Mengenal Qalbun


“Sebagai bimbingan yang lurus,untuk memperingatkan akan siksaan yang sangat pedih dari sisi Allah dan membawa berita gembira kepada orang-orang yang beriman, yang mengerjakan amal saleh, bahwa mereka akan mendapat pembalasan yang baik” (TQS Al-Kahfi[18]:2)

Diayat ini, digambaran bahwa orang yg masuk syurga adh orang yg memiliki ketaqwaan, orang yg mempunyai aqliyah yg kuat dan nafsiyah yg selalu terjaga.

qalbun(hati): cerminan dr tingkah laku kita. Lebih ghaib. Sebagaimana Hadits Rasul:

“Dlm tubuh manusia ada segumpal daging, kalau baik maka baiklah ia, dan kalau buruk maka buruklah ia.”

“sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu” (TQS As-syam [91]: 9)

Dari abdullah bin Mas’ud, ada 4 hal yg menyebabkan hati manusia gelap:

Perut yg terlalu kenyang, yg melampaui batas.
Bergaul dengan orang-orang yg dzalim
Orang yg gampang melupakan dosa masa lalu. Optimis yg salah, dia terlalu menyepelekan dosa. Padahal dosa harus disesali, diambil hikmah, bertaubat nasuhah dan melakukan perbaikan. Sehingga orang ini akan jalan ditempat, taufiq Allah tidak akan turun
Orang yang panjang angan-angan, terlalu dekat dengan dunia, sehingga lupa dengan akhirat.

“Orang yang pintar adalah orang yg menahan nafsunya dan banyak melakukan kerja didunia untuk mengejar pahala akhirat. Sedang orang yg bodoh adalah orang berangan-angan saja kepada Allah dan tetap memperturutkan hawa nafsunya.”

“Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertaqwa.” (TQS Al-Qashash [28]: 83)

4 hal yg menjaga kita dr kerusakan hati, lembut dan mudah menerima Islam:

Orang-orang yang berhati-hati dalam mengisi perutnya.
Bergaul dengan orang-orang yang alim
Mengenang dosa yang lalu dan memperbaikinya
Qanaah atau pendek angan-angan, mencukupkan akan apa yg ada. Tapi tetap tidak melalaikan kewajiban.

Imam al Ghazali menerang 3 macam hati:

1. Qalbun yang sehat (qalbun sallim), qalbun mutma’inah;

Hati ini mudah menghayati dan mengamalkan alqur’an (mengambil manfaat drilmu yg dia pelajari).

“Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzkikan Allah kepada mereka, maka Ilahmu ialah Ilah Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah). (yaitu) orang-orang yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, orang-orang yang sabar terhadap apa yang menimpa mereka, orang-orang yang mendirikan shalat dan orang-orang yang menafkahkan sebagian dari apa yang telah Kami rezkikan kepada mereka.” (TQS Al Hajj [22]: 34-35)

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Rabblah mereka bertawakkal, (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka” (TQS Al Anfaal [8]: 2-3)

2. Qalbun yang sakit (qalbun marrid)

Orang-orang yang masih merasa berslah ketika melakukan dosa, mash ada rasa takut kepadd Allah namun dia tetap melakukan dosa berketerusan.

3. Qalbun yg mati (qalbun mayyit)

hatinya sudah keras, tidak merasa takut dengan Allah, tidak merasa bersalah ketika melakukan dosa besar. Dia akan semakin dikunci hatinya oleh Allah.

“Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman. Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat.” (TQS: Al Baqarah: 6-7)

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Meraka itulah orang-orang yang lalai.” (TQS Al-A’raf [7]: 179)

Ibnu Qayyim al zauzi memilah orang yang tidak berilmu:

Orang-orang yang tidak paham sampai dia paham, maka dimaafkan oleh Allah. misalkan dia tinggal dinegri terpencil, tidak terjangkau. Disini orang disekitarnya yang tahu akan terbebani untuk berdakwah kepada mereka.
Orang yang tidak berilmu tapi ilmu islam didepannya dan dia tidak mengambil ilmu itu. Maka dia tetap berdosa.
Orang yg mendapat hidayat namun tidak mau memakainya.

Nafsiyah manusia ada 3 tingkatan:

1. Orang yg mempertuhankan hawa nafsunya,

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai ilahnya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (TQS Al-Jatsiyaah [45]: 23)

2. Orang yang selalu bertarung dengan hawa nafsunya. Syaksiyahnya belum kuat, orang yang nafisyahnya ini sangat beresiko mereka seperti berdiri dipinggir jurang. Maka harus dipacu terus keimanannya. Dia kadang menang kadang kalah. Maka pacu diri kita terus untuk konsisten (istiqomah) dlm Islam, senantiasa hidup dalam jamaah Islam agar tetap terjaga keimanannya.

3. Orang yang sepenuhnya mampu menguasai hawa nafsunya. Orang inilah yang terjaga nafsunya, maka ia dijaga dari dosa oleh Allah.

Contoh sahabat adalah Abdurahman bin Auf. Beliau tidak terkuasai oleh hartanya, namun beliau mampu menguasai hartanya.

Dalam memperindah syaksiyah, haruslah kita menghilangkan penyakit hati, beberapa macam penyakit hati adalah:

1. Hasad atau dengki.

“Apabila dlm hati seseorang ada hasad maka akan membakar pahalanya seperti api membakar kayu.” (HR………………)

Ciri-ciri dari penyakit Hasad atau dengki adalah: Tidak suka melihat orang lain mendapat kenikmatan, lebih parah lagi dia justru mengharap kenikmatan itu hilang dari orang itu.

Kalau algibtah adalah mengharap kenikmatan orang lain juga ada pada dirinya. Hal ini mubah saja, selama bukan keharaman. Dan iri terhadap orang yg mendapat kebaikan akhirat dan ingin meniru dia adalah iri yg diutamakan

2. Riya’, syirik kecil. Seseorang yg melakukan ibadah tapi tidak hanya diniatkan unk Allah, ada niat agar dilihat orang lain juga. Riya’ itu dalam lingkungan ibadah maghdoh saja. Kalau sampai itu terjadi, maka beristigfar dan meluruskan niat kembali. Biasanya mereka sum’ah (yakni setelah beramal, menceritakan amalannya itu). Obat dari Riya’ ini tidak lain adalah ikhlas.

“Katakanlah: “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Ilah kamu itu adalah Ilah Yang Esa”. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Rabb-nya”.” (TQS Al-Kahfi [18]: 110)

3. Takabbur dan ujub; Sombong (takabur) adalah menolak dan membantah kebenaran yang datang kedirinya. Sedangkan Uzub adalah membanggakan diri. Lawan dari Sombong adalah tawadhu (orang yang senantiasa merendahkan diri) dan wara’ (menjaga dari syubhat)

Semoga Artikel ini bermanfaat untuk Sahabat Rumah Kurma Sahara.
Silahkan berbelanja kurma di Rumah Kurma Sahara, Butuh perlengkapan haji? Ingat Toko Rumah Kurma Sahara!
Jalan Raya Semplak Atang Sandjaja No. 224
Bogor Barat – Kota Bogor
Customer Care : 0821-1141-8832 | 0878-7386-0559
Delivery : 0859-2512-6067
WA | PIN BB : 0878-7386-0559 | DA7A086

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *