Hukum Meng-qadla Sholat

1. Sholat & yang menggugurkan kewajiban sholat
Sholat harus tepat waktu, sebagaimana firman Allah SWT: “Sesungguhnya Shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (An-Nisaa’: 103).

Hal-Hal yang Menggugurkan Shalat
Tidak ada kewajiban untuk mengganti sholatnya.

a. Haid dan Nifas
Sabda Rasul saw kepada Fatimah binti Abi Hubaisy, “Jika tenyata darah yang keluar itu haid, maka hentikanlah Shalat.”

b. Gila
“Beban taklif itu diangkat (oleh Allah) dari tiga golongan: orang tidur sampai bangun, anak kecil sampai ia baligh, dan orang gila sampai dia sadar kembali.” (HR Ahmad, Ashabus Sunan, dan Hakim).

c. Murtad

2. Makna qadla sholat
Arti Qadla shalat adalah mengerjakan shalat di luar waktu yang telah ditentukan untuk mengganti shalat wajib yang ditinggalkan sengaja maupun tidak. Tidak disyaratkan dalam mengqadha shalat pada waktu yang sama dengan shalat yang ditinggalkan

Waktu-waktu yang dilarang untuk meng qadla sholat:
1. ketika matahari terbit
2. Matahari berada tepat di tengah langit (waktu istiwa’),
3. Ketika matahari terbenam

A. Hukum mengqadla sholat karena tidur/Lupa
Dalam hal ini tidak ada perbedaan pendapat dikalangan Imam Madhab dan Imam Mujtahid tentang wajibnya mengqadla sholat wajib.
Dalam sebuah riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan, “Bila seseorang di antaramu tertidur hingga meninggalkan shalat atau lupa mengerjakannya, hendaknya ia mengerjakannya jika telah ingat, karena Allah berfirman, ‘dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku’.” (Thaha: 14)

B. Hukum mengqadla sholat karena suatu kesibukan
Bahwasannya Umar bin Khatab pada perang Khandaq telah mencaci orang kafir dan berkata: “Wahai Rasulullah, aku tidak sempat Sholat Ashar hingga matahari telah terbenam”. Maka Rasulullah bersabda:”Demi Allah, akupun tidak sempat sholat”. Lalu kami singgah di Bath-ha, kemudian Rasulullah sholat ashar sesudah matahari terbenam, dan sesudahnya beliau sholat maghrib”. (HR Muslim)
Untuk kedua alasan ini, ada kafarat bagi yang meng qadla sholatnya. Ketika telah melakukan Qadla sholat, maka gugur sudah dosanya. Karena kafarat berlaku untuk orang yang luput sholatnya karena sebab Syar’i.
Dari Anas ra, Nabi saw bersabda, “Barangsiapa lupa mengerjakan shalat, hendaklah mengerjakannya bila telah ingat, dan selain itu tidak ada kewajiban kaffarat yang lain.” (HR al-Khamsah/lima imam hadis)

Cara pelaksanaan sholat qadla bagi yang lupa/tertidur/karena kesibukan:
1. Sesuai dengan cara dan sifat-sifat Shalat yang tertinggal itu. Melaksanakan sholat apa adanya, dari sisi jahr ataupun sirr-nya, iqamat dan jamaahnya. Misalnya:

  •  Jika seorang musafir yang menempuh jarak qashar tertinggal Shalat yang empat rakaat, ia mengqadhanya dua rakaat, sekalipun dikerjakan di rumah. Tetapi, menurut ulama Syafi’i dan Hanbali, dalam keadaan terakhir ini berbeda.
  •  Demikian juga, jika ia tertinggal Shalat sirriyyah (yang bacaannya pelan) seperti Dzuhur, maka di waktu mengqadhanya harus secara sirri pula, sekalipun dikerjakan di malam hari. Sebalikmya, jika ia tertinggal Shalat Jahrriyyah (yang bacaannya keras) seperti Shalat Subuh, maka mengqadhanya pun harus keras pula, sekalipun dikerjakan di siang hari.
  • Dari Abu Qatadah ra yang menceritkan tentang tertidurnya mereka dari shalat Fajar “…kemudia Bilal mengumandankan adzan untuk sholat, lalu Rasulullah SAW sholat 2 rokaat, dan kemudian sholat alghadat. Beliau melakukannya sebagaimana beliau lakukan setiap hari” (HR Muslim)
  •  Akan tetapi, menurut ulama Syafi’i yang menjadi patokan adalah waktu di mana qadha itu dilaksanakan. Jadi, seandainya qadha itu dilaksanakan pada malam hari, maka bacaannya harus dikeraskan, sekalipun yang diqadha itu Shalat sirriyyah. Dan sebaliknya, jika di siang hari maka bacaan Shalat harus dipelankan walaupun yang diqadhanya itu Shalat jahriyyah.

2. Hendaknya diperhatikan tertib urutannya satu dengan yang lain. Qadha Shalat Subuh dikerjakan sebelum qadha Dzuhur, dan qadha Dzuhur sebelum Shalat Ashar. Di samping itu, hendaklah diperhatikan pula urutan Shalat faa’itah (Sholat Yang tertinggal) dengan Shalat pada waktunya (Shalat haadhirah). Maka, apabila Shalat faa’itah itu kurang dari lima waktu atau hanya lima waktu, Shalat haadhirah tidak boleh dikerjakan dulu sebelum Shalat faa’itah dikerjakan dengan tertib, selama tidak dikhawatirkan habisnya waktu Shalat haadhirah.

  •  Dari Ibnu Mas’ud berkata, “Ketika Perang Khandaq kaum musyrikin terlalu menyibukkan Rasulullah sampai-sampai empat Shalat tertinggal, dan waktu pun telah larut malam sejalan dengan kehendak Allah. Kemudian, beliau menyuruh Bilal untuk menyerukan azan. Bilal pun menyerukannya lalu membacakan iqamah, maka beliau Shalat Dzuhur, lalu berdiri lagi dan mengerjakan Ashar, berdiri lagi mengerjakan Shalat Maghrib, kemudian berdiri lagi untuk mengerjakan Shalat Isya’.” (HR Tirmidzi dan Nasa’i. Peristiwa ini terjadi sebelum ada perintah Shalat Khauf).
  •  Ulama Hanafi berpendapat, jika seseorang setelah mengerjakan Shalat haadhirah teringat akan Shalat faa’itah yang belum dikerjakannya, batallah Shalat haadhirahnya. Orang itu harus mengerjakan Shalat faa’itah dulu dan setelah itu mengulangi Shalat haadhirah.

C. Hukum Qadla bagi yg menunda shalat dengan sengaja
Imam Mujtahid terbagi 2 golongan:

1. Tidak wajib qadha shalat yang sengaja ditinggal bertahun-tahun

Tapi, diharuskan bertaubat nasuha dan banyak melakukan shalat sunnah
“Perbuatan yang pertama dihisab (dihitung untuk diminta pertanggungjawaban) pada hari kiamat adalah shalat. Apabila shalatnya seseorang sempurna, maka ditulis sempurna. Apabila tidak, maka Allah akan berkata pada malaikat: “Lihatlah apakah dia melakukan shalat sunnah yang dapat menyempurnakan kekurangan shalat fardhunya? “ (HR. Abu Daud no. 964, At-Tirmizi no. 413, An-Nasai no. 461-463, dan Ibnu Majah no. 1425)

Pendapat ini adalah pendapat Ibnu Hazm, Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qayyim.

Ibnu Hazm dalam Al-Mahalli (II/235-244) berkata: Artinya:” Adapun orang yang sengaja meninggalkan shalat, maka dia tidak akan mampu menggantinya selamanya, maka hendaknya dia memperbanyak berbuat baik yaitu shalat sunnah, dan mohon ampun pada Allah”.

2. Wajib qadha shalat yang ditinggal bertahun-tahun

Pendapat kedua ini berdasarkan pada hadits sahih riwayat Bukhari Muslim (muttafaq alaih): ”Hutang kepada Allah lebih berhak untuk dibayar”.

Adapun cara meng-qadha yang ditinggal begitu lama ada beberapa cara.

1. Menurut madzhab Maliki, cara mengqadha-nya adalah setiap hari mengqadha dua hari shalat yang ditinggal. Dilakukan terus menerus setiap hari sampai yakin qadha-nya sudah selesai.

2. Menurut Ibnu Qudamah, hendaknya dia mengqadha setiap hari semampunya. Waktunya terserah, boleh siang atau malam. Sampai dia yakin (menurut perkiraan) bahwa semua shalat yang ditinggalkan sudah diganti. Ibu Qudamah dalam kitab Al-Mughni berkata: ringkasan: Wajib mengqodho shalat yang ditinggal secara sengaja dalam waktu lama, berbulan-bulan atau bertahun-tahun, sampai lupa hitungan persisnya. Adapun caranya adalah dengan mengqadha berturut-turut tanpa diselingi shalat sunnah seperti yang pernah dilakukan Nabi saat ketinggalan 4 waktu shalat pada perang Khandaq.

♦ Gugurkah dosanya bila telah meng qadla sholatnya???

  •  Meninggalkan sholat dengan sengaja tanpa udzur syar’iy, maka dia telah menanggung dosa yang sangat besar. Maka dia harus taubatan nasuha.
  •  Jadi meskipun dia telah meng qadla sholatnya, namun tidak ada kafarat (gugur dosanya). Karena kafarat hanya untuk sholat yang luput karena sabab syar’iy. Jadi dia masing menanggung dosa karena meninggalkan sholat.
  •  Para Imam yang berpendapat ada Qadla bagi sholat wajib yang ditinggalkan dengan sengaja, Qadla nya itu tidak akan menggugurkan dosanya. Tapi dengan dia membayar qadla sholatnya itu menunjukkan keseriusan taubatan nasuhanya.
  •  Apalagi qadla yang dilakukan oleh orang lain, ketika orangnya telah wafat.
  •  Ibadah adalah masalah tauqifi.

Kesimpulan hukum qadha shalat yang ditinggal bertahun-tahun

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun sampai lupa hitungan persisnya dan dia dalam keadaan sehat, maka hendaknya dia :

a) Bertaubat dengan sungguh-sungguh
b) Meng-qodho seluruh shalat yang ditinggal setiap hari semampunya sampai selesai; sebagai keseriusan bertobat.
c) Memperbanyak shalat sunnah untuk mengganti kekurangan.

Semoga Artikel ini bermanfaat untuk Sahabat Rumah Kurma Sahara.
Silahkan berbelanja kurma di Rumah Kurma Sahara, Butuh perlengkapan haji? Ingat Toko Rumah Kurma Sahara!
Jalan Raya Semplak Atang Sandjaja No. 224
Bogor Barat – Kota Bogor
Customer Care : 0821-1141-8832 | 0878-7386-0559
Delivery : 0859-2512-6067
WA | PIN BB : 0878-7386-0559 | DA7A086

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *