Meneladani Para Imam Mahzab

Meneladani Para Ulama

Rasulullah saw. bersabda,”Ulama adalah Pewaris para Nabi.”

Para ulama tidak hanya mewarisi risalah beliau; tetapi juga mewarisi misi dakwah beliau; mewarisi sifat dan akhlak beliau; juga mewarisi keistiqamahan, keteguhan, kesabaran, semangat dan keberanian beliau dalam memperjuangkan dan membela agama ini tanpa pernah khawatir dan takut terhadap celaan para pencela. Para ulama pun seharusnya ‘mewarisi’ penderitaan Rasulullah saw. yang banyak dihadapkan pada ragam tantangan, celaan, hujatan bahkan penganiayaan secara fisik dari para penentang dakwah beliau.

Ulama Masa Kini

  • Hari ini banyak ulama yang mewarisi risalah Rasulullah saw, namun sedikit sekali yang mewarisi keistiqamahan, keteguhan, kesabaran, semangat dan keberanian beliau dalam memperjuangkan dan membela agama ini tanpa pernah khawatir dan takut terhadap celaan para pencela. Lebih sedikit lagi ulama yang mau dan siap ‘mewarisi’ penderitaan Rasulullah saw. yang banyak dihadapkan pada ragam tantangan, celaan, hujatan bahkan penganiayaan secara fisik dari para penentang dakwah beliau.
  •  Hari ini banyak ulama yang berdakwah, tetapi dakwah mereka sebatas berada di zona aman dan nyaman; aman dari gangguan para penguasa zalim, nyaman karena kadang mendatangkan materi berkelimpahan.

Teladan Para Imam Mazhab

A. IMAM MALIK BIN ANAS

1.Kelahirannya

Mālik ibn Anas bin Malik bin ‘Āmr al-Asbahi atau Malik bin Anas (lengkapnya: Malik bin Anas bin Malik bin `Amr, al-Imam, Abu `Abd Allah al-Humyari al-Asbahi al-Madani), lahir di (Madinah pada tahun 714 (93 H), dan meninggal pada tahun 800 (179 H)). Ia adalah pakar ilmu fikih dan hadits, serta pendiri Mazhab Maliki.
Berasal dari keluarga Arab terhormat, berstatus sosial tinggi, baik sebelum maupun sesudah datangnya Islam.
Kendati demikian, dalam mencari ilmu Imam Malik rela mengorbankan apa saja. Menurut satu riwayat, sang imam sampai harus menjual tiang rumahnya hanya untuk membayar biaya pendidikannya

2. Perjalanan Menuntut Ilmu dan Menjadi Ulama Madinah

Karena keluarganya ulama ahli hadits, maka Imam Malik pun menekuni pelajaran hadits kepada ayah dan paman-pamannya. Kendati demikian, ia pernah berguru pada ulama-ulama terkenal seperti Nafi’ bin Abi Nuaim, Ibnu Syihab az Zuhri, Abul Zinad, Hasyim bin Urwa, Yahya bin Said al Anshari, dan Muhammad bin Munkadir. Gurunya yang lain adalah Abdurrahman bin Hurmuz, tabi’in ahli hadits, fikih, fatwa dan ilmu berdebat; juga Imam Jafar Shadiq dan Rabi Rayi.

Dalam usia muda, Imam Malik telah menguasai banyak ilmu. Kecintaannya kepada ilmu menjadikan hampir seluruh hidupnya diabdikan dalam dunia pendidikan. Tidak kurang empat khalifah, mulai dari Al Mansur, Al Mahdi, Hadi Harun, dan Al Ma’mun, pernah jadi murid Imam Malik. Ulama besar, Imam Abu Hanifah dan Imam Syafi’i pun pernah menimba ilmu dari Imam Malik. Belum lagi ilmuwan dan para ahli lainnya. Menurut sebuah riwayat disebutkan murid terkenal Imam Malik mencapai 1.300 orang.

Malik bin Anas atau lebih dikenal dengan Imam Malik, sangat menguasai Ilmu Hadist dan fikih Islam. Bahkan lebih dari 100 syaikh terkemuka di Madinah pada waktu itu belajar kepada beliau. Beliau diberikan gelar “Alim Madinah” dan “Imam Ahli Al-Hijrah” disebabkan karena kedudukan dan ilmu beliau.

Ibu Imam Malik, adalah orang yang paling berperan dalam memotivasi dan membimbingnya untuk memperoleh ilmu. Tidak hanya memilihkan guru-guru yang terbaik, sang ibu juga mengajarkan anaknya adab dalam belajar. Ibunya selalu memakaikannya pakaian yang terbaik dan merapikan sorban anaknya saat hendak pergi belajar. Ibunya mengatakan, “Pergilah kepada Rabi’ah”, contohlah akhlaknya sebelum engkau mengambil ilmu darinya.”

3. Sifat, Karakter dan Keteladanan Imam Malik

Imam Malik memiliki kepribadian yang kokoh dan berwibawa. Orang-orang yang menghadiri majlis ilmu Imam Malik sangat merasakan wibawa imam besar ini. Tak ada seorang pun yang berani berbicara saat ia menyampaikan ilmu, bahkan ketika ada seorang yang baru datang lalu mengucapkan salam kepada majlis, jamaah hanya menjawab salam tersebut dengan suara lirih saja. Demikian juga saat murid-muridnya berbicara dengannya, mereka merasa segan menatap wajahnya tatkala berbicara. Wibawa itu tidak hanya dirasakan oleh para penuntut ilmu, bahkan para khalifah pun menghormati dan mendengarkan nasihatnya.

Ciri pengajaran Imam Malik adalah disiplin, ketentraman, dan rasa hormat murid kepada gurunya. Prinsip ini dijunjung tinggi olehnya sehingga tak segan-segan ia menegur keras murid-muridnya yang melanggar prinsip tersebut. Pernah suatu kali Khalifah Mansur membahas sebuah hadits dengan nada agak keras. Sang imam marah dan berkata, ”Jangan melengking bila sedang membahas hadits Nabi.’‘

Manakala dihadapkan pada keinginan penguasa yang tak sejalan dengan aqidah Islamiyah, Imam Malik menentang tanpa takut risiko yang dihadapinya. Salah satunya dengan Ja’far, gubernur Madinah. Suatu ketika, gubernur yang masih keponakan Khalifah Abbasiyah, Al Mansur, meminta seluruh penduduk Madinah melakukan “bai’at” (janji setia) kepada khalifah. Namun, Imam Malik yang saat itu baru berusia 25 tahun merasa tak mungkin penduduk Madinah melakukan bai’at kepada khalifah yang mereka tak sukai.

Ia pun mengingatkan gubernur tentang tak berlakunya bai’at tanpa keikhlasan seperti tidak sahnya perceraian paksa. Ja’far meminta Imam Malik tak menyebarluaskan pandangannya tersebut, tapi ditolaknya. Gubernur Ja’far merasa terhina sekali. Ia pun memerintahkan pengawalnya menghukum dera Imam Malik sebanyak 70 kali. Dalam kondisi berlumuran darah, sang imam diarak keliling Madinah dengan untanya. Dengan hal itu, Ja’far seakan mengingatkan orang banyak, ulama yang mereka hormati tak dapat menghalangi kehendak sang penguasa.

Imam Malik juga seorang yang sangat perhatian dengan penampilannya dan ini adalah karakter yang ditanamkan ibunya sedari ia kecil. Pakaian yang ia kenakan selalu rapi, bersih, dan harum dengan parfumnya
Meskipun telah mencapai derajat “mufti” (ahli fatwa) dan “mujtahid” (ahli ijtihad), Imam Malik adalah pribadi yang sangat berhati-hati dalam berfatwa. Gelar Imam Darul Hijrah, tidaklah membuat Imam Malik bermudah-mudahan dalam menjawab pertanyaan yang diajukan kepada beliau. Atau merasa malu ketika tidak bisa menjawabnya. Sungguh hal ini mencerminkan tawadhunya beliau sebagai seorang ulama besar.

Ketika Khalifah Harun Ar-Rasyid pergi menunaikan haji, beliau ingin bertemu dengan Imam Malik, lalu beliau pun mengirim utusan menyatakan bahwa beliau ingin bertemu denganya,maka Imam Malik berkata kepada utusan tersebut : “Katakanlah kepada Amirul Mukminin itu sesungguhnya penuntut ilmu itu sepatutnya berusaha mendapatkanya,dan sesungguhnya ilmu itu tidak akan berusaha mendatangi sesiapa pun”. Khalifah mendengarkan perkataan Imam Malik itu,lalu beliau pun pergi kepada Imam Malik menziarahinya di rumahnya,lalu beliau pun mengarahkan manusia lain agar meninggalkan majlis tersebut,tetapi Imam Malik tidak setuju dengan perlakuan tersebut,lalu berkata : “Jika dihalangkan ilmu kepada orang awam,maka tiadalah beroleh kebaikkan kepada orang yang khusus.”

Khalifah Harun Ar-Rasyid menginginkan agar Imam Malik datang ke rumah beliau agar mengajarkan dua orang anak beliau yaitu Al-Amin dan Al-Ma’mun kitab Al-Muwattho’,dan juga menginginkan agar kedua orang anaknya itu berguru dengan Imam Malik,maka Imam Malik berkata kepada khalifah : “ Semoga Allah memuliakanmu wahai Amirul Mukminin,sesungguhnya kalian akan mendapat ilmu itu,jika kalian memuliakan ilmu,maka ilmu akan dimuliakan, namun jika kalian mencela ilmu itu,maka ilmu itu juga akan dicelakan,dan sesungguhnya ilmu itu didatangi dan tidaklah ilmu itu yang mendatangi “, berkatalah khalifah : “Benarlah perkataanmu itu,pergilah kamu berdua wahai anakku ke masjid untuk mendengarkan pelajaran bersama manusia lain”, lalu berkatanya Imam Malik :“dengan syarat hendaklah kedua mereka tidak diawasi dengan pengawal,dan hendaklah mereka berdua duduk disitu sehingga selesai “.

Maka pergilah kedua anak khalifah itu ke majlis ilmu Imam malik dengan syarat tersebut.

  • Dari Al Muwatta’ Hingga Madzhab Maliki
  •  Al Muwatta’ adalah kitab fikih berdasarkan himpunan hadits-hadits pilihan. Santri mana yang tak kenal kitab yang satu ini. Ia menjadi rujukan penting, khususnya di kalangan pesantren dan ulama kontemporer. Karya terbesar Imam Malik ini dinilai memiliki banyak keistimewaan. Ia disusun berdasarkan klasifikasi fikih dengan memperinci kaidah fikih yang diambil dari hadits dan fatwa sahabat.
  •  Dunia Islam mengakui Al Muwatta’ sebagai karya pilihan yang tak ada duanya. Menurut Syah Walilullah, kitab ini merupakan himpunan hadits paling shahih dan terpilih. Imam Malik memang menekankan betul terujinya para perawi. Semula, kitab ini memuat 10 ribu hadits. Namun, lewat penelitian ulang, Imam Malik hanya memasukkan 1.720 hadits. Kitab ini telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa dengan 16 edisi yang berlainan.
  • Imam Malik tak hanya meninggalkan warisan buku. Ia juga mewariskan mazhab fikih di kalangan Islam Sunni, yang disebut sebagai Mazhab Malik

B. IMAM HANAFI

1. Kelahirannya

Imam Abu Hanifah yang dikenal dengan sebutan Imam Hanafi bernama asli Abu Hanifah Nu’man bin Tsabit Al Kufi, lahir di Irak pada tahun 80 Hijriah (699 M), pada masa kekhalifahan Bani Umayyah Abdul Malik bin Marwan. Beliau digelari “Abu Hanifah” (suci dan lurus) karena kesungguhannya dalam beribadah sejak masa kecilnya, berakhlak mulia serta menjauhi perbuatan dosa dan keji. dan mazhab fiqhinya dinamakan Mazhab Hanafi. Gelar ini merupakan berkah dari doa Ali bin Abi Thalib r.a, dimana suatu saat ayahnya (Tsabit) diajak oleh kakeknya (Zauti) untuk berziarah ke kediaman Ali r.a yang saat itu sedang menetap di Kufa akibat pertikaian politik yang mengguncang ummat islam pada saat itu, Ali r.a mendoakan agar keturunan Tsabit kelak akan menjadi orang yang utama di zamannya, dan doa itu pun terkabul dengan hadirnya Imam hanafi, namun tak lama kemudian ayahnya meninggal dunia.

2. Penampilannya

Abu Hanifah itu tinggi badannya sedang, memiliki postur tubuh yang bagus, jelas dalam berbicara, suaranya bagus dan enak didengar, bagus wajahnya, bagus pakaiannya dan selalu memakai minyak wangi, bagus dalam bermajelis, sangat kasih sayang, bagus dalam pergaulan bersama rekan-rekannya, disegani dan tidak membicarakan hal-hal yang tidak berguna.

3. Aktivitasnya Dalam Mencari Ilmu

Beliau disibukkan dengan mencari “atsar/hadits” dan juga melakukan rihlah untuk mencari hal itu. Dan beliau ahli dalam bidang fiqih, mempunyai kecermatan dalam berpendapat, dan dalam permasalahan-permasalahan yang samar/sulit maka kepada beliau akhir penyelesaiannya.

Beliau sempat bertemu dengan Anas bin Malik tatkala datang ke Kufah dan belajar kepadanya, beliau juga belajar dan meriwayat dari ulama lain seperti Atha’ bin Abi Rabbah yang merupakan syaikh besarnya, Asy-Sya’bi, Adi bin Tsabit, Abdurrahman bin Hurmuj al-A’raj, Amru bin Dinar, Thalhah bin Nafi’, Nafi’ Maula Ibnu Umar, Qotadah bin Di’amah, Qois bin Muslim, Abdullah bin Dinar, Hamad bin Abi Sulaiman guru fiqihnya, Abu Ja’far Al-Baqir, Ibnu Syihab Az-Zuhri, Muhammad bin Munkandar, dan masih banyak lagi. Dan ada yang meriwayatkan bahwa beliau sempat bertemu dengan 7 sahabat.

Pada masa remajanya, dengan segala kecemerlangan otaknya Imam Hanafi telah menunjukkan kecintaannya kepada ilmu pengetahuan, terutama yang berkaitan dengan hukum islam, kendati beliau anak seorang saudagar kaya namun beliau sangat menjauhi hidup yang bermewah mewah, begitu pun setelah menjadi seorang pedagang yang sukses, hartanya lebih banyak didermakan ketimbang untuk kepentingan sendiri.

Disamping kesungguhannya dalam menuntut ilmu fiqh, beliau juga mendalami ilmu tafsir, hadis, bahasa arab dan ilmu hikmah, yang telah mengantarkannya sebagai ahli fiqh, dan keahliannya itu diakui oleh ulama ulama di zamannya, seperti Imam hammad bin Abi Sulaiman yang mempercayakannya untuk memberi fatwa dan pelajaran fiqh kepada murid muridnya.

4. Kesungguhannya memegang sunah nabi

Imam Abu Hanifah berkata:

“Apa-apa yang datang dari Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam wajib bagi mata dan kepala untuk mengikutinya, dan yang datang dari para sahabat maka kami akan memilihnya, dan yang datang dari selain mereka, maka mereka laki-laki kami pun laki-laki”.

Maksudnya jika sebuah permasalahan terhenti pada pendapat tabi’in, tidak ada hadits, tidak pula perkataan sahabat, maka Beliau akan berijtihad sebab Beliau juga laki-laki yang memiliki kemampuan sebagaimana mereka.

5. Akhlak dan Ibadahnya

  •  Asad bin Amru berkata:
    “Bahwa Abu Hanifah Rahimahullah melakukan shalat isya dan subuh dengan sekali wudhu selama 40 tahun”.
  •  Al-Qadhi Abu Yusuf menceritakan:
    Ketika saya sedang berjalan bersama Abu Hanifah, saya mendengar seseorang berkata kepada yang lain, “Inilah Abu Hanifah, dia tidak pernah tidur malam.” Lalu Abu Hanifah berkata, “Demi Allah, Dia tidak membicarakan tentang aku dengan apa-apa yang aku tidak pernah lakukan.” Maka Beliau senantiasa menghidupkan malam dengan penuh kerendahan dan banyak berdoa.
  •  Imam Abdullah bin Al-Mubarak berkata:
    “Saya belum pernah melihat seorang laki-laki yang lebih berwibawa di majelisnya, dan tidak ada yang lebih bagus diam dan sabarnya dibanding Abu Hanifah”.
  •  Al-Mutsanna bin Raja’ berkata:
    “Abu Hanifah telah bersumpah kepada Allah dengan sebenar-benarnya bahwa dia akan bersedekah dengan dinar, yaitu jika dia telah membelanjakan sejumlah uangnya untuk keluarganya, maka dia akan menyedekahkan uang sebanyak itu pula”.
  •  Imam Adz-Dzahabi menyebutkan berbagai pujian ulama tentang akhlaq dan ibadahnya Imam Abu Hanifah:
    Dari Syarik, dia berkata, “Imam Abu Hanifah lama diamnya dan banyak akalnya (cerdas).” Berkata Abu ‘Ashim An-Nail, “Abu Hanifah juga dinamakan Al-Watid karena banyak shalatnya.” Ibnu Ishaq As Samarqandi meriwayatkan dari Al-Qadhi Abu Yusuf, “Abu Hanifah mengkhatamkan Al-Quran setiap malam dalam satu rakaat.” Yahya bin Abdul Hamid Al-Himani, dari ayahnya bahwa Dia menemani Abu hanifah selama enam bulan, dia berkata, “Aku belum pernah melihatnya shalat subuh melainkan dengan wudhu shalat Isya, dan dia senantiasa mengkhatamkan Al-Quran setiap malam pada waktu sahur”.
  •  Diriwayatkan bahwa Imam Abu Hanifah telah mengkhatamkan Al-Quran 7000 kali.

6. Kata-kata hikmah dari Imam Abu Hanifah

  • “Jika ada hadits yang kuat, maka hadits itu adalah pendapatku, dan tinggalkanlah perkataanku dan gantilah dengan perkataan Rasulullah SAW”.
  • “Tidak halal bagi seorang pun yang mengambil pendapat kami selama dia belum tahu dari mana kami mengambil pendapat kami itu.”
  •  “Jika pendapatku bertentangan dengan Kitabullah dan Sunah Rasulullah, maka tinggalkanlah pendapatku”

7. Kehebatan dalam berdebat

  • beliau sangat piawai dalam berdebat

C. IMAM HANBALI

1. Kelahirannya

Beliau adalah Abu Abdillah, Ahmad bin Ahmad bin Muhammad bin Hanbal asy-Syaibani. Imam Ibnu al-Atsir mengatakan, “Tidak ada di kalangan Arab rumah yang lebih terhormat, yang ramah terhadap tetangganya, dan berakhlak yang mulia, daripada keluarga Syaiban.” Banyak orang besar yang terlahir dari kabilah Syaiban ini, di antara mereka ada yang menjadi panglima perang, ulama, dan sastrawan. Beliau adalah seorang Arab Adnaniyah, nasabnya bertemu denga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada Nizar bin Ma’ad bin Adnan. Imam Ahmad dilahirkan di ibu kota kekhalifahan Abbasiyah di Baghdad, Irak, pada tahun 164 H/780 M. Saat itu, Baghdad menjadi pusat peradaban dunia dimana para ahli dalam bidangnya masing-masing berkumpul untuk belajar ataupun mengajarkan ilmu. Dengan lingkungan keluarga yang memiliki tradisi menjadi orang besar, lalu tinggal di lingkungan pusat peradaban dunia, tentu saja menjadikan Imam Ahmad memiliki lingkungan yang sangat kondusif dan kesempatan yang besar untuk menjadi seorang yang besar pula.

2. Perjalanan Menuntut Ilmu

Imam Ahmad berhasil menghafalkan Alquran secara sempurna saat berumur 10 tahun. Setelah itu ia baru memulai mempelajari hadits. Guru pertama Ahmad bin Hanbal muda adalah murid senior dari Imam Abu Hanifah yakni Abu Yusuf al-Qadhi. Ia belajar dasar-dasar ilmu fikih, kaidah-kaidah ijtihad, dan metodologi kias dari Abu Yusuf. Setelah memahami prinsip-prinsip Madzhab Hanafi, Imam Ahmad mempelajari hadits dari seorang ahli hadits Baghdad, Haitsam bin Bishr.

Ia juga pergi mengunjungi kota-kota ilmu lainnya seperti Mekah, Madinah, Suriah, dan Yaman. Dalam perjalanan tersebut ia bertemu dengan Imam Syafii di Mekah, lalu ia manfaatkan kesempatan berharga tersebut untuk menimba ilmu dari beliau selama empat tahun.

Walaupun sangat menghormati dan menuntut ilmu kepada ulama-ulama Madzhab Hanafi dan Imam Syafii, namun Imam Ahmad memiliki arah pemikiran fikih tersendiri. Ini menunjukkan bahwa beliau adalah seorang yang tidak fanatik dan membuka diri.

3. Menjadi Seorang Ulama

Setelah belajar dengan Imam Syafii, Imam Ahmad mampu secara mandiri merumuskan pendapat sendiri dalam fikih. Imam Ahmad menjadi seorang ahli hadits sekaligus ahli fikih yang banyak dikunjungi oleh murid-murid dari berebagai penjuru negeri Islam. Terutama setelah Imam Syafii wafat di tahun 820, Imam Ahmad seolah-olah menjadi satu-satunya sumber rujukan utama bagi para penuntut ilmu yang senior maupun junior.
Dengan ketenarannya, Imam Ahmad tetap hidup sederhana dan menolak untuk masuk dalam kehidupan yang mewah. Beliau tetap rendah hati, menghindari hadiah-hadia terutama dari para tokoh politik. Beliau khawatir dengan menerima hadiah-hadiah tersebut menghalanginya untuk bebas dalam berpendapat dan berdakwah.

4. Ibadah dan Kedermawanannya

Imam Hanbali dikenal tekun beribadah dan dermawan. Imam Ibrahim bin Hani, salah seorang ulama terkenal yang jadi sahabatnya menjadi saksi akan kezuhudan Imam Hanbali. ‘‘Hampir setiap hari ia berpuasa dan tidurnya pun sedikit sekali di waktu malam. Ia lebih banyak shalat malam dan witir hingga Shubuh tiba,” katanya.
Mengenai kedermawanannya, Imam Yahya bin Hilal, salah seorang ulama ahli fikih, berkata, ‘‘Aku pernah datang kepada Imam Hanbali, lalu aku diberinya uang sebanyak empat dirham sambil berkata, ‘Ini adalah rezeki yang kuperoleh hari ini dan semuanya kuberikan kepadamu.”’

5. Keteguhannya Mempertahankan yang Haq

Pada tahun 813-833, dunia Islam dipimpin oleh Khalifah al-Makmun, seorang khalifah yang terpengaruh pemikiran Mu’tazilah. Filsafat Mu’tazilah memperjuangkan peran rasionalisme dalam semua aspek kehidupan, termasuk teologi. Dengan demikian, umat Islam tidak boleh hanya mengandalkan Alquran dan sunnah untuk memahami Allah, mereka diharuskan mengandalkan cara filosofis yang pertama kali dikembangkan oleh orang Yunani Kuno. Di antara pokok keyakinan Mu’tazilah ini adalah meyakini bahwa Alquran adalah sebuah buku dibuat, artinya Alquran itu adalah makhluk bukan kalamullah. ia berusaha memaksakan keyakinan baru dan berbahaya tersebut kepada semua orang di kerajaannya –termasuk para ulama. Banyak ulama berpura-pura untuk menerima ide-ide Mu’tazilah demi menghindari penganiayaan, berbeda halnya dengan Imam Ahmad, beliau dengan tegas menolak untuk berkompromi dengan keyakinan sesat tersebut.

D. IMAM SYAFI’I

1. Kelahirannya

Nama sebenarnya Imam Syafie ialah Muhammad Bin Idris Bin Abbas Bin Uthman bin Syafie Bin Saib Bin Abdu Yazid Bin Hasyim Bin Abdul Mutalib Bin Abdul Manaf. Imam Syafie adalah berasal dari keturunan arab Quraisy. Nasabnya berkait dengan Nabi Muhammad saw.
Beliau dilahirkan di Kota Gaza Palestin pada bulan Rajab 150 Hijrah. Ada yang mengatakan pada malam beliau dilahirkan itu Imam Abu Hanifah (Imam Hanafi) meninggal dunia

2. Perjalanan Menuntut Ilmu dan Kecintaannya Terhadap Ilmu

Gurunya yang pertama secara tidak formal ialah ibunya sendiri. Ibunya mengajar beliau mengenal huruf dan mengaji al-Quran. Setelah berumur 9 tahun beliau sudah dapat menghafal Al-Quran. Kemudian ibunya membawa Imam Syafie untuk berguru dengan Imam Ismail Kustantani, seorang guru ilmu Al-Quran yang terkenal waktu itu, Imam Ismail pada mulanya menolak kerana Imam Syafie baru berusia 9 tahun sedangkan dia hanya menerima orang menjadi muridnya setelah berumur 12 tahun. Namun setelah dia menguji hafalan dan ingatan Imam Syafie tentang Al-Quraan, beliau amat tertarik dengan daya ingatan dan suara Imam Syafie yang merdu. Apabila Imam Ismail ada urusan lain, Imam Syafie disuruh menggantikan tempatnya mengajar disitu!

Imam Syafie juga amat meminati syair dan puisi, beliau pernah berguru dengan Mas’ab bin Zubair seorang penyair terkenal.Dalam masa 3 bulan saja, Imam syafie mampu menghafal 10,000 rangkap syair kaum Bani Huzail. Pernah suatu kali Imam Syafie memasuki pertandingan syair atas desakan kawan-kawannya, lalu mengalahkan gurunya Mas’ab pula.

Imam Syafie berguru pula dengan Imam Sufian Ainiah dalam ilmu hadis sehingga menjadi pakar dalam bidang hadis dan diberi kepercayaan oleh gurunya untuk mengajar menggantikannya sewaktu ketiadaannya.

Selepas itu Imam Syafie berguru pula dengan Imam Muslim al-Zanji dalam bidang Fiqih .Akhirnya dia diakui oleh gurunya dan dibenarkan mengajar serta memberikan fatwa pula.Namun Imam Syafie masih merasakan kurang ilmunya lalu beliau ingin berguru dengan Imam Malik dan beliau mulai membaca dan menghafal Kitab Muwatta’ yang dikarang oleh Imam Malik bin Anas pula.

Imam Syafie juga pernah belajar ilmu peperangan dan bermain senjata dengan gurunya iaitu Amiruddin, seorang bekas tentera.Selepas itu Imam Syafie terkenal sebagai seorang pemanah yang handal.

Imam Syafie pernah mengembara ke Madinah yang mengambil masa selama 8 hari dengan menaiki unta sambil sempat mengkhatamkan Al-Quran sebanyak 16 kali untuk menemui dan berguru dengan Imam Malik yang ketika itu menjawat jawatan Mufti Kota Madinah

Berkaitan dengan kegunaan ilmu Imam Syafie pernah berkata:

“Siapa saja yang mempelajari Quran, besar harga dirinya.Siapa yang mempelajari hadis, tinggi martabatnya.Siapa yang mempelajari bahasa,lembut hatinya.Siapa yang mempelajari ilmu hisab, tajam pandangannya dan siapa yang tidak memelihara dirinya, tidak berarti ilmunya”.

Kecintaan beliau terhadap ilmu begitu mendalam , terbukti beliau telah menulis 142 buah kitab semasa hayatnya.
Imam Syafie meninggal dunia selepas waktu isyak, malam jumaat 28 Rejab tahun 204 Hijrah (tahun 820 M) di rumah Abdullah bin Hakam sewaktu berumur 54 tahun di bumi Mesir. Jenazahnya dikebumikan di tanah perkuburan Bani Zaharah.

3. Kehebatan dan Keteladanannya

Kita mengenal Imam Syafi’i sebagai ulama fikih dan imam mazab yang besar. Namun, kehebatan Imam Syafi’i tidak terbatas pada bidang itu, Imam Syafi’i adalah seorang sastrawan dan ahli bahasa. Ahli nasab dan sejarah. Ia juga terampil dalam berkuda dan memanah. Selain itu, Imam Syafi’i juga ahli ilmu falak dan memiliki ilmu dasar kedokteran.

Demikianlah ilmu Imam Syafi’i yang membuat kita terkagum-kagum. Namun akhlak dan keteladanannya tak kalah menawan. Imam Syafi’i biasa membagi malamnya menjadi tiga bagian; sepertiga untuk menulis, sepertiga untuk shalat dan sepertiganya untuk istirahat. Ia dikenal sebagai orang yang sangat wara’, zuhud dan bertaqwa. Imam Syafi’i juga ahli sedekah. Seluruh harta yang didapatkannya segera ia sedekahkan kepada orang yang membutuhkan.

Karenanya, ia tidak hanya dimuliakan orang-orang yang berilmu, tetapi juga dicintai oleh masyarakat umum.

 

Dibawah ini adalah 10 pesan Imam Syafie untuk renungan kita bersama :

Sebelum Imam Syafi’I meninggal dunia, beliau sempat mengajak sahabat-sahabatnya agar membuat perubahan jiwa ke arah yang lebih baik. Beliau menyebut bahwa barangsiapa yang ingin meninggalkan dunia dalam keadaan selamat, maka lakukanlah 10 perkara:

1. Hak kepada diri, iaitu dengan mengurangkan tidur, mengurangkan makan, mengurangkan percakapan dan merasa cukup dengan rezeki yang ada.
2. Hak kepada Malaikat maut, iaitu menqada’kan segala kewajipan yang tertinggal, iaitu dengan memohon maaf kepada orang yang dizalimi, membuat persiapan untuk mati dan merasa cinta kepada ALLAH s.w.t.
3. Hak kepada kubur iaitu membuang tabiat suka menabur fitnah, jangan suka kencing berdiri, memperbanyakkan solat tahajjud dan membantu orang yang dizalimi.
4. Hak kepada Malaikat Mungkar dan Nakir, iaitu jangan berkata dusta, sering berkata benar, meninggalkan maksiat dan memberi nasihat.
5. Hak kepada Mizan, iaitu menahan kemarahan, banyakkan berzikir, ikhlas dalam amalan dan sanggup menanggung kesulitan.
6. Hak kepada titian sirat, iaitu buang tabiat suka mengumpat, wara’, bantu orang beriman dan hidup dalam suasana berjamaah.
7. Hak kepada Malaikat Malik, iaitu menangis lantaran takutkan kepada ALLAH s.w.t., membanyakkan sedekah, membuat kebaikan kepada ibubapa dan memperbaiki akhlak.
8. Hak kepada Malaikat Ridwan, penjaga syurga, iaitu redha kepada qada’ ALLAH s.w.t., sabar menerima bala’ dan bertaubat.
9. Hak kepada Rasulullah s.a.w., iaitu dengan sering bersalawat kepada baginda, berpegang kepada sunnahnya dan bersaing mencari kelebihan dalam beribadah.
10. Hak kepada ALLAH SWT, iaitu mengajak manusia kepada kebaikan, mencegah manusia daripada melakukan kemungkaran, benci terhadap segala kemaksiatan dan tidak melakukan kejahatan

 

Khatimah

Perlu bagi kaum muslimin untuk mengingat kembali keteladanan para imam terdahulu yang telah mewarisi risalah rasulullah saw dalam sifat & akhlak , visi & misi , serta keistiqomahan mereka dalam dakwah, sebagai motivasi kita untuk terus istiqomah dalam tholabul ilmi, serta dalam menyebarkan agama islam sebagai rahmatan lil alamin, sehingga syariat islam hanyalah satu-satunya sumber hukum yang mengatur kehidupan manusia dalam segala aspek dimuka bumi ini.

“ Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar ”. (QS At Taubah [9]:100 )

Semoga Artikel ini bermanfaat untuk Sahabat Rumah Kurma Sahara.
Silahkan berbelanja kurma di Rumah Kurma Sahara, Butuh perlengkapan haji? Ingat Toko Rumah Kurma Sahara!
Jalan Raya Semplak Atang Sandjaja No. 224
Bogor Barat – Kota Bogor
Customer Care : 0821-1141-8832 | 0878-7386-0559
Delivery : 0859-2512-6067
WA | PIN BB : 0878-7386-0559 | DA7A086

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *