Menjaga Diri dari Tipuan Duniawi

Hidup dalam sistem sekulerisme–kapitalisme memang sangat berat. Berbagai masalah yang dihadapi oleh umat manusia di penjuru dunia sudah semakin menjadi-jadi seperti layaknya benang kusut, dari masalah yang paling sederhana dalam lingkungan rumah tangga yang paling kecil, hingga masalah politik dan perang yang sedang berkecamuk di dunia.
Dalam level rumah tangga misalnya, umat dihadap-kan dengan sulitnya bertahan hidup, mencari nafkah buat keluarga serta mahalnya pendidikan dan kesehatan. Sementara media, baik cetak maupun televisi, menyodorkan tayangan hura-hura penuh kemewahan, sehingga mendorong masyarakat untuk mencari kesenangan dunia. Berbagai upaya pun ditempuh demi memperoleh income yang tinggi agar dapat bebas dari himpitan ekonomi yang kian mencekik. Namun sayang, tidak sedikit yang terperangkap oleh tipuan pihak yang tidak bertanggung jawab dengan kedok investasi.
Masih teringat kasus Koperasi Langit Biru (penipuan investasi yang bersandar pada jual beli emas), didakwa sebagai penipuan karena perusahaan ini tidak menepati janji investasi semula. Atau contoh lainnya PT Golden Traders Indonesia Syariah (GTIS) perusahaan yang mendapatkan sertifikasi halal dari MUI. Sebagai pemilik dan presiden direktur, Taufik Michael Ong membawa kabur dana nasabahnya yang mencapai angka Rp 13,2 triliun dari ratusan ribu nasabah. Hal ini memperlihatkan, betapa antusiasnya masyarakat terhadap investasi yang ditawarkan dengan tingkat keuntungan yang tinggi, sehingga tidak lagi jeli dan teliti dalam melihat standar kebenaran system investasi yang digunakan dan kredibilitas perusahaan tersebut. Pada akhirnya yang tinggal adalah penyesalan dan kemarahan, lalu ujung-ujungnya menjadi stress, gila, dan yang terburuk akhirnya bunuh diri. Demikianlah, betapa buruknya kondisi kehidupan sekarang.

Islam memandang bahwa setiap perbuatan manusia sekecil apapun akan dimintai pertanggung-jawabannya oleh Allah di akhirat kelak (lihat QS. Al-zilzalah: 7-8). Termasuk tindakannya terhadap hartanya: bagaimana ia mengelolanya, apa yang diusahakannya, dari mana ia memperolehnya, dan sebagainya. Seharusnya seorang muslim yang beriman tidak mudah terlena dan terjebak oleh bujuk rayu yang menyesatkan.

Kapitalisme Lahirkan Kesempitan

Ideologi kapitalisme dengan system ekonominya, telah membuat kemiskinan disatu sisi dan terkumpulnya kekayaan (modal) disisi lain, sehingga inilah yang memberi ruang bagi munculnya beragam investasi termasuk investasi yang menipu.
Sekulerisme yang menjadi aqidah ideology ini telah menghilangkan peran agama untuk mengatur kehidupan, termasuk kehidupan ekonomi. Sehingga banyak kita temui jenis investasi maupun akad-akad pengelolaan harta lainnya yang tidak atau kurang memperhatikan standar halal-haram di dalam Islam. Yang terpikir hanyalah bagaimana mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya dengan modal sekecil-kecilnya.
Ditambah lagi, kehidupan umat saat ini jauh dari Islam. Mereka kehilangan spirit hidup sesuai ajaran syariah, pemahaman yang lemah terhadap hukum syariah serta melupakan sifat-sifat khuluqiyah seperti; qonaah, sabar, wara’, tawakal dan seterusnya. Inilah yang membuat umat Islam mudah terseret arus liberalisasi ekonomi, salah satu bentuk kesempitan yang diciptakan oleh Sekulerisme-Kapitalisme, system yang berpihak kepada para konglomerat dan memeras kaum papa.
Yang menyedihkan lagi adalah saat umat ini lemah, benteng penjaga umat ternyata tidak ada, yaitu Pemimpin Islam (Khalifah). Khalifah bertugas menerapkan hukum-hukum Islam, termasuk di dalamnya hukum-hukum ekonomi. Khalifah juga berkewajiban menjamin kebutuhan pokok setiap warga, termasuk keterjaminan pendidikan dan kesehatan. Disamping itu, khalifah juga berkewajiban menjaga pola pikir maupun jiwa umat Islam agar suasana keimanan di dalam kehidupan masyarakat tetap terjaga. Namun semua itu tidak dirasakan keberadaannya saat ini.

Tips Menjaga Diri

Sesungguhnya kita tidak boleh berdiam diri atau tidak perduli dengan kondisi umat saat ini. Tetapi, setidaknya kita wajib menjaga diri dan keluarga agar terhindar dari tipuan dunia yang melenakan ini. Diantara yang dapat kita lakukan adalah:

1. Membangun orientasi hidup yang benar.
Harus dipahami bahwa hidup di dunia ini hanya sementara, sedangkan kehidupan yang kekal adalah di akhirat. Maka kehidupan dunia yang bersifat sementara ini juga harus diorientasikan untuk mengabdi kepada Allah swt.
Dari Zaid bin Tsabit ra. beliau berkata, kami mendengar Rasulullah saw. bersabda :
“Barang siapa yang (menjadikan) dunia tujuan utamanya maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya dan menjadikan kemiskinan atau tidak pernah merasa cukup(ada) di hadapannya, padahal dia tak akan mendapatkan (harta benda) duniawi melebihi dari apa yang Allah telah tetapkan baginya. Dan barang siapa yang menjadikan akhirat niat (tujuan) utamanya maka Allah akan menghimpunkan urusannya, menja-dikan kekayaan atau selalu merasa cukup (ada) dalam hatinya, dan (harta benda) duniawi datang kepadanya dalam keadaan rendah (tak bernilai) dihadapannya”. HR Ibnu Majah (no.4105), Ahmad (5/183), ad-Daarimi (no.229), Ibnu Hibban (no. 680) dan lain-lain dengan sanad yang shahih.
Itulah orientasi hidup yang benar karena mendapatkan ridho Allah swt lebih utama bagi seorang muslim.

2. Memahami hakikat Harta.
Harta tidak boleh dijadikan sebagai tujuan hidup. Sebagian orang menganggap bahwa dengan harta segalanya menjadi mudah. Betapa banyak manusia yang akhirnya terpedaya oleh banyak-nya harta, mereka bukannya lebih mulia bahkan terhina, menjadi budak harta. Perilaku boros, berlebih-lebihan, budaya hedonis hingga men-zhalimi orang lain adalah penyakit dari kelebihan harta tersebut, seperti yang difirmankan oleh Allah swt. :
“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehi-dupan dunia , tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan”. (TQS. Al-Kahfi ; 46)
Lihat pula TQS. Al-Anfaal ; 28 serta TQS. Al-Munaafiquun ; 9.
“Bersabar atas kekurangan harta itu lebih baik, daripada harus melakukan perbuatan terlarang demi keluar dari kesempitan. Terkadang Allah memang menghendaki ujian kekurangan harta kepada hamba-hambaNya yang sabar”.

3. Membangun sikap Zuhud dan Qona’ah.
Sikap ini tercermin dari ketidak tamakannya dalam mencari harta dunia. Tatkala ia sedang diuji dengan kesempitan rizki, maka ia akan berusaha semampu mungkin dalam mencari harta. Tetap qona’ah yaitu merasa cukup atas karunia Allah swt. Dirinya tidak memaksakan diri apalagi dengan prinsip asal mendapatkan yang banyak.
Rasulullah saw. bersabda : “ Bukanlah yang dinamakan kaya dengan banyak harta, akan tetapi kaya adalah yang kaya jiwanya.” (HR. Al-Bukhari :6446, Muslim :1051)

4. Membangun sikap Wara’.
Menjaga diri atau bersikap hati-hati dari yang Syubhat yakni segala sesuatu yang belum jelas atau samar serta meniggalkan yang haram.
Rasulullah saw bersabda : “Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas. Diantara keduanya ada yang syubhat, manusia tidak banyak yang mengetahui. Siapa yang menjaga dari syubhat, maka selamatlah agama dan kehormatannya. Dan siapa yang jatuh pada syubhat, maka jatuh pada yang haram”. (HR Bukhari & Muslim)

5. Meneladani Kehidupan Rasulullah dan Para Sahabatnya.
Sesungguhnya kehidupan akhirat jauh lebih baik daripada kehidupan dunia yang menipu.
Seperti firman Allah swt : “Padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal”. (TQS. Al-A’la ; 17).
Maka tengoklah tauladan kita Rasulullah saw. Seluruh sisa hidupnya dihabiskan hanya untuk dakwah semata, bahkan ketika diboikot selama 3 tahun oleh kafir Quraisy tanpa makan dan minum, beliau menghisap sepotong tulang ketika tidak didapatinya makanan saat itu. Semua ini dilakukan hanya untuk menegakkan agama Allah.
Lihat juga kisah para Sahabat, seperti Mush’ab bin Umair, pemuda paling tampan, populer dan terkaya di kota Mekah, dia tinggalkan semua kemewahan dan kesenangannya semasa muda-nya demi kecintaannya kepada Allah dan Rasul-Nya. Hingga disaat menemui ajalnya dalam perang Uhud, tak sehelai kainpun untuk menu-tupinya selain sehelai burdah. Andainya ditaruh di atas kepalanya terbukalah kedua kakinya, sebaliknya jika ditutupkan ke kakinya, terbuka-lah kepalanya, maka sabda Rasulullah saw, ketika itu : “Tutupkanlah kebagian kepalanya, dan kakinya tutupilah dengan rumput idzkhir”.
Subhanallah! Masih banyak contoh perjuangan para sahabat lainnya yang tak kalah hebat serta mengharukan, yang mereka tidak menjadikan dunia sebagai tujuan, tetapi hanya ridho Allah yang mereka kehendaki.Semoga Artikel ini bermanfaat untuk Sahabat Rumah Kurma Sahara.
Silahkan berbelanja kurma di Rumah Kurma Sahara, Butuh perlengkapan haji? Ingat Toko Rumah Kurma Sahara!
Jalan Raya Semplak Atang Sandjaja No. 224
Bogor Barat – Kota Bogor
Customer Care : 0821-1141-8832 | 0878-7386-0559
Delivery : 0859-2512-6067
WA | PIN BB : 0878-7386-0559 | DA7A086

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *