Muraqabah dan Muhasabah

“(Yaitu) orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Luas ampunan-Nya. Dan Dia lebih mengetahui (keadaan)mu ketika Dia menjadikan kamu masih berupa janin dalam perut ibumu; maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertaqwa. (TQS.53; [32])

Ayat diatas menyadarkan kita akan beberapa hal, yaitu;
• Betapa kita sebagai manusia itu lemah, dan sering khilaf
• Seandainya kita terhindar dari dosa-dosa besar, kita pasti tidak akan terhindar dari dosa-dosa kecil.
• Jangan merasa dan mengklaim diri suci.
• Ampunan- Nya yang luas.

Qarin (Syaithan), Menjerumuskan Manusia

Selain sifat manusia yang lemah, mudah lupa, khilaf, kikir dan berkeluh kesah, penyebab terjerumusnya manusia ke dalam lembah kenistaan dan kemaksiatan adalah karena godaan syaithan.
Allah SWT berfirman; “Barangsiapa yang berpaling dari peringatan Tuhan Yang Maha Pemurah (Al-Qur’an), Kami adakan baginya Syaithan (yang menyesatkan). Maka syaithan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya (qarin). Dan sesungguhnya syaithan-syaithan itu benar-benar mengahalangi manusia dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk.”(TQS.Az-Zukhruf (43); 36, 37)
Qarin/syaithan akan sukses menggoda kalau berpaling dari ajaran-Nya (Al-Qur’an). Namun sering kali kita menyangka berada dijalan yang benar dan mendapat petunjuk-Nya, padahal sudah tersesat.
Dan hanya Rasulullah SAW saja yang tidak bisa digoda oleh qarin, Qarin tidak mampu menyerupai Beliau SAW. Karena lemah dan rentannya kita sebagai manusia maka perlu faham muraqabah dan muhasabah.

Pengertian Muraqabah dan Muhasabah

1. MURAQABAH

Definisi muraqabah adalah upaya diri untuk senantiasa merasa terawasi oleh Allah (muraqabatullah). Manusia akan aktif mengawasi dan mengontrol dirinya karena ia sadar senantiasa berada dalam pengawasan Allah SWT, sebagaimana firman Allah SWT:
“…Dan Dia bersama kamu dimana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan”. (QS. [57]; 4,
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan hatinya, dan kami lebih dekat kepadanya dari urat lehernya”. (Qs. [50]; 16)
“Dan pada sisi Allahlah kunci-kunci semua yang ghaib, tak ada yang mengetahuiinya Dia sendiri dan Dia mengetahui apa yang didaratan dan dilautan, dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetauinya (pula), dan tidak jatuh sebutir pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)”. (Qs. [6]; 59)
“…. sesungguhnya sesuatu perbuatan seberat biji sawi dan berada dalam batu atau langit atau didalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkan (membalasinya) sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui”. (Qs. [31]; 16)
“Jangan engkau mengatakan engkau sendiri, sesungguhnya Allah bersamamu. Dan janganlah pula mengatakan tidak ada yang mengetahui isi hatimu, sesungguhnya Allah mengetahui. (HR.Ahmad)
Muraqabah akan melahirkan ma’iyatullah (kesertaan Allah) dalam diri, contohnya; Ketika A.Bakar cemas musuh akan mengetahui keberadaan Nabi saw dan menangkapnya. Rasulullah SAW mengatakan;”Sesungguhnya Allah bersama kita.”(TQS. [9]; 40)
Atau pada waktu Nabi Musa menghadapi Fir’aun dan ketika Nabi Ibrahim diseret dan dibakar, beliau yakin akan kesertaan Allah bersamanya.

2. MUHASABAH

Definisi dari Muhasabah adalah usaha seorang muslim untuk menghitung, mengkalkulasi diri seberapa banyak dosa yang telah dilakukan dan kebaikan apa saja yang belum dilakukannya.
Dengan muhasabah akan selalu ada kesadaran bahwa segala sesuatu yang dikerjakannya tengah dihisab dan dicatat oleh Raqib dan Atid. Sehingga ia berusaha menghisab dirinya agar dapat memperbaiki dirinya. Allah SWT berfirman:
“ Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri, memperhatikan bekal apa yang dipersiapkannya untuk hari esok (kiamat). Bertaqwalah kepada Allah sesunggunya Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan”. (QS. [59]; 18)
“Dan bersegerahlah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu mendapatkan syurga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertaqwa”. (QS. [3]; 133)
Ucapan Umar r.a sahabat Rosulullah SAW,”Hisablah dirimu sebelum kelak engkau dihisab.”

Lakukan muhasabah sejak dini dan secara berkala, karena;

  •   Segala perbuatan dicatat oleh Malaikat Raqib dan Atid. Allah SWT berfirman: “ketika dua malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk disebelah kanan dan yang lain duduk disebelag kiri. Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada disisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat)”. (QS. [50]; 17-18)
  • Setiap kebaikan atau kejahatan sekecil apapun akan dibalas, sebagaiman firman Allah SWT: “Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula “. (QS. [99]; 7-8)
  •   Betapa dahsyatnya hari penghisaban, perhitungan dan pembalasan. Sebagaimana firman Allah SWT: “Pada hari itu manusia lari dari saudaranya. Dan dari ibu dan bapaknya. Dan dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkannya”. (Qs. [80]; 34-37)
  • “Maka apabila mata terbelalak (ketakutan), Dan apabila bulan telah hilang cahayanya, dan matahari dan bulan dikumpulkan, pada hari itu manusia berkata’kemana tempat berlari?’ tidak! Tidak ada tempat berlindung, hanya kepada Tuhanmu tempat kembali pada hari itu”. (QS. [75]; 7-12)

Urgensi Muraqabah dan Muhasabah

Bila setiap muslim senantiasa memuraqabahi dirinya dan menghadirkan muraqabatullah dalam dirinya maka ia akan takut maksiyat dan bila setiap muslim gemar memuhasabahi dirinya karena takut perhitungan hari akhirat, maka: akan terwujud masyarakat yang aman karena semua memiliki WasKat.
Seseorang yang senantiasa memperhitungkan tindak tanduknya dengan perspektif ukhrawi maka akan terhindar dari penyakit wahn, keserakahan, kedzaliman, penindasan dan kemungkaran. Serta akan berusaha menanam kebajikan sebanyak mungkin. Ibnul Qayyim Al-Jauziyah mengibaratkan bahwa “dunia sebagai ladang tempat menanam, bibitnya adalah keimanan dan ketaatan adalah air dan pupuknya, dan Akhirat tempat memetik hasilnya.”
‘Baldatun thayyibatun warabbun ghafur’ bukan hanya slogan. Bila muslimnya mampu menjadi “ustadziatul ‘alam” dan khalifatullah fil Ardhi maka dunia akan terbebas dari bencana, kerusakan & kemurkaan Allah. Lihat (QS. [2]; 10-11, dan Qs. [30]:41)

Tahapan-Tahapannya

Adapun 6 langkah untuk Muhasabah dan Muraqabah, yaitu;

1. Mu’ahadah adalah Mengingat dan mengokohkan kembali kembali perjanjian kita dengan Allah SWT dialam ruh. Firman Allah SWT: “Dan ingatlah, ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman), ‘bukankan Aku ini Tuhanmu?’ mereka menjawab, ‘betul Engkau Tuhan kami, kami bersaksi.’ (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakn: ‘sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini( keesaan Tuhan)’ “. (QS.[7];172)
2. Muraqabah adalah upaya menghadirkan kesadaran adanya pengawasan Allah SWT. Bermu’ahadahbermuraqabah sadar ada yang memuraqabahi diri kita apakah melanggar janji dan kesaksian atau tidak.
3. Muhasabah adalah usaha untuk menilai, menghitung, mengkalkulasi amal shaleh yang kita lakukan dan kesalahan-kesalahan yang kita kerjakan.
4. Mu’aqabah adalah menghukum/menjatuhi sanksi atas diri sendiri, sebagaiman perkataan Umar r.a yang sangat terkenal : “Hisablah dirimu sebelum kelak engkau dihisab”
5. Mujahadah adalah bersungguh-sungguh melaksanakan ibadah kepada Allah, menjauhi larangannya dan melaksanakan perintahnya.
6. Mutaba’ah adalah memonitoring, mengontrol, dan mengevaluasi sejauh mana tahapan-tahapan itu berjalan dengan baik.

Hasil Muraqabah dan Muhasabah

1. Seseorang yang sering memuraqabah dan bermuhasabah dirinya akan mengetahui aib, kekurangan-kekurangan dan kelemahan-kelemahan dirinya sehingga akan berusaha untuk meminimalisir/menghilangkannya.
2. Istiqamah diatas syariat Allah, yaitu sadar akan konsekwensi keimanan dan pertanggung jawaban di akhirat kelak maka cobaan apapun tidak membuatnya berpaling.
3. Insya Allah akan aman dari berat dan sulitnya penghisaban di hari kiamat nanti, Firman Allah SWT (QS. [3]; 30): “(Ingatlah) p[ada hari (ketika) setiapa jiwa endapatkan (balasan) atas kebajikan yang telah dikerjakan dihadapkan kepadanya, (begitu juga balasan) atas kejahatan yang telah dia kerjakan. Dia berharap sekiranya ada jarak yang jauh antara dia dengan (hari) itu. Ddan Allah memperingatkan kamu akan diri (siksa)-Nya. Allah Maha Penyayang terhadap hamba-hamba-Nya “.

Dengan demikian, kini saatnya kita berupaya untuk selalu menghadirkan muraqabah terhadap diri sendiri dan mengevaluasi diri dengan bermuhasabah apakah yang kita kerjakan sudah sesuai dengan ketentuan yang digariskan Allah SWT atau masih banyak mengikuti hawa nafsu untuk memuaskan keinginan dunia saja. Dengan orientasi bahwa ke depan harus lebih baik dan selalu istiqomah mengikuti apa yang telah diajarkan Rosulullah SAW. Dengan muhasabah diri negeri ini bisa mendapat pertolongan Allah SWT. Karena orang yang banyak melakukan muhasabah berarti orang yang menyadari betapa kelemahan dan kesalahan diri selalu melekat. Semoga Artikel ini bermanfaat untuk Sahabat Rumah Kurma Sahara.
Silahkan berbelanja kurma di Rumah Kurma Sahara, Butuh perlengkapan haji? Ingat Toko Rumah Kurma Sahara!
Jalan Raya Semplak Atang Sandjaja No. 224
Bogor Barat – Kota Bogor
Customer Care : 0821-1141-8832 | 0878-7386-0559
Delivery : 0859-2512-6067
WA | PIN BB : 0878-7386-0559 | DA7A086

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *