tidak menyadarinya. Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang sabar (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan ‘Inna lillahi wa inna ilaihi rajiuun’. Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS. Al Baqarah 153 – 154)

Hadits Rasulullah Saw bersabda : “Sungguh menakjubkan seorang mukmin itu, jika mendapatkan perkara yang menyenangkan, dia bersyukur dan bersyukur itu baik baginya. Jika dia ditimpa perkara yang tidak menyenangkan, dia bersabar dan bersabar itu baik baginya”
Jenis-jenis ujian yang akan menimpa manusia sebagai ujian dalam menjalankan Islam dan mengemban dakwah serta menjelaskan janji-Nya”;

Pertama, terbunuh dalam jihad fisabilillah. Yaitu terbunuhnya seseorang yang sedang memerangi musuh-musuh Allah dalam rangka menegakkan kalimatNya

Kedua, ujian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, teman, jiwa dan buah-buahan.

Menurut Imam Al Qurtubi, ujian atau bala’ itu ada yang baik maupun yang buruk. Ayat ini berarti bahwa Allah Swt menguji kaum muslimin agar Dia mengetahui siapa mujahid dan yang sabar.
Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan bahwa ujian Allah itu terkadang sesuatu yang menyenangkan dan terkadang sesuatu yang tidak menyenangkan, seperti rasa takut dan lapar.

“Jadikanlah sabar dan solat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat sekali kecuali bagi orang yang khusyuk.” [QS Al-Baqarah:45]

Definisi Sabar

Sabar adalah anda berkata atau melakukan tindakan yang benar lalu anda memikul beban derita di jalan Allah akibat berkata dan bertindak benar itu, tanpa anda menyimpang, melemah, dan melunak alias menyerah. Sesungguhnya sabar adalah sesuatu yang diletakkan oleh Allah berurutan dengan taqwa.

Sesungguhnya sabar adalah sifat yang dilekatkan oleh Allah kepada para mujahidin. Dia berfirman :

“Dan berapa banyak Nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yan bertaqwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar” (QS. Ali Imron 146).

“Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi Kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan” (QS. Ali Imron 186).

B. Tawakkal

Seringkali dijumpai dalam firman-Nya, Allah Ta’ala menyandingkan antara tawakal dengan orang-orang yang beriman. Hal ini menandakan bahwa tawakal merupakan perkara yang sangat agung, yang tidak dimiliki kecuali oleh orang-orang mukmin. Bagian dari ibadah hati yang akan membawa pelakunya ke jalan-jalan kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Diantara firman-Nya tentang tawakal ketika disandingkan dengan orang-orang beriman;

  •  “… dan bertaqwalah kepada Allah, dan hanya kepada Allah hendaknya orang-orang beriman bertawakal” (QS. Al Ma’idah: 11).
  •  ” Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, dan apabla dibacakan ayat-ayatNya kepada mereka, bertambahlah imannya, dan hanya kepada Rabb mereka bertawakal” (QS. Al Anfal : 2).

Definisi tawakkal

Imam Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Hakikat tawakal adalah hati benar-benar bergantung kepada Allah dalam rangka memperoleh maslahat (hal-hal yang baik) dan menolak mudhorot (hal-hal yang buruk) dari urusan-urusan dunia dan akhirat”

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Tawakal adalah menyandarkan permasalahan kepada Allah dalam mengupayakan yang dicari dan menolak apa-apa yang tidak disenangi, disertai percaya penuh kepada Allah Ta’ala dan menempuh sebab (sebab adalah upaya dan aktifitas yang dilakukan untuk meraih tujuan) yang diizinkan syari’at.”

Dari definisi sebelumnya para ulama menjelaskan bahwa tawakal harus dibangun di atas dua hal pokok yaitu bersandarnya hati kepada Allah dan mengupayakan sebab yang dihalalkan.
Tawakal bukanlah pasrah tanpa berusaha, namun harus disertai ikhtiyar/usaha.

Dari Umar bin Al Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seandainya kalian betul-betul bertawakal pada Allah, sungguh Allah akan memberikan kalian rezeki sebagaimana burung mendapatkan rezeki. Burung tersebut pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali sore harinya dalam keadaan kenyang.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Al Hakim. Dikatakan shahih oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash Shohihah no. 310)

Apabila seorang hamba bertawakal kepada Allah dengan benar-benar ikhlas dan terus mengingat keagungan Allah, maka hati dan akalnya serta seluruh kekuatannya akan semakin kuat mendorongnya untuk melakukan semua amalan. Sebagaimana Allah ta’ala berfirman;

“Dan apabila Allah menimpakan kepadamu suatu bahaya maka tidak ada yang bisa menyingkapnya selain Dia, dan apabila Dia menghendaki kebaikan bagimu maka tidak ada yang bisa menolak keutamaan dari-Nya. Allah timpakan musibah kepada siapa saja yang Dia kehendaki, dan Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Yunus: 107)

Untuk mewujudkan tawakal yang benar dan ikhlas diperlukan syarat-syarat, yaitu:

pertama: bertawakal hanya kepada Allah saja (QS. Huud: 123),
• kedua: berkeyakinan yang kuat bahwa Allah Maha mampu mewujudkan semua permintaan dan kebutuhan hamba-hamba-Nya dan semua yang didapatkan hamba hanyalah dengan pengaturan dan kehendak Allah (QS. Ibrahim: 12),
• ketiga: yakin bahwa Allah akan merealisasikan apa yang di-tawakal-kan seorang hamba apabila ia mengikhlaskan niatnya dan menghadap kepada Allah dengan hatinya (QS. Ath-Thalaq: 3),
• keempat: tidak putus asa dan patah hati dalam semua usaha yang dilakukan hamba dalam memenuhi kebutuhannya dengan tetap menyerahkan semua urusannya kepada Allah (QS. At-taubah: 129).

Dengan tawakal yang sebenarnya kepada Allah Ta’ala akan menjadikan hati seorang mukmin ridha kepada segala ketentuan dan takdir Allah, yang ini merupakan ciri utama orang yang telah merasakan kemanisan dan kesempurnaan iman. Seperti sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Akan merasakan kelezatan/kemanisan iman, orang yang ridha dengan Allah Ta’ala sebagai Rabb-nya dan islam sebagai agamanya serta (nabi) Muhammad saw. sebagai rasulnya”

Sementara itu kesalahan dalam memahami dan mengamalkan tawakal akan menyebabkan rusaknya iman dan bisa menyebabkan terjadi kesalahan fatal dalam agama, bahkan bisa terjerumus dalam kesyirikan, baik syirik akbar (syirik besar) maupun syirik asghar (syirik kecil). Adapun kesalahan dalam tawakal yang menyebabkan terjerumus dalam syirik akbar adalah seseorang bertawakal kepada selain Allah, dalam perkara yang hanya mampu diwujudkan oleh Allah.

Kiat Menghadapi Ujian

Shalat memberikan energi yang kuat kepada seorang mukmin dalam menghadapi kedzaliman dan orang-orang yang zalim. Juga memberikan tekad yang bulat dalam mempertahankan kebenaran, memberikan ketegaran, keyakinan yang kuat dan tidak mudah tergoyahkan.

Sabar yang disebut sebelum shalat dalam ayat di atas, adalah untuk menonjolkan urgensi dari sabar. Shalat merupakan hubungan seorang hamba dengan Rabb-nya, sedangkan sabar merupakan hubungan antara seseorang hamba dengan Rabb-nya, dirinya dan sesama manusia. Dan sabar merupakan ukuran dari ketegaran tatkala menghadapi kesulitan dan berbagai musibah.
Allah menjelaskan bahwasanya seorang muslim tatkala bersabar atas ujian dan mengembalikan perkara itu kepada Allah dan mengucapkan ‘Inna lillaahi wa inna ilaihi rojiuun’ (ayat 156) maka akan mendapatkan pahala yang besar. Bukan hanya itu, bahkan di duniapun mereka mendapatkan kebaikan yang banyak!

Tidaklah salah seorang hamba ditimpa musibah lalu mengucapkan inna lillaahi wa inna ilaihi rajiuun, lalu mengatakan ya Allah, berikanlah pahala kepadaku dalam musibahku dan gantikanlah untukku sesuatu yang lebih baik darinya, melainkan niscaya Allah Swt akan memberikan pahala kepadanya dalam musibahnya itu dan memberikan ganti kepadanya yang lebih baik”
Ummu Salamah berkata: Tatkala Abu Salamah wafat akan mengucapkan apa yang diperintahkan Rasulullah kepadaku dan Allah menggantikan untukku yang lebih baik darinya yaitu Rasulullah Saw.

KHATIMAH

Sesungguhnya dengan sabar dan tawakkal, maka kemenangan itu akan semakin dekat. Sabar atas ujian atau qadha, membuat orang menjadi tegar, bukan menjadi goyah, serta membuat orang berpegang teguh kepada Al Qur’an, bukan malah menjauhinya. Dan sabar itulah yang menambah seseorang menjadi dekat kepada Allah, bukan malah menjauh. Allah SWT berfirman:

“Maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: ‘Bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim” (QS. Al Anbiya’ 87).

Saatnya seluruh pengemban dakwah melakukan muhasabah terhadap diri sendiri, mengakui kelemahan dan kekurangan curahan usaha dan perhatian terhadap dakwah, tenggelam dalam kesibukan diri dan selalu mencari-cari jalan untuk membenarkan itu semua. Saatnya meluruskan kembali keikhlasan diri, memantapkan langkah dan menata diri agar lebih bersemangat dalam menapaki jalan dakwah. Yakinlah bahwa Allah SWT tidak akan menyia-nyiakan pengorbanan dan perjuangan hamba-hamba-Nya. Pertolongan akan dilimpahkan kepada mereka yang bersungguh-sungguh menegakkan agama-Nya.

Semoga, dengan ujian dan cobaan yang kita hadapi akan membuat kita kembali pada Allah, dengan selalu sabar dan tawakal menerima apa yang telah ditakdirkan, menyadari kesalahan dan berusaha memperbaharui segala perbuatannya agar senantiasa mendapat ridha Allah SWT. Aamiin

Semoga Artikel ini bermanfaat untuk Sahabat Rumah Kurma Sahara.
Silahkan berbelanja kurma di Rumah Kurma Sahara, Butuh perlengkapan haji? Ingat Toko Rumah Kurma Sahara!
Jalan Raya Semplak Atang Sandjaja No. 224
Bogor Barat – Kota Bogor
Customer Care : 0821-1141-8832 | 0878-7386-0559
Delivery : 0859-2512-6067
WA | PIN BB : 0878-7386-0559 | DA7A086

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *