Ibadah Dalam Syari’at Islam

Ibadah adalah fe­nomena yang ada sepanjang sejarah manusia. Sebab, merupakan kebutuhan manusia seperti makan, minum, buang hajat, berkomunikasi, kawin, dan sebagainya. Ibadah adalah mani­festasi naluri beragama (gharizah tadayyun) yang dimiliki oleh se­tiap orang. Oleh karena itu, dari masa ke masa di berbagai pelo­sok bumi ini ada orang yang me­lakukan aktivitas ibadah —terle­pas dari benar salah ibadah­nya—seperti penyembahan para dewa di kalangan orang-orang Yunani, Rumawi, India, China dan bangsa-bangsa lainnya. Ada yang menyembah matahari, menyembah bulan, menyembah bintang, menyembah api, me­nyembah sapi, menyembah batu, menyembah kayu, dan sesem­bahan lainnya.

Dalam konteks hukum syari’at Islam, ibadah yang se­cara bahasa artinya taat, adalah aktivitas hubungan manusia se­bagai hamba (bahasa Arab: abdi atau ibaad) dengan Allah SWT Sang Pencipta sebagai Dzat yang diibadahi (ma’buud). Allah SWT sebagai penentu syari’at Islam (musyarri’) telah menurun­kan hukum-hukum yang sangat rinci tentang ibadah dan ini dapat dirujuk pada berbagai kitab fiqh yang membahas masalah-masalah ibadah seperti sholat, zakat, shaum (puasa), haji, dan lain-lain. Inilah yang disebut iba­dah secara khusus.

Sedangkan secara umum, ibadah adalah adalah taat kepa­da segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Allah SWT berfirman:

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (Qs. adz-Dzaariyaat [51]: 56).

Yang akan kita bahas selanjutnya adalah ibadah secara khusus.

Target-Target Ibadah

Setiap kali seorang mus­lim melaksanakan ibadah, dia harus memiliki target sebagai se­suatu yang hendak dicapai da­lam aktivitasnya itu. Ini perlu di­perhatikan agar ibadahnya dila­kukan dengan serius dan agar tidak menjadi sia-sia.

Islam mengajarkan bahwa dalam setiap ibadah ada target yang mesti dicapai. Sebagai con­toh, target seorang muslim yang ikhlas dalam melaksanakan sho­lat adalah menjauhkan diri dari perbuatan yang keji dan munkar. Allah SWT berfirman:

Sesungguhnya shalat itu men­cegah dari (perbuatan-perbua­tan) keji dan mungkar. (Qs. al-Ankabuut [29]: 45).

Dalam menjalankan ke­wajiban ibadah puasa, seorang muslim mesti mencanangkan tar­get untuk memiliki kemampuan membentengi diri dari perbuatan yang diharamkan oleh Allah seperti berdusta, bersaksi palsu, berzina, berjudi, meminum kha­mer (miras), mengkonsumsi nar­koba, mengambil riba, dan lain-lainnya. Allah SWT berfirman:

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (Qs. al-Baqarah [2]: 183).

Ketika seorang muslim kaya membayarkan zakat buat fakir miskin dari hartanya yang sudah melewati batas minimal kewajiban membayar zakat (ni­shab) setiap tahun (haul), ia mesti mencanangkan target membersihkan jiwanya dari sifat pelit (bakhil) dan mensucikan di­rinya agar mendapat keridloan di sisi Allah. Allah SWT berfirman:

Ambillah zakat dari sebagian har­ta mereka, dengan zakat itu ka­mu membersihkan dan mensu­cikan mereka. (Qs. at-Taubah [9]: 103).

Karakteristik Ibadah

Ibadah memiliki karakte­ristik tertentu yang khas, yakni: Pertama, ibadah bersifat tauqifiyah alias diterima apa ada­nya dari Dzat yang disembah. Apa yang ditetapkan Allah me­lalui nash-nash al-Qur’an dan as-Sunnah dilaksanakan sebagai­mana pengertiannya tanpa disa­lahi. Seorang muslim (secara bahasa artinya pasrah) melak­sanakan sholat, shaum, maupun haji dengan cara tertentu. Tidak dibenarkan seorang muslim sho­lat dengan meletakkan kedua tangannya di tengkuknya, sebab tidak ada nash yang menyebut hal itu. Juga tidak dibenarkan seorang muslim melaksanakan kewajiban haji di bulan Rama­dhan, sebab haji itu telah dite­tapkan waktunya menurut sun­nah Rasul yaitu di bulan Zul­hijjah. Rasulullah Saw bersab­da:

Sholatlah kalian sebagaimana aku sholat.

Ambilah dariku manasik (rute perjalanan haji) kalian.

Kedua, ibadah itu secara hukum diperintahkan oleh Allah tanpa sebab disyari’atkannya (tanpa ilat syar’iyyah). Misalnya, disyari’atkannya wudlu bukanlah demi kebersihan. Diwajibkannya sholat bukanlah supaya kaum muslmin berolahraga.

Ketiga, ibadah hanya di­lakukan untuk Allah semata. Hukum-hukum ibadah mengatur hubungan seorang muslim, seba­gai makhluk, dengan khaliknya. Maka tidak boleh seorang mus­lim dalam ibadahnya menseri­katkan Allah SWT dengan seo­rang pun di antara makhluk-Nya. Diibadahi merupakan hak tung­gal Allah SWT. Itulah makna lailaha illallah, yakni la ma’buuda illallah. Artinya, tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah. Allah SWT berfirman:

Janganlah kamu sembah di sam­ping (menyembah) Allah, tuhan apapun yang lain. (Qs. al-Qashash [28]: 88).

Barangsiapa mengharap perjum­paan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhan­nya. (Qs. al-Kahfi [18]: 110).

Keempat, ibadah yang diterima hanyalah yang diker­jakan dengan niat ikhlas lillahi ta’ala. Seorang muslim yang me­laksanakan sholat Maghrib tanpa niat lillahi ta’ala, sholatnya tidak diterima, tidak mendapatkan pa­hala, dan belum menggugurkan kewajiban sholat itu sendiri. Ra­sulullah Saw bersabda:

Sesungguhnya amal-amal (mes­ti dikerjakan) dengan niat.” [HR. Bukhari].

Maksud dari amal-amal pada ha­dits tersebut adalah khusus amal ibadah, sebab amal selain iba­dah tak perlu disertai niat.

Kelima, ibadah kepada Allah secara langsung, tanpa pe­rantara. Seorang muslim sholat menghadap Allah SWT dan ber­kata-kata dalam bacaan sho­latnya langsung kepada Allah SWT. Ketika seorang muslim berlapar-lapar di dalam berpu­asa, laparnya itu langsung dihu­bungkan dan diniatkan untuk Allah SWT. Dan dengan kekua­saan Allah SWT setiap muslim langsung mendapatkan hot line untuk bermunajat dan menga­jukan segala keluh kesahnya kepada Allah SWT di dalam doa-doanya. Allah SWT telah me­nyatakan dalam firman-Nya:

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku menga­bulkan permohonan orang yang berdo`a apabila ia memohon kepada-Ku. (Qs. al-Baqarah [2]: 186).

Keenam, ibadah mudah dilaksanakan. Allah SWT tidak memerintahkan kepada hamba-Nya sesuatu yang tak mampu dilaksanakan. Bahkan dalam hu­kum-hukum ibadah ada rukhshoh atau keringanan. Seorang mus­lim yang sakit boleh sholat sam­bil duduk. Seorang musafir bo­leh berbuka (tidak shaum) di bu­lan Ramadhan. Orang yang sakit dan buta dibebaskan dari ke­wajiban jihad fi sabilillah. Allah SWT berfirman:

Allah tidak membebani sese­orang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. (Qs. al-Baqarah [2]: 286).

Rasulullah Saw bersabda:

Sesungguhnya agama (Islam) ini mudah.
Pengaruh Ibadah

Ibadah yang dilakukan seorang muslim secara ikhlas dan tekun akan membentuk be­kas dalam dirinya antara lain:

Pertama, memperkuat hu­bungannya dengan Allah SWT. Sebab, sehari semalam dia menghadap kepada-Nya, bermu­najat, meminta pertolongan dan batuan-Nya. Setiap raka’at dia berbicara kepada-Nya:

Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon perto­longan. Tunjukilah kami jalan yang lurus. (Qs. al-Faatihah [1] 5-6).

Ia pun berpuasa, membaca al-Qur’an, berdzikir, bersedekah, berjihad, dan lain-lain yang itu semuanya membuatnya semakin dekat dengan Allah SWT.

Kedua, ibadah memben­tuk ketenangan jiwa dalam diri seorang muslim. Sebab, setelah beribadah, seorang muslim me­rasakan bahwa dirinya taat kepada Allah, dan Dia akan membalas ibadahnya dengan sebaik-baik balasan, maka dia akan merasa tenang dengan masa depannya yang hakiki, yakni akhirat.

Ketiga, ibadah akan mem­perkuat kualitas akhlak seorang muslim, yakni sifat-sfat terpuji yang melekat bersama ibadah­nya. Sholat, misalnya, akan membuat seorang muslim lebih tawadlu’ (rendah hati), khusyu’, terjauhkan dari perbuatan keji dan munkar. Shaum akan mem­buatnya lebih sabar, lebih jujur, dan menjaga kesucian (iffah) dirinya. Sholat jama’ah dan haji akan membuatnya lebih tawadlu’ dan mengedepankan ukhuwah Islamiyah. Zakat akan membu­atnya semakin pemurah dan le­bih mengutamakan orang lain. Sedangkan jihad akan menjadi­kannya semakin pemberani, sa­bar, dan siap menanggung resiko apapun.
Khatimah

Betapa unggul seorang muslim yang ikhlas dan tekun beribadah dengan segala kesa­daran akan target, karakter, dan pengaruh yang timbul dari akti­vitasnya. Pantas dalam sebuah hadits qudsi Rasul bersabda, bahwa Allah SWT berfirman:

Tiada henti-hentinya hamba-Ku mendekatkan dirinya kepada-Ku dengan perbuatan-perbuatan sunnah nafilah sehingga Aku mencintainya. Kalau Aku sudah mencintainya, maka aku akan menjadi pendengarannya yang ia mendengarkan dengannya dan Aku akan menjadi penglihatan­nya yang ia melihat dengannya dan Aku akan menjadi tangannya yang ia pergunakan, dan Aku akan menjadi kakinya yang ia berjalan dengannya. Jika ia me­minta kepada-Ku niscaya akan Kuberi, jika dia memohon per­lindungan kepada-Ku, niscaya Aku lindungi.” [HR. Bukhari].

Siapa mau tekun beriba­dah?

Tambahan Catatan:

Menjadi Ibadurrahman. Ciri-cirinya bisa dilihat dalam Q.S Al-Furqan: 63-77

Sifat Ibadur-Rahman

Allah menyebutkan sifat-sifat mereka sebagai sifat-sifat yang paling sempurna dan paling utama. Allah menyebutkan sifat-sifat hamba-hamba itu dengan:

Pertama: Orang yang berjalan di atas muka bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik.

Mereka adalah orang-orang yang meniti kehidupan ini dengan senantiasa tawadhu’ terhadap Allah dan rendah hati kepada sesama makhluk, mereka berada dalam ketenangan dan memiliki kewibawaan, senantiasa tawadhu’ kepada Allah dan kepada hamba-hambaNya. Dan apabila orang-orang yang pandir melontarkan kejahilannya kepada mereka, maka tidaklah hal itu membuat mereka membalas kebodohan dengan kebodohan atau dengan perbuatan dosa. Ini yang membuat mereka semakin terpuji, yaitu sikap lemah lembut dan santun, mereka membalas kejelekan dengan perbuatan ihsan dan kebaikan, bahkan memaafkan orang yang pandir atas kejahilannya, disertai ketabahan hati mereka yang mengagumkan sehingga dapat mengangkat mereka hingga mencapai kemuliaan akhlak semacam ini.

Kedua: Orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka.

Mereka adalah orang-orang yang banyak mengerjakan sholat malam dan ikhlas dalam mengerjakannya demi Tuhan mereka serta senantiasa tunduk merendahkan diri kepada-Nya. Sebagaimana yang difirmankan oleh Allah ta’ala di dalam ayat yang lain,

“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya (maksudnya mereka tidak tidur di waktu Biasanya orang tidur untuk mengerjakan sholat malam) dan mereka selalu berdoa kepada Robbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan apa-apa rezeki yang kami berikan. Tak seorang pun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan.” (QS. As Sajdah: 16)

Ketiga: Orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan kami jauhkanlah azab Jahanam dari kami.”

Mereka adalah orang-orang yang berdoa kepada Allah supaya dijauhkan dari sebab-sebab yang dapat menjerumuskan ke dalam neraka. Mereka juga senantiasa memohon ampun atas dosa yang pernah mereka lakukan, kerana dosa-dosa itu jika tidak ditaubati maka akan menjerumuskan dirinya ke dalam kongkongan azab. Padahal azab neraka sangatlah menakutkan, terus menerus menyertai dan menyeksa sebagaimana lilitan hutang menyeksa hati orang yang berhutang dan tidak mampu melunasinya. “Sesungguhnya Jahanam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman.” Ini menunjukkan ketundukan dan perendahan hati mereka di hadapan Allah ta’ala, serta menunjukkan betapa merasa merlunya mereka kepada pertolongan Allah. Kerana mereka sedar kalau mereka itu tidak akan sanggup menahan pedihnya azab. Hal ini juga mengingatkan mereka akan kunia Allah atas mereka, yaitu ketika kesulitan yang sangat berat dan mengguncangkan jiwa tersebut sirna maka hati mereka semakin bergembira dan berbunga-bunga setelah berhasil selamat dari kongkongan azab.

Keempat: Orang-orang yang apabila membelanjakan harta, mereka tidak berlebih-lebihan, tidak pula kikir.

Mereka adalah orang yang berinfak di jalan Allah, baik infak yang hukumnya wajib atau sunnah. Infak yang wajib seperti zakat, membayar kafarah dan memberi nafkah anak dan isteri. Mereka tidak melanggar batas dalam berinfak, tidak boros sehingga tidak melalaikan kewajipan infak yang lain. Tapi mereka tidak lantas menjadi bakhil atau kikir. Demikianlah infak mereka, berada di antara sikap boros dan kikir. Mereka membelanjakan harta dalam perkara-perkara yang memang layak serta dengan cara yang layak pula, tidak mengundang bahaya untuk diri pribadi maupun orang lain, ini menunjukkan sikap adil dan seimbang yang mereka miliki.

Kelima: Orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah.

Mereka adalah orang-orang yang hanya menyembah kepada Allah saja, mengikhlaskan agama dan ketaatan untuk-Nya. Mereka tinggalkan segala bentuk kesyirikan dan cenderung kepada tauhid. Menghadapkan segenap jiwa dan raga mereka hanya kepada Allah serta memalingkan ketergantungan hati dari segala sesuatu selain kepada-Nya.

Keenam: Orang yang tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah membunuhnya kecuali dengan alasan yang benar.

Jiwa yang haram dibunuh adalah jiwa seorang muslim dan jiwa orang kafir yang hidup di negeri muslim yang memiliki perjanjian keamanan dengan negeri orang kafir/kafir mu’ahad. Adapun membunuh yang diperbolehkan menurut syariat adalah membunuh pembunuh (qishash) membunuh penzina yang sudah memiliki suami/isteri, serta membunuh orang kafir yang halal diperangi seperti ketika mereka menyerbu negeri muslim.

Ketujuh: Orang-orang yang tidak berzina.

Mereka adalah orang-orang yang senantiasa menjaga kemaluan mereka kecuali kepada isteri-isteri atau hamba-hamba mereka. Kemudian Allah menyebutkan, “Barangsiapa yang melakukan yang demikian itu” yaitu syirik, membunuh tanpa hak atau berzina “nescaya dia mendapat pembalasan dosanya.” Yakni akan dilipatgandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal di dalam azab itu, dalam keadaan terhina, inilah ancaman sangat keras yang tertuju kepada siapa saja yang melakukan tiga perbuatan dosa itu, mereka kekal dalam kongkongan azab neraka. Kerana syirik adalah dosa terbesar yang tidak mungkin diampuni oleh Allah jika pelakunya meninggal dan belum bertaubat. Sedangkan bagi pembunuh dan penzina maka mereka menempati neraka dalam waktu yang sangat lama walaupun tidak kekal di dalamnya. Hal ini berdasarkan dalil-dalil Al Quran dan As Sunnah yang menunjukkan bahawasanya seluruh kaum mukminin kelak akan dikeluarkan dari neraka, tidak ada seorang mukmin pun yang kekal di dalamnya, meskipun dia pernah melakukan kemaksiatann seperti apapun.

Di dalam ayat ini Allah menegaskan bahawa ketiga macam perbuatan itu adalah dosa-dosa terbesar. Dalam kesyirikan terkandung perosakan agama. Di dalam pembunuhan terkandung perosakan manusia. Sedangkan di dalam perzinaan terkandung perosakan kehormatan dan harga diri umat manusia.

Kedelapan: Orang-orang yang bertaubat, beriman dan beramal shalih.

Kemudian Allah menyebutkan perkecualian, ertinya orang-orang yang tidak akan tertimpa azab yang sangat pedih tersebut. Yaitu orang-orang yang bertaubat dari kemaksiatan dan dosa-dosa yang lainnya, (1) Dia segera meninggalkan perbuatan itu dan (2) Menyesali dosa yang pernah dilakukannya itu, dan (3) Dia juga bertekad kuat untuk tidak mengulanginya. Selain itu (4) Dia juga beriman kepada Allah dengan keimanan yang benar, yaitu keimanan yang menuntut dirinya untuk meninggalkan berbagai macam kemaksiatan dan menuntutnya untuk melaksanakan berbagai macam ketaatan. Selain itu (5) Dia juga beramal saleh; melakukan amal yang diperintahkan syariat dan mengikhlaskan niatnya dalam beramal hanya untuk mengharap keridhoan dan pahala melihat Wajah-Nya.

Kesembilan: Orang-orang yang tidak mendatangi az-Zuur, dan apabila mereka bertemu dengan orang-orang yang mengerjakan al-Laghwu (perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah), mereka lalui saja dengan menjaga kehormatan dirinya.

Orang-orang yang tidak mendatangi Az Zuur. Az Zuur yaitu: perkataan dan perbuatan yang diharamkan. Maka mereka menjauhi semua pertemuan yang di dalamnya terdapat perkataan atau perbuatan yang diharamkan, seperti perbincangan dalam memperolok ayat-ayat Allah, perdebatan yang batil, mengumpat, mengadu domba, mencela, menuduh zina tanpa bukti, mengejek syariat Allah, nyanyian yang haram, meminum khamar, menggunakan sutera, gambar-gambar bernyawa, dan lain sebagainya. Apabila mereka tidak menghadiri Az Zuur, maka apalagi mengatakan atau melakukannya mereka lebih tidak mau lagi. Dan persaksian palsu termasuk perbuatan yang pertama kali dikategorikan dalam cakupan Az Zuur.

“Dan apabila mereka bertemu dengan orang-orang yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah/al laghwu.” Al Laghwu adalah perkataan yang tidak mengandung kebaikan, baik manfaat diniyah maupun manfaat duniawiah.

Seperti perkataan orang-orang pandir dan semacamnya. “Mereka lalui saja dengan menjaga kehormatan dirinya.” Mereka membersihkan dan memuliakan diri mereka dengan tidak ikut campur dalam pembicaraan itu. Mereka meyakini bahawa berbicara tentang perkara yang tidak mengandung kebaikan semacam itu meskipun tidak mendatangkan dosa, tetapi itu termasuk sikap bodoh menurut pandangan nilai-nilai kemanusiaan dan kehormatan. Sehingga mereka lebih memilih untuk menjaga diri dari hal itu. Di dalam firman Allah, “Dan apabila mereka bertemu dengan orang-orang yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah”, terdapat isyarat bahawa mereka itu sebenarnya tidak memiliki niat untuk menghadiri dan mendengarkan perkataan itu, akan tetapi peristiwa itu terjadi secara kebetulan lalu mereka pun menjaga kemuliaan diri mereka dengan tidak ikut bergabung di dalamnya.

Kesepuluh: Orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Tuhan mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta.

Mereka adalah orang-orang yang tidak berpaling dari peringatan itu, tidak menutup telinga dari mendengarkannya, tidak menutup mata dan hatinya dari memahami peringatan itu sebagaimana perbuatan semacam ini dilakukan oleh orang yang tidak mengimani peringatan itu dan tidak mau membenarkannya. Apabila mereka mendengar peringatan itu mereka bersikap sebagaimana yang difirmankan Allah,

إِنَّمَا يُؤْمِنُ بِآيَاتِنَا الَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُوا بِهَا خَرُّوا سُجَّداً وَسَبَّحُوا بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ

“Sesungguhnya orang yang benar-benar percaya kepada ayat-ayat kami adalah mereka yang apabila diperingatkan dengan ayat-ayat itu mereka segera bersujud (maksudnya mereka sujud kepada Allah serta khusyuk) seraya bertasbih dan memuji Rabbnya, dan lagi pula mereka tidaklah sombong.” (QS. As Sajdah: 15)

Mereka menerima peringatan-peringatan itu dengan sepenuhnya dengan disertai perasaan sangat memerlukannya, tunduk serta pasrah terhadapnya. Anda temui mereka itu memiliki telinga yang sangat terbuka, hati-hati yang sangat sedar yang dengan begitu maka semakin bertambahlah iman mereka serta semakin sempurna pula keyakinan mereka. Kerana peringatan itu tumbuhlah semangat mereka, mereka sangat senang dan bergembira mendengarnya.

Kesebelas: Orang-orang yang berdoa: Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati kami, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.

Apabila kita mencermati keadaan dan sifat mereka ini maka kita boleh mengetahui ketinggian cita-cita dan kedudukan mereka, sehingga mereka tidaklah merasa tenteram sampai anak-anak mereka mau taat dan patuh kepada Rabb mereka serta berilmu dan mengamalkan ilmunya. Meskipun doa ini ditujukannya untuk kebaikan isteri dan anak keturunannya tetapi sesungguhnya itu adalah doa untuk dirinya sendiri. Kerana manfaat doa itu akhirnya juga akan kembali kepadanya. Oleh kerananya di dalam doa itu mereka menyebut hal itu sebagai anugerah bagi mereka. Bahkan manfaat do’a mereka juga kembali kepada keseluruhan kaum muslimin. Kerana kebaikan isteri dan anak-anak akan menimbulkan kebaikan orang-orang yang berhubungan dan menimba faedah dari mereka.

Mereka berdoa, “Dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” Ertinya mereka memohon supaya boleh meraih darjat yang tinggi ini, yaitu darjatnya kaum shiddiqiin dan darjat kesempurnaan yang dimiliki oleh hamba-hamba yang saleh, itulah darjat kepemimpinan dalam agama. Mereka memohon supaya dapat menjadi teladan bagi orang-orang yang bertakwa, baik dalam perkataan maupun dalam perbuatan, sehingga perbuatan mereka layak ditiru dan perkataan mereka menenangkan. Sehingga para pelaku kebaikan berjalan mengikuti mereka, mereka mendapat hidayah dan juga menyebarkannya.

Balasan Bagi Ibadur-Rahman (QS. Ar-Ra’d: 23-24)

Semoga Artikel ini bermanfaat untuk Sahabat Rumah Kurma Sahara.
Silahkan berbelanja kurma di Rumah Kurma Sahara, Butuh perlengkapan haji? Ingat Toko Rumah Kurma Sahara!
Jalan Raya Semplak Atang Sandjaja No. 224
Bogor Barat – Kota Bogor
Customer Care : 0821-1141-8832 | 0878-7386-0559
Delivery : 0859-2512-6067
WA | PIN BB : 0878-7386-0559 | DA7A086

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *