Mencapai Kebahagiaan Akhirat dengan Muhasabah dan Muraqobatullah

Hidup adalah pilihan, kita akan hidup berdasarkan pilihan-pilihan yang kita buat, akan dinilai dengan pilihan-pilihan yang kita buat, kita akan dihargai dengan pilihan-pilihan yang kita buat, kita akan menjadi seperti apa yang kita pilih dalam setiap segmen dari kehidupan kita. “Hidup adalah pilihan maka segala sesuatu yang telah terjadi, yang sedang terjadi dan akan terjadi adalah hasil daripada pilihan kita. Hidup hanya sebentar, hanya sekali. Hidup seperti apa yang akan kita pilih?” ( Beyond the Inspiration Felix Siauw).

Kita sendiri juga yang memilih mau jadi orang yang beriman atau orang yang kafir. “Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan, (jalan kebaikan untuk dijalaninya, dan jalan kejahatan untuk dijauhi”. (QS. Al Balad (90) : 10).

Selain itu kita juga yang harus memilih mau menjadi yang istiqomah atau kufur. Seperti firman Allah swt; “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (QS. Al Baqarah (2) : 214).

Dan kita juga yang memilih mau ikut berjuang membela islam atau hanya menonton orang lain berjuang demi islam. Dan tidak ada yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada (mengesakan dan mematuhi perintah) Allah, serta ia sendiri mengerjakan amal yang soleh, sambil berkata: “Sesungguhnya aku adalah dari orang-orang Islam (yang berserah bulat-bulat kepada Allah)!“ (QS. Fushshilat (41) : 33).
“Hidup adalah pilihan, dan hanya satu pilihan yang bisa kita buat. Bila kita memilih yang satu maka kita meninggalkan yang lain”. “Semakin besar pilihan seseorang, maka semakin besar pula pengorbanan yang harus dia berikan, semakin besar pula investasi dan resikonya….”. (Felix Y Siauw dalam Beyond the Inspiration)

RENUNGAN HIDUP

Garis waktu terbagi 3 tahapan dimana tahap yang pertama yaitu waktu dimana manusia sebelum dilahirkan, yang kedua: waktu manusia lahir dan hidup didunia dan yang ketiga: waktu setelah manusia mati. Sebagaimana kita ketahui waktu saat manusia lahir dan hidup didunia adalah waktu yang sangat singkat sekali bila dibandingkan dengan waktu saat manusia sebelum lahir dan saat manusia mati, dimana kedua waktu tersebut adalah tidak terhingga waktunya. Maka dari itu manusia dituntut untuk memanfaat kan waktu hidupnya didunia ini dengan semaksimal mungkin karena itulah yang akan menjadi bekal manusia diakhirat nanti.

Jika manusia itu sampai gagal dalam kehidupan dunianya, maka dia akan menderita, tersiksa untuk selama-lamanya, dan manusia itu harus siap mempertanggung jawabkan amal perbuatannya selama ia hidup didunia , dimana kita ketahui satu hari diakhirat kadarnya seperti 1000 tahun didunia seperti dalam firman Allah SWT; “Dan mereka meminta kepadamu (wahai Muhammad) menyegerakan kedatangan azab, padahal Allah tidak sekali-kali akan memungkiri janjiNya; dan (katakanlah kepada mereka): sesungguhnya satu hari dari hari-hari azab di sisi Tuhanmu adalah menyamai seribu tahun dari yang kamu hitung.” (QS. AL Hajj (22):47).

Namun jika manusia itu berhasil memanfaatkan waktu hidupnya didunia yang sangat pendek ini maka dia akan bahagia selama-lamanya. Waktu didunia ibarat tempat persinggahan kita saja atau ibarat pagi menjelang sore saja, jadi perlu kita sadari betapa pentingnya waktu yang singkat ini selama kita hidup didunia. Seperti firman Allah SWT: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Hasyr (59) : 18)

Menurut iman Ghazali ada empat golongan (kelompok) manusia yang akan menyesal diakhirat nanti yaitu:
1. Kelompok yang penyesalannya paling berat, kelompok ini adalah manusia yang mati kafir, mereka langsung masuk neraka jahanam yaitu neraka yang paling bawah
2. Kelompok yang berat penyesalannya, kelompok ini adalah manusia yang mati dalam keadaan islam tetapi amal keburukannya lebih berat dari pada amal kebaikannya, mereka tidak harus disiksa di neraka dulu sebelum masuk ke syurga
3. Kelompok yang ringan penyesalannya, kelompok ini untuk manusia yang mati dalam keadaan islam dimana amal kebaikannya lebih berat daripada amal keburukannya.
4. Kelompok yang paling ringan penyesalannya, dimana amal ibadahnya jauh lebih nerat dari pada amal keburukannya, kelompok ini berhak langsung masuk syurga tetapi kenapa mereka termasuk kelompok yang paling ringan penyesalannya , karena mereka menyesak kenapa selama hidup didunia tidak lebih gigih lagi memperbanyak amal ibadah mereka.

Selanjutnya menurut Imam Al Ghazali manusia itu dibagi menjadi empat golongan yakni:
1. Golongan pertama orang yang berbahagia didunia dan celaka diakhirat adalah mereka-mereka yang bergelimang harta, pangkat tinggi, sehat, dan jarang mendapatkan kendala hidup, sehingga katakan mereka sukses di dunia. Tetapi sayang mereka tidak beribadah, tidak beriman kepada Allah, sehingga di akherat menjadi intip neraka.
2. Golongan kedua orang yang celaka didunia dan bahagia diakhirat adalah mereka yang sengsara dalam hidupnya tetapi ibadahnya tekun sehingga di akherat masuk syurga.
3. Golongan ketiga orang yang celaka didunia dan celaka diakhirat adalah mereka yang sengsara di dunia, dan tidak mau beribadah, sehingga dunianya sengsara, akheratnya masuk neraka.
4. Golongan ke empat orang yang bahagia didunia dan bahagia diakhirat adalah mereka yang sukses dunianya, di samping itu ibadahnya juga tekun, serta banyak amal untuk akheratnya, sehingga di dunia bahagia di akherat masuk syurga.

Orang selalu mengejar kebahagiaan, tetapi kadang yang didapat justru sebaliknya. Ada juga yang mengejar kebahagiaan, tetapi yang dikejar justru kebahagiaan sesaat, yaitu kebahagiaan dunia, sementa kebahagiaan yang abadi yakni kebahagiaan akheratnya justru terlupakan.
Bagi orang beriman, tentu memilih dua-duanya, yaitu kebahagiaan di dunia dan kebahagiaan di akherat. Oleh karena itu doa yang selalu dipanjatkan kepada Allah adalah : “Ya Allah berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka” (Q.S.Al Baqarah 201).

Bagaimana cara kita untuk memiliki amalan yang banyak dan tahan lama?
“Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah segala amalannya, kecuali dari tiga perkara: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak shaleh yang mendoakannya”. [HR. Muslim, Abu Dawud dan Nasa’i]

Barang siapa yang menyerukan kepada sebuah petunjuk maka baginya pahala seperti pahala orang-orang uang mengikutinya, hal tersebut tidak mengurangi akan pahala-pahala mereka sedikitpun dan barang siapa yang menyerukan kepada sebuah kemaksiatan maka atasnya dosa seperti dosa yang mengikutinya hal tersebut tidak mengurangi dari dosa-dosa mereka sedikitpun (HR Muslim)

MUHASABAH DAN MURAQABATULLAH

Pengertian muhasabah

Muhasabah adalah usaha seorang muslim untuk menghitung, mengkalkulasi diri seberapa banyak dosa yang telah dilakukan dan kebaikan apa saja yang belum dilakukannya.
Dengan muhasabah akan selalu ada kesadaran bahwa segala sesuatu yang dikerjakannya tengah dihisab dan dicatat oleh Raqib dan Atid. Sehingga ia berusaha menghisab dirinya agar dapat memperbaiki dirinya.

Allah SWT berfirman:

  • “ (ingatlah) ketika dua malaikat mencatat perbuatannya, yang satu duduk disebelah kanan dan yang lainnya duduk disebelah kiri “. “tidak ada suatu kata yang diucapkan melainkan ada disisinya malaikat pengawas yang selalu siap mencatat.” (QS Qaf [50]:17-18)
  • “ Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri, memperhatikan bekal apa yang dipersiapkannya untuk hari esok (kiamat). Bertaqwalah kepada Allah sesunggunya Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan”. (QS. [59]; 18)
  • Ucapan Umar r.a sahabat Rosulullah SAW,”Hisablah dirimu sebelum kelak engkau dihisab”

Pengertian muraqabatullah

Muraqabah adalah upaya diri untuk senantiasa merasa terawasi oleh Allah (muraqabatullah). Manusia akan aktif mengawasi dan mengontrol dirinya karena ia sadar senantiasa berada dalam pengawasan Allah SWT, sebagaimana firman Allah SWT:

  • “…Dan Dia bersama kamu dimana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan”. (QS. [57]; 4)
    “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan hatinya, dan kami lebih dekat kepadanya dari urat lehernya”. (Qs. [50]; 16)
  • “Dan pada sisi Allahlah kunci-kunci semua yang ghaib, tak ada yang mengetahuiinya Dia sendiri dan Dia mengetahui apa yang didaratan dan dilautan, dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetauinya (pula), dan tidak jatuh sebutir pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)”. (Qs. [6]; 59)
  • “…. sesungguhnya sesuatu perbuatan seberat biji sawi dan berada dalam batu atau langit atau didalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkan (membalasinya) sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui”. (Qs. [31]; 16)
  • “Jangan engkau mengatakan engkau sendiri, sesungguhnya Allah bersamamu. Dan janganlah pula mengatakan tidak ada yang mengetahui isi hatimu, sesungguhnya Allah mengetahui.” (HR.Ahmad)

Tahapan-Tahapannya

Adapun 6 langkah untuk Muhasabah dan Muraqabah, yaitu;

  • Mu’ahadah adalah Mengingat dan mengokohkan kembali kembali perjanjian kita dengan Allah SWT dialam ruh. Firman Allah SWT: “Dan ingatlah, ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman), ‘bukankan Aku ini Tuhanmu?’ mereka menjawab, ‘betul Engkau Tuhan kami, kami bersaksi.’ (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakn: ‘sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini( keesaan Tuhan)’ “. (QS.[7];172)
  • Muraqabah adalah upaya menghadirkan kesadaran adanya pengawasan Allah SWT. Bermu’ahadahbermuraqabah sadar ada yang memuraqabahi diri kita apakah melanggar janji dan kesaksian atau tidak.
  • Muhasabah adalah usaha untuk menilai, menghitung, mengkalkulasi amal shaleh yang kita lakukan dan kesalahan-kesalahan yang kita kerjakan.
  • Mu’aqabah adalah menghukum/menjatuhi sanksi atas diri sendiri, sebagaiman perkataan Umar r.a yang sangat terkenal : “Hisablah dirimu sebelum kelak engkau dihisab”
  • Mujahadah adalah bersungguh-sungguh melaksanakan ibadah kepada Allah, menjauhi larangannya dan melaksanakan perintahnya.
  • Mutaba’ah adalah memonitoring, mengontrol, dan mengevaluasi sejauh mana tahapan-tahapan itu berjalan dengan baik.

Urgensi Muraqabah dan Muhasabah

Bila setiap muslim senantiasa memuraqabahi dirinya dan menghadirkan muraqabatullah dalam dirinya maka ia akan takut maksiyat dan bila setiap muslim gemar memuhasabahi dirinya karena takut perhitungan hari akhirat, maka: akan terwujud masyarakat yang aman karena semua memiliki WasKat.

Seseorang yang senantiasa memperhitungkan tindak tanduknya dengan perspektif ukhrawi maka akan terhindar dari penyakit wahn, keserakahan, kedzaliman, penindasan dan kemungkaran. Serta akan berusaha menanam kebajikan sebanyak mungkin. Ibnul Qayyim Al-Jauziyah mengibaratkan bahwa; “dunia sebagai ladang tempat menanam, bibitnya adalah keimanan dan ketaatan adalah air dan pupuknya, dan Akhirat tempat memetik hasilnya.”
Baldatun thayyibatun warabbun ghafur’ bukan hanya slogan. Bila muslimnya mampu menjadi “ustadziatul ‘alam” dan khalifatullah fil Ardhi maka dunia akan terbebas dari bencana, kerusakan & kemurkaan Allah“. Lihat (QS. [2]; 10-11)

Khatimah

Dunia adalah tempat persinggahan manusia saja atau diibaratkan seperti tempat untuk bersenda gurau seperti firman allah SWT; “ Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan hanya permainan dan senda-gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?”. ( Qs Al An’am : 32; senada QS. AL Hadid (57): 20)

Disamping itu dunia adalah tempat persinggahan orang-orang soleh yang benar-benar menpersiapkan bekalnya untuk akhirat nanti
Dari Abdullah bin Umar ra., ia berkata, Rasulullah saw memegang kedua bahuku dan bersabda; “Jadilah kamu di dunia seolah-olah orang asing atau orang yang lewat.’ Ibn Umar berkata, ‘Jika engkau ada pada waktu sore maka jangan menunggu pagi hari. Jika engkau ada pada waktu pagi maka jangan menuunggu sore hari. Manfaatkanlah sehatmu sebelum sakitmu dan manfaatkanlah hidupmu untuk bekal matimu”. (HR al-Bukhari, Ibn Hibban dan al-Baihaqi).

Kini saatnya kita berupaya untuk selalu menghadirkan muraqabah terhadap diri sendiri dan mengevaluasi diri dengan bermuhasabah apakah yang kita kerjakan sudah sesuai dengan ketentuan yang digariskan Allah SWT atau masih banyak mengikuti hawa nafsu untuk memuaskan keinginan dunia saja. Dengan orientasi bahwa ke depan harus lebih baik dan selalu istiqomah mengikuti apa yang telah diajarkan Rosulullah SAW. Dengan muhasabah diri negeri ini bisa mendapat pertolongan Allah SWT. Karena orang yang banyak melakukan muhasabah berarti orang yang menyadari betapa kelemahan dan kesalahan diri selalu melekat.

Semoga Artikel ini bermanfaat untuk Sahabat Rumah Kurma Sahara.
Silahkan berbelanja kurma di Rumah Kurma Sahara, Butuh perlengkapan haji? Ingat Toko Rumah Kurma Sahara!
Jalan Raya Semplak Atang Sandjaja No. 224
Bogor Barat – Kota Bogor
Customer Care : 0821-1141-8832 | 0878-7386-0559
Delivery : 0859-2512-6067
WA | PIN BB : 0878-7386-0559 | DA7A086

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *