Bersabar Dalam Mencari Ilmu, Mengamalkan, Dan Menyampaikannya


Sabar merupakan suatu kata yang amat sering kita dengar dan merupakan suatu sikap dan ahlak yang mulia, baik itu secara adat kebiasaan manusia demikian juga jika ditinjau dari ajaran Islam yang mulia ini.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Sabar adalah meneguhkan diri dalam menjalankan ketaatan kepada Allah, menahannya dari perbuatan maksiat kepada Allah, serta menjaganya dari perasaan dan sikap marah dalam menghadapi takdir Allah….” (Syarh Tsalatsatul Ushul, hal. 24)

Sabar merupakan budi pekerti luhur yang sering disebut dalam Kitab Suci al-Qur’an. Lebih dari sembilan puluh kali perihal sabar diangkat dalam kitab suci yang mulia itu. Demikianlah penuturan al-Imam Ahmad bin Hambal rahimahumallah. Sabar merupakan setengah dari iman, setengah berikutnya adalah syukur.
Kaum muslimin sepakat bahwa sabar merupakan kewajiban bagi setiap insan, tak terkecuali bagi penuntut ilmu.

Seringkali kita dapati penuntut ilmu jenuh (jika tidak mau dikatakan malas) dengan aktifitas belajarnya, entah dengan berbagai sebab. Atau kita dapati sebagian mereka terburu buru ingin segera faham tentang ilmu yang ia pelajari, atau cepat puas dan merasa mampu serta ingin segera tampil dihadapan orang banyak menyampaikan apa yang ia tahu, padahal ia sendiri lupa untuk mengamalkan ilmunya. wallaahul musta’aan Sejarah mencatat perjalanan orang orang shaleh terdahulu dalam menuntut ilmu memang tidak ada yang dipandang “mengasyikkan”, sekedar berpeluh keringat dan debu adalah hal biasa yang bisa jadi itulah kondisi paling “mengasyikkan” bagi mereka.

Betapa banyak gangguan yang harus dihadapi oleh seseorang yang berusaha menuntut ilmu. Dia harus bersabar untuk menahan rasa lapar, kekurangan harta, jauh dari keluarga dan tanah airnya. Dia harus bersabar dalam upaya menimba ilmu dengan cara menghadiri pengajian-pengajian, mencatat dan memperhatikan penjelasan serta mengulang-ulang pelajaran dan lain sebagainya.

Alah Ta’ala juga berfirman :
وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ

“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya” (QS. Al Kahfi : 28)

Yahya bin Abi Katsir rahimahullah di dalam menafsirkan ayat tersebut mengatakan, “ Yang dimaksud oleh ayat ini adalah majelis ilmu”.

Beliau juga menyampaikan, “Ilmu itu tidak akan didapatkan dengan banyak mengistirahatkan badan”, sebagaimana tercantum dalam shahih Imam Muslim. Terkadang seseorang harus menerima gangguan dari orang-orang yang terdekat darinya, apalagi orang lain yang hubungannya jauh darinya, hanya karena kegiatannya menuntut ilmu. Tidak ada yang bisa bertahan kecuali orang-orang yang mendapatkan anugerah ketegaran dari Allah.” (Taisirul wushul, hal. 12-13)

Jalan menuntut ilmu -sebagaimana keutamaan besar yang tersimpan di dalamnya- adalah jalan terjal yang hanya mampu dilalui oleh keikhlasan hati yang terpancang kepada Allah semata, petunjuk dariNya, juga kesungguhan.

Kesabaran juga harus dimiliki oleh mereka yang mengamalkan ilmunya, di sinilah ujian penuntut atau orang yang berilmu dan memahami ilmu. Kemuliaan ilmu pada seseorang, bukan karena dia memiliki atau mengetahui banyak ilmu yang diturunkan Allah. Sekali lagi bukan. Kemuliaan ilmu seseorang hanya bagi mereka yang konsisten beramal sesuai dengan ilmu yang dipahami. Bagi pelanggar, justru dihinakan oleh ilmunya sendiri.

Di dalam Hadits disebutkan, “Orang yang paling keras siksanya adalah seorang berilmu dan tidak diberi manfaat oleh Allah dengan sebab ilmunya.” Orang semacam inilah yang termasuk satu di antara tiga orang yang dijadikan sebagai bahan bakar pertama-tama nyala api neraka.

Begitu pula orang yang berdakwah mengajak kepada agama Allah, dan menyampaikan ilmu yang Allah anugerahkan harus bersabar menghadapi gangguan yang timbul karena sebab dakwahnya, karena di saat itu dia tengah menempati posisi layaknya sebagai utusan (yang menyampaikan).

Sudah menjadi sunnatullaah bahwa kebaikan akan selalu berseberangan dengan kejelekan. Waraqah bin Naufal mengatakan kepada Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Tidaklah ada seorang pun yang datang dengan membawa ajaran sebagaimana yang kamu bawa melainkan pasti akan disakiti orang.” Akan tetapi sekali lagi, selayaknya hal itu semua kita lalui dengan penuh kesabaran sembari senantiasa memohon rahmat dan petunjuk dari Allah Ta ‘aala.

Allah Subhanahu wata’ala beri kabar gembira untuk orang oarang yang sabar;

وَلَنَجْزِيَنَّ الَّذِينَ صَبَرُوا أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (an- Nahl: 96)
Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang bersabar dalam menuntut ilmu, mengamalkannya, dan menyampaikannya.

Semoga Artikel ini bermanfaat untuk Sahabat Rumah Kurma Sahara.
Silahkan berbelanja kurma di Rumah Kurma Sahara, Butuh perlengkapan haji? Ingat Toko Rumah Kurma Sahara!
Jalan Raya Semplak Atang Sandjaja No. 224
Bogor Barat – Kota Bogor
Customer Care : 0821-1141-8832 | 0878-7386-0559
Delivery : 0859-2512-6067
WA | PIN BB : 0878-7386-0559 | DA7A086

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *