Memurnikan Tauhid Menjauhi Syrik

Inti ajaran Islam adalah tauhid. Yakni tidak menyembah kepada selain Allah. Dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Tauhid akan menentukan kemusliman seseorang. Muslim adalah seorang yang bertauhid dan beriman kepada seluruh bagian dari aqidah Islam. Tauhid pula yang akan menentukan apakah seseorang akan menjadi ahli syurga atau ahlu an Naar. Dalam masalah tauhid hanya ada dua kemungkinan: iman atau kafir dan tauhid atau syirik. Tidak ada kemungkinan ketiga atau tengah-tengah diantara keduanya.

Memurnikan tauhid

Menjadi kewajiban setiap Muslim untuk senantiasa memantapkan dan memurnikan tauhidnya dengan cara menjauhi syirik.

Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya apa yang kamu sembah selain Allah itu hanyalah berhala,dan tidak kamu dusta, sesungguhnya yang kamu sembah selain allah itu tidak mampu memberi rizki kepadamu, karena itu carilah rizki iytu disisi Allah dan sembahlah dia serta bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nyalah kamu akan dikembalikan”. ( Al-Ankabut 17)

“Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah sembahan-sembahan selain Allah yang tidak dapat memperkenankan doanya sampai hari kiamat dan mereka lalai dari memperhatikan doa mereka? Dan paapabila manusia dikumpulkan (pada hari kiamat) niscaya sembahan-sembahan itu menjadi musuh mereka dan mengingkari pemujaan-pemujaan mereka( Al-ahqaf 5-6).

Definisi Syirik

Syirk (شرك) berasal dari kata شَرِكَ – يَشْرَكُ – شرِكًا yang berarti: menjadi sekutu baginya, memberikan bagian untuknya baik sedikit ataupun banyak di dalam dzat, atau makna
Jadi Syirik adalah menyamakan selain Allah dengan Allah pada perkara yang merupahan hak istimewa-Nya. Hak istimewa Allah seperti: Ibadah, mencipta, mengatur, memberi manfaat dan mudharat, membuat hukum dan syariat

Macam-Macam Syirik

Dari segi kekhususan Allah Ta’ala, syirik dibagi menjadi 3:

1. Syirik dalam Rububiyah yaitu meyakini bahwa ada kekuatan selain Allah yang bisa mematikan, menghidupkan, menciptakan, memberi risky, dll
2. Syirik dalam Uluhiyah yaitu meyakini bahwa ada kekuatan selain Allah yang bisa memberikan manfaat/mudhorot atau syafaat tanpa izin Allah
3. Syirik dalam Asma’ Wa Sifat (aspek sifat dan nama Allah swt) yaitu meyakini bahwa ada selain Allah yang juga memiliki sifat-sifat yang dimiliki Allah. Misalnya, mempercayai dukun bahwa dia tahu hal-hal yang ghaib.

Dilihat dari Kadar kemusyrikannya, syirik dibagi menjadi dua:
1. Syirik besar
2. Syirik kecil

1. Syirik besar

Syirik besar (al-syirku al-akbar) menurut as-Sa’adi dalam kitab al-Qaulu al-sadid diartikan: menjadikan bagi Allah sekutu (niddan) yang dia berdo’a kepadanya seperti berdo’a kepada Allah, takut, harap dan cinta kepadanya seperti kepada Allah atau melakukan suatu bentuk ibadah kepadanya seperti ibadah kepada Allah. Inilah yang dimaksud dalam surah An-Nisa [4]: 48,116, mengakibatkan pelakunya ke luar dari agama Islam, serta kekal selama-lamanya dalam neraka bila tidak taubat darinya.
“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.” (Annisa: 116)
Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah sembahan-sembahan selain Allah yang tidak dapat memperkenankan (do’a) nya sampai hari kiamat dan mereka lalai dari memperhatikan do’a mereka. Dan apabila manusia dikumpulkan (pada hari kiamat) niscaya sembahan-sembahan itu menjadi musuh mereka dan mengingkari pemujaan-pemujaan mereka” (QS. al-Ahqaf [46]: 5-6)

Syirik besar ada 4 macam:

a. Syirik dalam berdo’a

Yaitu meminta kepada selain Allah, di samping meminta kepada-Nya.
Allah swt berfirman:
“Maka apabila mereka naik kapal, mereka berdo’a hanya kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya Namun tatkala Allah nernyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka kembali mempersekutukan Allah. “(al-Ankabut [29]: 65)
Dan orang-orang yang kamu seru selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kalit ari. Jika kamu meminta kepada mereka, mereka tiada mendengar seruanmu dan kalau mereka mendengar mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu. Dan dihari kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikanmu. Dan tidak ada yang dapat memberikan keterangan kepadamu sebagaimana yang diberikan oleh Yang Maha Mengetahui.” (Faathir 35]: 13-14)

Boleh saja kita meminta kepada orang lain untuk mendoakan kita, hanya saja dengan syarat:
1. Yang dimintai tolong adalah hidup, jadi tidak boleh meminta tolong kepada orang yang sudah meninggal, batu atau pohon.
2. Pihak yang dimintai tolong bisa hadir, maksudnya adalah bahwa pihak yang dimintai tolong bisa berhubungan langsung dengan pihak yang meminta tolong, baik secara langsung maupun melalui alat komunikasi.
3. Boleh meminta tolong kepada pihak yang mampu. Jadi tidak boleh meminta untuk diberi keturunan, tidak turun hujan dan panjang umur kepada manusia.

Saat ini masih banyak orang yang berdoa kepada Jin Penunggu Gunung, pantai, dukun atau berdoa dikuburan para wali yang telah meninggal meminta untuk diberikan rizki yang melimpah, atau diberikan anak, dan permintaan-permintaan lainnya. Maka barangsiapa yang melakukan hal demikian berarti dia telah terjatuh dalam kesyirikan besar, sehingga dengannya dia keluar dari Islam, sebagaimana firman Allah;
“Barangsiapa berdoa keapada sesembahan selain Allah, padahal tidak ada suatu dalilpun baginya tentang itu, maka sesungguhnya perhitungannya disisi Robb-nya. Sesungguhnya orang-orang kafir itu tidaklah beruntung.” ( Al mu’minun: 117).
“Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurniaNya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S Yunus [10]: 107)

b. Syirik dalam Niat, Keinginan dan Tujuan

Yaitu ketika Beribadah kepada Allah, tapi niatnya tidak hanya untuk Allah, dia melakukan disertai dengan niat-niat yang lain karena ingin dilihat atau didengar manusia.
Misalkan: Beribadah hanya untuk mendapatkan Harta, mendapatkan sanjungan atau bahkan dalam rangka menghormati arwah orang yang sudah meninggal.
Allah SWT berfirman: “Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan”. (Q.S Hud [11]: 15-16)
Terkait dengan ayat Q.S Hud [11]: 15-16. Imam Qatadah berkata:
“Barang siapa yang tujuannya semata-mata dunia, dan tamak dalam mencarinya serta menyesal kalau luput darinya dunia tersebut, Allah akan membalas kebajikannya tersebut di dunia. Kemudian dia berangkat menuju akhirat dan tidak ada satupun kebajikan yang akan diberikan padanya. Dan adapun oranng mukmin akan dibalas kebajikan-kebajikannya di dunia dan akan diberi ganjaran atas kebajikan itu di akhirat”
Hadits Zaid bin Tsabit, Rasulullah SAW bersabda:” Siapa saja yang menjadikan dunia sebagai tujuannya, Allah mencerai-beraikan urusannya dan menjadikan kemiskinannya selalu membayang di pelupuk kedua matanya; tidak akan datang kepadanya bagian dari dunia kecuali yang telah ditetapkan untuknya. Siapa saja yang menjadikan akhirat sebagai tujuannya, Allah menghimpunkan untuknya urusannya dan menjadikan kekayaannya ada di dalam hatinya, dan dunia mendatanginya, sementara dunia itu remeh dan rendah”. (HR Ibn Majah, Ahmad, al-Baihaqi, Ibn Hibban, ad-Darimi dll).
Rasulullah mengingatkan harus berhati-hati dalam niat.
Dari Ibn Abbas r.a, Rasulullah SAW bersabda: “Sesunggugnya orang-orang yang Riya’ dalam beramal, maka diberikan ganjaran didunia dan mereka tidak akan di dholimi sedikitpun. Barang siapa yang melakukan satu amalan sholeh di dunia, baik puasa, sholat atau sholat tahajud di malam hari. Dan dia mengamalkan tidak kecuali untuk dunia, maka Allah SWT berkata: saya akan cukupkan baginya apa yang dia cari dari dunia bentuk balasan dan akan pupus amalan yang dia cari untuk dunia tersebut. Dan sesungguhnya di akherat dia termasuk orang-orang yang merugi”

Dalam Tafsir ibn Katsir
Ibadah dengan niat dunia adalah akan sia-sia
Shodaqah berniat untuk menjadikan Kaya. Puasa dengan tujuan untuk kesehatan
“Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang kami kehendaki bagi orang yang kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mu’min, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik. Kepada masing-masing golongan baik golongan ini maupun golongan itu. Kami berikan bantuan dari kemurahan Tuhanmu. Dan kemurahan Tuhanmu tidak dapat dihalangi. Perhatikanlah bagaimana Kami lebihkan sebagian dari mereka atas sebagian (yang lain). Dan pasti kehidupan akhirat lebih tinggi tingkatnya dan lebih besar keutamaannya”. (Al Israa’ [17]: 18-21)

Mari Instropeksi diri apakah kita beribadah hanya untuk dunia saja. Atau untuk bekal akherat. Bagaiamana ciri orang yang beramal untuk dunia?
Imam Bukhari meriwayatkan dalam BAB “Siapa yang menjaga diri dari nikmat Harta”
Dari Abu Hurairah r.a. Rasulullah SAW bersabda: “Celakalah hamba dinar, dirham, qathifah dan khomishoh. Jika diberi, dia pun ridho. Namun jika tidak diberi, dia tidak ridho, dia akan celaka dan akan binasa” (HR Bukhari)

Beribadah Di Atas Keraguan
Allah SWT berfirman:
“Dan diantara manusia ada orang yang menyembah Allah ditepi; maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah dia didunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata”‘ [al-Hajj [22]:11]
Imam Ibnu Katsir menyatakan:” Menurut Mujahid, Qatadah serta ‘ulama-‘ulama tafsir lainnya, bahwa yang dimaksud ‘ala harf, adalah ‘ala syakk (di atas keraguan).” Ayat ini menyindir orang-orang yang menyembah kepada Allah di atas keraguan, bukan di atas keyakinan hatinya.
Mereka beribadah semata-mata karena untuk imbalan dunia, bukan mengharap wajah Allah (pahala sejati kehidupan akherat).
Bukan berarti beribadah untuk berharap balasan didunia, tidak diperbolehkan. ASALKAN memang Allah menyebutkannya dalam dalil. Dan ketika melakukannya melakukan dengan ikhlas dan mengharap kebaikan dunia & akherat,
Misalkan: Amalan Silaturahim & berbakti kepada orang tua dengan tujuan untuk menambah keberkahan rizki & umur. Sesuai dengan HR Bukhari & Muslim.

c. Syirik dalam Ketaatan

Yaitu ketaatan kepada makhluk, baik wali ataupun ulama dan lain-lainnya, dalam mendurhakai Allah. Jadi dia itu dalam melakukan sesuatu bukan karena perintah/larangan Allah. Dia melakukan sesuatu karena mengikuti sang guru, nenek moyang atau orang kebanyakan. Dahulukan dalil, bukan pendapat Orang. Ketaatan kepada para ulama, umara(pemerintah), hakim dan pemimpin dalam menghalalkan yang diharamkan, atau mengharamkan yang dihalalkan Allah, maka siapa yang taat kepada mereka dalam hal kemaksiatan itu, berarti dia telah menjadikan sekutu(tandingan) bagi Allah dalam tasyri’ (menetapkan hukum). Sudah jelas-jelas Haram, tapi karena seorang ustadz membolehkan. Dia lebih mengikuti ustadznya.
Seperti firman Allah:
“Mereka menjadikan orang-orang alim, dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah, dan (juga mereka menjadikan Rabb) Al-Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan”.(at-Taubah [9]: 31)
• Rasulullah pernah membacakan ayat tersebut di hadapan ‘Adiy bin Hatim athTha’i, dia dahulunya memeluk agama Nasrani, ‘Adiy langsung berkata: “Yaa Rasulullah, kami dahulunya tidak menyembah mereka! Rasulullah, pun bersabda: Bukankah mereka menghalalkan apa-apa yang diharamkan Allah, lalu kamu juga ikut menghalalkannya, mereka mengharamkan apa-apa yang dihalalkan Allah, lalu kamu ikut mengharamhannya?” “Benar”! Jawab ‘Adiy. “Begitulah dahulunya kamu menyembah mereka”! jawab Beliau. (HR Tirmidzi).

Taat kepada manusia dalam hal kemaksiatan inilah yang dimaksud dengan menyembah berhala mereka! Berkaitan dengan ayat di atas, Rasulullah menegaskan:
• Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam hal bermaksiat kepada al-Khaliq (Allah). (HR Ahmad)
• Jenis kesyirikan besar (Syirik dalam Ketaatan) sekarang tersebar luas, bahkan banyak yang bangga melaksanakannya.
• Ketika seseorang sudah tidak mau berhukum dengan yg diturunkan Allah dan menetapkan bahwa ada hukum yang lebih baik daripada hukum-Nya, sesungguhnya ia telah menjadi hamba kepada selain-Nya.
• Ada yang menjadi hamba hawa nafsunya, “Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?(QS. Al Furqan: 43)
• Tentang ayat ini Al Hasan berkata: “ tidaklah mereka menyukai sesuatu melainkan mereka akan mengikutinya”
• Bagi penghamba hawa nafsu, manfa’at dan kesenangan duniawi adalah tolok ukurnya.
• Ada yang menghamba pada suara mayoritas, apa yang sudah menjadi tradisi masyarakat akan dikatakan sebagai kebaikan. Suara mayoritas dianggap sebagai suara ‘Tuhan’, yang akibatnya justru firman Tuhan banyak yang dilecehkan, aturan syari’at dipinggirkan hanya karena tidak didukung suara mayoritas. Inilah yang oleh yahudi Barat disebut dengan demokrasi.
• Syirik apapun jenisnya merupakan musibah besar, musibah yang tidak hanya mengancam kehidupan dunia, namun juga mencelakakan pelakunya di kehidupan akhirat kelak. Bukan hanya mengancam kehidupan Muslim, namun juga umat manusia apapun keyakinannya.

d. Syirik Dalam Mahabbah (Kecintaan)

Yaitu mencintai seseorang, baik wali atau lainnya sebagaimana mencintai Allah atau menyetarakan cintanya kepada makhluk dengan cintanya kepada Allah. Allah SWT berfirman:”Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat dzalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan_Nya (niscaya mereka menyesal)”. (al-Baqarah [2]: 165).
Yang dimaksud dengan mahabbah (kecintaan) dalam ayat ini adalah mahabbatul ubudiyah, yaitu cinta yang dibarengi dengan ketundukan dan kepatuhan mutlak. Cinta yang mengandung unsur ibadah. Serta mengutamakan yang dicintai daripada yang lainnya. Mahabbah seperti ini adalah hak istimewa Allah. Hanya Allah saja yang berhak dicintai seperti itu, tidak boleh diperlakukan dan disetarakan dengan Nya sesuatu apapun.

2. Syirik Ashgar (kecil)

Syirik kecil mencakup perkataan dan perbuatan yang akan membawa seseorang kepada kemusyrikan, dan apabila dilakukan terus menerus bisa menjerumuskan pelakunya kepada syirik besar.

Perbuatan yang termasuk syirik kecil diantaranya adalah:

1. Bersumpah dengan selain Allah
“Barangsiapa yang bersumpah selain nama Allah dia telah kufur atau syirik.” (HR. at-Tirmidzi)

2. Memakai jimat
“Bahwasannya Rosulullah saw pernah melihat seseorang memakai benang ditangannya guna menolak sakit panas, maka benang itu diputuskannya seraya membacakan firman Allah, “dan kebanyakan mereka tidak beriman kepada Allah, kecuali mereka itu hanyalah orang-orang musyrik(QS Yusuf:[12]:106)
Barangsiapa yang menggantungkan diri azimat maka dia telah berbuat syirik.” (HR. Ahmad).
“Sesungguhnya mantra azimat, dan guna-guna itu adalah perbuatan syirik.” (HR. ibnu Hibban)
3. Sihir
“Barangsiapa yang membuata satu simpul kemudian dia meniupinya, maka sungguh ia telah menyihir. Barangsiapa menyihir, sungguh ia telah berbuat syirik.” (HR. Nasai).

4. Astrologi/ramalan
“Allah menciptakan bintang untuk tiga keperluan, yakni hiasan langit, pelempar setan dan tanda-tanda untuk penunjuk arah. Barangsiapa mentakwilkan bintang diluar ketiga hal itu, maka ia telah melakukan kesalahan, berbuat sia-sia dan telah menyia-nyiakan nasibnya serta memaksakan dirinya pada sesuatu tanpa dasar ilmu pengetahuan.” (HR.Bukhori).
“Thiyarah (penentuan nasib dengan burung) itu adalah syirik, thiyarah itu adalah syirik.” (HR. Trimidzi).

5. Bernazar kepada selain Allah
“Barangsiapa yang bernazar untuk berbuat taat kepada Allah maka hendaklah dia laksanakan nazarnya itu, dan barangsiapa bernazar untuk mendurhakai Allah, maka janganlah dia mendurhakai-Nya”. (HR. Bukhori).
6. Riya
“Sesungguhnya sesuatu yang paling aku takuti terjadi pada kaliyan adalah al syirku al-ashgar (sirik kecil). Sahabat bertanya, apa syirik kecil itu, ya Rosulullah? Rosulullah saw menjawab, Riya.(HR. Ahmad).
7. Ikut-ikutan
Banyak orang yang melakukan syirik, mempercayai ramalan, sihir, kepercayaan tanpa dasar ulasan semacam hongsui/fengsui, selain miskinnya tauhid, juga karena ikut-ikutan saja tanpa dalil/ilmu yang jelas, yang berkembang dari mulut ke mulut, dari orang ke orang, dan tradisi ini terus dipertahankan secara turun temurun. Maka, ketika orang melakukan semua itu bukan lagi atas dasar pertimbangan ilmu dan akal sehat, tetapi semata sebuah tradisi. Kecenderungan semacam ini terjadi sejak zaman dahulu, sebagaimana firman Allah SWT:
“Dan bacakanlah kepada mereka kisah Ibrahim. Ketika ia berkata kepada bapaknya dan kaumnya: ‘apakah yang kamu sembah?’ mereka menjawab, ‘kami menyembah berhala dan kami senantiasa tekun menyembahnya’, berkata Ibrahim: ‘apakah berhala-berhala itu mendengar (do’a) mu sewaktu kamu berdoa (kepadanya), atau dapatkah mereka memberi manfaat kepadamu atau memberi mudharat?’ mereka menjawab: ‘bukan karena itu, sebenarnya kami mendapati nenek moyang kami telah berbuat demikian.” (QS. As-Syu’ara [26]:69-74).

Hati-Hati Menuduh Syirik
Mengingat besarnya bahaya syirik, dan samarnya sebagian syirik, maka kita patut berhati-hati dengan bahaya dari dosa syirik yang dapat merusak amal kita, dan dituntut wajib untuk merubah kemungkaran. Namun walaupun begitu perlu berhati-hati dalam menuduh orang lain sebagai pelaku kesyirikan, karena bisa jadi tuduhan itu kembali kepada penuduh. Seperti yang diterangkan dalam hadist dibawah ini;
Hudzaifah r.a berkata: “Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya sesuatu yang aku takutkan atas kalian adalah seorang laki-laki yang membaca al-Qur’an, sehingga setelah ia kelihatan indah karena al-Qur’an dan menjadi penolong agama Islam, ia merubahnya pada apa yang telah menjadi kehendak Allah. Ia melepaskan dirinya dari al-Qur’an, melemparnya ke belakang dan menyerang tetangganya dengan pedang dengan alasan telah syirik.” Aku bertanya: “Wahai Nabi Allah, siapakah di antara keduanya yang lebih berhak menyandang kesyirikan, yang dituduh syirik atau yang menuduh?” Beliau menjawab: “Justru orang yang menuduh syirik [yang lebih berhak menyandang kesyirikan].” (HR. Abu Nu’aim, Al Bazzar dengan sanad hasan, lihat silsilah ash shahîhah).

Neraka Balasannya

Syirik adalah dosa besar yang tak terampunkan dosanya disisi Allah. Karena siapa saja yang syirik, hakekatnya tidak lagi ada nilai tauhid didalam dadanya.
“Barangsiapa yang dating kepada peramal atau dukun dan ia membenarkan apa yang dikatakannya, maka berarti ia telah kafir terhadap wahyu yang dituntunkan kepada Nabi Muhammad saw”. (HR. empat sunan). Barangsiapa yang dating kepada dukun, kemudian menanyakan sesuatu dan membenarkan apa yang dikatakan dukun itu, maka selama empat puluh hari shalatnya tidak diterima”. (HR.Muslim).
Jauhilah tujuh perkara yang merusak, para sahabatnya bertanya, ‘apakah tujuh perkara itu ya Rasulullah?’ Rasulullah menjawab: “menyekutukan Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali secara hak, makan riba, makan harta anak yatim, meninggalkan medan perrang, dan menuduh zina terhadap wanita yang suci.” (HR.Bukhori Muslim).
“hukuman bagi tukang sihir adalah dipenggal lehernya. (HR. Tirmidzi).
“sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa orang yang menyekutukan –Nya dan Dia mengampuni doda-dosa lainnya bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya”.( al Nisa:48)
“Tiga macam yang tidak masuk syurga yakni pemabuk, pemutus hubungan silaturrahmi, dan orang yang membenarkan(mempercayai sihir”. (HR.Ahmad).
Maka dari dalil-dalil diatas risiko syirik sangat berat, dari yang ringan tertolak ibadah sholatnya hingga empat puluh hari, dihukum dunia dengan cara dipenggal lehernya hingga yang terberat divonis sebagai ahli neraka karena dosa yang tak terampuni tadi.

Yang Paling Baik
1. Sesuai petunjuk al-Qur’an, yang terbaik adalah senatiasa memurnikan tauhid dan membersihkan dari syirik. Bila secara sengaja atau tidaj sengaja, kita pernah melakukan syirik, segera tinggalkan syirik itu dan bertobat. Pintu tobat masih terbuka untuk semua bentuk kesalahan selama ajal belum menjelang. Dan Allah pasti akan menerima tobat dari siapapun yang sungguh-sungguh bertobat. Sebagaimana firman Allah SWT:
“Katakanlah : Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. az-Zumar [39] : 53)
2. Tawakal muncul dari keyakinan seorang muslim terhadap qudrah (kekuasaan) dan iradah (kehendak) Allah.
Bahwa bila Allah berkehendak menimpakan kemudharatan, tak satupun yang dapat menghindarkannya selain Dia, dan bila Allah menghendaki karunia maka tak satupun juga yang dapat menolaknya.
3. Optimis
“Yang paling baik adalah rasa optimis, dan optimis itu tidak akan menggagalkan orang Isalm. Maka jika seseorang diantara kamu melihat sesuatu yang tidak menyenangkan, ucapkanlah: “Allahumma la ya’ti bi al hasanati illa anta, wa la yadfau al-sayyiati illa anta, wa la hawla wal quwwata illa bika” (Ya Allah, hanya Engkau Yang Maha mendatangkan kebaikan-kebaikan dan hanya Engkau pula Yang Maha menolak segala ketidakbaikan. Tidak ada daya dan tidak ada kekuatan kecuali hanya karena-Mu” (HR. Abu Dawud)

Semoga Artikel ini bermanfaat untuk Sahabat Rumah Kurma Sahara.
Silahkan berbelanja kurma di Rumah Kurma Sahara, Butuh perlengkapan haji? Ingat Toko Rumah Kurma Sahara!
Jalan Raya Semplak Atang Sandjaja No. 224
Bogor Barat – Kota Bogor
Customer Care : 0821-1141-8832 | 0878-7386-0559
Delivery : 0859-2512-6067
WA | PIN BB : 0878-7386-0559 | DA7A086

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *