Makna Berqurban di Eidul Adha

Idul Adha memiliki makna yg penting dalam kehidupan. Makna ini perlu kita renungkan dalam-dalam dan selalu kita kaji ulang agar kita lulus dari berbagai cobaan Allah. Makna Idul Adha tersebut antara lain, menyadari kembali bahwa makhluk yang namanya manusia ini adalah makhluk yang kecil belaka meskipun berbagai kebesaran disandangnya. Inilah makna kita mengumandangkan takbir Allahu akbar, menyadari kembali bahwa tiada yg boleh di-Tuhankan selain Allah.

Sabda Rasulullah SAW, “Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah, yang Tunggal dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya segala kerajaan, dan milik-Nya segala pujian. Dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Ya Allah, tidak ada yang dapat menahan dari apa yang Engkau berikan dan tidak ada yang dapat memberi dari apa yang Engkau tahan. Dan tidak bermanfaat kekayaan orang yang kaya dihadapan-Mu sedikitpun.” (H.R Bukhari)

A. Dzulhijjah

Apa arti bulan Dzulhijjah? Secara bahasa, Dzulhijjah [Arab: ذو الحجة ] terdiri dari dua kata: Dzul [Arab: ذو ], yang artinya pemilik dan Al Hijjah [Arab: الحجة ], yang artinya haji. Dinamakan bulan Dzulhijjah, karena orang Arab, sejak zaman jahiliyah, melakukan ibadah haji di bulan ini. Orang Arab melakukan ibadah haji sebagai bentuk pelestarian terhadap ajaran Nabi Ibrahim ‘alaihissallam (Tahdzibul Asma’, 4/156).

Ada beberapa hari khusus di bulan Dzulhijjah. Hari-hari khsusus ini memiliki nama khusus, diantaranya adalah:

1. Hari tarwiyah [arab: التروية ] : tanggal 8 Dzulhijjah. Disebut hari tarwiyah, dari kata irtawa – yartawi [arab: ارتوى – يرتوي ], yang artinya banyak minum. Karena pada hari ini, masyarakat banyak mi-num dan membawa air untuk perbekalan hari setelahnya. Ada juga yang mengatakan, tarwiyah dari kata ar-rawiyah [arab: الرَّوِيَّةُ ], yang artinya berfikir atau merenung. Disebut tarwiyah, karena pada tanggal 8 Dzulhijjah, Nabi Ibrahim ‘alaihis salam berfikir dan merenungkan isi mimpinya. (Al Qamus Al Muhit, kata: ra-wi-ya)

2. Hari arafah [arab: عرفة ] : tanggal 9 Dzulhijjah. Disebut hari ‘arafah, karena pada tanggal ini, ja-maah haji melakukan wukuf di ‘arafah’ (Al Mu’jam Al Wasith, kata: ‘arafah). Dengan demikian, hadis yang menyebutkan anjuran berpuasa ‘arafah adalah puasa di tanggal 9 Dzulhijjah.

3. Hari An Nahr [arab: النحر :menyembelih) : tanggal 10 Dzulhijjah. Kata ‘An- Nahr’ secara bahasa artinya menyembelih binatang di bagian pangkal lehernya (tempat kalung). Ini merupakan cara yang digunakan dalam menyembelih onta. Karena onta terlalu sulit untuk disembelih di bagian ujung leher. Disebut hari Nahr, karena pada hari ini banyak orang yang menyembelih onta qurban. (Al-Qamus Al Muhit, kata: An Nahr).

Keutamaan Bulan Dzulhijjah

Dzulhijjah adalah salah satu bulan mulia dalam kalender Islam. Banyak umat Islam yang me-nantikan kedatangannya, khususnya para calon jamaah haji, juga tentunya para peternak hewan kurban. Berikut ini adalah beberapa keutamaan bulan Dzulhijjah yang mesti kita ketahui dan amalan apa saja yang bisa kita lakukan saat itu. semoga bisa memotivasi kita untuk melakukan banyak amal kebaikan pada bulan tersebut.

1. Dzulhijah termasuk Asyhurul Hurum (bulan-bulan haram)

Bulan Dzulhijjah adalah salah satu bulan mulia, yang telah Allah Ta’aalaa sebutkan sebagai asyhurul hurum (bulan-bulan haram).

Allah Ta’aalaa berfirman:

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam empat bulan itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bah-wasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (QS. At Taubah [9]: 36).

Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya Waktu terus bergulir sebagaimana keadaannya sejak Allah ciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu (terdiri dari) dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haran (yang disucikan). Ti-ga bulannya berturut-turut yaitu Dzulqo’dah, Dzulhijjah dan Muharram dan (satu bulan lagi adalah) Rajab Mudhor yang terletak antara Jumadil (akhir) dan Sya’ban.” (HR. Bukhari, no.5550 dan Muslim, no. 1679).

Ibnu Abbas berpendapat bahwa “dosa dan amal shaleh di bulan haram lebih besar (dosa maupun pa-halanya)”. Qotadah bin Di’amah as Sadusi mengatakan: “Kezhaliman di bulan haram lebih besar kesalahnnya dan dosanya daripada kezhaliman di bulan lain.” (Tafsir Thabari 10/89).

2. Pada bulan Dzulhijjah, amal soleh dilipat gandakan.

Sebagaimana pahala yang dijanjikan ketika ramadhan. Dari Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salaam bersabda;

”Ada dua bulan yang pahala amalnya tidak akan berkurang. Keduanya dua bulan hari raya: bulan Ramadlan dan bulan Dzulhijjah.” (HR. Bukhari 1912 dan Muslim 1089).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggandengkan bulan Dzulhijjah dengan Ramadhan. Sebagai motivasi beliau menyebutkan bahwa pahala amal di dua bulan ini tidak berkurang.

3. Hari yang dicintai Allah Subhana wa Ta’ala, terkumpul di dalamnya Ummuhatul Ibadah (pokok-pokok ibadah).

Berkata Al Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Baari: “Yang nampak bahwa sebab dimuliakannya sepuluh pertama bulan Dzulhijjah karena terkumpul di dalamnya Ummahatul Ibadah pokok-pokok ibadah yaitu: sholat, puasa, shodaqah dan haji, hal itu tidak ada di hari-hari yang lain.” Dari Ibnu Ab-bas radhiyallahu’anhuma berkata : Rasulullah bersabda: “Tidaklah ada dari hari-hari yang amal shalih pada hari-hari itu lebih dicintai oleh Allah dari pada hari-hari itu (yakni sepuluh pertama bulan Dzulhi-jjah.” Para sahabat bertanya: “Ya Rasulullah, tidak juga jihad fi sabilillah? Beliau menjawab: “Tidak juga jihad fi sabilillah, kecuali seseorang yang keluar dengan jiwa dan hartanya kemudian tidak pulang dengan sesuatu apapun (yakni meninggal di medan jihad).” (HR. Bukhari)

4. Bahwa Allah ta’ala bersumpah dengannya.

Ketika Allah bersumpah dengan sesuatu, hal itu menunjukkan keutamaan dan agungnya kedudukan sesuatu yang dijadikan sumpah tersebut, karena Yang Maha Agung tidak bersumpah kecuali dengan sesuatu yang agung.

Allah ta’ala berfirman :

“Demi fajar. Dan malam yang sepuluh.”

Ibn Rajab menjelaskan, malam yang sepuluh adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Inilah tafsir yang benar dan tafsir yang dipilih mayoritas ahli tafsir dari kalangan sahabat dan ulama setelahnya. Dan tafsir inilah yang sesuai dengan riwayat dari Ibn Abbas radliallahu ‘anhuma…” (Lathaiful Ma’arif, hal. 469).

Amal-amalan di 10 pertama dzulhijjah

a. Memperbanyak puasa di sembilan hari pertama

Dianjurkan memperbanyak puasa di sembilan hari bulan Dzulhijjah. Terutama puasa hari arafah, tanggal 9 Dzulhijjah.

Dari Abu Qatadah radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“…puasa hari ‘arafah, saya berharap kepada Allah agar menjadikan puasa ini sebagai kaffarah satu tahun sebelumnya dan satu tahun setelahnya..” (HR. Ahmad & Muslim).

Demikian juga keumuman hadis yang menunjukkan keutamaan sepuluh hari pertama bulan Dzulhi-jjah. Disamping itu, terdapat keterangan khusus dari Ummul Mukminin, Hafshah radhiallahu ‘anha, bahwa “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan puasa Asyura, sembilan hari pertama Dzulhi-jjah, dan tiga hari tiap bulan”. (HR. An Nasa’i, Abu Daud, Ahmad, dan dinilai shahih oleh Al Albani).

b. Memperbanyak Takbir dan Dzikir

Takbiran di bulan Dzulhijjah ada dua:

♦Takbiran hari raya yang tidak terikat waktu adalah takbiran yang dilakukan kapan saja, dimana saja, selama masih dalam rentang waktu yang dibolehkan.

♦Takbir mutlak menjelang idul Adha dimulai sejak tanggal 1 Dzulhijjah sampai waktu asar pada tanggal 13 Dzulhijjah. Selama tanggal 1 – 13 Dzulhijjah, kaum muslimin disyariatkan memperbanyak ucapan takbir di mana saja, kapan saja dan dalam kondisi apa saja. Boleh sambil berjalan, di kendaraan, bekerja, berdiri, duduk, ataupun berbaring. demikian pula, takbiran ini bisa dilakukan di rumah, jalan, kantor, sawah, pasar, lapangan, masjid, dst.

Allah berfirman:
“…supaya mereka berdzikir (menyebut) nama Allah pada hari yang telah ditentukan…” (QS. Al Hajj: 28)
“….Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang…” (QS. Al Baqarah: 203)

Ibn Abbas mengatakan, “Yang dimaksud “hari yang telah ditentukan” adalah tanggal 1 – 10 Dzulhijjah, sedangkan maksud ”beberapa hari yang berbilang” adalah hari tasyriq, tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah”. (Al Bukhari secara Mua’alaq, bab: Keutamaan beramal di hari tasyriq).

Hadist dari Abdullah bin Umar , bahwa Nabi bersabda:
“Tidak ada amal yang dilakukan di hari yang lebih agung dan lebih dicintai Allah melebihi amal yang dilakukan di tanggal 1 – 10 Dzulhijjah. Oleh karena itu, perbanyaklah membaca tahlil, takbir, dan tahmid pada hari itu.” (HR. Ahmad & Sanadnya dinilai shahih oleh Syaikh Ahmad Syakir)

Imam Al Bukhari mengatakan:
“Dulu Ibn Umar dan Abu Hurairah pergi ke pasar pada tanggal 1 – 10 Dzulhijjah. Mereka berdua mengucapkan takbiran kemudian masyarakat bertakbir disebabkan mendengar takbir mereka berdua.” (HR. Al Bukhari, bab: Keutamaan beramal di hari tasyriq)

c. Memperbanyak amal shaleh

Dari Ibn Abbas radhiallahu ‘anhu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Tidak ada hari dimana suatu amal shaleh lebih dicintai Allah melebihi amal shaleh yang dilakukan di sepuluh hari ini (sepuluh hari pertama Dzulhijjah, pen.).” Para sahabat bertanya: Wahai Rasulullah, termasuk lebih utama dari jihad fi sabilillah? Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Termasuk lebih utama dibanding jihad fi sabilillah. Kecuali orang yang keluar dengan jiwa dan hartanya (ke me-dan jihad), dan tidak ada satupun yang kembali (mati dan hartanya diambil musuh, pen).” (HR. Al Bukhari, Ahmad, dan At Turmudzi)

d. Berqurban

Allah berfirman:

“Laksanakanlah shalat untuk Rabmu dan sembelih-lah qurban.” (QS. Al Kautsar: 2)

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Siapa yang memililki kelapangan namun dia tidak berqurban maka jangan mendekat ke masjid ka-mi.” (HR. Ahmad & Ibn Majah dan dihasankan Al Albani)

Catatan: Bagi orang yang hendak berqurban, dilarang memotong kuku atau rambut dirinya (bukan he-wannya) ketika sudah masuk tanggal 1 Dzulhijjah sampai dia memotong hewan qurbannya.

Dari Umu salamah radhiallahu ‘anha, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda:
“Barangsiapa yang memiliki hewan yang hendak dia sembelih (di hari raya), jika sudah masuk tanggal 1 Dzulhijjah maka janganlah dia memotong rambutnya dan kukunya sedikitpun, sampai dia menyem-belih qurbannya.” (HR. Muslim)

e. Haji

Allah berfirman:

“Kewajiban bagi manusia kepada Allah, berhaji ke baitullah, bagi siapa saja yang memiliki kemampu-an untuk melakukan perjalanan” (QS. Ali Imran: 97)

f. Bertaubat yang benar.

Wajib bagi setiap muslim untuk menyambut musim ketaatan dengan taubat yang sejujurnya dan bertekad kuat untuk kembali kepada Allah ta’ala. Maka bertaubat adalah keberuntungan bagi seorang hamba di dunia dan di akhirat.

Allah ta’ala berfirman :
“Dan bertaubat kepada Allah semuanya wahai orang-orang yang beriman, niscaya kalian akan beruntung.” (An-Nuur : 31).

B. Berkurban, Amalan utama dibulan ini

Makna Qurban

Kata kurban atau korban, berasal dari bahasa Arab qurban, diambil dari kata : qaruba (fi’il madhi) – yaqrabu (fi’il mudhari’) – qurban wa qurbânan (mashdar). Artinya, mendekati atau meng-hampiri (Matdawam, 1984).

Menurut istilah, qurban adalah segala sesuatu yang digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah baik berupa hewan sembelihan maupun yang lainnya (Ibrahim Anis et.al, 1972). Dalam bahasa Arab, hewan kurban disebut juga dengan istilah udh-hiyah atau adh-dhahiyah, dengan bentuk jamak-nya al-adhâhi. Kata ini diambil dari kata dhuhâ, yaitu waktu matahari mulai tegak yang disyariatkan untuk melakukan penyembelihan kurban, yakni kira-kira pukul 07.00 – 10.00 (Ash Shan’ani, Subulus Salam, IV/89).

Udh-hiyah adalah hewan kurban (unta, sapi, dan kambing) yang disembelih pada hari raya Qurban dan hari-hari tasyriq sebagai taqarrub (pendekatan diri) kepada Allah (Sayyid Sabiq, Fikih Sunnah, XIII/155; Al Ja’bari, 1994).

Keutamaan Ber-Qurban

1.Perintah Mulia Dari Allah yang disejajarkan dengan Sholat,

“Dirikanlah shalat dan berqurbanlah (an nahr).” (QS. Al Kautsar: 2).

2.Untuk Meraih Ketaqwaan

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.” (QS. Al Hajj: 37)

3. Tetesan darah hewan qurban akan memintakan ampun bagi setiap dosa orang yang berqurban.

Dan setiap bulunya terdapat Pahala

“Hai Fathimah, bangunlah dan saksikanlah qurbanmu. Karena setiap tetes darahnya akan memohon ampunan dari setiap dosa yang telah kaulakukan…” (lihat Sayyid Sabiq, Fikih Sunnah XIII/165)

4. Amal yang paling dicintai Allah SWT pada saat Idul Adh-ha.

• “Tidak ada suatu amal anak Adam pada hari raya Qurban yang lebih dicintai Allah selain menyembel-ih qurban.” [HR. At-Tirmidzi] (Abdurrahman, 1990).

• Berdasarkan hadits itu Imam Ahmad bin Hambal, Abuz Zanad, dan Ibnu Taimiyah berpendapat, “Menyembelih hewan pada hari raya Qurban, aqiqah (setelah mendapat anak), dan hadyu (ketika haji), lebih utama daripada shadaqah yang nilainya sama.” (Al-Jabari, 1994).

Hukum Ber-Qurban

Qurban hukumnya sunnah, tidak wajib. Imam Malik, Asy-Syafi’i, Abu Yusuf, Ishak bin Ra-hawaih, Ibnul Mundzir, Ibnu Hazm dan lainnya berkata; ”Qurban itu hukumnya sunnah bagi orang yang mampu (kaya), bukan wajib, baik orang itu berada di kampung halamannya (muqim), dalam per-jalanan (musafir), maupun dalam mengerjakan haji.” (Matdawam, 1984)

“Aku diperintahkan (diwajibkan) untuk menyembelih qurban, sedang qurban itu bagi kamu adalah sunnah.” [HR. At-Tirmidzi]

“Telah diwajibkan atasku (Nabi SAW) qurban dan ia tidak wajib atas kalian.” [HR. Ad-Daruquthni].

Ukuran “mampu” berqurban, hakikatnya sama dengan ukuran kemampuan shadaqah, yaitu mempu-nyai kelebihan harta (uang) setelah terpenuhinya kebutuhan pokok (al hajat al asasiyah) –yaitu sandang, pangan, dan papan– dan kebutuhan penyempurna (al hajat al kamaliyah) yang lazim bagi seseorang. Jika seseorang masih membutuhkan uang untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut, maka dia terbebas dari menjalankan sunnah qurban. (Al Ja’bari, 1994)

Orang yang mampu berqurban tapi tidak berqurban, hukumnya makruh. Sabda Nabi SAW:

“Barangsiapa yang mempunyai kemampuan tetapi ia tidak berqurban, maka janganlah sekali-kali ia menghampiri tempat shalat kami.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah, dan Al Hakim, dari Abu Hurairah RA. Menurut Imam Al Hakim, hadits ini shahih. Lihat Subulus Salam IV/91).

Syarat-Syarat Hewan Kurban

1. Hewan kurban harus berupa Bahimatul An’am.

Yang dimaksud bahimatul An’am adalah empat macam hewan yaitu unta, sapi, kambing, dan domba. Dalil yang menunjukkan bahwa hewan kurban hanya empat macam hewan ini adalah firman Allah;

“dan bagi tiap-tiap umat telah Aku syariatkan Mansak, supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzkikan Allah kepada mereka” (Al-Hajj; 34)

Mansak dalam ayat di atas adalah aktivitas menyembelih hewan kurban. Ketika Allah mensyariatkan bagi umat Islam ibadah berkurban agar kaum muslimin menyebut nama Allah ketika menyembelihnya (tidak seperti orang-orang musyrik yang menyebut nama berhala ketika menyembelih kurban), Allah menyebut jenis hewan yang diberikan Allah kepada kaum muslimin untuk dijadikan hewan kurban yaitu Bahimatul An’am pada ujung ayat. Definisi bahimatul An’am adalah hewan ternak yang berupa unta, sapi dan kambing yang mencakup kambing biasa (dengan bulu lurus dan kasar) dan domba (dengan bulu wol).

As-Syaukani berkata; “Bahimatul An’am adalah unta, sapi dan kambing”. (Fathu Al-Qodir, vol.3 hlm 642)

2. Hewan kurban harus memenuhi usia minimal tertentu yang ditetapkan oleh syariat.

Yang menjadi ukuran adalah usia, bukan masalah gemuk/ tidak atau ukuran-ukuran yang lainnya. Jika hewan kurban tidak memenuhi usia minimal yang ditetapkan oleh syariat, maka kurban yang dia persembahkan hukumnya tidak sah. Dalil yang menunjukkan ketidakabsahan berkurban jika hewannya tidak memenuhi syarat usia minimal adalah hadis berikut ini;

Dari Al Bara` dia berkata; “Pada suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengerjakan shalat, setelah itu beliau bersabda:

“Barangsiapa mengerjakan shalat seperti shalat kami, dan menghadap kib-lat kami, hendaknya tidak menyembelih binatang kurban sehingga selesai mengerjakan shalat.” Lalu Abu Burdah bin Niyar berdiri dan berkata; “Wahai Rasulullah, padahal aku telah melakukannya.” Beliau bersabda: “Itu adalah ibadah yang kamu kerjakan dengan tergesa-gesa.” Abu Burdah berkata; “Sesungguhnya aku masih memiki Jadza’ah dan dia lebih baik daripada dua Musinnah, apakah aku juga harus menyembelihnya untuk berkurban? Beliau bersabda: “Ya, namun hal itu tidak sah untuk orang lain setelahmu.” (H.R.Bukhari)

Riwayat lain berbunyi;

Dari Al Bara` bin ‘Azib radliallahu ‘anhu dia berkata; Pamanku yaitu Abu Burdah pernah menyembel-ih binatang kurban sebelum shalat (ied), maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepa-danya: “Kambingmu hanya berupa daging biasa (bukan daging kurban) Lantas pamanku berkata; “Ya Rasulullah, sesungguhnya aku hanya memiliki seekor Jadza’ah.” Beliau bersabda: “Berkurbanlah dengan kambing tersebut, namun hal itu tidak sah untuk selain kamu.” Kemudian beliau melanjutkan sabdanya: “Barang siapa berkurban sebelum shalat (Iedul Adlha), dia hanya menyembelih untuk dirinya sendiri, dan barang siapa menyembelih setelah shalat (Iedul Adlha), maka sempurnalah iba-dahnya dan dia telah melaksanakan sunnah kaum Muslimin dengan tepat.” (H.R.Bukhari).

Adapun perincian usia minimal hewan kurban, maka penjelasannya adalah sebagai berikut:

a. Domba usia minimalnya adalah 6 bulan Hijriyyah
b. Kambing usia minimalnya adalah 1 tahun Hijriyyah
c. Sapi usia minimalnya adalah 2 tahun Hijriyyah
d. Unta usia minimalnya adalah 5 tahun Hijriyyah

Dalil yang menunjukkan ketentuan usia ini adalah hadis berikut ini;

Dari Jabir dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kamu sembelih hewan untuk berkurban, melainkan Musinnah. Kecuali jika itu sulit kamu peroleh, sembelihlah Jadza’ah domba.” (H.R. Muslim)

Lebih rinci lagi, Tsaniyyah pada unta adalah semua unta yang usianya telah genap 5 (lima) ta-hun, Tsaniyyah pada sapi adalah semua sapi yang usianya telah genap 2 (dua) tahun, dan Tsaniyyah pada kambing adalah semua kambing yang usianya telah genap 1 (satu) tahun Hijriyyah. Tsaniyy adalah setiap hewan yang tanggal gigi serinya. Jamaknya Tsina’ dan Tsunyan. Bentuk lainya Tsaniyyah yang dijamakkan menjadi Tsaniyyat. Tsaniyy dari unta adalah unta yang genap berusia lima tahun, dari sapi yang genap dua tahun dan dari kambing yang genap satu tahun. (Mu’jam Lughoti Al-Fuqoha’, vol 1/hlm 188)

3. Hewan kurban harus bebas dari aib/cacat.

Yang dimaksud dengan aib di sini adalah aib yang dinya-takan oleh Nash. Ada 4 (empat) aib utama yang dijelaskan dalam Nash yaitu ‘Aroj Bayyin (kepin-cangan yang jelas), ‘Awar Bayyin (buta sebelah yang jelas), Marodh Bayyin (sakit yang jelas), dan Huzal (kekurusan yang membuat sungsum hilang). Jika hewan kurban terkena salah satu atau lebih dari empat macam aib ini, maka hewan tersebut tidak sah dijadikan sebagai hewan kurban.

Dalil yang menunjukkan adalah hadis berikut ini;

Dari Al-Bara’ bin ‘Azib berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya, ‘Apa yang harus di-jauhi untuk hewan kurban? ‘ Beliau memberikan isyarat dengan tangannya lantas bersabda: “Ada empat.” Barra’ lalu memberikan isyarat juga dengan tangannya dan berkata; “Tanganku lebih pendek daripada tangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: (empat perkara tersebut adalah) hewan yang jelas-jelas pincang kakinya, hewan yang jelas buta sebelah, hewan yang sakit dan hewan yang kurus tak bersumsum.” (H.R.Malik)

Sebagian ulama menambahkan aib yang ke lima yaitu ‘Adhob (telinga/tanduk hilang lebih dari separuh) berdasarkan hadis riwayat Ibnu Majah dari Ali. Ibnu Majah meriwayatkan;
“Telah menceritakan kepada kami Humaid bin Mas’adah telah menceritakan kepada kami Khalid bin Al Harits telah menceritakan kepada kami Sa’id dari Qatadah dia menyebutkan bahwa dirinya pernah mendengar Jurayy bin Kulaib menceritakan bahwa dia mendengar Ali menceritakan, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang berkurban dengan hewan yang tanduk dan telinganya hilang lebih dari separuh (cacat).” (H.R.Ibnu Majah)

Diutamakan hewan kurban adalah yang gemuk, bertanduk dan yang paling sempurna. Allah berfirman;

“Demikianlah (perintah Allah). dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati”. (Al-Hajj; 32)

Dengan demikian, syarat-syarat hewan kurban adalah tiga; berupa Bahimatul An’am, memenuhi usia minimal yang ditetapkan Syariat, dan bebas dari aib/cacat. Tentu saja syarat ini harus ter-penuhi setelah kepemilikan sempurna atas hewan kurban tersebut dengan akad yang syar’i, bukan kepemilikan yang tidak sah seperti hasil mencuri, Ghashab, menipu, atau masih terkait dengan hak orang seperti hewan yang masih tergadai. Wallahua’lam.

Pemanfaatan Hasil Sembelihan Qurban yang Dibolehkan

Allah Ta’ala berfirman,

“Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Al-lah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa bi-natang ternak. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk di-makan orang-orang yang sengsara lagi fakir.” (QS. Al Hajj: 28)

Dalam hadits dari Salamah bin Al Akwa’ radhiyallahu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

”Barangsiapa di antara kalian berqurban, maka janganlah ada daging qurban yang masih tersisa dalam rumahnya setelah hari ketiga.” Ketika datang tahun berikutnya, para sahabat mengatakan, ”Wahai Rasulullah, apakah kami harus melakukan sebagaimana tahun lalu?” Maka beliau menjawab, ”(Ada-pun sekarang), makanlah sebagian, sebagian lagi berikan kepada orang lain dan sebagian lagi simpan-lah. Pada tahun lalu masyarakat sedang mengalami paceklik sehingga aku berkeinginan supaya kalian membantu mereka dalam hal itu.”[1]

Jika kita melihat dalam hadits di atas, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam memerintahkan pada shohibul qurban untuk memakan daging qurban, memberi makan pada orang lain dan menyimpan daging qurban yang ada. Namun apakah perintah di sini wajib? Jawabnya, perintah di sini tidak wajib. Alasannya, perintah ini datang setelah adanya larangan. Dan berdasarkan kaedah Ushul Fiqih, ”Perintah setelah adanya larangan adalah kembali ke hukum sebelum dilarang.[2]” Hukum makan dan menyimpan daging qurban sebelum adanya larangan tersebut adalah mubah. Sehingga hukum shohibul qurban memakan daging qurban, memberi makan pada orang lain dan menyimpannya adalah mubah.

Pemanfaatan Hasil Sembelihan Qurban yang Terlarang

🌸 Larangan pertama: Menjual sebagian dari hasil sembelihan qurban baik berupa kulit, wol, rambut, daging, tulang dan bagian lainnya.

Dalil terlarangnya hal ini adalah hadits Abu Sa’id, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Janganlah menjual hewan hasil sembelihan hadyu dan sembelian udh-hiyah (qurban).Tetapi makanlah, bershodaqohlah, dan gunakanlah kulitnya untuk bersenang-senang, namun jangan kamu menjualnya.”

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Barangsiapa menjual kulit hasil sembelihan qurban, maka tidak ada qurban baginya.”[13] Maksudnya, ibadah qurbannya tidak ada nilainya”.

🌸 Larangan kedua: Memberi upah pada jagal dari hasil sembelihan qurban.

Dalil dari hal ini adalah riwayat yang disebutkan oleh ‘Ali bin Abi Tholib,

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkanku untuk mengurusi unta-unta qurban beliau. Aku mensedekahkan daging, kulit, dan jilalnya (kulit yang ditaruh pada punggung unta untuk melindungi dari dingin). Aku tidak memberi sesuatu pun dari hasil sembelihan qurban kepada tukang jagal. Beliau bersabda, “Kami akan memberi upah kepada tukang jagal dari uang kami sendiri”.

Qurban Dengan Berhutang

Sufyan Ats Tsauri rahimahullah mengatakan:

”Dulu Abu Hatim pernah mencari utangan dan beliau pun menggiring unta untuk disembelih. Lalu dikatakan padanya, ”Apakah betul engkau mencari utangan dan telah menggiring unta untuk disembelih?” Abu Hatim menjawab, ”Aku telah mendengar firman Allah; “Kamu akan memperoleh kebaikan yang banyak padanya.” (QS. Al Hajj: 36)”.

Untuk masalah aqiqah, Imam Ahmad berkata,

“Jika seseorang tidak mampu aqiqah, maka hendaknya ia mencari utangan dan berharap Allah akan menolong melunasinya. Karena seperti ini akan menghidupkan ajaran Rasulullah SAW.” (Matholib Ulin Nuha, 2: 489, dinukil dari Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah, 30: 278).

Untuk qurban pun berlaku demikian, bisa dengan berutang.

Demikianlah kebolehan berhutang untuk berqurban, namun “boleh” bukan berarti lebih utama, sebab lebih utamanya adalah justru membayar hutang dahulu, bukan menambah dengan hutang baru. Membayar hutang adalah wajib, dan tidak ada khilafiyah atas kewajibannya, sedangkan berqurban adalah sunah muakadah bagi yang sedang lapang rezeki menurut jumhur ulama, kecuali Imam Abu Hanifah yang mengatakan wajib. Maka, wajar jika sebagian ulama justru menganjurkan untuk melunaskan hutang dulu barulah dia berqurban bila sudah lunas hutangnya. Bagaimana dengan hutang yang jangka waktunya panjang? Apakah orang seperti ini harus menunggu belasan tahun untuk berqurban? Tidak juga demikian, dia bisa dan boleh saja berhutang untuk qurban selama memang dia mampu untuk melunasinya dan tidak mengganggu cicilan lainnya. Tetapi, bukan pilihan yang bijak jika dia tetap ngotot berhutang tetapi keluarganya sendiri sangat merana hidupnya, atau ada kebutuhan mendesak seperti biaya sekolah yang besar, rumah sakit, dan semisalnya.Wallahu A’lam.

C. Hakekat Makna Sikap Berkorban

1. Teladan Nabi Ibrahim & Ismail

“Dan tatkala anak itu sampai pada umur sanggup bekerja dengan Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anak-ku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pen-dapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim”. Sesungguhnya kamu telah mem-benarkan mimpi itu”. Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar”. [TQS Ash Shaaffaat [37] : 100-107)

2. Rela Berkorban Demi Cinta Yang Hakiki

Kisah tadi, juga memberikan gambaran cinta yang benar. Cinta kepada Makhluq diletakkan dibawah cinta Kepada Allah (Al Khaliq).

“Katakanlah: “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusanNya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik”. [TQS At-Taubah (9):24].

Pengorbanan dapat dikatakan benar menurut akal sehat jika memenuhi dua syarat:

• Pertama, jika mashlahat yg ingin kita raih lebih besar daripada sesuatu yg kita korbankan. Adalah merupakan kebodohan kalau ada yang mengorbankan sesuatu yang berharga hanya untuk mendapat-kan sesuatu yg hina.

• Kedua, kerugian/madharat yang akan kita tanggung lebih besar daripada apa yg kita korbankan.
Dalam pandangan Islam, tidak ada kemashlahatan yang lebih besar selain dengan menta’ati Allah guna meraih ridho-Nya. Tidak ada kemudlorotan dan kecelakaan yang lebih besar dari pada mendapatkan murka Allah Subhana Wa Ta’ala. Tolok ukur keberislaman seseorang adalah sejauhmana pengorbanan yang bisa dia berikan demi menjalankan dan memperjuangkan tegaknya syari’ah Allah Subhana Wa Ta’ala, juga sejauh mana pengorbanan yg mampu dia berikan untuk menghindari larangan-Nya.

3. Teladan dari Rasulullah Salallahu Alaihi Wasallam & Para Sahabat

Rasulullah Salallahu Alaihi Wassalam bersumpah tidak akan pernah mundur walau selangkah, sampai Islam menang atau baginda Salallahu Alaihi Wassalam binasa:

”Demi Allah, andai saja mereka bisa meletakkan matahari di tangan kananku, dan bulan di tangan kiriku, (lalu mereka minta) agar aku meninggalkan urusan (agama) ini, maka demi Allah, sampai urusan (agama) itu dimenangkan oleh Allah, atau aku binasa di jalannya, aku tetap tidak akan meninggal-kannya.” (HR. Ibn Hisyam)

Sayyidina Ali, yang mengorbankan nyawanya untuk menggantikan posisi Rasulullah, ketika akan melakukan hijrah ke madinah.Ketundukan dan pengorbanan juga ditunjukkan oleh para Sahabat Nabi Salallahu Alaihi Wassalam, diantaranya Peristiwa Heroik Muhaishah & Kakaknya Huwaishah, Kisah Kecintaan Setelah Perang Uhud (Ali Imron: 152-153), dan sebagainya.

4. Iman Islam (Ketaatan) Memerlukan Pengorbanan

Kita telah mengakui bahwa Beriman Kepada Allah, Kepada Rasulullah & Kitab Al Quran yang Rasulullah bawa. Bercermin pada ketundukan generasi para sahabat kita patut bertanya kepada diri kita: Sudahkah kita memiliki ketaatan total kepada Allah dan Rasul-Nya? Ataukah sebaliknya, kita hanya mau tunduk pada sebagian perintah-Nya, namun menolak sebagian perintah-Nya yang lain? Padahal, satu-satunya jalan menuju keselamatan dunia akhirat adalah bersegera melaksanakan syariah-Nya. Menjadi pejuang bagi tegaknya syariah sebagaimana Rasulullah dan para sahabat. Menempuh jalan ini dengan bersungguh-sungguh istiqomah terus-menerus dengan menanggung seluruh resiko dan pengorbanan. Para sahabat Nabi Salallahu Alaihi Wassalam begitu masuk Islam langsung menjadi pe-juang Islam hingga mereka wafat. Sementara kebanyakan kita sudah muslim dari bayi tapi hingga mati tak penah menjadi pejuang Islam. Sungguh kenyataan ini wajib segera kita ubah.

5. Bulan Untuk Memupuk Sikap Rela Berkorban

Pengorbanan banyak bentuknya, secara ringkas, Rasulullah SAW menegaskan:
“Sorga itu diliputi oleh perkara-perkara yang tidak disukai (oleh hawa nafsu), sedangkan neraka itu diliputi oleh perkara-perkara yang disenangi syahwat (hawa nafsu)”

Lebih tegas Allah Subhana wa Ta’ala pencipta sorga, menegaskan apa-apa yang harus dikorbankan:

• Segala hal yang indah dimata manusia berupa wanita, anak-anak, harta, uang emas, perak, kendaraan dan ladang (pencahariaan). Lihat (Q.S Ali Imran [3]: 14-17) dan dalam (Q.S al-Baqarah [2]: 261)

• Diantara hal yang boleh jadi suatu waktu perlu dikorbankan bila Allah SWT menuntutnya dinyatakan: (Q.S at-Taubah [9]: 24).

• Berkorban juga bisa dengan harta dan diri sendiri. Allah SWT menjelaskan: (Q.S at-Taubah [9]: 111).

Menumbuhkan Sikap Berkorban

♦ Pertama, membangun keyakinan yang kokoh, meyakini secara pasti aqidah Islamiyah dan menghunjamkan kuat dalam qalbu kita, diikrarkan dengan lisan kita kemudian disertai pembenaran amal perbuatan kita. Meyakini Allah-lah Sang Maha menghidupkan dan Mematikan, Pemberi Rezki, Dialah Penolong kita, tempat kita bergantung dan kembali. Ini semua akan melahirkan sikap berani dan membuang sifat pengecut. Tidak akan gentar menghadapi segala tantangan, ancaman dan cobaan dalam rangka berjuang mewujudkan ketaatan kepada Allah Subhana wa Ta’ala.

Firman Allah Subhana wa Ta’ala :
“Siapa saja yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal soleh, maka tidak kekwatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati” (QS.Al Maidah:69)

♦ Kedua, Memahami Islam secara utuh (kaffah) lalu memproyeksikan hidupnya berdasarkan tun-tunan yang datang dalam Islam.

Standar penilaian hidupnya adalah halal haram. Makna kebahagian hidup baginya adalah manakala telah melakukan perbuatan yang diridloi Allah. Sehingga dia akan mampu dan rela berkorban demi keridhoan Allah Subhana wa Ta’ala yang didambakan itu.

Firman Allah Subhana wa Ta’ala,
“Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.” (QS. AL Fajr 28).

♦ Ketiga, Mencintai kehidupan yang hakiki yaitu akhirat.

Dunia ini adalah tempat kita menempuh perjalanan, bukan tujuan dari perjalanan kita.Allah berfirman:
“Dan carilah pada apa yang telah di anugrahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akherat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari kenikmatan dunia dan berbuatlah baik, sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi.Sesungguhnya Allah tidak menyuakai otrang-orang yang berbuat kerusakan”. (QS.Al Qashas:77)

♦ Keempat, Menjauhi wabah penyakit Wahn.

Rasul menjelaskan wahn adalah hubbud dunya [cinta dunia] dan karahiyatul maut [takut mati]. Kecintaan pada akhiratlah yang menjadikan seorang muslim akan selamat dari penyakit ini. Dia akan rela mengorbankan dan mengamputasi penyakit ini dari dirinya. Hidup ini di dunia, dan kita butuh pada dunia, dan Allah juga membolehkan kita memegang dan memiliki dunia, namun jangan sampai kita sekali-kali menaruh dalam hati kita. Ketika dituntut untuk berkorban, maka seorang muslim akan mudah mempersembahkannya, karena tidak pernah menaruh dunia dalam hatinya, sehingga tidak ada rasa sakit dan kehilangan dengan lepasnya dunia dari genggamannya.

♦ Kelima, Banyaklah menghayati bahwa tidak ada satupun sukses yang dapat dicapai tanpa pen-gorbanan.

Setiap keberhasilan dan kebahagiaan perlu perjuangan dan pengorbanan serta tanamkan tekad yang kuat untuk mencapai ridho Allah Subhana wa Ta’ala. Biasakanlah berkorban, dan jangan menganggap remeh pengorbanan yang nampaknya sepele. Lakukanlah pengorbanan selalu dijalan Al-lah dan Ketika sikap enggan berkorban datang, segeralah meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk.

Khatimah

Berkurban tidak sekedar mengalirkan darah binatang ternak, tidak hanya memotong hewan kurban, namun lebih dari itu, berkurban berarti ketundukan total terhadap perintah-perintah Allah swt dan sikap menghindar dari hal-hal yang dilarang-Nya. Allah Subhana wa Ta’ala ingin menguji hamba-hamba-Nya dengan suatu perintah, apakah ia dengan berbaik sangka kepada-Nya dan karenanya melaksanakan dengan baik tanpa ragu-ragu? Lak-sana Nabiyullah Ibrahim. Berkurban adalah berarti wujud ketaatan dan peribadatan seseorang, dan karenanya seluruh sisi kehidupan seseorang bisa menjadi manifestasi sikap berkurban.

Karena itu Allah swt menegaskan dalam firman-Nya,

”Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.” (Al-Hajj:37)

Kurban menjadi kebiasaan yang melegakan, bukan menjadi beban dan keterpaksaan. Karena memang kurban tidak sekedar memotong hewan, tapi lebih dari itu, ketundukan total terhadap perintah-perintah Allah Subhana wa Ta’ala. Akhirnya, semoga Allah Subhana wa Ta’ala memberi kita kesabaran, kekuatan dan kekompa-kan dalam upaya kita menerapkan syariah Islam secara total dalam seluruh kehidupan kaum Muslim sekaligus menyebarluaskan dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia.

Semoga Artikel ini bermanfaat untuk Sahabat Rumah Kurma Sahara.
Silahkan berbelanja kurma di Rumah Kurma Sahara, Butuh perlengkapan haji? Ingat Toko Rumah Kurma Sahara!
Jalan Raya Semplak Atang Sandjaja No. 224
Bogor Barat – Kota Bogor
Customer Care : 0821-1141-8832 | 0878-7386-0559
Delivery : 0859-2512-6067
WA | PIN BB : 0878-7386-0559 | DA7A086

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *