Menggapai Cinta Allah

Orang yang bertauhid lurus, selain akan merasakan kebersamaan Allah secara Umum dan Khusus, dia juga akan memiliki rasa cinta kepada Allah dan Ridho kepadaNya. Hal ini digambarkan dalam Firman Allah:

Katakanlah: “Jika bapa-bapa , anak-anak , saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNya dan dari berjihad di jalan nya, Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan NYA”. dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (Q.S At-Taubah [9]: 24)

Dalam surat ini kecintaan terbagi jadi tiga:

  1. Kecintaan kepada Allah, Rasul dan kepada Jihad fi sabilillah
  2. Kecintaan kepada selain ke-3 diatas yang masih diijinkan, misalkan ibu bapak, suami, anak-anak, karib-kerabat, harta benda dll
  3. Kecintaan pada hal yang ke-2 tapi melebihi kecintaan kepada Allah, Rasul dan Jihad.

Secara fitroh, manusia cenderung menyukai harta dan sesama manusia. Dan ini tidak salah! akan tetapi, ketika kita sudah bertauhid maka posisi Allah dan RasulNya menepati posisi utama, lebih dari yang lain. Kecintaan kepada Allah dan Rasul ini mendorongnya untuk taat dan menjauhi maksiat. Bukti dari kecintaan seseorang kepada Allah adalah mentaati Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Sebagaimana firman Allah:

Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah Aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S Ali Imran [3]: 31)

dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman Amat sangat cintanya kepada Allah. dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu[106] mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah Amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal). (Q.S Al-Baqarah [2]: 165)

Ungkapan kecintaan tanpa ketaatan hanyalah merupakan kedustaan. Tidak ada cinta kepada Allah tanpa ketaatan kepada Dia dan RasulNya. Kalaulah tidak disertai dengan ketaatan itu hanyalah mendustai dirinya sendiri.

Kecintaan kepada Allah, Rasul dan Jihad Fisabillillah ini haruslah menjadi dasar bagi kecintaan terhdap perkara lainnya. Artinya, kecintaan kepada ibu-bapak, anak-anak. suami-istri, karib-kerabat, harta benda dan sebagainya haruslah dalam rangka ketaatan kepada-Nya.

Selain itu, didasarkan pada keyakinan akan kebersamaan Allah, seorang muslim bertauhid lurus akan merasa ridha terhadap segala apapun yang ditetapkan oleh Allah. Dia meyakini bahwa Allah Dzat Maha Adil lebih mengetahui daripada manusia, Dialah yang mengetahui apa yang baik dan sesuai bagi manusia serta apa yang membuatnya rusak. Dialah yang mengetahui apa yang mudharat bagi manusia dan apa yang bermanfaat bagi manusia. Sebab, dialah pencipta manusia dan pencipta segala sesuatu. Ia ridha menerima segala ketentuan yang ditetapkan oleh Allah bagi mereka.

Doa Nabi Daud as Memohon Cinta Allah

Nabi Daud ’alihis-salaam merupakan seorang hamba Allah yang sangat rajin beribadah kepada Allah. Hal ini disebutkan langsung oleh Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam. Nabi Daud ’alihis-salaam sangat rajin mendekatkan diri kepada Allah. Inilah penjelasan Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam mengenai doa Nabi Daud tersebut:

Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: “Di antara doa Nabi Daud ’alihis-salaam ialah: “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepadaMu cintaMu dan cinta orang-orang yang mencintaiMu dan aku memohon kepadaMu perbuatan yang dapat mengantarku kepada cintaMu. Ya Allah, jadikanlah cintaMu lebih kucintai daripada diriku dan keluargaku serta air dingin.” Dan bila Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam mengingat Nabi Daud ’alihis-salaam beliau menggelarinya sebaik-baik manusia dalam beribadah kepada Allah.” (HR Tirmidzi 3412)

Setidaknya terdapat empat hal penting di dalam doa ini. Pertama, Nabi Daud ’alihis-salaam memohon cinta Allah. Beliau sangat faham bahwa di dunia ini tidak ada cinta yang lebih patut diutamakan dan diharapkan manusia selain daripada cinta yang berasal dari Allah Ar-Rahman Ar-Rahim (Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang). Apalah artinya seseorang hidup di dunia mendapat cinta manusia –bahkan seluruh manusia- bilamana Allah tidak mencintainya. Semua cinta yang datang dari segenap manusia itu menjadi sia-sia sebab tidak mendatangkan cinta Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Sebaliknya, apalah yang perlu dikhawatirkan seseorang bila Allah mencintainya sementara manusia –bahkan seluruh manusia- membencinya. Semua kebencian manusia tersebut tidak bermakna sedikitpun karena dirinya memperoleh cinta Allah Yang Maha  Pengasih lagi Maha Penyayang.

Beliau mendahulukan cinta Allah di atas segala-galanya. Beliau sangat menyadari bahwa bila Allah telah mencntai dirinya, maka mudah saja bagi Allah untuk menanamkan cinta ke dalam hati manusia terhadap Nabi Daud ’alihis-salaam. Tetapi bila Allah sudah mebenci dirinya apalah gunanya cinta manusia terhadap dirinya. Sebab cinta manusia terhadap dirinya tidak bisa menjamin datangnya cinta Allah kepada Nabi Daud ’alihis-salaam.

Dari Nabi shollallahu ’alaih wa sallam beliau bersabda: “Bila Allah mencintai seorang hamba, maka Allah berseru kepada Jibril: “Sesungguhnya Allah mencintai Fulan, maka cintailah dia.” Jibrilpun mencintainya. Kemudian Jibril berseru kepada penghuni langit: ”Sesungguhnya Allah mencintai Fulan, maka kalian cintailah dia.” Penghuni langitpun mencintainya. Kemudian ditanamkanlah cinta penghuni bumi kepadanya.” (HR Bukhary 5580)

Kedua, Nabi Daud ’alihis-salaam memohon kepada Allah cinta orang-orang yang mencintai Allah. sebab orang-orang tersebut tentunya adalah orang-orang beriman sejati yang sangat pantas diharapkan cintanya.

Hal ini sangat berkaitan dengan Al-Wala’ dan Al-Bara’ (loyalitas dan berlepas diri).  Yang dimaksud dengan Al-Wala’ ialah memelihara loyalitas kepada Allah, RasulNya dan orang-orang beriman. Sedangkan yang dimaksud dengan Al-Bara’ ialah berlepas diri dari kaum kuffar dan munafiqin. Karena loyalitas mu’min hendaknya kepada Allah, RasulNya dan orang-orang beriman, maka Nabi Daud ’alihis-salaam berdoa agar dirinya dipertemukan dan dipersatukan dengan kalangan sesama orang-orang beriman yang mencintai Allah. Dan ia sangat meyakini akan hal ini.

Sesungguhnya Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bersada: “Ruh-ruh manusia diciptakan laksana prajurit berbaris, maka mana yang saling kenal di antara satu sama lain akan bersatu. Dan mana yang saling mengingkari di antara satu sama lain akan berpisah.” (HR muslim 4773)

Ketiga, Nabi Daud ’alihis-salaam memohon kepada Allah agar ditunjuki perbuatan-perbuatan yang dapat mendatangkan cinta Allah. Ia sangat khawatir bila melakukan hal-hal yang bisa mendatangkan murka Allah. Beliau sangat khawatir bila berbuat dengan hanya mengandalkan perasaan bahwa Allah pasti mencintainya bila niat sudah baik padahal kualitas dan pelaksanaan ’amalnya bermasalah. Maka Nabi Daud ’alihis-salaam sangat memperhatikan apa saja perkara yang bisa mendatangkan cinta Allah pada dirnya. Di dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa Allah mencintai Ash-Shobirin (orang-orang yang sabar). Siapakah yang dimaksud dengan Ash-Shobirin? Apa sifat dan perbuatan mereka sehingga menjadi dicintai Allah? (QS Ali Imran ayat 146)

Keempat, Nabi Daud ’alihis-salaam memohon kepada Allah agar menjadikan cinta Allah sebagai hal yang lebih dia utamakan daripada dirinya sendiri, keluarganya dan air dingin. Kemudian pada bagian akhir doa ini Nabi Daud ’alihis-salaam kembali menegaskan betapa beliau sangat peduli dan mengutamakan cinta Allah. Sehingga beliau sampai memohon kepada Allah agar cinta Allah yang ia dambakan itu jangan sampai kalah penting bagi dirinya daripada cinta dirinya terhadap dirinya sendiri, terhadap keluarganya sendiri dan terhadap air dingin.

Mengapa di dalam doanya Nabi Daud ’alihis-salaam perlu mengkontraskan cinta Allah dengan cinta dirinya sendiri, keluarganya dan air dingin? Sebab kebanyakan orang bilamana harus memilih antara mengorbankan diri dan keluarga dengan mengorbankan prinsip hidup pada umumnya lebih rela mengorbankan prinsip hidupnya. Yang penting jangan sampai diri dan keluarga terkorbankan. Kenapa air dingin? Karena air dingin merupakan representasi kenikmatan dunia yang indah dan menggoda. Pada umumnya orang rela mengorbankan prinsip hidupnya asal jangan mengorbankan kelezatan duniawi yang telah dimilikinya.

Jadi bagian terakhir doa Nabi Daud ’alihis-salaam mengandung pesan pengorbanan. Ia rela mengorbankan segalanya, termasuk dirinya sendiri, keluarganya sendiri maupun kesenangan duniawinya asal jangan sampai ia mengorbankan cinta Allah. Ia amat mendambakan cinta Allah. Nabi Daud ’alihis-salaam sangat faham maksud Allah di dalam Al-Qur’an: S At-Taubah ayat 24

Percaya dengan Janji Allah

Seorang muslim wajib mempercayai janji Allah, baik yang di Al-Qur’an ataupun hadits. Dengan mempercayai janji Allah seorang muslim sesungguhnya telah mempunyai sikap hidup yang unik. yakni sikap hidup muslim yang tidak hanya bertumpu pada kenyataan atau tantangan yang ada, tetapi bertumpu pada kepercayaan mutlaq akan janji Allah. Sehingga, betapapun buruknya kenyataan yang ada ataupun betapa beratnya tantangan yang menghadang, ia akan menghadapinya dengan teguh dan tegar, bahkan dengan bersemangat.

Tidak putus asa, ia meyakini secara pasti, bahwa setiap kesulitan akan selalu diikuti oleh kemudahan, bahkan kemenangan yang akan berpihak kepada orang-orang mukmin dan bahwa Allah akan memenangkan Islam atas agama-agama yang lain, walaupun orang kafir membencinya.

Percaya kepada janji Allah berpangkal dari Iman bahwa janji Allah pastilah benar. Allah tidak mungkin mengingkari dan tidak mungkin tidak mampu menepati janjinya itu. Allah mempunyai kuasa untuk mewujudkan janji itu.

dan bersabarlah kamu, Sesungguhnya janji Allah adalah benar dan sekali-kali janganlah orang-orang yang tidak meyakini (kebenaran ayat-ayat Allah) itu menggelisahkan kamu. (Q.S ar-Ruum [30]: 60)

Q.S al-Fath [48]: 21

Jika Allah telah menjanjikan sesuatu kepada hambaNya, niscaya Allah tidak akan menyalahi janjiNya. Sebagaimana dalam firmannya:

Q.S Ali Imran [3]: 194

Selain itu secara faktual sebagaimana ditunjukkan dalam sirah, janji Allah memang terbukti benar. Seperti:

“Kalian akan memerangi jazirah Arab lalu Allah menaklukkannya, kemudian kalian akan memerangi Romawi lalu Allah menaklukkannya” (H.R Muslim)

Penaklukan Mesir, Konstantinopel dsb

Namun demikian, percaya kepada janji Allah menuntut adanya sifat, sikap, dan perbuatan tertentu dari seorang muslim. Sebab janji Allah hanya akan diberikan kepada orang-orang yang beriman, beramal sholeh dan menolong atau memperjuangkan agama Allah. Allah berfirman:

Q.S Muhammad [47]: 7

Ayat inimenerangkan bahwa pertolongan Allah -sebagai salah satu janji Allah- hanya akan diberikan kepada orang-orang yang beriman yang memperjuangkan dan mendakwahkan agama Islam. Jadi janji Allah tidak akan diberikan kepada mereka yang tidak beriman atau yang bertopang dagu saja (tidak melakukan apa-apa).

Q.S an-Nuur [24]: 55

Dengan demikian, percaya kepada janji Allah dapat dikatakan merupakan suatu energi dinamis bagi seorang muslim. Janji Allah tidak akan membiusnya untuk berleha-leha atau berandai-andai. Namun sebaliknya akan mendorongnya untuk berbuat dan bertindak, agar janji Allah itu terwujud dalam kenyataan.

Kesimpulan

Berdasarkan bahasan diatas, berarti dengan menghujamkan tauhid akan menjadikan seorang muslim yang senantiasa merasa diawasi oleh Allah yang dibuktikan dengan ketaatn kepada Nya. Juga akan dominan kecintaan dan keridhoan kepada Allah, penciptanya. Ia pun akan serius berjuang penuh keyakinan kepada janji Allah Dzat yang Maha Bijaksana kepada hamba-hambanya yang beriman.

Semoga Artikel ini bermanfaat untuk Sahabat Rumah Kurma Sahara.
Silahkan berbelanja kurma di Rumah Kurma Sahara, Butuh perlengkapan haji? Ingat Toko Rumah Kurma Sahara!
Jalan Raya Semplak Atang Sandjaja No. 224
Bogor Barat – Kota Bogor
Customer Care : 0821-1141-8832 | 0878-7386-0559
Delivery : 0859-2512-6067
WA | PIN BB : 0878-7386-0559 | DA7A086

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *