Bahaya Lisan

Lisan merupakan karunia Allah SWT yang sangat “mahal” bagi manusia, tanpa lisan barang kali hidup manusia tiada artinya. Dengan lisan kita bisa mengenal rasa, dapat berbicara dan berkomunikasi tanpa mengalami kesusahan. Selain itu manusia bisa mulia dengan lisannya seperti mengumandangkan ayat-ayat Allah SWT, berkata yang baik-baik, beramal makruf nahi munkar, berdakwah dan lain-lain. Tetapi dengan lisan manusia juga bisa menjerumuskan dirinya ke lembah dosa karena tidak menggunakan lisannya sesuai kehendak dan aturan-aturan yang ditetapkan oleh Allah SWT sang pencipta lisan manusia itu sendiri. Seperti yang tertulis di surat Al -ahzab (33) ayat 70-71;

” Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar, niscaya Allah akan memperbaiki amal-amalmu dan mengampuni dosa-dosamu, barang siapa yg mentaatinya dia menang dengan kemenangan yang agung.”

Rasulullah SAW bersabda;

Setiap hari anggota tubuh kita melaknat yang namanya mulut/lisan, anggota tubuh yang lain berkata; ya lisan bertakwalah kepada Allah SWT.”

Seperti yang ditegaskan di surat Qaf (50) ayat 16-18, surat ini menerangkan kepada kita Allah itu lebih dekat dari pada urat leher kita. Jadi, setiap saat Allah mengawasi apapun yang kita lakukan, baik lisan dan perbuatan. Selain itu, Allah mengutus 2 malaikat yang mencatat semua amal dan dosa yang kita lakukan. Dialah malaikat Raqib dan Atid.

Banyak hadits Rasulullah saw yang menganjurkan kita untuk selalu menjaga lisan, bahkan Rasulullah saw juga sering mengecam orang-orang yang tidak pandai menjaga lisan. Rasulullah pernah bersabda;

Barang siapa yang diam (tidak banyak bicara) maka dia akan selamat.” (HR At-Tarmizi).

Lalu diperkuat dengan hadist dari Bukhari muslim, ia mengatakan, Rasulullah juga berwasiat;

Barang siapa yang bisa menjamin keselamatan antara 2 rahangnya (lisan) dan 2 kakinya (faraj) maka aku menjamin baginya syurga.”

Perlu kita ketahui lidah ini ibarat pisau, jika digunakan dengan hal-hal yang baik maka akan mendatangkan kemaslahatan (kebaikan) namun sebaliknya jika digunakan utk hal-hal yang buruk maka kemudharatan yang akan mengiringi kita. Jadi sebelum berucap hendaklah kita berfikir terlebih dahulu kata-kata yang akan kita keluarkan. Selain itu orang yang berakal meletakkan lisannya dihatinya sebaliknya orang yang bodoh meletakkan hatinya di lisannya.

Adapun dosa-sosa lisan seperti:

1. Dusta

2. Fitnah

3. Tazasus (mencari kesalahan orang lain)

4. Al-Ghibah (menggunjing atau menggosip)

5. Su’uzan (berprasangaka jelek)

6. Sukhiyah (menghinakan saudaranya)

 

GHIBAH (MENGGUNJING)

GHIBAH adalah penyakit hati yang memakan kebaikan dan mendatangkan keburukan serta membuang-buang waktu secara sia-sia. Pada hakekatnya GHIBAH adalah menceritakan saudara kita dengan sesuatu yang tidak disukainya. Allah berfirman di surat Al-Hujurat(49) ayat 12;

Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik padanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah penerima tobat lagi maha penyayang.”

Kemudian dari Abu hurairah ra, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda;

“Tahukah kalian apa ghibah itu?” Para sahabat berkata, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Rasulullah saw bersabda, “Ghibah adalah jika engkau menceritakan saudaramu dengan sesuatu yang tidak dia sukai.” Kemudian para sahabat berkata, “Ya rasulullah, bagaimana pendapat engkau jika apa yang kukatakan itu ada padanya?” Lalu Rasulullah bersabda, “Apabila yang kau katakan ada padanya, maka engkau telah menggunjingnya dan apabila yang engkau katakan tidak ada padanya, maka engkau telah mengatakan atas seorang muslim hal-hal yang tidak ada padanya ( fitnah).” (HR.Muslim)

 

Meskipun kadang diantara kita sudah mengkaji dan memperdalam Islam, bahkan ada yang sudah mengemban dakwah islam tapi terkadang masih banyak diantara para pengemban dakwah (hamilud dakwah) islam sendiri yang kurang berhati-hati bahkan tidak berhati-hati dengan lisannya. Terkadang tanpa sadari mereka mengghibah sesama teman pengemban dakwah dan bahkan lebih tragis lagi mereka sang pengemban dakwah islam tanpa mereka sadari atau bahkan mereka sengaja mengghibah harokah atau kelompok organisasi lain tanpa ada keinginan untuk bertabayun. Misalnya dalam pergaulan kita sehari-hari saja kita kan dalam hidup bersosialisai kita berinteraksi dengan orang lain baik sesama harokah dengan kita maupun tidak. Jangan pernah terlintas dipikiran kita bahwa kita harus bahkan wajib untuk bergaul atau berinteraksi dengan sesama harokah kita saja, bahkan ada mungkin diantara kita tidak mau bergaul dengan orang lain yang bukan harokah nya. Yang jadi pertanyaan kita, Apakah seperti ini sikap seorang hamilud dakwah??. Kalau sikap kita seperti ini bagaimana kita bisa berdakwah atau beramal makruf nahi munkar. Padahal kita tahu sesama muslim kita ini bagaikan satu tubuh, bagian tubuh yang satu sakit bagian tubuh yang lain ikut merasa sakit. Hal seperti ini harusnya terjadi kepada kita jika salah satu teman sesama muslim terluka atau teraniaya meskipun dia jelas-jelas beda harokah dengan kita wajib kita bantu. Tidak boleh kita saling sikut atau menjelek- jelekan harokah lain dan menganggap kita lah yang paling benar. Padahal, seorang hamilud dakwah itu adalah representasi dari Islam yang Kaffah itu sendiri, apalagi disaat Khilafah blm tegak seperti saat ini. Seharusnya hamilud dakwah adalah orang-orang yang lebih taat, lebih banyak ibadahnya, lebih bijaksana baik dalam tindakan maupun perkataannya. Bahkan, jika dia berbuat khilaf atau dosa, ia tanpa segan-segan untuk segera meminta maaf terlebih dahulu. Sebaliknya, ketika ia dilukai hatinya( di ghibah bahkan di fitnah) ia terlebih dahulu memaafkan orang yang telah berbuat itu kepadanya.

Ada satu kisah pada masa Rasulullah SAW yang perlu kita teladani sebagai motivasi kita untuk membenahi diri kita. Yaitu kisah Bilal bin Rabbah ra dan Abu Dzar al Ghiffary ra. Bilal bin Rabbah ra adalah salah satu tokoh dalam sejarah islam yang mengukir namanya tinta emas, meskipun sejarah hidupnya adalah orang yang lemah,tidak dihargai,budak yang diperjual belikan dan mungkin dipandang sebelah mata. Lalu dengan islam, nama Bilal bin Rabbah ra menjadi mulia, bahkan menjadi rujukan amal-amal shalih. Sedangkan sosok Abu Dzar al Ghiffary ra, seorang manusia yang mencari kebenaran dengan seluruh hidupnya. Menebus kebenaran dengan nyawa, membela kebenaran dengan seluruh keberanian jiwa. Dua manusia mulia ini yang pernah dilahirkan oleh islam, hasil tarbiyah Rasulullah SAW.

Suatu ketika, keduanya pernah berselisih pendapat, entah karena dodorong oleh rasa apa, Abu Dzar al Ghiffary ra sampai mengucapkan kata-kata yang sangat menyinggung Bilal bin rabbah ra “Hai, anak orang hitam!” kata-kata yang dilontarkan Abu dzar ra kepada Bilal bin rabbah ra. Bilal sangat sedih pada saat itu, dan mengadukan hal ini pada Rasulullah SAW, sang pemimpin yang adil dan penuh kasih sayang. Setelah mendengar pengaduan bilal, Rasulullah SAW memanggil dan mengajak abu Dzar berbicara. Setelah obrolan dengan Rasulullah SAW tersebut, Abu Dzar menyadari betul ada sifat dan perilaku jahiliyah yang masih tertinggal dan dilakukannya. Abu Dzar menyesal seharusnya ini tidak terjadi, apalagi pada sahabat sendiri yang telah di muliakan oleh Islam dan memuliakan Islam. Dengan sungguh-sungguh, kemudian abu Dzar mencari Bilal bin Rabbha. Ketika menemui Bilal bin rabbah, Abu Dzar duduk dengan penuh takzim didepan bilal bin Rabbah. Kemudianabu dzar meminta maaf, ia tempelkan sebelah pipinya ketanah dan berkata, “Wahai Bilal, injaklah pipiku dengan kakimu.” Subhanallah, ini ada catatan sejarah tentang keseriusan dalam permintaan maaf. Betapa banyak hari ini kita melakukan kesalahan, lalu sebesar apa perasaan bersalah itu muncul dipermukaan. Sedalam apa penyesalan kita atas kesalahan yang telah kita lakukan, lalu sekuat apa kita memperbaikinya, atau jika menyangkut orang lain, sedahsyat apa usaha permintaan maaf yang sudah kita lakukan?. Bisa kita bayangkan dampak yang akan terjadi dari merebaknya ghibah atau bahkan fitnah diantara pengemban dakwah atau sesama pejuang islam. Misalnya antar kelompok/harokah. Hal yang pasti terjadi adalah pengemban dakwah ini akan terpecah belah bahkan terjadi kubu-kubu di dalam satu jamaah, saling curiga, kurangnya trust antar sesama hamilud dakwah,lemahnya suasana keimanan dalam jamaah, lemahnya ruh jama’iyah (ikatan aqidah sesama pejuang). Bahkan dampak yang lebih besar lagi, umat muslim akan terpecah belah dan semakin mudah untuk diadu dombaoleh musuh-musuh nyata islam, menguntungkan kaum kafir untuk semakin melemahkan dan menguasai kaum muslimin.

Ada kisah yang sangat menyentuh hati dan bisa kita ambil hikmahnya. Kisah ini adalah sebuah pertanyaan yaitu Bagaimana persaudaraan kita?. Pada saat Rasulullah mengirim ekspedisi militer para sahabatnya ke huruqat Bani Juhainah. Saat itu terjadi pertempuran antara pasukan muslimin, dan banyak diantara mereka yang melarikan diri. Satu diantara sahabat yang turut serta dalam ekspedisi militer ini adalah Usamah bin Zaid ra. Bersama seseorang sahabat dari Anshar, Usamah bin Zaid mengejar seseorang yang melarikan diri. Terpontang-panting dia menyelamatkan diri, tak ada bangunan pun yang mampu menyempunyikannya. Sampai dia menemukan pohon dan bersembunyi di baliknya. Usamah bin Zaid dan seorang dari sahabat Anshar mengepungnya, dan ketika sudah tidak ada jalan lagi untuk melarikan diri, Usamah bin Zaid mengangkat pedang dan siap untuk mengayunkannya. Pada detik-detik genting, dia yang berada dibawah kilatan pedang, yang telah ketakutan dan tebayang maut dudah menanti didpn matanya, dia mengucapkan dua kalimat syahadat dan di ucapkannya berulang-ulang. Mendengar dua kalimat syahadat keluar dari bibir seorang yang akan di hujamkan pedang, Usamah bin Zaid dan sahabat dari anshar itu kebingungan. Hendak di apakan orang ini? Dimana perang masih berkecamuk, anak panah berterbangan dan bunyi pedang masih beradu, sementara dibawah mereka ada seorangyang dengan ketakutan mengucapkan dua kalimat syahadat dari bibirnya beruang-ulang. Tak ada waktu untuk memikirkan semuanya secara tenang. Dan kemudian Usamah bin Zaid berpendapat musuhnya ini bersyahadat karena ingin menyelamatkan nyawanya saja bukan dari hati yang paling dalam, apalagi dengan kesadaran lalu pedang itu pin diayunkan mengakhiri nyawa seseorang itu. Akhirnya perang dimenangkan oleh pasukan Usamah. Lalu Usamah menceritakan kejadian yang dialaminya kepada Rasulullah SAW. Mendengar cerita Usamah Air muka Rasulullah SAW sangat berubah dan kemudian beliau berkata”Dia sudah mengucapkan syahadat ,lalu engkau menbunuhnya?” kemudian rasulullah menatap tajam Usamah mendapat jawaban “Ya Rasulullah. Dia mengucapkan itu bukan dari dalam hatinya ,dia mengucapkan itu hanya untuk menghindari pedang”, terang Usamah bin zaid ra. Lalu Rasulullah SAW terus mengulang pertanyaan itu pada usamah. Dan kemudian Rasulullah menyambungkan kalimatnya,”mengapa tidak engkau belah saja hatinya, sehingga engkau tau ia mengucapkannya karena menghindari pedang. Kemudian rasulullah bertanya lagi pada Usamah “bagaimana kalau ucapan laa ilaha illallah itu kelak menuntutmu di akhirat nanti?”. Kemudian tumbuhlah penyesalan di hati Usamah. Dari kisah ini menggambarkan bahwa kita sebagai pengemban dakwah tidak boleh cepat untuk bernegatif thinking dengan sesama pengemban dakwah lainnya. Jangan cepat percaya begitu saja dg apa yg kita lihat tanpa cek dan ricek terlebih dahulu. Hati seseorang tidak ada yang tau kecuali orang itu sendiri dan Allah SWT.

Selain itu baik yang mendengarkan Ghibah diharamkan sesuai dengan firman Allah di surat Al-Mukminun(23) ayat 3;

Dan orang-orang yang menjauhi dirinya dari perbuatan dan perkataan yang tiada berguna.”

Kita sebagai seorang muslim khususnya pengemban dakwah hendaknya menjaga kehormatan saudaranya pada saat ia tidak bersamanya, jika ia mampu melakukannya. Dalilnya adalah hadist Abu Hurairah riwayat Muslim;

Seorang muslim adalah saudara muslim yang lain, ia tidak boleh mendzoliminya dan tidak boleh menghinakannya.”

Jadi orang yang tidak berusaha menjaga kehormatan saudaranya padahal ia mampu melakukannya berarti ia telah menghinakan saudaranya.

Ghibah tidak terbatas dengan lisan saja namun juga bisa terjadi dengan tulisan atau isyarat seperti kerdipan mata, gerakan tangan, cibiran bibir dan lain-lain. Sebab intinya adalah pemberitahuan kekurangan seseorang kepada orang lain. Suatu ketika ada seorang wanita datang pada Aisyah radhiyallahu anha. Ketika wanita itu sudah pergi Aisyah mengisyaratkan dengan tangannya yang menunjukan bahwa wanita itu berbadan pendek. Lalu rasulullah saw bersabda;

Engkau telah melakukan Ghibah”.

Semisal dengan ini adalah gerakan memperagakan orang lain seperti menirukan cara jalan atau cara bicara seseorang bahkan ini lebih parah lagi selain mengandung unsur pemberitahuan juga mengandung unsur mengejek.

Pada dasarnya orang yang melakukan ghibah telah melakukan dua kejahatan yaitu kejahatan kepada allah SWT karena telah melakukan perbuatan yang dilarang olehnya dan kejahatan terhadap hak manusia.

Maka langkah pertama yang harus diambil untuk menghindari maksiat ini adalah dengan taubat dengan 3 syarat yaitu:

  1. Meninggalkan perbuatan maksiat tersebut
  2. Menyesali perbuatan yang telah dilakukan
  3. Berjanji tidak akan mengulangi kembali perbuatan itu

Langkah kedua yaitu menebus kesalahannya/kejahatannya atas hak manusia yaitu dengan mendatangi orang yg digunjingkan kemudian meminta maaf atas perbuatannya dan menunjukkan penyesalannya. Ini dilakukan jika orang yang dibicarakan tahu ia telah di gunjing. Kalau orang itu tidak tahu hendaknya mendoakannya dengan kebaikan dan berjanji pada diri sendiri untuk tidak mengulanginya lagi.

Kiat bagi kita untuk menghindari ghibah:

1. Selalu ingat bahwa ghibah adalah suatu perbuatan yang dibenci /dimurkai oleh Allah

2. Timbangan kebaikan pelaku ghibah akan pindah kepada orang yang digunjingkan, kalau seandainya yang bergunjing tidak mempunyai amal kebaikan maka konsekuensinya kejahatan dari orang yang di gunjingkan akan pindah ke pelaku ghibah.

3. Sibukkan diri dengan mengingat aib-aib kita sendiri dan berusaha untuk memperbaikinya

4. Selalu ingat bahwa kalau kita melakukan ghibah seperti memakan bangkai orang yang yang kita gunjingkan itu

5. Selalu ingat bahwasanya ghibah itu haram dan akan dilaknat oleh Allah SWT

6. Selalu mengingat ayat-ayat dan hadist-hadist yang melarang ghibah dan selalu menjaga lisan agar terhindar dari ghibah.

 

Ada pun ghibah ini sangat di haramkan oleh Allah SWT, ternyata ada ghibah yang di bolehkan tetapi dengan syarat untuk tujuan yang benar dan punya alasan yang syar’i. Ada 6 hal :

1. Mengadukan kezaliman (seseorang yang teraniaya melaporkan kepada polisi/hakim)

2. Untuk mengubah kemungkaran (untuk membantu orang-orang yang bermaksiat sehingga ia kembali ke jalan yang benar)

3. Meminta fatwa (meminta pada ulama)

4. Memperingati kaum muslimin dari kejelekan dan kejahatan seseorang serta menasehati mereka dari bahayanya (contoh seseorang yang mengikuti aliran sesat/ahlul bid’ah sehingga akan mengahancurkan aqidah umat)

5. Orang yang terang-terangan dalam berbuat kefasikan atau bid’ah (seseorang yang minum khamar, selebriti yang meng-explore aurat atau maksiat)

6. Mendiskripsikan seseorang (contoh si pincang, si buta dll tapi dengan maksud bukan mengejek)

Inilah 6 perkara yang merupakan sebab dibolehkannya ghibah yang disebutkan oleh para ulama. Adapun ini di perkuat oleh dalil-dali yang shahih, diantaranya di riwayatkan dari Aisyah ra, beliau berkata:

Seseorang meminta izin kpd Rasulullah saw kemudian Rasulullah berkata, “Izinkanlah baginya, sungguh dia adalah sejelek-jelek seorang diantara sukunya” (HR Bukhari Muslim).

Iman Bukhari mengambil hadist ini sebagai dalil bolehnya ghibah terhadap orang yang jelek perangainya.

Dari uraian diatas dapat kita menyimpulkan bahwasanya kita sebagai pengemban dakwah hendaknya sudah dapat saling menjaga dan memelihara lisan kita dengan sebaik-baiknya. Jika mendengar sesuatu yang buruk dari teman kita sesama pengemban dakwah berusahalah untuk tidak langsung percaya bahkan menuduh tanpa ada bukti yang jelas. Bersegeralah untuk bertabayun dengan orang yang bersangkutan agar pikiran-pikiran yang negatif tidak singgah atau bahkan sampai menodai hati kita. Bentengi diri kita dengan akidah islam yang kuat, rapatkan barisan kita sesama muslim, perkuat ukhuwah islamiyah diantara kita tanpa membeda-bedakan harokah, saling bekerja sama dalam berdakwah, saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati untuk kesabaran. Serta saling menjaga keikhlasan dalam perjuangan ini, sehingga mudah-mudahan akan dapat mempercepat datangnya Nasrullah (pertolongan Allah) untuk segera memenangkan perjuangan ini InsyaAllah aamiin ya rabbal alamin. Semoga Artikel ini bermanfaat untuk Sahabat Rumah Kurma Sahara.
Silahkan berbelanja kurma di Rumah Kurma Sahara, Butuh perlengkapan haji? Ingat Toko Rumah Kurma Sahara!
Jalan Raya Semplak Atang Sandjaja No. 224
Bogor Barat – Kota Bogor
Customer Care : 0821-1141-8832 | 0878-7386-0559
Delivery : 0859-2512-6067
WA | PIN BB : 0878-7386-0559 | DA7A086

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *