Indahnya Kepribadian Rasulullah saw

“Inna akhira hadza al-amri la yashluhu illa bima shaluha awwaluhu” (penghujung urusan ini tidak akan menjadi baik, kecuali mengikuti apa yang menjadikan permulaannya baik). Ungkapan dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib ini saya kutip dari sebuah buku karangan Ust Hafidz Abdurrahman, MA. Kalimat diatas amat menggugah hati penulis ketika melihat kondisi umat saat ini, bagaimana tidak! kehidupan manusia yang makin terpuruk dan tidak terkendali terutama bagi kaum muslim, semua persoalan yang terjadi saat ini bagaikan benang kusut yang susah ditemukan ujung pangkalnya.
Setiap hari ada saja kesedihan yang disuguhkan oleh dunia. Tentang anak-anak yang kehilangan orang tuanya atau sebaliknya. Belum lagi masalah kelaparan, kemiskinan, pembunuhan, pemerkosaan, dan masih banyak lagi.

Manusia menjadi sangat frustasi, kehilangan kendali, tak punya tempat bergantung dan berlindung layaknya zaman di masa kepemimpinan Rasulullah SAW. masa-masa indah beberapa abad yang lalu.
Kita benar-benar telah kehilangan sosok terbaik itu, sosok yang dipilihkan langsung oleh Allah SWT. Idola yang tidak tergantikan hingga akhir zaman.
Mengapa umat yang sangat dicintai oleh Rasulullah SAW ini tak mampu menjaga amanahnya, padahal banyak contoh yang sudah ditunjukkan beliau ? Seharusnya kita bersama-sama mewujudkan apa yang sudah dilakukan beliau, sehingga kita ini benar-benar menjadi umat yang berakhlak dan bermartabat.

TIGA KOTA SUCI

Ketika kita membayangkan sosok Muhammad SAW, maka yang terbayang adalah 3 kota suci, seperti sabda belaiu, “Tidak diperintahkan untuk bepergian dengan begitu kuat, kecuali ke tiga masjid : masjidku ini, Masjid al-Haram dan masjid al-Aqsa.” dari Abi Said. [HR Muslim].

1. Masjid al-Haram, Makkah,

Menapak tilas tempat ini yang terbayang hanyalah panggilan Nabi Ibrahim untuk melakukan ritual haji semata.
Sesungguhnya di balik itu semua jika kita paham, bahwa secara jelas dapat dirasakan bagaimana kehidupan Nabi SAW di kota kelahiran-nya, penderiaan-penderitaan yang dialami Nabi SAW bersama keluarga dan para sahabatnya, juga bagaimana ketika beliau diasingkan, dilecehkan dan diboikot. Sehingga Nabi SAW harus terpaksa hijrah demi terjaganya dakwa yang sedang beliau emban.

2. Masjid Nabawi, Madinah,

Seperti yang kita ketahui di masjid Nabawi inilah Rasulullah SAW memutuskan untuk menetap. Kemudian di tempat inilah dahulu beliau memimpin pemerintahan, menerima delegasi dari luar negeri dan juga tempat di mana Nabi SAW memberikan instruksi perang.
Begitu istimewanya tanah haram ini sehingga Nabi SAW bersabda, “Siapa saja yang bisa meninggal di Madinah, maka hendaknya meninggal (di Madinah).” (HR Ahmad, at-Tarmidzi, Ibn Majah dan Ibn Hibban).

Dari Ibn Umar, Rasulullah SAW bersabda, “Tak ada satu orang pun yang mengucapkan salam kepadaku di kuburku, kecuali Allah pasti kembalikan ruhku ke dalam diriku, hingga aku membalasnya.” (HR ad-Daruquthni).
Juga dari Abu Hurairah, Nabi SAW bersabda, “Siapa saja yang telah menunaikan haji, kemudian menziarahi kuburku, setelah aku wafat, maka dia seperti menziarahiku ketika aku masih hidup.” (HR Ahmad).

3. Masjid al-Aqsa, Palestina

Di tempat inilah di mana Rasulullah SAW diangkat oleh Jibril ke langit ke Tujuh (Sidratul Muntaha) yang lebih dikenal dengan peristiwa Isra’ Mi’raj.
Pada saat Rasul diberi salam oleh Allah SWT, “Assalamu’alaika ayyuhan nabiyyu warahmatullahi wabarakatuh”. Lalu Nabi pun berucap pada Allah “Assalamu’alaina wa’ala ibadillahi sholihin” artinya : “Salam Keselamatan semoga tetap tercurah untuk hamba-hamba yang Sholeh”, artinya Nabi SAW ingin keberkahan dari Allah SAW juga terlimpah kepada umatnya pula.
Sayang sekali tempat yang satu ini telah lepas dari genggaman umat muslim dan saat ini dikuasai oleh kaum Yahudi atau Israel.

PRIBADI SANG PEMIMPIN UMAT

Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra. menuturkan, “Rasulullah SAW tidaklah tinggi; juga tidak pendek. Telapak tangan dan kaki baginda SAW padat berisi. Baginda memiliki kepala yang agak besar dan kuat. Bulu-bulu halus tumbuh di dada hingga pusar baginda. Jika baginda berjalan, langkahnya seolah-olah seperti turun dari suatu ketinggian (cepat). Saya belum pernah melihat cirri-ciri baginda SAW di antara sahabat-sahabatnya, dan dari orang-orang yang hidup setelahnya”.

Jika berbicara dengan seseorang, maka ia akan menghadapkan wajahnya kepada orang tersebut dengan penuh perhatian. Di antara bahunya ada tanda kenabian. Muhammad SAW orang yang baik hatinya dan paling jujur, orang yang paling dirindukan dan sebaik-baiknya keturunan. Siapa saja yang mendekati dan bergaul dengannya maka akan langsung merasa terhormat dan khidmat. Dan siapa saja yang bergaul dengan beliau akan langsung menghargai dan mencintainya.

Baginda SAW sangat mencintai kita. Kecintaan yang membuat baginda lebih memilih hidup miskin, agar dapat merasakan penderitaan yang dialami oleh umatnya. Allah SWT melukiskan sifatnya :
“ Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu. Dia sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu. Amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (Qs. At- Taubah [09]:128).

Ketika Rasulullah SAW mengarungi kehidupan yang sulit bersama istri tercinta ‘Aisyah di Madinah, beliau menuturkan, “Sesungguhnya aku telah ditawari (apakah aku menginginkan) gunung-gunung yang ada di Makkah dijadikan emas untukku? Maka, aku pun menjawab, ‘Tidak ! wahai Tuhanku. Aku lebih menginginkan lapar sehari, dan kenyang sehari”.

Jelaslah bahwa sejak diturunkan di Makkah, Allah SWT telah menawarkan kepadanya untuk menjadikan gunung-gunung di Makkah menjadi Emas. Dan Nabi pun telah diberi hak oleh Allah SWT seperlima bagian Ghanimah dan Fai’. Ditetapkan dalam firman Allah SWT (QS. Al-Anfal [08]: 41] dan [QS. Al-Hasyr [59]: 07]).

Semuanya ini membuktikan, bahwa pilihan Nabi SAW untuk hidup miskin bukan terpaksa atau karena tidak bisa hidup mewah. Semua haknya tidak digunakan untuk kepentingan pribadi dan keluarganya, tetapi untuk menghidupi lebih dari 400 sahabat yang tinggal di Suffah.
Bahkan Nabi SAW berdoa : “ Ya Allah, hidupkanlah aku sebagai orang miskin. Wafatkanlah aku sebagai orang miskin, dan kumpulkanlah aku dalam kumpulan orang-orang miskin.” (HR. At-Tirmidzi).
Anas bin Malik menuturkan, “Aku belum pernah melihat Rasulullah SAW memakan roti tipis yang halus lagi empuk, hingga baginda saw wafat; juga tidak pernah melihat baginda memakan daging kambing yang dipanggang hingga meninggal dunia.” (HR Bukhari).
Sebagian besar pakaian baginda saw yang dikenakan adalah baju bertambal sulam.
Tempat tinggal baginda SAW juga bukan istana yang megah, tetapi hanya sebuah ruangan petak untuk tiap istrinya. Di situlah, Nabi SAW tidur, duduk, makan dan menerima tamu.

KECINTAAN SAHABAT PADA RASULULLAH SAW

Mu’adz bin Jabal, saat sudah naik di atas punggung tunggangannya, ketika hendak pergi ke Yaman, Nabi berjalan kaki di bawah Mu’adz. Seraya bertutur kepadanya : “Sesungguhnya engkau, wahai Mu’adz, boleh jadi tidak akan bertemu denganku lagi setelah tahun ini. Maka, datangilah kubur dan masjidku.”. Mu’adz pun tak kuasa menahan tangisnya. Menangis sejadi-jadinya, karena hendak berpisah dengan baginda SAW. Ketakutan bukan hanya berpisah di dunia, tetapi juga di akhirat.

Lain lagi kisah, begitu cintanya kepada Nabi SAW, ada seorang ibu yang dengan sengaja memberikan anaknya agar anak itu dapat membantu baginda SAW. Kata Anas bin Malik mengisahkan tentang hidupnya : “Ummu Sulaim memegang tanganku, dan membawaku kepada Rasulullah SAW seraya berkata, “Wahai Rasulullah, ini anakku. Dia anak yang bisa menulis.” Dia (Anas) berkata,’Aku membantu baginda saw selama 9 tahun. Baginda SAW tidak pernah mengomentari sedikitpun apa yang aku lakukan. Apakah aku melakukan keburukan, atau buruk apa yang aku lakukan.”

Kisah sahabat yang lain, adalah kisah Bilal sang muadzin, bagaimana sedihnya pada saat Nabi SAW wafat. Sejak saat itu bibirnya kelu tak sanggup mengumandangkan azan lagi. Seperti katanya ketika Abu Bakar memintanya untuk menjadi muadzinnya : “Biarkan aku menjadi muadzin Nabi saja. Nabi telah tiada, maka aku bukan muadzin siapa-siapa lagi.” Sesungguhnya alasan Bilal hanya satu, ketika beliau melafalkan kalimat “Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah.” Mengigatkan masa-masa indah bersama Rasulullah, walaupun dalam kenyataannya kebersamaan mereka lebih banyak dilalui di medan perang. Tak ada pribadi yang dicintai seperti Rasulullah SAW dan kesedihannya begitu mencabik-cabik hatinya.

Cintalah yang kelak akan mempertemukan seseorang dengan kekasihnya di akhirat, apa kata Anas bin Malik dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya engkau akan bersama siapa saja yang engkau cintai”. (HR. Bukhari).

PENUTUP

Rasulullah Muhammad SAW adalah manusia pilihan, suri tauladan bagi seluruh manusia, rahmat bagi seluruh alam semesta. Semua perbuatannya adalah sunnah yang wajib diambil dan diaplikasikan oleh kaum muslimin, baik perbuatan yang berkaitan dengan kehidupan pribadi, sebagai penyeru agama Allah (pengemban dakwah), maupun sebagai kepala Negara.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Anas bin malik, Rasulullah SAW bersabda, “Alangkah rindunya aku untuk berjumpa dengan saudara-saudaraku.” Lalu seorang sahabat bertanya, “Bukankah kami-kami ini saudaramu ya Rasul?” Rasul menjawab, “Benar, kalian adalah sahabat-sahabat/saudaraku. Adapun yang kumaksud dengan saudara-saudaraku itu adalah kaum yang datang sesudahku dan beriman kepadaku padahal mereka tidak pernah berjumpa denganku.”

Betapa mulianya menjadi orang yang dirindukan oleh Rasulullah SAW, semoga kita salah satu di antaranya, tentunya setelah kita melakukan apa yang telah bagida lakukan di masa hidupnya, yakni mengemban risalah Allah SWT, menegakkan LA ILAHA ILALLAH di muka bumi ini. Semoga Artikel ini bermanfaat untuk Sahabat Rumah Kurma Sahara.
Silahkan berbelanja kurma di Rumah Kurma Sahara, Butuh perlengkapan haji? Ingat Toko Rumah Kurma Sahara!
Jalan Raya Semplak Atang Sandjaja No. 224
Bogor Barat – Kota Bogor
Customer Care : 0821-1141-8832 | 0878-7386-0559
Delivery : 0859-2512-6067
WA | PIN BB : 0878-7386-0559 | DA7A086

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *