Hakekat Manusia dan Qolbu

Manusia adalah makhluk ciptaan Allah SWT yang sempurna diciptakan dengan diberikan akal dan pikiran sehingga bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Dalam Al-Quran dan Sunnah manusia adalah makhluk yang paling mulia dan memiliki berbagai potensi serta memperoleh petunjuk kebenaran dalam menjalani kehidupan didunia dan akherat.

Secara materi benda terbagi menjadi dua yaitu jasmani dan ruhani. Para ahli menyatakan manusia itu pasti akan mati. Tetapi Al-Quran menginformasikan bahwa yang mati itu nafs nya(jasadnya). Menurut hadist bahwa ruh manusia menuju alam barzah sedangkan jasadnya mengalami proses pembusukan, menjelang ia bersenyawa kembali secara sempurna dengan tanah. Ruh adalah daya (sejenis makhluk / ciptaan) yang ditiupkan Allah kepada janin dalam kandungan. Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: “Roh itu termasuk urusan Rabb-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”. [QS. 17: (85)].

Manusia dan hewan juga mempunyai perbedaan.Manusia mampu untuk memiliki ruh (ruhaniah /idrakshilla billah (kesadaran hubungan dengan Allah SWT), sedangkan Hewan tidak memiliki ruhaniah. Sehingga ada/ tidak adanya ruhaniah inilah yang membedakan tingkah laku manusia dengan hewan.

Manusia dan hewan sama-sama bisa hidup, karena sama-sama memiliki potensi (khashiyyaat) untuk hidup, yaitu: Kebutuhan jasmani (hajatul udhawiyyah), naluri (al-ghariizah). Kebutuhan jasmani terdiri dari: Benda tertentu: makanan, minuman, udara,dll. Kondisi tertentu: istirahat, tidur, suhu tertentu, dll. Dan Aktivitas tertentu: makan, minum, bernafas, buang hajat, dll.

Munculnya kebutuhan Jasmani ini dari dalam tubuhnya (dorongan dari dalam), sehingga harus (wajib) dipenuhi. Jika tidak, bisa mati. Musa berkata: (Rabb kami telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk″. [QS. Thaha (20):50)]
Lihat juga QS. Ar-rum: 23, QS. Al-mu’minun:33, QS. Al-Maidah:3. Namun tidak demikian dengan kebutuhan naluri (AlGharizah) jika tidak dipenuhi tidak sampai mengakibatkan kematian akan tetapi hanya menimbulkan perasaan gelisah saja pada diri manusia.

Kebutuhan naluri yang terdiri dari:
a. Naluri beragama (Gharizatun Taddayun), penampakannya mendorong manusia untuk mensucikan sesuatu yang mereka anggap sebagai wujud dari Sang Pencipta, maka dari itu dalam diri manusia ada kecenderungan untuk beribadah kepada Allah, perasaan kurang, lemah dan membutuhkan kepada yang lainya hanya saja diantara manusia banyak yang keliru memenuhi kebutuhan yang satu ini. Allah SWT berfirman: “bersenang-senanglah manusia dengan kekafiranmu itu sementara waktu;sesungguhnya kamu termasuk penghuni neraka [QS. Az-zumar:(8)]
b. Naluri mempertahankan diri (Gharizatul Baqa), penampakanya mendorong manusia untuk melaksanakan berbagai aktivitas dalam rangka melestarikan kelangsungan hidup. Berdasarkan hal ini maka pada diri manusia ada rasa takut, keinginan menguasai, cinta pada bangsa dan lain-lain. (lihat QS. An-Nahl:68, QS Yaasin : 71)
c. Naluri melangsungkan keturunan (Gharizatun Nau), Penampakanya akan mendorong manusia melangsungkan jenis manusia. Sebagai penampakan dari naluri ini, manusia memiliki kecenderungan seksual, rasa kebapakkan, rasa keibuan, cinta pada anak2, cinta pada orang tua, cinta pada orang lain dan lain-lain. (lihat QS Yusuf : 24, Al-baqarah:124). Tak aneh jika ada beberapa agama yang melarang pengikutnya untuk memenuhi kebutuhan naluri satu ini sehingga banyak pelanggaran-pelanggaran seksual yang terkuak diberbagai tempat2 yang dianggapnya suci.

Munculnya kebutuhan ini dari faktor eksternal, yaitu faktor fakta (realitas) dan pemikiran (mafhum).
Sehingga jika tidak dipenuhi, tidak akan mengantarkan kpd kematian. Tetapi jika tdk dpenuhi akan menimbulkan kegelisahan dan ketidak tenangan.Kehidupan manusia dinamis, inovatif, semakin maju peradabannya.Kehidupan hewan statis, tidak berubah dari dulu sampai sekarang.Kehidupan manusia dinamis, inovatif, semakin maju peradabannya.Kehidupan hewan statis, tidak berubah dari dulu sampai sekarang.
Perbedaan mendasar manusia dg hewan: AKAL.
“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai”. [QS: Al-A’raf Ayat: (179)]

Dg akal, manusia bisa memiliki ruhaniah (idrakshilla billah).
Dg akal, manusia bisa memenuhi kebutuhan hidupnya (jasmani dan naluri) dengan baik dan benar, mengikuti petunjuk yang diridhoi Allah, sehingga mereka menjadi makhluk yang mulia dan tinggi.Tapi, manusia yg tidak menggunakan akal sesuai petunjuk Allah, maka derajat sangat rendah, bahkan bisa lebih rendah dari hewan.

Apa itu Qalbu?
Definisi Qalbu secara bahasa:
Qalbu adalah lafadz musytarak (memiliki banyak makna). Secara literal, al-qalbu bisa bermakna hati, isi, lubuk hati, jantung, inti (lubb), akal (‘aql), kekuatan, semangat, keberanian, bagian dalam (bâthin), pusat, tengah, bagian tengah (wasath), dan yang murni (khâlish, mahdh).

Definisi Qalbu dari Alquran:
Makna al-qalbu berhubungan dengan upaya memahami, mengerti, tadabbur, dan berfikir. Kata qalbu dengan makna semacam ini ditunjukkan oleh ayat-ayat berikut ini.
“Mereka mempunyai qalbu (quluub) tetapi tidak dipergunakan untuk memahami (yafqahuuna) ayat-ayat Allah. (QS al-A’raf [7]: 179). Qalbu pada ayat ini, bermakna akal. Sebab, Allah swt mengaitkannya dengan al-fiqh (pemahaman).

Qalbu juga bermakna ilmu. Ini ditunjukkan oleh firman Allah swt;
“Mereka rela berada bersama orang-orang yang tidak pergi berperang, sementara qalbu-qalbu mereka telah dikunci mati, sehingga mereka tidak mengetahui (ya’lamûn) (kebahagiaan beriman dan berjihad). (QS at-Taubah [9]: 87).

Qalbu bermakna perasaan (wijdân/fu’âd), baik yang benar maupun yang salah.
Banyak sekali ayat-ayat al-Quran yang menegaskan hal ini. Misalnya: kekhusyukan (QS al-Hadid [57]: 16), kelembutan dan kasih sayang (QS al-Hadid [57]: 27), perasaan terguncang (QS al-Anfal [8]: 3), takut dan khawatir (QS Ali Imran [3]: 151), sombong (QS al-Mukmin [40]: 35), marah (QS at-Taubah [9]: 15), ketenangan dan ketentraman (QS ar-Ra’du [13]: 28), keraguan dan syak (QS at-Taubah [9]: 110), keras dan bandel (QS al-Baqarah [2]: 74).

Qalbu dengan makna semacam ini merupakan madhaahir (penampakan) dari naluri-naluri manusia.

Salah satu arti penting qalbu adalah qalbu sebagai tempat bersemayamnya iman dan takwa.Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa, makna qalbu mencakup akal pikiran dan perasaan.

Oleh karena itu, kebersihan dan kesucian hati tergantung kepada kebersihan akal dan perasaan. Sedangkan kebersihan akal dan perasaan ditentukan oleh kesesuaiannya dengan aqidah dan syariat Islam, dan kesuciannya dari pemikiran dan aturan thaghut. Dengan kata lain, agar seseorang qalbunya bersih, perasaan dan pikirannya harus tunduk, dibentuk, dan dibimbing oleh ‘aqidah dan syariat Islam.

Meskipun seorang Muslim memiliki perasaan untuk mendekatkan diri kepada Allah sangat kuat, akan tetapi jika pemikirannya dibentuk oleh aqidah dan system kufur, tentunya kita tidak bisa menyatakan qalbunya bersih. Seorang Muslim yang asyik masyuk dengan ibadah ritual dan akhlaq semata, namun dalam bermuamalah masih melibatkan diri dengan muamalah ribawiy serta praktek-praktek bisnis yang bertentangan dengan syariat Islam, maka rusaklah qalbunya.

Sayangnya, persepsi masyarakat tentang kebersihan qalbu, masih sebatas kebersihan pada aspek-aspek kejiwaan (nafsiyyah) belaka, seperti tumbuhnya sifat sabar, tawadlu’, rendah hati, qana’ah, dan sifat-sifat lain di dalam dirinya.

Akhirnya, pembentukan sifat-sifat tersebut terlepas dari aqidah dan syariat Islam. Mereka menumbuhkan sifat-sifat tersebut di dalam qalbunya berdasarkan prinsip-prinsip universal dan ajaran-ajaran selain Islam; misalnya Taoisme, Budhisme, dan sebagainya. Pembentukan sifat-sifat tersebut harus lahir dari aqidah dan syariat Islam. Untuk itu, walaupun seorang Muslim memiliki sifat-sifat yang baik, namun, jika sifat-sifat itu lahir dari ajaran-ajaran non Islam, qalbunya telah rusak.

Oleh karena itu, kebersihan qalbu ditentukan oleh 2 dua hal: kebersihan aqliyyah dan kebersihan nafsiyyah.
Semoga Artikel ini bermanfaat untuk Sahabat Rumah Kurma Sahara.
Silahkan berbelanja kurma di Rumah Kurma Sahara, Butuh perlengkapan haji? Ingat Toko Rumah Kurma Sahara!
Jalan Raya Semplak Atang Sandjaja No. 224
Bogor Barat – Kota Bogor
Customer Care : 0821-1141-8832 | 0878-7386-0559
Delivery : 0859-2512-6067
WA | PIN BB : 0878-7386-0559 | DA7A086

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *